Keadaan makin menjadi gelap sehingga akhirnya mereka tak dapat melihat tangan sendiri! Dan di dalam kepanikan yang makin meningkat ini, mereka baru tahu bahwa hal yang tidak wajar telah terjadi. Apalagi ketika di dalam kegelapan yang hebat itu mereka mendengar suara-suara aneh, bukan suara manusia, gerengan-gerengan dan ketawa-ketawa seakan-akan semua jin dan setan keluar dari neraka dan berkumpul di tempat itu. Dan mulailah mereka melihat muka-muka yang mengerikan, muka yang besar seperti kepala raksasa, akan tetapi tanpa tubuh. Paniklah para prajurit. Ada pula yang pemberani lalu menerjang ke arah bayangan-bayangan itu hanya uptuk menghantam kawan-kawan sendiri karena di dalam kegelapan itu mereka tidak dapat membedakan mana kawan mana lawan! Setelah terjadi pukul-memukul dan serang-menyerang antara kawan sendiri yang dalam kepanikan disangka musuh sampai beberapa jam lamanya, akhirnya "awan" hitam itu lenyap dan keadaan menjadi terang kembali. Dapat dibayangkan betapa heran, kaget dan gelisah hati para kepala pasukan ketika menyaksikan akibat peristiwa itu. Enam orang prajurit luka-luka oleh pukulan kawan sendiri, dan sepuluh orang prajurit lenyap tak meninggalkan jejak, entah melarikan diri entah bagaimana! Para penjaga di sebelah selatan dan barat juga mengalami hal yang amat luar biasa. Juga jumlah mereka In! adalah dua pasukan terdiri dari tiga puluh orang perajurit tiap pasukan. Pengalaman mereka tidaklah mengerikan seperti apa yang dialami para penjaga di timur dan utara, akan tetapi akibatnya malah lebih mencelakakan lagi. Selagi mereka menjaga malam itu dekat tengah malam, juga dalam sinar bulan yang cemerlang dan indah romantis, dari dalam kesunyilan muncul tujuh belas orang wanita cantik jelita yang hanya mengenakan pakaian tipis dan rambut mereka terurai. Wanita-wanita ini dengan sikap amat menarik hati menggoda mereka dengan bujuk rayu dan pikatan. Kepala kedua pasukan yang tetap waspada membentak pasukan masing-masing dan memerintahkan pasukannya menangkapi tujuh belas orang wanita cantik yang mencurigakan itu. Akan tetapi, mendadak tercium ganda yang harum semerbak dan semua perajurit seperti mabuk karenanya, bahkan dua orang kepala pasukan itu tidaklah sebengis tadi dan hanya tertawa-tawa ketika melihat betapa anak-anak buah mereka bersendau-gurau dan bermesraan dengan tujuh belah orang wanita itu. Barulah keadaan menjadi kacau-balau ketika menjelang fajar, mereka mendapatkan diri mereka tertidur dan ketika dicacahkan, ternyata dua puluh orang prajurit telah lenyap bersama tujuh belas orang wanita cantik tadi! Tidak hanya di tempat-tempat penjagaan terjadi hal aneh. Bahkan hal-hal aneh menimpa dan terjadi di dalam kadipaten sendiri! Malam itu setelah melakukan perondaan sendiri sekeliling kadipaten, Adipati Tejolaksono kembali ke gedungnya. Suasana sekeliling kadipaten seperti malam-malam biasa, sunyi senyap, tidak ada pergerakan musuh. Akan tetapi hal ini amat mencurigakan hatinya dan sang adipati yang melihat betapa bibinya Roro Luhito, Pusporini, dan Ayu Candra sendiri masing-masing melakukan penjagaan di dalam gedung, lalu memasuki sanggar pamujan untuk bersamadhi, mempertinggi kewaspadaan dan memohon perlindungan dari para dewata.
Belum lama sang adipati
bermuja samadhi, tiba-tiba ia merasa betapa kedua matanya diserang kantuk yang
amat hebat hampir tak tertahankan lagi. Karena tadinya ia menyangka bahwa
kantuk ini datang karena lelah dan tegang, maka hampir saja Tejolaksono tunduk
dan menyerah, akan tidur barang sebentar. Akan tetapi ketika cuping hidungnya
bergerak mengendus ganda kembang menyan, seketika kewaspadaannya timbul
kembali. Aji penyirepan! Tak salah lagi, ini tentulah akibat penyirepan yang
amat kuat! Sang adipati yang Sakti mandraguna ini lalu cepat mengerahkan
seluruh tenaga batinnya sehingga hawa sakti menggetar keluar dari tubuhnya
membentuk gelombang getaran di angkasa dan menolak getaran aji penyirepan itu.
Dari perasaan tertekan dan tertindih di dadanya, sang adipati maklum bahwa yang
melepas aji penyirepan adalah seorang yang memiliki hawa sakti yang amat kuat.
Terjadilah "perang
tanding" yang aneh dan tidak tamoak oleh mata manusia, pertandingan antara
dua getaran hawa sakti, tolak-menolak, dorong-mendorong dan tindih-menindih.
Kalau ada orang secara kebetulan melihat ke atas atap gedung kadipaten, tentu
mereka akan merasa terheran- heran melihat adanya segumpal asap putih yang
seperti bermain-main di angkasa, kadang-kadang terdorong ke depan kadang-kadang
mundur pula ke belakang dan akhirnya setelah lama maju mundur, asap putih yang
berbau harum kembang menyan ini hancur dan buyar lalu lenyap! Hal ini
menandakan bahwa aji penyirepan yang tadinya menguasai sekeliling gedung
kadipaten telah dikalahkan oleh getaran hawa sakti yang membubung keluar dari
sanggar pamujan.
Pusporini dara remaja yang
cantik manis dan perkasa itu tadinya juga menjaga gedung kadipaten bersama
ibunya dan ayundanya. Dara ini telah siap siaga, pakaiannya serba ringkas,
bajunya berwarna biru muda berlengan pendek sampai di siku. Baju lengan pendek
ini amat baik dipakai dalam menghadapi pertandingan sehingga kedua lengannya
akan dapat bergerak leluasa. Kainnya dikenakan secara longgar dan agak tinggi,
dengan ujung dikumpulkan lalu dikaitkan ke belakang sehingga kainnya di bawah
naik sampai ke lutut dan tampaklah celana hitam sampai ke bawah lutut. Betisnya
yang masih kecil akan tetapi sudah berbentuk padi bunting dan kulit halus itu
tampak. Pakaian kain seperti ini membuat ia akan leluasa bergerak kalau
bertempur, tidak menghalangi gerak langkah atau tendangannya. Di pinggangnya
tampak sebatang keris luk tiga menyelempit di balik sabuk sutera. Rambutnya
yang hitam gemuk halus dan panjang sampai ke pinggul itu kini ditekuk dan
diikat menjadi satu dengan kuat sehingga ujungnya yang berjuntai hanya sampai
ke pundak, tidak disanggul seperti biasa karena kalau dipakai bertempur
dikhawatirkan sanggul terlepas dan rambut terurai membuat gerakan tidak leluasa
lagi. Tangan kanannya memegang sebatang golok, karena ia telah mempelajari
permainan golok indah dari sang adipati, yaitu permainan Golok Lebah Putih.
Golok yang kecil bentuknya, lebih kecil daripada golok biasa, gagangnya kayu
terukir dan memakai ronce-ronce sutera merah.
Seperti umumnya watak orang
muda Pusporini juga haus akan petualangan hebat. Suasana kadipaten yang
mencekam perasaan dan amat menegangkan itu merupakan pengalaman menggembirakan
bagi dara remaja ini. Kini tibalah saatnya ia akan dapat membuktikan segala aji
yang selama ini ia pelajari, pikirnya. Dan seorang muda seperti dia sama sekali
tidak mengenal takut, belum begitu yakin akan tingginya langit dalamnya lautan!
Ia menanti-nanti datangnya musuh untuk dibabat dengan goloknya seperti membabat
rumput, dipukul remuk dengan ajinya Pethit Nogo di tangan kini seperti
menghancurkan buah-buah mentimun. Akan tetapi setelah menanti sampai jauh malam
tidak juga muncul seorangpun musuh, hatinya menjadi kesal dan bosan. Maka
ditinggalkannya ibu dan ayundanya untuk "mencari angin sejuk" di
belakang kadipaten, di dalam taman bunga. Angin dingin sejuk memang ia
dapatkan, dan hampir saja ia celaka oleh angin dingin sejuk ini. Tadinya ia
bermaksud menjaga di taman dan mengharapkan munculnya musuh di dalam taman.
Akan tetapi begitu ia melangkahkan kaki memasuki taman sari, angin sejuk
menyambutnya dan saking kesal hatinya, dara remaja ini duduk di atas bangku
dalam taman. Angin sejuk semilir menggerayangi muka dan lehernya, menimbulkan
rasa nyaman. Ganda harum semerbak yang datang terbawa angin tidak membangkitkan
kewaspadaannya, tidak menimbulkan kecurigaannya karena ia menganggap itu adalah
ganda bunga-bunga yang tumbuh di taman. Malah cuping hidungnya yang tipis
berkembang-kempis menyedot ganda harum sedap itu. Maka dengan mudah saja
getaran hawa sakti aji penyirepan menguasainya, membuat dara ini tiga empat
kali menguap saking mengantuknya, tiap kali menutup mulut dengan punggung
tangan kirinya. Tak lama kemudian Pusporini pun tertidurlah dengan pulas sambil
duduk di atas bangku.
Tak lama kemudian muncullah
sesosok bayangan seorang laki-laki tinggi besar yang meloncat keluar dari balik
pohon di taman itu. Dengan, beberapa loncatan saja orang ini telah mendekati
Pusporini yang masih tidur dengan napas panjang teratur. Ketika melihat dara
remaja itu tidak bergerak dan tidur, laki-laki itu menyergap ke depan dan di
lain saat tubuh dara remaja itu telah disambar dan dipondongnya. Golok yang
dipegang Pusporini terlepas dan jatuh! Pusporini masih pulas dan hanya
mengeluarkan suara rintihan perlahan seperti orang ngelindur ketika tubuhnya
dipondong dan dibawa lari.
Sementara itu, Roro Luhito
dan Ayu Candra yang masih duduk menjaga di ruangan dalam, bercakap-cakap. Dua
orang wanita ini maklum akan bahaya yang mengancam kadipaten, namun mereka itu
biar tegang di hati, sikap mereka masih tenang saja dan memang ketegangan hati
mereka bukanlah tanda hati khawatir. Mereka tidak khawatir, juga tidak takut
karena mereka percaya penuh akan kesaktian Adipati Tejolaksono, juga percaya
akan kemampuan diri sendiri untuk menghadapi musuh. Kedua orang wanita ini,
seperti juga Pusporini, berpakaian ringkas dan di sabuk mereka terselip senjata
pusaka mereka. Sebatang tombak berada di samping mereka selalu. Dua orang
wanita ini sudah dua kali menguap dan Ayu Candra tidak dapat menahan kantuknya
lagi, mulai melenggut. Tiba-tiba Roro Luhito memegang pundaknya, mengguncangnya
dan berbisik,
"Ayu...Bangun.... Awas,
musuh menggunakan aji penyirep!" Biarpun terpengaruh aji penyirepan,
karena memang Ayu Candra bukan wanita sembarangan dan sudah memiliki kekuatan
batin yang tangguh, guncangan ini cukup menyadarkan dan bersama Roro Luhito ia
cepat duduk bersila dan mengerahkan segala kekuatan batin untuk melawan
pengaruh aji penyirepan ini. Bau kembang menyan mengambar-nyambar semerbak
memenuhi ruangan. itu membuat kepala mereka terasa pening. Akhirnya mereka
dapat menguasai diri mereka dan Roro Luhito berbisik,
"Cepat ....kita cari
Pusporini...!”
Mereka meloncat bangun dan
menggu nakan Aji Widodo Mantera untuk memperkuat batin. Setelah menyambar
tombak masing-masing, mereka lalu meloncat dan lari ke arah belakang. Angin
sejuk menyambut mereka ketika mereka keluar' dari pintu butulan di belakang,
memasuki taman sari.
"Ah, Bibi .... lihat
....!!" Ayu Candra berseru kaget dan menudingkan telunjuknya ke arah kiri.
Sesosok bayangan laki-laki tinggi besar lari memondong tubuh Pusporini!
"Keparat....!
Kejar....!!" teriak Roro Luhito sambil meloncat ke depan, diikuti Ayu
Candra.
Akan tetapi mendadak muncul
empat orang laki-laki tinggi besar. Seperti juga laki-laki yang menculik
Pusporini tadi, empat orang laki-laki inipun selain tinggi besar, juga
kepalanya gundul, ditutup ikat kepala berwarna biru tua dan muka mereka seperti
muka arca atau muka mayat. Mereka muncul begitu saja, tidak mengeluarkan suara
dan secara tiba-tiba langsung menubruk dan menyerang Roro Luhito dan Ayu
Candra. Jari-jari tangan mereka yang sebesar pisang itu terbuka dan lengan
tangan mereka yang penuh bulu amat besar dan kuat menyeramkan. Roro Luhito dan
Ayu Candra terkejut, cepat mengelak sambil memutar tombak, menghadapi
masing-masing dua orang lawan yang bertubuh kuat dan bersenjata golok besar.
Terjadilah pertempuran hebat di dalam taman, dan terdengar suara senjata
berdencingan ketika bertemu berkali-kali. Dua orang wanita perkasa itu mendapat
kenyataan bahwa empat orang lawan mereka memiliki tenaga yang amat kuat
sehingga tiap kali beradu senjata, mereka merasa telapak tangan mereka panas
dan sakit. Roro Luhito marah sekali, mengeluarkan pekik seperti seekor kera dan
gerakannya menjadi cepat laksana halilintar menyambar-nyambar. Dalam amarahnya
karena teringat akan puterinya yang terculik, wanita ini telah mengeluarkan
ajinya Sosro Satwo yang dahulu ia pelajari dari gurunya, yaitu Resi Telomoyo.
Seketika tombaknya berubah menjadi banyak ujungnya dan dalam gebrakan
selanjutnya kedua lawan yang menjadi berkunang-kunang pandang matanya itu dapat
ia tusuk dengan ujung tombak, tepat mengenai paha dan perut. Akan tetapi betapa
terkejutnya ketika kedua tusukannya itu membalik dan ternyata ujung tombaknya
hanya merobek pakaian dan kulit sedikit saja, tidak mampu menembus daging.
Kiranya dua orang lawannya ini selain amat kuat juga memiliki tubuh yang kebal!
Ia makin marah dan kini menujukan ujung-ujung tombaknya kepada bagian-bagian
yang lemah, terutama ke arah mata kedua orang lawan. Ayu Candra mengalami hal
yang sama. Ia menggunakan Aji Bayu Sakti yang ia dapat dari suaminya sehingga
kini ia dapat mengatasi kedua lawannya karena gerakannya jauh lebih cepat.
Beberapa kali tombaknya dapat menusuk leher dan lambung, namun kesemuanya
meleset seakan-akan menusuk karet yang licin sekali. Seperti juga bibinya, kini
ia bergerak lebih, cepat dan mengarahkan ujung tombak ke bagian-bagian
berbahaya dari kedua orang lawan yang terus mengamuk membabi buta tanpa
mengeluarkan sepatahpun kata.
Adipati Tejolaksono setelah
berhasil membuyarkan getaran aji penyirepan, lalu bangun dari samadhinya,
keluar dari sanggar pamujan dan bergerak cepat keluar. Sanggar pamujan ini
letaknya di bagian samping gedung, dan kini setelah keluar ia mendengar suara
senjata beradu di sebelah belakang, di taman sari. Cepat ia berkelebat memasuki
taman sari dan terkejut hatinya melihat isterinya dan bibinya dikeroyok empat
orang laki-laki tinggi besar yang agaknya kebal karena dari jauh ia melihat
betapa tombak isterinya dan bibinya itu berkali-kali meleset jika mengenai
tubuh lawan. Ia menjadi marah sekali, bagaikan seekor garuda melayang tubuhnya
mencelat dan menyambar ke depan.
No comments:
Post a Comment