Perawan Lembah Wilis; Bagian 057


"Siapa kurang ajar? Aku? Kurang ajar ....? Mengapa.....?”
"Siapa lagi kalau bukan engkau? Ihh, manusia tak tahu malu, mengapa engkau berani mati memangku aku?"
Pemuda itu mengerutkan alisnya yang hitam tebal, lalu meloncat bangun dan bertolak pinggang. Baru sekarang Pusporini melihat bahwa pemuda itu masih remaja, sepantar dengannya, tubuhnya, tegap jangkung dan wajahnya tampan, matanya bersinar seperti mata harimau. Pemuda itu tersenyum mengejek dan makin panaslah hati Pusporini.
"Eh-eh, nanti dulu .... Enak benar kau bicara, gadis! Aku memangkumu? Hemm, aku sedang tidur dan tahu-tahu kau menjatuhi pangkuanku sampai kedua pahaku seperti akan remuk, dan kau bilang aku kurangajar memangkumu? Ini namanya maling teriak maling!" Kemarahan Pusporini makin menjadi. Mukanya menjadi merah, sepasang matanya berkilat dan ia mengepal kedua tinjunya.
"Siapa maling? Engkau maling! Engkau kecu (perampok), engkau copet! Engkau menjegal kakiku ketika aku sampai aku terjatuh! Hemm, bedebah, apa kau masih mau menyangkal? Berani berbuat tidak berani mengaku, apa ini laki-laki namanya?"
Pemuda itu menggosok-gosok hidungnya, makin terheran dan makin marah.
"Aku menjegalmu? Walah-walah, engkau ini perawan galak seperti sarak gadungan! Aku sedang tidur dan kakiku terlonjor, kau yang jalan tidak melihat-lihat, nabrak saja masih hendak menyalahkan aku?" Baru kali ini Pusporini bertemu dengan seorang laki-laki yang dianggapnya cerewet dan selalu membantahnya. Kemarahannya membuat ia hampir menangis. Ia membanting kaki kanan dan membentak,
"Laki-laki bosan hidup! Kenapa menaruh kaki sembarangan saja?"
Pemuda itupun marah dan membalas gerakan Pusporini dengan membanting kaki kanannya juga, selain untuk meniru mengejek juga karena tidak mau kalah, lalu berkata,
"Dan engkau ini perempuan yang agaknya semalam kesurupan setan dan sekarang masih marah-marah tidak karuan. Pagi-pagi buta sudah menabrak seperti maling kesiangan, sudah begitu masih memaki-maki orang tidak karuan. Benar-benar perempuan tidak genap kau ini!"
"Jahanam busuk! Berani kau, ya ...?"
"Mengapa tidak berani?"

Dua orang muda remaja itu sudah saling berhadapan, memasang kuda-kuda dan slap untuk saling serang. Keduanya sudah marah sekali, mereka sebelum bertanding tangan sudah bertanding pandang mata, sekan-akan hendak saling bakar dengan pandang mata masing-masing. Biarpun sedang marah, kini Pusporini teringat bahwa pemuda ini tidak roboh oleh pukulan Pethit Nogo dan hal ini membuktikan bahwa pemuda kurang-ajar ini memiliki ilmu kepandaian yang tak boleh dipandang ringan. Di lain fihak, setelah mencicipi aji Pethit Nogo tadi, si pemudapun maklum bahwa gadis betapapun galak dan kasarnya, adalah seorang dara yang sakti. Maka keduanya bersikap hati-hati dan sedapat mungkin menahan nafsu amarah. Inilah pula sebabnya mengapa mereka tidak segera turun tangan menyerang, bahkan saling menanti lawan turun tangan lebih dulu.
"Pusporinli, hendak lari ke mana engkau?" Suara ini mengejutkan Pusporini yang cepat membalikkan tubuh. Kiranya tiga orang pengejarnya sudah berada di situ, di hadapannya! Akan tetapi Sariwuni yang sudah melompat ke depan Pusporini, tiba-tiba melihat pemuda itu dan ia berdiri seperti orang kesima. Tanpa mengalihkan pandang mata dari pemuda itu, Sariwuni berkata kepada dua orang temannya,
"Kakang Gagak berdua, harap bantu aku menangkap dara itu!"
Dua orang laki-laki tinggi besar yang tadinya merasa kecewa dan menyesal bahwa mereka terganggu kesenangan mereka di puncak Mentasari tadi, dan pengaruh anggur darah masih membuat darah mereka bergolak panas, kini menjadi girang mendapat tugas menangkap dara remaja yang jelita itu. Dengan mata berkilat-kilat dan mulut menyeringai, kedua tangan dikembangkan mereka kini mengurung dan mendekati Pusporini, sikap mereka seperti dua orang anak nakal hendak menangkap seekor anak itik! Pusporini tidak takut, hanya agak jijik menghadapi wajah dua orang yang beringas menyeramkan itu, sepasang mata mereka merah terbelalak, mulut menyeringai penuh nafsu. Ia mundur-mundur dan memasang sikap, siap untuk bertanding mati-matian. Adapun Sariwuni kini melangkah maju mendekati pemuda itu dengan pandang mata penuh gairah dan ujung lidahnya yang merah dan kecil menjilat-jilat bibir. Sikapnya seperti seekor ular kelaparan melihat seekor katak hijau yang montok gemuk, seolah-olah hendak ditelannya pemuda itu bulat-bulat! Pada saat itu, seperti juga kedua orang temannya, wanita yang pada dasarnya memang berwatak cabul ini masih berada di bawah pengaruh anggur darah. Kini melihat seorang pemuda remaja yang demikian tampan dan ganteng, jauh bedanya dengan semua pria yang dilihatnya malam tadi di puncak Gunung Mentasari, tentu saja ia menjadi tertarik sekali.
"Duhai, bocah bagus. Andika siapakah? Dan ada hubungan apakah dengan gadis ini?"
Pemuda ini tidak menjawab, melainkan menoleh ke arah Pusporini yang menghadapi ancaman dua orang laki-laki tinggi besar yang liar itu. Gagak Dwipa mengembangkan kedua lengannya yang besar dan berbulu, menyeringai lebar dan berkata,
"Marilah, manis, kau menyerah saja, kupondong kembali ke puncak .... ha-ha-ha!"
"Eh, bocah ayu, engkaupun boleh memilih aku. Kuemban ... kupundak ...ataukah kau ingin gendong-pekeh? Ha-ha-ha, Gagak Kroda siap, cah denok!"

Pusporini tidak takut, akan tetapi menyaksikan sikap mereka dan mendengar kata-kata mereka, ia mengkirik, kedua kakinya menggigil saking jijik dan ngeri. Pada saat itu, Gagak Dwipa menubruk hendak memeluk pinggang yang ramping itu dan pada saat berikutnya, Gagak Kroda juga menyambar lengannya. Namun dengan gerakan amat manis dan indah, tubuh yang kecil ramping itu sudah menyelinap dan kedua orang raksasa itu menubruk angin belaka. Jangankan tubuh dara jelita, ujung kainnyapun tak dapat mereka sentuh! Pemuda itu tertawa dengan dada lapang. Ia tidak khawatir lagi. Melihat gerakan Pusporini, tahulah ia bahwa tidak akan mudah bagi dua orang raksasa itu untuk dapat menangkap dara remaja yang amat lincah itu. Ia tertawa sambil menghadapi Sariwuni lagi.
"Andika ingin tahu namaku? Aku Joko Pramono, bocah gunung kabur kanginan (tertiup angin) yang tidak menentu tempat tinggalku. Hubunganku dengan dia itu? Ah, bukan apa-apa. Bukan sanak bukan kadang akan tetapi kalau mati ikut kehilangan. Engkau dan dua orang raksasa itu mau apakah? Mengapa mengganggu orang?"
Sariwuni tertawa sehingga tampak deretan giginya yang rata dan putih menghias rongga mulut yang merah.
"Hihi- hik, bocah bagus, engkau lucu juga. Tidak perlu engkau mencampuri urusan kami. Lebih baik kau mendekat sini, kita omong-omong yang enak. Engkau mau bukan? Engkau tentu suka bercakap-cakap dengan Sariwuni, ya? Aduh, bocah bagus, bocah ganteng, sinilah mendekat!" Sariwuni yang sudah tergila-gila akan ketampanan wajah pemuda itu melangkah maju, tangannya meraih, jari-jarinya hendak mencubit dagu. Pemuda itu melangkah mundur sehingga cubitan Sariwuni tidak mengenai sasaran. Kini pemuda itu memandang penuh perhatian, melihat betapa wanita cantik di depannya itu pakaiannya tidak karuan, hampir telanjang sehingga tampak sebagian besar dada dan pahanya. Pemuda itu mengerutkan keningnya, menggeleng-geleng kepala lalu berkata,
"Aduh-aduh, sialan benar hari ini aku! Mimpi kejatuhan bulan kiranya dalam kenyataan bertemu dengan bidadari galak lalu disambung bertemu dengan iblis-iblis laknat yang menyeramkan. Engkau ini siapakah dan mau apa?”
Sariwuni yang sudah mabuk itu melangkah maju lagi, membusungkan dada dan langkahnya lenggang-lenggok penuh daya tarik, matanya melirik tajam seakan-akan membetot-betot sukma, semyumnya makin panas,
"Cah bagus, jangan menjual mahal, ya? Aku Sariwuni dan aku.... ah, aku amat cinta kepadamu. Kau tampan seperti Harjuna! Aihh .....jangan mundur menjauhkan diri, ke sinilah kau .....!" Kembali Sariwuni meraih dan kali ini dengan kedua tangannya, hendak memeluk dan merangkul. Akan tetapi dengan gerakan yang tenang namun cepat pemuda itu sudah melangkah mundur dan mengelak.
"Wah-wah, celaka tiga belas, aku bertemu dengan siluman seperti ini! Engkau ini manusia apa kok begini nekat? Pergilah dan ajak pergi pula dua orang kawanmu yang menjemukan itu. Lekas, kalau tidak, jangan salahkan kalau aku Joko Pramono terpaksa harus turun tangan dan memaksa kalian bertiga menggelinding pergi dari sini!" Kini pemuda itu berdiri tegak dan bertolak pinggang, sikapnya menantang.

Sariwuni memandang makin kagum. Pemuda ini tidak hanya tampan akan tetapi juga gagah berani. Tentu saja ia merasa geli menyaksikan betapa pemuda remaja ini dengan sikap amat gagah menantangnya! Alangkah lucunya dan ia sama sekali tidak memandang mata kepada seorang pemuda seperti ini. Kembali ia melangkah maju dan tertawa.
"Joko Pramono, bocah bagus. Marilah kau turuti hasratku, aaahhh, kau bocah menggemaskan sekali!" Sariwuni menubruk maju hendak memeluk, akan tetapi kembali ia menubruk tempat kosong. Heranlah hati wanita ini. Tubrukannya cepat sekali dan ia sudah memperhitungkan bahwa pemuda itu tak mungkin dapat mengelak, akan tetapi nyatanya tubrukannya itu luput!
"Aehhh, jangan mengelak, cah bagus!” Kembali ia menerjang maju, kini lengan kiri hendak memeluk pinggang dan tangan kanan meraih hendak merenggut leher.
"Perempuan tak tahu malu!" Joko Pramono tidak lagi mengelak, melainkan miringkan tubuh membebaskan diri daripada renggutan dan menangkis lengan kiri Sariwuni yang hendak memeluk pinggang.
"Dukk .....!”
Sariwuni memekik lirih dan meloncat ke belakang dengan mata terbelalak. Ia kaget bukan main ketika benturan lengan pemuda pada lengannya itu mendatangkan hawa panas yang menusuk tulang lengannya. Tak pernah disangkanya bahwa pemuda ini dapat menangkis seperti itu dan mengertilah ia kini bahwa pemuda ini, sungguhpun masih remaja, namun telah memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Berubahlah pandangannya, makin kagum hatinya, dan timbul kemauan hatinya hendak menaklukkan dan menguasai pria muda yang hebat ini.
"Bagus! Engkau mempunyai sedikit kepandaian, ya? Baik, mari kita main-main sebentar untuk membangkitkan kegembiraan dan memanaskan darah, hihik!" Sariwuni lalu menyerbu ke depan, kini dengan langkah-langkah dan gerak-gerak silat yang cepat bagaikan badai menyerbu. Sambil membuat gerakan memutar seperti angin lesus, Sariwuni menerjang maju, tangan kiranya mencengkeram ke arah pusar bawah, tangan kanannya dengan dua jari menusuk ke arah mata. Inilah serangan yang amat keji, ganas dan hebat sekali!
"Hemmm .., keji seperti orangnya!" Joko Pramono menghadapi serangan yang dahsyat ini dengan sikap tenang sekali. Pemuda ini jenaka dan sikapnya gembira, juga berwatak nakal suka menggoda akan tetapi berbeda dengan watak dan sikapnya, gerakannya dalam menghadapi lawan bertempur amatlah tenangnya. Tubuhnya membuat gerakan ke samping, menggeser kaki mengganti kuda-kuda, kedua lengannya bergerak ke atas dan ke bawah menyambut kedua serangan lawan. Tusukan ke arah mata ia biarkan saja, akan tetapi jari-jari tangannya sudah menghadang di depan mata, mengancam pergelangan tangan lawan yang hendak menusuk, sedangkan cengkeraman lawan ke arah pusarnya itu ia tangkis dengan kipatan lengannya data atas ke bawah.
"Aihhh, kau boleh juga!" Sariwuni terpaksa menarik kembali kedua serangannya, kalau dilanjutkan ia akan menderita rugi. Akan tetapi ia menarik kembali untuk mengirim serangan ke dua yang dahsyat sekali, kakinya menendang dari samping menuju lambung, disusul tubuhnya yang mendoyong ke depan mengirim pukulan dengan kepalan tangan kanan menuju ke ulu hati.

Joko Pramono ternyata bukanlah seorang pemuda sembarangan. Serangan yang dilakukan Sariwuni dengan amat cepatnya ini tentu akan merobohkan seorang jagoan, atau setidaknya akan membuat lawan terdesak dan bingung. Akan tetapi, pemuda itu dengan tenang saja menanti datangnya sambaran kaki, kemudian secara tiba-tiba menggerakkan tangan kiri dari bawah ke atas dan tangan kanannya dari atas ke bawah menangkis pukulan. Sariwuni terkejut karena kakinya kini tertangkap pergelangannya. Ia memekik dan kaki kirinya menyusul dengan tendangan berantai, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terlontar ke belakang tanpa dapat ia cegah lagi, karena Joko Pramono telah menyentak kaki kanannya itu ke atas lalu mendorong. Hanya dengan gerak loncat jungkir-balik di udara sampai tiga kali saja yang mencegah tubuh Sariwuni terbanting. Hampir saja ia menderita malu dan kini wajahnya yang tadi berseri menjadi merah, matanya berkilat-kilat, tanda bahwa kekaguman dan cinta kasihnya tertutup oleh hawa amarah yang mendidih.
"Bocah keparat! Kau tidak mengenal cinta kasih orang, kau tidak ingin senang dan sudah bosan hidup? Baik, kau mampuslah!"
Setelah berkata demikian, Sariwuni menerjang maju lagi dengan kecepatan kilat sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Hebat bukan main ilmu kepandaian wanita ini. Sebelum menjadi anak buah Wasi Bagaspati, Sariwuni sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi.

<<< Bagian 056                                                                                    Bagian 058 >>>

No comments:

Post a Comment