Dia seorang wanita cantik yang masak, hanya sayang bibirnya yang merah basah itu kadang-kadang membayangkan senyum yang penuh kekejaman dan dingin menusuk jantung, sepasang matanya kadang-kadang mengerling tajam penuh kegairahan, mata seorang wanita pengabdi nafsu berahi. Inilah Ni Dewi Nilamanik, yang selain cantik jelita, juga memiliki ilmu kesaktian yang hebat. Dia seorang wanita berasal dari pesisir Banten yang sudah amat terkenal di daerah Banten akan tetapi baru sekarang ini terbawa oleh gerakan Kerajaan Cola bertualang ke timur. Ni Dewi Nilamanik yang mengaku sebagai titisan Sang Bathari Durga sendiri. Ketika bercakap-cakap dengan para tamu, kadang-kadang bibirnya yang merah itu terbuka dan tampaklah deretan gigi putih berkilau. Yang mendapat kehormatan duduk di atas kursi-kursi kehormatan mengitari sebuah meja besar bersama Ni Dewi Nilamanik hanya beberapa orang saja. Pertama-tama, yang mendapat kursi pertama di sebelah kanannya, adalah seorang kakek tinggi kurus bermuka merah yang tertawa-tawa dan suaranya keras nyaring. Dia ini bukan lain adalah Sang Wasi Bagaspati sendiri! Hanya terhadap Wasi Bagaspati inilah Ni Dewi Nilamanik bersikap menghormat, agak berlebihan, bahkan tadi ketika Wasi Bagaspati dan rombongannya tiba, Ni Dewi Nilamanik menyambutnya dengan sembah dan mencium ujung kakinya! Tidaklah mengherankan karena Wasi Bagaspati ketua Agama Shiwa ini adalah junjungannya, kekasihnya, juga sebagian daripada ilmu-ilmunya yang hebat ia pelajari dari kakek inilah! Seperti ketika ia mengunjungi puncak Merapi dahulu, sekarangpun kakek ini memakai jubah pendeta
yang berwarna merah darah
sehingga rambutnya yang panjang putih itu tampak seperti perak! Hanya bedanya,
kalau dahulu pakaiannya itu sederhana, kini terbuat daripada sutera halus
berkilauan dan kedua kakinya juga memakai alas kaki jepitan. Rambut yang putih
itu kini ia gelung ke atas dan diikat dengan sehelai kain sutera merah pula.
Anak buah Wasi Bagaspati amatlah banyaknya, merupakan sebagian daripada pasukan
Kerajaan Cola yang bergerak memasuki wilayah Panjalu. Akan tetapi yang pada
saat itu mengiringkannya untuk menghadiri upacara pemujaan Sang Bathari Durga
pada malam Respati itu hanya beberapa orang muridnya terkasih, yaitu pertama-
tama adalah Sariwuni yang selain menjadi murid Wasi Bagaspati,juga tentu saja
menjadi kekasihnya pula. Di samping ini, juga Sariwuni adalah seorang penyembah
Durga, maka tentu saja ia hadir dalam pesta itu untuk membantu Ni Dewi
Nilamanik. Sariwuni yang sudah kita kenal, yang cantik molek inipun kini
berpakaian indah, dan sikapnya terhadap Wasi Bagaspati jelas amat menjilat!
Cekel Wisangkoro juga hadir
sebagai abdi (cekel) sang wasi, juga sebagai murid yang sudah tinggi tingkat
ilmunya. Rambut Cekel Wisangkoro yang panjang penuh uban dibiarkan terurai
sampai ke pinggang. Jubahnya berwarna kuning dengan hiasan merah di pinggirnya.
Tubuhnya juga tinggi kurus seperti gurunya, akan tetapi melihat, hidungnya yang
seperti paruh burung betet, ia lebih kentara keturunan Hindu daripada gurunya.
Karena keyakinan ilmu hawa sakti yang sama dengan gurunya, wajah sang cekel
inipun halus kemerahan. Tongkat hitam berbentuk ular tak pernah terlepas dari
tangan kanannya. Cekel Wisangkoro yang kini hadir di antara "orang-orang
tinggi", tampak sungkan- sungkan dan tidak banyak bicara.
Masih ada dua losin pengikut
Sang Wasi Bagaspati, laki-laki yang rata-rata bertubuh kuat dan berkepala
gundul, yang wajahnya seperti arca. Mereka ini sesungguhnya anak buah Cekel
Wisangkoro, orang-orang yang semangat dan pikirannya telah dikuasai oleh Cekel
Wisangkoro dengan cengkeraman ilmu hitam. Akan tetapi dua puluh empat orang
mayat hidup ini hanya duduk di atas tikar-tikar pandan yang dihamparkan di atas
tanah, mereka duduk berjajar seperti arca. Di sebelah Cekel Wisangkoro duduk
seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun dan keadaan jasmani
laki-laki ini sungguh amat menyeramkan. Dia paling tinggi besar di antara semua
yang hadir, seorang raksasa yang tubuhnya membayangkan tenaga kasar yang
dahsyat.
Duduknya tegak, sikapnya
agung dan matanya melotot galak, tidak banyak cakap akan tetapi kalau
sekali-kali bicara menjawab pertanyaan Ni Dewi Nilamanik, suaranya nyaring
parau seperti suara geluduk dan sepasang anting-anting atau gelang emas di
kedua telinganya bergoyang-goyang. Inilah Ki Kolohangkoro yang mengepalai para
pemuja Bathara Kala. Dia bersama anak buahnya yang tidak kurang dari seratus
orang merupakan bala bantuan yang amat kuat bagi pergerakan yang dipimpin oleh
Wasi Bagaspati. Kolohangkoro ini adalah adik seperguruan Wiku Kalawisesa, akan
tetapi ia sakti mandraguna melebihi kakak seperguruannya yang dulu tewas di
tangan Endang Patibroto itu. Bahkan ia menganggap dirinya sebagai penjelmaan
Sang Bathara Kala sendiri, maka di dunia ini hanya dua orang yang ia hormati,
yaitu pertama adalah Wasi Bagaspati yang dianggap titisan Sang Hyang Shiwa
sendiri, dan kedua Ni Dewi Nilamanik yang dianggap titisan Bathari Durga.
Bukankah Bathara Kala adalah putera sepasang tokoh dewa yang hebat itu?
Di antara seratus orang anak
buahnya, hanya tiga puluh orang yang ia ajak ikut menghadiri pesta perayaan
untuk memuja Bathari Durga ini. Anak buahnya ini rata-rata juga tinggi besar
dan kasar. Mereka duduk berkelompok di dekat para penabuh gamelan,
bersendau-gurau, bercakap-cakap dan menggoda wanita-wanita penabuh gamelan
dengan sikap terbuka tanpa...... malu-malu lagi. Di bagian tamu kehormatan
masih terdapat beberapa orang tamu laki-laki yang kesemuanya adalah tokoh-tokoh
kaum sesat di sebelah barat yang sudah terbujuk oleh Wasi Bagaspati dan menjadi
sekutunya untuk menghadapi Panjalu dan Jenggala. Mereka ini adalah
kepala-kepala rampok dan kepala-kepala bajak, yang merajai hutan-hutan, gunung,
dan sungai-sungai. Mereka datang menghadapi pesta bersama beberapa orang pembantu
mereka yang pilihan. Di antara para tokoh ini tampak Gagak Dwipa dan Gagak
Kroda, yaitu dua orang di antara Lima Gagak Serayu yang masih hidup. Tiga orang
Gagak lainnya telah tewas di tangan Adipati Tejolaksono. Anak buah mereka
inipun masih banyak, akan tetapi yang mereka bawa pada malam hari itu hanya
belasan orang saja. Dengan adanya para tamu yang jumlahnya amat banyak ini,
maka ramailah lapangan di puncak Gunung Mentasari pada malam Respati itu. Suara
gamelan mengungkung, alunan getaran paduan suara gamelan melayang sampai jauh
ke lereng-lereng Gunung Mentasari. Suara ini mengiringi nyanyian waranggana
yang merdu merayu dan menghidangkan bermacam-macam tembang.
"Ha-ha-ha-ha, suasana
dalam pesta yang sudah-sudah tidaklah segembira malam hari ini. Entah mengapa,
hatiku senang sekali!" Demikian kata Wasi Bagaspati sambil memandang ke
arah wajah Ni Dewi Nilamanik.
"Kebahagiaan hati
Rakanda Wasi ini menandakan bahwa malam ini diberkahi oleh Sang Hyang Bathara
Shiwa, dan saya merasa yakin bahwa Rakanda akan menjadi makin berbahagia kalau
melihat apa yang akan saya perlihatkan sebentar di dalam upacara
pemujaan!" kata Ni Dewi Nilamanik sambil tersenyum gembira.
Sepasang alis putih tebal
Sang Wasi Bagaspati terangkat dan matanya bersinar, wajahnya berseri.
"Heh, Ni Dewi.....
sudah berhasilkah engkau menangkap isteri Adipati Tejolaksono?"
Ni Dewi Nilamanik
memperlebar senyumnya, matanya mengerling genit dan kepalanya
digeleng-gelengkan.
"Ayu Candra memang ayu,
akan tetapi dia isteri orang lain, saya rasa kurang patut dihidangkan kepada
Sang Hyang Bathara Shiwa“
"Eh, Ni Dewi, jangan
kau beranggapan begitu. Siapapun dia yang telah menarik minat hati, tidak
perduli dia itu tua atau muda, perawan atau janda, dia patut sudah. Pula,
mendapatkan dia berarti memukul hancur sang adipati yang pengung (bodoh) dan
keras kepala itu!"
"Semua yang paduka
katakan memang tepat, Rakanda Wasi. Akan tetapi sayang sekali, bukan Ayu Candra
yang tertawan oleh anak buahku, melainkan seorang yang menurut perasaan saya,
lebih baik lagi. Dia masih perawan, usianya baru lima belas tahun, bertulang
kuat berdarah bersih, cantik manis dan mudabelia, juga dia adalah adik misan,
bahkan murid terkasih Adipati Tejolaksono."
"Waah-ha-ha-ha! Bagus
sekali kalau begitu!" Sang Wasi Bagaspati tertawa-tawa gembira dan
mengelus dagunya, matanya bersinar-sinar. Ki Kolohangkoro yang duduk dekat Ni
Dewi Nilamanik, menoleh kepada wanita itu dan berkata perlahan,
"Bunda Dewi ....,
apakah dalam kesempatan baik ini Bunda Dewi lupa kepada saya?"
Memang mengherankan bagi
orang lain kalau mendengar betapa kakek berusia lima puluh tahunan yang
bertubuh raksasa ini memanggil "bunda" kepada Ni Dewi Nilamanik yang
baru berusia empat puluh tahunan! Hal ini adalah karena Ki Kolohangkoro yang
menganggap diri sebagai titisan Bathara Kala menganggap Ni Dewi Nilamanik
titisan Bathari Durga, karena itu seperti ibunya! Dan terhadap Sang Wasi
Bagaspatipun ia menyebut "ramanda wasi"!
Ni Dewi Nilamanik menoleh
kepada raksasa ini dan tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang
putih berkilau.
"Jangan khawatir,
Kolohangkoro. Aku tidak lupa akan pesananmu dan ingat bahwa saatnya tepat untuk
memberi persembahan kepada Sang Hyang Bathara Kala!"
"Terima kasih ....,
terima kasih, Ibunda Dewi .....!" kata Ki Kolohangkoro dengan girang
sekali. Dengan mengangkat lengannya ke atas, Ni Dewi Nilamanik memberi isyarat
dan berubahlah kini suara gamelan yang ditabuh oleh wanita-wanita muda itu.
Waranggana berhenti menyanyi dan suara gamelan kini iramanya cepat dan nyaring,
makin lama makin tinggi, seperti suara orang merintih mengerang, seperti napas
terengah-engah, seperti suara ketawa ditahan-tahan. Bukan main hebatnya suara
gamelan kini, dibarengi dengan pembakaran dupa yang amat harum. Asap dupa yang
kebiruan bergerak perlahan, makin lama makin tebal dan dari balik asap ini
sekarang bermunculan serombongan wanita penari yang berlari-lagi sambil
menari-nari, kemudian setelah tiga puluh sembilan orang penari ini tiba di
depan arca-arca dan tamu-tamu terhormat, mereka membentuk baris seperti bunga
teratai lalu menyembah ke arah arca Bathari Durga. Mereka menyembah sambil
merebahkan tubuh atau menelungkup ke atas tanah, kedua kaki ditekuk di bawah
paha. Sampai lama mereka rebah seperti ini, tidak bergerak seolah-olah mati.
Gamelan yang tadinya ramai dan penuh semangat, kini menurun iramanya sehingga
terdengar perlahan dan tenang. Suasana menjadi hening dan sunyi, angker
menyeramkan. Upacara pemujaan dan penghaturan sesaji telah dimulai. Tiga puluh
sembilan penari masih menelungkup dan tidak bergerak. Ni Dewi Nilamanik lalu
mengeluarkan .sebuah bungkusan merah dan menaburkan isinya pada pedupaan.
Seperti tadi, asap mengebul tebal dan tinggi, akan tetapi kalau tadi berwarna
kebiruan, kini berwarna kemerahan, amat indah tersinar cahaya bulan dan cahaya
obor yang dipasang di sekitar lapangan itu. Pembakaran dupa yang berasap merah
dan menghamburkan ganda harum yang aneh ini merupakan isyarat bagi serombongan
penari lain yang telah siap. Dari balik tabir asap kemerahan ini muncul tiga
belas orang penari. Berbeda dengan tiga puluh sembilan orang rombongan pertama
tadi yang berpakaian sutera beraneka warna, tiga belas penari ini semua
berpakaian putih, sutera tipis sekali sehingga sinar obor menembus pakaian
tipis itu membuat bentuk tubuh mereka tampak nyata. Juga tiga belas orang
penari ini masih muda remaja dan semua cantik jelita. Tarian mereka juga
berbeda, gerakan mereka halus dan lemah gemulai. Tangan kiri mereka menyangga
sebuah bokor emas di atas pundak, lengan kanan menari-nari dan kaki mereka seperti
melayang saja ketika bergerak di atas rumput lapangan, seolah-olah mereka
terbang. Ketika mereka tiba di depan tiga buah arca Bathari Durga, mereka
bersimpuh, kemudian berjalan jongkok menghampiri arca. Dengan gerakan berirama
sesuai dengan irama gamelan, setibanya di kaki arca, mereka kembali menyembah
dan meletakkan bokor emas masing-masing di depan tubuh mereka. Pada saat itu,
tiga puluh sembilan orang yang tadi menelungkup, kini menggerakkan tubuh tegak
sambil menembang. Paduan suara tembang mereka mengalun dalam sebuah lagu pujaan
yang aneh dan menimbulkan serem karena suara mereka seperti orang merintih,
kadang-kadang seperti menangis dan tiba-tiba berubah menjadi suara orang
bergembira tertawa!
Tiga belas orang wanita
berpakaiari putih kini menyebarkan bunga rampai dari dalam bokor kencana ke
arah tiga buah arca sehingga tubuh arca-arca itu penuh kembang. Bau yang amat
wangi memenuhi seluruh lapangan, bau kembang rampai bercampur harum dedes dan
dupa. Setelah semua kembang dalam bokor habis, tiga belas orang wanita
berpakaian putih itu yang masih duduk bersimpuh, menggerak-gerakkan tubuh atas
mereka, bergoyang-goyang seperti ombak ke kanan kiri, ke depan belakang dengan
berbareng dan dari mulut mereka terdengar suara mereka membaca mantera yang mengagung-agungkan
nama Sang Bathari Durga. Ni Dewi Nilamanik kini sudah bangkit berdiri dan
menghampiri arca Bathari Durga yang berada di tengah, lalu berlutut dan membaca
mantera pula, seirama dengan tiga belas orang muridnya.
Pada saat itu,
suasana di lapangan itu benar-benar amat menyeramkan. Asap kemerahan yang
mengebul dari depan arca, membuat tiga buah arca itu seolah-olah bergerak-gerak
dan bernapasl Dua buah arca Bathari Durga yang mengerikan di kanan kiri itu
seolah-olah melotot dan menyeringai, dan hawa busuk keluar dari tubuh dua buah
arca itu. Adapun arca yang di tengah, yang cantik dan molek, seperti ikut pula
menari dan bibirnya tersenyum-senyum.
No comments:
Post a Comment