"Siuuuuttt ... dess! dessss!" Dua kali tangannya menghantam dengan pukulan Bojro Dahono yang ampuhnya menggila itu. Kalau lawan lain terkena hantaman ini tentu tubuhnya akan roboh dan hangus, atau setidaknya tentu akan patah-patah tulang iganya. Akan tetapi dua orang pengeroyok Ayu Candra itu terkena pukulan ini hanya mencelat roboh tergiling-guling tanpa mengeluh, kemudian merangkak dan bangkit kembali! Terbelalak mata Tejolaksono memandang saking herannya. Dua orang ini sama halnya dengan dua orang tinggi besar anak buah Cekel Wisangkoro yang ia patahkan pergelangan tangannya, sama pula dengan Sariwuni, memiliki kekebalan luar biasa sehingga dapat menahan keampuhan pukulan tangannya. Ia menjadi penasaran sekali. Ditiupnya kedua tangannya kemudian ketika dua orang laki-laki gundul itu menerjang maju, ia memapak dengan loncatan dan hantaman kedua tangan ke arah kepala mereka.
Terdengar suara seperti buah
kelapa dipukul pecah dan dua orang itu terbanting roboh tak bergerak lagi kini
karena kepala mereka pecah oleh hantaman kedua tangan sang adipati! Ayu Candra
sudah membantu Roro Luhito menghadapi dua orang laki-laki tinggi besar yang
lain. Karena kini satu lawan satu, dua orang laki-laki tinggi besar itu
terdesak hebat, golok mereka telah dapat dipukul runtuh dan tombak Roro Luhito
sudah berhasil menusuk mata kiri lawannya sampai masuk ke kepala dan orang itu
roboh berkelojotan sebentar lalu diam dan tewas. Ayu Candra yang terus mencecer
bagian mata, hampir berhasil pula, akan tetapi tiba-tlba Tejolaksono berseru,
"Jangan bunuh, aku
hendak menangkapnya!" Ayu Candra mundur dan Tejolaksono menerjang,
menghantam roboh orang itu dengan memukul dadanya. Orang iu terbanting roboh,
merangkak hendak bangun akan tetapi kena dipiting oleh Tejolaksono sehingga tak
mampu berkutik lagi. Pada saat itu, beberapa orang pengawal yang mendengar
ribut-ribut di taman, sudah datang dan atas perintah Tejolaksono mereka segera
menelikung orang tinggi besar itu sampai tak mampu berkutik.
"Pusporini ...dia
dilarikan penjahat .....!”
"Lekas kau kejar,
Kakangmas .....!!”
Mendengar ucapan Roro Luhito
dan Ayu Candra ini, bukan main kagetnya hati Tejolaksono. Tubuhnya berkelebat
cepat mengejar ke arah yang ditunjuk oleh dua wanita itu. Roro Luhito dan Ayu Candra
segera menyusul dan berpencar untuk mencari Pusporini yang diculik. Akan tetapi
mereka bertiga tidak dapat menemukan jejak Pusporini, sebaliknya mendapatkan
keadaan para penjaga yang kacau-balau! Para penjaga di utara dan timur
kehilangan sepuluh orang prajurit sedangkan enam orang luka-luka dalam perang
tanding sendiri akibat kekacauan keadaan yang gelap-gulita dan penuh godaan
iblis. Sedangkan para penjaga di sebelah selatan dan barat lebih celaka lagi
keadaannya. Mereka semua tertidur dalam keadaan tidak karuan, ada yang
bertelanjang bulat, ada yang tertawa-tawa seperti orang mabuk, bersikap seperti
orang kegilaan wanita, dan dua puluh orang di antara mereka lenyap.
Adipati Tejolaksono terpaksa
kembali ke gedung kadipaten dan memanggil semua pembantunya mendengar pelaporan
mereka yang aneh. Malam itu Kadipaten Selopenangkep geger dan mengalami
kerugian besar. Enam orang luka-luka dan tiga puluh orang perajurit lenyap,
Pusporinii terculik dan sebagai gantinya hanya dapat membunuh tiga orang
laki-laki gundul dan menawan seorang.
Roro Luhito pucat mukanya,
dan hanya dengan kekerasan hati saja wanita tua perkasa ini dapat menahan
tangisnya.
"Aduh, Anaknda Adipati,
bagaimana dengan nasib Pusporini....?" Ia mengeluh. Tejolaksono dan Ayu
Candra juga gelisah memikirkan Pusporini. Tejolaksono menghibur,
"Kita harus tenang,
Kanjeng Bibi. Saya rasa Cekel Wisangkoro tidak akan begitu bodoh untuk
mengganggu Pusporini, karena kalau ia melakukan hal itu, kalau terganggu
seujung rambutpun dari Pusporini, ia tahu bahwa Tejolaksono akan mencarinya
sampai dapat dan akan menghancurkan kepalanya!"
Berkata demikian sang
adipati tampak marah sekali, kemudian ia menghela napas panjang untuk menekan
perasaannya.
"Agaknya dia menangkap
Pusporini dengan maksud untuk memaksa kita menyerah, Akan tetapi, saya akan
berusaha merampas Pusporini kembali. Karena itu, kebetulan sekali kita dapat
menawan hidup-hidup seorang di antara empat iblis gundul itu. Heh, pengawal,
seret tawanan itu ke sini!"
Tawanan laki-laki tinggi
besar gundul yang sudah ditelikung seperti ayam itu diseret ke depan
Tejolaksono. Adipati ini terheran-heran melihat betapa tawanan ini sama sekali
tidak mengeluh, juga sama sekali tidak membayangkan perasaan apa-apa pada
wajahnya yang seperti wajah mayat. Ia berusaha mengorek rahasia dari tawanan
ini dengan janji-janji manis dan ancaman-ancaman mengerikan, namun tawanan itu
hanya memandang dengan mata melotot dan bodoh, tidak menjawab, mengangguk tidak
menggelengpun tidak!
"Hemm, engkau jangan
berpura-pura bodoh!" bentak sang adipati.
"Melihat kepandaian,
kekebalan dan sepak terjangmu, engkau bukan orang bodoh! Hayo mengakulah, ke
mana Pusporini adikku dibawa pergi. Kalau engkau mengaku, dan mau membawaku ke
sana, aku tidak akan membunuhmu. Akan tetapi kalau tidak, hemm ....engkau akan
kusuruh hukum picis!" Hukum picis adalah hukuman yang amat mengerikan pada
waktu itu. Tubuh seorang tawanan akan diikat dan di situ disediakan sebatang
pisau tajam, air asam garam. Setiap orang perajurit akan mengerat tubuh si
tawanan dan menyiramkan air asam garam pada luka guratan itu. Dapat dibayangkan
betapa hebat penderitaan yang akan dialami orang yang dihukum picis sebelum ia
mati kehabisan darah. Namun tawanan itu hanya melototkan mata makin lebar saja,
tak menyatakan sesuatu, baik dengan suara maupun gerakan. Ia hanya mengerahkan
tenaga untuk melepaskan diri dari ikatan. Melihat ini, sang adipati menjadi
curiga, lalu menggunakan jari tangan untuk menusuk beberapa bagian jalan darah
di tubuh tawanan itu. Ia tidak menyaksikan gerakan tubuh yang mengerahkan
kekebalan atau hawa sakti, akan tetapi jarinya yang menusuk perlahan itu
meleset! Ia mengangguk-angguk, lalu memegang kepala orang itu dan membuka
pelupuk matanya memeriksa biji mata yang selalu dipelototkan.
"Ahhhhh ....sungguh
kasihan orang ini ....." Ia berkata kemudian sambil memberi isyarat kepada
pengawal untuk membawa pergi si tawanan. Kemudian ia duduk termenung.
"Apakah artinya semua
itu, kakangmas?" tanya Ayu Candra. Juga Roro Luhito tidak mengerti.
"Si keparat Cekel
Wisangkoro atau siapa saja yang melakukan perbuatan-perbuatan keji itu.
Orang-orang itu bergerak bukan atas kehendak sendiri. Mereka seperti
mayat-mayat yang telah dikuasai oleh iblis-iblis itu, tubuh mereka kebal dan
mereka amat kuat dan pandai berkelahi hanya karena berada dalam pengaruh sihir
yang amat kuat! Tentu saja dia tidak dapat menjawab karena dalam keadaan
seperti itu, mereka tidak tahu apa-apa, tidak dapat bicara, hanya dapat
bergerak untuk menghancurkan segala yang merintangi mereka, sesuai dengan perintah
rahasia yang diberikan oleh iblis berupa manusia melalui getaran dalam otak
mereka. Dia itu telah mati, mati dalam hidup. Hanya jasmaninya saja yang hidup
akan tetapi perasaan dan semangatnya telah berada dalam genggaman orang yang
menguasai mereka."
"Si bedebah! Kalau
begitu, anakku ...." Roro Luhito menahan kata-katanya dan mengerutkan
keningnya.
"Aduh, Kakangmas,
bagaimana dengan Pusporini?"
"Harap Kanjeng Bibi dan
engkau Yayi, tenang pada saat seperti ini. Sudah menjadi kenyataan bahwa
Pusporini ditawan musuh. Akan tetapi itu hanya merupakan satu di antara akibat
perang yang kita hadapi. Perang yang aneh melawan orang-orang yang seperti
iblis. Kita belum kalah dan kita harus mempertahankan diri di Selopenangkep.
Pada waktu ini, yang terpenting adalah menjaga agar musuh tidak sampai dapat
menguasai Selopenangkep. Kalau aku membawa pasukan mencari Pusporini, atau
pergi mengejar, berarti keadaan Selopenangkep akan kosong dan lemah. Agaknya
memang siasat ini dipergunakan musuh untuk memancing aku keluar dari kadipaten.
Biarlah kita bersabar, menjaga kadipaten sambil menanti datangnya Kakang
Mundingyudo yang tentu akan membawa bala bantuan dari Panjalu. Kita akan
menghancurkan musuh dan percayalah, Sang Hyang Widhi tentu akan melindungi
Pusporini. Orang yang benar pasti akan mendapat kemenangan terakhir."
Biarpun perasaan hati mereka
hancur dan penuh kegelisahan, namun kedua orang wanita itu harus membenarkan
pendapat sang adipati ini, maka mereka tak dapat berbuat lain kecuali
berprihatin sambil memperkuat penjagaan dan mempertebal kewaspadaan.
Laki-laki tinggi besar
berkepala gundul yang menculik Pusporini, terus lari meninggalkan kota
Kadipaten Selopenangkep. Dia keluar dari kadipaten melalui pintu gerbang
selatan di mana para penjaganya tertidur semua setelah tergoda oleh tujuh belas
orang wanita cantik. Tentu saja dengan mudah ia dapat keluar dari pintu gerbang
itu tanpa terhalang. Larinya cepat sekali, dengan langkah lebar dan selama itu,
laki-laki ini tidak pernah mengeluarkan kata-kata, juga mukanya yang tersinar
bulan tidak menyatakan atau membayangkan sesuatu. Keadaan laki-laki ini tiada
bedanya dengan empat orang gundul yang menyerbu Kadipaten Selopenangkep dan
yang dirobohkan oleh Adipati Tejolaksono. Laki-laki ini hanya bergerak
menurutkan yang memerintahnya dan kini iapun lari menuju ke arah datangnya
getaran yang menguasainya, menuju ke sebuah bukit kecil di sebelah barat.
Pusporini yang tadi tertidur pulas akibat aji penyirepan, kini setelah agak
lama dibawa lari dan mukanya tertiup angin malam yang dingin, mulai sadar.
Mula-mula ia membuka matanya dan dapat dibayangkan betapa .kagetnya ketika ia
mendapatkan dirinya dipondong oleh seorang laki-laki tinggi besar dan dibawa
lari di malam gelap! Karena marah dan kaget, tubuhnya bergerak dan biarpun
laki-laki itu seperti boneka hidup, namun pengaruh yang menguasainya membuatnya
cerdik sekali dalam menghadapi lawan. Ketika merasa betapa gadis dalam
pondongannya bergerak, cepat laki-laki itu menangkap pergelangan tangan
Pusporini, digenggam dalam jari-jari tangan kirinya yang panjang dan kuat
seperti jepitan besi, sedangkan lengan kanannya merangkul kedua kaki dara
remaja itu sehingga Pusporini tak dapat berkutik lagi!
"Lepaskan aku....!
Bedebah ...lepaskan aku ....!!” Ia berteriak-teriak sambil meronta-ronta. Namun
sia-sia belaka. Laki-laki itu sama sekali tidak menjawab, dan ia hanya dapat
menggerakkan pinggangnya meronta-ronta sedangkan kaki tangannya sama sekali
tidak dapat terlepas dari pergelangan laki-laki tinggi besar Itu. Tentu saja,
dalam hal tenaga kasar, Pusporini sama sekali bukan tandingan laki-laki ini.
Akhirnya dara remaja yang cerdik ini sadar bahwa mengandalkan tenaga kasar, ia
takkan mungkin dapat terbebas. Ia tidak meronta lagi, juga tidak mengeluarkan
suara lagi, bahkan mengendurkan tubuhnya bersandar pada pundak laki-laki itu,
meramkan mata mencari akal. Teringat ia akan dongeng yang pernah diceritakan
ibunya tentang Dewi Shinta yang diculik dan dilarikan Sang Prabu Dhasamuka.
Keadaannya sekarang ini persis dengan dongeng yang diceritakan ibunya itu. Ia
dipondong dalam keadaan tidak berdaya dan dibawa lari. Laki-laki ini tinggi
besar dan mengerikan, patut pula menjadi Prabu Dhasamuka. Dan teringat akan hal
ia ingat pula bahwa ibunya menceritakan betapa Dewi Shinta dapat dirampas dari tangan
Dhasamuka oleh burung sakti Jentayu, akan tetapi Dewi Shinta yang merasa ngeri
karena jatuh ke cengkeraman burung raksasa, lalu mempergunakan aji kesaktian
memberatkan tubuh sehingga terlepas dari cengkeraman burung yang tidak kuat
membawanya. Aji memberatkan tubuh itu telah ia tanyakan kepada rakandanya sang
adipati yang juga menjadi gurunya. Dan sang adipati yang sakti mandraguna telah
mengajarkan aji seperti itu!
Teringat akan ini, Pusporini
lalu meramkan mata seperti orang samadhi, mengheningkan cipta menenteramkan
batinnya, kemudian ia berkemak-kemik membaca mantera sambil menekan dan
menyalurkan hawa sakti dari dalam pusarnya. Aji kesaktian ini oleh Tejolaksono
diberi nama Aji Argoselo dan kini tubuh Pusporini terasa berat seperti
sebongkah batu gunung. Orang tinggi besar itu tiba-tiba mengeluarkan
suara"uh-uhh .....!” dan langkahnya terhuyung-huyung. Hampir ia tidak kuat
dan karena ini tangan kirinya melepaskan kedua lengan Pusporini untuk membantu
memeluk kedua kaki dara ini agar tidak terlepas. Kesempatan inilah yang
dinanti-nanti Pusporini. Ia menahan napas, membelalakkan kedua matanya dan
menyalurkan hawa sakti menjadi tenaga dahsyat kepada kedua tangannya yang sudah
ia isi dengan Aji Pethit Nogo. Kini kedua tangannya bergerak, dari kanan kiri
menghimpit kepala orang yang memondongnya itu dalam hantaman yang tiba-tiba,
cepat dan kuat. Orang itu terhuyung, ikat kepalanya terlepas dan tampaklah
kepalanya yang gundul, kedua tangannya yang memeluk kaki Pusporini dilepaskan
untuk memegang kepalanya yang serasa akan pecah. Kesempatan ini dipergunakan
Pusporini untuk meloncat turun dari atas pondongan lawan, memandang terbelalak
heran melihat kepala orang itu tidak pecah oleh pukulan Pethit Nogo yang
dilakukannya amat kuat tadi. Tidak, sama sekali orang laki-laki tinggi besar
berkepala gundul itu tidak mati, bahkan robohpun tidak. Setelah
terhuyung-huyung, laki-laki itu dapat pulih kembali dan kini menerjang dengan
kedua lengan terpentang, hendak menubruk dan menangkap kembali tawanannya yang
terlepasl Namun tubrukannya hanya mengenai angin belaka karena tahu-tahu tubuh
dara remaja itu sudah melejit lenyap dan berpindah tempat di sebelah kanannya,
langsung mengirim tamparan lagi dengan Aji Pethit Nogo yang mengenai lehernya.
No comments:
Post a Comment