Joko Pramono meloncat bangun, wajahnya merah matanya terbelalak marah.
"Dia kakakmu? Jadi
engkau inl puteri Pujo pula? Anak Kartikosari atau anak Roro Luhito?"
Kalau saja kedua tangannya tidak dibelenggu, tentu Pusporini sudah menerjang
dan menyerang dengan nekad saking marahnya mendengar betapa pemuda ini menyebut
nama kedua orang ibunya begitu saja. Alangkah kurang ajarnya.
"Benar sekali! Pujo
adalah mendiang ramandaku! Roro Luhito adalah ibu kandungku. Kau mau apa? Mau bunuh
aku? Bunuhlah, kaukira aku takut mati? Huh, manusia macam engkau ini beraninya
hanya membuka mulut besar terhadap lawan yang terbelenggu. Lepaskan aku, dan
kepalamu tentu akan lumat!"
Sejenak kedua tangan pemuda
itu tergetar, seakan-akan ia hendak memukul hancur tubuh dara yang menjadi
tawanannya. Akan tetapi pandang matanya bersinar aneh ketika bertemu pandang
dengan Pusporini yang melotot dan sedikitpun tidak takut itu. Kemudian Joko
Pramono tertawa lebar.
"Ha-ha-ha-ha, enak
benar! Kau sudah tertawan, itu buktinya kau kalah olehku. Dan jangan kira
begitu enak saja kau mati. Tidak! Aku akan menyeretmu ke dasar neraka! Ha-ha,
engkau akan kujadikan tawanan dan pancingan agar orang-orang Selopenangkep
datang. Akan kubalas sakit hati pamanku Adibroto. Kalau Endang Patibroto mau
datang dan berhasil kubunuh, barulah kau akan kubebaskan. Aku tidak bermusuhan
dengan engkau, sungguhpun engkaupun seorang anggota keluarga Selopenangkep yang
sombong, berkepala batu dan galak!"
"Engkau yang sombong!
Engkau yang besar kepala! Lepaskan aku!"
Akan tetapi pemuda itu hanya
tertawa, lalu menyeret tubuh Pusporini ke dekat pohon, menggunakan ujung ikat
kepala yang membelenggu kedua tangan dara itu, diikatkan pada batang pohon.
Setelah itu, sambil tersenyum ia lalu meloncat pergi dari tempat itu. Pusporini
berusaha melepaskan diri, namun sia-sia. Ikatan itu kuat sekali dan tubuhnya
mulai lemah. Lemah, karena lelah dan lapar dan marah. Ia ditinggalkan di dalam
hutan, dalam keadaan terbelenggu. Kalau datang seekor harimau, tentu ia akan
diterkam dan tak dapat melawan. Atau ular. Ular?? Ia bergidik dan hampir
menjerit ngeri. Teringat akan binatang ini, Pusporini yang biasanya tabah dan
tidak takut mati itu menjadi ngeri ketakutan. Ingin ia menjerit minta tolong,
siapa tahu terdengar orang di dekat tempat itu. Akan tetapi ia teringat akan
pemuda tadi yang mungkin sekali bersembunyi dan mentertawakan ketakutannya,
maka tiba-tiba saja kemarahan mengusir rasa takutnya. Ia diam saja, bahkan
tidak merasa ngeri lagi. Jangan harap aku akan minta tolong dan minta-minta
kepadamu, kau monyet kurang ajar, pikirnya gemas.
Tak lama kemudian tampak
bayangan berkelebat dan Joko Pramono telah berada di depan Pusporini, tangan
kiri membawa sesisir pisang ambon yang sudah matang dan tangan kanan membawa
sebutir buah semangka yang besar. Anehnya, pada saat itu, wajah pemuda ini sama
sekali tidak mengejek, juga tidak marah, malah senyumnya wajar dan ramah.
Ketika bicara, sinar matanya berseri gembira.
"Tidak ada dusun dekat.
Untung sekali aku bisa mendapatkan pisang dan semangka. Lumayan untuk mengusir
lapar. Kau makanlah!"
"Tidak sudi!"
Agaknya Joko Pramono baru
teringat bahwa mereka bukanlah dua orang sahabat yang sedang pesiar! Dan
wajahnya yang tampan itu kini berubah seperti tadi lagi, keruh, marah, dan
mengejek.
"Heh-heh, kau tidak mau
makan, tidak mau minum biar mati kelaparan, ya? Kok enak benar. Apa kaukira aku
tidak bisa mendublak (menjejalkan makanan ke mulut) secara paksa? Mau tidak
mau, perutmu harus dimasuki pisang ini, sedikitnya dua buah, dan air semangka
ini!"
Joko Pramono mengambil
sebuah pisang, mengupas kulitnya perlahan-lahan sehingga tampak daging pisang
yang putih kuning, baunya harum sedap menimbulkan selera. Pusporini tadinya
membuang muka, akan tetapi karena merasa khawatir kalau-kalau pemuda itu
benar-benar melaksanakan ancamannya dan menjejalkan makanan ke mulutnya dengan
paksa, ia kini memandang dengan mata lebar, lalu berkata,
"Lepaskan dulu
tanganku, dengan tangan terbelenggu, bagaimana aku bisa makan?"
"Melepaskan kau dan membiarkan
kau memukul pecah kepalaku dengan jari-jari tanganmu yang ampuh itu? Enaknya!
Nih, kau makanlah, jangan membikin aku jengkel dan memaksamu." Pemuda itu
mendapatkan ujung pisang kupasan ke mulut Pusporini. Dara ini marah sekali,
merasa dihina, akan tetapi iapun takut kalau-kalau ia akan dijejal dengan
paksa. Ia tahu bahwa pemuda kurang ajar ini agaknya sampai hati melakukan
ancamannya, maka dengan muka merah dan mata berapi-api, ia membuka mulutnya,
menerima pisang itu memasuki mulut lalu menggigit sepotong.
"Nah, begitu baru anak
baik!" kata Joko Pramono, wajahnya berseri lagi memandang Pusporini yang
mengunyah pisang dengan terpaksa dan marah, kemudian pemuda itu juga menggigit
sepotong pisang dari bekas gigitan Pusporini itu. Dara ini makin merah kedua
pipinya melihat betapa musuh yang dibencinya ini makan pisang bekas gigitannya.
Kembali Joko Pramono menyodorkan sisa pisang itu ke depan mulutnya yang sudah
kosong.
"Tidak sudi! Bekas
gigitanmu!" bentak Pusporini.
Joko Pramono membelalakkan
mata mengangkat alis, lalu berkata dengan nada kesal,
"Wah, dasar sombong!
Tadipun aku tidak menolak bekas gigitanmu. Kalau bekas gigitanku kenapa sih?
Gigiku tidak beracun seperti gigi ular."
"Lebih baik makan bekas
gigitan ular daripada bekas gigitanmu. Pendeknya, kalau bekasmu itu, aku tidak
sudi, biar kau mau jejal, terserah!"
Joko Pramono menarik napas
panjang, seperti orang yang menyabarkan dirinya, lalu mengupas pisang lain dan
menyuapkan pisang itu ke mulut Pusporini. Kini mereka makan pisang dan semangka
tanpa bicara sampai kenyang. Biarpun ia makan dengan hati marah dan secara
terpaksa, akan tetapi setelah perutnya terisi dua buah pisang ambon yang
besar-besar dan setengah butir semangka jingga yang manis dan banyak airnya,
Pusporini merasa tubuhnya segar kembali dan pulih kekuatannya. Melihat betapa
sekitar mulut dan dagu dara itu basah oleh air semangka, Joko Pramono
menggunakan ujung bajunya dan menghapus dengan gerakan cepat dan kasar.
Pusporini berusaha mengelak dengan menggeleng-gelengkan kepala ke kanan kiri
sambil berseru marah.
"Lepaskan! Tak sudi
aku......!!”
Akan tetapi Joko Pramono
memaksanya sampai bersih air semangka dari sekeliling mulut dan dagu.
"Huh, kau jangan
mengira aku melakukan ini karena memanjakanmu, ya? Aku hanya tidak ingin nanti pundakku
kotor dan basah jika aku memondongmu. Hayo, kita berangkat!" Ia melepaskan
ikatan pada batang pohon lalu memondong tubuh Pusporini lagi di atas pundaknya
seperti tadi, kemudian berlari cepat meninggalkan hutan itu, terus ke arah
utara.
Pusporini yang kini menjadi
marah bercampur dengan rasa gelisah, hanya dapat memandang ke arah belakang
pundak Joko Pramono dengan mata terbelalak. Ia harus dapat membebaskan diri dan
membalas semua penghinaan yang telah dialaminya ini, pikirnya. Tak mungkin ia
begini tak berdaya dan diam saja dilarikan seorang yang begini kurang ajar.
Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? Tangannya terbelenggu. Akan tetapi
mulutnya tidak! Kalau tangannya terbelenggu dan kedua kakinya dipeluk kuat
sehingga tak dapat meronta, ia dapat mempergunakan giginya! Begitu pikiran ini
memasuki benaknya, Pusporini lalu menundukkan mukanya dan ....menggigit daging
pundak pemuda itu sekuatnya.
"Aduhh-duh-duh-duh ....
aduhhhh!” Joko Pramono berteriak-teriak kesakitan, lalu menggunakan tangan
kanannya untuk menampar pinggul di depannya itu beberapa kali.
"Plak-plak-plak-plak....!"
Pusporini terbelalak kaget,
malu, dan kesakitan. Pinggulnya menjadi panas dan ngilu, akan tetapi ia sudah
nekat dan tidak mau melepaskan gigitannya, bahkan memperkuatnya.
"Lepaskan....
aduhhh-duh-duh.... lepaskan ... kau kucing, monyet!” Joko Pramono tak dapat
menahan rasa nyeri di pundaknya dan terpaksa ia lalu melemparkan tubuh
tawanannya.
Tubuh Pusporini terlempar,
gigitannya terlepas dan kini kembali pinggulnya terbanting ke atas tanah sampai
ia mengeluarkan suara "hekkk!" dan sekarang tak dapat ditahannya lagi
Pusporini menangis! Menghadapi serangan dan maki-makian Pusporini, Joko Pramono
sama sekali tidak gentar, akan tetapi sekarang menghadapi dara remaja yang
menangis itu, yang mempergunakan "senjata terampuh" seorang wanita,
pemuda itu melongo! Ia meraba-raba pundaknya yang menjadi matang biru bekas
gigitan Pusporini, akan tetapi matanya menatap wajah yang kini basah air mata
itu dengan perasaan kasihan.
"Kenapa kau menangis?"
Ia mengomel untuk menutupi perasaan iba hatinya.
"Aku tidak akan
mengganggumu, hanya menawanmu agar keluargamu mencari dan menyusulmu. Aku ingin
membalas dendam pamanku kepada Endang Patibroto dan keluarga Selopenangkep yang
sombong."
Pusporini terisak-isak
kemudian berkata di antara tangisnya,
"Kau manusia kejam,
laki-laki kurang ajar... Kenapa tidak kaubunuh saja aku?"
"Habis engkau
menggigit, sih! Apa kaukira tidak sakit digigit pundaknya? Lihat, bajuku sampai
robek dan kalau tidak kuat kulitku tentu robek pula. Lihat, sampai matang
biru!" Pemuda ini membuka bajunya memperlihatkan kulit pundak yang
membiru. Melihat ini, tiba-tiba ada perasaan geli di dalam hati Pusporini, geli
dan puas. Sedikitnya ia telah dapat membalas, biarpun hanya merupakan gigitan
di pundak sampai kulit pundak itu matang biru.
"Kalau kau tidak
menggigit, aku tentu tidak akan menampar dan membantingmu," kata pula Joko
Pramono.
"Kalau kau diam saja
menurut kubawa sebagai tawanan dan umpan keluargamu agar menyusulmu, aku bersumpah
tidak akan mengganggu seujung rambutmu. Aku bukan seorang laki-laki yang suka
mengganggu seorang gadis cilik macam engkau." Setelah berkata demikian,
Joko Pramono kembali memondong tubuh Pusporini dan berlari cepat sekali.
Entah mengapa Pusporini sendiri
tidak mengerti. Ucapan pemuda itu yang menyebutnya seorang gadis cilik, membuat
ia mendongkol dan tidak senang. Dia dianggap seperti anak kecil! Awas kau,
demikian bisik hatinya dan tiba-tiba ia menjadi girang sekali. Ikatan pada
kedua pergelangan tangannya mengendur! Mungkin karena banyak pergerakan, atau
mungkin karena tadi ia diikat pada batang pohon, kemudian terbanting tadi,
ikatan itu mengendur di luar tahu Joko Pramono yang tak pernah memeriksanya.
Mulailah dara ini menggerak-gerakkan kedua tangan di belakang, berusaha
membebaskan belenggu yang mulai mengendur itu. Jantungnya berdebar-debar karena
tegang dan khawatir. Ia harus dapat membebaskan kedua tangannya sebelum pemuda
ini tahu bahwa ikatan telah mengendur.
"Heh-heh-heh,
hi-hik!"
Pusporini terkejut. Celaka,
pikirnya, pemuda ini tentu mentertawakan usahanya untuk membebaskan ikatan!
Berarti pemuda ini sudah tahu akan keadaan belenggunya yang hampir terlepas.
Akan tetapi karena Joko Pramono berlari terus, ia memberanikan diri bertanya, "Kenapa
kau cekikikan seperti orang gila?"
"Heh-heh, detik
jantungmu begitu keras, sampai keri (geli) rasanya di pundakku!" jawab
Joko Pramono yang berlari terus. Seketika wajah Pusporini menjadi merah.
Sungguhpun maksudnya lain sekali, namun pemuda ini mengingatkannya betapa
dadanya terhimpit di atas pundak pemuda itu dalam usahanya meloloskan diri dari
ikatan. Akhirnya terlepaslah belenggu yang mengikat kedua pergelangan tangan
Pusporini! Dengan hati-hati sekali dara remaja ini menggerak-gerakkan jari
tangannya, membuka dan menutup untuk melancarkan jalan darahnya yang agak kaku.
Kemudian, dengan gerakan hati-hati sekali ia mengangkat tangan kanan,
meluruskan jari-jarinya, mengerahkan tenaga dan bagaikan ular mematuk,
tangannya bergerak turun menyambar ke arah tengkuk Joko Pramono, di belakang
telinga.
"Kukkkk!!" Sebuah
pukulan dengan Aji Pethit Nogo dengan cepat menghantam bagian kepala itu. Mulut
Joko Pramono mengeluh lirih, tubuhnya seketika menjadi lemas, kedua kakinya
tertekuk dan robohlah pemuda itu tanpa dapat bensambat lagi, roboh terguling
miring dalam keadaan pingsan!
"Uuugghhh ...."
Joko Pramono menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan kiri. Seluruh tubuhnya juga
bergerak-gerak, otot-otot di tubuh itu menegang, akan tetapi ia tidak mampu
menggerakkan kaki dan tangannya. Ia membuka mata, memandang ke kanan kiri dan
meIihat Pusporini berdiri sambil bertolak pinggang, teringatlah ia dan mulutnya
menyumpah,
"Bodoh aku! Mudah saja
dicurangi seorang bocah! Sudah sepatutnya celaka." Dengan gerakan sukar ia
bangun duduk, kembali menggoyang kepalanya yang terasa pening oleh pukulan
tiba-tiba tadi. Setelah bumi di sekelilingnya tidak berputaran lagi, ia
menentang pandang dara itu, tersenyum mengejek, senyum yang amat dibenci
Pusporini lalu berkata,
"Perempuan gagah macam
apa kau ini? Kalau memang kau gagah perkasa, hayo lepaskan ikatan kaki tanganku
dan kita bertanding sampai tujuh hari tujuh malam!"
No comments:
Post a Comment