Perawan Lembah Wilis; Bagian 061


Joko Pramono meloncat bangun, wajahnya merah matanya terbelalak marah.
"Dia kakakmu? Jadi engkau inl puteri Pujo pula? Anak Kartikosari atau anak Roro Luhito?" Kalau saja kedua tangannya tidak dibelenggu, tentu Pusporini sudah menerjang dan menyerang dengan nekad saking marahnya mendengar betapa pemuda ini menyebut nama kedua orang ibunya begitu saja. Alangkah kurang ajarnya.
"Benar sekali! Pujo adalah mendiang ramandaku! Roro Luhito adalah ibu kandungku. Kau mau apa? Mau bunuh aku? Bunuhlah, kaukira aku takut mati? Huh, manusia macam engkau ini beraninya hanya membuka mulut besar terhadap lawan yang terbelenggu. Lepaskan aku, dan kepalamu tentu akan lumat!"
Sejenak kedua tangan pemuda itu tergetar, seakan-akan ia hendak memukul hancur tubuh dara yang menjadi tawanannya. Akan tetapi pandang matanya bersinar aneh ketika bertemu pandang dengan Pusporini yang melotot dan sedikitpun tidak takut itu. Kemudian Joko Pramono tertawa lebar.
"Ha-ha-ha-ha, enak benar! Kau sudah tertawan, itu buktinya kau kalah olehku. Dan jangan kira begitu enak saja kau mati. Tidak! Aku akan menyeretmu ke dasar neraka! Ha-ha, engkau akan kujadikan tawanan dan pancingan agar orang-orang Selopenangkep datang. Akan kubalas sakit hati pamanku Adibroto. Kalau Endang Patibroto mau datang dan berhasil kubunuh, barulah kau akan kubebaskan. Aku tidak bermusuhan dengan engkau, sungguhpun engkaupun seorang anggota keluarga Selopenangkep yang sombong, berkepala batu dan galak!"
"Engkau yang sombong! Engkau yang besar kepala! Lepaskan aku!"

Akan tetapi pemuda itu hanya tertawa, lalu menyeret tubuh Pusporini ke dekat pohon, menggunakan ujung ikat kepala yang membelenggu kedua tangan dara itu, diikatkan pada batang pohon. Setelah itu, sambil tersenyum ia lalu meloncat pergi dari tempat itu. Pusporini berusaha melepaskan diri, namun sia-sia. Ikatan itu kuat sekali dan tubuhnya mulai lemah. Lemah, karena lelah dan lapar dan marah. Ia ditinggalkan di dalam hutan, dalam keadaan terbelenggu. Kalau datang seekor harimau, tentu ia akan diterkam dan tak dapat melawan. Atau ular. Ular?? Ia bergidik dan hampir menjerit ngeri. Teringat akan binatang ini, Pusporini yang biasanya tabah dan tidak takut mati itu menjadi ngeri ketakutan. Ingin ia menjerit minta tolong, siapa tahu terdengar orang di dekat tempat itu. Akan tetapi ia teringat akan pemuda tadi yang mungkin sekali bersembunyi dan mentertawakan ketakutannya, maka tiba-tiba saja kemarahan mengusir rasa takutnya. Ia diam saja, bahkan tidak merasa ngeri lagi. Jangan harap aku akan minta tolong dan minta-minta kepadamu, kau monyet kurang ajar, pikirnya gemas.
Tak lama kemudian tampak bayangan berkelebat dan Joko Pramono telah berada di depan Pusporini, tangan kiri membawa sesisir pisang ambon yang sudah matang dan tangan kanan membawa sebutir buah semangka yang besar. Anehnya, pada saat itu, wajah pemuda ini sama sekali tidak mengejek, juga tidak marah, malah senyumnya wajar dan ramah. Ketika bicara, sinar matanya berseri gembira.
"Tidak ada dusun dekat. Untung sekali aku bisa mendapatkan pisang dan semangka. Lumayan untuk mengusir lapar. Kau makanlah!"
"Tidak sudi!"
Agaknya Joko Pramono baru teringat bahwa mereka bukanlah dua orang sahabat yang sedang pesiar! Dan wajahnya yang tampan itu kini berubah seperti tadi lagi, keruh, marah, dan mengejek.
"Heh-heh, kau tidak mau makan, tidak mau minum biar mati kelaparan, ya? Kok enak benar. Apa kaukira aku tidak bisa mendublak (menjejalkan makanan ke mulut) secara paksa? Mau tidak mau, perutmu harus dimasuki pisang ini, sedikitnya dua buah, dan air semangka ini!"
Joko Pramono mengambil sebuah pisang, mengupas kulitnya perlahan-lahan sehingga tampak daging pisang yang putih kuning, baunya harum sedap menimbulkan selera. Pusporini tadinya membuang muka, akan tetapi karena merasa khawatir kalau-kalau pemuda itu benar-benar melaksanakan ancamannya dan menjejalkan makanan ke mulutnya dengan paksa, ia kini memandang dengan mata lebar, lalu berkata,
"Lepaskan dulu tanganku, dengan tangan terbelenggu, bagaimana aku bisa makan?"
"Melepaskan kau dan membiarkan kau memukul pecah kepalaku dengan jari-jari tanganmu yang ampuh itu? Enaknya! Nih, kau makanlah, jangan membikin aku jengkel dan memaksamu." Pemuda itu mendapatkan ujung pisang kupasan ke mulut Pusporini. Dara ini marah sekali, merasa dihina, akan tetapi iapun takut kalau-kalau ia akan dijejal dengan paksa. Ia tahu bahwa pemuda kurang ajar ini agaknya sampai hati melakukan ancamannya, maka dengan muka merah dan mata berapi-api, ia membuka mulutnya, menerima pisang itu memasuki mulut lalu menggigit sepotong.
"Nah, begitu baru anak baik!" kata Joko Pramono, wajahnya berseri lagi memandang Pusporini yang mengunyah pisang dengan terpaksa dan marah, kemudian pemuda itu juga menggigit sepotong pisang dari bekas gigitan Pusporini itu. Dara ini makin merah kedua pipinya melihat betapa musuh yang dibencinya ini makan pisang bekas gigitannya. Kembali Joko Pramono menyodorkan sisa pisang itu ke depan mulutnya yang sudah kosong.
"Tidak sudi! Bekas gigitanmu!" bentak Pusporini.
Joko Pramono membelalakkan mata mengangkat alis, lalu berkata dengan nada kesal,
"Wah, dasar sombong! Tadipun aku tidak menolak bekas gigitanmu. Kalau bekas gigitanku kenapa sih? Gigiku tidak beracun seperti gigi ular."
"Lebih baik makan bekas gigitan ular daripada bekas gigitanmu. Pendeknya, kalau bekasmu itu, aku tidak sudi, biar kau mau jejal, terserah!"
Joko Pramono menarik napas panjang, seperti orang yang menyabarkan dirinya, lalu mengupas pisang lain dan menyuapkan pisang itu ke mulut Pusporini. Kini mereka makan pisang dan semangka tanpa bicara sampai kenyang. Biarpun ia makan dengan hati marah dan secara terpaksa, akan tetapi setelah perutnya terisi dua buah pisang ambon yang besar-besar dan setengah butir semangka jingga yang manis dan banyak airnya, Pusporini merasa tubuhnya segar kembali dan pulih kekuatannya. Melihat betapa sekitar mulut dan dagu dara itu basah oleh air semangka, Joko Pramono menggunakan ujung bajunya dan menghapus dengan gerakan cepat dan kasar. Pusporini berusaha mengelak dengan menggeleng-gelengkan kepala ke kanan kiri sambil berseru marah.
"Lepaskan! Tak sudi aku......!!”
Akan tetapi Joko Pramono memaksanya sampai bersih air semangka dari sekeliling mulut dan dagu.
"Huh, kau jangan mengira aku melakukan ini karena memanjakanmu, ya? Aku hanya tidak ingin nanti pundakku kotor dan basah jika aku memondongmu. Hayo, kita berangkat!" Ia melepaskan ikatan pada batang pohon lalu memondong tubuh Pusporini lagi di atas pundaknya seperti tadi, kemudian berlari cepat meninggalkan hutan itu, terus ke arah utara.

Pusporini yang kini menjadi marah bercampur dengan rasa gelisah, hanya dapat memandang ke arah belakang pundak Joko Pramono dengan mata terbelalak. Ia harus dapat membebaskan diri dan membalas semua penghinaan yang telah dialaminya ini, pikirnya. Tak mungkin ia begini tak berdaya dan diam saja dilarikan seorang yang begini kurang ajar. Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? Tangannya terbelenggu. Akan tetapi mulutnya tidak! Kalau tangannya terbelenggu dan kedua kakinya dipeluk kuat sehingga tak dapat meronta, ia dapat mempergunakan giginya! Begitu pikiran ini memasuki benaknya, Pusporini lalu menundukkan mukanya dan ....menggigit daging pundak pemuda itu sekuatnya.
"Aduhh-duh-duh-duh .... aduhhhh!” Joko Pramono berteriak-teriak kesakitan, lalu menggunakan tangan kanannya untuk menampar pinggul di depannya itu beberapa kali.
"Plak-plak-plak-plak....!"
Pusporini terbelalak kaget, malu, dan kesakitan. Pinggulnya menjadi panas dan ngilu, akan tetapi ia sudah nekat dan tidak mau melepaskan gigitannya, bahkan memperkuatnya.
"Lepaskan.... aduhhh-duh-duh.... lepaskan ... kau kucing, monyet!” Joko Pramono tak dapat menahan rasa nyeri di pundaknya dan terpaksa ia lalu melemparkan tubuh tawanannya.
Tubuh Pusporini terlempar, gigitannya terlepas dan kini kembali pinggulnya terbanting ke atas tanah sampai ia mengeluarkan suara "hekkk!" dan sekarang tak dapat ditahannya lagi Pusporini menangis! Menghadapi serangan dan maki-makian Pusporini, Joko Pramono sama sekali tidak gentar, akan tetapi sekarang menghadapi dara remaja yang menangis itu, yang mempergunakan "senjata terampuh" seorang wanita, pemuda itu melongo! Ia meraba-raba pundaknya yang menjadi matang biru bekas gigitan Pusporini, akan tetapi matanya menatap wajah yang kini basah air mata itu dengan perasaan kasihan.
"Kenapa kau menangis?" Ia mengomel untuk menutupi perasaan iba hatinya.
"Aku tidak akan mengganggumu, hanya menawanmu agar keluargamu mencari dan menyusulmu. Aku ingin membalas dendam pamanku kepada Endang Patibroto dan keluarga Selopenangkep yang sombong."
Pusporini terisak-isak kemudian berkata di antara tangisnya,
"Kau manusia kejam, laki-laki kurang ajar... Kenapa tidak kaubunuh saja aku?"
"Habis engkau menggigit, sih! Apa kaukira tidak sakit digigit pundaknya? Lihat, bajuku sampai robek dan kalau tidak kuat kulitku tentu robek pula. Lihat, sampai matang biru!" Pemuda ini membuka bajunya memperlihatkan kulit pundak yang membiru. Melihat ini, tiba-tiba ada perasaan geli di dalam hati Pusporini, geli dan puas. Sedikitnya ia telah dapat membalas, biarpun hanya merupakan gigitan di pundak sampai kulit pundak itu matang biru.
"Kalau kau tidak menggigit, aku tentu tidak akan menampar dan membantingmu," kata pula Joko Pramono.
"Kalau kau diam saja menurut kubawa sebagai tawanan dan umpan keluargamu agar menyusulmu, aku bersumpah tidak akan mengganggu seujung rambutmu. Aku bukan seorang laki-laki yang suka mengganggu seorang gadis cilik macam engkau." Setelah berkata demikian, Joko Pramono kembali memondong tubuh Pusporini dan berlari cepat sekali.

Entah mengapa Pusporini sendiri tidak mengerti. Ucapan pemuda itu yang menyebutnya seorang gadis cilik, membuat ia mendongkol dan tidak senang. Dia dianggap seperti anak kecil! Awas kau, demikian bisik hatinya dan tiba-tiba ia menjadi girang sekali. Ikatan pada kedua pergelangan tangannya mengendur! Mungkin karena banyak pergerakan, atau mungkin karena tadi ia diikat pada batang pohon, kemudian terbanting tadi, ikatan itu mengendur di luar tahu Joko Pramono yang tak pernah memeriksanya. Mulailah dara ini menggerak-gerakkan kedua tangan di belakang, berusaha membebaskan belenggu yang mulai mengendur itu. Jantungnya berdebar-debar karena tegang dan khawatir. Ia harus dapat membebaskan kedua tangannya sebelum pemuda ini tahu bahwa ikatan telah mengendur.
"Heh-heh-heh, hi-hik!"
Pusporini terkejut. Celaka, pikirnya, pemuda ini tentu mentertawakan usahanya untuk membebaskan ikatan! Berarti pemuda ini sudah tahu akan keadaan belenggunya yang hampir terlepas. Akan tetapi karena Joko Pramono berlari terus, ia memberanikan diri bertanya, "Kenapa kau cekikikan seperti orang gila?"
"Heh-heh, detik jantungmu begitu keras, sampai keri (geli) rasanya di pundakku!" jawab Joko Pramono yang berlari terus. Seketika wajah Pusporini menjadi merah. Sungguhpun maksudnya lain sekali, namun pemuda ini mengingatkannya betapa dadanya terhimpit di atas pundak pemuda itu dalam usahanya meloloskan diri dari ikatan. Akhirnya terlepaslah belenggu yang mengikat kedua pergelangan tangan Pusporini! Dengan hati-hati sekali dara remaja ini menggerak-gerakkan jari tangannya, membuka dan menutup untuk melancarkan jalan darahnya yang agak kaku. Kemudian, dengan gerakan hati-hati sekali ia mengangkat tangan kanan, meluruskan jari-jarinya, mengerahkan tenaga dan bagaikan ular mematuk, tangannya bergerak turun menyambar ke arah tengkuk Joko Pramono, di belakang telinga.
"Kukkkk!!" Sebuah pukulan dengan Aji Pethit Nogo dengan cepat menghantam bagian kepala itu. Mulut Joko Pramono mengeluh lirih, tubuhnya seketika menjadi lemas, kedua kakinya tertekuk dan robohlah pemuda itu tanpa dapat bensambat lagi, roboh terguling miring dalam keadaan pingsan!
"Uuugghhh ...." Joko Pramono menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan kiri. Seluruh tubuhnya juga bergerak-gerak, otot-otot di tubuh itu menegang, akan tetapi ia tidak mampu menggerakkan kaki dan tangannya. Ia membuka mata, memandang ke kanan kiri dan meIihat Pusporini berdiri sambil bertolak pinggang, teringatlah ia dan mulutnya menyumpah,
"Bodoh aku! Mudah saja dicurangi seorang bocah! Sudah sepatutnya celaka." Dengan gerakan sukar ia bangun duduk, kembali menggoyang kepalanya yang terasa pening oleh pukulan tiba-tiba tadi. Setelah bumi di sekelilingnya tidak berputaran lagi, ia menentang pandang dara itu, tersenyum mengejek, senyum yang amat dibenci Pusporini lalu berkata,
"Perempuan gagah macam apa kau ini? Kalau memang kau gagah perkasa, hayo lepaskan ikatan kaki tanganku dan kita bertanding sampai tujuh hari tujuh malam!"

<<< Bagian 060                                                                                   Bagian 062 >>>

No comments:

Post a Comment