Perawan Lembah Wilis; Bagian 058


Apalagi setelah ia menjadi murid Wasi Bagaspati, murid tersayang dan juga kadang-kadang menjadi kekasih sang wasi, ia menerima pelbagai aji kesaktian yang dahsyat, di antaranya adalah Aji Wisakenaka yang tidak mudah dipelajari sembarang orang. Terhadap pemuda itu, ia masih menaruh rasa sayang dan hanya ingin merobohkan tanpa membunuhnya karena ia masih menaruh harapan untuk menaklukkan dan menguasai pemuda yang menimbulkan seleranya dan membuatnya mengilar itu. Maka biarpun ia kini menerjang dengan dahsyat, ia masih belum mengeluarkan ajinya yang hebat itu, juga masih belum menyentuh gagang pedangnya yang terselip di pinggang. Akan tetapi sekali ini ia benar-benar kecelik. Serangannya yang dahsyat itu disambut dengan sikap tenang saja oleh Joko Pramono, bahkan kini pemuda itu yang tahu akan kesaktian lawan, membalas dengan pukulan-pukulan yang juga cepat dan antepnya tidak kalah oleh lawan! Terjadilah pertempuran yang amat seru di antara mereka sehingga debu mengebul di pagi hari itu dan tubuh mereka lenyap berubah menjadi bayangan yang berkelebatan cepat sekali.

Pusporini sekarang telah menemukan kembali kepribadiannya, menemukan kembali ketangkasan dan ketabahannya, setelah mengalami guncangan batin yang hebat di puncak Gunung Mentasari. Menghadapi pengeroyokan dua orang Gagak, makin lama makin timbul kembali kegembiraannya bertanding, bangkit kembali semangatnya. Mula-mula, kedua orang Gagak itu seakan berlomba untuk menangkapnya, untuk memeluk mendekapnya dan memondongnya kembali ke puncak agar mereka selain dapat mendekap tubuh yang muda menggairahkan itu, juga akan mendapat pujian dari Sang Wasi Bagaspati. Akan tetapi ternyata gadis itu lebih licin daripada belut, lebih tangkas daripada monyet dan tubuh yang langsing itu dapat berkelebatan laksana seekor burung srikatan! Berkali-kali mereka menubruk, namun selalu menangkap angin dan ketika Pusporini sudah bangkit benar-benar semangatnya, dara remaja ini bahkan mengelak sambil menampar!
"Plak! Plenggg ...”
Tubuh dua orang raksasa itu terpelanting. Gagak Dwipa jatuh terduduk, megap-megap seperti ikan terlempar di darat karena dadanya terkena dorongan telapak tangan yang halus, yang kecil, akan tetapi mengandung tenaga mujijat itu. Serasa terhenti jalan napasnya dan ia terengah-engah sambil memandang dengan mata melotot, penuh keheranan, kekagetan, dan juga kemarahan. Adapun Gagak Kroda yang kena ditempiling pelipisnya, terpelanting dan bergulingan di atas tanah, lalu bangkit duduk dengan mata juling. Bumi dan pohon-pohon di sekelilingnya serasa berputaran, tanah yang didudukinya bergelombang. Setelah ia menggoyang-goyang kepalanya dengan keras, barulah agak reda kepeningan kepalanya. Pusporini berdiri tegak menanti, bibirnya yang manis tersenyum mengejek. Dia kurang pengalaman sehingga ia tidak tahu bahwa dua orang yang terkena pukulan Aji Pethit Nogo hanya terpelanting dan tidak tewas atau terluka itu sesungguhnya merupakan hal yang aneh, menjadi bukti bahwa kedua orang lawannya itu memiliki kekebalan yang luar biasa. Maka ia cukup girang melihat betapa tamparan tangannya membuat kedua lawan itu roboh.
"Demi iblis ...! Tangan kecil halus itu ..., kuat benar pukulannya!" Gagak Dwipa berseru sambil melompat bangun.
"Huh-huh, kita telah bersikap ceroboh tadi, Kakang Dwipa. Kita lupa bahwa gadis ini adalah adik Tejolaksono, tentu saja bukan sembarangan bocah." Diapun sudah melompat bangun dengan gerakan yang sigap.
Gagak Dwipa melangkah maju menghampiri Pusporini, sikapnya penuh ancaman, wajahnya bengis ketika ia berkata,
"Hamm, bocah, jangan kau tertawa-tawa dulu dan mengira akan dapat mengalahkan kami! Kau bocah kemarin sore masih bau pupuk dringo, lebih baik kau menyerah baik-baik agar kami bawa kembali ke puncak menghadap sang wasi karena kalau kau tetap berkeras menolak dan terpaksa kami mempergunakan paksaan, tidak urung kau akan mengalami sakit-sakit dan kalau hal ini terjadi, sungguh sayang kalau kulitmu yang halus sampai lecet-lecet, dagingmu yang muda ranum akan terluka." Pusporini yang sudah "mendapat hati" melihat betapa tadi ia dapat merobohkan kedua orang lawannya, kini tersenyum mengejek.
"Dua ekor lutung korengen yang menjemukan! Kalian masih banyak cakap lagi! Sungguh tak tahu diri. Lebih baik kalian cepat-cepat minggat dari depanku sebelum kupatahkan batang leher kalian! Aku Pusporini sama sekali tidak gentar menghadapi gertak sambelmu!"
Gagak Dwipa melebarkan matanya dan menoleh kepada saudaranya.
"Wah..wah, bocah ini memang tidak boleh diberi hati. Hayo, kita beri hajaran biar dia kapok, adi Kroda!"

Dua orang Gagak itu kini menyerbu maju, masih seperti tadi hendak mencengkeram dan menangkap, akan tetapi kalau tadi melakukan hal ini secara sembrono, kini mereka berhati-hati. Pusporini seorang dara remaja yang cerdik sekali. Biarpun belum banyak pengalamannya dalam pertandingan, namun ia dapat menduga bahwa dua orang ini tentu bertenaga besar sekali dan kalau ia harus mengadu tenaga, la akan menderlta rugi. Oleh karena Itu, la segera mengerahkan ilmunya meringankan tubuh dan biarpun Aji Bayu Sakti yang ia pelajari belum sempurna benar, namun sudahlah cukup untuk membuat tubuhnya berkelebatan cepat sekali sehingga dengan mudah ia dapat mengelak dari tubrukan-tubrukan kedua orang itu. Gagak Dwipa melengak heran ketika ia menubruk tempat kosong dan tahu-tahu lawannya sudah hilang. Akan tetapi Gagak Kroda cepat menyusul gerakan saudaranya dan menyambar pinggang Pusporini dari belakang. Kembali gadis itu menyelinap dan hanya hawa pukulan Gagak Kroda saja yang mampu menyentuh pinggangnya. Sambil mengelak, Pusporini sudah menotolkan ujung kakinya ke tanah, sehingga tubuhnya melayang naik, dan cepat ia turun di belakang Gagak Dwipa, tangan kirinya menampar ke arah punggung. Gagak Dwipa juga bukan seorang lemah. Dia adalah orang pertama dari Lima Gagak Serayu, ilmu kepandaiannya tinggi dan tentu saja ia maklum akan datangnya tamparan dari belakang ini. Kalau tadi dia dan adiknya sampai menjadi korban tamparan tangan Pusporini adalah karena mereka berdua memandang rendah dan mengira bahwa tamparan tangan dara yang halus itu akan menimpa tubuh mereka yang kebal seperti pijatan mesra. Kini ia cepat miringkan tubuhnya, menekuk siku tangannya dan menangkis tamparan itu. Pusporini tidak menarik kembali tangannya melainkan mengerahkan tenaga dan sengaja mengadu lengannya untuk mengukur tenaga lawan. "Dukk !" Lengan yang kecil berkulit halus itu beradu dengan lengan yang besar kasar berbulu, dan akibatnya tubuh Pusporini terpental ke belakang! Akan tetapi hal ini hanya berarti bahwa dara itu kalah dalam hal tenaga kasar, sebaliknya, ia menang dalam tenaga dalam, buktinya raksasa itu kini meringis dan menggosok-gosok lengannya yang beradu dengan lengan dara itu, yang kini terasa panas seperti bertemu besi merah bernyala dan seperti ditusuk-tusuk jarum.
"Rebahlah !" bentak Gagak Kroda yang marah sekali dan penasaran. Ia menubruk dari belakang, tangannya menghantam ke arah pundak dara itu. Pusporini hanya memutar tumit menggeser kaki. Lengan yang panjang besar lewat di samping pundaknya, dara ini cepat menusuk dengan jari tangan ke lambung lawan.
"Ngekkk ....!" Gagak Kroda sudah mengeraskan lambung bahkan disusul gerakan tangan menangkis, namun karena lambungnya sudah "dimasuki" jari tangan yang menotok dengan tenaga mujijat itu, seketika tubuhnya berputaran dan ia memegangi lambungnya sambil meringis-ringis. Perutnya mendadak terasa mulas sekali, seperti diremas-remas dari dalam, seperti orang terlalu banyak makan lombok sehingga kalau saja ia tidak memiliki hawa sakti untuk menahannya, tentu pada saat itu juga ia sudah kecirit-cirit terberak-berak di dalam celana saking nyerinya!
Kemarahan dua orang Gagak itu membuat mereka menjadi gelap mata, tidak ingat lagi bahwa dara ini harus ditangkap hidup-hidup dan dibawa kembali kepada Wasi Bagaspati. Mata mereka menjadi merah, menyinarkan nafsu membunuh, tidak ingat apa-apa lagi. Dengan teriakan seperti lolong srigala, Gagak Dwipa dan Gagak Kroda mencabut senjata mereka, yaitu sebuah golok yang melengkung dan tajam sekall sampai berkilau tertimpa matahari pagi.
"Perempuan setan, kuminum darahmu!" bentak Gagak Dwipa.
"Kuganyang dagingmu!" teriak pula Gagak Kroda.
Mereka berdua sudah menerjang maju, membacok dengan golok. Senjata mereka itu menyambar dengan cepat dan kuat sehingga mengeluarkan suara berdesing. Pusporini maklum akan bahaya serangan mereka itu, maka iapun cepat mengerahkan Aji Bayu Sakti dan mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk menyelamatkan diri, berkelebat ke sana ke mari menghindarkan sambaran dua batang golok. Pertandingan ini kini berjalan cepat sekali karena dua buah golok yang diputar-putar itu berubah menjadi gulungan dua sinar yang menggulung-gulung tubuh dua orang Gagak itu dan menyambar-nyambar ke arah Pusporini. Namun gadis inipun hebat, tubuhnya berkelebatan dan yang tampak hanya bayangannya saja yang menyelinap di antara sambaran sinar golok. Untung bagi Pusporini bahwa kedua orang lawannya mempergunakan senjata golok karena justeru dia adalah seorang ahli permainan senjata golok seperti yang diajarkan rakandanya, yaitu Ilmu Golok Lebah Putih. Biarpun kini ia bertangan kosong, namun ia yang sudah mengenal sifat senjata golok dengan amat baiknya, kini tidaklah begitu terancam dan biarpun tampaknya terdesak, namun selalu dapat menghindar dan menanti kesempatan baik untuk merobohkan dua orang lawannya yang kuat.

Sementara itu, pertempuran antara Sariwuni yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi daripada Gagak Dwipa atau Gagak Kroda, melawan Joko Pramono pemuda remaja yang jenaka dan aneh itu, makin lama menjadi makin seru dan hebat sekali. Tadinya Sariwuni yang tergila-gila kepada pemuda ganteng ini tidak mengirim serangan maut, karena ia merasa sayang kalau membunuhnya, hanya ingin menaklukkan dan menguasainya. Akan tetapi makin lama wanita ini menjadi makin penasaran karena semua terjangannya dapat dielakkan atau ditangkis pemuda itu dan setiap lengan mereka bertemu, Sariwuni merasa betapa lengannya tergetar. Ketika dengan rasa penasaran Sariwuni untuk ke sekian kalinya meloncat tinggi dan dari atas tubuhnya menyambar turun, menubruk dan hendak memeluk pemuda itu agar dapat ia ringkus dan dibuat tidak berdaya, Joko Pramono tertawa mengejek, akan tetapi membiarkan diri terjengkang ke belakang dan terjatuh. Ia seolah-olah sudah tidak berdaya lagi dan Sariwuni girang bukan main. Melihat pemuda itu terjengkang dan kedua lengannya terbuka seolah-olah menanti dia menubruk untuk dipeluk, Sariwuni tertawa dan berkata,
"Aduh, bocah bagus, akhirnya kau menyerah ...." ia menubruk dengan kedua lengan terpentang.
"Aiilhhhh..... dessss ....!!"' Tubuh Sariwuni terlempar ke belakang sampai empat meter jauhnya dan ia terbanting ke atas tanah lalu bangkit berdiri sambil meringis kesakitan. Kiranya ketika ia menubruk tadi, Joko Pramono yang kelihatan tidak berdaya itu mengirim sebuah tendangan yang tiba-tiba dan tidak tersangka-sangka sama sekali sehingga tepat mengenai perut lawan! Wajah yang cantik dan tadinya tersenyum-senyum genit itu seketika berubah. Kini pandang matanya penuh kemarahan, sepasang mata yang indah bentuknya itu kini menjadi melotot merah, hidungnya kembang-kempis dan mulutnya cemberut, wajahnya diliputi kemarahan. Sariwuni menjadi marah bukan main. Perlahan-lahan tangannya bergerak-gerak, jari tangannya bergerak seperti kuku harimau dan terdengar suara berkerotokan ketika kedua tangannya itu perlahan-lahan berubah warnanya, mula-mula kemerahan, lalu merah tua kehitaman, akhirnya berubah menjadi hitam sama sekali, dari pergelangan tangan sampai ke ujung kuku jari tangannya! Kini sinar maut membayang di wajahnya, memancar keluar dari matanya ketika ia melangkah maju menghampiri Joko Pramono, mulutnya menyeringai dan membuat wajahnya yang cantik menjadi mengerikan.
"Keparat, tak tahu disayang ......kau memang patut mampus!" Mulutnya mengeluarkan ucapan ini lirih dan lambat, namun secara tiba-tiba ia sudah menerjang maju, kedua tangannya seperti cakar harimau, gerakannya cepat dan kuku serta tangan itu menjadi bayangan hitam yang mengeluarkan bau busuk memuakkan, amis dan keras seperti bau bangkai!

Joko Pramono cepat menghindarkan diri dengan loncatan tinggi ke kiri. Pemuda ini tidak mau senyum- senyum lagi, tidak berani main-main lagi karena ia maklum betapa hebat dan jahatnya kedua tangan wanita itu. Biarpun ia tidak tahu jelas aji sesat apakah yang digunakan wanita itu, namun ia dapat menduga bahwa tentu kuku-kuku tangan wanita itu mengandung racun yang ampuhnya menggila. Oleh karena dugaan ini, maka ia tidak berani sembarangan menangkis beradu lengan, malah berdekatan pun ia tidak berani melainkan mengelak dan mengandalkan kecepatan dan kelincahannya urituk menghindar ke sana ke mari. Tanpa disengaja atau diatur terlebih dahulu, keadaan pemuda ini sama benar dengan keadaan Pusporini. Juga dara remaja ini berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri daripada pengeroyokan dua buah golok lawan yang menyambar-nyambar laksana sepasang tangan maut. Dan karena pertandingan yang tadinya menjadi dua rombongan ini sifatnya sama, yaitu dua orang muda itu berloncatan ke sana-sini dan lawan-lawannya melakukan pengejaran dan desakan, maka lambat-laun pertandingan itu saling berdekatan, bahkan kini bayangan Pusporini dan Joko Pramono kadang-kadang bertukar tempat dan bersilang!

<<< Bagian 057                                                                                    Bagian 059 >>>

No comments:

Post a Comment