Apalagi setelah ia menjadi murid Wasi Bagaspati, murid tersayang dan juga kadang-kadang menjadi kekasih sang wasi, ia menerima pelbagai aji kesaktian yang dahsyat, di antaranya adalah Aji Wisakenaka yang tidak mudah dipelajari sembarang orang. Terhadap pemuda itu, ia masih menaruh rasa sayang dan hanya ingin merobohkan tanpa membunuhnya karena ia masih menaruh harapan untuk menaklukkan dan menguasai pemuda yang menimbulkan seleranya dan membuatnya mengilar itu. Maka biarpun ia kini menerjang dengan dahsyat, ia masih belum mengeluarkan ajinya yang hebat itu, juga masih belum menyentuh gagang pedangnya yang terselip di pinggang. Akan tetapi sekali ini ia benar-benar kecelik. Serangannya yang dahsyat itu disambut dengan sikap tenang saja oleh Joko Pramono, bahkan kini pemuda itu yang tahu akan kesaktian lawan, membalas dengan pukulan-pukulan yang juga cepat dan antepnya tidak kalah oleh lawan! Terjadilah pertempuran yang amat seru di antara mereka sehingga debu mengebul di pagi hari itu dan tubuh mereka lenyap berubah menjadi bayangan yang berkelebatan cepat sekali.
Pusporini sekarang telah
menemukan kembali kepribadiannya, menemukan kembali ketangkasan dan
ketabahannya, setelah mengalami guncangan batin yang hebat di puncak Gunung
Mentasari. Menghadapi pengeroyokan dua orang Gagak, makin lama makin timbul
kembali kegembiraannya bertanding, bangkit kembali semangatnya. Mula-mula,
kedua orang Gagak itu seakan berlomba untuk menangkapnya, untuk memeluk
mendekapnya dan memondongnya kembali ke puncak agar mereka selain dapat
mendekap tubuh yang muda menggairahkan itu, juga akan mendapat pujian dari Sang
Wasi Bagaspati. Akan tetapi ternyata gadis itu lebih licin daripada belut,
lebih tangkas daripada monyet dan tubuh yang langsing itu dapat berkelebatan
laksana seekor burung srikatan! Berkali-kali mereka menubruk, namun selalu
menangkap angin dan ketika Pusporini sudah bangkit benar-benar semangatnya,
dara remaja ini bahkan mengelak sambil menampar!
"Plak! Plenggg ...”
Tubuh dua orang raksasa itu
terpelanting. Gagak Dwipa jatuh terduduk, megap-megap seperti ikan terlempar di
darat karena dadanya terkena dorongan telapak tangan yang halus, yang kecil,
akan tetapi mengandung tenaga mujijat itu. Serasa terhenti jalan napasnya dan
ia terengah-engah sambil memandang dengan mata melotot, penuh keheranan,
kekagetan, dan juga kemarahan. Adapun Gagak Kroda yang kena ditempiling
pelipisnya, terpelanting dan bergulingan di atas tanah, lalu bangkit duduk
dengan mata juling. Bumi dan pohon-pohon di sekelilingnya serasa berputaran,
tanah yang didudukinya bergelombang. Setelah ia menggoyang-goyang kepalanya
dengan keras, barulah agak reda kepeningan kepalanya. Pusporini berdiri tegak
menanti, bibirnya yang manis tersenyum mengejek. Dia kurang pengalaman sehingga
ia tidak tahu bahwa dua orang yang terkena pukulan Aji Pethit Nogo hanya
terpelanting dan tidak tewas atau terluka itu sesungguhnya merupakan hal yang
aneh, menjadi bukti bahwa kedua orang lawannya itu memiliki kekebalan yang luar
biasa. Maka ia cukup girang melihat betapa tamparan tangannya membuat kedua
lawan itu roboh.
"Demi iblis ...! Tangan
kecil halus itu ..., kuat benar pukulannya!" Gagak Dwipa berseru sambil
melompat bangun.
"Huh-huh, kita telah
bersikap ceroboh tadi, Kakang Dwipa. Kita lupa bahwa gadis ini adalah adik
Tejolaksono, tentu saja bukan sembarangan bocah." Diapun sudah melompat
bangun dengan gerakan yang sigap.
Gagak Dwipa melangkah maju
menghampiri Pusporini, sikapnya penuh ancaman, wajahnya bengis ketika ia
berkata,
"Hamm, bocah, jangan
kau tertawa-tawa dulu dan mengira akan dapat mengalahkan kami! Kau bocah
kemarin sore masih bau pupuk dringo, lebih baik kau menyerah baik-baik agar
kami bawa kembali ke puncak menghadap sang wasi karena kalau kau tetap berkeras
menolak dan terpaksa kami mempergunakan paksaan, tidak urung kau akan mengalami
sakit-sakit dan kalau hal ini terjadi, sungguh sayang kalau kulitmu yang halus
sampai lecet-lecet, dagingmu yang muda ranum akan terluka." Pusporini yang
sudah "mendapat hati" melihat betapa tadi ia dapat merobohkan kedua
orang lawannya, kini tersenyum mengejek.
"Dua ekor lutung
korengen yang menjemukan! Kalian masih banyak cakap lagi! Sungguh tak tahu
diri. Lebih baik kalian cepat-cepat minggat dari depanku sebelum kupatahkan
batang leher kalian! Aku Pusporini sama sekali tidak gentar menghadapi gertak
sambelmu!"
Gagak Dwipa melebarkan
matanya dan menoleh kepada saudaranya.
"Wah..wah, bocah ini
memang tidak boleh diberi hati. Hayo, kita beri hajaran biar dia kapok, adi
Kroda!"
Dua orang Gagak itu kini
menyerbu maju, masih seperti tadi hendak mencengkeram dan menangkap, akan
tetapi kalau tadi melakukan hal ini secara sembrono, kini mereka berhati-hati.
Pusporini seorang dara remaja yang cerdik sekali. Biarpun belum banyak
pengalamannya dalam pertandingan, namun ia dapat menduga bahwa dua orang ini
tentu bertenaga besar sekali dan kalau ia harus mengadu tenaga, la akan
menderlta rugi. Oleh karena Itu, la segera mengerahkan ilmunya meringankan
tubuh dan biarpun Aji Bayu Sakti yang ia pelajari belum sempurna benar, namun
sudahlah cukup untuk membuat tubuhnya berkelebatan cepat sekali sehingga dengan
mudah ia dapat mengelak dari tubrukan-tubrukan kedua orang itu. Gagak Dwipa
melengak heran ketika ia menubruk tempat kosong dan tahu-tahu lawannya sudah
hilang. Akan tetapi Gagak Kroda cepat menyusul gerakan saudaranya dan menyambar
pinggang Pusporini dari belakang. Kembali gadis itu menyelinap dan hanya hawa
pukulan Gagak Kroda saja yang mampu menyentuh pinggangnya. Sambil mengelak,
Pusporini sudah menotolkan ujung kakinya ke tanah, sehingga tubuhnya melayang
naik, dan cepat ia turun di belakang Gagak Dwipa, tangan kirinya menampar ke
arah punggung. Gagak Dwipa juga bukan seorang lemah. Dia adalah orang pertama
dari Lima Gagak Serayu, ilmu kepandaiannya tinggi dan tentu saja ia maklum akan
datangnya tamparan dari belakang ini. Kalau tadi dia dan adiknya sampai menjadi
korban tamparan tangan Pusporini adalah karena mereka berdua memandang rendah
dan mengira bahwa tamparan tangan dara yang halus itu akan menimpa tubuh mereka
yang kebal seperti pijatan mesra. Kini ia cepat miringkan tubuhnya, menekuk
siku tangannya dan menangkis tamparan itu. Pusporini tidak menarik kembali
tangannya melainkan mengerahkan tenaga dan sengaja mengadu lengannya untuk
mengukur tenaga lawan. "Dukk !" Lengan yang kecil berkulit halus itu
beradu dengan lengan yang besar kasar berbulu, dan akibatnya tubuh Pusporini
terpental ke belakang! Akan tetapi hal ini hanya berarti bahwa dara itu kalah
dalam hal tenaga kasar, sebaliknya, ia menang dalam tenaga dalam, buktinya raksasa
itu kini meringis dan menggosok-gosok lengannya yang beradu dengan lengan dara
itu, yang kini terasa panas seperti bertemu besi merah bernyala dan seperti
ditusuk-tusuk jarum.
"Rebahlah !"
bentak Gagak Kroda yang marah sekali dan penasaran. Ia menubruk dari belakang,
tangannya menghantam ke arah pundak dara itu. Pusporini hanya memutar tumit
menggeser kaki. Lengan yang panjang besar lewat di samping pundaknya, dara ini
cepat menusuk dengan jari tangan ke lambung lawan.
"Ngekkk ....!"
Gagak Kroda sudah mengeraskan lambung bahkan disusul gerakan tangan menangkis,
namun karena lambungnya sudah "dimasuki" jari tangan yang menotok
dengan tenaga mujijat itu, seketika tubuhnya berputaran dan ia memegangi lambungnya
sambil meringis-ringis. Perutnya mendadak terasa mulas sekali, seperti
diremas-remas dari dalam, seperti orang terlalu banyak makan lombok sehingga
kalau saja ia tidak memiliki hawa sakti untuk menahannya, tentu pada saat itu
juga ia sudah kecirit-cirit terberak-berak di dalam celana saking nyerinya!
Kemarahan dua orang Gagak
itu membuat mereka menjadi gelap mata, tidak ingat lagi bahwa dara ini harus
ditangkap hidup-hidup dan dibawa kembali kepada Wasi Bagaspati. Mata mereka
menjadi merah, menyinarkan nafsu membunuh, tidak ingat apa-apa lagi. Dengan
teriakan seperti lolong srigala, Gagak Dwipa dan Gagak Kroda mencabut senjata
mereka, yaitu sebuah golok yang melengkung dan tajam sekall sampai berkilau
tertimpa matahari pagi.
"Perempuan setan,
kuminum darahmu!" bentak Gagak Dwipa.
"Kuganyang
dagingmu!" teriak pula Gagak Kroda.
Mereka berdua sudah
menerjang maju, membacok dengan golok. Senjata mereka itu menyambar dengan
cepat dan kuat sehingga mengeluarkan suara berdesing. Pusporini maklum akan
bahaya serangan mereka itu, maka iapun cepat mengerahkan Aji Bayu Sakti dan
mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk menyelamatkan diri, berkelebat ke sana
ke mari menghindarkan sambaran dua batang golok. Pertandingan ini kini berjalan
cepat sekali karena dua buah golok yang diputar-putar itu berubah menjadi
gulungan dua sinar yang menggulung-gulung tubuh dua orang Gagak itu dan
menyambar-nyambar ke arah Pusporini. Namun gadis inipun hebat, tubuhnya
berkelebatan dan yang tampak hanya bayangannya saja yang menyelinap di antara
sambaran sinar golok. Untung bagi Pusporini bahwa kedua orang lawannya
mempergunakan senjata golok karena justeru dia adalah seorang ahli permainan
senjata golok seperti yang diajarkan rakandanya, yaitu Ilmu Golok Lebah Putih.
Biarpun kini ia bertangan kosong, namun ia yang sudah mengenal sifat senjata
golok dengan amat baiknya, kini tidaklah begitu terancam dan biarpun tampaknya
terdesak, namun selalu dapat menghindar dan menanti kesempatan baik untuk
merobohkan dua orang lawannya yang kuat.
Sementara itu, pertempuran
antara Sariwuni yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi daripada
Gagak Dwipa atau Gagak Kroda, melawan Joko Pramono pemuda remaja yang jenaka
dan aneh itu, makin lama menjadi makin seru dan hebat sekali. Tadinya Sariwuni
yang tergila-gila kepada pemuda ganteng ini tidak mengirim serangan maut,
karena ia merasa sayang kalau membunuhnya, hanya ingin menaklukkan dan
menguasainya. Akan tetapi makin lama wanita ini menjadi makin penasaran karena
semua terjangannya dapat dielakkan atau ditangkis pemuda itu dan setiap lengan
mereka bertemu, Sariwuni merasa betapa lengannya tergetar. Ketika dengan rasa
penasaran Sariwuni untuk ke sekian kalinya meloncat tinggi dan dari atas
tubuhnya menyambar turun, menubruk dan hendak memeluk pemuda itu agar dapat ia
ringkus dan dibuat tidak berdaya, Joko Pramono tertawa mengejek, akan tetapi
membiarkan diri terjengkang ke belakang dan terjatuh. Ia seolah-olah sudah
tidak berdaya lagi dan Sariwuni girang bukan main. Melihat pemuda itu
terjengkang dan kedua lengannya terbuka seolah-olah menanti dia menubruk untuk
dipeluk, Sariwuni tertawa dan berkata,
"Aduh, bocah bagus,
akhirnya kau menyerah ...." ia menubruk dengan kedua lengan terpentang.
"Aiilhhhh..... dessss
....!!"' Tubuh Sariwuni terlempar ke belakang sampai empat meter jauhnya
dan ia terbanting ke atas tanah lalu bangkit berdiri sambil meringis kesakitan.
Kiranya ketika ia menubruk tadi, Joko Pramono yang kelihatan tidak berdaya itu
mengirim sebuah tendangan yang tiba-tiba dan tidak tersangka-sangka sama sekali
sehingga tepat mengenai perut lawan! Wajah yang cantik dan tadinya
tersenyum-senyum genit itu seketika berubah. Kini pandang matanya penuh
kemarahan, sepasang mata yang indah bentuknya itu kini menjadi melotot merah,
hidungnya kembang-kempis dan mulutnya cemberut, wajahnya diliputi kemarahan.
Sariwuni menjadi marah bukan main. Perlahan-lahan tangannya bergerak-gerak,
jari tangannya bergerak seperti kuku harimau dan terdengar suara berkerotokan
ketika kedua tangannya itu perlahan-lahan berubah warnanya, mula-mula
kemerahan, lalu merah tua kehitaman, akhirnya berubah menjadi hitam sama
sekali, dari pergelangan tangan sampai ke ujung kuku jari tangannya! Kini sinar
maut membayang di wajahnya, memancar keluar dari matanya ketika ia melangkah
maju menghampiri Joko Pramono, mulutnya menyeringai dan membuat wajahnya yang
cantik menjadi mengerikan.
"Keparat, tak tahu
disayang ......kau memang patut mampus!" Mulutnya mengeluarkan ucapan ini
lirih dan lambat, namun secara tiba-tiba ia sudah menerjang maju, kedua tangannya
seperti cakar harimau, gerakannya cepat dan kuku serta tangan itu menjadi
bayangan hitam yang mengeluarkan bau busuk memuakkan, amis dan keras seperti
bau bangkai!
Joko Pramono
cepat menghindarkan diri dengan loncatan tinggi ke kiri. Pemuda ini tidak mau
senyum- senyum lagi, tidak berani main-main lagi karena ia maklum betapa hebat
dan jahatnya kedua tangan wanita itu. Biarpun ia tidak tahu jelas aji sesat
apakah yang digunakan wanita itu, namun ia dapat menduga bahwa tentu kuku-kuku
tangan wanita itu mengandung racun yang ampuhnya menggila. Oleh karena dugaan
ini, maka ia tidak berani sembarangan menangkis beradu lengan, malah berdekatan
pun ia tidak berani melainkan mengelak dan mengandalkan kecepatan dan
kelincahannya urituk menghindar ke sana ke mari. Tanpa disengaja atau diatur
terlebih dahulu, keadaan pemuda ini sama benar dengan keadaan Pusporini. Juga
dara remaja ini berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri daripada
pengeroyokan dua buah golok lawan yang menyambar-nyambar laksana sepasang
tangan maut. Dan karena pertandingan yang tadinya menjadi dua rombongan ini
sifatnya sama, yaitu dua orang muda itu berloncatan ke sana-sini dan
lawan-lawannya melakukan pengejaran dan desakan, maka lambat-laun pertandingan
itu saling berdekatan, bahkan kini bayangan Pusporini dan Joko Pramono
kadang-kadang bertukar tempat dan bersilang!
No comments:
Post a Comment