Suara nyanyian bersama itu makin` membubung tinggi, kadang-kadang menjadi rendah sekali dan dari dalam nyanyian ini seperti terdengar suara-suara aneh, pekik-pekik dahsyat, gerengan-gerengan, pendeknya seolah- olah semua setan iblis brekasakan bangkit dari neraka jahanam, memenuhi pangilan yang tersalur lewat kekuasaan Sang Bathari Durga yang menjadi ratu sekalian jin setan dan iblis!
Setelah pembacaan mantera
habis, ketiga belas orang dara berpakaian putih itu bangkit, menari dan dengan
langkah-langkah teratur pergi meninggalkan lapangan itu, kemudian tak lama
datang lagi membawa sesajen yang disunggi di atas kepala. Bermacam-macam
sesajen itu, dari buah-buahan, sayur-sayuran sampai daging segala macam hewan
sembelihan, yang matang dan yang mentah. Tidak ketinggalan kembang dan arak!
Semua sesajen ini dijajarkan, di depan ketiga buah arca. Setelah upacara ini
yang dikepalai oleh Ni Dewi Nilamanik yang mengatur persembahan sesajen itu,
maka upacara selesai dan ,kini tinggal perayaan pestanya. Ni Devi Nilamanik
lalu berkata kepada Sang Wasi Bagaspati sambil mendekatinya,
"Rakanda wasi,
bersiaplah menerima persembahan hamba." Kemudian wanita cantik itu memberi
isyarat dengan tangan. Tiga belas orang wanita berpakaian putih menyembah lalu
bangkit lagi menari sambil meninggalkan lapangan. Gamelan ditabuh gencar dan
kini tiga puluh sembilan penari mengikuti irama yang gencar dan cepat.
Mereka itu bergerak cepat,
berputaran melenggang-lenggok, memainkan kedua lengan yang lemas, menggerak-gerakkan
pinggang yang ramping dan leher yang indah bentuknya, melirik-lirik dan
tersenyum-senyum memikat. Akan tetapi, bertepatan dengan perubahan bunyi
gamelan, mereka berhenti menari, lalu terpecah menjadi dua barisan dan membuat
lingkaran lalu duduk bersimpuh dan
kembali tubuh atas mereka menelungkup mencium tanah dengan kedua lengan
dilonjorkan di depan, menelungkup pula di atas tanah.
Gamelan kini berirama tenang
dan amat indah, tidak lagi aneh atau liar seperti tadi, namun teratur dan
halus. Inilah gamelan yang biasa dimainkan untuk mengiringi tari-tarian
bidadari yang seringkali ditarikan di gedung-gedung para bangsawan.
Semua mata memandang ke arah
tabir asap dan tampaklah tiga belas orang wanita yang berpakaian putih tadi
muncul lagi, berjalan sambil menari perlahan-lahan dengan gerakan lemah
gemulai. Namun mereka itu tampak kasar ketika semua mata memandang seorang dara
yang mereka iringkan. Seorang dara remaja yang cantik manis, dan gerakan lengan
kakinya ketika menari amatlah lemas dan indah! Diiringkan tiga belas orang
wanita cantik berpakaian sutera putih itu, dara remaja ini tampak seperti
setangkai kuncup bunga yang sedang mekar dengan segarnya di antara tiga belas
tangkai bunga yang sudah terlalu banyak kehilangan madu karena setiap hart
dihisap kumbang.
Dara remaja ini bukan lain
adalah Pusporini! Baru pagi tadi rombongan anak buah Ni Dewi Nilamanik yang
menawannya tiba di puncak Mentasari. Pusporini disambut dengan bangga dan
girang oleh Ni Dewi Nilamanik yang segera membuatnya pingsan dengan ilmunya,
kemudian memberi minum secara paksa ramuan obat yang membuat dara itu tidak
sadar akan keadaan dirinya lagi! Inilah sebabnya mengapa pada malam hari itu,
ketika Pusporini disambut oleh tiga belas orang wanita berpakaian putih dan
diperintahkan menari, seperti sebuah boneka berjiwa Pusporini lalu keluar dari
tempat tahanan, dan begitu mendengar suara gamelan dan melihat tiga belas orang
itu menari, iapun lalu melangkah maju dan menari! Tentu saja tarian Pusporini
amat indah karena dara remaja ini memang seorang ahli tari di Selopenangkep! Ia
menari dengan kedua mata setengah terpejam, bibirnya otomatis tersenyum manis
karena guru tarinya selalu memesan bahwa dalam membawakan tarian, wajah harus
berseri dan bibir tersenyum manis, senyum sopan untuk mempercantik wajah.
Semenjak ia masih kecil, Pusporini sudah belajar menari dan setiap kali di
Kadipaten Selopenangkep diadakan tari- tarian, tentu dia menjadi bintang
panggungnya. Kini, dalam keadaan tidak sadar akibat pengaruh jamu yang dicekokkan
kepadanya ketika ia pingsan, Pusporini menari dengan perasaan bahwa dia harus
menari seperti yang ia lakukan di Selopenangkep. Menari seindah-indahnya.
"Bagaimana, Rakanda
Wasi? Apakah cukup memuaskan hati Rakanda?" bisik Ni Dewi Nilamanik sambil
mendekati Wasi Bagaspati yang duduk terhenyak dan kesima memandang ke arah
Pusporini. Teguran ini membuat ia sadar dan ia cepat memegang tangan Ni Dewi
Nilamanik, ditariknya wanita itu mendekat dan dengan mata masih memandang ke
arah Pusporini, ia mengambung pipi kanan wanita cantik itu di depan semua orang
yang memandang hal ini tanpa heran sedikitpun.
"Wah, Yayi Dewi, benar
hebat ...! Tiada ubahnya dengan Dewi Sang Hyang Saraswati sendiri ....! Dan
dara ini adik misan Tejolaksono? Bagus! Hukuman baik bagi adipati yang keras
kepala itu. Biarkan dia menghibur dengan tari-tarian sampai pestamu selesai,
Yayi. Sesudah itu, bawa dia ke kamarku, akan tetapi aku menghendaki dia
seaseli-aselinya, tanpa pengaruh jamu-jamu”
Ni Dewi Nilamanik tersenyum
dan maklum akan kehendak Sang Wasi Bagaspati. Ia mengangguk lalu duduk kembali
ke atas kursinya sambil memberi isyarat dengan tangan untuk meningkatkan acara
perayaan. Tiga belas orang wanita berpakaian putih itu lalu menari sambil
mengurung Pusporini dan mengiring dara remaja ini naik ke sebuah panggung yang
paling tinggi di samping barisan tiga buah arca. Panggung ini hanya dua meter
luasnya, agak tinggi dan bentuknya bundar. Tiga buah obor besar menyala di
belakang panggung sehingga ketika Pusporini menari-nari di atas panggung
sendirian saja, tampak seperti seorang bidadari menari. Permainan cahaya dan
bayangan yang menyelimuti tubuh dan wajahnya benar-benar amat indah. Setelah
Pusporini "disingkirkan" di atas panggung menyendiri dan menari
dijadikan tontonan dan dikagumi semua orang, Ni Dewi Nilamanik kembali memberi
isyarat dengan tangan. Tiga belas orang wanita berpakaian putih itu lalu
mengundurkan diri dan tak lama kemudian mereka datang berlari-lari sambil
menari dan masing-masing membawa sebuah bokor pula, kini bokor perak yang
berisi benda cair berwarna merah. Begitu mereka memasuki lapangan, bau yang
harum bercampur amis berhamburan dan semua orang yang hadir, baik laki-laki
maupun perempuan tertawa-tawa gembira dan pandang mata mereka penuh kehausan
melihat ke arah bokor-bokor itu. Semua bokor perak, tiga belas buah jumlahnya,
kini ditaruh di depan kaki tiga buah arca. Ni Dewi Nilamanik lalu bangkit dan
menghampiri, mencelupkan sebatang daun ke dalam bokor-bokor itu dan
memercik-mercikkan cairan merah ke arah tiga arca hingga tubuh arca-arca itu
berwarna merah, bertotol-totol seperti darah. Kemudian Ni Dewi Nilamanik
mengambil dua buah cawan, mengisinya dengan cairan merah itu dan ia menghampiri
Wasi Bagaspati. Dengan sikap hormat sambil bersimpuh di depan sang wasi, ia
menyodorkan sebuah cawan yang diterima sambil tertawa oleh Wasi Bagaspati.
Kemudian kedua orang ini minum cairan merah itu dari dalam cawan, terus
ditenggak sampai habis.
Semua anak buah laki-laki
perempuan yang hadir di situ bersorak gembira, dan mulailah mereka
berteriak-teriak minta bagian cairan merah yang mereka sebut "Anggur
Darah". Di Dewi Nilamanik memberi isyarat dengan tangan. Di bawah hujan
sorak-sorai gemuruh, tiga belas orang wanita berpakaian putih, kini dibantu
oleh tiga puluh sembilan wanita berpakaian aneka warna mulai membagi-bagikan
anggur darah dari tiga belas bokor perak itu kepada semua orang. Mula-mula
tentu saja para tamu yang duduk di kursi kehormatan yang menerima secawan yang
mereka minum dengan lahap. Kemudian semua orang mendapat bagian, sampai para
penabuh gamelan dan semua anggauta, baik anggauta penyembah Durga maupun
penyembah Shiwa dan Kala. Setelah semua orang minum, makin riuhlah suasana,
makin gembira seakan-akan mereka semua itu mabuk oleh secawan anggur darah itu.
Gamelan dibunyikan dengan keras dan iramanya panas merangsang, lima puluh dua
penari itu kini menari-nari secara liar, makin lama makin cepat gerakan mereka,
makin cepat dan makin liar. Aneh dan hebat bukan main. Setelah minum anggur
darah yang berwarna merah itu, wanita-wanita itu tidak hanya seperti mabuk,
bahkan seperti orang-orang yang telah kemasukan roh jahat. Juga suasana makin
menjadi berubah sama sekali. Seluruh lapangan itu seakan-akan terselimut hawa
yang dingin menyeramkan, namun yang mengandung rangsangan hawa panas yang
membuat darah mendidih, yang membangkitkan gairah nafsu berahi, dan jelas
terasa getaran-getaran aneh yang tidak sewajarnya. Malam di puncak Gunung
Mentasari ini menjadi malam penuh hawa kotor, dikuasai iblis.
Tiga puluh sembilan orang
wanita yang berpakaian sutera tipis beraneka warna itu makin hebat tariannya.
Tidak lagi mengikuti bunyi gamelan yang iramanya makin panas merangsang,
melainkan menari secara liar, menggerak-gerakkan ginggul ke kanan kiri ke depan
belakang, membusungkan dada dan menggerak-gerakkan pundak, pinggang mereka
bergoyang-goyang, tubuh mereka seolah-olah menjadi tubuh ular yang meliuk-liuk,
melekuk, melengkung dan menggeliat-geliat. Wajah mereka yang rata-rata cantik
dan muda itu kini agak pucat, keringat membasahi dahi dan leher, muka diangkat
ditengadahkan membayangkan gairah nafsu berahi, mata setengah terpejam, cuping
hidung berkembang kempis mendengus-dengus, bibir terbuka memperlihatkan kilauan
gigi putih di antara rongga mulut yang merah seperti dasar mereka, ujung lidah
merah meruncing menjilat-jilat bibir seperti lidah ular, membasahi bibir yang
merah basah, dada yang membusung itu turun naik terengah-engah seperti ombak
samudra dilanda badai. Nafsu berahi makin memuncak dalam suasana yang tidak
wajar itu. Keadaan seperti ini makin lama menjalar sehingga tiga belas orang
wanita remaja berpakaian putih itupun terkena pengaruhnya dan merekapun mulai
meniru gerak-gerik tiga puluh sembilan orang rekannya yang tingkatnya lebih
rendah itu. Gamelan ditabuh makin menggila. Tari-tarian itupun makin menggila.
Para anggauta wanita penyembah Bathari Durga itu kini mulai pula
menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama gamelan. Merekapun terpengaruh setelah
tadi minum secawan anggur darah. Juga para tamu, anak buah Wasi Bagaspati dan
Ki Kolohangkoro, mulai berteriak-teriak seperti gila, menjadi histeris dan
dengan pandang mata seperti hendak melahap dan menelan bulat- bulat para penari
itu. Yang tidak terpengaruh oleh anggur darah, biarpun ikut minum, hanya para
pimpinan saja. Sang Wasi Bagaspati, biarpun wajahnya menjadi makin merah, namun
tetap tenang dan memandang kesemuanya itu sambil tersenyum gembira. Ni Dewi
Nilamanik, juga merah sepasang pipinya, membuatnya tampak makin cantik dan kini
pimpinan penyembah Bathari Durga melempar kerling mata penuh nafsu ke arah Sang
Wasi Bagaspati, namun ia tetap duduk tenang. Di samping kedua orang sakti ini,
Ki Kolohangkoro juga tidak terpengaruh. Matanya terbelalak lebar dan ia minum
arak terus-menerus, kadang-kadang tertawa bergelak seperti orang gila. Yang
lainnya, termasuk Cekel Wisangkoro, Sariwuni, kedua orang Gagak Dwipa dan Gagak
Kroda, terseret pula oleh gelombang getaran hawa nafsu berahi, bahkan Sariwuni
dan kedua orang Gagak Dwipa dan Gagak Kroda sudah saling mendekat dan saling
pegang dalam belaian-belaian penuh nafsu. Yang mengherankan adalah dua puluh
empat orang tinggi besar gundul, anak buah Cekel Wisangkoro. Mereka ini tadipun
mendapat bagian anggur darah, akan tetapi mereka kini tetap saja duduk di bawah
tanpa bergerak dengan mata memandang kosong ke depan! Tak lama kemudian,
setelah gamefan kini berbunyi kacau-balau karena para penabuhnya sudah mabuk
semua, beterbanganlah sutera-sutera halus yang tadi membungkus tubuh lima puluh
dua orang penari itu. Sorak-sorai terdengar dan para wanita penyembah Bathari
Durga semua lalu ikut menari sambil menanggalkan pakaian, melempar-lemparkan
pakaian mereka dan mempermainkannya seperti selendang, sementara tubuh mereka
terus melanjutkan tari-tarian penuh gairah. Sorak-sorai dari mulut para pria
yang hadir makin gemuruh dan mereka-pun bangkit tanpa aturan lagi, ikut
menari-nari dan mendapatkan pasangan masing-masing. Bahkan Cekel Wisangkoro
sudah pula meloncat dari tempat duduknya dan terjun ke dalam medan tari-tarian
menggila itu. Suara ketawa bercampur cekikikan dan semua bercumbuan mengotorkan
udara.
"Hua-ha-ha-ha, Bunda
Dewi! Manakah hidanganku yang Bunda janjikan tadi?" terdengar suara Ki
Kolohangkoro menggema dan mengatasi semua suara hiruk-pikuk dari mereka yang
berpesta-pora dalam nafsu binatang itu.
"Jangan....
khawatir,.... Kolohangkoro," jawab Ni Dewi Nilamanik sambil tersenyum,
lalu ia memanggil Sariwuni,
"Sariwuni, kau ambillah
si bagus ke sini, berikan kepada Kolohangkoro!"
Sariwuni terpaksa melepaskan
diri dari pelukan Gagak Dwipa, lalu tubuhnya yang kini sudah setengah telanjang
itu melesat pergi. Hanya sebentar ia menghilang karena sepuluh menit kemudian
wanita sakti ini telah datang kembali, memondong seorang anak laki-laki yang
bertubuh montok dan berwajah tampan. Anak laki-laki itu berusia kurang lebih
enam tahun, matanya lebar terbelalak memandang ketakutan dan di kedua pipinya
yang segar kemerahan dan montok itu tampak titik-titik air mata.
Ki Kolohangkoro memekik
keriangan ketika ia menyambar tubuh anak ini dari tangan Sariwuni yang terkekeh
genit dan meloncat lagi ke dalam pelukan Gagak Dwipa sambil mendorong pergi
seorang wanita penari yang tadi menggantikan tempatnya.
No comments:
Post a Comment