Perawan Lembah Wilis; Bagian 054


Dia seorang wanita cantik yang masak, hanya sayang bibirnya yang merah basah itu kadang-kadang membayangkan senyum yang penuh kekejaman dan dingin menusuk jantung, sepasang matanya kadang-kadang mengerling tajam penuh kegairahan, mata seorang wanita pengabdi nafsu berahi. Inilah Ni Dewi Nilamanik, yang selain cantik jelita, juga memiliki ilmu kesaktian yang hebat. Dia seorang wanita berasal dari pesisir Banten yang sudah amat terkenal di daerah Banten akan tetapi baru sekarang ini terbawa oleh gerakan Kerajaan Cola bertualang ke timur. Ni Dewi Nilamanik yang mengaku sebagai titisan Sang Bathari Durga sendiri. Ketika bercakap-cakap dengan para tamu, kadang-kadang bibirnya yang merah itu terbuka dan tampaklah deretan gigi putih berkilau. Yang mendapat kehormatan duduk di atas kursi-kursi kehormatan mengitari sebuah meja besar bersama Ni Dewi Nilamanik hanya beberapa orang saja. Pertama-tama, yang mendapat kursi pertama di sebelah kanannya, adalah seorang kakek tinggi kurus bermuka merah yang tertawa-tawa dan suaranya keras nyaring. Dia ini bukan lain adalah Sang Wasi Bagaspati sendiri! Hanya terhadap Wasi Bagaspati inilah Ni Dewi Nilamanik bersikap menghormat, agak berlebihan, bahkan tadi ketika Wasi Bagaspati dan rombongannya tiba, Ni Dewi Nilamanik menyambutnya dengan sembah dan mencium ujung kakinya! Tidaklah mengherankan karena Wasi Bagaspati ketua Agama Shiwa ini adalah junjungannya, kekasihnya, juga sebagian daripada ilmu-ilmunya yang hebat ia pelajari dari kakek inilah! Seperti ketika ia mengunjungi puncak Merapi dahulu, sekarangpun kakek ini memakai jubah pendeta
yang berwarna merah darah sehingga rambutnya yang panjang putih itu tampak seperti perak! Hanya bedanya, kalau dahulu pakaiannya itu sederhana, kini terbuat daripada sutera halus berkilauan dan kedua kakinya juga memakai alas kaki jepitan. Rambut yang putih itu kini ia gelung ke atas dan diikat dengan sehelai kain sutera merah pula. Anak buah Wasi Bagaspati amatlah banyaknya, merupakan sebagian daripada pasukan Kerajaan Cola yang bergerak memasuki wilayah Panjalu. Akan tetapi yang pada saat itu mengiringkannya untuk menghadiri upacara pemujaan Sang Bathari Durga pada malam Respati itu hanya beberapa orang muridnya terkasih, yaitu pertama- tama adalah Sariwuni yang selain menjadi murid Wasi Bagaspati,juga tentu saja menjadi kekasihnya pula. Di samping ini, juga Sariwuni adalah seorang penyembah Durga, maka tentu saja ia hadir dalam pesta itu untuk membantu Ni Dewi Nilamanik. Sariwuni yang sudah kita kenal, yang cantik molek inipun kini berpakaian indah, dan sikapnya terhadap Wasi Bagaspati jelas amat menjilat!
Cekel Wisangkoro juga hadir sebagai abdi (cekel) sang wasi, juga sebagai murid yang sudah tinggi tingkat ilmunya. Rambut Cekel Wisangkoro yang panjang penuh uban dibiarkan terurai sampai ke pinggang. Jubahnya berwarna kuning dengan hiasan merah di pinggirnya. Tubuhnya juga tinggi kurus seperti gurunya, akan tetapi melihat, hidungnya yang seperti paruh burung betet, ia lebih kentara keturunan Hindu daripada gurunya. Karena keyakinan ilmu hawa sakti yang sama dengan gurunya, wajah sang cekel inipun halus kemerahan. Tongkat hitam berbentuk ular tak pernah terlepas dari tangan kanannya. Cekel Wisangkoro yang kini hadir di antara "orang-orang tinggi", tampak sungkan- sungkan dan tidak banyak bicara.
Masih ada dua losin pengikut Sang Wasi Bagaspati, laki-laki yang rata-rata bertubuh kuat dan berkepala gundul, yang wajahnya seperti arca. Mereka ini sesungguhnya anak buah Cekel Wisangkoro, orang-orang yang semangat dan pikirannya telah dikuasai oleh Cekel Wisangkoro dengan cengkeraman ilmu hitam. Akan tetapi dua puluh empat orang mayat hidup ini hanya duduk di atas tikar-tikar pandan yang dihamparkan di atas tanah, mereka duduk berjajar seperti arca. Di sebelah Cekel Wisangkoro duduk seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun dan keadaan jasmani laki-laki ini sungguh amat menyeramkan. Dia paling tinggi besar di antara semua yang hadir, seorang raksasa yang tubuhnya membayangkan tenaga kasar yang dahsyat.
Duduknya tegak, sikapnya agung dan matanya melotot galak, tidak banyak cakap akan tetapi kalau sekali-kali bicara menjawab pertanyaan Ni Dewi Nilamanik, suaranya nyaring parau seperti suara geluduk dan sepasang anting-anting atau gelang emas di kedua telinganya bergoyang-goyang. Inilah Ki Kolohangkoro yang mengepalai para pemuja Bathara Kala. Dia bersama anak buahnya yang tidak kurang dari seratus orang merupakan bala bantuan yang amat kuat bagi pergerakan yang dipimpin oleh Wasi Bagaspati. Kolohangkoro ini adalah adik seperguruan Wiku Kalawisesa, akan tetapi ia sakti mandraguna melebihi kakak seperguruannya yang dulu tewas di tangan Endang Patibroto itu. Bahkan ia menganggap dirinya sebagai penjelmaan Sang Bathara Kala sendiri, maka di dunia ini hanya dua orang yang ia hormati, yaitu pertama adalah Wasi Bagaspati yang dianggap titisan Sang Hyang Shiwa sendiri, dan kedua Ni Dewi Nilamanik yang dianggap titisan Bathari Durga. Bukankah Bathara Kala adalah putera sepasang tokoh dewa yang hebat itu?

Di antara seratus orang anak buahnya, hanya tiga puluh orang yang ia ajak ikut menghadiri pesta perayaan untuk memuja Bathari Durga ini. Anak buahnya ini rata-rata juga tinggi besar dan kasar. Mereka duduk berkelompok di dekat para penabuh gamelan, bersendau-gurau, bercakap-cakap dan menggoda wanita-wanita penabuh gamelan dengan sikap terbuka tanpa...... malu-malu lagi. Di bagian tamu kehormatan masih terdapat beberapa orang tamu laki-laki yang kesemuanya adalah tokoh-tokoh kaum sesat di sebelah barat yang sudah terbujuk oleh Wasi Bagaspati dan menjadi sekutunya untuk menghadapi Panjalu dan Jenggala. Mereka ini adalah kepala-kepala rampok dan kepala-kepala bajak, yang merajai hutan-hutan, gunung, dan sungai-sungai. Mereka datang menghadapi pesta bersama beberapa orang pembantu mereka yang pilihan. Di antara para tokoh ini tampak Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, yaitu dua orang di antara Lima Gagak Serayu yang masih hidup. Tiga orang Gagak lainnya telah tewas di tangan Adipati Tejolaksono. Anak buah mereka inipun masih banyak, akan tetapi yang mereka bawa pada malam hari itu hanya belasan orang saja. Dengan adanya para tamu yang jumlahnya amat banyak ini, maka ramailah lapangan di puncak Gunung Mentasari pada malam Respati itu. Suara gamelan mengungkung, alunan getaran paduan suara gamelan melayang sampai jauh ke lereng-lereng Gunung Mentasari. Suara ini mengiringi nyanyian waranggana yang merdu merayu dan menghidangkan bermacam-macam tembang.
"Ha-ha-ha-ha, suasana dalam pesta yang sudah-sudah tidaklah segembira malam hari ini. Entah mengapa, hatiku senang sekali!" Demikian kata Wasi Bagaspati sambil memandang ke arah wajah Ni Dewi Nilamanik.
"Kebahagiaan hati Rakanda Wasi ini menandakan bahwa malam ini diberkahi oleh Sang Hyang Bathara Shiwa, dan saya merasa yakin bahwa Rakanda akan menjadi makin berbahagia kalau melihat apa yang akan saya perlihatkan sebentar di dalam upacara pemujaan!" kata Ni Dewi Nilamanik sambil tersenyum gembira.
Sepasang alis putih tebal Sang Wasi Bagaspati terangkat dan matanya bersinar, wajahnya berseri.
"Heh, Ni Dewi..... sudah berhasilkah engkau menangkap isteri Adipati Tejolaksono?"
Ni Dewi Nilamanik memperlebar senyumnya, matanya mengerling genit dan kepalanya digeleng-gelengkan.
"Ayu Candra memang ayu, akan tetapi dia isteri orang lain, saya rasa kurang patut dihidangkan kepada Sang Hyang Bathara Shiwa“
"Eh, Ni Dewi, jangan kau beranggapan begitu. Siapapun dia yang telah menarik minat hati, tidak perduli dia itu tua atau muda, perawan atau janda, dia patut sudah. Pula, mendapatkan dia berarti memukul hancur sang adipati yang pengung (bodoh) dan keras kepala itu!"
"Semua yang paduka katakan memang tepat, Rakanda Wasi. Akan tetapi sayang sekali, bukan Ayu Candra yang tertawan oleh anak buahku, melainkan seorang yang menurut perasaan saya, lebih baik lagi. Dia masih perawan, usianya baru lima belas tahun, bertulang kuat berdarah bersih, cantik manis dan mudabelia, juga dia adalah adik misan, bahkan murid terkasih Adipati Tejolaksono."
"Waah-ha-ha-ha! Bagus sekali kalau begitu!" Sang Wasi Bagaspati tertawa-tawa gembira dan mengelus dagunya, matanya bersinar-sinar. Ki Kolohangkoro yang duduk dekat Ni Dewi Nilamanik, menoleh kepada wanita itu dan berkata perlahan,
"Bunda Dewi ...., apakah dalam kesempatan baik ini Bunda Dewi lupa kepada saya?"
Memang mengherankan bagi orang lain kalau mendengar betapa kakek berusia lima puluh tahunan yang bertubuh raksasa ini memanggil "bunda" kepada Ni Dewi Nilamanik yang baru berusia empat puluh tahunan! Hal ini adalah karena Ki Kolohangkoro yang menganggap diri sebagai titisan Bathara Kala menganggap Ni Dewi Nilamanik titisan Bathari Durga, karena itu seperti ibunya! Dan terhadap Sang Wasi Bagaspatipun ia menyebut "ramanda wasi"!

Ni Dewi Nilamanik menoleh kepada raksasa ini dan tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih berkilau.
"Jangan khawatir, Kolohangkoro. Aku tidak lupa akan pesananmu dan ingat bahwa saatnya tepat untuk memberi persembahan kepada Sang Hyang Bathara Kala!"
"Terima kasih ...., terima kasih, Ibunda Dewi .....!" kata Ki Kolohangkoro dengan girang sekali. Dengan mengangkat lengannya ke atas, Ni Dewi Nilamanik memberi isyarat dan berubahlah kini suara gamelan yang ditabuh oleh wanita-wanita muda itu. Waranggana berhenti menyanyi dan suara gamelan kini iramanya cepat dan nyaring, makin lama makin tinggi, seperti suara orang merintih mengerang, seperti napas terengah-engah, seperti suara ketawa ditahan-tahan. Bukan main hebatnya suara gamelan kini, dibarengi dengan pembakaran dupa yang amat harum. Asap dupa yang kebiruan bergerak perlahan, makin lama makin tebal dan dari balik asap ini sekarang bermunculan serombongan wanita penari yang berlari-lagi sambil menari-nari, kemudian setelah tiga puluh sembilan orang penari ini tiba di depan arca-arca dan tamu-tamu terhormat, mereka membentuk baris seperti bunga teratai lalu menyembah ke arah arca Bathari Durga. Mereka menyembah sambil merebahkan tubuh atau menelungkup ke atas tanah, kedua kaki ditekuk di bawah paha. Sampai lama mereka rebah seperti ini, tidak bergerak seolah-olah mati. Gamelan yang tadinya ramai dan penuh semangat, kini menurun iramanya sehingga terdengar perlahan dan tenang. Suasana menjadi hening dan sunyi, angker menyeramkan. Upacara pemujaan dan penghaturan sesaji telah dimulai. Tiga puluh sembilan penari masih menelungkup dan tidak bergerak. Ni Dewi Nilamanik lalu mengeluarkan .sebuah bungkusan merah dan menaburkan isinya pada pedupaan. Seperti tadi, asap mengebul tebal dan tinggi, akan tetapi kalau tadi berwarna kebiruan, kini berwarna kemerahan, amat indah tersinar cahaya bulan dan cahaya obor yang dipasang di sekitar lapangan itu. Pembakaran dupa yang berasap merah dan menghamburkan ganda harum yang aneh ini merupakan isyarat bagi serombongan penari lain yang telah siap. Dari balik tabir asap kemerahan ini muncul tiga belas orang penari. Berbeda dengan tiga puluh sembilan orang rombongan pertama tadi yang berpakaian sutera beraneka warna, tiga belas penari ini semua berpakaian putih, sutera tipis sekali sehingga sinar obor menembus pakaian tipis itu membuat bentuk tubuh mereka tampak nyata. Juga tiga belas orang penari ini masih muda remaja dan semua cantik jelita. Tarian mereka juga berbeda, gerakan mereka halus dan lemah gemulai. Tangan kiri mereka menyangga sebuah bokor emas di atas pundak, lengan kanan menari-nari dan kaki mereka seperti melayang saja ketika bergerak di atas rumput lapangan, seolah-olah mereka terbang. Ketika mereka tiba di depan tiga buah arca Bathari Durga, mereka bersimpuh, kemudian berjalan jongkok menghampiri arca. Dengan gerakan berirama sesuai dengan irama gamelan, setibanya di kaki arca, mereka kembali menyembah dan meletakkan bokor emas masing-masing di depan tubuh mereka. Pada saat itu, tiga puluh sembilan orang yang tadi menelungkup, kini menggerakkan tubuh tegak sambil menembang. Paduan suara tembang mereka mengalun dalam sebuah lagu pujaan yang aneh dan menimbulkan serem karena suara mereka seperti orang merintih, kadang-kadang seperti menangis dan tiba-tiba berubah menjadi suara orang bergembira tertawa!

Tiga belas orang wanita berpakaiari putih kini menyebarkan bunga rampai dari dalam bokor kencana ke arah tiga buah arca sehingga tubuh arca-arca itu penuh kembang. Bau yang amat wangi memenuhi seluruh lapangan, bau kembang rampai bercampur harum dedes dan dupa. Setelah semua kembang dalam bokor habis, tiga belas orang wanita berpakaian putih itu yang masih duduk bersimpuh, menggerak-gerakkan tubuh atas mereka, bergoyang-goyang seperti ombak ke kanan kiri, ke depan belakang dengan berbareng dan dari mulut mereka terdengar suara mereka membaca mantera yang mengagung-agungkan nama Sang Bathari Durga. Ni Dewi Nilamanik kini sudah bangkit berdiri dan menghampiri arca Bathari Durga yang berada di tengah, lalu berlutut dan membaca mantera pula, seirama dengan tiga belas orang muridnya.
Pada saat itu, suasana di lapangan itu benar-benar amat menyeramkan. Asap kemerahan yang mengebul dari depan arca, membuat tiga buah arca itu seolah-olah bergerak-gerak dan bernapasl Dua buah arca Bathari Durga yang mengerikan di kanan kiri itu seolah-olah melotot dan menyeringai, dan hawa busuk keluar dari tubuh dua buah arca itu. Adapun arca yang di tengah, yang cantik dan molek, seperti ikut pula menari dan bibirnya tersenyum-senyum.

<<< Bagian 053                                                                                    Bagian 055 >>>

No comments:

Post a Comment