Tanpa disengaja oleh dua orang remaja itu, hal ini amat menguntungkan. Di dalam kemarahan para lawan, baik kedua orang Gagak yang mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada Pusporini, maupun Sariwuni yang mencurahkan perhatian kepada Joko Pramono tanpa memperdulikan hal-hal lain, dua orang remaja ini mendapat kesempatan untuk balas memukul bukan kepada lawan sendiri, melainkan kepada lawan lain yang tidak menyerang mereka!
Demikianlah, ketika
Pusporini meloncat jauh ke belakang, mengelak daripada sambaran dua batang
golok para pengeroyoknya, secara kebetulan sekali ia tiba di dekat Sariwuni
yang mendesak Joko Pramono. Pemuda inipun meloncat jauh dan Sariwuni
membalikkan tubuh untuk mengejar. Saat ini pundaknya menyentuh pundak Pusporini
dan dara remaja itu dengan kemarahan meluap-luap karena belum juga dapat
membalas dua orang lawannya, lalu memutar lengan mengirim hantaman sambil
mengerahkan Aji Bojro Dahono! Aji pukulan yang ampuhnya menggiriskan ini baru
ia latih setengah bagian, belum matang, namun akibatnya hebat sekali. Sariwuni
yang sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapat hantaman dari Pusporini
karena seluruh perhatiannya ditujukan kepada Joko Pramono, menjerit lirih dan
tubuhnya terputar-putar, kedua tangannya memegangi kepala yang tadi kena
hantaman. Seluruh kepalanya terasa panas seperti dibakar, membuat air matanya
bercucuran tak dapat ia cegah lagi dan akhirnya Sariwuni jatuh terduduk di atas
tanah sambil meramkan mata. Wanita ini maklum bahwa ia menderita luka pukulan
sakti, maka ia cepat mengerahkan hawa sakti di tubuhnya untuk memulihkan
keadaan dirinya. Pusporini yang tanpa sengaja sudah merobohkan Sariwuni, kini
menengok dan alangkah mendongkol hatinya ketika ia melihat betapa pemuda kurang
ajar itu kini menggantikan dia menandingi kedua orang Gagak. Ia mendengus dan
menerjang maju, saking marahnya maka terjangannya pun hebat bukan main. Gagak
Dwipa dan Gagak Kroda kini sedang mengeroyok Joko Pramono, melihat robohnya
Sariwuni hati mereka menjadi giris, juga marah terhadap Pusporini. Tadi mereka
terpaksa melayani pemuda ini karena si pemuda menerjang mereka kalang-kabut
seperti orang gila, akan tetapi sekarang melihat Pusporini, mereka cepat
memalingkan perhatian mereka dan segera mendesak dara itu dengan kelebatan
golok mereka yang makin cepat dan makin kuat saja. Pusporini terpaksa kembali
mengandalkan kelincahan tubuhnya, berkelebat mengelak.
"Eh, Bajul,
tidurlah!" tiba-tiba Joko Pramono berteriak.
"Takkk!! Aduhhh ....”
Gagak Kroda tiba-tiba membuang goloknya dan berjingkrak-jingkrak memegangi kaki
kanannya dengan kedua tangan, berloncatan di atas kaki kirinya, berputar-putar
dan mengaduh-aduh, meringis dan menangis karena rasa nyeri yang datang dari
kakinya itu menembus ke tulang sumsum. Orang yang pernah mengalami betapa
nyerinya gares kaki (tulang kering) digajul, tentu akan memaklumi penderitaan
Gagak Kroda ini. Kiranya Joko Pramono yang tadi turun tangan membantu
Pusporini, dari belakang ia menyapu kaki dan menggajul gares raksasa itu. Pusporini
makin marah, bukan terhadap lawan melainkan terhadap pemuda kurang ajar itu
yang telah berlancang tangan merobohkan musuhnya. Ia mengerahkan tenaga,
menyalurkan Aji Pethit Nogo menampar lengan Gagak Dwipa yang datang menyerang
dengan golok. Sambil melejit ke samping, ia menyambut serangan itu dengan
tamparan yang menangkis, kemudian terus disusul dengan tusukan jari tangan ke
dada lawan dengan Aji Pethit Nogo.
"Trangg ..............
huuukkk!" Gagak Dwipa yang tadinya terkejut menyaksikan, adiknya berjingkrakan,
menjadi terpecah perhatiannya. Ketika lengannya berciuman dengan jari-jari
tangan yang penuh berisi hawa sakti Aji Pethit Nogo, lengan itu sendiri menjadi
lumpuh sehingga goloknya terlepas, kemudian totokan jari tangan pada dadanya
membuat napasnya seketika terhenti. Gagak Dwipa menekuk tubuhnya ke depan,
terbatuk-batuk dan terengah-engah. Kemudian iapun lari tunggang-langgang karena
melihat betapa Sariwuni dan Gagak Kroda juga sudah lari mendaki bukit. Gagak
Kroda masih mengaduh-aduh dan terpincang-pincang, Sariwuni lari sambil
memegangi kepala seolah-olah wanita itu khawatir kalau-kalau kepalanya copot,
sedangkan Gagak Dwipa lari dengan membungkuk-bungkuk dan terengah-engah.
Joko Pramono berdiri menolak
pinggang dan tertawa bergelak memandang ke arah tiga orang yang sedang berlomba
melarikan diri itu. Akan tetapi tiba-tiba ia melempar tubuhnya ke kiri,
menjatuhkan diri dan bergulingan, mengelak dari serangan Pusporini yang,
memukulnya bertubi-tubi dan gencar.
"Eh-eh .. wah ....
Apa-apaan ini?" Joko Pramono sudah melompat berdiri dan kini berdiri
menghadapi Pusporini yang memandangnya dengan sepasang mata marah.
"Tidak ada hujan tidak
ada angin, kau menyerang seperti kilat menyambar-nyambar! Apa ... kau ...
begini?" Joko Pramono meraba dahi dengan telunjuk dimiringkan.
Terbelalak mata Pusporini
saking marahnya. Cuping hidungnya kembang-kempis, mendengus-dengus, dadanya
turun naik bergelombang.
"Apa? Kau anggap aku
gila? Kau yang miring otakmu, tidak jejeg! Engkau yang gila, gendeng, edan,
goblok,tolol!"
"Heeitit, heeittt,
cukup! Kalau kau tidak miring, kenapa engkau marah-marah dan menyerangku
seperti seekor kucing terpijak ekornya?"
Mata yang jernih
bersinar-sinar itu makin lebar.
"Apa? Kau maki aku
kucing? Berani benar kau, keparat jahanam! Engkau monyet munyuk, lutung kethek!
Engkau celeng gotheng, bajul barat, engkau tikus kadal coro“
"Walah-walah ....,
cukup! Katakan saja aku ini segala macam binatang di hutan, kan lebih lengkap
dan tidak perlu menghambur-hamburkan kata-kata? Eh, engkau bocah perempuan yang
galak seperti kucing beranak, kenapa engkau marah-marah dan membenci aku begini
rupa? Kita saling kenalpun tidak, kenapa engkau memusuhiku?"
Pusporini menudingkan
telunjuknya ke arah hidung Joko Pramono dan kembali pemuda ini merasa tidak
enak kalau tidak meraba-raba hidungnya yang ditunjuk.
"Engkau pemuda keparat.
Engkau bocah yang masih hijau berani bertingkah di depanku! Engkau telah
melakukan dosa dua kali dan masih pura-pura bertanya lagi! Hemm, aku tidak akan
sudah kalau belum memenggal batang lehermu!"
Joko Pramono kini meraba
lehernya dan bergidik. Galak benar wanita ini, akan tetapi juga amat lucu.
"Hemm, memang aku masih
hijau, akan tetapi setidaknya hijau tua seperti daun, sedangkan kau masih hijau
pupus! Kau bilang aku mempunyai dua macam dosa? Wahai, ampunilah kiranya
hambamu, Sang Hyang Dewi dari kahyangan! Kalau hamba berdosa sampai dua kali,
dosa apakah gerangan?" Pemuda itu sengaja mengejek karena ia merasa
penasaran sekali.
"Dasar laki-laki bajul
yang lidahnya bercabang!"
Mendengar ini, otomatis Joko
Pramono menjulurkan lidahnya keluar dari mulut dan matanya sampai menjadi
juling, kedua manik mata mendekati hidung ketika ia berusaha sedapat mungkin
melihat ujung lidahnya, untuk melihat apakah lidahnya benar-benar bercabang
seperti lidah ular. Gerakan ini tidak dibuat-buat dan amatlah lucunya sehingga
hampir saja Pusporini tertawa. Gadis inipun berwatak lincah periang, akan
tetapi karena ia ingat bahwa pada saat itu ia sedang marah, maka tentu saja ia
tidak sudi tertawa, bahkan segera menyambung kata-katanya,
"Manusia tak tahu diri!
Pertama, engkau tadi secara kurang ajar dan tidak sopan telah melanggar susila,
berani mampus engkau memangku aku setelah menjegal kakiku ketika aku lari. Dosa
ini saja sudah cukup menjadi sebab mengapa aku memusuhimu, kemudian kau susul
dengan dosa ke dua, yaitu kau berani sekali membantu aku merobohkan seorang di
antara pengeroyokku! Ini namanya penghinaan dan kau memandang rendah kepadaku.
Apa kaukira aku butuh akan bantuanmu? Apa kaukira engkau ini yang paling gagah,
yang paling pandai, yang paling perkasa di dalam dunia maka kauanggap perlu
sekali membantuku?"
Joko Pramono menjadi
penasaran sekali. Ia membusungkan dadanya yang bidang, dagunya berkerut
sehingga lekuk di tengahnya tampak nyata, giginya berkerot dan matanya yang
tajam itu bersinar-sinar.
"Eh-eh-eh, nanti dulu.
Enak saja engkau menjatuhkan fitnah. Memfitnah lebih keji daripada membunuh,
kau tahu? Pertama-tama kau fitnah aku menjegal kakimu dan memangkumu. Padahal
sesungguhnya, seperti kukatakan tadi, aku sedang tidur dan kakiku kulonjorkan,
siapa menjegal orang? Apakah engkau sendiri yang tidak dapat menggunakan mata
dengan baik, tidak melihat kakiku, kautendang dan sandung saja sampai kau
terjatuh ke atas kedua pahaku. Bukan aku menjegal dan memangku, malah engkau
sendiri yang menyandung dan menjatuhi pangkuanku! Sekarang hal ke dua yang
kaukatakan dosaku itu. Kau bilang aku membantumu? Sama sekali tidak! Malah
engkau sendirilah yang mula-mula membantuku dan memukul iblis betina tadi sampai
ia roboh. Karena dua orang laki-laki raksasa tadi adalah kawan-kawan si iblis
betina, tentu saja aku lalu menyerang mereka dan berhasil merobohkan seorang di
antara mereka. Aku sama sekali tidak membantumu, justeru engkaulah yang pertama
kali membantuku dengan merobohkan iblis betina itu!"
"Wah, memang kau pintar
bicara seperti Patih Sangkuni, atau Pendeta Durna! Kalau aku tersandung kakimu
dan terjatuh, itu tidak kusengaja, keparat! Dan kalau aku menyerang si
perempuan rendah Sariwuni atau membunuhnya sekalipun, sama sekali bukan
membantumu. Kau ini apa ku maka aku membantu-bantu? Huh! Bukan membantumu,
memang dia musuh besar keluarga kami, musuh besar rakanda Adipati
Tejolaksono!" Dalam ucapan ini, selain menyangkal dan membantah, juga dara
remaja ini setengah sengaja menyebut nama rakandanya yang ia tahu amat terkenal
untuk menaikkan "gengsinya" di mata pemuda itu.
Hati dara ini girang bukan
main karena ternyata dugaannya tepat. Pemuda itu kelihatan terkejut sekali dan
wajahnya berubah, tidak tersenum-senyum seperti tadi, bahkan lalu berkata,
"Apa? Engkau keluarga
Sang Adipati Tejolaksono di Selopenangkep?"
Pusporini mengangkat dadanya
yang membusung, matanya bercahaya, wajahnya berseri penuh kebanggaan ketika ia
berkata,
"Aku Raden Ajeng
Pusporini, adik misan gustimu Adipati Tejolaksono!" Ia percaya bahwa
pemuda ini sekarang tentu akan lenyap watak dan sikapnya yang sombong, tentu
akan cepat menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepadanya, menggigil
ketakutan karena telah berani bersikap kurang ajar terhadap sang puteri
bangsawan sehingga ia akan dapat dengan sepuas hati menegur dan menghukumnya.
Akan tetapi tiba-tiba pemuda itu tertawa mengejek, lalu berkata,
"Ah, pantas saja engkau
begini galak dan sombong! Kiranya engkau adalah anggota keluarga kadipaten yang
terkenal sombong itu! Hemm ....!”
Pusporini kaget dan marah
sekali. Sungguh di luar perkiraannya bahwa pemuda ini sama sekali tidak menaruh
hormat bahkan mengejek dan menyatakan bahwa keluarga Kadipaten Selopenangkep
sombong. Ia membanting kaki dan menudingkan telunjuknya, mukanya merah dibakar
kemarahan.
"Heh, si keparat bocah
gunung nangnung yang kurang ajar! Berani kau menghina Kadipaten Selopenangkep?
Sebelum aku turun tangan membunuhmu, mengakulah siapa gerangan engkau ini agar
kelak aku dapat menerangkan kepada rakanda adipati. Kalau sudah terlanjur aku
turun tangan, tentu mayatmu tidak akan dapat memberi keterangan lagi!"
Pemuda itu tertawa lagi,
tertawa mengejek. Wajahnya yang tampan itu membuat Pusporini makin marah karena
ketampanan dan senyum itu mengejeknya!
"Sombongnya bukan main!
Eh, perawan bangsawan, kau dengarlah. Aku bernama Joko Pramono. Rumahku adalah
jagat ini, asalku dari atas angin. Hidupku di alam bebas, beratap langit
berlantai tanah bertilam rumput, berdinding batu dan pohon, siang hari berdian
surya, malam hari berdian bulan dan bintang”
"Stop .. Aku hanya
ingin mengetahui namamu. Tidak perduli kau datang dari dasar neraka, hari ini
adalah saat ajalmu....!”
"Wah, sumbarmu seperti
kicau burung nuri! Boleh coba-coba kalau kau mampu membunuhku, kalau tidak
mampu, aku akan menawanmu, bocah sombong ...!”
"Setan mampuslah!"
Pusporini berseru keras dan tubuhnya sudah menerjang maju, mengirim pukulan
dengan Aji Pethit Nogo mengarah pelipis kiri lawan. Joko Pramono bukanlah
seorang pemuda yang sembrono. Biarpun wataknya periang dan jenaka, bahkan agak
ugal-ugalan, akan tetapi ia cukup mengerti bahwa dara remaja yang galaknya
kepati-pati (amat luar biasa) ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan dan
bahwa pukulan yang dilancarkan ini adalah aji yang amat ampuh. Maka ia tidak
berani menerimanya, apalagi pelipis merupakan bagian kepala yang ringkih
(lemah). Tanpa merubah kedudukan tubuh karena ingin menguji keampuhan tangan
lawan, Joko Pramono mengangkat tangan kiri ke atas, sengaja menerima dan
menangkis telapak tangan dara itu dengan telapak tangannya yang dikipatkan.
"Plakkk ... !!"
Dua tangan bertemu dan akibatnya Joko Pramono terpelanting ke belakang dan
hampir saja ia roboh kalau ia tidak cepat melompat ke atas dan berjungkir-balik.
Matanya terbelalak memandang dara itu, penuh kekaguman dan kekagetan. Ia sudah
menyangka bahwa Pusporini seorang dara sakti, akan tetapi sama sekali tidak
mengira bahwa pukulannya ampuhnya bukan buatan!
"Ihh, takutkah engkau?
Laki-laki macam apa, baru sekali gebrakan saja mukanya sudah berubah
hijau!" Pusporini mengejek dan menerjang maju lagi.
No comments:
Post a Comment