"Aehh, sombongnya. Siapa takut pada-mu!" Joko Pramono panas juga perutnya oleh ejekan ini, ketika Pusporini menghantamnya lagi dengan Aji Pethit Nogo, ia cepat miringkan tubuh mengelak dan secara tiba-tiba tubuhnya merendah, hampir berjongkok dan dari bawah ia mendorong dengan kedua tangannya ke arah tubuh lawan. Pusporini terkejut ketika merasa betapa dari kedua tangan pemuda itu menyambar keluar hawa pukulan yang amat kuat dan panas. Cepat ia mengerahkan tenaga dan menangkis dengan tangan kanannya.
"Wesss .......!"
Sebelum tangannya yang menangkis itu bertemu dengan kedua tangan lawan,
tubuhnya sudah terdorong ke belakang tanpa dapat dicegahnya lagi, kakinya
terhuyung-huyung ke belakang dan hampir ia roboh.
Untungnya tangan kirinya
dapat menyambar ranting sebatang pohon sehingga ia dapat meloncat dan mengatur
keseimbangan tubuhnya. Kini ia memandang dengan penuh kemarahan. Kedua pipinya
merah dan matanya menyinarkan cahaya berapi.
"Heh-heh-heh, kau
kenapa? Jerih sekarang, ya? Belum lecet belum benjol sudah jerih. Wanita gagah
macam apa ini?" Joko Pramono balas mengejek.
"Ooohhh, kau.. kau....
rasakan pembalasanku, bocah dusun!" Dengan kemarahan yang meluap-luap kini
Pusporini menerjang maju, mengerahkan kegesitan dengan Aji Bayu Sakti sambil
menggerak- gerakkan kedua lengan mengirim pukulan-pukulan ampuh. Saking jengkel
dan marahnya menghadapi pemuda yang pandal mengejek dan tidak kalah sombongnya
ini, ia menyerang seperti seekor banteng terluka, menyeruduk saja tanpa
perhitungan lagi, penuh nafsu dan keinginannya hanya satu, yakni merobohkan
pemuda sombong kurang ajar ini! Justeru kemarahan meluap-luap inilah kesalahan
Pusporini. Dara remaja ini sesungguhnya telah memiliki ilmu kesaktian yang
hebat dan jarang ada tandingnya, dan sungguhpun pemuda itupun ternyata sakti
mandraguna, namun tingkat kepandaiannya tidaklah jauh lebih unggul daripada
Pusporini. Tingkat mereka seimbang dan biarpun Pusporini agaknya kalah sedikit
dalam hal tenaga, namun dara ini menang sedikit dalam kecepatan sehingga kalau
mereka bertanding dalam keadaan sama tenangnya, tentu tidak akan ada yang dapat
dikalahkan dalam waktu singkat. Akan tetapi, Pusporini seperti terbakar saking
gemas dan marahnya, sebaliknya pemuda itu tenang-tenang saja bahkan
kadang-kadang tertawa mengejek dan tersenyum-senyum. Di sinilah letak kekalahan
Pusporini yang makin lama menjadi makin marah karena terdorong oleh hati yang
penasaran. Sampai sejam lebih ia menerjang dan mengeluarkan pelbagai aji
pukulan yang ampuh-ampuh, namun selalu dapat dihindarkan pemuda itu dengan
mengelak atau menangkis. Belum pernah satu kali juga ia berhasil mengenai tubuh
pemuda itu maka ia menjadi makin ganas dan nekat.
"Sudahlah, sampai habis
seluruh kepandaianmu, sampai putus napasmu, tidak mungkin kau dapat mengalahkan
aku, heh-heh!" Joko Pramono mengejek.
"Ssssetan !"
Pusporini mendesis marah dan menghantam dengan aji pukulan Bojro Dahono yang
ampuhnya menggiriskan itu. Biarpun belum sepenuhnya ia menguasai aji pukulan
ini, namun kalau mengenai kepala lawan, kepala itu akan hancur berikut isi
kepalanya, kalau mengenai dada tentu akan ambrol dengan tulang iga patah-patah.
"Heeeiiiittt!"
Dengan gerakan indah dan lagak mengejek memanaskan hati Joko Pramono
merendahkan tubuhnya sehingga dua pukulan tangan dara itu lewat di atas
kepalanya. Dari bawah, dengan cepat sekali kini Joko Pramono mengirim pukulan
dorongan seperti tadi, pukulan dorongan yang berhawa panas dan kuat sekali, ke
arah lambung Pusporini. Dara itu cepat mencelat ke atas sambil menangkis, akan
tetapi tiba-tiba ia menjerit dan tubuhnya terguling. Kiranya pemuda itu tadi
memukul hanya sebagai gertakan atau pancingan saja karena begitu dara itu
mengelak, kakinya menjegal dan tepat mengenai kedua kaki Pusporini, mengait
betis sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Pusporini terguling. Sebelum dara
itu sempat memperbaiki posisinya, Joko Pramono sudah menubruk, menangkap kedua
lengan Pusporini, memutar dan menelikungnya ke belakang.
"Kau curang ....!
Lepaskan aku ..! Lepaskan ....!" Pusporini meronta-ronta dan
berteriak-terlak marah. Ia marah sekali sampai hidungnya mendengus-dengus dan
mulutnya terengah-engah.
"Enak saja dilepaskan.
Susah-susah aku merobohkanmu...”
"Kau curang....! Kau
menjegal! Mana ada aturannya bertanding pakai jegal-jegalan?" Pusporini
memprotes.
Akan tetapi pemuda itu tidak
memperdulikannya, bahkan kini dara itu merasa betapa kedua pergelangan
tangannya dibelenggu dengan ikat kepala pemuda itu!
"Keparat! Bedebah!
Setan kurang ajar kau! Lepaskan aku kalau tidak ....!!”
"Kalau tidak ....mau
apa? Enak saja Joko Pramono bertanya, suaranya penuh ejekan.
"Kubunuh kau .. Kucekik
kau ... Ku ... !”
"Cobalah kalau
mampu!" Pusporini marah sampai hampir menangis. Ia membalikkan tubuhnya.
Kedua tangannya tak dapat digerakkan, akan tetapi kakinya masih bebas dan
tiba-tiba ia mengirim tendangan berantai dengan kedua kakinya. Kedua kaki itu
bagaikan kitiran angin saja bergerak menendang bergantian mengarah lutut, pusar
sampai ke dada.
"Heh-heh, kau
benar-benar seperti seekor kuda betina! Hanya kuda yang menendang-nendang kalau
marah!"
Makin jengkel Pusporini dan
tendangannya yang terakhir terlalu keras sampai tubuhnya terbawa dan karena
kedua tangannya dibelenggu ke belakang, maka ia kehilangan keseimbangan dan
..."bukkk!" pinggulnya terbanting ke atas tanah sampai terasa pegal
dan linu. Sebelum ia sempat bangun, Joko Pramono sudah menyambar tubuhnya dan
memondongnya. Lengan kiri pemuda itu merangkul kedua kaki, perut Pusporini
menumpang di pundak dan dara itu meronta-ronta makin keras.
"Setan kurang ajar kau!
Berani kausentuh aku! Berani kau memanggulku! Hayo lepaskan....lepaskan!"
Dengan kedua tangan yang
terbelenggu, Pusporini memukul-mukul pundak dan punggung Joko Pramono, akan
tetapi pemuda itu hanya terkekeh dan lari cepat membawa pergi tubuh dara itu
menuju ke utara.
Punggung dan pundak itu kuat
sekali, dan tak mungkin Pusporini dapat menggunakan ajinya dalam keadaan
terbelenggu seperti itu. Karena tahu bahwa sia-sia saja ia meronta-ronta,
akhirnya dara itu diam dan hatinya mulai diliputi kekhawatiran dan ketakutan.
Ke mana ia hendak dibawa? Siapakah sesungguhnya, pemuda ini dan mengapa agaknya
tidak suka kepada keluarga kadipaten?
"Kau mau bawa aku ke
mana?" Akhirnya Pusporini tak kuat menahan kegelisahan hatinya, bertanya
tanpa meronta lagi di atas pundak pemuda itu.
"Hemm .., ke mana lagi
kalau tidak ke dasar neraka? Kau tadi sendiri bilang aku dari dasar neraka.
Wanita galak macam engkau ini patutnya dijadikan umpan setan neraka!"
Jawaban ini tidak
menimbulkan takut, malah menambah kemarahan hati Pusporini. Ia meronta-ronta
lagi kemudian kakinya menendang-nendang, namun hal ini malah membuat lengan
pemuda itu memeluk kedua kakinya lebih erat sehingga perutnya tertekan pada
pundak dan membuatnya sukar bernapas. Terpaksa ia diam lagi tidak meronta dan
Joko Pramono melanjutkan larinya yang cepat sekali.
"Awas kau kalau
terjatuh ke tanganku kelak ... ” mengancam, suaranya penuh kegemasan dan sakit
hati.
"Sekarang juga akupun
sudah awas!" jawab pemuda itu menggoda terus.
Karena tubuhnya
"disampirkan" di pundak pemuda itu sehingga kepalanya tergantung ke
bawah, lama-kelamaan Pusporini menjadi lelah dan pening. Sedikit demi sedikit
ia melorot turun dan agaknya pemuda itupun maklum akan keadaannya maka
membiarkan saja, bahkan melonggarkan pelukan lengannya sehingga kini bukan kaki
yang dirangkulnya, melainkan paha dan pinggul sehingga kepala Pusporini
sekarang mendekati pundak dan leher. Karena keadaannya tidak begitu melelahkan
lagi, agak lega hati Pusporini. Ia memandang leher yang dekat sekali itu,
melihat betapa otot-otot yang kuat tampak merentang di bawah kulit yang bersih
halus, betapa anak rambut yang hitam gemuk tumbuh melingkar di, tengkuk yang
kuat itu. Heran sekali dia mengapa pemandangan yang selama hidupnya tak pernah
ia perhatikan ini, tengkuk seorang laki-laki, sekarang tampak begini indah!
Tapi hal ini sama sekali tidak mengurangi kemarahan dan kebenciannya kepada
laki-laki yang menggemaskan hatinya ini.
"Engkau kenapa membenci
keluarga rakanda adipati?" ia bertanya, perlahan karena toh mulutnya sudah
dekat telinga. Biarpun lirih suaranya, namun Joko Pramono masih dapat menangkap
nada penuh kemarahan dalam suara itu.
"Huh, keluarga sombong!
Busuk hati! Karena keluarga Selopenangkep itulah pamanku Adibroto sampai
mengorbankan nyawa secara sia-sia! Padahal mendiang Paman Adiproto, menurut
mendiang ibuku, adalah seorang yang paling baik di dunia ini."
"Hemm, kaumaksudkan Ki
Adibroto warok Ponorogo aliran putih?" Pusporini yang sudah pernah
mendengar cerita dari ibunya bertanya, diam-diam ia kaget dan menduga-duga.
"Betul dia. Ah, engkau
mengenal pula namanya. Apa yang kau tahu tentang mendiang pamanku?"
"Aku hanya mendengar
bahwa Ki Adibroto adalah ayah kandung ayunda Ayu Candra, isteri rakanda Adipati
Tejolaksono! Jadi engkau ini masih adik misan ayunda Ayu Candra! Mengapa
memusuhi Kadipaten Selopenangkep?" Mendengar ini, pemuda itu berhenti dan
dengan sikap kasar ia menurunkan tubuh Pusporini ke atas tanah. Gadis ini
tergelimpang lalu bangkit duduk dengan sukar karena kedua tangan terbelenggu ke
belakang. Ia masih marah sekali dan diam-diam ia terheran-heran mengapa tadi ia
dapat bercakap-cakap dengan penawannya seperti dua orang sahabat lama saja. Ia
kini cemberut dan membuang muka, tidak mau memandang muka orang yang duduk di depannya
menghapus peluh dari dada dan leher. Mereka berhenti di dalam hutan, dan enak
sekali berteduh di bawah pohon besar itu. Joko Pramono memandang wajah dara
yang membuang muka itu, lalu sambil mengebut-ngebut lehernya dengan kain, ia
bercerita tentang dirinya.
Di dalam cerita "Badai
Laut Selatan" diceritakan betapa ibu Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono
yang bernama Listyakumolo, setelah berpisah dengan suaminya, Raden Wisangjiwo,
telah menikah lagi dengan seorang warok gagah perkasa bernama Ki Adibroto yang
juga telah mempunyai seorang anak perempuan, yaitu Ayu Candra. Dengan demikian,
Adipati Tejolaksono dengan isterinya itu adalah dua orang saudara tiri yang
sama sekali tidak ada hubungan darah. Adapun ibu kandung Ayu Candra yang lebih
dulu telah meninggal dunia bernama Ni Rasmi. Ni Rasmi mempunyai seorang adik
perempuan bernama Ni Wirani. Semenjak Ni Rasmi meninggal dunia dan Ki Adibroto
membawa Ayu Candra pergi merantau dalam kesedihan, putuslah hubungan antara Ni
Wirani dengan kakak iparnya itu. Ni Wirani menikah dengan seorang petani dan
mempunyai putera yang diberi nama Joko Pramono. Akan tetapi malapetaka menimpa
Ni Wirani dan suaminya ketika Joko Pramono baru berusia sepuluh tahun, yaitu
ketika suami isteri dan anak mereka ini menyeberang sungai yang banjir, perahu
mereka terguling dan mereka hanyut. Suami isteri itu tewas, dan Joko Pramono
yang baru berusia sepuluh tahun tertolong oleh seorang sakti, yaitu Resi
Adiluhung pendeta perantau yang kemudian mengambilnya sebagai murid dan
membawanya ke pertapaan di puncak Gunung Sindoro. Seperti telah diceritakan
dalam cerita Badai Laut Selatan, Ki Adibroto tewas bersama Listyakumolo di
tangan Endang Patibroto karena permusuhan yang balas-membalas dengan Pujo, ayah
Endang Patibroto, suami Kartikosari dan Roro Luhito, atau juga ayah Pusporini
dan Setyaningsih.
"Di waktu masih kecil,
ibuku telah menceritakan tentang paman. Adibroto," demikian antara lain
dengan muka keruh Joko Pramono bercerita di depan Pusporini yang mendengarkan
dengan jantung berdebar karena ia sudah tahu semua akan peristiwa yang terjadi
sebelum ia terlahir itu, mendengar dari penuturan ibunya.
"Paman Adibroto yang
berbudi mulia dan bijaksana itu mati karena ikatan perjodohannya dengan puteri
mantu Selopenangkep. Mati di tangan anak perempuan dari Pujo yang bernama
Endang Patibroto, mati penasaran! Kalau pamanku itu tidak berhubungan dengan
orang-orang Selopenangkep, tentu tidak akan terbunuh sia-sia."
Pusporini memandang wajah
pemuda itu, matanya bersinar dan mukanya merah. Ia marah dan penasaran.
"Akan tetapi, hal itu
adalah urusan orang-orang tua dahulu. Bahkan ayunda Ayu Candra kini menjadi
isteri Adipati Selopenangkep. Bukankah ayunda Ayu Canda itu puteri kandung Ki
Adibroto dan sama sekali tidak menaruh dendam apa-apa? Kenapa engkau ini yang
hanya keponakan Ki Adibroto, kini menaruh dendam dan marah-marah seperti orang
sinting?"
"Memang ayunda Ayu
Candra sudah menjadi orang Selopenangkep. Hal ini membuktikan kelemahan
hatinya. Kasihan sekali paman Adibroto, mempunyai seorang keturunan saja
mengkhianatinya. Akan tetapi aku tidak! Akulah yang akan membalaskan sakit
hatinya. Aku yang akan kelak mencari Endang Patibroto dan menghadapi semua
keluarga Selopenangkep yang sombong, termasuk engkau!"
"Cih! Kepalamu besar
sekali, sebesar kelenting (tempat air), sebentar lagi tentu pecah berantakan!
Orang macam engkau ini mana mungkin melawan kakakku Endang Patibroto? Idih,
sombongnya. Belajarlah kau seratus tahun lagi, masih juga belum dapat
mengalahkan tangan kiri kakakku Endang Patibroto!"
No comments:
Post a Comment