"Siapa kurang ajar? Aku? Kurang ajar ....? Mengapa.....?”
"Siapa lagi kalau bukan
engkau? Ihh, manusia tak tahu malu, mengapa engkau berani mati memangku
aku?"
Pemuda itu mengerutkan
alisnya yang hitam tebal, lalu meloncat bangun dan bertolak pinggang. Baru
sekarang Pusporini melihat bahwa pemuda itu masih remaja, sepantar dengannya,
tubuhnya, tegap jangkung dan wajahnya tampan, matanya bersinar seperti mata
harimau. Pemuda itu tersenyum mengejek dan makin panaslah hati Pusporini.
"Eh-eh, nanti dulu ....
Enak benar kau bicara, gadis! Aku memangkumu? Hemm, aku sedang tidur dan
tahu-tahu kau menjatuhi pangkuanku sampai kedua pahaku seperti akan remuk, dan
kau bilang aku kurangajar memangkumu? Ini namanya maling teriak maling!"
Kemarahan Pusporini makin menjadi. Mukanya menjadi merah, sepasang matanya
berkilat dan ia mengepal kedua tinjunya.
"Siapa maling? Engkau
maling! Engkau kecu (perampok), engkau copet! Engkau menjegal kakiku ketika aku
sampai aku terjatuh! Hemm, bedebah, apa kau masih mau menyangkal? Berani
berbuat tidak berani mengaku, apa ini laki-laki namanya?"
Pemuda itu menggosok-gosok
hidungnya, makin terheran dan makin marah.
"Aku menjegalmu?
Walah-walah, engkau ini perawan galak seperti sarak gadungan! Aku sedang tidur
dan kakiku terlonjor, kau yang jalan tidak melihat-lihat, nabrak saja masih
hendak menyalahkan aku?" Baru kali ini Pusporini bertemu dengan seorang
laki-laki yang dianggapnya cerewet dan selalu membantahnya. Kemarahannya
membuat ia hampir menangis. Ia membanting kaki kanan dan membentak,
"Laki-laki bosan hidup!
Kenapa menaruh kaki sembarangan saja?"
Pemuda itupun marah dan
membalas gerakan Pusporini dengan membanting kaki kanannya juga, selain untuk
meniru mengejek juga karena tidak mau kalah, lalu berkata,
"Dan engkau ini
perempuan yang agaknya semalam kesurupan setan dan sekarang masih marah-marah
tidak karuan. Pagi-pagi buta sudah menabrak seperti maling kesiangan, sudah
begitu masih memaki-maki orang tidak karuan. Benar-benar perempuan tidak genap
kau ini!"
"Jahanam busuk! Berani
kau, ya ...?"
"Mengapa tidak
berani?"
Dua orang muda remaja itu
sudah saling berhadapan, memasang kuda-kuda dan slap untuk saling serang.
Keduanya sudah marah sekali, mereka sebelum bertanding tangan sudah bertanding
pandang mata, sekan-akan hendak saling bakar dengan pandang mata masing-masing.
Biarpun sedang marah, kini Pusporini teringat bahwa pemuda ini tidak roboh oleh
pukulan Pethit Nogo dan hal ini membuktikan bahwa pemuda kurang-ajar ini
memiliki ilmu kepandaian yang tak boleh dipandang ringan. Di lain fihak,
setelah mencicipi aji Pethit Nogo tadi, si pemudapun maklum bahwa gadis
betapapun galak dan kasarnya, adalah seorang dara yang sakti. Maka keduanya
bersikap hati-hati dan sedapat mungkin menahan nafsu amarah. Inilah pula
sebabnya mengapa mereka tidak segera turun tangan menyerang, bahkan saling
menanti lawan turun tangan lebih dulu.
"Pusporinli, hendak
lari ke mana engkau?" Suara ini mengejutkan Pusporini yang cepat
membalikkan tubuh. Kiranya tiga orang pengejarnya sudah berada di situ, di
hadapannya! Akan tetapi Sariwuni yang sudah melompat ke depan Pusporini,
tiba-tiba melihat pemuda itu dan ia berdiri seperti orang kesima. Tanpa
mengalihkan pandang mata dari pemuda itu, Sariwuni berkata kepada dua orang temannya,
"Kakang Gagak berdua,
harap bantu aku menangkap dara itu!"
Dua orang laki-laki tinggi
besar yang tadinya merasa kecewa dan menyesal bahwa mereka terganggu kesenangan
mereka di puncak Mentasari tadi, dan pengaruh anggur darah masih membuat darah
mereka bergolak panas, kini menjadi girang mendapat tugas menangkap dara remaja
yang jelita itu. Dengan mata berkilat-kilat dan mulut menyeringai, kedua tangan
dikembangkan mereka kini mengurung dan mendekati Pusporini, sikap mereka
seperti dua orang anak nakal hendak menangkap seekor anak itik! Pusporini tidak
takut, hanya agak jijik menghadapi wajah dua orang yang beringas menyeramkan
itu, sepasang mata mereka merah terbelalak, mulut menyeringai penuh nafsu. Ia
mundur-mundur dan memasang sikap, siap untuk bertanding mati-matian. Adapun
Sariwuni kini melangkah maju mendekati pemuda itu dengan pandang mata penuh
gairah dan ujung lidahnya yang merah dan kecil menjilat-jilat bibir. Sikapnya
seperti seekor ular kelaparan melihat seekor katak hijau yang montok gemuk,
seolah-olah hendak ditelannya pemuda itu bulat-bulat! Pada saat itu, seperti
juga kedua orang temannya, wanita yang pada dasarnya memang berwatak cabul ini
masih berada di bawah pengaruh anggur darah. Kini melihat seorang pemuda remaja
yang demikian tampan dan ganteng, jauh bedanya dengan semua pria yang
dilihatnya malam tadi di puncak Gunung Mentasari, tentu saja ia menjadi
tertarik sekali.
"Duhai, bocah bagus.
Andika siapakah? Dan ada hubungan apakah dengan gadis ini?"
Pemuda ini tidak menjawab,
melainkan menoleh ke arah Pusporini yang menghadapi ancaman dua orang laki-laki
tinggi besar yang liar itu. Gagak Dwipa mengembangkan kedua lengannya yang
besar dan berbulu, menyeringai lebar dan berkata,
"Marilah, manis, kau
menyerah saja, kupondong kembali ke puncak .... ha-ha-ha!"
"Eh, bocah ayu,
engkaupun boleh memilih aku. Kuemban ... kupundak ...ataukah kau ingin
gendong-pekeh? Ha-ha-ha, Gagak Kroda siap, cah denok!"
Pusporini tidak takut, akan
tetapi menyaksikan sikap mereka dan mendengar kata-kata mereka, ia mengkirik,
kedua kakinya menggigil saking jijik dan ngeri. Pada saat itu, Gagak Dwipa
menubruk hendak memeluk pinggang yang ramping itu dan pada saat berikutnya,
Gagak Kroda juga menyambar lengannya. Namun dengan gerakan amat manis dan
indah, tubuh yang kecil ramping itu sudah menyelinap dan kedua orang raksasa
itu menubruk angin belaka. Jangankan tubuh dara jelita, ujung kainnyapun tak
dapat mereka sentuh! Pemuda itu tertawa dengan dada lapang. Ia tidak khawatir
lagi. Melihat gerakan Pusporini, tahulah ia bahwa tidak akan mudah bagi dua
orang raksasa itu untuk dapat menangkap dara remaja yang amat lincah itu. Ia
tertawa sambil menghadapi Sariwuni lagi.
"Andika ingin tahu
namaku? Aku Joko Pramono, bocah gunung kabur kanginan (tertiup angin) yang
tidak menentu tempat tinggalku. Hubunganku dengan dia itu? Ah, bukan apa-apa.
Bukan sanak bukan kadang akan tetapi kalau mati ikut kehilangan. Engkau dan dua
orang raksasa itu mau apakah? Mengapa mengganggu orang?"
Sariwuni tertawa sehingga
tampak deretan giginya yang rata dan putih menghias rongga mulut yang merah.
"Hihi- hik, bocah
bagus, engkau lucu juga. Tidak perlu engkau mencampuri urusan kami. Lebih baik
kau mendekat sini, kita omong-omong yang enak. Engkau mau bukan? Engkau tentu
suka bercakap-cakap dengan Sariwuni, ya? Aduh, bocah bagus, bocah ganteng,
sinilah mendekat!" Sariwuni yang sudah tergila-gila akan ketampanan wajah
pemuda itu melangkah maju, tangannya meraih, jari-jarinya hendak mencubit dagu.
Pemuda itu melangkah mundur sehingga cubitan Sariwuni tidak mengenai sasaran.
Kini pemuda itu memandang penuh perhatian, melihat betapa wanita cantik di
depannya itu pakaiannya tidak karuan, hampir telanjang sehingga tampak sebagian
besar dada dan pahanya. Pemuda itu mengerutkan keningnya, menggeleng-geleng
kepala lalu berkata,
"Aduh-aduh, sialan
benar hari ini aku! Mimpi kejatuhan bulan kiranya dalam kenyataan bertemu
dengan bidadari galak lalu disambung bertemu dengan iblis-iblis laknat yang
menyeramkan. Engkau ini siapakah dan mau apa?”
Sariwuni yang sudah mabuk
itu melangkah maju lagi, membusungkan dada dan langkahnya lenggang-lenggok
penuh daya tarik, matanya melirik tajam seakan-akan membetot-betot sukma,
semyumnya makin panas,
"Cah bagus, jangan
menjual mahal, ya? Aku Sariwuni dan aku.... ah, aku amat cinta kepadamu. Kau
tampan seperti Harjuna! Aihh .....jangan mundur menjauhkan diri, ke sinilah kau
.....!" Kembali Sariwuni meraih dan kali ini dengan kedua tangannya,
hendak memeluk dan merangkul. Akan tetapi dengan gerakan yang tenang namun
cepat pemuda itu sudah melangkah mundur dan mengelak.
"Wah-wah, celaka tiga
belas, aku bertemu dengan siluman seperti ini! Engkau ini manusia apa kok
begini nekat? Pergilah dan ajak pergi pula dua orang kawanmu yang menjemukan
itu. Lekas, kalau tidak, jangan salahkan kalau aku Joko Pramono terpaksa harus
turun tangan dan memaksa kalian bertiga menggelinding pergi dari sini!"
Kini pemuda itu berdiri tegak dan bertolak pinggang, sikapnya menantang.
Sariwuni memandang makin
kagum. Pemuda ini tidak hanya tampan akan tetapi juga gagah berani. Tentu saja
ia merasa geli menyaksikan betapa pemuda remaja ini dengan sikap amat gagah
menantangnya! Alangkah lucunya dan ia sama sekali tidak memandang mata kepada
seorang pemuda seperti ini. Kembali ia melangkah maju dan tertawa.
"Joko Pramono, bocah
bagus. Marilah kau turuti hasratku, aaahhh, kau bocah menggemaskan
sekali!" Sariwuni menubruk maju hendak memeluk, akan tetapi kembali ia
menubruk tempat kosong. Heranlah hati wanita ini. Tubrukannya cepat sekali dan
ia sudah memperhitungkan bahwa pemuda itu tak mungkin dapat mengelak, akan
tetapi nyatanya tubrukannya itu luput!
"Aehhh, jangan
mengelak, cah bagus!” Kembali ia menerjang maju, kini lengan kiri hendak
memeluk pinggang dan tangan kanan meraih hendak merenggut leher.
"Perempuan tak tahu
malu!" Joko Pramono tidak lagi mengelak, melainkan miringkan tubuh
membebaskan diri daripada renggutan dan menangkis lengan kiri Sariwuni yang
hendak memeluk pinggang.
"Dukk .....!”
Sariwuni memekik lirih dan
meloncat ke belakang dengan mata terbelalak. Ia kaget bukan main ketika
benturan lengan pemuda pada lengannya itu mendatangkan hawa panas yang menusuk
tulang lengannya. Tak pernah disangkanya bahwa pemuda ini dapat menangkis
seperti itu dan mengertilah ia kini bahwa pemuda ini, sungguhpun masih remaja,
namun telah memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Berubahlah pandangannya, makin
kagum hatinya, dan timbul kemauan hatinya hendak menaklukkan dan menguasai pria
muda yang hebat ini.
"Bagus! Engkau
mempunyai sedikit kepandaian, ya? Baik, mari kita main-main sebentar untuk
membangkitkan kegembiraan dan memanaskan darah, hihik!" Sariwuni lalu
menyerbu ke depan, kini dengan langkah-langkah dan gerak-gerak silat yang cepat
bagaikan badai menyerbu. Sambil membuat gerakan memutar seperti angin lesus,
Sariwuni menerjang maju, tangan kiranya mencengkeram ke arah pusar bawah,
tangan kanannya dengan dua jari menusuk ke arah mata. Inilah serangan yang amat
keji, ganas dan hebat sekali!
"Hemmm .., keji seperti
orangnya!" Joko Pramono menghadapi serangan yang dahsyat ini dengan sikap
tenang sekali. Pemuda ini jenaka dan sikapnya gembira, juga berwatak nakal suka
menggoda akan tetapi berbeda dengan watak dan sikapnya, gerakannya dalam
menghadapi lawan bertempur amatlah tenangnya. Tubuhnya membuat gerakan ke samping,
menggeser kaki mengganti kuda-kuda, kedua lengannya bergerak ke atas dan ke
bawah menyambut kedua serangan lawan. Tusukan ke arah mata ia biarkan saja,
akan tetapi jari-jari tangannya sudah menghadang di depan mata, mengancam
pergelangan tangan lawan yang hendak menusuk, sedangkan cengkeraman lawan ke
arah pusarnya itu ia tangkis dengan kipatan lengannya data atas ke bawah.
"Aihhh, kau boleh
juga!" Sariwuni terpaksa menarik kembali kedua serangannya, kalau
dilanjutkan ia akan menderita rugi. Akan tetapi ia menarik kembali untuk
mengirim serangan ke dua yang dahsyat sekali, kakinya menendang dari samping
menuju lambung, disusul tubuhnya yang mendoyong ke depan mengirim pukulan
dengan kepalan tangan kanan menuju ke ulu hati.
Joko Pramono ternyata bukanlah
seorang pemuda sembarangan. Serangan yang dilakukan Sariwuni dengan amat
cepatnya ini tentu akan merobohkan seorang jagoan, atau setidaknya akan membuat
lawan terdesak dan bingung. Akan tetapi, pemuda itu dengan tenang saja menanti
datangnya sambaran kaki, kemudian secara tiba-tiba menggerakkan tangan kiri
dari bawah ke atas dan tangan kanannya dari atas ke bawah menangkis pukulan.
Sariwuni terkejut karena kakinya kini tertangkap pergelangannya. Ia memekik dan
kaki kirinya menyusul dengan tendangan berantai, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya
terlontar ke belakang tanpa dapat ia cegah lagi, karena Joko Pramono telah
menyentak kaki kanannya itu ke atas lalu mendorong. Hanya dengan gerak loncat
jungkir-balik di udara sampai tiga kali saja yang mencegah tubuh Sariwuni
terbanting. Hampir saja ia menderita malu dan kini wajahnya yang tadi berseri
menjadi merah, matanya berkilat-kilat, tanda bahwa kekaguman dan cinta kasihnya
tertutup oleh hawa amarah yang mendidih.
"Bocah keparat! Kau
tidak mengenal cinta kasih orang, kau tidak ingin senang dan sudah bosan hidup?
Baik, kau mampuslah!"
Setelah
berkata demikian, Sariwuni menerjang maju lagi dengan kecepatan kilat sambil
mengerahkan seluruh tenaganya. Hebat bukan main ilmu kepandaian wanita ini.
Sebelum menjadi anak buah Wasi Bagaspati, Sariwuni sudah memiliki ilmu
kepandaian tinggi.
No comments:
Post a Comment