Perawan Lembah Wilis; Bagian 056


"Kolohangkoro, kaubawa pergi korbanmu itu dari depan mataku," kata Sang Wasi Bagaspati sambil menyeringai. Ki Kolohangkoro yang memeluk anak itu tertawa, membungkuk lalu meloncat pergi, akan tetapi saking tak dapat menahan nafsunya, ia berlari sambil menundukkan mukanya ke arah leher anak itu yang berkulit putih halus. Rahangnya bergerak, tampak giginya yang meruncing dan terdengarlah jerit anak itu yang tenggelam ke dalam suara ketawa di tenggorokan Ki Kolohangkoro yang mulai menghisap darah segar!
Pusporini yang tadinya menari-nari di atas panggung bundar, kini masih menari-nari seperti kehilangan semangat. Karena gamelan kini tidak berbunyi lagi dan para penabuhnya sudah pula terjun ke dalam kancah nafsu jalang yang dipuja-puja, Pusporini kini berdiri termangu- mangu seperti orang bingung. Sepasang matanya kini terbelalak, penuh kengerian akan tetapi juga seperti orang dalam mimpi. Pengaruh jamu yang membiusnya masih belum lenyap semua, akan tetapi penglihatan yang terbentang di depan matanya terlalu hebat sehingga mengguncangkan perasaannya, membuatnya terbelalak penuh kengerian, ketakutan, dan kebingungan. Apa yang terjadi di lapangan puncak Gunung Mentasari itu memang tidak lumrah. Seorang manusia normal tentu akan terguncang perasaannya menyaksikan semua itu. Agaknya semua orang yang berada di situ telah terseret ke dalam tingkat yang amat hina dan rendah, jauh lebih rendah daripada binatang-binatang yang tidak berakal budi. Mengerikan dan memuakkan! Sang Wasi Bagaspati dan Ni Dewi Nilamanik masih duduk tenang, sungguhpun kini mereka duduk berdekatan dan tangan Wasi Bagaspati membelai-belai rambut, kadang-kadang mencium muka Ni Dewi Nilamanik. Mereka berdua yang sakti mandraguna, yang dengan pengaruh ilmu hitam mereka telah menimbulkan suasana seperti ini, tentu saja dapat menguasai diri dan keadaan. Ketika Pandang mata Wasi Bagaspati beralih ke arah Pusporini yang berdiri bingung di atas panggung, ia segera bangkit perlahan, menudingkan telunjuknya ke arah Pusporini dan berkata perlahan,
"Ni Dewi, aku ingin mengaso dan antarkan dia itu kepadaku."
Ni Dewi Nilamanik juga bangkit berdiri dan tersenyum lebar.
"Baiklah, Rakanda Wasi. Saya sendiri yang akan menjemput dan mengantarnya kepadamu."
Akan tetapi pada saat itu, secara tiba-tiba sekali jatuhlah air hujan dari angkasa! Kedua orang itu kaget dan menengadah. Langit yang tadinya bersih kini tertutup mendung menghitam. Sinar bulan tertutup mendung dan datang pula angin bertiup sehingga banyak obor secara tiba-tiba menjadi padam. Suasana menjadi gelap, angin bertiup, dan air hujan turun makin deras. Akan tetapi, pasangan-pasangan yang sudah dimabuk nafsu itu masih berdekapan dan bergulingan di atas tanah berumput, sama sekali tidak perduli akan turunnya air hujan. Suara ketawa dan cekikikan masih terdengar, bahkan agaknya makin gembira dengan turunnya air hujan!
"Ah, hujan .....!" seru Ni Dewi Nilamanik dengan kaget dan heran.
"Biar saya menyuruh Sariwuni menjemputnya!" Karena Sariwuni yang dipanggil dua kali tidak mendengar, asyik mengumbar nafsu binatang bersama Gagak Dwipa, sekali bergerak Ni Dewi Nilamanik sudah mendekati lalu menarik bangun wanita itu.
"Sariwuni! Kau bawa dara remaja itu ke dalam!"

Setelah berkata demikian, Ni Dewi Nilamanik lalu menghampiri Wasi Bagaspati, menggandeng tangannya dan berkata.
"Marilah, Rakanda Wasi, kita berteduh di dalam dan menantinya."
Dua orang pimpinan kaum sesat itu sudah berjalan cepat-cepat meninggalkan lapangan menuju ke bangunan pondok-pondok yang berada di puncak. Adapun Sariwuni sambil bersungut-sungut terpaksa meninggalkan Gagak Dwipa lagi, lari ke arah panggung di mana tadi Pusporini berdiri bingung. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia tidak melihat dara remaja itu di sana! Cepat ia meloncat ke tempat yang tinggi itu dan memandang, lalu terkekeh genit dan keji ketika melihat bayangan Pusporini berlari-lari pergi dari tempat itu! Beberapa obor yang masih bisa bertahan terhadap serangan angin dan hujan, menerangi tempat itu sehingga ia dapat melihat ke mana Iarinya Pusporini. Keadaan Pusporini tadi masih setengah sadar setengah mabuk jamu yang membiusnya. Pemandangan yang mengerikan itu mengguncang perasaannya dan memberitunya untuk cepat sadar ketika air hujan menimpa kepalanya, Pusporini merasa seakan-akan ia disiram air embun suci dari surgaloka. Seketika ia menjadi sadar dan dara remaja ini cepat menutup mulut menahan jerit yang akan keluar dari mulutnya. Pemandangan yang terbentang di depannya terlalu hebat. Ia meramkan matanya, kemudian meloncat turun dari panggung dan lari ketakutan dan penuh kengerian. Ia harus lari dari tempat itu. Harus cepat pergi menjauhi mereka ini! Kini teringatlah ia. Tadinya ia berada di taman sari Kadipaten Selopenangkep. Lapat-lapat ia teringat betapa ia berada di dalam kekuasaan wanita-wanita genit yang menyeramkan. Kemudian teringat bahwa ia dibawa ke dalam sebuah pondok di puncak bukit itu, melihat wajah seorang wanita cantik yang pandang matanya mengerikan, lalu ia tidak ingat apa-apa lagi. Bagaimana ia tahu-tahu bisa berada di panggung itu? Dan pemandangan yang ia lihat di atas rumput, lhhh, mengerikan sekali! Perutnya menjadi muak dan mual, membuat ia hampir muntah. Akan tetapi karena ia maklum bahwa tempat itu penuh dengan orang-orang jahat yang amat sakti, ia tidak mau berhenti, terus berlari sambil mengerahkan Aji Bayu Sakti. Namun tubuhnya terasa lemas dan lelah. Kepalanya masih pening berdenyut- denyut. Pandang matanya berkunang dan malam amat gelap. Hujan turun makin deras sehingga jalan liar yang dilaluinya menjadi licin sekali.
"Heeeeiii ..., Pusporini! Berhenti kau! Hendak lari ke mana?"
Mendengar suara dari sebelah belakang ini, Pusporini terkejut sekali. Ia menoleh dan di antara sinar obor yang bergoyang-goyang hampir mati ia melihat bayangan seorang wanita yang mengejarnya dengan gerakan tangkas dan larinya cepat bukan main. Pusporini bukanlah seorang penakut, akan tetapi apa yang disaksikan di sana tadi benar-benar telah melenyapkan semua keberaniannya. Terlalu ngeri dan terlalu menakutkan baginya sehingga kini seluruh hati dan pikirannya dicekam rasa takut yang hebat. Maka ia mengeluh pendek dan terus berlari makin cepat lagi. Beberapa kali ia jatuh tersandung, akan tetapi ia bangkit lagi. Bahkan ia jatuh tersungkur dan terguling-guling, namun setelah mendapat kesempatan meloncat bangun, ia terus berlari lagi tidak memperdulikan betapa kakinya babak-belur dan kainnya robek di sana-sini. Sanggul rambutnya terlepas sehingga rambutnya yang hitam panjang terurai. Untung bagi Pusporini bahwa sinar bulan lenyap tertutup mendung dan malam gelap pekat sehingga agak sukarlah bagi Sariwuni untuk mengejarnya. Biarpun Pusporini tidak dapat melakukan perjalanan cepat menuruni bukit di dalam gelap itu, namun sama pula halnya dengan Sariwuni yang juga harus berhati-hati sekali karena selain jalan amat licin, juga amat gelap dan banyak jurang di situ. Akhirnya Sariwuni berteriak keras memanggil nama Gagak Dwipa dan Gagak Kroda untuk membantunya mengejar Pusporini. Kedua orang Gagak ini tentu saja cepat bangkit berdiri dan berlari ke arah datangnya suara Sariwuni. Mereka ingin menyenangkan hati wanita cantik yang membuat mereka tergila-gila ini. Seperti kita ketahui, Gagak Dwipa dan Gagak Kroda adalah kedua orang di antara Lima Gagak Serayu. Semenjak gerombolan mereka gagal menyerang Selopenangkep bahkan dihancurkan oleh pasukan yang dipimpin Adipati Tejolaksono sendiri, mereka menyembunyikan diri di dalam hutan-hutan dengan hati penuh dendam. Kemudian tibalah saat bagi mereka untuk membalas dendam ketika melihat pasukan-pasukan asing yang dipimpin oleh orang-orang Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola. Mereka lalu membawa pasukan yang masih ada untuk menggabungkan diri dan bahkan menghambakan diri kepada pasukan asing yang dipimpin banyak orang pandai itu.
Setelah Gagak Dwipa dan Gagak Kroda. mendekat, Sariwuni dan kedua orang laki-laki tinggi besar ini melanjutkan pengejaran mereka terhadap Pusporini. Dara remaja itu terus berlari ke depan, menuruni bukit, meraba- raba dan merangkak-rangkak dalam gelap, sebentarpun tidak berani berhenti. Apaiagi ia mendengar suara tiga orang pengejarnya di belakang! Tiga orang itu biarpun tidak tampak olehnya, namun selalu berada di belakang, suara mereka kadang-kadang jauh, akan tetapi kadang-kadang
amat dekat.

Malam telah berganti pagi, cuaca gelap menjadi remang-remang ketika akhirnya Pusporini tiba di kaki gunung, karena kini cuaca tidak segelap tadi sehingga jalan di depan tampak remang-remang, Pusporini menjadi girang hatinya.
"Heee, itu dia .....!" Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang, suara seorang laki-laki yang parau.
"Pusporini, hendak lari ke mana engkau?"
"Kejar.....!!”
Mendengar suara-suara ini, Pusporini tanpa menoleh lagi lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya, lari secepatnya ke depan memasuki sebuah hutan di kaki gunung itu. Karena khawatir, ia lupa akan kelelahannya, lupa bahwa tubuhnya sudah lelah sekali, kedua kakinya lemas dan pandang matanya berkunang. Ia berlari terus, secepatnya masuk hutan. Teriakan-teriakan itu masih terdengar di belakang, akan tetapi makin perlahan yang berarti bahwa jarak di antara mereka makin jauh.
Sambil berlari cepat, Pusporini memutar otaknya yang tadi digelapkan oleh rasa ngeri dan takut. Ah, mengapa ia lari-lari seperti orang dikejar setan? Pengejarnya hanya tiga orang! Takut apa? Kalau mereka dapat menyusulku, akan kulawan saja. Belum tentu aku kalah, demikian dara remaja yang tadihya ketakutan karena pengalaman hebat di puncak Gunung Mentasari itu kini mulai mendapatkan kembali ketabahannya. Pada hakekatnya, Pusporini adalah seorang dara yang pemberani. Dia keturunan orang sakti. Ayahnya yang tak pernah dilihatnya karena telah meninggal dunia di waktu ia masih dalam kandungan ibunya, Pujo, adalah
seorang ksatria perkasa. Juga ibunya, Roro Luhito bukanlah wanita sembarangan, melainkan murid Sang Resi Telomoyo pertama yang memuja Hanoman. Selain menuruni watak ksatria ayah bundanya, juga sejak kecil Pusporini telah digembleng oleh kakak misannya, Adipati Tejolaksono yang menjadi gurunya. Tidak, Pusporini bukanlah seorang dara penakut. Dia seorang dara perkasa yang' biarpun belum matang ilmunya, namun telah mempelajari pelbagai aji kesaktian yang hebat-hebat. Kalau semalam ia melarikan diri penuh kengerian dan ketakutan adalah karena ia mengalami goncangan batin yang hebat menyaksikan peristiwa mengerikan di puncak Gunung Mentasari. Kini, berbareng dengan munculnya sinar matahari. pagi, batinnya mulai tenang kembali dan keberaniannya mulai timbul.
Tiba-tiba dara ini menahan jeritnya dan tubuhnya roboh terguling ke atas ......sepasang paha manusia. Ketika ia memandang, hampir ia menjerit kaget dan marah karena mendapat kenyataan bahwa ia jatuh terduduk di atas pangkuan seorang laki-laki muda yang tampan! Ketika lari tadi, cuaca masih remang-remang dan kakinya tersandung sehingga tubuhnya terguling. Ternyata yang menyandung kakinya bukanlah akar pohon melainkan dua buah kaki pemuda itu yang dilonjorkan, sedangkan tubuh pemuda itu bersandar pada pohon cemara. Pemuda itu tadinya tertidur melenggut dan kini berseru kaget sambil membuka matanya. Sejenak ia tertegun, memandang muka yang amat cantik, yang amat dekat dan kini sepasang mata indah itu terbelalak. Kemudian pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya dan mencubit telinganya sendiri sambil berkata,
"Segala puji bagi Sang Hyang Widhi .....! Masih mimpikah aku ....? Mimpi bulan jatuh di pangkuanku, akan tetapi .....ah, Andika tentulah seorang bidadari dari bulan ..!"

Saking kagetnya, Pusporini sampai kesima dan sampai lama ia terduduk di atas pangkuan pemuda itu. Mereka saling pandang dengan muka berdekatan, wajah pemuda itu penuh kekaguman dan heran, wajah Pusporini penuh kekagetan dan kemarahan. Setelah dapat menguasai rasa kagetnya, kemarahan memuncak di dalam hati Pusporini. Ia merasa malu dan marah bukan main. Sungguh seorang pemuda yang kurang ajar, berani mati memangkunya!
"Plak-plak ....!!" Dua kali tamparan tangannya yang dilakukan keras sekali membuat pemuda itu mencelat dan bergulingan beberapa kali. Tamparan bukan sembarang tamparan, melainkan pukulan telapak tangan dengan Aji Pethit Nogo yang tepat mengenai pipi dan leher. Akan tetapi, sungguhpun pemuda itu terlempar dan bergulingan, namun ia segera bangkit duduk kembali, mengelus-elus pipinya yang menjadi merah dan matanya memandang terbelalak, mulutnya mengomel,
"Aduh-aduh...., ada bidadari kok begini keji dan tangannya seperti besi panas ...!"
Melihat betapa pemuda kurangajar itu tidak mati, bahkan lukapun tidak oleh pukulannya, Pusporini menjadi makin penasaran dan marah. Ia sudah berdiri dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung pemuda itu sambil membentak,
"Heh, engkau manusia keparat, tak tahu susila, kurang ajar!"
Pemuda yang masih duduk itu terbelalak, menoleh ke belakangnya akan tetapi karena tidak melihat lain orang, baru ia mau mengerti bahwa dirinyalah yang dimaki. Karena telunjuk dara itu menuding tepat ke arah hidungnya, iapun lalu menunjuk hidungnya sendiri dan berkata,

<<< Bagian 055                                                                                    Bagian 057 >>>

No comments:

Post a Comment