Perawan Lembah Wilis; Bagian 049


"Kakang Mundingyudo, malam ini juga engkau berangkatlah ke Kerajaan Panjalu, menghadap sang prabu di Panjalu menghaturkan surat laporanku. Agar engkau tahu akan maksud tugasmu ini, ketahuilah bahwa pasukan-pasukan asing itu menurut perkiraanku dan hal ini tidak meleset kiranya, adalah pasukan-pasukan kaki tangan Sriwijaya dan Kerajaan Cola yang selain akan memperkembangkan agama, juga bermaksud memperluas wilayah jajahan mereka di Jawa-dwipa. Maka itu, biarpun mereka tidak melakukan gerakan menyerang, namun perlu mereka itu disapu dari wilayah Panjalu karena mereka telah melanggar perbatasan. Agar jangan sampai terlambat, sekarang juga seyogianya Kerajaan Panjalu mengerahkan barisan dan melakukan pembersihan. Demikian isi laporanku, Kakang."
Setelah menulis surat laporan dan menyerahkannya kepada pembantunya itu, berangkatlah Mundingyudo malam itu juga menuju ke Panjalu. Kemudian Adipati Tejolaksono memasuki kamarnya untuk beristirahat, diikuti oleh isterinya.

"Kejar .....!”
"Tangkap mata-mata....!”
"Bunuh .....!!"
"Aduhh ......ahhh ....aduhh .....trang- trang-trang .....!!”
Suara ini memecahkan kesunyian di pagi hari depan gedung Kadipaten Selopenangkep. Para prajurit pengawal sibuk mengurung empat orang sambil berteriak-teriak dan beberapa orang pengawal roboh tumpang tindih. Seorang di antara mereka yang dikeroyok pengawal ini diam saja, hanya melangkah maju memasuki pekarangan kadipaten sambil tersenyum. Sikapnya tenang namun ia congkak sekali, mengangkat muka dan membusungkan dada yang tipis. Ia seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun, tubuhnya kurus tinggi, rambutnya penuh uban panjang terurai di kedua pundak sampai ke pinggang, pakaiannya jubah pendeta berwarna kuning, telanjang dan memegang sebatang tongkat hitam yang bentuknya seperti ular kering. Wajah laki-laki tua ini merah seakan-akan bagian tubuhnya itu penuh dengan darah di dalamnya, bahkan kedua matanya juga kemerahan. Hidungnya panjang melengkung seperti paruh betet, mulutnya lebar dan karena selalu tersenyum, tampak deretan gigi yang ompong dan menguning. Kalau rambutnya panjang, adalah mukanya yang merah itu sama sekali tidak berambut, tidak ada sehelaipun kumis atau jenggot, agaknya habis dicabuti. Adapun tiga orang yang mengikutinya adalah dua orang laki-laki tinggi besar berusia empat puluhan tahun dan seorang wanita cantik jerusia dua puluh lima tahun. Laki-laki tua berjubah pendeta itu berjalan tanpa memperdulikan pengeroyokan dan pengejaran, akan tetapi, tiga orang inilah yang melindunginya dan setiap ada prajurit yang maju menyerang tentu prajurit itu terlempar berikut senjata mereka. Tiga orang ini hebat bukan main, dengan tangan kosong mampu melempar-lemparkan para prajurit yang berani mendekat dan menyerang. Empat orang ini pagi tadi dengan enak dan tenangnya memasuki pintu gerbang yang
baru terbuka, tidak perduli akan larangan dan teguran para penjaga. Mereka berjalan terus memasuki kota, menuju ke kadipaten, terus berjalan maju dan tiga orang itu membabati semua penghalang, namun agaknya mereka menjaga agar mereka tidak sampai membunuh para prajurit sehingga mereka yang dilempar-lemparkan atau dirobohkan hanya mengalami babak-belur dan patah tulang saja. Seorang di antara para pengawal sudah masuk ke gedung kadipaten untuk melaporkan datangnya empat orang aneh itu. Adipati Tejolaksono segera keluar diikuti Ayu Candra, Roro Luhito, dan Pusporini, kesemuanya sudah siap siaga dengan keris di pinggang. Begitu keluar dari gedung dan melihat empat orang itu menghadapi kepungan para pengawal dengan tenang, melihat pula betapa tiga orang itu dengan mudahnya melemparlemparkan para perajurit yang berani menyerang, Tejolaksono segera berseru,
"Para pengawal, tahan dan mundur semua!"
Prajurit-prajurit pengawal berbesar hati melihat munculnya Adipati Tejolaksono. Mereka maklum bahwa empat orang yang datang ini adalah orang-orang sakti dan untuk menghadapi mereka ini, hanyalah sang adipati dan keluarganya yang akan mampu menanggulangi. Mereka lalu mengundurkan diri namun masih mengurung dari jarak jauh, siap menanti perintah sang adipati. Tejolaksono diikuti tiga orang wanita itu melangkah maju perlahan-lahan memasuki halaman kadipaten yang amat luas, merupakan sebuah alun-alun kecil. Diam-dian Tejolaksono marah sekali ketika mengenal tiga orang itu. Wanita cantik itu bukan lain adalah Sariwuni yang pernah dijumpainya, bahkan yang pernah menggodanya dengan sikap yang tak tahu malu. Kini wanita itu berdiri dan memandangnya dengan mata bersinar-sinar dan bibir yang manis itu tersenyum-senyum. Sungguh seorang wanita yang tidak tahu malu dan mengingatkan ia akan dua orang tokoh wanita ketika ia masih kecil, yaitu Ni Nogogini dan Ni Durgogini. Melihat Sariwuni, otomatis Tejolaksono melirik ke arah kedua tangannya, tangan dengan kuku beracun yang telah menggurat tewas Ki Sentana. Akan tetapi kedua tangan itu indah bentuknya, jari-jarinya runcing halus dan kuku-kuku jarinya yang diruncingkan itu putih halus kemerahan! Adapun dua orang laki-laki tinggi besar di sebelah wanita itupun dikenalnya sebagai dua orang laki-laki tangguh yang pernah ia lihat di dusun Sumber. Akan tetapi laki-laki tua berpakaian pendeta itu baru kali ini ia lihat dan ia sama sekali tidak mengenalnya. Betapapun juga, melihat sikapnya, ia dapat menduga bahwa pendeta itu tentulah seorang yang sakti, karena buktinya tiga orang itu bertindak sebagai pelindungnya. Maka ia bersikap waspada dan hati-hati, terus melangkah sampai berhadapan dengan empat orang tamu aneh itu.

Kini mereka berdiri berhadapan, saling memandang penuh perhatian. Kemudian Adipati Tejolaksono berkata,
"Kalau saya tidak salah mengira, tiga orang yang melindungi andika ini pernah saya jumpai di dusun Sumber."
Sariwuni memperlebar senyumnya dan memandang Tejolaksono dari atas ke bawah dengan kekaguman yang tidak disembunyi-sembunyikan,
"Aduh, Adipati Tejolaksono. Setelah kini melihatmu berpakalan adipati, tidak menyamar sebagai seorang petani kotor, engkau
menjadi jauh lebih tampan dan gagah. Sungguh .....!!" Senyumnya berubah senyum mengejek ketika wanita ini melihat pandang mata berapi penuh kemarahan dari Ayu Candra yang berdiri di sebelah kiri suaminya. Ingin Ayu Candra memaki dan menerjang wanita itu setelah kini ia dapat menduga bahwa tentu inilah Sariwuni yang, diceritakan suaminya, akan tetapi ia menahan kemarahannya dan menyerahkan sikap menyambut empat orang aneh ini kepada suaminya. Tejolaksono tidak memperdulikan wanita cantik itu, melainkan berkata lagi kepada si pendeta,
"Menurut pelaporan para penjaga, andika bermaksud menemui saya dan menggunakan kekerasan memasuki kadipaten. Melihat pakaian andika, tak akan keliru kiranya kalau saya mengatakan bahwa andika seorang pendeta yang sudah pandai menguasai nafsu diri, akan tetapi melihat sepak terjang andika dan kawan-kawan andika, sungguh belum pernah saya mendengar ada tamu yang datang secara paksa dan menggunakan kekerasan, kecuali sebangsa perampok dan penjahat!"
Halus kata-kata Tejolaksono, namun langsung menusuk perasaan dan merupakan teguran keras. Namun empat orang tamu itu sama sekali tidak kelihatan marah dan hanya tersenyum-senyum, yaitu Sariwuni dan si pendeta karena dua orang laki-laki tinggi besar itu tidak pernah tersenyum, juga tidak tampak marah. Wajah keduanya seperti wajah arca dari batu saja, sama sekali tidak membayangkan perasaan apa-apa. Melihat ini semua, Tejolaksono dapat menduga bahwa mereka ini benar-benar telah memiliki kekuatan dalam yang hebat dan tidak lagi mudah dikuasai perasaan. Maka iapun tidak mau lagi banyak menyerang dengan kata-kata, lalu langsung saja bertanya,
"Kisanak, pendeta atau perampok adanya andika, setelah berhadapan muka dengan aku, katakanlah siapa andika dan apa kehendak andika mendatangi Kadipaten Selopenangkep!"
"Heh-heh-heh, Adipati Tejolaksono. Andika ingin mengenalku? Aku adalah Cekel Wisangkoro, abdi dan murid, juga utusan Sang Wicaksono Wasi Bagaspati! Adapun maksud kedatangan kami adalah dengan hati terbuka, maksud baik dan membawa uluran tangan sang wasi."
Tidak heran hati Tejolaksono mendengar ini. Memang ia sudah menduga bahwa semua peristiwa yang terjadi adalah kelanjutan daripada munculnya Biku Janapati dan Wasi Bagaspati di puncak Merapi empat tahun yang lalu. Dengan hati panas Tejolaksono tersenyum pahit.
"Adakah hati terbuka dan maksud baik diawali dengan pertempuran melawan para penjaga Selopenangkep?” Kembali Cekel Wisangkoro tertawa.
"Adipati Tejolaksono, periksalah baik-baik semua prajuritmu. Adakah seorang saja yang tewas di tangan kami? Kami memasuki Selopenangkep dengan hati terbuka dan maksud baik, akan tetapi para prajuritmu menyerang kami. Sungguhpun demikian, kami masih menaruh kasihan dan tidak membunuh seorangpun, hanya merobohkan karena kami harus membela diri, bukan? Hal itu saja sudah membuktikan bahwa kami datang dengan maksud baik!"
Di dalam hatinya, Tejolaksono tak dapat membantah kebenaran ucapan itu. Memang, empat orang ini belum melakukan sesuatu yang jahat di Kadipaten Selopenangkep dan semua perajurit yang roboh tidak terbunuh, hanya babak-belur dan patah tulang saja.
"Hemmm, katakanlah terus terang, Cekel Wisangkoro, sebagai utusan, apakah kehendakmu dan apakah yang akan kau sampaikan kepadaku?"
"Kami datang mengulurkan tangan kepadamu, Adipati Tejolaksono, untuk bekerja sama dan menjadi sahabat. Kita semua tahu betapa lemahnya Kerajaan Panjalu dan Jenggala, kerajaan yang dahulunya besar kini terpecah-belah, dikuasai oleh raja-raja lalim! Tidak hanya rajanya yang lalim, juga para ponggawanya tidak becus dan kepentingan rakyat tidak ada yang menghiraukan. Kami datang untuk membebaskan rakyat daripada kesengsaraan. Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola siap untuk mengangkat kehidupan rakyat Jawa-dwipa ke tingkat yang lebih tinggi, mengajar rakyat ilmu-ilmu yang tinggi untuk mencapai kesempurnaan. Karena kami tahu bahwa andika adalah seorang adipati yang baik, maka Sang Wasi Bagaspati berpesan kepada kami untuk menghubungimu dan mengulurkan tangan kepadamu agar kita bersekutu.....!!”
"Menjadi kaki tangan Kerajaan Cola atau dibunuh seperti halnya Ki Sentana, lurah dusun Sumber?" Adipati Tejolaksono memotong dengan suara marah.
"Heh, Cekel Wisangkoro! Kau pergilah dan sampaikan kepada Wasi Bagaspati bahwa angkara murka Kerajaan Cola ini takkan berhasil! Penyerbuan rahasia dan secara halus mengelabui rakyat ini akan menghadapi tantangan rakyat dan seluruh prajurit Panjalu dan Jenggala! Niat keji kalian takkan tercapai! Lebih baik kalian membawa pergi semua pasukan berandal itu sebelum diganyang hancur oleh rakyat Panjalu!"
"Hi-hi-hik, Tejolaksono. Ucapanmu itu menggelikan sekali! Justeru kami kuat karena rakyat berada di belakang kami. Kami datang untuk mengangkat rakyat, bagaimana kau bilang rakyat akan menentang kami? Hi-hik, sang adipati yang tampan dan gagah. Pikirlah baik-baik, bukankah jauh lebih baik kalau engkau dan aku menjadi sahabat daripada menjadi musuh? Aku percaya bahwa kalau engkau dan aku menjadi sahabat .....ehemm ....kita dapat menciptakan surga di atas bumi ini karena engkau dan aku cocok sekali! Hi-hi-hik!"

Tiba-tiba Pusporini, dara remaja berusia lima belas tahun yang cantik manis dan bertubuh ramping padat dan seperti bunga mulai mekar itu, melangkah maju dan suaranya nyaring sekali ketika ia menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah muka Sariwuni yang masih terkekeh genit,
"Ihhh, bukankah kamu ini yang bernama Sariwuni? Rakanda adipati sudah bercerita tentang kamu dan tahukah kamu apa yang dikatakan oleh abdi pelayanku? Bahwa Sariwuni adalah seorang perempuan rendah dan hina, tak tahu malu, cabul dan kotor, tak mengenal susila ....“
"Pusporini ...., diam ....!” Roro Luhito membentak puterinya.
Akan tetapi Sariwuni yang tadi dapat menahan perasaan dan hanya tersenyum-senyum, kini telah menjadi merah mukanya seperti udang direbus. Tak dapat ia menahan kemarahannya karena dimaki-maki seperti itu di depan orang banyak.
"Bocah ..., kau sudah bosan hidup...!" Tanpa disangka-sangka, dengan gerak cepat yang dahsyat sekali, tubuhnya sudah menerjang dengan pukulan tangan kanan yang menggunakan kuku mencakar ke arah muka Pusporini.
"Rini ....Pethit Nogo ...!!” Tejolaksono berseru karena untuk bergerak menolong sudah tak keburu lagi. Pukulan yang dilakukan oleh Sariwuni dengan kuku mencakar itu ia tahu amat berbahaya karena kuku itu mengandung racun yang ampuh dan hanya Aji Pethit Nogo saja yang akan dapat menyelamatkan adiknya, juga muridnya itu karena Aji Pethit Nogo yang mengandalkan kepretan jari yang penuh hawa sakti dapat melawan kuku-kuku beracun. Biarpun Pusporini masih muda dan lincah gembira, namun ia gesit sekali dan sudah digembleng oleh Adipati Tejolaksono. Mulutnya masih tersenyum akan tetapi tangannya sudah bergerak, dengan jari-jari terbuka dan lurus ia menggerakkan Aji Pethit Nogo sehingga jari-jari tangan yang kecil mungil itu tersalur hawa sakti dan tergetar ketika ia pergunakan untuk menangkis.
"Plakk ....”
Cakaran tangan Sariwuni terpental, akan tetapi tubuh Pusporini terdorong ke belakang.

<<< Bagian 048                                                                                   Bagian 050 >>>

No comments:

Post a Comment