Perawan Lembah Wilis; Bagian 059


Tanpa disengaja oleh dua orang remaja itu, hal ini amat menguntungkan. Di dalam kemarahan para lawan, baik kedua orang Gagak yang mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada Pusporini, maupun Sariwuni yang mencurahkan perhatian kepada Joko Pramono tanpa memperdulikan hal-hal lain, dua orang remaja ini mendapat kesempatan untuk balas memukul bukan kepada lawan sendiri, melainkan kepada lawan lain yang tidak menyerang mereka!
Demikianlah, ketika Pusporini meloncat jauh ke belakang, mengelak daripada sambaran dua batang golok para pengeroyoknya, secara kebetulan sekali ia tiba di dekat Sariwuni yang mendesak Joko Pramono. Pemuda inipun meloncat jauh dan Sariwuni membalikkan tubuh untuk mengejar. Saat ini pundaknya menyentuh pundak Pusporini dan dara remaja itu dengan kemarahan meluap-luap karena belum juga dapat membalas dua orang lawannya, lalu memutar lengan mengirim hantaman sambil mengerahkan Aji Bojro Dahono! Aji pukulan yang ampuhnya menggiriskan ini baru ia latih setengah bagian, belum matang, namun akibatnya hebat sekali. Sariwuni yang sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapat hantaman dari Pusporini karena seluruh perhatiannya ditujukan kepada Joko Pramono, menjerit lirih dan tubuhnya terputar-putar, kedua tangannya memegangi kepala yang tadi kena hantaman. Seluruh kepalanya terasa panas seperti dibakar, membuat air matanya bercucuran tak dapat ia cegah lagi dan akhirnya Sariwuni jatuh terduduk di atas tanah sambil meramkan mata. Wanita ini maklum bahwa ia menderita luka pukulan sakti, maka ia cepat mengerahkan hawa sakti di tubuhnya untuk memulihkan keadaan dirinya. Pusporini yang tanpa sengaja sudah merobohkan Sariwuni, kini menengok dan alangkah mendongkol hatinya ketika ia melihat betapa pemuda kurang ajar itu kini menggantikan dia menandingi kedua orang Gagak. Ia mendengus dan menerjang maju, saking marahnya maka terjangannya pun hebat bukan main. Gagak Dwipa dan Gagak Kroda kini sedang mengeroyok Joko Pramono, melihat robohnya Sariwuni hati mereka menjadi giris, juga marah terhadap Pusporini. Tadi mereka terpaksa melayani pemuda ini karena si pemuda menerjang mereka kalang-kabut seperti orang gila, akan tetapi sekarang melihat Pusporini, mereka cepat memalingkan perhatian mereka dan segera mendesak dara itu dengan kelebatan golok mereka yang makin cepat dan makin kuat saja. Pusporini terpaksa kembali mengandalkan kelincahan tubuhnya, berkelebat mengelak.

"Eh, Bajul, tidurlah!" tiba-tiba Joko Pramono berteriak.
"Takkk!! Aduhhh ....” Gagak Kroda tiba-tiba membuang goloknya dan berjingkrak-jingkrak memegangi kaki kanannya dengan kedua tangan, berloncatan di atas kaki kirinya, berputar-putar dan mengaduh-aduh, meringis dan menangis karena rasa nyeri yang datang dari kakinya itu menembus ke tulang sumsum. Orang yang pernah mengalami betapa nyerinya gares kaki (tulang kering) digajul, tentu akan memaklumi penderitaan Gagak Kroda ini. Kiranya Joko Pramono yang tadi turun tangan membantu Pusporini, dari belakang ia menyapu kaki dan menggajul gares raksasa itu. Pusporini makin marah, bukan terhadap lawan melainkan terhadap pemuda kurang ajar itu yang telah berlancang tangan merobohkan musuhnya. Ia mengerahkan tenaga, menyalurkan Aji Pethit Nogo menampar lengan Gagak Dwipa yang datang menyerang dengan golok. Sambil melejit ke samping, ia menyambut serangan itu dengan tamparan yang menangkis, kemudian terus disusul dengan tusukan jari tangan ke dada lawan dengan Aji Pethit Nogo.
"Trangg .............. huuukkk!" Gagak Dwipa yang tadinya terkejut menyaksikan, adiknya berjingkrakan, menjadi terpecah perhatiannya. Ketika lengannya berciuman dengan jari-jari tangan yang penuh berisi hawa sakti Aji Pethit Nogo, lengan itu sendiri menjadi lumpuh sehingga goloknya terlepas, kemudian totokan jari tangan pada dadanya membuat napasnya seketika terhenti. Gagak Dwipa menekuk tubuhnya ke depan, terbatuk-batuk dan terengah-engah. Kemudian iapun lari tunggang-langgang karena melihat betapa Sariwuni dan Gagak Kroda juga sudah lari mendaki bukit. Gagak Kroda masih mengaduh-aduh dan terpincang-pincang, Sariwuni lari sambil memegangi kepala seolah-olah wanita itu khawatir kalau-kalau kepalanya copot, sedangkan Gagak Dwipa lari dengan membungkuk-bungkuk dan terengah-engah.

Joko Pramono berdiri menolak pinggang dan tertawa bergelak memandang ke arah tiga orang yang sedang berlomba melarikan diri itu. Akan tetapi tiba-tiba ia melempar tubuhnya ke kiri, menjatuhkan diri dan bergulingan, mengelak dari serangan Pusporini yang, memukulnya bertubi-tubi dan gencar.
"Eh-eh .. wah .... Apa-apaan ini?" Joko Pramono sudah melompat berdiri dan kini berdiri menghadapi Pusporini yang memandangnya dengan sepasang mata marah.
"Tidak ada hujan tidak ada angin, kau menyerang seperti kilat menyambar-nyambar! Apa ... kau ... begini?" Joko Pramono meraba dahi dengan telunjuk dimiringkan.
Terbelalak mata Pusporini saking marahnya. Cuping hidungnya kembang-kempis, mendengus-dengus, dadanya turun naik bergelombang.
"Apa? Kau anggap aku gila? Kau yang miring otakmu, tidak jejeg! Engkau yang gila, gendeng, edan, goblok,tolol!"
"Heeitit, heeittt, cukup! Kalau kau tidak miring, kenapa engkau marah-marah dan menyerangku seperti seekor kucing terpijak ekornya?"
Mata yang jernih bersinar-sinar itu makin lebar.
"Apa? Kau maki aku kucing? Berani benar kau, keparat jahanam! Engkau monyet munyuk, lutung kethek! Engkau celeng gotheng, bajul barat, engkau tikus kadal coro“
"Walah-walah ...., cukup! Katakan saja aku ini segala macam binatang di hutan, kan lebih lengkap dan tidak perlu menghambur-hamburkan kata-kata? Eh, engkau bocah perempuan yang galak seperti kucing beranak, kenapa engkau marah-marah dan membenci aku begini rupa? Kita saling kenalpun tidak, kenapa engkau memusuhiku?"
Pusporini menudingkan telunjuknya ke arah hidung Joko Pramono dan kembali pemuda ini merasa tidak enak kalau tidak meraba-raba hidungnya yang ditunjuk.
"Engkau pemuda keparat. Engkau bocah yang masih hijau berani bertingkah di depanku! Engkau telah melakukan dosa dua kali dan masih pura-pura bertanya lagi! Hemm, aku tidak akan sudah kalau belum memenggal batang lehermu!"
Joko Pramono kini meraba lehernya dan bergidik. Galak benar wanita ini, akan tetapi juga amat lucu.
"Hemm, memang aku masih hijau, akan tetapi setidaknya hijau tua seperti daun, sedangkan kau masih hijau pupus! Kau bilang aku mempunyai dua macam dosa? Wahai, ampunilah kiranya hambamu, Sang Hyang Dewi dari kahyangan! Kalau hamba berdosa sampai dua kali, dosa apakah gerangan?" Pemuda itu sengaja mengejek karena ia merasa penasaran sekali.
"Dasar laki-laki bajul yang lidahnya bercabang!"

Mendengar ini, otomatis Joko Pramono menjulurkan lidahnya keluar dari mulut dan matanya sampai menjadi juling, kedua manik mata mendekati hidung ketika ia berusaha sedapat mungkin melihat ujung lidahnya, untuk melihat apakah lidahnya benar-benar bercabang seperti lidah ular. Gerakan ini tidak dibuat-buat dan amatlah lucunya sehingga hampir saja Pusporini tertawa. Gadis inipun berwatak lincah periang, akan tetapi karena ia ingat bahwa pada saat itu ia sedang marah, maka tentu saja ia tidak sudi tertawa, bahkan segera menyambung kata-katanya,
"Manusia tak tahu diri! Pertama, engkau tadi secara kurang ajar dan tidak sopan telah melanggar susila, berani mampus engkau memangku aku setelah menjegal kakiku ketika aku lari. Dosa ini saja sudah cukup menjadi sebab mengapa aku memusuhimu, kemudian kau susul dengan dosa ke dua, yaitu kau berani sekali membantu aku merobohkan seorang di antara pengeroyokku! Ini namanya penghinaan dan kau memandang rendah kepadaku. Apa kaukira aku butuh akan bantuanmu? Apa kaukira engkau ini yang paling gagah, yang paling pandai, yang paling perkasa di dalam dunia maka kauanggap perlu sekali membantuku?"
Joko Pramono menjadi penasaran sekali. Ia membusungkan dadanya yang bidang, dagunya berkerut sehingga lekuk di tengahnya tampak nyata, giginya berkerot dan matanya yang tajam itu bersinar-sinar.
"Eh-eh-eh, nanti dulu. Enak saja engkau menjatuhkan fitnah. Memfitnah lebih keji daripada membunuh, kau tahu? Pertama-tama kau fitnah aku menjegal kakimu dan memangkumu. Padahal sesungguhnya, seperti kukatakan tadi, aku sedang tidur dan kakiku kulonjorkan, siapa menjegal orang? Apakah engkau sendiri yang tidak dapat menggunakan mata dengan baik, tidak melihat kakiku, kautendang dan sandung saja sampai kau terjatuh ke atas kedua pahaku. Bukan aku menjegal dan memangku, malah engkau sendiri yang menyandung dan menjatuhi pangkuanku! Sekarang hal ke dua yang kaukatakan dosaku itu. Kau bilang aku membantumu? Sama sekali tidak! Malah engkau sendirilah yang mula-mula membantuku dan memukul iblis betina tadi sampai ia roboh. Karena dua orang laki-laki raksasa tadi adalah kawan-kawan si iblis betina, tentu saja aku lalu menyerang mereka dan berhasil merobohkan seorang di antara mereka. Aku sama sekali tidak membantumu, justeru engkaulah yang pertama kali membantuku dengan merobohkan iblis betina itu!"
"Wah, memang kau pintar bicara seperti Patih Sangkuni, atau Pendeta Durna! Kalau aku tersandung kakimu dan terjatuh, itu tidak kusengaja, keparat! Dan kalau aku menyerang si perempuan rendah Sariwuni atau membunuhnya sekalipun, sama sekali bukan membantumu. Kau ini apa ku maka aku membantu-bantu? Huh! Bukan membantumu, memang dia musuh besar keluarga kami, musuh besar rakanda Adipati Tejolaksono!" Dalam ucapan ini, selain menyangkal dan membantah, juga dara remaja ini setengah sengaja menyebut nama rakandanya yang ia tahu amat terkenal untuk menaikkan "gengsinya" di mata pemuda itu.

Hati dara ini girang bukan main karena ternyata dugaannya tepat. Pemuda itu kelihatan terkejut sekali dan wajahnya berubah, tidak tersenum-senyum seperti tadi, bahkan lalu berkata,
"Apa? Engkau keluarga Sang Adipati Tejolaksono di Selopenangkep?"
Pusporini mengangkat dadanya yang membusung, matanya bercahaya, wajahnya berseri penuh kebanggaan ketika ia berkata,
"Aku Raden Ajeng Pusporini, adik misan gustimu Adipati Tejolaksono!" Ia percaya bahwa pemuda ini sekarang tentu akan lenyap watak dan sikapnya yang sombong, tentu akan cepat menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepadanya, menggigil ketakutan karena telah berani bersikap kurang ajar terhadap sang puteri bangsawan sehingga ia akan dapat dengan sepuas hati menegur dan menghukumnya. Akan tetapi tiba-tiba pemuda itu tertawa mengejek, lalu berkata,
"Ah, pantas saja engkau begini galak dan sombong! Kiranya engkau adalah anggota keluarga kadipaten yang terkenal sombong itu! Hemm ....!”
Pusporini kaget dan marah sekali. Sungguh di luar perkiraannya bahwa pemuda ini sama sekali tidak menaruh hormat bahkan mengejek dan menyatakan bahwa keluarga Kadipaten Selopenangkep sombong. Ia membanting kaki dan menudingkan telunjuknya, mukanya merah dibakar kemarahan.
"Heh, si keparat bocah gunung nangnung yang kurang ajar! Berani kau menghina Kadipaten Selopenangkep? Sebelum aku turun tangan membunuhmu, mengakulah siapa gerangan engkau ini agar kelak aku dapat menerangkan kepada rakanda adipati. Kalau sudah terlanjur aku turun tangan, tentu mayatmu tidak akan dapat memberi keterangan lagi!"
Pemuda itu tertawa lagi, tertawa mengejek. Wajahnya yang tampan itu membuat Pusporini makin marah karena ketampanan dan senyum itu mengejeknya!
"Sombongnya bukan main! Eh, perawan bangsawan, kau dengarlah. Aku bernama Joko Pramono. Rumahku adalah jagat ini, asalku dari atas angin. Hidupku di alam bebas, beratap langit berlantai tanah bertilam rumput, berdinding batu dan pohon, siang hari berdian surya, malam hari berdian bulan dan bintang”
"Stop .. Aku hanya ingin mengetahui namamu. Tidak perduli kau datang dari dasar neraka, hari ini adalah saat ajalmu....!”
"Wah, sumbarmu seperti kicau burung nuri! Boleh coba-coba kalau kau mampu membunuhku, kalau tidak mampu, aku akan menawanmu, bocah sombong ...!”
"Setan mampuslah!" Pusporini berseru keras dan tubuhnya sudah menerjang maju, mengirim pukulan dengan Aji Pethit Nogo mengarah pelipis kiri lawan. Joko Pramono bukanlah seorang pemuda yang sembrono. Biarpun wataknya periang dan jenaka, bahkan agak ugal-ugalan, akan tetapi ia cukup mengerti bahwa dara remaja yang galaknya kepati-pati (amat luar biasa) ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan dan bahwa pukulan yang dilancarkan ini adalah aji yang amat ampuh. Maka ia tidak berani menerimanya, apalagi pelipis merupakan bagian kepala yang ringkih (lemah). Tanpa merubah kedudukan tubuh karena ingin menguji keampuhan tangan lawan, Joko Pramono mengangkat tangan kiri ke atas, sengaja menerima dan menangkis telapak tangan dara itu dengan telapak tangannya yang dikipatkan.
"Plakkk ... !!" Dua tangan bertemu dan akibatnya Joko Pramono terpelanting ke belakang dan hampir saja ia roboh kalau ia tidak cepat melompat ke atas dan berjungkir-balik. Matanya terbelalak memandang dara itu, penuh kekaguman dan kekagetan. Ia sudah menyangka bahwa Pusporini seorang dara sakti, akan tetapi sama sekali tidak mengira bahwa pukulannya ampuhnya bukan buatan!
"Ihh, takutkah engkau? Laki-laki macam apa, baru sekali gebrakan saja mukanya sudah berubah hijau!" Pusporini mengejek dan menerjang maju lagi.

<<< Bagian 058                                                                                   Bagian 060 >>>

No comments:

Post a Comment