Tahu-tahu pintu kamar itu terbuka dan muncul pula Sariwuni. Tejolaksono yang masih duduk bersila di atas pembaringan, memandang dengan mata terbelalak. Wanita itu kini telah berubah jauh sekali. Kalau tadi hanya bersikap manis, kini sikapnya benar-benar keterlaluan. Menantang. Senyumnya masih manis memikat seperti tadi, matanya bersinar-sinar penuh daya tarik, rambutnya terurai lepas dan pakaian yang menutupi tubuhnya hanyalah sehelai tapih pinjung yang membungkus tubuh sampai ke dada kemudian bagian atasnya disuwelkan begitu saja di antara lekuk-lekuk dadanya. Begitu ia masuk, bau yang harum menyerbu kamar. Bau mawar yang segar, seakan-akan wanita itu baru mandi keramas air mawar? Kulit pundak dan lengan yang kuning langsat itu seperti lilin diraut, halus dan tipis sehingga membayangkan urat-urat yang halus berwarna kemerahan. Dengan lenggang lemah gemuiai, disertai pandang mata dan senyum malu-malu yang makin memperkuat daya pikat, Sariwuni bergerak memasuki kamar dan mendekati Tejolaksono. Bau harum bunga mawar makin memabukkan. Bau bunga mawar ini memang amat sedap dan kiranya tidak ada orang di dunia ini, terutama kalau ia laki-laki, yang tidak menyukainya.
"Raden, ...tentu engkau
merasa kesal menanti kembalinya paman dan bibi...., agaknya mereka besok pagi
kembali...biarlah saya menemani Raden malam ini di sini..." Suaranya
tersendat-sendat, dada itu bergelombang turun naik dan suwelan tapih itu
lama-lama tentu akan terlepas oleh gerakan dada. Tejolaksono adalah seorang laki-laki.
Pemandangan yang dihadapinya itu tentu saja amat menarik dan menggairahkan
karena diapun seorang pria yang sehat dan normal. Akan tetapi Adipati
Tejolaksono adalah seorang ksatria sejati. Keteguhan batinnya tidak mudah
tergoncang oleh pikatan dan bujuk rayu karena didasari keyakinan bahwa hal ini
adalah tidak benar! Dia memiliki harga diri yang tinggi, tidak sudi ia
melakukan pelanggaran susila yang akan menyeretnya turun ke lembah kehinaan.
Wanita ini adalah keponakan Ki Sentana dan ia sebagai seorang tamu, bagaimana
ia akan sudi mencemarkan kehormatan keluarga tuan rumah? Pula, ia dapat melihat
bahwa watak yang rendah sajalah yang dapat mendorong seorang wanita muda
seperti Sariwuni untuk bersikap tidak tahu malu seperti ini.
"Eh, perempuan! Di mana
kesusilaanmu? Mundurlah!" Bentaknya dengan muka menjadi merah. Akan tetapi
Sariwuni tidak menjadi takut, apalagi mundur. Ia berjebi sehingga bibir
bawahnya melebar, memperlihatkan bagian bibir yang sebelah dalam dan amat
merah.
"Duhai Raden, mengapa menolak
cinta kasih mesra yang kusodorkan kepadamu? Jangan khawatir, paman dan bibi
tidak ada, dan di rumah ini hanya ada kita berdua!" Tiba-tiba Sariwuni
sudah melangkah dekat dan kedua lengannya bergerak merangkul, suwelan tapihnya
tiba-tiba terlepas dan ia hendak mencium muka sang adipati,
"Perempuan tak tahu
malu! Pergilah!" Tejolaksono menggerakkan tangan kirinya mendorong pundak
Sariwuni. Tubuh wanita itu terdorong dan terlempar ke belakang.
Akan tetapi alangkah kaget
hati Tejolaksono ketika melihat wanita itu membuat gerakan jungkir balik ke
belakang sehingga tidak sampai roboh dan kini sudah berdiri dengan mata
terbelalak marah! Kedua tangan itu kini mengikatkan lagi ujung tapih yang
terlepas, mengikatnya erat-erat pada dadanya. Lenyaplah kini sikapnya yang
memikat, berganti pandang marah dan mulutnya cemberut. Lenyaplah wajah bidadari
terganti wajah iblis betina yang siap nenerkam korbannya! Setelah ikatan
kainnya erat betul-betul, wanita itu menggerakkan kedua lengannya dengan
gerakan aneh, membentuk lingkaran dan terdengar suara berkerotokan seolah-olah
kedua lengannya menjadi patah-patah. Dan perlahan-lahan kedua tangan itu, dari
ujung kuku sampai ke pergelangan tangan, berubah menjadi hitam. Pandang matanya
menjadi buas ketika ia memekik,
"Si keparat
Tejolaksono! Kau tidak suka mati dalam kenikmatan, biarlah kau mampus dalam
penderitaan!" Mendadak sekali wanita cantik itu menubruk maju, kedua
tangannya yang berkuku hitam itu mencengkeram ke arah muka dan perut.
Serangannya ini ganas dan cepat bukan main! Tejolaksono masih duduk bersila di
atas pembaringan. Dia tadi terlampau kaget dan heran menyaksikan perubahan ini,
apalagi mendengar namanya disebut. Akan tetapi ia maklum bahwa wanita ini bukan
orang sembarangan. Terjangannya amat kuat dan cepat, sepasang tangan yang
berkuku hitam itu dahsyat sekali. Iapun tahu bahwa aji pukulan ini mengandung
racun yang amat jahat. Bau harum kembang mawar kini lenyap tertutup bau wengur
seperti bau ular berbisa. Karena maklum bahwa sepuluh buah kuku hitam itu tidak
boleh menggurat kulitnya, ia lalu mengerahkan Ayi Pethit Nogo menyampok dari
samping.
"Plakkk ............
!!"
Sariwuni merintih perlahan
dan terdorong mundur terhuyung-huyung. Akan tetapi ia tidak roboh dan hal ini
saja membuktikan bahwa dia memang kuat dan berilmu tinggi. Tidak sembarang
orang dapat bertahan terhadap sampokan Pethit Nogo. Maka Tejolaksono berlaku
hati-hati dan sekali ia bergerak, tubuhnya sudah melompat turun, berdiri dan
hersiap sedia menanti serangan lawan, sikapnya tenang. Ia memandang tajam dan
bertanya dengan suara tegas,
"Perempuan, siapakah
gerangan engkau sesungguhnya? Tidak mungkin keponakan Paman Sentana!"
Tiba-tiba waita itu terkekeh
ketawa. Suara ketawanya berbeda dengan tadi. Kalau tadi halus merdu dan penuh
rayuan, kini seperti suara ketawa seekor kuntilanak.
“Hi-hi-hi-hi-hik…!”
"Wuni, keluarlah
engkau.....!" Tiba-tiba dari luar rumah itu terdengar suara laki-laki yang
besar dan parau.
Mendengar ini, kembali
Sariwuni terkekeh lalu tubuhnya berkelebat, ia sudah lenyap menerobos keluar
dari dalam kamar melalui pintu. Suara ketawanya masih terdengar sebentar,
kemudian suasana menjadi sunyi kembali. Adipati Tejolaksono tidak mengejar. Ia
seorang yang waspada. Ia maklum bahwa munculnya wanita itu memang sudah diatur
terlebih dahulu. Pihak musuh, entah siapa mereka, telah mengenalnya, telah tahu
akan kedatangannya dan sengaja menyuruh wanita iblis itu menjaga di pintu.
Agaknya tadinya mereka hendak menggunakan wanita cantik itu menjebaknya,
menggunakan kecantikannya. Ia bergidik kalau teringat. Andaikata batinnya tidak
teguh dan ia roboh oleh, rayuan dan kecantikan wajah dan tubuh wanita itu,
tentu ia benar-benar akan mati dalam kenikmatan seperti yang dikatakan Sariwuni
tadi! Andaikata ia meladeni rayuan Sariwuni, tentu ia akan dibunuhnya pula. Dan
alangkah mudahnya ia akan terbunuh kalau ia melayaninya berkasih asmara!
Sungguh berbahaya! Dan karena semua sudah diatur, maka ia yakin bahwa
musuh-musuhnya telah mengatur jebakan pula di luar rumah itu. Ia heran ke mana
perginya Ki Sentana? Apakah yang terjadi dengan kepala dusun itu dan
keluarganya? Ia merasa khawatir sekali karena di dusun-dusun lain banyak pula
terjadi hal aneh, yaitu lenyapnya kepala-kepala dusun tanpa meninggalkan bekas!
Ada pula yang kepala dusunnye masih ada, akan tetapi para pendeta dan pemimpin
agama yang lenyap tak meninggalkan bekas. Apakah Ki Sentana juga telah lenyap
pula? Dengan hati khawatir Tejolaksono lalu melompat keluar dari kamar itu
dengan sikap waspada dan seluruh urat syaraf di tubuhnya berada dalam keadaan
siap siaga menghadapi segala bahaya. Ia menyambar sebuah lampu di ruangan
tengah yang sunyi, terus ia berjalan memeriksa sampai ke belakang. Dan di
ruangan belakang, dekat dapur, ia melihat Nyi Sentana meringkuk di sudut dalam
keadaan terbelenggu! Selain terbelenggu, juga muka wanita tua ini matang biru
bekas pukulan dan cambukan, mulutnya tersumbat kain sehingga ia tidak mampu
bergerak atau bersuara, hanya sepasang matanya saja yang sayu penuh kedukaan
memandang terbelalak ketika Tejolaksono mendekatinya. Cepat Tejolaksono
berjongkok dan membuka ikatan tangan lalu membuang kain penyumbat mulut. Ia
membantu wanita tua itu bangun duduk. Nyi Sentana mengeluh dan memijit-mijit
kedua pilingan kepalanya, lalu mengurut-urut kedua pergelangan tangannya.
"Bibi....., apakah yang
terjadi, Bibi? Di mana Paman Sentana ....?”
"Aduh, Kanjeng Adipati
!!" Wanita itu menubruk kaki Tejolaksono dan menangis sesenggukan.
Beberapa kali ia membuka mulut hendak bicara, akan tetapi yang keluar hanyalah
isak dan sedu sedan. Tejolaksono membimbing wanita tua itu bangkit berdiri dan
menuntunnya duduk di atas balai-balai di dalam dapur. Diambilnya sebuah kendi
air di dalam dapur itu dan diberinya minum. Wanita itu dengan gemetar minum air
kendi dan berulang kali menghela napas panjang.
"Tenanglah, Bibi, dan
ceritakan kepadaku apa yang telah terjadi di dusun ini, apa yang terjadi dengan
keluargamu." Wanita itu terisak-isak, akan tetapi sekarang sudah dapat
mengatasi gelora hatinya yang penuh kedukaan dan kegelisahan.
"Aduh, Gusti Adipati
.... , malapetaka besar menimpa keluarga hamba, juga dusun ini .....!"
"Di manakah adanya
Paman Sentana, Bibi?"
"Entah ke mana dia
pergi, Gusti.... tadipun masih berada di sini..... ah, dia telah menjadi
seperti gila semenjak .....mereka datang“
"Mereka? Siapakah?
Siapa pula wanita yang bernama Sariwuni itu? Apakah benar dia
keponakanmu?"
Wanita itu menggeleng-geleng
kepala.
"Semenjak ... iblis
betina itu datang dan kawan-kawannya... ah, dusun ini berubah sama sekali,
rumah ini menjadi neraka bagi saya, ahhh..” Kembali ia menangis.
"Bibi, tenanglah dan
ceritakan yang jelas dari permulaan."
Wanita itu menghentikan
tangisnya, mengusap air mata, menarik napas panjang beberapa kali lalu
memandang celingukan ke kanan kiri seperti orang ketakutan. Kemudian ia
memegang tangan Tejolaksono dan berkata,
"Dua tiga bulan sudah
saya menahan kesengsaraan hati, tak berani membuka mulut karena diancam.
Sekarang, karena paduka sudah datang, baru hamba berani bercerita. Malapetaka
besar menimpa keluarga hamba. Mula-mula datang perempuan itu yang diambil selir
oleh Ki Sentana dan teman-teman perempuan itu seringkali datang bertemu. Mereka
seperti iblis semua."
"Akan tetapi.... Ki
Sentana sudah gila agaknya, tunduk di bawah kekuasaan wanita cantik seperti
iblis...”
"Sariwuni?"
"Benar, Gusti. Kedua
putera hamba menentang ayah mereka, akan tetapi mereka itu lenyap, entah ke
mana tak seorangpun mengetahuinya. Ki Sentana masih menjadi kepala dusun
seperti semula, akan tetapi semua kekuasaan berada di tangan iblis betina itu. Ki
Sentana hanya melakukan semua perintahnya. Dan hamba ... hamba tidak dibunuh
agaknya untuk mengelabui mata rakyat. Hamba menjadi ....satu-satunya pelayan di
rumah ini, yang lain-lain telah dikeluarkan. Ki Sentana seperti gila, rakyat
dianjurkan untuk menyembah Sang Hyang Shiwa dan Bathari Durga ......yang
menjadi pujaan wanita iblis itu. Hamba takut disiksa dan disumbat agar jangan
membuka suara, kemudian bahkan dilkat dan disumbat mulut hamba, karena mereka
tahu bahwa paduka akan datang .....dan ......“
Tiba-tiba Sang Adipati
Tejolaksono mendorong tubuh Nyi Sentana sampai terguling dan ia sendiri
melompat ke samping, menggerakkan tangannya memukul sehingga angin pukulannya
menderu dan memukul runtuh belasan batang anak panah. Akan tetapi ia mendengar
jerit lemah dan ketika ia memandang, ternyata leher Nyi Sentana telah tertembus
anak panah dan wanita tua itu berkelojotan sebentar kemudian tak bergerak lagi.
Tejolaksono maklum bahwa wanita Itu telah tewas dan ia tak dapat menolongnya
lagi. Kemarahan memenuhi dadanya dan pada saat itu terdengar suara ketawa
terkekeh-kekeh. Suara ketawa Sariwuni,
"Keparat jahanam!"
Tejolaksono membentak marah sekali dan tubuhnya sudah mencelat ke atas.
Demikian hebatnya ia mengerahkan tenaga dan menggunakan Aji Bayu Sakti sehingga
terdengar suara keras ketika tubuhnya yang mencelat ke atas dan jebollah atap
rumah berikut gentengnya! Kini tubuhnya sudah berada di atas genteng dan ia
berdiri tegak memandang ke bawah, ke arah luar rumah Ki Sentana. Ternyata di
depan rumah itu telah penuh dengan orang-orang yang menjadi anak buah Sariwuni
dan teman-temannya, maka ia memandang penuh perhatian. Inikah pasukan asing
yang kabarnya tidak pernah mengganggu dusun-dusun?
Akan tetapi alangkah
herannya ketika ia melihat bahwa orang-orang yang jumlahnya lima puluh lebih
itu ternyata adalah penduduk dusun Sumber. Dan di barisan depan, berdiri Ki
Sentana sendiri dengan sebatang tombak di tangan. Di kanannya berdiri Sariwuni,
kini sudah berpakaian lengkap dan ringkas, kelihatan cantik dan gagah, sebatang
pedang di tangan kanan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang. Ada pula
beberapa orang laki-laki tinggi besar yang ia tidak tahu siapa, entah penduduk
dusun entah orang lain.
"Tangkap penjahat
!"
"Tangkap pembunuh
....!!"
Penduduk dusun itu berteriak-teriak
dan mengacung-acungkan senjata dan obor ketika mereka melihat munculnya
Tejolaksono di atas genteng. Mereka tadinya mengepung rumah itu dan menanti
munculnya penjahat ini dari pintu, siapa kira tahu-tahu telah berada di atas
genteng. Tejolaksono lalu melompat ke wuwungan paling depan, sehingga ia berada
di atas sekumpulan penduduk dusun di bawah dan mereka semua dapat melihatnya
dengan penerangan obor yang amat banyak itu.
No comments:
Post a Comment