Dara remaja ini tentu akan roboh terguling oleh hawa pukulan lawan yang jauh lebih kuat kalau saja ia tidak meloncat dan berjungkir balik dengan gerakan manis sekali sehingga dorongan hawa pukulan lawan itu terpatahkan. Ia meloncat turun dan tersenyum.
"Wah, cakaran itu
mengingatkan aku akan Si Belang, kucingku yang karena makan bangkai tikus yang
sudah busuk tiba-tiba menjadi gila dan mencakar kalang-kabut seperti itu. Kamu
tidak ada bedanya seujung rambutpun dengan kucing yang gila itu. Agaknya
engkaupun terkena racun bangkai yang kau makan!"
Sariwuni makin marah, akan
tetapi tiba-tiba Cekel Wisangkoro berkata halus kepadanya,
"Sudahlah, Wuni, untuk
apa melayani seorang anak kecil?"
"Cekel Wisangkoro,
andika sebagai utusan bicaralah, jangan membiarkan sembarang orang mengacau
dengan kata-kata kosong memancing keributan." Tejolaksono menegur.
"Heh-heh-heh, maafkan,
Adipati Tejolaksono. Akan tetapi Sariwuni bukanlah orang sembarangan atau orang
lain, dia adalah adik seperguruanku pula. Dan apa yang diucapkannya tadi benar
belaka. Percuma saja kalau andika hendak menolak, lebih baik andika mencari
jalan yang lebih menyenangkan kedua pihak dan menerima uluran tangan kami.
Andika tetap menjadi adipati yang dipertuan di Selopenangkep dan membiarkan
kami bergerak ke timur."
"Kalau aku
menolak?"
“Kalau engkau menolak
berarti engkau dan keluargamu akan terbasmi, Selopenangkep akan mempunyai
seorang adipati baru dan kami tetap saja akan dapat bergerak ke timur. Jangan
bodoh, Tejolaksono, bukalah matamu dan lihat baik-baik. Kadipaten ini telah
terkurung oleh barisan yang sedikitnya sepuluh kali lebih besar daripada
pasukan Selopenangkep dan ribuan orang rakyat sebagai sukarelawan datang pula
dan siap membantu kami, mengapa kau menolak?"
"Kami tidak takut! Eh,
pendeta bau apek, jangan kau banyak tingkah!" Pusporini sudah tak dapat
dapat menahan kemarahannya
lalu membentak dan
menudingkan telunjuknya ke arah muka Cekel Wisangkoro.
"Biar barisanmu seratus
kali lebih banyak, akan kami lawan!" kata pula Ayu Candra yang juga sudah
marah.
"Anaknda adipati.
Menghadapi tikus-tikus macam ini saja biar serahkan kepada kanjeng bibi! Biar
sudah tua, aku sanggup memimpin pasukan membasmi tikus-tikus ini!" kata
Roro Luhito sambil melangkah maju dan meraba gagang kerisnya.
Adipati Tejolaksono tertawa
dan menghadapi Cekel Wisangkoro.
"Engkau telah
menyaksikan dan mendengar sendiri, Cekel Wisangkoro. Sedangkan bibiku,
isteriku, dan adikku saja tidak takut menghadapi ancamanmu, apalagi aku!
Pasukan-pasukanmu yang menyerbu akan kami hadapi dan anggap sebagai musuh
negara, adapun rakyat dusun yang terbujuk olehmu dan ikut menyerbu akan kami
anggap sebagai pemberontak! Tidak perlu kau mengancam dan banyak cakap lagi
karena aku tahu bahwa kalian adalah kaki tangan Kerajaan Cola yang mengilar
melihat negara kami dan ingin menjajah. Pendeknya, hanya ada dua pilihan bagi
kalian, yaitu pergi membawa kembali pasukanmu ke tempat asalmu atau maju dan
hancur lebur menghadapi perlawanan rakyat Panjalu!"
Kini senyum di mulut Cekel
Wisangkoro lenyap, terganti kemarahan yang membayang di mukanya yang halus dan
merah itu. Sinar matanya berkilat-kilat, dan dadanya dibusungkan.
"Babo-babo ....
Tejolaksono! Engkau tak dapat diajak berbaik! Engkau telah menentukan
kehancuran keluargamu sendiri, seperti pohon itu!" Cekel Wisangkoro
meloncat ke kiri, mendekati pohon sawo yang tumbuh di halaman kadipaten itu,
tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka menyambar ke arah batang pohon
yang besar itu dan menampar.
"Blukkk .....!"
Pohon itu bergoyang-goyang akan tetapi tidak roboh. Semua prajurit
Selopenangkep yang melihat betapa pohon itu tak dapat dipukul roboh,
tertawa-tawa mengejek, akan tetapi suara ketawa itu segera sirep dan suasana
menjadi sunyi, mata mereka terbelalak dan mulut mereka ternganga ketika melihat
betapa daun-daun pohon sawo itu menjadi layu dan rontok seperti hujan, diikuti
buah-buah sawo yang tadinya masih mentah kini menjadi busuk dan berjatuhan!
Keadaan yang hening itu
segera berubah menjadi berisik ketika para prajurit menjadi marah dan mereka
kini mengurung maju dengan sikap mengancam! Juga Roro Luhito sudah marah
sekali. Wanita tua perkasa ini mencabut kerisnya dan melangkah maju sambil
menudingkan kerisnya ke arah empat orang lawan itu,
"Pendeta bajul! Apa
kaukira dengan sihirmu ini kami menjadi takut?!"
Dua orang laki-laki tinggi
besar yang berada di sebelah kiri Cekel Wisangkoro meloncat maju sambil
mencabut pedang, agaknya hendak menerjang Roro Luhito. Akan tetapi pada saat
itu berkelebat bayangan Tejolaksono menyambut mereka sambil membentak,
"Keparat, kalian mau
apa?"
Dua orang tinggi besar itu
menggerakkan pedang membacok, gerakan mereka cepat sekali dan amat kuat
sehingga pedang mereka mengeluarkan angin dan menimbulkan suara berdesing.
Pedang itu menyambar dari kanan kiri ke arah leher dan lambung Sang Adipati
Tejolaksono. Demikian cepatnya pedang menyambar sehingga para perajurit
Selopenangkep menahan napas. Agaknya takkan dapat dihindarkan lagi bahwa tubuh
sang adipati tentu akan terbabat putus menjadi tiga potong! Hanya keluarga sang
adipati itu saja yang memandang dengan tenang dengan sikap penuh kewaspadaan
karena mereka cukup mengenal akan kesaktian Tejolaksono dan percaya sepenuhnya
bahwa sang adipati akan dapat menjaga dan menyelamatkan dirinya.
Harapan mereka ini tidak
sia-sia. Dengan gerakan amat tenang, Tejolaksono tidak mengelak, bahkan tidak
menggerakkan tubuh sama sekali, hanya kedua tangannya saja menyambut. Dua orang
tinggi besar itu berseru kaget dan kesakitan karena entah bagaimana, tahu-tahu
pergelangan tangan mereka kena dicengkeram oleh Tejolaksono dan terdengar bunyi
"krek-krek!" ketika sang adipati mengerahkan tenaga, tanda bahwa
tulang lengan kanan mereka patah! Adipati Tejolaksono menarik kedua tangannya
dan pedang lawan telah terampas olehnya, kini kedua kakinya bergerak cepat
sekali bergantian dan mencelatlah tubuh dua orang tinggi besar itu sampai empat
meter ke belakang di mana mereka terbanting dan meringis kesakitan sambil
memegangi tangan kanan yang sudah patah tulangnya. Hebatnya, mereka sedikitpun
tidak mengeluarkan suara keluhan sungguhpun rasa sakit pada lengan mereka
menusuk sampal ke ulu hati.
Dengan dua batang pedang di
tangan, Tejolaksono menghadapi Cekel Wisangkoro dan berkata,
"Cekel Wisangkoro, aku
yakin bahwa kalau aku menghendaki, kalian berempat akan mati di tempat ini
sekarang juga. Akan tetapi, aku mengenal tata susila dan mengingat bahwa kalian
adalah raka (utusan) dan adalah menjadi hak mutlak caraka untuk datang dan
pergi lagi tanpa terganggu, maka aku membiarkan kalian pergi dalam keadaan
hidup. Kalau dua orang temanmu ini terluka, hal itu hanya karena kesalahan
mereka sendiri sebagai hukuman dariku atas kelancangan mereka. Nah, kau
pergilah dan boleh bawa sebatang pedang yang tiada gunanya ini!" Sang Adipati
Tejolaksono mengerahkan kedua tangannya dan "krak-krak!!" Dua batang
pedang itu patah-patah lalu dilemparkannya ke kaki Cekel Wisangkoro! Para
prajurit bersorak memuji menyaksikan kesaktian junjungan mereka ini.
Cekel Wisangkoro menoleh ke
arah kedua orang temannya itu dan memaki,
"Sungguh bodoh
kalian!" Akan tetapi ketika ia membalikkan tubuh menghadapi Tejolaksono
lagi, ia sudah tertawa, sikapnya tenang-tenang saja sama sekali tidak
memperlihatkan rasa takut.
"Engkau sombong,
Tejolaksono! Tahukah engkau bahwa jika sekarang aku melontarkan tongkatku ini
ke angkasa, dari empat penjuru akan menyerbu pasukan-pasukanku dan dalam waktu
singkat Kadipaten Selopenangkep akan menjadi karang-abang (lautan api)? Akan
tetapi karena engkau menggunakan tata susila tidak mau nyerang caraka, akupun
hendak mengimbangimu, tidak akan menyerang sebelum menyodorkan kesempatan
terakhir. Nah, kami memberi kesempatan kepadamu sampai sehari ini. Kalau sampai
senja kala nanti engkau tidak datang kepada kami di dalam hutan sebelah barat
Selopenangkep untuk menerima uluran tangan kami, jangan sesalkan kami kalau
kami terpaksa menggunakan kekerasan!"
"Sudah cukup banyak kau
mengoceh, Cekel Wisangkoro! Pergilah sebelum para prajuritku kehabisan
sabar!"
Dengan lagak angkuh Cekel
Wisangkoro lalu pergi dari halaman gedung kadipaten, diikuti Sariwuni dan dua
orang laki-laki tinggi besar yang masih memegangi pergelangan tangan kanan
mereka yang patah tulangnya. Para prajurit pengawal mengiringkan mereka dengan
ejekan dan tertawaan. Akan tetapi setelah empat orang tamu itu pergi jauh,
Adipati Tejolaksono segera memanggil semua pembantunya dan membagi-bagi tugas
mengatur penjagaan di sekeliling kadipaten. Kadipaten Selopenangkep tidak
mempunyai pasukan yang besar. Seluruh pasukan hanya terdiri dan dua ratus empat
puluh orang prajurit. Akan tetapi biasanya, pasukan yang tergembleng ini di
bawah pimpinan Tejolaksono merupakan barisan yang amat kuat dan boleh
diandalkan untuk menjaga keselamatan kadipaten. Kini pasukan yang kecil itu
dipecah-pecah untuk menjaga kadipaten secara bergiliran. Sang adipati sendiri,
bersama isterinya, Pusporini dan Roro Luhito, tidak tinggal diam. Mereka
berempat ini maklum akan ancaman bahaya dari plhak lawan, maka merekapun sibuk
melakukan perondaan dalam keadaan siap siaga.
Namun tepat
seperti ancaman Cekel Wisangkoro, sehari itu sama sekali tidak terjadi
penyerbuan musuh, bahkan di luar sekeliling kadipaten tidak tampak bayangan
seorangpun musuh. Malam hari itupun tidak ada penyerbuan musuh secara terbuka.
Akan tetapi banyak hal menggiriskan hati para prajurit telah terjadi. Rombongan
penjaga di sebelah utara dan timur, terdiri masing-masing dari tiga puluh orang
prajurit, menjadi ketakutan setengah mati setelah peristiwa yang hebat dan
menyeramkan menimpa diri mereka. Malam itu, menjelang tengah malam, mereka
sedang meronda dan memeriksa bagian timur dan utara. Malam sunyi dan gelap, tak
tampak bayangan seorangpun musuh, juga tidak terdengar sesuatu. Bulan bersinar
terang, didampingi banyak bintang. Udara cerah dan pemandangan indah yang
terbentang di angkasa itu sedikit banyak mengurangi ketegangan hati mereka.
Mula-mula mereka tidak menaruh curiga ketika ada segumpal awan hitam menutupi
sinar bulan. Barulah mereka mulai panik ketika "awan" ini dapat
melayang turun dan merupakan asap hitam yang menyerang mereka!
No comments:
Post a Comment