"Kakang Mundingyudo, malam ini juga engkau berangkatlah ke Kerajaan Panjalu, menghadap sang prabu di Panjalu menghaturkan surat laporanku. Agar engkau tahu akan maksud tugasmu ini, ketahuilah bahwa pasukan-pasukan asing itu menurut perkiraanku dan hal ini tidak meleset kiranya, adalah pasukan-pasukan kaki tangan Sriwijaya dan Kerajaan Cola yang selain akan memperkembangkan agama, juga bermaksud memperluas wilayah jajahan mereka di Jawa-dwipa. Maka itu, biarpun mereka tidak melakukan gerakan menyerang, namun perlu mereka itu disapu dari wilayah Panjalu karena mereka telah melanggar perbatasan. Agar jangan sampai terlambat, sekarang juga seyogianya Kerajaan Panjalu mengerahkan barisan dan melakukan pembersihan. Demikian isi laporanku, Kakang."
Setelah menulis surat
laporan dan menyerahkannya kepada pembantunya itu, berangkatlah Mundingyudo
malam itu juga menuju ke Panjalu. Kemudian Adipati Tejolaksono memasuki
kamarnya untuk beristirahat, diikuti oleh isterinya.
"Kejar .....!”
"Tangkap
mata-mata....!”
"Bunuh .....!!"
"Aduhh ......ahhh
....aduhh .....trang- trang-trang .....!!”
Suara ini memecahkan
kesunyian di pagi hari depan gedung Kadipaten Selopenangkep. Para prajurit
pengawal sibuk mengurung empat orang sambil berteriak-teriak dan beberapa orang
pengawal roboh tumpang tindih. Seorang di antara mereka yang dikeroyok pengawal
ini diam saja, hanya melangkah maju memasuki pekarangan kadipaten sambil
tersenyum. Sikapnya tenang namun ia congkak sekali, mengangkat muka dan membusungkan
dada yang tipis. Ia seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun, tubuhnya
kurus tinggi, rambutnya penuh uban panjang terurai di kedua pundak sampai ke
pinggang, pakaiannya jubah pendeta berwarna kuning, telanjang dan memegang
sebatang tongkat hitam yang bentuknya seperti ular kering. Wajah laki-laki tua
ini merah seakan-akan bagian tubuhnya itu penuh dengan darah di dalamnya,
bahkan kedua matanya juga kemerahan. Hidungnya panjang melengkung seperti paruh
betet, mulutnya lebar dan karena selalu tersenyum, tampak deretan gigi yang
ompong dan menguning. Kalau rambutnya panjang, adalah mukanya yang merah itu
sama sekali tidak berambut, tidak ada sehelaipun kumis atau jenggot, agaknya
habis dicabuti. Adapun tiga orang yang mengikutinya adalah dua orang laki-laki
tinggi besar berusia empat puluhan tahun dan seorang wanita cantik jerusia dua
puluh lima tahun. Laki-laki tua berjubah pendeta itu berjalan tanpa
memperdulikan pengeroyokan dan pengejaran, akan tetapi, tiga orang inilah yang
melindunginya dan setiap ada prajurit yang maju menyerang tentu prajurit itu
terlempar berikut senjata mereka. Tiga orang ini hebat bukan main, dengan
tangan kosong mampu melempar-lemparkan para prajurit yang berani mendekat dan
menyerang. Empat orang ini pagi tadi dengan enak dan tenangnya memasuki pintu
gerbang yang
baru terbuka, tidak perduli
akan larangan dan teguran para penjaga. Mereka berjalan terus memasuki kota,
menuju ke kadipaten, terus berjalan maju dan tiga orang itu membabati semua
penghalang, namun agaknya mereka menjaga agar mereka tidak sampai membunuh para
prajurit sehingga mereka yang dilempar-lemparkan atau dirobohkan hanya
mengalami babak-belur dan patah tulang saja. Seorang di antara para pengawal
sudah masuk ke gedung kadipaten untuk melaporkan datangnya empat orang aneh
itu. Adipati Tejolaksono segera keluar diikuti Ayu Candra, Roro Luhito, dan
Pusporini, kesemuanya sudah siap siaga dengan keris di pinggang. Begitu keluar
dari gedung dan melihat empat orang itu menghadapi kepungan para pengawal
dengan tenang, melihat pula betapa tiga orang itu dengan mudahnya
melemparlemparkan para perajurit yang berani menyerang, Tejolaksono segera
berseru,
"Para pengawal, tahan
dan mundur semua!"
Prajurit-prajurit pengawal
berbesar hati melihat munculnya Adipati Tejolaksono. Mereka maklum bahwa empat
orang yang datang ini adalah orang-orang sakti dan untuk menghadapi mereka ini,
hanyalah sang adipati dan keluarganya yang akan mampu menanggulangi. Mereka
lalu mengundurkan diri namun masih mengurung dari jarak jauh, siap menanti
perintah sang adipati. Tejolaksono diikuti tiga orang wanita itu melangkah maju
perlahan-lahan memasuki halaman kadipaten yang amat luas, merupakan sebuah
alun-alun kecil. Diam-dian Tejolaksono marah sekali ketika mengenal tiga orang
itu. Wanita cantik itu bukan lain adalah Sariwuni yang pernah dijumpainya,
bahkan yang pernah menggodanya dengan sikap yang tak tahu malu. Kini wanita itu
berdiri dan memandangnya dengan mata bersinar-sinar dan bibir yang manis itu
tersenyum-senyum. Sungguh seorang wanita yang tidak tahu malu dan mengingatkan
ia akan dua orang tokoh wanita ketika ia masih kecil, yaitu Ni Nogogini dan Ni
Durgogini. Melihat Sariwuni, otomatis Tejolaksono melirik ke arah kedua
tangannya, tangan dengan kuku beracun yang telah menggurat tewas Ki Sentana.
Akan tetapi kedua tangan itu indah bentuknya, jari-jarinya runcing halus dan
kuku-kuku jarinya yang diruncingkan itu putih halus kemerahan! Adapun dua orang
laki-laki tinggi besar di sebelah wanita itupun dikenalnya sebagai dua orang
laki-laki tangguh yang pernah ia lihat di dusun Sumber. Akan tetapi laki-laki
tua berpakaian pendeta itu baru kali ini ia lihat dan ia sama sekali tidak
mengenalnya. Betapapun juga, melihat sikapnya, ia dapat menduga bahwa pendeta
itu tentulah seorang yang sakti, karena buktinya tiga orang itu bertindak
sebagai pelindungnya. Maka ia bersikap waspada dan hati-hati, terus melangkah
sampai berhadapan dengan empat orang tamu aneh itu.
Kini mereka berdiri
berhadapan, saling memandang penuh perhatian. Kemudian Adipati Tejolaksono
berkata,
"Kalau saya tidak salah
mengira, tiga orang yang melindungi andika ini pernah saya jumpai di dusun
Sumber."
Sariwuni memperlebar
senyumnya dan memandang Tejolaksono dari atas ke bawah dengan kekaguman yang
tidak disembunyi-sembunyikan,
"Aduh, Adipati
Tejolaksono. Setelah kini melihatmu berpakalan adipati, tidak menyamar sebagai
seorang petani kotor, engkau
menjadi jauh lebih tampan
dan gagah. Sungguh .....!!" Senyumnya berubah senyum mengejek ketika
wanita ini melihat pandang mata berapi penuh kemarahan dari Ayu Candra yang
berdiri di sebelah kiri suaminya. Ingin Ayu Candra memaki dan menerjang wanita
itu setelah kini ia dapat menduga bahwa tentu inilah Sariwuni yang, diceritakan
suaminya, akan tetapi ia menahan kemarahannya dan menyerahkan sikap menyambut
empat orang aneh ini kepada suaminya. Tejolaksono tidak memperdulikan wanita
cantik itu, melainkan berkata lagi kepada si pendeta,
"Menurut pelaporan para
penjaga, andika bermaksud menemui saya dan menggunakan kekerasan memasuki
kadipaten. Melihat pakaian andika, tak akan keliru kiranya kalau saya
mengatakan bahwa andika seorang pendeta yang sudah pandai menguasai nafsu diri,
akan tetapi melihat sepak terjang andika dan kawan-kawan andika, sungguh belum
pernah saya mendengar ada tamu yang datang secara paksa dan menggunakan
kekerasan, kecuali sebangsa perampok dan penjahat!"
Halus kata-kata Tejolaksono,
namun langsung menusuk perasaan dan merupakan teguran keras. Namun empat orang
tamu itu sama sekali tidak kelihatan marah dan hanya tersenyum-senyum, yaitu
Sariwuni dan si pendeta karena dua orang laki-laki tinggi besar itu tidak
pernah tersenyum, juga tidak tampak marah. Wajah keduanya seperti wajah arca
dari batu saja, sama sekali tidak membayangkan perasaan apa-apa. Melihat ini
semua, Tejolaksono dapat menduga bahwa mereka ini benar-benar telah memiliki
kekuatan dalam yang hebat dan tidak lagi mudah dikuasai perasaan. Maka iapun
tidak mau lagi banyak menyerang dengan kata-kata, lalu langsung saja bertanya,
"Kisanak, pendeta atau
perampok adanya andika, setelah berhadapan muka dengan aku, katakanlah siapa
andika dan apa kehendak andika mendatangi Kadipaten Selopenangkep!"
"Heh-heh-heh, Adipati
Tejolaksono. Andika ingin mengenalku? Aku adalah Cekel Wisangkoro, abdi dan
murid, juga utusan Sang Wicaksono Wasi Bagaspati! Adapun maksud kedatangan kami
adalah dengan hati terbuka, maksud baik dan membawa uluran tangan sang
wasi."
Tidak heran hati Tejolaksono
mendengar ini. Memang ia sudah menduga bahwa semua peristiwa yang terjadi
adalah kelanjutan daripada munculnya Biku Janapati dan Wasi Bagaspati di puncak
Merapi empat tahun yang lalu. Dengan hati panas Tejolaksono tersenyum pahit.
"Adakah hati terbuka
dan maksud baik diawali dengan pertempuran melawan para penjaga Selopenangkep?”
Kembali Cekel Wisangkoro tertawa.
"Adipati Tejolaksono,
periksalah baik-baik semua prajuritmu. Adakah seorang saja yang tewas di tangan
kami? Kami memasuki Selopenangkep dengan hati terbuka dan maksud baik, akan
tetapi para prajuritmu menyerang kami. Sungguhpun demikian, kami masih menaruh
kasihan dan tidak membunuh seorangpun, hanya merobohkan karena kami harus
membela diri, bukan? Hal itu saja sudah membuktikan bahwa kami datang dengan
maksud baik!"
Di dalam hatinya,
Tejolaksono tak dapat membantah kebenaran ucapan itu. Memang, empat orang ini
belum melakukan sesuatu yang jahat di Kadipaten Selopenangkep dan semua
perajurit yang roboh tidak terbunuh, hanya babak-belur dan patah tulang saja.
"Hemmm, katakanlah
terus terang, Cekel Wisangkoro, sebagai utusan, apakah kehendakmu dan apakah
yang akan kau sampaikan kepadaku?"
"Kami datang
mengulurkan tangan kepadamu, Adipati Tejolaksono, untuk bekerja sama dan
menjadi sahabat. Kita semua tahu betapa lemahnya Kerajaan Panjalu dan Jenggala,
kerajaan yang dahulunya besar kini terpecah-belah, dikuasai oleh raja-raja
lalim! Tidak hanya rajanya yang lalim, juga para ponggawanya tidak becus dan
kepentingan rakyat tidak ada yang menghiraukan. Kami datang untuk membebaskan
rakyat daripada kesengsaraan. Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola siap untuk
mengangkat kehidupan rakyat Jawa-dwipa ke tingkat yang lebih tinggi, mengajar
rakyat ilmu-ilmu yang tinggi untuk mencapai kesempurnaan. Karena kami tahu
bahwa andika adalah seorang adipati yang baik, maka Sang Wasi Bagaspati
berpesan kepada kami untuk menghubungimu dan mengulurkan tangan kepadamu agar
kita bersekutu.....!!”
"Menjadi kaki tangan
Kerajaan Cola atau dibunuh seperti halnya Ki Sentana, lurah dusun Sumber?"
Adipati Tejolaksono memotong dengan suara marah.
"Heh, Cekel Wisangkoro!
Kau pergilah dan sampaikan kepada Wasi Bagaspati bahwa angkara murka Kerajaan
Cola ini takkan berhasil! Penyerbuan rahasia dan secara halus mengelabui rakyat
ini akan menghadapi tantangan rakyat dan seluruh prajurit Panjalu dan Jenggala!
Niat keji kalian takkan tercapai! Lebih baik kalian membawa pergi semua pasukan
berandal itu sebelum diganyang hancur oleh rakyat Panjalu!"
"Hi-hi-hik,
Tejolaksono. Ucapanmu itu menggelikan sekali! Justeru kami kuat karena rakyat
berada di belakang kami. Kami datang untuk mengangkat rakyat, bagaimana kau
bilang rakyat akan menentang kami? Hi-hik, sang adipati yang tampan dan gagah.
Pikirlah baik-baik, bukankah jauh lebih baik kalau engkau dan aku menjadi
sahabat daripada menjadi musuh? Aku percaya bahwa kalau engkau dan aku menjadi
sahabat .....ehemm ....kita dapat menciptakan surga di atas bumi ini karena
engkau dan aku cocok sekali! Hi-hi-hik!"
Tiba-tiba Pusporini, dara
remaja berusia lima belas tahun yang cantik manis dan bertubuh ramping padat
dan seperti bunga mulai mekar itu, melangkah maju dan suaranya nyaring sekali
ketika ia menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah muka Sariwuni yang masih
terkekeh genit,
"Ihhh, bukankah kamu
ini yang bernama Sariwuni? Rakanda adipati sudah bercerita tentang kamu dan
tahukah kamu apa yang dikatakan oleh abdi pelayanku? Bahwa Sariwuni adalah
seorang perempuan rendah dan hina, tak tahu malu, cabul dan kotor, tak mengenal
susila ....“
"Pusporini ...., diam
....!” Roro Luhito membentak puterinya.
Akan tetapi Sariwuni yang
tadi dapat menahan perasaan dan hanya tersenyum-senyum, kini telah menjadi
merah mukanya seperti udang direbus. Tak dapat ia menahan kemarahannya karena
dimaki-maki seperti itu di depan orang banyak.
"Bocah ..., kau sudah
bosan hidup...!" Tanpa disangka-sangka, dengan gerak cepat yang dahsyat
sekali, tubuhnya sudah menerjang dengan pukulan tangan kanan yang menggunakan
kuku mencakar ke arah muka Pusporini.
"Rini ....Pethit Nogo
...!!” Tejolaksono berseru karena untuk bergerak menolong sudah tak keburu
lagi. Pukulan yang dilakukan oleh Sariwuni dengan kuku mencakar itu ia tahu
amat berbahaya karena kuku itu mengandung racun yang ampuh dan hanya Aji Pethit
Nogo saja yang akan dapat menyelamatkan adiknya, juga muridnya itu karena Aji
Pethit Nogo yang mengandalkan kepretan jari yang penuh hawa sakti dapat melawan
kuku-kuku beracun. Biarpun Pusporini masih muda dan lincah gembira, namun ia
gesit sekali dan sudah digembleng oleh Adipati Tejolaksono. Mulutnya masih
tersenyum akan tetapi tangannya sudah bergerak, dengan jari-jari terbuka dan
lurus ia menggerakkan Aji Pethit Nogo sehingga jari-jari tangan yang kecil
mungil itu tersalur hawa sakti dan tergetar ketika ia pergunakan untuk
menangkis.
"Plakk ....”
Cakaran tangan
Sariwuni terpental, akan tetapi tubuh Pusporini terdorong ke belakang.
No comments:
Post a Comment