Perawan Lembah Wilis; Bagian 047


Tahu-tahu pintu kamar itu terbuka dan muncul pula Sariwuni. Tejolaksono yang masih duduk bersila di atas pembaringan, memandang dengan mata terbelalak. Wanita itu kini telah berubah jauh sekali. Kalau tadi hanya bersikap manis, kini sikapnya benar-benar keterlaluan. Menantang. Senyumnya masih manis memikat seperti tadi, matanya bersinar-sinar penuh daya tarik, rambutnya terurai lepas dan pakaian yang menutupi tubuhnya hanyalah sehelai tapih pinjung yang membungkus tubuh sampai ke dada kemudian bagian atasnya disuwelkan begitu saja di antara lekuk-lekuk dadanya. Begitu ia masuk, bau yang harum menyerbu kamar. Bau mawar yang segar, seakan-akan wanita itu baru mandi keramas air mawar? Kulit pundak dan lengan yang kuning langsat itu seperti lilin diraut, halus dan tipis sehingga membayangkan urat-urat yang halus berwarna kemerahan. Dengan lenggang lemah gemuiai, disertai pandang mata dan senyum malu-malu yang makin memperkuat daya pikat, Sariwuni bergerak memasuki kamar dan mendekati Tejolaksono. Bau harum bunga mawar makin memabukkan. Bau bunga mawar ini memang amat sedap dan kiranya tidak ada orang di dunia ini, terutama kalau ia laki-laki, yang tidak menyukainya.
"Raden, ...tentu engkau merasa kesal menanti kembalinya paman dan bibi...., agaknya mereka besok pagi kembali...biarlah saya menemani Raden malam ini di sini..." Suaranya tersendat-sendat, dada itu bergelombang turun naik dan suwelan tapih itu lama-lama tentu akan terlepas oleh gerakan dada. Tejolaksono adalah seorang laki-laki. Pemandangan yang dihadapinya itu tentu saja amat menarik dan menggairahkan karena diapun seorang pria yang sehat dan normal. Akan tetapi Adipati Tejolaksono adalah seorang ksatria sejati. Keteguhan batinnya tidak mudah tergoncang oleh pikatan dan bujuk rayu karena didasari keyakinan bahwa hal ini adalah tidak benar! Dia memiliki harga diri yang tinggi, tidak sudi ia melakukan pelanggaran susila yang akan menyeretnya turun ke lembah kehinaan. Wanita ini adalah keponakan Ki Sentana dan ia sebagai seorang tamu, bagaimana ia akan sudi mencemarkan kehormatan keluarga tuan rumah? Pula, ia dapat melihat bahwa watak yang rendah sajalah yang dapat mendorong seorang wanita muda seperti Sariwuni untuk bersikap tidak tahu malu seperti ini.
"Eh, perempuan! Di mana kesusilaanmu? Mundurlah!" Bentaknya dengan muka menjadi merah. Akan tetapi Sariwuni tidak menjadi takut, apalagi mundur. Ia berjebi sehingga bibir bawahnya melebar, memperlihatkan bagian bibir yang sebelah dalam dan amat merah.
"Duhai Raden, mengapa menolak cinta kasih mesra yang kusodorkan kepadamu? Jangan khawatir, paman dan bibi tidak ada, dan di rumah ini hanya ada kita berdua!" Tiba-tiba Sariwuni sudah melangkah dekat dan kedua lengannya bergerak merangkul, suwelan tapihnya tiba-tiba terlepas dan ia hendak mencium muka sang adipati,
"Perempuan tak tahu malu! Pergilah!" Tejolaksono menggerakkan tangan kirinya mendorong pundak Sariwuni. Tubuh wanita itu terdorong dan terlempar ke belakang.

Akan tetapi alangkah kaget hati Tejolaksono ketika melihat wanita itu membuat gerakan jungkir balik ke belakang sehingga tidak sampai roboh dan kini sudah berdiri dengan mata terbelalak marah! Kedua tangan itu kini mengikatkan lagi ujung tapih yang terlepas, mengikatnya erat-erat pada dadanya. Lenyaplah kini sikapnya yang memikat, berganti pandang marah dan mulutnya cemberut. Lenyaplah wajah bidadari terganti wajah iblis betina yang siap nenerkam korbannya! Setelah ikatan kainnya erat betul-betul, wanita itu menggerakkan kedua lengannya dengan gerakan aneh, membentuk lingkaran dan terdengar suara berkerotokan seolah-olah kedua lengannya menjadi patah-patah. Dan perlahan-lahan kedua tangan itu, dari ujung kuku sampai ke pergelangan tangan, berubah menjadi hitam. Pandang matanya menjadi buas ketika ia memekik,
"Si keparat Tejolaksono! Kau tidak suka mati dalam kenikmatan, biarlah kau mampus dalam penderitaan!" Mendadak sekali wanita cantik itu menubruk maju, kedua tangannya yang berkuku hitam itu mencengkeram ke arah muka dan perut. Serangannya ini ganas dan cepat bukan main! Tejolaksono masih duduk bersila di atas pembaringan. Dia tadi terlampau kaget dan heran menyaksikan perubahan ini, apalagi mendengar namanya disebut. Akan tetapi ia maklum bahwa wanita ini bukan orang sembarangan. Terjangannya amat kuat dan cepat, sepasang tangan yang berkuku hitam itu dahsyat sekali. Iapun tahu bahwa aji pukulan ini mengandung racun yang amat jahat. Bau harum kembang mawar kini lenyap tertutup bau wengur seperti bau ular berbisa. Karena maklum bahwa sepuluh buah kuku hitam itu tidak boleh menggurat kulitnya, ia lalu mengerahkan Ayi Pethit Nogo menyampok dari samping.
"Plakkk ............ !!"
Sariwuni merintih perlahan dan terdorong mundur terhuyung-huyung. Akan tetapi ia tidak roboh dan hal ini saja membuktikan bahwa dia memang kuat dan berilmu tinggi. Tidak sembarang orang dapat bertahan terhadap sampokan Pethit Nogo. Maka Tejolaksono berlaku hati-hati dan sekali ia bergerak, tubuhnya sudah melompat turun, berdiri dan hersiap sedia menanti serangan lawan, sikapnya tenang. Ia memandang tajam dan bertanya dengan suara tegas,
"Perempuan, siapakah gerangan engkau sesungguhnya? Tidak mungkin keponakan Paman Sentana!"
Tiba-tiba waita itu terkekeh ketawa. Suara ketawanya berbeda dengan tadi. Kalau tadi halus merdu dan penuh rayuan, kini seperti suara ketawa seekor kuntilanak.
“Hi-hi-hi-hi-hik…!”
"Wuni, keluarlah engkau.....!" Tiba-tiba dari luar rumah itu terdengar suara laki-laki yang besar dan parau.

Mendengar ini, kembali Sariwuni terkekeh lalu tubuhnya berkelebat, ia sudah lenyap menerobos keluar dari dalam kamar melalui pintu. Suara ketawanya masih terdengar sebentar, kemudian suasana menjadi sunyi kembali. Adipati Tejolaksono tidak mengejar. Ia seorang yang waspada. Ia maklum bahwa munculnya wanita itu memang sudah diatur terlebih dahulu. Pihak musuh, entah siapa mereka, telah mengenalnya, telah tahu akan kedatangannya dan sengaja menyuruh wanita iblis itu menjaga di pintu. Agaknya tadinya mereka hendak menggunakan wanita cantik itu menjebaknya, menggunakan kecantikannya. Ia bergidik kalau teringat. Andaikata batinnya tidak teguh dan ia roboh oleh, rayuan dan kecantikan wajah dan tubuh wanita itu, tentu ia benar-benar akan mati dalam kenikmatan seperti yang dikatakan Sariwuni tadi! Andaikata ia meladeni rayuan Sariwuni, tentu ia akan dibunuhnya pula. Dan alangkah mudahnya ia akan terbunuh kalau ia melayaninya berkasih asmara! Sungguh berbahaya! Dan karena semua sudah diatur, maka ia yakin bahwa musuh-musuhnya telah mengatur jebakan pula di luar rumah itu. Ia heran ke mana perginya Ki Sentana? Apakah yang terjadi dengan kepala dusun itu dan keluarganya? Ia merasa khawatir sekali karena di dusun-dusun lain banyak pula terjadi hal aneh, yaitu lenyapnya kepala-kepala dusun tanpa meninggalkan bekas! Ada pula yang kepala dusunnye masih ada, akan tetapi para pendeta dan pemimpin agama yang lenyap tak meninggalkan bekas. Apakah Ki Sentana juga telah lenyap pula? Dengan hati khawatir Tejolaksono lalu melompat keluar dari kamar itu dengan sikap waspada dan seluruh urat syaraf di tubuhnya berada dalam keadaan siap siaga menghadapi segala bahaya. Ia menyambar sebuah lampu di ruangan tengah yang sunyi, terus ia berjalan memeriksa sampai ke belakang. Dan di ruangan belakang, dekat dapur, ia melihat Nyi Sentana meringkuk di sudut dalam keadaan terbelenggu! Selain terbelenggu, juga muka wanita tua ini matang biru bekas pukulan dan cambukan, mulutnya tersumbat kain sehingga ia tidak mampu bergerak atau bersuara, hanya sepasang matanya saja yang sayu penuh kedukaan memandang terbelalak ketika Tejolaksono mendekatinya. Cepat Tejolaksono berjongkok dan membuka ikatan tangan lalu membuang kain penyumbat mulut. Ia membantu wanita tua itu bangun duduk. Nyi Sentana mengeluh dan memijit-mijit kedua pilingan kepalanya, lalu mengurut-urut kedua pergelangan tangannya.
"Bibi....., apakah yang terjadi, Bibi? Di mana Paman Sentana ....?”
"Aduh, Kanjeng Adipati !!" Wanita itu menubruk kaki Tejolaksono dan menangis sesenggukan. Beberapa kali ia membuka mulut hendak bicara, akan tetapi yang keluar hanyalah isak dan sedu sedan. Tejolaksono membimbing wanita tua itu bangkit berdiri dan menuntunnya duduk di atas balai-balai di dalam dapur. Diambilnya sebuah kendi air di dalam dapur itu dan diberinya minum. Wanita itu dengan gemetar minum air kendi dan berulang kali menghela napas panjang.
"Tenanglah, Bibi, dan ceritakan kepadaku apa yang telah terjadi di dusun ini, apa yang terjadi dengan keluargamu." Wanita itu terisak-isak, akan tetapi sekarang sudah dapat mengatasi gelora hatinya yang penuh kedukaan dan kegelisahan.
"Aduh, Gusti Adipati .... , malapetaka besar menimpa keluarga hamba, juga dusun ini .....!"
"Di manakah adanya Paman Sentana, Bibi?"
"Entah ke mana dia pergi, Gusti.... tadipun masih berada di sini..... ah, dia telah menjadi seperti gila semenjak .....mereka datang“
"Mereka? Siapakah? Siapa pula wanita yang bernama Sariwuni itu? Apakah benar dia keponakanmu?"
Wanita itu menggeleng-geleng kepala.
"Semenjak ... iblis betina itu datang dan kawan-kawannya... ah, dusun ini berubah sama sekali, rumah ini menjadi neraka bagi saya, ahhh..” Kembali ia menangis.
"Bibi, tenanglah dan ceritakan yang jelas dari permulaan."
Wanita itu menghentikan tangisnya, mengusap air mata, menarik napas panjang beberapa kali lalu memandang celingukan ke kanan kiri seperti orang ketakutan. Kemudian ia memegang tangan Tejolaksono dan berkata,
"Dua tiga bulan sudah saya menahan kesengsaraan hati, tak berani membuka mulut karena diancam. Sekarang, karena paduka sudah datang, baru hamba berani bercerita. Malapetaka besar menimpa keluarga hamba. Mula-mula datang perempuan itu yang diambil selir oleh Ki Sentana dan teman-teman perempuan itu seringkali datang bertemu. Mereka seperti iblis semua."
"Akan tetapi.... Ki Sentana sudah gila agaknya, tunduk di bawah kekuasaan wanita cantik seperti iblis...”
"Sariwuni?"
"Benar, Gusti. Kedua putera hamba menentang ayah mereka, akan tetapi mereka itu lenyap, entah ke mana tak seorangpun mengetahuinya. Ki Sentana masih menjadi kepala dusun seperti semula, akan tetapi semua kekuasaan berada di tangan iblis betina itu. Ki Sentana hanya melakukan semua perintahnya. Dan hamba ... hamba tidak dibunuh agaknya untuk mengelabui mata rakyat. Hamba menjadi ....satu-satunya pelayan di rumah ini, yang lain-lain telah dikeluarkan. Ki Sentana seperti gila, rakyat dianjurkan untuk menyembah Sang Hyang Shiwa dan Bathari Durga ......yang menjadi pujaan wanita iblis itu. Hamba takut disiksa dan disumbat agar jangan membuka suara, kemudian bahkan dilkat dan disumbat mulut hamba, karena mereka tahu bahwa paduka akan datang .....dan ......“
Tiba-tiba Sang Adipati Tejolaksono mendorong tubuh Nyi Sentana sampai terguling dan ia sendiri melompat ke samping, menggerakkan tangannya memukul sehingga angin pukulannya menderu dan memukul runtuh belasan batang anak panah. Akan tetapi ia mendengar jerit lemah dan ketika ia memandang, ternyata leher Nyi Sentana telah tertembus anak panah dan wanita tua itu berkelojotan sebentar kemudian tak bergerak lagi. Tejolaksono maklum bahwa wanita Itu telah tewas dan ia tak dapat menolongnya lagi. Kemarahan memenuhi dadanya dan pada saat itu terdengar suara ketawa terkekeh-kekeh. Suara ketawa Sariwuni,
"Keparat jahanam!" Tejolaksono membentak marah sekali dan tubuhnya sudah mencelat ke atas. Demikian hebatnya ia mengerahkan tenaga dan menggunakan Aji Bayu Sakti sehingga terdengar suara keras ketika tubuhnya yang mencelat ke atas dan jebollah atap rumah berikut gentengnya! Kini tubuhnya sudah berada di atas genteng dan ia berdiri tegak memandang ke bawah, ke arah luar rumah Ki Sentana. Ternyata di depan rumah itu telah penuh dengan orang-orang yang menjadi anak buah Sariwuni dan teman-temannya, maka ia memandang penuh perhatian. Inikah pasukan asing yang kabarnya tidak pernah mengganggu dusun-dusun?

Akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat bahwa orang-orang yang jumlahnya lima puluh lebih itu ternyata adalah penduduk dusun Sumber. Dan di barisan depan, berdiri Ki Sentana sendiri dengan sebatang tombak di tangan. Di kanannya berdiri Sariwuni, kini sudah berpakaian lengkap dan ringkas, kelihatan cantik dan gagah, sebatang pedang di tangan kanan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang. Ada pula beberapa orang laki-laki tinggi besar yang ia tidak tahu siapa, entah penduduk dusun entah orang lain.
"Tangkap penjahat !"
"Tangkap pembunuh ....!!"
Penduduk dusun itu berteriak-teriak dan mengacung-acungkan senjata dan obor ketika mereka melihat munculnya Tejolaksono di atas genteng. Mereka tadinya mengepung rumah itu dan menanti munculnya penjahat ini dari pintu, siapa kira tahu-tahu telah berada di atas genteng. Tejolaksono lalu melompat ke wuwungan paling depan, sehingga ia berada di atas sekumpulan penduduk dusun di bawah dan mereka semua dapat melihatnya dengan penerangan obor yang amat banyak itu.

<<< Bagian 046                                                                                   Bagian 048 >>>

No comments:

Post a Comment