Perawan Lembah Wilis; Bagian 051


Keadaan makin menjadi gelap sehingga akhirnya mereka tak dapat melihat tangan sendiri! Dan di dalam kepanikan yang makin meningkat ini, mereka baru tahu bahwa hal yang tidak wajar telah terjadi. Apalagi ketika di dalam kegelapan yang hebat itu mereka mendengar suara-suara aneh, bukan suara manusia, gerengan-gerengan dan ketawa-ketawa seakan-akan semua jin dan setan keluar dari neraka dan berkumpul di tempat itu. Dan mulailah mereka melihat muka-muka yang mengerikan, muka yang besar seperti kepala raksasa, akan tetapi tanpa tubuh. Paniklah para prajurit. Ada pula yang pemberani lalu menerjang ke arah bayangan-bayangan itu hanya uptuk menghantam kawan-kawan sendiri karena di dalam kegelapan itu mereka tidak dapat membedakan mana kawan mana lawan! Setelah terjadi pukul-memukul dan serang-menyerang antara kawan sendiri yang dalam kepanikan disangka musuh sampai beberapa jam lamanya, akhirnya "awan" hitam itu lenyap dan keadaan menjadi terang kembali. Dapat dibayangkan betapa heran, kaget dan gelisah hati para kepala pasukan ketika menyaksikan akibat peristiwa itu. Enam orang prajurit luka-luka oleh pukulan kawan sendiri, dan sepuluh orang prajurit lenyap tak meninggalkan jejak, entah melarikan diri entah bagaimana! Para penjaga di sebelah selatan dan barat juga mengalami hal yang amat luar biasa. Juga jumlah mereka In! adalah dua pasukan terdiri dari tiga puluh orang perajurit tiap pasukan. Pengalaman mereka tidaklah mengerikan seperti apa yang dialami para penjaga di timur dan utara, akan tetapi akibatnya malah lebih mencelakakan lagi. Selagi mereka menjaga malam itu dekat tengah malam, juga dalam sinar bulan yang cemerlang dan indah  romantis, dari dalam kesunyilan muncul tujuh belas orang wanita cantik jelita yang hanya mengenakan pakaian tipis dan rambut mereka terurai. Wanita-wanita ini dengan sikap amat menarik hati menggoda mereka dengan bujuk rayu dan pikatan. Kepala kedua pasukan yang tetap waspada membentak pasukan masing-masing dan memerintahkan pasukannya menangkapi tujuh belas orang wanita cantik yang mencurigakan itu. Akan tetapi, mendadak tercium ganda yang harum semerbak dan semua perajurit seperti mabuk karenanya, bahkan dua orang kepala pasukan itu tidaklah sebengis tadi dan hanya tertawa-tawa ketika melihat betapa anak-anak buah mereka bersendau-gurau dan bermesraan dengan tujuh belah orang wanita itu. Barulah keadaan menjadi kacau-balau ketika menjelang fajar, mereka mendapatkan diri mereka tertidur dan ketika dicacahkan, ternyata dua puluh orang prajurit telah lenyap bersama tujuh belas orang wanita cantik tadi! Tidak hanya di tempat-tempat penjagaan terjadi hal aneh. Bahkan hal-hal aneh menimpa dan terjadi di dalam kadipaten sendiri! Malam itu setelah melakukan perondaan sendiri sekeliling kadipaten, Adipati Tejolaksono kembali ke gedungnya. Suasana sekeliling kadipaten seperti malam-malam biasa, sunyi senyap, tidak ada pergerakan musuh. Akan tetapi hal ini amat mencurigakan hatinya dan sang adipati yang melihat betapa bibinya Roro Luhito, Pusporini, dan Ayu Candra sendiri masing-masing melakukan penjagaan di dalam gedung, lalu memasuki sanggar pamujan untuk bersamadhi, mempertinggi kewaspadaan dan memohon perlindungan dari para dewata.
Belum lama sang adipati bermuja samadhi, tiba-tiba ia merasa betapa kedua matanya diserang kantuk yang amat hebat hampir tak tertahankan lagi. Karena tadinya ia menyangka bahwa kantuk ini datang karena lelah dan tegang, maka hampir saja Tejolaksono tunduk dan menyerah, akan tidur barang sebentar. Akan tetapi ketika cuping hidungnya bergerak mengendus ganda kembang menyan, seketika kewaspadaannya timbul kembali. Aji penyirepan! Tak salah lagi, ini tentulah akibat penyirepan yang amat kuat! Sang adipati yang Sakti mandraguna ini lalu cepat mengerahkan seluruh tenaga batinnya sehingga hawa sakti menggetar keluar dari tubuhnya membentuk gelombang getaran di angkasa dan menolak getaran aji penyirepan itu. Dari perasaan tertekan dan tertindih di dadanya, sang adipati maklum bahwa yang melepas aji penyirepan adalah seorang yang memiliki hawa sakti yang amat kuat.

Terjadilah "perang tanding" yang aneh dan tidak tamoak oleh mata manusia, pertandingan antara dua getaran hawa sakti, tolak-menolak, dorong-mendorong dan tindih-menindih. Kalau ada orang secara kebetulan melihat ke atas atap gedung kadipaten, tentu mereka akan merasa terheran- heran melihat adanya segumpal asap putih yang seperti bermain-main di angkasa, kadang-kadang terdorong ke depan kadang-kadang mundur pula ke belakang dan akhirnya setelah lama maju mundur, asap putih yang berbau harum kembang menyan ini hancur dan buyar lalu lenyap! Hal ini menandakan bahwa aji penyirepan yang tadinya menguasai sekeliling gedung kadipaten telah dikalahkan oleh getaran hawa sakti yang membubung keluar dari sanggar pamujan.
Pusporini dara remaja yang cantik manis dan perkasa itu tadinya juga menjaga gedung kadipaten bersama ibunya dan ayundanya. Dara ini telah siap siaga, pakaiannya serba ringkas, bajunya berwarna biru muda berlengan pendek sampai di siku. Baju lengan pendek ini amat baik dipakai dalam menghadapi pertandingan sehingga kedua lengannya akan dapat bergerak leluasa. Kainnya dikenakan secara longgar dan agak tinggi, dengan ujung dikumpulkan lalu dikaitkan ke belakang sehingga kainnya di bawah naik sampai ke lutut dan tampaklah celana hitam sampai ke bawah lutut. Betisnya yang masih kecil akan tetapi sudah berbentuk padi bunting dan kulit halus itu tampak. Pakaian kain seperti ini membuat ia akan leluasa bergerak kalau bertempur, tidak menghalangi gerak langkah atau tendangannya. Di pinggangnya tampak sebatang keris luk tiga menyelempit di balik sabuk sutera. Rambutnya yang hitam gemuk halus dan panjang sampai ke pinggul itu kini ditekuk dan diikat menjadi satu dengan kuat sehingga ujungnya yang berjuntai hanya sampai ke pundak, tidak disanggul seperti biasa karena kalau dipakai bertempur dikhawatirkan sanggul terlepas dan rambut terurai membuat gerakan tidak leluasa lagi. Tangan kanannya memegang sebatang golok, karena ia telah mempelajari permainan golok indah dari sang adipati, yaitu permainan Golok Lebah Putih. Golok yang kecil bentuknya, lebih kecil daripada golok biasa, gagangnya kayu terukir dan memakai ronce-ronce sutera merah.
Seperti umumnya watak orang muda Pusporini juga haus akan petualangan hebat. Suasana kadipaten yang mencekam perasaan dan amat menegangkan itu merupakan pengalaman menggembirakan bagi dara remaja ini. Kini tibalah saatnya ia akan dapat membuktikan segala aji yang selama ini ia pelajari, pikirnya. Dan seorang muda seperti dia sama sekali tidak mengenal takut, belum begitu yakin akan tingginya langit dalamnya lautan! Ia menanti-nanti datangnya musuh untuk dibabat dengan goloknya seperti membabat rumput, dipukul remuk dengan ajinya Pethit Nogo di tangan kini seperti menghancurkan buah-buah mentimun. Akan tetapi setelah menanti sampai jauh malam tidak juga muncul seorangpun musuh, hatinya menjadi kesal dan bosan. Maka ditinggalkannya ibu dan ayundanya untuk "mencari angin sejuk" di belakang kadipaten, di dalam taman bunga. Angin dingin sejuk memang ia dapatkan, dan hampir saja ia celaka oleh angin dingin sejuk ini. Tadinya ia bermaksud menjaga di taman dan mengharapkan munculnya musuh di dalam taman. Akan tetapi begitu ia melangkahkan kaki memasuki taman sari, angin sejuk menyambutnya dan saking kesal hatinya, dara remaja ini duduk di atas bangku dalam taman. Angin sejuk semilir menggerayangi muka dan lehernya, menimbulkan rasa nyaman. Ganda harum semerbak yang datang terbawa angin tidak membangkitkan kewaspadaannya, tidak menimbulkan kecurigaannya karena ia menganggap itu adalah ganda bunga-bunga yang tumbuh di taman. Malah cuping hidungnya yang tipis berkembang-kempis menyedot ganda harum sedap itu. Maka dengan mudah saja getaran hawa sakti aji penyirepan menguasainya, membuat dara ini tiga empat kali menguap saking mengantuknya, tiap kali menutup mulut dengan punggung tangan kirinya. Tak lama kemudian Pusporini pun tertidurlah dengan pulas sambil duduk di atas bangku.

Tak lama kemudian muncullah sesosok bayangan seorang laki-laki tinggi besar yang meloncat keluar dari balik pohon di taman itu. Dengan, beberapa loncatan saja orang ini telah mendekati Pusporini yang masih tidur dengan napas panjang teratur. Ketika melihat dara remaja itu tidak bergerak dan tidur, laki-laki itu menyergap ke depan dan di lain saat tubuh dara remaja itu telah disambar dan dipondongnya. Golok yang dipegang Pusporini terlepas dan jatuh! Pusporini masih pulas dan hanya mengeluarkan suara rintihan perlahan seperti orang ngelindur ketika tubuhnya dipondong dan dibawa lari.
Sementara itu, Roro Luhito dan Ayu Candra yang masih duduk menjaga di ruangan dalam, bercakap-cakap. Dua orang wanita ini maklum akan bahaya yang mengancam kadipaten, namun mereka itu biar tegang di hati, sikap mereka masih tenang saja dan memang ketegangan hati mereka bukanlah tanda hati khawatir. Mereka tidak khawatir, juga tidak takut karena mereka percaya penuh akan kesaktian Adipati Tejolaksono, juga percaya akan kemampuan diri sendiri untuk menghadapi musuh. Kedua orang wanita ini, seperti juga Pusporini, berpakaian ringkas dan di sabuk mereka terselip senjata pusaka mereka. Sebatang tombak berada di samping mereka selalu. Dua orang wanita ini sudah dua kali menguap dan Ayu Candra tidak dapat menahan kantuknya lagi, mulai melenggut. Tiba-tiba Roro Luhito memegang pundaknya, mengguncangnya dan berbisik,
"Ayu...Bangun.... Awas, musuh menggunakan aji penyirep!" Biarpun terpengaruh aji penyirepan, karena memang Ayu Candra bukan wanita sembarangan dan sudah memiliki kekuatan batin yang tangguh, guncangan ini cukup menyadarkan dan bersama Roro Luhito ia cepat duduk bersila dan mengerahkan segala kekuatan batin untuk melawan pengaruh aji penyirepan ini. Bau kembang menyan mengambar-nyambar semerbak memenuhi ruangan. itu membuat kepala mereka terasa pening. Akhirnya mereka dapat menguasai diri mereka dan Roro Luhito berbisik,
"Cepat ....kita cari Pusporini...!”
Mereka meloncat bangun dan menggu nakan Aji Widodo Mantera untuk memperkuat batin. Setelah menyambar tombak masing-masing, mereka lalu meloncat dan lari ke arah belakang. Angin sejuk menyambut mereka ketika mereka keluar' dari pintu butulan di belakang, memasuki taman sari.
"Ah, Bibi .... lihat ....!!" Ayu Candra berseru kaget dan menudingkan telunjuknya ke arah kiri. Sesosok bayangan laki-laki tinggi besar lari memondong tubuh Pusporini!
"Keparat....! Kejar....!!" teriak Roro Luhito sambil meloncat ke depan, diikuti Ayu Candra.
Akan tetapi mendadak muncul empat orang laki-laki tinggi besar. Seperti juga laki-laki yang menculik Pusporini tadi, empat orang laki-laki inipun selain tinggi besar, juga kepalanya gundul, ditutup ikat kepala berwarna biru tua dan muka mereka seperti muka arca atau muka mayat. Mereka muncul begitu saja, tidak mengeluarkan suara dan secara tiba-tiba langsung menubruk dan menyerang Roro Luhito dan Ayu Candra. Jari-jari tangan mereka yang sebesar pisang itu terbuka dan lengan tangan mereka yang penuh bulu amat besar dan kuat menyeramkan. Roro Luhito dan Ayu Candra terkejut, cepat mengelak sambil memutar tombak, menghadapi masing-masing dua orang lawan yang bertubuh kuat dan bersenjata golok besar. Terjadilah pertempuran hebat di dalam taman, dan terdengar suara senjata berdencingan ketika bertemu berkali-kali. Dua orang wanita perkasa itu mendapat kenyataan bahwa empat orang lawan mereka memiliki tenaga yang amat kuat sehingga tiap kali beradu senjata, mereka merasa telapak tangan mereka panas dan sakit. Roro Luhito marah sekali, mengeluarkan pekik seperti seekor kera dan gerakannya menjadi cepat laksana halilintar menyambar-nyambar. Dalam amarahnya karena teringat akan puterinya yang terculik, wanita ini telah mengeluarkan ajinya Sosro Satwo yang dahulu ia pelajari dari gurunya, yaitu Resi Telomoyo. Seketika tombaknya berubah menjadi banyak ujungnya dan dalam gebrakan selanjutnya kedua lawan yang menjadi berkunang-kunang pandang matanya itu dapat ia tusuk dengan ujung tombak, tepat mengenai paha dan perut. Akan tetapi betapa terkejutnya ketika kedua tusukannya itu membalik dan ternyata ujung tombaknya hanya merobek pakaian dan kulit sedikit saja, tidak mampu menembus daging. Kiranya dua orang lawannya ini selain amat kuat juga memiliki tubuh yang kebal! Ia makin marah dan kini menujukan ujung-ujung tombaknya kepada bagian-bagian yang lemah, terutama ke arah mata kedua orang lawan. Ayu Candra mengalami hal yang sama. Ia menggunakan Aji Bayu Sakti yang ia dapat dari suaminya sehingga kini ia dapat mengatasi kedua lawannya karena gerakannya jauh lebih cepat. Beberapa kali tombaknya dapat menusuk leher dan lambung, namun kesemuanya meleset seakan-akan menusuk karet yang licin sekali. Seperti juga bibinya, kini ia bergerak lebih, cepat dan mengarahkan ujung tombak ke bagian-bagian berbahaya dari kedua orang lawan yang terus mengamuk membabi buta tanpa mengeluarkan sepatahpun kata.

Adipati Tejolaksono setelah berhasil membuyarkan getaran aji penyirepan, lalu bangun dari samadhinya, keluar dari sanggar pamujan dan bergerak cepat keluar. Sanggar pamujan ini letaknya di bagian samping gedung, dan kini setelah keluar ia mendengar suara senjata beradu di sebelah belakang, di taman sari. Cepat ia berkelebat memasuki taman sari dan terkejut hatinya melihat isterinya dan bibinya dikeroyok empat orang laki-laki tinggi besar yang agaknya kebal karena dari jauh ia melihat betapa tombak isterinya dan bibinya itu berkali-kali meleset jika mengenai tubuh lawan. Ia menjadi marah sekali, bagaikan seekor garuda melayang tubuhnya mencelat dan menyambar ke depan.

<<< Bagian 050                                                                                    Bagian 052 >>>

No comments:

Post a Comment