Perawan Lembah Wilis; Bagian 050


Dara remaja ini tentu akan roboh terguling oleh hawa pukulan lawan yang jauh lebih kuat kalau saja ia tidak meloncat dan berjungkir balik dengan gerakan manis sekali sehingga dorongan hawa pukulan lawan itu terpatahkan. Ia meloncat turun dan tersenyum.
"Wah, cakaran itu mengingatkan aku akan Si Belang, kucingku yang karena makan bangkai tikus yang sudah busuk tiba-tiba menjadi gila dan mencakar kalang-kabut seperti itu. Kamu tidak ada bedanya seujung rambutpun dengan kucing yang gila itu. Agaknya engkaupun terkena racun bangkai yang kau makan!"
Sariwuni makin marah, akan tetapi tiba-tiba Cekel Wisangkoro berkata halus kepadanya,
"Sudahlah, Wuni, untuk apa melayani seorang anak kecil?"
"Cekel Wisangkoro, andika sebagai utusan bicaralah, jangan membiarkan sembarang orang mengacau dengan kata-kata kosong memancing keributan." Tejolaksono menegur.
"Heh-heh-heh, maafkan, Adipati Tejolaksono. Akan tetapi Sariwuni bukanlah orang sembarangan atau orang lain, dia adalah adik seperguruanku pula. Dan apa yang diucapkannya tadi benar belaka. Percuma saja kalau andika hendak menolak, lebih baik andika mencari jalan yang lebih menyenangkan kedua pihak dan menerima uluran tangan kami. Andika tetap menjadi adipati yang dipertuan di Selopenangkep dan membiarkan kami bergerak ke timur."
"Kalau aku menolak?"
“Kalau engkau menolak berarti engkau dan keluargamu akan terbasmi, Selopenangkep akan mempunyai seorang adipati baru dan kami tetap saja akan dapat bergerak ke timur. Jangan bodoh, Tejolaksono, bukalah matamu dan lihat baik-baik. Kadipaten ini telah terkurung oleh barisan yang sedikitnya sepuluh kali lebih besar daripada pasukan Selopenangkep dan ribuan orang rakyat sebagai sukarelawan datang pula dan siap membantu kami, mengapa kau menolak?"
"Kami tidak takut! Eh, pendeta bau apek, jangan kau banyak tingkah!" Pusporini sudah tak dapat dapat menahan kemarahannya
lalu membentak dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Cekel Wisangkoro.
"Biar barisanmu seratus kali lebih banyak, akan kami lawan!" kata pula Ayu Candra yang juga sudah marah.
"Anaknda adipati. Menghadapi tikus-tikus macam ini saja biar serahkan kepada kanjeng bibi! Biar sudah tua, aku sanggup memimpin pasukan membasmi tikus-tikus ini!" kata Roro Luhito sambil melangkah maju dan meraba gagang kerisnya.

Adipati Tejolaksono tertawa dan menghadapi Cekel Wisangkoro.
"Engkau telah menyaksikan dan mendengar sendiri, Cekel Wisangkoro. Sedangkan bibiku, isteriku, dan adikku saja tidak takut menghadapi ancamanmu, apalagi aku! Pasukan-pasukanmu yang menyerbu akan kami hadapi dan anggap sebagai musuh negara, adapun rakyat dusun yang terbujuk olehmu dan ikut menyerbu akan kami anggap sebagai pemberontak! Tidak perlu kau mengancam dan banyak cakap lagi karena aku tahu bahwa kalian adalah kaki tangan Kerajaan Cola yang mengilar melihat negara kami dan ingin menjajah. Pendeknya, hanya ada dua pilihan bagi kalian, yaitu pergi membawa kembali pasukanmu ke tempat asalmu atau maju dan hancur lebur menghadapi perlawanan rakyat Panjalu!"
Kini senyum di mulut Cekel Wisangkoro lenyap, terganti kemarahan yang membayang di mukanya yang halus dan merah itu. Sinar matanya berkilat-kilat, dan dadanya dibusungkan.
"Babo-babo .... Tejolaksono! Engkau tak dapat diajak berbaik! Engkau telah menentukan kehancuran keluargamu sendiri, seperti pohon itu!" Cekel Wisangkoro meloncat ke kiri, mendekati pohon sawo yang tumbuh di halaman kadipaten itu, tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka menyambar ke arah batang pohon yang besar itu dan menampar.
"Blukkk .....!" Pohon itu bergoyang-goyang akan tetapi tidak roboh. Semua prajurit Selopenangkep yang melihat betapa pohon itu tak dapat dipukul roboh, tertawa-tawa mengejek, akan tetapi suara ketawa itu segera sirep dan suasana menjadi sunyi, mata mereka terbelalak dan mulut mereka ternganga ketika melihat betapa daun-daun pohon sawo itu menjadi layu dan rontok seperti hujan, diikuti buah-buah sawo yang tadinya masih mentah kini menjadi busuk dan berjatuhan!
Keadaan yang hening itu segera berubah menjadi berisik ketika para prajurit menjadi marah dan mereka kini mengurung maju dengan sikap mengancam! Juga Roro Luhito sudah marah sekali. Wanita tua perkasa ini mencabut kerisnya dan melangkah maju sambil menudingkan kerisnya ke arah empat orang lawan itu,
"Pendeta bajul! Apa kaukira dengan sihirmu ini kami menjadi takut?!"
Dua orang laki-laki tinggi besar yang berada di sebelah kiri Cekel Wisangkoro meloncat maju sambil mencabut pedang, agaknya hendak menerjang Roro Luhito. Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan Tejolaksono menyambut mereka sambil membentak,
"Keparat, kalian mau apa?"
Dua orang tinggi besar itu menggerakkan pedang membacok, gerakan mereka cepat sekali dan amat kuat sehingga pedang mereka mengeluarkan angin dan menimbulkan suara berdesing. Pedang itu menyambar dari kanan kiri ke arah leher dan lambung Sang Adipati Tejolaksono. Demikian cepatnya pedang menyambar sehingga para perajurit Selopenangkep menahan napas. Agaknya takkan dapat dihindarkan lagi bahwa tubuh sang adipati tentu akan terbabat putus menjadi tiga potong! Hanya keluarga sang adipati itu saja yang memandang dengan tenang dengan sikap penuh kewaspadaan karena mereka cukup mengenal akan kesaktian Tejolaksono dan percaya sepenuhnya bahwa sang adipati akan dapat menjaga dan menyelamatkan dirinya.
Harapan mereka ini tidak sia-sia. Dengan gerakan amat tenang, Tejolaksono tidak mengelak, bahkan tidak menggerakkan tubuh sama sekali, hanya kedua tangannya saja menyambut. Dua orang tinggi besar itu berseru kaget dan kesakitan karena entah bagaimana, tahu-tahu pergelangan tangan mereka kena dicengkeram oleh Tejolaksono dan terdengar bunyi "krek-krek!" ketika sang adipati mengerahkan tenaga, tanda bahwa tulang lengan kanan mereka patah! Adipati Tejolaksono menarik kedua tangannya dan pedang lawan telah terampas olehnya, kini kedua kakinya bergerak cepat sekali bergantian dan mencelatlah tubuh dua orang tinggi besar itu sampai empat meter ke belakang di mana mereka terbanting dan meringis kesakitan sambil memegangi tangan kanan yang sudah patah tulangnya. Hebatnya, mereka sedikitpun tidak mengeluarkan suara keluhan sungguhpun rasa sakit pada lengan mereka menusuk sampal ke ulu hati.

Dengan dua batang pedang di tangan, Tejolaksono menghadapi Cekel Wisangkoro dan berkata,
"Cekel Wisangkoro, aku yakin bahwa kalau aku menghendaki, kalian berempat akan mati di tempat ini sekarang juga. Akan tetapi, aku mengenal tata susila dan mengingat bahwa kalian adalah raka (utusan) dan adalah menjadi hak mutlak caraka untuk datang dan pergi lagi tanpa terganggu, maka aku membiarkan kalian pergi dalam keadaan hidup. Kalau dua orang temanmu ini terluka, hal itu hanya karena kesalahan mereka sendiri sebagai hukuman dariku atas kelancangan mereka. Nah, kau pergilah dan boleh bawa sebatang pedang yang tiada gunanya ini!" Sang Adipati Tejolaksono mengerahkan kedua tangannya dan "krak-krak!!" Dua batang pedang itu patah-patah lalu dilemparkannya ke kaki Cekel Wisangkoro! Para prajurit bersorak memuji menyaksikan kesaktian junjungan mereka ini.
Cekel Wisangkoro menoleh ke arah kedua orang temannya itu dan memaki,
"Sungguh bodoh kalian!" Akan tetapi ketika ia membalikkan tubuh menghadapi Tejolaksono lagi, ia sudah tertawa, sikapnya tenang-tenang saja sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut.
"Engkau sombong, Tejolaksono! Tahukah engkau bahwa jika sekarang aku melontarkan tongkatku ini ke angkasa, dari empat penjuru akan menyerbu pasukan-pasukanku dan dalam waktu singkat Kadipaten Selopenangkep akan menjadi karang-abang (lautan api)? Akan tetapi karena engkau menggunakan tata susila tidak mau nyerang caraka, akupun hendak mengimbangimu, tidak akan menyerang sebelum menyodorkan kesempatan terakhir. Nah, kami memberi kesempatan kepadamu sampai sehari ini. Kalau sampai senja kala nanti engkau tidak datang kepada kami di dalam hutan sebelah barat Selopenangkep untuk menerima uluran tangan kami, jangan sesalkan kami kalau kami terpaksa menggunakan kekerasan!"
"Sudah cukup banyak kau mengoceh, Cekel Wisangkoro! Pergilah sebelum para prajuritku kehabisan sabar!"
Dengan lagak angkuh Cekel Wisangkoro lalu pergi dari halaman gedung kadipaten, diikuti Sariwuni dan dua orang laki-laki tinggi besar yang masih memegangi pergelangan tangan kanan mereka yang patah tulangnya. Para prajurit pengawal mengiringkan mereka dengan ejekan dan tertawaan. Akan tetapi setelah empat orang tamu itu pergi jauh, Adipati Tejolaksono segera memanggil semua pembantunya dan membagi-bagi tugas mengatur penjagaan di sekeliling kadipaten. Kadipaten Selopenangkep tidak mempunyai pasukan yang besar. Seluruh pasukan hanya terdiri dan dua ratus empat puluh orang prajurit. Akan tetapi biasanya, pasukan yang tergembleng ini di bawah pimpinan Tejolaksono merupakan barisan yang amat kuat dan boleh diandalkan untuk menjaga keselamatan kadipaten. Kini pasukan yang kecil itu dipecah-pecah untuk menjaga kadipaten secara bergiliran. Sang adipati sendiri, bersama isterinya, Pusporini dan Roro Luhito, tidak tinggal diam. Mereka berempat ini maklum akan ancaman bahaya dari plhak lawan, maka merekapun sibuk melakukan perondaan dalam keadaan siap siaga.

Namun tepat seperti ancaman Cekel Wisangkoro, sehari itu sama sekali tidak terjadi penyerbuan musuh, bahkan di luar sekeliling kadipaten tidak tampak bayangan seorangpun musuh. Malam hari itupun tidak ada penyerbuan musuh secara terbuka. Akan tetapi banyak hal menggiriskan hati para prajurit telah terjadi. Rombongan penjaga di sebelah utara dan timur, terdiri masing-masing dari tiga puluh orang prajurit, menjadi ketakutan setengah mati setelah peristiwa yang hebat dan menyeramkan menimpa diri mereka. Malam itu, menjelang tengah malam, mereka sedang meronda dan memeriksa bagian timur dan utara. Malam sunyi dan gelap, tak tampak bayangan seorangpun musuh, juga tidak terdengar sesuatu. Bulan bersinar terang, didampingi banyak bintang. Udara cerah dan pemandangan indah yang terbentang di angkasa itu sedikit banyak mengurangi ketegangan hati mereka. Mula-mula mereka tidak menaruh curiga ketika ada segumpal awan hitam menutupi sinar bulan. Barulah mereka mulai panik ketika "awan" ini dapat melayang turun dan merupakan asap hitam yang menyerang mereka!

<<< Bagian 049                                                                                    Bagian 051 >>>

No comments:

Post a Comment