Perawan Lembah Wilis; Bagian 053


"Plakkkk!!"
Kembali orang itu terpelanting, namun segera bangkit lagi dan menghadapi Pusporini dengan mata melotot. Bulu tengkuk dara ini meremang. Dua kali pukulannya tadi amat hebat, dan dengan pukulan-pukulan itu kiranya batu gunungpun akan terpukul pecah. Akan tetapi kenapa orang ini mengeluhpun tidak? Ia telah mempelajari banyak macam aji-aji yang ampuh dari Adipati Tejolaksono, akan tetapi pukulannya yang terampuh adalah Aji Pethit Nogo. Ketika melihat orang itu menyerangnya lagi hendak menangkap, dengan mudahnya Pusporini mengelak.

Dengan aji keringanan tubuh Bayu Sakti, tentu saja dengan mudah ia dapat menghindarkan setiap serangan laki-laki tinggi besar yang baginya terlalu lamban ini, akan tetapi ia masih penasaran kalau belum dapat memukul roboh orang yang telah menculiknya ini. Berkali-kali ia memukul dan mengeluarkan semua aji pukulannya, namun orang itu hanya terhuyung, paling-paling terjungkal untuk bangkit kembali dan menerjangnya makin hebat!
"Eh-eh, engkau ini manusia ataukah iblis? Disuruh mampus saja kok tidak mau, keparat!" Pusporini memaki, akan tetapi sebetulnya di dalam hatinya, ia merasa ngeri dan serem. Sekali lagi ia mengelak sambil mengirim pukulan keras yang membuat tubuh laki-laki tinggi besar itu terguling-guling, dan ketika laki-laki itu seperti tadi bangkit berdiri lagi, Pusporini telah hilang dari tempat itu karena dara remaja ini dengan penuh kengerian telah melarikan diri. Siapa orangnya tidak akan merasa ngeri kalau bertanding melawan orang nekat macam itu? Sampai lelah kedua tangannya memukul dan orang itu berkali-kali jatuh lalu bangun lagi! Karena Pusporini mempergunakan Aji Bayu Sakti yang membuat larinya seperti seekor kijang muda, maka laki-laki tinggi besar itu tertinggal jauh, bahkan laki-laki itu mengejar ke arah yang berlainan! Akan tetapi, biarpun semenjak kecil digembleng olah keprajuritan dan tata kelahi, Pusporini tidak pernah keluar dari Kadipaten Selopenangkep. Apalagi setelah Sang Adipati Tejolaksono menghapuskan kebiasaan berburu, dara remaja ini tidak mengenal daerah di luar Selopenangkep. Tadi ketika diculik, ia berada dalam keadaan pulas sehingga tidak tahu dibawa ke mana. Sekarang, barulah ia menjadi bingung karena tidak tahu ke mana jalan pulang ke Selopenangkep. Tanpa ia sadari, ia bukannya menuju kembali ke Selopenangkep, melainkan menyusup makin dalam ke hutan yang lebat. Juga tidak tahu bahwa gerak-geriknya semenjak bertanding melawan orang tinggi besar tadi telah diperhatikan oleh banyak orang! Tengah malam telah lewat dan bulan sepotong yang keluarnya hampir tengah malam itu kini sudah naik tinggi, menyinarkan cahaya yang redup namun cukup terang, menimbulkan suasana yang amat indah menyeramkan di dalam hutan! Pusporini mulai merasa bingung ketika hutan yang dilaluinya makin lama makin liar dan gelap. Agak lega hatinya ketika di tengah-tengah hutan liar itu ia mendapatkan sebuah lapangan yang luasnya ada seratus meter, berbentuk bundar dan lapangan terbuka ini tidak ditumbuhi pohon sehingga sinar bulan terang memenuhi lapangan itu. Rumput hijau tebal menutupi lapangan seperti permadani hijau dibentangkan, amat indah dan bersihnya. Pusporini mengambil keputusan untuk beristirahat dan melewatkan malam itu di tempat ini. Besok kalau matahari sudah menerangi bumi, ia akan dapat keluar dari hutan ini dan pulang, pikirnya. Tempat ini amat enak, juga ia dapat memandang ke sekelilingnya tanpa terhalang pohon sehingga kalau ada musuh mendatang, jauh-jauh sudah akan melihatnya. Sambil menghela napas lega dara remaja ini duduk dan melenggut saking mengantuk dan lelahnya. Kadang-kadang ia membuka mata dan memandang ke sekelilingnya yang sunyi untuk melihat kalau-kalau si gundul mengerikan tadi datang mengejarnya. Sebenarnya hal ini tidak perlu ia lakukan karena kalau ada orang datang berlari menghampirinya, tentu pendengarannya yang tajam akan dapat menangkap langkah kakinya.

Akan tetapi, bagaimana pendengarannya akan dapat menangkap kalau benda-benda bergerak itu menghampirinya tanpa melangkahkan kaki, melainkan merayap seperti segerombolan ular? Dan bagaimana ia dapat melihat mereka itu kalau mereka menyusup-nyusup di antara rumput-rumput yang tebal dan tinggi? Tidak, Pusporini sama sekali tidak tahu, menyangkapun tidak bahwa pada saat itu, ada belasan orang mengurungnya dari semua penjuru, menghampirinya sambil merayap di antara rumput tanpa mengeluarkan suara! Mereka itu adalah orang-orang wanita, masih muda-muda. Ketika mereka ini merayap, dengan pinggang ramping bergerak-gerak, pinggul ke kanan kiri, pakaian setengah telanjang, mereka merupakan binatang-binatang yang amat aneh! Pusporini sedang melenggut ketika tiba-tiba tubuhnya ditubruk oleh empat orang wanita yang menggelut dan memitingnya dengan gerakan seperti ular-ular membelit leher, lengan dan kaki. Dara remaja ini menjerit saking kaget dan ngerinya. Akan tetapi ketika melihat bahwa yang mengeroyok dan menggelutnya adalah empat orang wanita, kemarahannya bangkit. Apalagi ketika ia melihat betapa kini tampak belasan orang wanita lain telah mengurungnya. Ia meronta, mengerahkan tenaga dan menggerakkan kaki tangan.
"Plak-plak-buk-desss !!" Kini empat orang wanita itu yang menjerit dan tubuh mereka terlempar oleh pukulan dan tendangan si dara perkasa. Akan tetapi empat orang dirobohkan, belasan orang menyerbu dan kembali tubuh Pusporini sudah digelut. Pusporini marah sekali dan selagi ia hendak mengamuk, tiba-tiba mukanya disiram bubukan putih yang mengenai mata dan hidungnya. Seketika Pusporini gelagapan, kedua tangannya menutupi mata dan ia terbangkis-bangkis. Kiranya orang telah menyerang mukanya dengan bubukan merica! Bukan main pedih matanya, sampai bercucuran air mata dan betapapun ia menahan, tetap saja ia terbangkis-bangkis sampai terbungkuk-bungkuk. Ia sampai tidak merasa bahwa kedua kaki tangannya sudah ditelikung seperti seekor domba hendak disembelih dan ketika tubuhnya dipanggul oleh para wanita itu, ia masih saja bercucuran air mata dan terbangkis-bangkis, ditertawai oleh mereka yang menawannya.
"Setan! hidungku terus mengucurkan darah, mimisen!"
"Gigiku patah dua, yang depan lagi. Sialan!"
"Perutku masih mulas terus terkena tendangannya!"
"Lihat garesku, matang biru dan aku akan terpincang sampai beberapa hari."
Empat orang wanita yang terkena hantaman dan tendangan Pusporini tadi memaki-maki dan mengancam hendak membunuh Pusporini. Terdengar suara seorang di antara mereka, yang tercantik dan melihat lagaknya tentu ia pimpinan rombongan wanita itu, "Sudahlah, Ni Dewi menghendaki kita menangkapnya hidup-hidup, tidak boleh diganggu, masa kalian berani hendak membunuhnya? Kalau tidak ada pesan Ni Dewi, apa kaukira aku suka malam-malam susah-payah menangkapnya hidup-hidup? Dia ini adik adipati di Selopenangkep, amat dibutuhkan oleh sang wasi. Terdengar suara di sana-sini dalam rombongan wanita yang kini berjalan pergi sambil memanggul tubuh Pusporini, diseling ketawa cekikikan.
"Wah, agaknya dia ini terpilih oleh sang wasi...!” kata suara yang kecil tinggi penuh iri hati.
"Tentu saja! Sang wasi cukup waspada dalam memilih. Bocah ini seorang dara remaja yang cantik jelita. Lihat saja kulitnya begini halus, tertimpa sinar bulan seperti kencana saja. Dan mata yang kini tertutup mempunyai bulu mata begitu panjang melengkung, bukan main. Kau ingat matanya tadi ketika terbelalak? Begitu lebar, indah dan bening. Dia masih dara remaja, bagaikan bunga seperti kuncup baru mekar sedang harum-harumnya, bagaikan buah seperti buah ranum mentah tidak matang tidak sedang lezat-lezatnya. Tidak seperti engkau!"
"Kalau aku mengapa? Jangan lancang mulut kau!"
"Hi-hik! Kalau dia itu bagaikan bunga mulai melayu dan buah mulai membusuk!!" sambung suara lain.
"Mana pantas untuk sang wasi? Paling-paling menjadi mangsa Ki Kalohangkoro, hi-hik!" kata suara lain lagi.
"Apa? Kalian ini benar-benar bermulut busuk, penuh bau kotor! Kucakar muka kalian baru tahu ...!"
"Ssttt ....! Diamlah kalian. Ribut saja! Ni Dewi ingin agar kita cepat membawa Pusporini menghadap untuk melengkapi upacara sesaji di malam Respati. Kalau kalian ribut mulut saja, bagaimana perjalanan dapat dilakukan cepat-cepat?" tegur sang pemimpin dan rombongan wanita itu tidak berani saling maki lagi, hanya mengutarakan kemarahan dengan pandang mata saling melotot.

Siapakah rombongan wanita ini? Mereka itu rata-rata masih muda, bahkan ada beberapa orang di antara mereka, terutama pemimpinnya berwajah cantik dan bertubuh langsing menggairahkan. Gerakan mereka gesit-gesit, tanda bahwa mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi. Mereka ini sesungguhnya masih sekawan dengan tujuh belas orang wanita cantik yang menggoda para penjaga Kadipaten Selopenangkep dan kemudian menculik dua puluh orang penjaga. Mereka adalah anak buah dari pesanggrahan Durgaloka, sebuah pesanggrahan atau perkumpulan yang terdiri dari wanita semua, wanita-wanita muda yang kesemuanya dilatih dalam pelbagai ilmu kesaktian, dipimpin oleh seorang wanita cantik bernama Ni Dewi Nilamanik. Perkumpulan ini adalah wanita-wanita penyembah Sang Hyang Bathari Durga dan pada waktu itu mempunyai markas di puncak Gunung Mentasari. Semenjak Sang Bhagawan Kundilomuko pemimpin para penyembah Sang Bhatari Durga di hutan Gumuk-mas dihancurkan oleh Endang Patibroto, maka perkumpulan-perkumpulan penyembah Dewi Kejahatan itu tidak berani muncul lagi dan kalaupun ada rombongan-rombongan kecil pemuja Sang Bhatari Durga, maka rombongan ini tidaklah begitu menonjol dan tidak mempengaruhi atau meluaskan pengaruhnya kepada penduduk dusun. Akan tetapi secara tiba-tiba di puncak Gunung Mentasari muncul perkumpulan ini yang mempunyai anggota sembilan puluh sembilan orang! Dan secara terang-terangan perkumpulan ini mulai mengembangkan pengaruhnya di sekitar Gunung Mentasari, bahkan mulai memasuki daerah Selopenangkep. Hal ini tidaklah aneh kalau diketahui bahwa perkumpulan ini masih erat hubungannya dengan Kerajaan Cola. Seperti ternyata dalam pertemuan antara Ki Tunggaljiwa dengan dua orang pendeta, Wasi Bagaspati adalah seorang pendeta pemuja Sang Bathara Shiwa yang menjadi kaki tangan Kerajaan Cola. Dan Ni Dewi Nilamanik, pemimpin Agama Durga itu, adalah tangan kanan, bahkan bekas kekasih Wasi Bagaspati! Kalau Wasi Bagaspati kadang-kadang menamakan dirinya Shiwamurti dan mengaku sebagai titisan Sang Hyang Shiwa, adalah Ni Dewi Nilamanik ini mengaku sebagai titisan Sang Bathari Durga! Di samping Ni Dewi Nilamanik, bersama rombongan Wasi Bagaspati terdapat pula seorang pembantu yang amat diandalkan, yaitu Ki Kolohangkoro yang mengepalai para pemuja Sang Bathara Kala! Malah keadaan anak buah Ki Kolohangkoro ini lebih kuat daripada anak buah Ni Dewi Nilamanik, terdiri dari orang- orang tinggi besar yang berilmu tinggi, sebanyak seratus orang lebih! Pada malam Respati, di puncak Gunung Mentasari diadakan upacara pemujaan Sang Hyang Bathari Durga. Di atas sebuah lapangan rumput yang terbuka dan mendapat cahaya bulan yang kehiiauan, berdiri tiga macam arca yang hesar, arca Sang Bathari Durga. Sebelah kiri berdiri arca Sang Bathari Durga sebagai Dewi Maut, dalam bentuk yang amat mengerikan sekali. Bertubuh seorang raksasa wanita, rambutnya gimbal sampai ke tanah, kedua kakinya menginjak tengkorak manusia, payudaranya (buah dadanya) panjang tergantung sampai ke perut, lidahnya lebih panjang lagi, seperti seekor ular, sihungnya panjang meruncing dan kuku jari tangannya panjang-panjang pula. Yang berdiri di sebelah kanan Sang Bathari Durga Bucari, tubuhnya mengeluarkan api menyala-nyala, tubuhnya ramping menggairahkan, dada terbuka, akan tetapi mukanya juga muka raksasa betina, wajahnya membayangkan kebengisan dan kekejaman. Arca ke tiga yang berdiri di tengah, menggambarkan Sang Hyang Bathari Durga dalam bentuk seorang wanita yang cantik jelita, wajahnya yang cantik itu tersenyum memikat penuh nafsu berahi, tubuhnya yang langsing setengah telanjang memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang menggairahkan. Di depan tiga buah arca ini penuh dengan kembang-kembang dan barang-barang sesaji terdiri dari makanan-makanan dan daging-daging mentah, dan asap kemenyan dan dupa mengepul tinggi. Di sebelah kiri lapangan itu belasan orang wanita menabuh gamelan yang iramanya riang gembira menyelimuti suara orang-orang yang bercakap-cakap dan bersendau-gurau. Ni Dewi Nilamanik duduk di atas sebuah kursi yang terukir indah, melayani beberapa orang tamu bercakap-cakap dan bersendau-gurau, tamu-tamu yang baru saja tiba dan dipersilahkan duduk di kursi-kursi kehormatan yang berkelompok tak jauh dari tiga buah arca itu. Ni Dewi Nilamanik adalah seorang wanita yang usinya sudah empat puluh tahun lebih, akan tetapi masih tampak cantik menarik dengan gerak-gerik yang luwes. Dia termasuk di antara wanita-wanita yang biarpun usianya sudah lanjut namun masih belum ditinggalkan daya tarik yang khas. Bahkan tampak kematangan lahir batin yang membuat gerak- geriknya terkendali dan tenang, wajahnya dapat membayangkan hati dingin seperti embun pagi hari di puncak Mahameru, di waktu panas membayangkan kegairahan yang membakar. Pakaiannya indah sekali, dengan warna menyolok. Baju merah tipis sekali membayangkan kulit pundak dan lengan serta punggung yang putih kuning, belum kisut masih padat berisi, juga membayangkan kemben pembungkus pinggang yang ramping dan singset. Kainnya berkembang dengan dasar warna hijau yang membungkus ketat tubuh dari perut sampai ke mata kaki. Sepasang kakinya tampak kecil dan bersih halus, kaki yang terpelihara baik-baik sehingga tumitnya halus kemerahan dan kuku jari kaki mengkilap.

<<< Bagian 052                                                                                    Bagian 054 >>>

No comments:

Post a Comment