Perawan Lembah Wilis; Bagian 055


Suara nyanyian bersama itu makin` membubung tinggi, kadang-kadang menjadi rendah sekali dan dari dalam nyanyian ini seperti terdengar suara-suara aneh, pekik-pekik dahsyat, gerengan-gerengan, pendeknya seolah- olah semua setan iblis brekasakan bangkit dari neraka jahanam, memenuhi pangilan yang tersalur lewat kekuasaan Sang Bathari Durga yang menjadi ratu sekalian jin setan dan iblis!
Setelah pembacaan mantera habis, ketiga belas orang dara berpakaian putih itu bangkit, menari dan dengan langkah-langkah teratur pergi meninggalkan lapangan itu, kemudian tak lama datang lagi membawa sesajen yang disunggi di atas kepala. Bermacam-macam sesajen itu, dari buah-buahan, sayur-sayuran sampai daging segala macam hewan sembelihan, yang matang dan yang mentah. Tidak ketinggalan kembang dan arak! Semua sesajen ini dijajarkan, di depan ketiga buah arca. Setelah upacara ini yang dikepalai oleh Ni Dewi Nilamanik yang mengatur persembahan sesajen itu, maka upacara selesai dan ,kini tinggal perayaan pestanya. Ni Devi Nilamanik lalu berkata kepada Sang Wasi Bagaspati sambil mendekatinya,
"Rakanda wasi, bersiaplah menerima persembahan hamba." Kemudian wanita cantik itu memberi isyarat dengan tangan. Tiga belas orang wanita berpakaian putih menyembah lalu bangkit lagi menari sambil meninggalkan lapangan. Gamelan ditabuh gencar dan kini tiga puluh sembilan penari mengikuti irama yang gencar dan cepat.
Mereka itu bergerak cepat, berputaran melenggang-lenggok, memainkan kedua lengan yang lemas, menggerak-gerakkan pinggang yang ramping dan leher yang indah bentuknya, melirik-lirik dan tersenyum-senyum memikat. Akan tetapi, bertepatan dengan perubahan bunyi gamelan, mereka berhenti menari, lalu terpecah menjadi dua barisan dan membuat lingkaran lalu duduk bersimpuh dan  kembali tubuh atas mereka menelungkup mencium tanah dengan kedua lengan dilonjorkan di depan, menelungkup pula di atas tanah.
Gamelan kini berirama tenang dan amat indah, tidak lagi aneh atau liar seperti tadi, namun teratur dan halus. Inilah gamelan yang biasa dimainkan untuk mengiringi tari-tarian bidadari yang seringkali ditarikan di gedung-gedung para bangsawan.
Semua mata memandang ke arah tabir asap dan tampaklah tiga belas orang wanita yang berpakaian putih tadi muncul lagi, berjalan sambil menari perlahan-lahan dengan gerakan lemah gemulai. Namun mereka itu tampak kasar ketika semua mata memandang seorang dara yang mereka iringkan. Seorang dara remaja yang cantik manis, dan gerakan lengan kakinya ketika menari amatlah lemas dan indah! Diiringkan tiga belas orang wanita cantik berpakaian sutera putih itu, dara remaja ini tampak seperti setangkai kuncup bunga yang sedang mekar dengan segarnya di antara tiga belas tangkai bunga yang sudah terlalu banyak kehilangan madu karena setiap hart dihisap kumbang.

Dara remaja ini bukan lain adalah Pusporini! Baru pagi tadi rombongan anak buah Ni Dewi Nilamanik yang menawannya tiba di puncak Mentasari. Pusporini disambut dengan bangga dan girang oleh Ni Dewi Nilamanik yang segera membuatnya pingsan dengan ilmunya, kemudian memberi minum secara paksa ramuan obat yang membuat dara itu tidak sadar akan keadaan dirinya lagi! Inilah sebabnya mengapa pada malam hari itu, ketika Pusporini disambut oleh tiga belas orang wanita berpakaian putih dan diperintahkan menari, seperti sebuah boneka berjiwa Pusporini lalu keluar dari tempat tahanan, dan begitu mendengar suara gamelan dan melihat tiga belas orang itu menari, iapun lalu melangkah maju dan menari! Tentu saja tarian Pusporini amat indah karena dara remaja ini memang seorang ahli tari di Selopenangkep! Ia menari dengan kedua mata setengah terpejam, bibirnya otomatis tersenyum manis karena guru tarinya selalu memesan bahwa dalam membawakan tarian, wajah harus berseri dan bibir tersenyum manis, senyum sopan untuk mempercantik wajah. Semenjak ia masih kecil, Pusporini sudah belajar menari dan setiap kali di Kadipaten Selopenangkep diadakan tari- tarian, tentu dia menjadi bintang panggungnya. Kini, dalam keadaan tidak sadar akibat pengaruh jamu yang dicekokkan kepadanya ketika ia pingsan, Pusporini menari dengan perasaan bahwa dia harus menari seperti yang ia lakukan di Selopenangkep. Menari seindah-indahnya.
"Bagaimana, Rakanda Wasi? Apakah cukup memuaskan hati Rakanda?" bisik Ni Dewi Nilamanik sambil mendekati Wasi Bagaspati yang duduk terhenyak dan kesima memandang ke arah Pusporini. Teguran ini membuat ia sadar dan ia cepat memegang tangan Ni Dewi Nilamanik, ditariknya wanita itu mendekat dan dengan mata masih memandang ke arah Pusporini, ia mengambung pipi kanan wanita cantik itu di depan semua orang yang memandang hal ini tanpa heran sedikitpun.
"Wah, Yayi Dewi, benar hebat ...! Tiada ubahnya dengan Dewi Sang Hyang Saraswati sendiri ....! Dan dara ini adik misan Tejolaksono? Bagus! Hukuman baik bagi adipati yang keras kepala itu. Biarkan dia menghibur dengan tari-tarian sampai pestamu selesai, Yayi. Sesudah itu, bawa dia ke kamarku, akan tetapi aku menghendaki dia seaseli-aselinya, tanpa pengaruh jamu-jamu”
Ni Dewi Nilamanik tersenyum dan maklum akan kehendak Sang Wasi Bagaspati. Ia mengangguk lalu duduk kembali ke atas kursinya sambil memberi isyarat dengan tangan untuk meningkatkan acara perayaan. Tiga belas orang wanita berpakaian putih itu lalu menari sambil mengurung Pusporini dan mengiring dara remaja ini naik ke sebuah panggung yang paling tinggi di samping barisan tiga buah arca. Panggung ini hanya dua meter luasnya, agak tinggi dan bentuknya bundar. Tiga buah obor besar menyala di belakang panggung sehingga ketika Pusporini menari-nari di atas panggung sendirian saja, tampak seperti seorang bidadari menari. Permainan cahaya dan bayangan yang menyelimuti tubuh dan wajahnya benar-benar amat indah. Setelah Pusporini "disingkirkan" di atas panggung menyendiri dan menari dijadikan tontonan dan dikagumi semua orang, Ni Dewi Nilamanik kembali memberi isyarat dengan tangan. Tiga belas orang wanita berpakaian putih itu lalu mengundurkan diri dan tak lama kemudian mereka datang berlari-lari sambil menari dan masing-masing membawa sebuah bokor pula, kini bokor perak yang berisi benda cair berwarna merah. Begitu mereka memasuki lapangan, bau yang harum bercampur amis berhamburan dan semua orang yang hadir, baik laki-laki maupun perempuan tertawa-tawa gembira dan pandang mata mereka penuh kehausan melihat ke arah bokor-bokor itu. Semua bokor perak, tiga belas buah jumlahnya, kini ditaruh di depan kaki tiga buah arca. Ni Dewi Nilamanik lalu bangkit dan menghampiri, mencelupkan sebatang daun ke dalam bokor-bokor itu dan memercik-mercikkan cairan merah ke arah tiga arca hingga tubuh arca-arca itu berwarna merah, bertotol-totol seperti darah. Kemudian Ni Dewi Nilamanik mengambil dua buah cawan, mengisinya dengan cairan merah itu dan ia menghampiri Wasi Bagaspati. Dengan sikap hormat sambil bersimpuh di depan sang wasi, ia menyodorkan sebuah cawan yang diterima sambil tertawa oleh Wasi Bagaspati. Kemudian kedua orang ini minum cairan merah itu dari dalam cawan, terus ditenggak sampai habis.

Semua anak buah laki-laki perempuan yang hadir di situ bersorak gembira, dan mulailah mereka berteriak-teriak minta bagian cairan merah yang mereka sebut "Anggur Darah". Di Dewi Nilamanik memberi isyarat dengan tangan. Di bawah hujan sorak-sorai gemuruh, tiga belas orang wanita berpakaian putih, kini dibantu oleh tiga puluh sembilan wanita berpakaian aneka warna mulai membagi-bagikan anggur darah dari tiga belas bokor perak itu kepada semua orang. Mula-mula tentu saja para tamu yang duduk di kursi kehormatan yang menerima secawan yang mereka minum dengan lahap. Kemudian semua orang mendapat bagian, sampai para penabuh gamelan dan semua anggauta, baik anggauta penyembah Durga maupun penyembah Shiwa dan Kala. Setelah semua orang minum, makin riuhlah suasana, makin gembira seakan-akan mereka semua itu mabuk oleh secawan anggur darah itu. Gamelan dibunyikan dengan keras dan iramanya panas merangsang, lima puluh dua penari itu kini menari-nari secara liar, makin lama makin cepat gerakan mereka, makin cepat dan makin liar. Aneh dan hebat bukan main. Setelah minum anggur darah yang berwarna merah itu, wanita-wanita itu tidak hanya seperti mabuk, bahkan seperti orang-orang yang telah kemasukan roh jahat. Juga suasana makin menjadi berubah sama sekali. Seluruh lapangan itu seakan-akan terselimut hawa yang dingin menyeramkan, namun yang mengandung rangsangan hawa panas yang membuat darah mendidih, yang membangkitkan gairah nafsu berahi, dan jelas terasa getaran-getaran aneh yang tidak sewajarnya. Malam di puncak Gunung Mentasari ini menjadi malam penuh hawa kotor, dikuasai iblis.
Tiga puluh sembilan orang wanita yang berpakaian sutera tipis beraneka warna itu makin hebat tariannya. Tidak lagi mengikuti bunyi gamelan yang iramanya makin panas merangsang, melainkan menari secara liar, menggerak-gerakkan ginggul ke kanan kiri ke depan belakang, membusungkan dada dan menggerak-gerakkan pundak, pinggang mereka bergoyang-goyang, tubuh mereka seolah-olah menjadi tubuh ular yang meliuk-liuk, melekuk, melengkung dan menggeliat-geliat. Wajah mereka yang rata-rata cantik dan muda itu kini agak pucat, keringat membasahi dahi dan leher, muka diangkat ditengadahkan membayangkan gairah nafsu berahi, mata setengah terpejam, cuping hidung berkembang kempis mendengus-dengus, bibir terbuka memperlihatkan kilauan gigi putih di antara rongga mulut yang merah seperti dasar mereka, ujung lidah merah meruncing menjilat-jilat bibir seperti lidah ular, membasahi bibir yang merah basah, dada yang membusung itu turun naik terengah-engah seperti ombak samudra dilanda badai. Nafsu berahi makin memuncak dalam suasana yang tidak wajar itu. Keadaan seperti ini makin lama menjalar sehingga tiga belas orang wanita remaja berpakaian putih itupun terkena pengaruhnya dan merekapun mulai meniru gerak-gerik tiga puluh sembilan orang rekannya yang tingkatnya lebih rendah itu. Gamelan ditabuh makin menggila. Tari-tarian itupun makin menggila. Para anggauta wanita penyembah Bathari Durga itu kini mulai pula menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama gamelan. Merekapun terpengaruh setelah tadi minum secawan anggur darah. Juga para tamu, anak buah Wasi Bagaspati dan Ki Kolohangkoro, mulai berteriak-teriak seperti gila, menjadi histeris dan dengan pandang mata seperti hendak melahap dan menelan bulat- bulat para penari itu. Yang tidak terpengaruh oleh anggur darah, biarpun ikut minum, hanya para pimpinan saja. Sang Wasi Bagaspati, biarpun wajahnya menjadi makin merah, namun tetap tenang dan memandang kesemuanya itu sambil tersenyum gembira. Ni Dewi Nilamanik, juga merah sepasang pipinya, membuatnya tampak makin cantik dan kini pimpinan penyembah Bathari Durga melempar kerling mata penuh nafsu ke arah Sang Wasi Bagaspati, namun ia tetap duduk tenang. Di samping kedua orang sakti ini, Ki Kolohangkoro juga tidak terpengaruh. Matanya terbelalak lebar dan ia minum arak terus-menerus, kadang-kadang tertawa bergelak seperti orang gila. Yang lainnya, termasuk Cekel Wisangkoro, Sariwuni, kedua orang Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, terseret pula oleh gelombang getaran hawa nafsu berahi, bahkan Sariwuni dan kedua orang Gagak Dwipa dan Gagak Kroda sudah saling mendekat dan saling pegang dalam belaian-belaian penuh nafsu. Yang mengherankan adalah dua puluh empat orang tinggi besar gundul, anak buah Cekel Wisangkoro. Mereka ini tadipun mendapat bagian anggur darah, akan tetapi mereka kini tetap saja duduk di bawah tanpa bergerak dengan mata memandang kosong ke depan! Tak lama kemudian, setelah gamefan kini berbunyi kacau-balau karena para penabuhnya sudah mabuk semua, beterbanganlah sutera-sutera halus yang tadi membungkus tubuh lima puluh dua orang penari itu. Sorak-sorai terdengar dan para wanita penyembah Bathari Durga semua lalu ikut menari sambil menanggalkan pakaian, melempar-lemparkan pakaian mereka dan mempermainkannya seperti selendang, sementara tubuh mereka terus melanjutkan tari-tarian penuh gairah. Sorak-sorai dari mulut para pria yang hadir makin gemuruh dan mereka-pun bangkit tanpa aturan lagi, ikut menari-nari dan mendapatkan pasangan masing-masing. Bahkan Cekel Wisangkoro sudah pula meloncat dari tempat duduknya dan terjun ke dalam medan tari-tarian menggila itu. Suara ketawa bercampur cekikikan dan semua bercumbuan mengotorkan udara.

"Hua-ha-ha-ha, Bunda Dewi! Manakah hidanganku yang Bunda janjikan tadi?" terdengar suara Ki Kolohangkoro menggema dan mengatasi semua suara hiruk-pikuk dari mereka yang berpesta-pora dalam nafsu binatang itu.
"Jangan.... khawatir,.... Kolohangkoro," jawab Ni Dewi Nilamanik sambil tersenyum, lalu ia memanggil Sariwuni,
"Sariwuni, kau ambillah si bagus ke sini, berikan kepada Kolohangkoro!"
Sariwuni terpaksa melepaskan diri dari pelukan Gagak Dwipa, lalu tubuhnya yang kini sudah setengah telanjang itu melesat pergi. Hanya sebentar ia menghilang karena sepuluh menit kemudian wanita sakti ini telah datang kembali, memondong seorang anak laki-laki yang bertubuh montok dan berwajah tampan. Anak laki-laki itu berusia kurang lebih enam tahun, matanya lebar terbelalak memandang ketakutan dan di kedua pipinya yang segar kemerahan dan montok itu tampak titik-titik air mata.
Ki Kolohangkoro memekik keriangan ketika ia menyambar tubuh anak ini dari tangan Sariwuni yang terkekeh genit dan meloncat lagi ke dalam pelukan Gagak Dwipa sambil mendorong pergi seorang wanita penari yang tadi menggantikan tempatnya.

<<< Bagian 054                                                                                    Bagian 056 >>>

No comments:

Post a Comment