"Kolohangkoro, kaubawa pergi korbanmu itu dari depan mataku," kata Sang Wasi Bagaspati sambil menyeringai. Ki Kolohangkoro yang memeluk anak itu tertawa, membungkuk lalu meloncat pergi, akan tetapi saking tak dapat menahan nafsunya, ia berlari sambil menundukkan mukanya ke arah leher anak itu yang berkulit putih halus. Rahangnya bergerak, tampak giginya yang meruncing dan terdengarlah jerit anak itu yang tenggelam ke dalam suara ketawa di tenggorokan Ki Kolohangkoro yang mulai menghisap darah segar!
Pusporini yang tadinya
menari-nari di atas panggung bundar, kini masih menari-nari seperti kehilangan
semangat. Karena gamelan kini tidak berbunyi lagi dan para penabuhnya sudah
pula terjun ke dalam kancah nafsu jalang yang dipuja-puja, Pusporini kini
berdiri termangu- mangu seperti orang bingung. Sepasang matanya kini
terbelalak, penuh kengerian akan tetapi juga seperti orang dalam mimpi.
Pengaruh jamu yang membiusnya masih belum lenyap semua, akan tetapi penglihatan
yang terbentang di depan matanya terlalu hebat sehingga mengguncangkan
perasaannya, membuatnya terbelalak penuh kengerian, ketakutan, dan kebingungan.
Apa yang terjadi di lapangan puncak Gunung Mentasari itu memang tidak lumrah.
Seorang manusia normal tentu akan terguncang perasaannya menyaksikan semua itu.
Agaknya semua orang yang berada di situ telah terseret ke dalam tingkat yang
amat hina dan rendah, jauh lebih rendah daripada binatang-binatang yang tidak
berakal budi. Mengerikan dan memuakkan! Sang Wasi Bagaspati dan Ni Dewi
Nilamanik masih duduk tenang, sungguhpun kini mereka duduk berdekatan dan
tangan Wasi Bagaspati membelai-belai rambut, kadang-kadang mencium muka Ni Dewi
Nilamanik. Mereka berdua yang sakti mandraguna, yang dengan pengaruh ilmu hitam
mereka telah menimbulkan suasana seperti ini, tentu saja dapat menguasai diri
dan keadaan. Ketika Pandang mata Wasi Bagaspati beralih ke arah Pusporini yang
berdiri bingung di atas panggung, ia segera bangkit perlahan, menudingkan
telunjuknya ke arah Pusporini dan berkata perlahan,
"Ni Dewi, aku ingin
mengaso dan antarkan dia itu kepadaku."
Ni Dewi Nilamanik juga
bangkit berdiri dan tersenyum lebar.
"Baiklah, Rakanda Wasi.
Saya sendiri yang akan menjemput dan mengantarnya kepadamu."
Akan tetapi pada saat itu, secara
tiba-tiba sekali jatuhlah air hujan dari angkasa! Kedua orang itu kaget dan
menengadah. Langit yang tadinya bersih kini tertutup mendung menghitam. Sinar
bulan tertutup mendung dan datang pula angin bertiup sehingga banyak obor
secara tiba-tiba menjadi padam. Suasana menjadi gelap, angin bertiup, dan air
hujan turun makin deras. Akan tetapi, pasangan-pasangan yang sudah dimabuk
nafsu itu masih berdekapan dan bergulingan di atas tanah berumput, sama sekali
tidak perduli akan turunnya air hujan. Suara ketawa dan cekikikan masih
terdengar, bahkan agaknya makin gembira dengan turunnya air hujan!
"Ah, hujan .....!"
seru Ni Dewi Nilamanik dengan kaget dan heran.
"Biar saya menyuruh
Sariwuni menjemputnya!" Karena Sariwuni yang dipanggil dua kali tidak
mendengar, asyik mengumbar nafsu binatang bersama Gagak Dwipa, sekali bergerak
Ni Dewi Nilamanik sudah mendekati lalu menarik bangun wanita itu.
"Sariwuni! Kau bawa
dara remaja itu ke dalam!"
Setelah berkata demikian, Ni
Dewi Nilamanik lalu menghampiri Wasi Bagaspati, menggandeng tangannya dan
berkata.
"Marilah, Rakanda Wasi,
kita berteduh di dalam dan menantinya."
Dua orang pimpinan kaum
sesat itu sudah berjalan cepat-cepat meninggalkan lapangan menuju ke bangunan
pondok-pondok yang berada di puncak. Adapun Sariwuni sambil bersungut-sungut
terpaksa meninggalkan Gagak Dwipa lagi, lari ke arah panggung di mana tadi
Pusporini berdiri bingung. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia tidak
melihat dara remaja itu di sana! Cepat ia meloncat ke tempat yang tinggi itu dan
memandang, lalu terkekeh genit dan keji ketika melihat bayangan Pusporini
berlari-lari pergi dari tempat itu! Beberapa obor yang masih bisa bertahan
terhadap serangan angin dan hujan, menerangi tempat itu sehingga ia dapat
melihat ke mana Iarinya Pusporini. Keadaan Pusporini tadi masih setengah sadar
setengah mabuk jamu yang membiusnya. Pemandangan yang mengerikan itu
mengguncang perasaannya dan memberitunya untuk cepat sadar ketika air hujan
menimpa kepalanya, Pusporini merasa seakan-akan ia disiram air embun suci dari
surgaloka. Seketika ia menjadi sadar dan dara remaja ini cepat menutup mulut
menahan jerit yang akan keluar dari mulutnya. Pemandangan yang terbentang di
depannya terlalu hebat. Ia meramkan matanya, kemudian meloncat turun dari
panggung dan lari ketakutan dan penuh kengerian. Ia harus lari dari tempat itu.
Harus cepat pergi menjauhi mereka ini! Kini teringatlah ia. Tadinya ia berada
di taman sari Kadipaten Selopenangkep. Lapat-lapat ia teringat betapa ia berada
di dalam kekuasaan wanita-wanita genit yang menyeramkan. Kemudian teringat
bahwa ia dibawa ke dalam sebuah pondok di puncak bukit itu, melihat wajah
seorang wanita cantik yang pandang matanya mengerikan, lalu ia tidak ingat
apa-apa lagi. Bagaimana ia tahu-tahu bisa berada di panggung itu? Dan
pemandangan yang ia lihat di atas rumput, lhhh, mengerikan sekali! Perutnya
menjadi muak dan mual, membuat ia hampir muntah. Akan tetapi karena ia maklum
bahwa tempat itu penuh dengan orang-orang jahat yang amat sakti, ia tidak mau
berhenti, terus berlari sambil mengerahkan Aji Bayu Sakti. Namun tubuhnya
terasa lemas dan lelah. Kepalanya masih pening berdenyut- denyut. Pandang
matanya berkunang dan malam amat gelap. Hujan turun makin deras sehingga jalan
liar yang dilaluinya menjadi licin sekali.
"Heeeeiii ...,
Pusporini! Berhenti kau! Hendak lari ke mana?"
Mendengar suara dari sebelah
belakang ini, Pusporini terkejut sekali. Ia menoleh dan di antara sinar obor
yang bergoyang-goyang hampir mati ia melihat bayangan seorang wanita yang
mengejarnya dengan gerakan tangkas dan larinya cepat bukan main. Pusporini
bukanlah seorang penakut, akan tetapi apa yang disaksikan di sana tadi
benar-benar telah melenyapkan semua keberaniannya. Terlalu ngeri dan terlalu
menakutkan baginya sehingga kini seluruh hati dan pikirannya dicekam rasa takut
yang hebat. Maka ia mengeluh pendek dan terus berlari makin cepat lagi.
Beberapa kali ia jatuh tersandung, akan tetapi ia bangkit lagi. Bahkan ia jatuh
tersungkur dan terguling-guling, namun setelah mendapat kesempatan meloncat
bangun, ia terus berlari lagi tidak memperdulikan betapa kakinya babak-belur
dan kainnya robek di sana-sini. Sanggul rambutnya terlepas sehingga rambutnya
yang hitam panjang terurai. Untung bagi Pusporini bahwa sinar bulan lenyap
tertutup mendung dan malam gelap pekat sehingga agak sukarlah bagi Sariwuni
untuk mengejarnya. Biarpun Pusporini tidak dapat melakukan perjalanan cepat
menuruni bukit di dalam gelap itu, namun sama pula halnya dengan Sariwuni yang
juga harus berhati-hati sekali karena selain jalan amat licin, juga amat gelap
dan banyak jurang di situ. Akhirnya Sariwuni berteriak keras memanggil nama
Gagak Dwipa dan Gagak Kroda untuk membantunya mengejar Pusporini. Kedua orang
Gagak ini tentu saja cepat bangkit berdiri dan berlari ke arah datangnya suara
Sariwuni. Mereka ingin menyenangkan hati wanita cantik yang membuat mereka
tergila-gila ini. Seperti kita ketahui, Gagak Dwipa dan Gagak Kroda adalah
kedua orang di antara Lima Gagak Serayu. Semenjak gerombolan mereka gagal
menyerang Selopenangkep bahkan dihancurkan oleh pasukan yang dipimpin Adipati
Tejolaksono sendiri, mereka menyembunyikan diri di dalam hutan-hutan dengan
hati penuh dendam. Kemudian tibalah saat bagi mereka untuk membalas dendam
ketika melihat pasukan-pasukan asing yang dipimpin oleh orang-orang Kerajaan
Sriwijaya dan Kerajaan Cola. Mereka lalu membawa pasukan yang masih ada untuk
menggabungkan diri dan bahkan menghambakan diri kepada pasukan asing yang
dipimpin banyak orang pandai itu.
Setelah Gagak Dwipa dan
Gagak Kroda. mendekat, Sariwuni dan kedua orang laki-laki tinggi besar ini
melanjutkan pengejaran mereka terhadap Pusporini. Dara remaja itu terus berlari
ke depan, menuruni bukit, meraba- raba dan merangkak-rangkak dalam gelap,
sebentarpun tidak berani berhenti. Apaiagi ia mendengar suara tiga orang
pengejarnya di belakang! Tiga orang itu biarpun tidak tampak olehnya, namun
selalu berada di belakang, suara mereka kadang-kadang jauh, akan tetapi
kadang-kadang
amat dekat.
Malam telah berganti pagi,
cuaca gelap menjadi remang-remang ketika akhirnya Pusporini tiba di kaki
gunung, karena kini cuaca tidak segelap tadi sehingga jalan di depan tampak
remang-remang, Pusporini menjadi girang hatinya.
"Heee, itu dia
.....!" Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang, suara seorang laki-laki
yang parau.
"Pusporini, hendak lari
ke mana engkau?"
"Kejar.....!!”
Mendengar suara-suara ini,
Pusporini tanpa menoleh lagi lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya, lari
secepatnya ke depan memasuki sebuah hutan di kaki gunung itu. Karena khawatir,
ia lupa akan kelelahannya, lupa bahwa tubuhnya sudah lelah sekali, kedua
kakinya lemas dan pandang matanya berkunang. Ia berlari terus, secepatnya masuk
hutan. Teriakan-teriakan itu masih terdengar di belakang, akan tetapi makin
perlahan yang berarti bahwa jarak di antara mereka makin jauh.
Sambil berlari cepat,
Pusporini memutar otaknya yang tadi digelapkan oleh rasa ngeri dan takut. Ah,
mengapa ia lari-lari seperti orang dikejar setan? Pengejarnya hanya tiga orang!
Takut apa? Kalau mereka dapat menyusulku, akan kulawan saja. Belum tentu aku
kalah, demikian dara remaja yang tadihya ketakutan karena pengalaman hebat di
puncak Gunung Mentasari itu kini mulai mendapatkan kembali ketabahannya. Pada
hakekatnya, Pusporini adalah seorang dara yang pemberani. Dia keturunan orang
sakti. Ayahnya yang tak pernah dilihatnya karena telah meninggal dunia di waktu
ia masih dalam kandungan ibunya, Pujo, adalah
seorang ksatria perkasa.
Juga ibunya, Roro Luhito bukanlah wanita sembarangan, melainkan murid Sang Resi
Telomoyo pertama yang memuja Hanoman. Selain menuruni watak ksatria ayah
bundanya, juga sejak kecil Pusporini telah digembleng oleh kakak misannya, Adipati
Tejolaksono yang menjadi gurunya. Tidak, Pusporini bukanlah seorang dara
penakut. Dia seorang dara perkasa yang' biarpun belum matang ilmunya, namun
telah mempelajari pelbagai aji kesaktian yang hebat-hebat. Kalau semalam ia
melarikan diri penuh kengerian dan ketakutan adalah karena ia mengalami
goncangan batin yang hebat menyaksikan peristiwa mengerikan di puncak Gunung
Mentasari. Kini, berbareng dengan munculnya sinar matahari. pagi, batinnya
mulai tenang kembali dan keberaniannya mulai timbul.
Tiba-tiba dara ini menahan
jeritnya dan tubuhnya roboh terguling ke atas ......sepasang paha manusia.
Ketika ia memandang, hampir ia menjerit kaget dan marah karena mendapat
kenyataan bahwa ia jatuh terduduk di atas pangkuan seorang laki-laki muda yang
tampan! Ketika lari tadi, cuaca masih remang-remang dan kakinya tersandung
sehingga tubuhnya terguling. Ternyata yang menyandung kakinya bukanlah akar
pohon melainkan dua buah kaki pemuda itu yang dilonjorkan, sedangkan tubuh
pemuda itu bersandar pada pohon cemara. Pemuda itu tadinya tertidur melenggut
dan kini berseru kaget sambil membuka matanya. Sejenak ia tertegun, memandang
muka yang amat cantik, yang amat dekat dan kini sepasang mata indah itu
terbelalak. Kemudian pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya dan mencubit
telinganya sendiri sambil berkata,
"Segala puji bagi Sang
Hyang Widhi .....! Masih mimpikah aku ....? Mimpi bulan jatuh di pangkuanku,
akan tetapi .....ah, Andika tentulah seorang bidadari dari bulan ..!"
Saking kagetnya, Pusporini
sampai kesima dan sampai lama ia terduduk di atas pangkuan pemuda itu. Mereka
saling pandang dengan muka berdekatan, wajah pemuda itu penuh kekaguman dan
heran, wajah Pusporini penuh kekagetan dan kemarahan. Setelah dapat menguasai
rasa kagetnya, kemarahan memuncak di dalam hati Pusporini. Ia merasa malu dan
marah bukan main. Sungguh seorang pemuda yang kurang ajar, berani mati
memangkunya!
"Plak-plak ....!!"
Dua kali tamparan tangannya yang dilakukan keras sekali membuat pemuda itu
mencelat dan bergulingan beberapa kali. Tamparan bukan sembarang tamparan,
melainkan pukulan telapak tangan dengan Aji Pethit Nogo yang tepat mengenai
pipi dan leher. Akan tetapi, sungguhpun pemuda itu terlempar dan bergulingan,
namun ia segera bangkit duduk kembali, mengelus-elus pipinya yang menjadi merah
dan matanya memandang terbelalak, mulutnya mengomel,
"Aduh-aduh...., ada
bidadari kok begini keji dan tangannya seperti besi panas ...!"
Melihat betapa pemuda
kurangajar itu tidak mati, bahkan lukapun tidak oleh pukulannya, Pusporini
menjadi makin penasaran dan marah. Ia sudah berdiri dan menudingkan telunjuknya
ke arah hidung pemuda itu sambil membentak,
"Heh, engkau manusia
keparat, tak tahu susila, kurang ajar!"
Pemuda yang masih duduk itu
terbelalak, menoleh ke belakangnya akan tetapi karena tidak melihat lain orang,
baru ia mau mengerti bahwa dirinyalah yang dimaki. Karena telunjuk dara itu
menuding tepat ke arah hidungnya, iapun lalu menunjuk hidungnya sendiri dan
berkata,
No comments:
Post a Comment