"Heeeeeh, rakyat Sumber semua dengarlah baik-baik! Aku bukan penjahat bukan pula pembunuh. Aku adalah junjungan kalian, aku Adipati Tejolaksono, adipati di Selopenangkep! Kalian telah tertipu! Kepala dusun kalian, Ki Sentana, telah jatuh di bawah pengaruh orang-orang jahat. Sariwuni adalah seorang wanita iblis yang amat jahat! Insyaflah, hei rakyat dusun Sumber!" Suara Tejolaksono amat nyaring dan mengatasi semua suara hiruk-pikuk karena ia mengerahkan hawa sakti untuk mendorong suaranya.
Mendengar suara ini,
serentak suara para penduduk terhenti. Nama besar Adipati Tejolaksono amat
mereka kenal dan masih amat besar pengaruhnya. Mereka menjadi bimbang dan
ragu-ragu. Tadi Ki Sentana, kepala dusun mereka yang akhir-akhir ini amat royal
dalam membagi-bagi hadiah kepada rakyatnya, mengumpulkan rakyat yang katanya
harus menangkap dan mengeroyok seorang penjahat sakti yang membunuh isteri Ki
Sentana. Akan tetapi mengapa penjahat itu adalah sang adipati di Selopenangkep
sendiri yang terkenal sakti mandraguna dan adil bijaksana?
"Tejolaksono! Engkau
tidak patut menjadi junjungan kami lagi! Tidak patut menjadi Adipati
Selopenangkep. Lihat saja, sebentar lagi engkau tentu akan dihentikan menjadi
adipati. Engkau seorang penjahat besar! Siapa yang tidak mendengar nama busuk
wanita iblis Endang Patibroto yang telah banyak membunuh banyak ponggawa
Panjalu? Dan engkau malah menjadi suaminya! Ha-ha-ha, tak perlu kau membohongi
rakyatmu. Hai, kawan-kawan, mari kepung dan tangkap si laknat ini. Isteriku
telah dibunuhnya!"
"Bohong .....!!"
Tejolaksono hanya mampu mengeluarkan ucapan ini karena ia terlalu
terheran-heran. Jelas bahwa yang bicara itu adalah Ki Sentana, orang bawahannya
yang dikenalnya baik, yang menjadi sahabatnya, bekas perajurit Panjalu kawakan
yang setia. Benar-benarkah itu Ki Sentana? Orangnya memang itu, juga suaranya.
Akan tetapi terdapat perubahan yang amat jauh berbeda. Apakah karena pengaruh
Sariwuni?
Akan tetapi penduduk kini
sebagian sudah ada yang menerobos masuk dan tak lama kemudian mereka keluar
sambil berteriak-teriak,
"Benar, dia pembunuh
jahat! Nyi Sentana telah dibunuhnyal Hayo tangkap! Kepung!" Tejolaksono
maklum bahwa dalam keributan seperti itu, percuma saja berdebat dengan
kata-kata. Paling perlu menawan Ki Sentana untuk mengorek rahasia para penjahat
itu dan juga menawan atau membunuh Sariwuni yang jelas merupakan biang keladi
semua peristiwa ini. Ia lalu menggerakkan tubuhnya melayang turun bagaikan
seekor burung garuda melayang. Para penduduk dusun Sumber ternganga dan kesima
menyaksikan ini. Baru sekarang mereka menyaksikan seorang manusia dapat
melayang turun dari tempat setinggi itu seperti seekor burung saja! Mereka
menjadi gentar dan lupa untuk menyerang! Akan tetapi ada beberapa orang yang
menerjang maju, didahului oleh dua orang laki-laki tinggi besar yang tadi
berdiri di dekat Ki Sentana. Dua orang itu bersenjata pedang pula seperti
Sariwuni dan bersama lima orang penduduk lain, mereka menyambut turunnya tubuh
Tejolaksono. Sang adipati menggerakkan kaki tangannya dan lima orang penduduk
itu terpental mundur dan tombak mereka terlepas dari pegangan kena gempuran
hawa sakti yang keluar dari kaki tangan sang adipati. Akan tetapi alangkah
heran dan kagetnya hati Tejolaksono ketika melihat bahwa dua orang laki-laki
tinggi besar itu tidak terpengaruh dorongannya dan terus menerjang dengan
babatan pedang mereka yang mengeluarkan angin saking kuat dan cepatnya.
"Hemm ....!" Ia
mendengus dan tubuhnya cepat menyelinap ke kanan, kemudian begitu dua batang
pedang itu lewat, ia mendorong maju dan tubuhnya doyong pula ke depan. Cepat
sekali kedua tangannya ini bergerak, tahu-tahu telah tiba di depan dada dua
orang lawannya. Hal ini tidak aneh karena sang adipati yang perkasa telah
menggunakan aji pukulan Kukilo Sakti sehingga gerakan kedua tangannya seperti
dua buah kepala burung yang mematuk amat cepatnya!
"Singgg ...
siuuuuttt...!!” Adipati Tejolaksono terpaksa harus menarik kembali kedua
tangannya sehingga pukulan Kukilo Sakti itu hanyalah mengenai dada kedua orang
lawan dengan seperempat tenaganya saja karena dari belakangnya menyambar
sebatang pedang yang hebat gerakannya dan tusukan sebatang tombak. Namun ia
tahu bahwa pukulannya itu sudah cukup kuat untuk merobohkan lawan yang sakti.
Maka, amatlah kagetnya ketika dua orang tinggi besar itu hanya terhuyung mundur
empat langkah saja dan terus maju lagi! Ah, kiranya di sini banyak orang sakti,
pikirnya. Tentu dua orang ini merupakan kawan-kawan Sariwuni! Betapapun juga,
ia terpaksa membalikkah tubuh menghadapi serangan dari belakang tadi. Pedang
yang menyambar dapat dielakkan dan kuku hitam yang mencengkeram dapat pula ia
tangkis. Tubuh Sariwuni untuk kedua kalinya terhuyung ke belakang. Tombak di
tangan Ki Sentana yang menyambar ia biarkan lewat di dekat perutnya dengan
miringkan tubuh, kemudian secara mendadak ia menubruk maju dan di lain saat ia
telah mengempit tubuh Ki Sentana yang tua itu sehingga tak dapat berkutik lagi!
Dengan lengan kiri mengempit tubuh Ki Sentana, Tejolaksono membalikkan tubuh,
tangan kanannya siap untuk memukul atau menawan Sariwuni, akan tetapi ternyata
wanita itu telah lenyap. Demjkian pula dua orang laki-laki tinggi besar tadi,
dan kini para penduduk Sumber mengeroyoknya seperti rombongan semut mengeroyok
seekor jengkerik.
"Aaahhh, kalian
orang-orang bodoh!" bentak Tejolaksono dengan gemas, akan tetapi tentu
saja ia tidak mau memusuhi rakyatnya sendiri, maka sekali mengenjot kedua
kakinya dengan Ayi Bayu Sakti la meloncat tinggi melampaui kepala para
pengurungnya, melesat jauh. Tiba-tiba dari rombongan penduduk dusun itu
menyambar tubuh Sariwuni menyerangnya dengan pedang yang menusuk ke arah leher.
Pada saat itu, tubuh Tejolaksono masih meloncat, maka cepat-cepat ia
menggunakan tangannya yang kanan menyampok dengan jari-jari tangannya yang
tepat mengenai pergelangan tangan wanita itu. Sariwuni menjerit, pedangnya
terpental entah ke mana dan pergelangan tangannya menjadi lumpuh. Tak kuat ia
menahan benturan jari tangan Tejolaksono yang mengandung aji pukulan Bojro
Dahono yang panas laksana halllintar. Akan tetapi berbareng dengan jerit
Sariwuni yang terhuyung ke belakang, juga Ki Sentana memekik. Kagetlah
Tejolaksono ketika memandang dan melihat betapa pipi Ki Sentana terdapat
guratan menghitam. Kiranya wanita iblis itu tadi menyerangnya dengan pedang dan
berbareng menyerang Ki Sentana dengan kuku tangan kiri! Karena ingin mendengar
penjelasan Ki Sentana, apalagi melihat betapa para penduduk Sumber terus
mengepungnya, ia tidak mau melayani lagi. Musuhnya hanyalah Sarlwuni dan dua
orang laki-laki tinggi besar itu, dan kini wanita itupun sudah lenyap lagi,
agaknya bersembunyi di antara penduduk yang demikian banyak. Ia mengerahkan
tenaga melompat terus berlari menghilang di dalam kegelapan malam sambil
mengempit tubuh Ki Sentana. Setelah lari jauh meninggalkan dusun Sumber dan
mendapat kenyataan bahwa tidak ada orang mengejar lagi, barulah Tejolaksono,
berhenti dan menurunkan tubuh Ki Sentana. Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika
melihat bahwa Ki Sentana telah menjadi mayat! Di bawah sinar bulan yang cukup
terang, ia melihat betapa muka Ki Sentana kini telah berubah hitam yang
menjalar sampai ke leher dan kulit muka dan leher itu telah mulai rusak dan
membusuk!
Tejolaksono bergidik.
Alangkah jahatnya kuku iblis betina itu. Inilah agaknya ilmu hitam yang disebut
aji pukulan Wisakenaka (Kuku Beracun). Hawa beracun disalurkan melalui lengan
sampai ke kuku tangan dan sekali kuku itu menggurat, racun akan memasuki kulit,
menjalar sampai ke dalam jalan darah seperti gigitan ular yang paling berbisa!
Tejolaksono termenung, ia merasa kasihan kepada Ki Sentana ini. Ia dapat
menduga kini apa yang telah terjadi. Tentu Ki Sentana ini telah dipengaruhi
oleh segerombolan penjahat yang amat sakti. Mula-mula kepala dusun yang sudah
tua ini dipikat dengan kecantikan Sariwuni dan ia tidak menyalahkan Ki Sentana
kalau sampai jatuh hatinya. Memang wanita itu hebat dan cantik sekali.
Kemudian, melihat keadaan yang tidak wajar, tentu Ki Sentana ini jatuh di bawah
pengaruh ilmu hitam sehingga keadaannya seperti orang yang kehilangan kesadaran
atau pikiran. Dua orang puteranya tentu diculik dan tewas, isterinyapun tewas
dan kini dia sendiri karena tertawan dan mereka tidak menghendaki ia membuka
rahasia, ditewaskan pula. Seluruh keluarga Ki Sentana terbasmi habis! Dan semua
itu dilakukan dengan amat halus dan cerdiknya sehingga rakyat bahkan membela
mereka! Benar-benar amat luar biasa kali ini musuh-musuh Panjalu melakukan
penyerbuan ke daerah Panjalu. Bukan dengan kekerasan merampoki dusun-dusun
seperti yang dilakuka gerombolan Gagak Serayu, melainkan dengan halus, yaitu
mempengaruhi, menundukkan bahkan menculik para tokoh terkemuka di setiap dusun,
yang mau tunduk menjadi kaki tangan, yang tidak tunduk diculik dan lenyap,
diganti orang-orang yang mau bersekutu, kemudian melalui tokoh-tokoh yang
menjadi kaki tangan ini, rakyat dipengaruhi dan dibelokkan kepercayaan mereka
sehingga Agama Wishnu terdesak oleh agama baru yang memuja Shiwa, atau Bathari
Durga, tentulah perbuatan kaki tangan Kerajaan Cola dan Sriwijaya! Terbuktilah
kini ancaman yang dikeluarkan pendeta-pendeta Agama Buddha dan Shiwa dahulu itu
dan cocok pula dengan apa yang ia dengar dalam pertemuan antara Ki Tunggaljiwa
dengan Biku Janapati dan Wasi Bagaspati! Mengembangkan agama tidak dengan
kekerasan, menaklukkan negara tidak dengan perang, akan tetapi membersihkan
tokoh-tokoh yang menentang. Dan mengingat betapa baru kaki tangan mereka saja,
seperti Sariwuni dan dua orang laki-laki tinggi besar yang sanggup menahan
pukulan-pukulannya, Tejolaksono bergidik. Bahaya besar mengancam Kerajaan
Panjalu, bahaya yang datangnya dari barat dan utara, yang datang bagaikan air
banjir seperti yang ia lihat dalam samadhinya malam itu di Kadipaten
Selopenangkep. Teringat akan kadipaten yang ditinggalkannya, Tejolaksono
tersentak kaget. Musuh amat banyak, juga amat pandai dan sakti. Perjalanannya
meninggalkan kadipaten sudah diketahui musuh. Buktinya Sariwuni dapat tahu
siapa dia. Hal ini amatlah berbahaya. Bagaimana kalau kadipaten diserbu selagi
ia tidak ada? Seperti yang dilakukan Lima Gagak Serayu dahulu? Tejolaksono
cepat menggali lubang dan mengubur jenazah Ki Sentana. Kemudian malam itu juga
ia melanjutkan perjalanan dengan cepat, kini menuju ke Selopenangkep. Ketika
tiba di Selopenangkep, kota kadipaten tampak sunyi, akan tetapi hatinya lega
dan kagum menyaksikan penjagaan yang rapi dan kuat. Benar-benar bibi Roro
Luhito boleh diandalkan, pikirnya, karena ia tahu bahwa bibinya itulah yang
mengepalai penjagaan ini. Heran, apakah bibinya sudah tahu akan ancaman bahaya
besar sehingga Kadipaten Selopenangkep siap sedia dalam keadaan perang. Ataukah
Mundingyudo sudah kembali dari penyelidikannya?
Malam hari itu ia memasuki
Kadipaten Selopenangkep dan kembali ia girang dan kagum sekali ketika ia baru
saja meloncati tembok pintu gerbang dengan kecepatan Aji Bayu Sakti, dari
sebelah dalam muncul belasan orang penjaga yang tadinya bersembunyi dan barisan
tombak menghadangnya, diikuti bentakan keras,
"Berhenti!"
Akan tetapi para prajurit
itu terkejut dan girang mendapat kenyataan bahwa yang bayangannya berkelebat
mencurigakan itu ternyata adalah sang adipati sendiri. Mereka lalu memberi
hormat.
"Bagus! Teruskanlah
penjagaan kalian dengan waspada."
Sang adipati memuji lalu
melanjutkan perjalanan menuju ke gedung kadipaten. Kalau para penjaga itu dapat
melihat kedatangannya, berarti bahwa kadipaten tidak akan mudah kebobolan.
Memang baris pendam penting sekali untuk menghadapi penyerbuan diam-diam dari
orang-orang sakti yang memiliki kepandaian tinggi. Biarpun waktu itu sudah
malam, namun Roro Luhito, Ayu Candra, dan Pusporini menyambutnya dengan pakaian
ringkas dan dalam keadaan siap siaga, senjata tidak terlepas dari tangan. Jelas
nampak terbayang pada wajah tiga orang wanita ini, terutama wajah Ayu Candra,
betapa girang dan lega hati mereka melihat kembalinya Adipati Tejolaksono.
Dengan singkat Adipati Tejolaksono menceritakan pengalamannya dan tiga orang
wanita itu mendengarkan dengan mata terbelalak dan muka pucat. Mereka maklum
akan besarnya bahaya yang mengancam.
"Aku sudah menaruh curiga
ketika mendengar laporan Mundingyudo," kata Roro Luhito.
"Biarpun
pasukan-pasukan asing itu tidak melakukan penyerbuan, akan tetapi mereka amat
banyak dan melakukan gerakan mengurung Selopenangkep, karena itu aku segera
mengatur penjagaan sekuat-kuatnya."
"Memang keadaannya
gawat sekali, Kanjeng Bibi," kata Tejolaksono yang segera menyuruh panggil
Mundingyudo menghadap. Kepala pengawal Selopenangkep ini segera datang dan
menuturkan hasil penyelidikannya.
"Hamba melihat banyak
sekali pasukan campuran yang datang dari barat dan utara," demikian antara
lain laporan Mundingyudo.
"Biarpun mereka itu
tidak pernah menyerbu sebuah dusun, namun mereka amat mencurigakan. Bahkan
menurut penyelidikan anak buah hamba, terdapat pula orang-orang bekas
gerombolan Gagak Serayu, para penjahat dari Lembah Serayu, di antara pasukan.
Pimpinan mereka, yang dari utara adalah pedanda-pedanda (pendeta Buddha) dan
yang dan barat adalah pendeta-pendeta Agama Shiwa. Pasukan-pasukan kita tidak
menemui tentangan, akan tetapi mereka itu makin mendekati Selopenangkep dari
pelbagai jurusan, agaknya hendak mengurung. Hamba mohon keputusan paduka."
Tejolaksono mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengkhawatirkan keadaan
Selopenangkep, yang lebih ia khawatirkan adalah keselamatan Kerajaan Panjalu.
No comments:
Post a Comment