"Plakkkk!!"
Kembali orang itu
terpelanting, namun segera bangkit lagi dan menghadapi Pusporini dengan mata
melotot. Bulu tengkuk dara ini meremang. Dua kali pukulannya tadi amat hebat,
dan dengan pukulan-pukulan itu kiranya batu gunungpun akan terpukul pecah. Akan
tetapi kenapa orang ini mengeluhpun tidak? Ia telah mempelajari banyak macam
aji-aji yang ampuh dari Adipati Tejolaksono, akan tetapi pukulannya yang
terampuh adalah Aji Pethit Nogo. Ketika melihat orang itu menyerangnya lagi
hendak menangkap, dengan mudahnya Pusporini mengelak.
Dengan aji keringanan tubuh
Bayu Sakti, tentu saja dengan mudah ia dapat menghindarkan setiap serangan
laki-laki tinggi besar yang baginya terlalu lamban ini, akan tetapi ia masih penasaran
kalau belum dapat memukul roboh orang yang telah menculiknya ini. Berkali-kali
ia memukul dan mengeluarkan semua aji pukulannya, namun orang itu hanya
terhuyung, paling-paling terjungkal untuk bangkit kembali dan menerjangnya
makin hebat!
"Eh-eh, engkau ini
manusia ataukah iblis? Disuruh mampus saja kok tidak mau, keparat!"
Pusporini memaki, akan tetapi sebetulnya di dalam hatinya, ia merasa ngeri dan
serem. Sekali lagi ia mengelak sambil mengirim pukulan keras yang membuat tubuh
laki-laki tinggi besar itu terguling-guling, dan ketika laki-laki itu seperti
tadi bangkit berdiri lagi, Pusporini telah hilang dari tempat itu karena dara
remaja ini dengan penuh kengerian telah melarikan diri. Siapa orangnya tidak
akan merasa ngeri kalau bertanding melawan orang nekat macam itu? Sampai lelah
kedua tangannya memukul dan orang itu berkali-kali jatuh lalu bangun lagi!
Karena Pusporini mempergunakan Aji Bayu Sakti yang membuat larinya seperti
seekor kijang muda, maka laki-laki tinggi besar itu tertinggal jauh, bahkan
laki-laki itu mengejar ke arah yang berlainan! Akan tetapi, biarpun semenjak
kecil digembleng olah keprajuritan dan tata kelahi, Pusporini tidak pernah
keluar dari Kadipaten Selopenangkep. Apalagi setelah Sang Adipati Tejolaksono
menghapuskan kebiasaan berburu, dara remaja ini tidak mengenal daerah di luar
Selopenangkep. Tadi ketika diculik, ia berada dalam keadaan pulas sehingga
tidak tahu dibawa ke mana. Sekarang, barulah ia menjadi bingung karena tidak
tahu ke mana jalan pulang ke Selopenangkep. Tanpa ia sadari, ia bukannya menuju
kembali ke Selopenangkep, melainkan menyusup makin dalam ke hutan yang lebat.
Juga tidak tahu bahwa gerak-geriknya semenjak bertanding melawan orang tinggi
besar tadi telah diperhatikan oleh banyak orang! Tengah malam telah lewat dan
bulan sepotong yang keluarnya hampir tengah malam itu kini sudah naik tinggi,
menyinarkan cahaya yang redup namun cukup terang, menimbulkan suasana yang amat
indah menyeramkan di dalam hutan! Pusporini mulai merasa bingung ketika hutan
yang dilaluinya makin lama makin liar dan gelap. Agak lega hatinya ketika di
tengah-tengah hutan liar itu ia mendapatkan sebuah lapangan yang luasnya ada
seratus meter, berbentuk bundar dan lapangan terbuka ini tidak ditumbuhi pohon
sehingga sinar bulan terang memenuhi lapangan itu. Rumput hijau tebal menutupi
lapangan seperti permadani hijau dibentangkan, amat indah dan bersihnya.
Pusporini mengambil keputusan untuk beristirahat dan melewatkan malam itu di
tempat ini. Besok kalau matahari sudah menerangi bumi, ia akan dapat keluar
dari hutan ini dan pulang, pikirnya. Tempat ini amat enak, juga ia dapat
memandang ke sekelilingnya tanpa terhalang pohon sehingga kalau ada musuh
mendatang, jauh-jauh sudah akan melihatnya. Sambil menghela napas lega dara
remaja ini duduk dan melenggut saking mengantuk dan lelahnya. Kadang-kadang ia
membuka mata dan memandang ke sekelilingnya yang sunyi untuk melihat
kalau-kalau si gundul mengerikan tadi datang mengejarnya. Sebenarnya hal ini
tidak perlu ia lakukan karena kalau ada orang datang berlari menghampirinya,
tentu pendengarannya yang tajam akan dapat menangkap langkah kakinya.
Akan tetapi, bagaimana
pendengarannya akan dapat menangkap kalau benda-benda bergerak itu
menghampirinya tanpa melangkahkan kaki, melainkan merayap seperti segerombolan
ular? Dan bagaimana ia dapat melihat mereka itu kalau mereka menyusup-nyusup di
antara rumput-rumput yang tebal dan tinggi? Tidak, Pusporini sama sekali tidak
tahu, menyangkapun tidak bahwa pada saat itu, ada belasan orang mengurungnya dari
semua penjuru, menghampirinya sambil merayap di antara rumput tanpa
mengeluarkan suara! Mereka itu adalah orang-orang wanita, masih muda-muda.
Ketika mereka ini merayap, dengan pinggang ramping bergerak-gerak, pinggul ke
kanan kiri, pakaian setengah telanjang, mereka merupakan binatang-binatang yang
amat aneh! Pusporini sedang melenggut ketika tiba-tiba tubuhnya ditubruk oleh
empat orang wanita yang menggelut dan memitingnya dengan gerakan seperti
ular-ular membelit leher, lengan dan kaki. Dara remaja ini menjerit saking
kaget dan ngerinya. Akan tetapi ketika melihat bahwa yang mengeroyok dan
menggelutnya adalah empat orang wanita, kemarahannya bangkit. Apalagi ketika ia
melihat betapa kini tampak belasan orang wanita lain telah mengurungnya. Ia
meronta, mengerahkan tenaga dan menggerakkan kaki tangan.
"Plak-plak-buk-desss
!!" Kini empat orang wanita itu yang menjerit dan tubuh mereka terlempar
oleh pukulan dan tendangan si dara perkasa. Akan tetapi empat orang dirobohkan,
belasan orang menyerbu dan kembali tubuh Pusporini sudah digelut. Pusporini
marah sekali dan selagi ia hendak mengamuk, tiba-tiba mukanya disiram bubukan
putih yang mengenai mata dan hidungnya. Seketika Pusporini gelagapan, kedua
tangannya menutupi mata dan ia terbangkis-bangkis. Kiranya orang telah
menyerang mukanya dengan bubukan merica! Bukan main pedih matanya, sampai
bercucuran air mata dan betapapun ia menahan, tetap saja ia terbangkis-bangkis
sampai terbungkuk-bungkuk. Ia sampai tidak merasa bahwa kedua kaki tangannya
sudah ditelikung seperti seekor domba hendak disembelih dan ketika tubuhnya
dipanggul oleh para wanita itu, ia masih saja bercucuran air mata dan
terbangkis-bangkis, ditertawai oleh mereka yang menawannya.
"Setan! hidungku terus
mengucurkan darah, mimisen!"
"Gigiku patah dua, yang
depan lagi. Sialan!"
"Perutku masih mulas
terus terkena tendangannya!"
"Lihat garesku, matang
biru dan aku akan terpincang sampai beberapa hari."
Empat orang wanita yang
terkena hantaman dan tendangan Pusporini tadi memaki-maki dan mengancam hendak
membunuh Pusporini. Terdengar suara seorang di antara mereka, yang tercantik
dan melihat lagaknya tentu ia pimpinan rombongan wanita itu, "Sudahlah, Ni
Dewi menghendaki kita menangkapnya hidup-hidup, tidak boleh diganggu, masa
kalian berani hendak membunuhnya? Kalau tidak ada pesan Ni Dewi, apa kaukira
aku suka malam-malam susah-payah menangkapnya hidup-hidup? Dia ini adik adipati
di Selopenangkep, amat dibutuhkan oleh sang wasi. Terdengar suara di sana-sini
dalam rombongan wanita yang kini berjalan pergi sambil memanggul tubuh
Pusporini, diseling ketawa cekikikan.
"Wah, agaknya dia ini
terpilih oleh sang wasi...!” kata suara yang kecil tinggi penuh iri hati.
"Tentu saja! Sang wasi
cukup waspada dalam memilih. Bocah ini seorang dara remaja yang cantik jelita.
Lihat saja kulitnya begini halus, tertimpa sinar bulan seperti kencana saja.
Dan mata yang kini tertutup mempunyai bulu mata begitu panjang melengkung,
bukan main. Kau ingat matanya tadi ketika terbelalak? Begitu lebar, indah dan
bening. Dia masih dara remaja, bagaikan bunga seperti kuncup baru mekar sedang
harum-harumnya, bagaikan buah seperti buah ranum mentah tidak matang tidak
sedang lezat-lezatnya. Tidak seperti engkau!"
"Kalau aku mengapa?
Jangan lancang mulut kau!"
"Hi-hik! Kalau dia itu
bagaikan bunga mulai melayu dan buah mulai membusuk!!" sambung suara lain.
"Mana pantas untuk sang
wasi? Paling-paling menjadi mangsa Ki Kalohangkoro, hi-hik!" kata suara
lain lagi.
"Apa? Kalian ini
benar-benar bermulut busuk, penuh bau kotor! Kucakar muka kalian baru tahu
...!"
"Ssttt ....! Diamlah
kalian. Ribut saja! Ni Dewi ingin agar kita cepat membawa Pusporini menghadap
untuk melengkapi upacara sesaji di malam Respati. Kalau kalian ribut mulut
saja, bagaimana perjalanan dapat dilakukan cepat-cepat?" tegur sang
pemimpin dan rombongan wanita itu tidak berani saling maki lagi, hanya
mengutarakan kemarahan dengan pandang mata saling melotot.
Siapakah rombongan wanita
ini? Mereka itu rata-rata masih muda, bahkan ada beberapa orang di antara
mereka, terutama pemimpinnya berwajah cantik dan bertubuh langsing
menggairahkan. Gerakan mereka gesit-gesit, tanda bahwa mereka memiliki ilmu
kepandaian tinggi. Mereka ini sesungguhnya masih sekawan dengan tujuh belas
orang wanita cantik yang menggoda para penjaga Kadipaten Selopenangkep dan
kemudian menculik dua puluh orang penjaga. Mereka adalah anak buah dari
pesanggrahan Durgaloka, sebuah pesanggrahan atau perkumpulan yang terdiri dari
wanita semua, wanita-wanita muda yang kesemuanya dilatih dalam pelbagai ilmu
kesaktian, dipimpin oleh seorang wanita cantik bernama Ni Dewi Nilamanik.
Perkumpulan ini adalah wanita-wanita penyembah Sang Hyang Bathari Durga dan
pada waktu itu mempunyai markas di puncak Gunung Mentasari. Semenjak Sang
Bhagawan Kundilomuko pemimpin para penyembah Sang Bhatari Durga di hutan
Gumuk-mas dihancurkan oleh Endang Patibroto, maka perkumpulan-perkumpulan
penyembah Dewi Kejahatan itu tidak berani muncul lagi dan kalaupun ada
rombongan-rombongan kecil pemuja Sang Bhatari Durga, maka rombongan ini
tidaklah begitu menonjol dan tidak mempengaruhi atau meluaskan pengaruhnya
kepada penduduk dusun. Akan tetapi secara tiba-tiba di puncak Gunung Mentasari
muncul perkumpulan ini yang mempunyai anggota sembilan puluh sembilan orang!
Dan secara terang-terangan perkumpulan ini mulai mengembangkan pengaruhnya di
sekitar Gunung Mentasari, bahkan mulai memasuki daerah Selopenangkep. Hal ini
tidaklah aneh kalau diketahui bahwa perkumpulan ini masih erat hubungannya
dengan Kerajaan Cola. Seperti ternyata dalam pertemuan antara Ki Tunggaljiwa
dengan dua orang pendeta, Wasi Bagaspati adalah seorang pendeta pemuja Sang
Bathara Shiwa yang menjadi kaki tangan Kerajaan Cola. Dan Ni Dewi Nilamanik,
pemimpin Agama Durga itu, adalah tangan kanan, bahkan bekas kekasih Wasi
Bagaspati! Kalau Wasi Bagaspati kadang-kadang menamakan dirinya Shiwamurti dan
mengaku sebagai titisan Sang Hyang Shiwa, adalah Ni Dewi Nilamanik ini mengaku
sebagai titisan Sang Bathari Durga! Di samping Ni Dewi Nilamanik, bersama
rombongan Wasi Bagaspati terdapat pula seorang pembantu yang amat diandalkan,
yaitu Ki Kolohangkoro yang mengepalai para pemuja Sang Bathara Kala! Malah
keadaan anak buah Ki Kolohangkoro ini lebih kuat daripada anak buah Ni Dewi
Nilamanik, terdiri dari orang- orang tinggi besar yang berilmu tinggi, sebanyak
seratus orang lebih! Pada malam Respati, di puncak Gunung Mentasari diadakan
upacara pemujaan Sang Hyang Bathari Durga. Di atas sebuah lapangan rumput yang
terbuka dan mendapat cahaya bulan yang kehiiauan, berdiri tiga macam arca yang
hesar, arca Sang Bathari Durga. Sebelah kiri berdiri arca Sang Bathari Durga
sebagai Dewi Maut, dalam bentuk yang amat mengerikan sekali. Bertubuh seorang
raksasa wanita, rambutnya gimbal sampai ke tanah, kedua kakinya menginjak
tengkorak manusia, payudaranya (buah dadanya) panjang tergantung sampai ke
perut, lidahnya lebih panjang lagi, seperti seekor ular, sihungnya panjang
meruncing dan kuku jari tangannya panjang-panjang pula. Yang berdiri di sebelah
kanan Sang Bathari Durga Bucari, tubuhnya mengeluarkan api menyala-nyala,
tubuhnya ramping menggairahkan, dada terbuka, akan tetapi mukanya juga muka
raksasa betina, wajahnya membayangkan kebengisan dan kekejaman. Arca ke tiga
yang berdiri di tengah, menggambarkan Sang Hyang Bathari Durga dalam bentuk
seorang wanita yang cantik jelita, wajahnya yang cantik itu tersenyum memikat
penuh nafsu berahi, tubuhnya yang langsing setengah telanjang memperlihatkan
bagian-bagian tubuh yang menggairahkan. Di depan tiga buah arca ini penuh
dengan kembang-kembang dan barang-barang sesaji terdiri dari makanan-makanan
dan daging-daging mentah, dan asap kemenyan dan dupa mengepul tinggi. Di
sebelah kiri lapangan itu belasan orang wanita menabuh gamelan yang iramanya
riang gembira menyelimuti suara orang-orang yang bercakap-cakap dan
bersendau-gurau. Ni Dewi Nilamanik duduk di atas sebuah kursi yang terukir
indah, melayani beberapa orang tamu bercakap-cakap dan bersendau-gurau,
tamu-tamu yang baru saja tiba dan dipersilahkan duduk di kursi-kursi kehormatan
yang berkelompok tak jauh dari tiga buah arca itu. Ni Dewi Nilamanik adalah
seorang wanita yang usinya sudah empat puluh tahun lebih, akan tetapi masih
tampak cantik menarik dengan gerak-gerik yang luwes. Dia termasuk di antara
wanita-wanita yang biarpun usianya sudah lanjut namun masih belum ditinggalkan
daya tarik yang khas. Bahkan tampak kematangan lahir batin yang membuat gerak-
geriknya terkendali dan tenang, wajahnya dapat membayangkan hati dingin seperti
embun pagi hari di puncak Mahameru, di waktu panas membayangkan kegairahan yang
membakar. Pakaiannya indah sekali, dengan warna menyolok. Baju merah tipis
sekali membayangkan kulit pundak dan lengan serta punggung yang putih kuning,
belum kisut masih padat berisi, juga membayangkan kemben pembungkus pinggang
yang ramping dan singset. Kainnya berkembang dengan dasar warna hijau yang
membungkus ketat tubuh dari perut sampai ke mata kaki. Sepasang kakinya tampak
kecil dan bersih halus, kaki yang terpelihara baik-baik sehingga tumitnya halus
kemerahan dan kuku jari kaki mengkilap.
No comments:
Post a Comment