Perawan Lembah Wilis; Bagian 046


Alangkah herannya ketika menghadap, sang adipati memerintahkan dia membawa pasukan dan berangkat malam itu juga keluar dari kadipaten, membagi pasukan dan melakukan penyelidikan ke barat dan utara.
"Bawa separuh pasukan keluar dan bagi menjadi dua, selidiki keluar kadipaten bagian barat dan utara. Separuh pasukan tinggalkan menjaga kadipaten, perkuat penjagaan dan perketat kewaspadaan. Kau sendiri pimpinlah pasukan yang bertugas keluar, kakang Mundingyudo, dan selidikilah desas-desus tentang gerakan pasukan asing di barat dan di utara itu. Kalau bertemu dengan pasukan-pasukan itu, jangan sekali-kali turun tangan menggempur mereka sebelum mengetahui apa kehendak mereka. Kemudian kirim laporan kepadaku tentang penyelidikanmu."
Maka ributlah para prajurit Kadipaten Selopenangkep karena pada tengah malam itu mereka semua diperintah untuk bangun dan bersiap-siap. Kepala pasukan Raden Mundingyudo segera membagi-bagi tugas dengan para bawahannya dan setelah berunding secara singkat, berangkatlah pasukan-pasukan Selopenangkep ini keluar dari kota kadipaten dan seperti rombongan semut pindah tempat mereka terpecah menjadi dua bagian, sebagian ke barat dan sebagian lagi ke utara. Pasukan-pasukan yang tertinggal di kadipaten memperkuat penjagaan dan kewaspadaan sesuai dengan perintah sang adipati melalui Raden Mundingyudo. Semua persiapan bahkan sampai pemberangkatan pasukan keluar kadipaten, dilangsungkan dengan rapi dan tidak sampai diketahui para penduduk sehingga tidak menimbulkan kepanikan.

Adipati Tejolaksono sendiri lalu mengajak isterinya pergi menghadap Roro Luhito di bagian belakang kadipaten kemudian sang adipati menceritakan tentang perasaannya yang tidak enak.
"Pergerakan pasukan-pasukan asing itu amat mencurigakan, Bibi. Karena itu malam ini juga saya sendiri akan pergi melakukan penyelidikan. Harap Kanjeng Bibi dan Ayu Candra bersikap waspada memimpin pasukan yang melakukan penjagaan di kadipaten."
"Jangan khawatir, Ananda Adipati. Memang seyogianya dilakukan penyelidikan sendiri. Setelah apa yang Ananda saksikan ketika terjadi pertemuan di puncak Merapi, desas-desus tentang pasukan-pasukan asing itu harus dicurigai. Tentang kadipaten, cukup berada di tanganku dan isterimu Ayu Candra. Juga Pusporini sekarang bukan kanak-kanak lagi, tenaganya dapat kita pergunakan untuk memperkuat penjagaan kadipaten" demikian kata Roro Luhito yang biarpun usianya sudah lima puluh tahun lebih, hampir lima puluh dua tahun, namun semangatnya masih besar dan ketangkasannya tidak banyak berkurang. Setelah meninggalkan pesan kepada isterinya agar berhati-hati menjaga kadipaten, dan mengatakan bahwa penyelidikannya tidak akan lebih daripada sepekan lamanya, Tejolaksono malam itu juga menyusul keberangkatan pasukan-pasukan yang dipimpin oleh Raden Mundingyudo dan teman-temannya. Karena ia ingin agar penyelidikannya dapat dilakukan dengan leluasa, maka Adipati Tejolakspno mengganti pakaiannya dengan pakaian petani biasa dan ia berangkat dengan jalan kaki saja. Namun, kiranya jika ia berkuda, tidak akan secepat perjalanannya sekarang karena ia mempergunakan Aji Bayu Sakti sehingga tubuhnya berkelebat cepat sekali bagaikan burung terbang sehingga dalam waktu singkat ia telah melampaui pasukannya yang menuju ke barat. Kalau Mundingyudo ia perintahkan menyelidiki keadaan dan gerak-gerik pasukan asing yang kabarnya bergerak di daerah barat dan utara, adalah dia sendiri ingin menyelidiki keadaan rakyat di dusun-dusun, ingin melihat apakah terjadi sesuatu di dalam tata kehidupan rakyat pedesaan, terutama sekali tentang kehidupan budaya dan kepercayaan agama, karena sang adipati khawatir kalau-kalau rakyat akan dipaksa dalam hal ini oleh kekuatan-kekuatan asing. Dalam penyamarannya sebagai seorang petani sederhana, dengan mudah Tejolaksono dapat masuk keluar dusun-dusun tanpa ada yang mengenalnya. Dan apa yang disaksikan membuat ia terkejut bukan main. Memang, pada lahirnya, tidak terjadi sesuatu yang menghebohkan di dalam dusun-dusun itu dan keadaan rakyatnya tampak senang dan
tata tenteram kerta raharja. Akan tetapi sesungguhnya telah terjadi perubahan yang hebat. Di dalam beberapa buah dusun ia melihat telah didirikan wihara-wihara dan candi dan sebagian besar penduduk dusun sudah menukar pujaan mereka. Di sebuah dusun, penduduknya mulai menukar pujaan menjadi pemeluk Agama Buddha, dan di lain dusun memuja Sang Hyang Shiwa. Akan tetapi karena ia tidak melihat kekerasan atau paksaan dalam hal pengembangan kedua agama itu, ia tidak dapat berbuat sesuatu. Hanya ia melihat gejala-gejala aneh dalam penukaran pujaan ini, yaitu lenyapnya para pendeta pemuja Sang Hyang Wishnu dan digantinya kepala-kepala dusun oleh pemuja Sang Hyang Shiwa atau yang beragama Buddha! Di samping itu, rakyat tertarik berganti pujaan karena kegaiban-kegaiban yang didemonstrasikan oleh pendeta-pendeta pembawa agama baru itu.

Adipati Tejolaksono lalu mendatangi Dusun Sumber karena ia mengenal baik kepala dusun di situ. Bahkan dia sendiri yang mengangkat Ki Sentana menjadi kepala dusun Sumber. Ia tahu benar bahwa Ki Sentana adalah seorang pemeluk atau pemuja Sang Hyang Wishnu yang patuh, seorang bekas prajurit Panjalu yang setia. Ia mengharapkan keterangan yang jelas dari bawahannya itu tentang segala rahasia yang kini mencengkeram dusun-dusun di sebelah barat Selopenangkep. Ia memasuki dusun Sumber di waktu senja dan langsung mendatangi rumah kepala dusun. Rumah itu sunyi dan gelap, bahkan di ruangan depan tidak ada meja kursinya, juga pekarangan depannya kotor sekali, tidak terpelihara. Tejolaksono memasuki halaman yang penuh dengan daun kering, terus maju memasuki ruangan depan, memandang ke arah pintu yang terbuka separuh sambil berseru,
"Kulonuwun ....”
Tidak ada jawaban, akan tetapi telinganya yang tajam mendengar suara langkah kaki dari dalam rumah itu. Langkah kaki wanita, pikirnya, karena langkah itu halus perlahan, ia menanti dengan hati berdebar. Ada sesuatu yang tidak wajar dalam rumah Ki Sentana ini, pikirnya. Mengapa begini sunyi dan gelap? Mengapa rumah kepala dusun begini kotor tidak terawat? Sinar terang tampak dari dalam dan tak lama kemudian muncullah wanita, yang langkah kakinya terdengar oleh Tejolaksono. Wanita yang masih muda, kurang lebih dua puluh lima tahun usianya. Wanita yang cantik dengan sepasang mata yang bersinar tajam dan kerling serta tarikan mulutnya genit sekali. Wanita ini melangkah keluar dengan lenggang menarik, membawa sebuah lampu kecil. Begitu muncul dari pintu dan berhadapan dengan Tejolaksono, ia memandang penuh selidik dan pandang mata itu menjadi manis sekali, diikuti senyumnya memikat dan malu-malu. Biarpun wanita itu tidak berkata sesuatu, namun pandang matanya penuh pertanyaan dan Tejolaksono cepat memperkenalkan diri tanpa menyebut namanya,
"Maafkan kalau saya menganggu. Saya mohon berjumpa dengan Paman Sentana lurah dusun ini."
"Oohhh, sungguh tidak kebetulan sekali. Paman Sentana sedang tidak berada di rumah." Suara wanita itu halus dan merdu seperti suara seorang waranggana, dan di waktu bicara, bibirnya bergerak memikat dan tampak giginya yang putih rata menggigit-gigit bibir bawah menyeling kata-katanya. Bibir yang penuh basah dan bergerak seperti itu, gigitan bibir, dagu yang kadang-kadang menggeser ke kanan kiri, kerling yang tajam menyambar, semua itu membayangkan kegenitan yang memikat sehingga Tejolaksono terheran-heran dan menduga-duga siapa gerangan wanita ini. Ia tahu bahwa Ki Sentana yang sudah tua tidak mempunyai puteri, hanya ada dua orang puteranya yang lima tahun lalu masih perjaka. Apakah wanita ini seorang di antara menantunya?
"Kalau bibi ... adakah ......?" tanyanya agak gugup, karena memang merasa canggung sekali dan tidak terduga-duga bahwa kedatangannya akan disambut seorang wanita muda yang selain cantik jelita juga jelas memperlihatkan sikap genit memikat!
Wanita itu menahan senyum, bibir bawah agak berjebi dan menggeleng kepala.
"Sayang sekali, bibi juga pergi bersama Paman Sentana."
Makin tidak enak rasa hati Tejolaksono melihat bibir yang berjebi sehingga tampak penuh dan merah itu serta mata yang makin menantang.
"Kalau begitu, biarlah lain kali saya datang lagi .......“
Ia sudah hendak memutar tubuh ketika wanita itu berkata,
"Aehh, nanti dulu harap jangan tergesa-gesa pergi. Saya bukanlah orang lain, melainkan keponakan Paman Sentana, namaku Sariwuni. Lebih baik andika menanti di sini sebentar, karena malam ini paman dan bibi akan pulang. Paman dan bibi tentu marah sekali kepada saya kalau mendengar bahwa ada tamu datang tidak saya persilahkan menunggu. Silahkan masuk, Raden ..... kamar tamu di sebelah kiri ini kosong. Harap suka menanti sebentar, tidak lama lagi paman dan bibi tentu akan pulang."

Lenyap keraguan hati Tejolaksono. Hemm, kiranya anak keponakan Ki Sentana. Heran dia bahwa Ki Sentana mempunyai seorang anak keponakan yang secantik dan segenit ini! Tidak apalah ia menanti sebentar, karena ia ingin sekali bicara dengan Ki Sentana. Pula, kalau ia tidak mau menanti, ke manakah ia akan mencari keterangan? Tanpa berkata sesuatu ia lalu menganggukkan kepala dan memasuki rumah itu, terus memasuki sebuah kamar yang cukup bersih namun sederhana di sebelah kiri ruangan depan. Wanita yang bernama Sariwuni itu meninggalkan pelitanya dalam kamar, lalu berkata manis,
"Silahkan Raden beristirahat sambil menanti."
Berdebar hati Tejolaksono. Baru sekarang ia melihat kejanggalan itu. Sudah dua kali Sariwuni menyebutnya "raden"! Tentu saja hal ini janggal dan aneh sekali! Biarpun ia seorang adipati, akan tetapi pada saat itu ia menyamar sebagai seorang petani sederhana dan wanita ini tidak mengenal siapa dia. Mengapa menyebut raden? Hatinya tidak enak, akan tetapi wanita itu sudah melangkah keluar dari pintu kamarnya. Jelas tampak sepasang buah pinggul wanita itu bergoyang turun naik karena langkahnya yang sengaja dibuat-buat melenggang-lenggok. Ah, kalau tidak sudah terlanjur memasuki kamar tamu, dan kalau tidak amat penting baginya menemui Ki Sentana, tentu ia tidak suka berada di sini. Ada sesuatu yang aneh pada diri wanita itu, seperti anehnya keadaan di rumah Ki Sentana ini yang sunyi dan tidak seperti dahulu.
Tejolaksono duduk di atas pembaringan di dalam kamar itu, pembaringan terbuat dari kayu jati. Ia termenung dan mengharapkan kedatangan Ki Sentana dengan cepat. Akan tetapi ketika terdengar langkah kaki, ia tahu bahwa yang mendatangi kamarnya kembali adalah wanita cantik itu. Ia tetap duduk dan mengangkat muka memandang ke arah pintu. Benar saja, Sariwuni yang muncul di pintu kamar, kini kedua tangannya membawa sebuah penampan (baki) berisi nasi panas, lauk-pauk dan kendi air. Sambil tersenyum dan dengan wajah berseri-seri mata bersinar-sinar, Sariwuni menurunkan penampan dan mengatur hidangan itu di atas meja dalam kamar, dan berkata, suaranya halus,
"Raden, silahkan dahar seadanya." Sambil berkata demikian, Sariwuni dengan gerakan yang luwes menuangkan air ke dalam kobokan, kemudian memandang wajah Tejolaksono, tersenyum dan matanya menunduk seperti malu-malu dan mengundurkan diri.
"Nanti dulu ...!” Tejolaksono berkata dan Sariwuni berhenti melangkah lalu membalikkan tubuhnya yang ramping, memandang dengan alis terangkat. Manis sekali sikap dan wajahnya.
"Apakah yang dapat saya lakukan untukmu, Raden?"
"Tahukah engkau ke mana perginya paman dan bibi? Hari telah menjadi malam dan mereka belum juga pulang." Dengan gerakan kenes wanita itu mengangkat kedua pundaknya dan kembali giginya tampak berkilau terkena sinar api pelita ketika ia membuka bibir.
"Saya tidak tahu ke mana, Raden. Akan tetapi paman tadi berkata bahwa tidak akan lama pergi dan malam ini pasti pulang."
Tejolaksono mengangguk-angguk dan ketika wanita itu hendak membalikkan tubuh lagi ia berkata,
"Eh, Sariwuni, mengapa engkau menyebut aku raden? Aku hanya seorang petani kenalan Paman Sentana ....“
Sariwuni tertwa dan menutupi mulut dengan tangan kirinya. Kembali gerakan ini amat manis dan kenes, gerakan wanita yang tahu akan kebiasaan puteri-puteri bangsawan dan tidak seperti biasanya seorang perawan dusun yang polos dan jujur.
"Hi-hik .....seorang petani tidak bicara sehalus bicaramu, Raden. Juga kaki tangannya tidak sehalus kaki tanganmu, kulitnya tidak seputih dan sebersih kulitmu. Selain itu, wajah seorang petani .... eh, tidak setampan ...." Wanita itu tidak melanjutkan kata-katanya, lalu membalikkan tubuh dan setengah berlari keluar kamar meninggalkan suara ketawa ditahan.

Tejolaksono termangu, mengerutkan keningnya kemudIan karena memang perutnya sudah lapar dan mulutnya haus, ia minum air dari kendi, mencuci tangan dan makan nasi putih yang pulen ditemani lauk-pauk yang cukup sedap. Selesai makan, ia mencuci tangan, membersihkan kakinya lalu naik ke pembaringan, duduk bersila menanti kedatangan Ki Lurah Sentana. Akan tetapi sampai lama dan jauh malam, belum juga tuan rumah yang dinanti-nantinya itu datang. Tejolaksono menjadi hilang sabar. Akan tetapi ketika ia hendak turun dari pembaringan untuk menyelidiki hal ini, tiba-tiba pintu kamarnya itu terbuka dari luar. Ia terkejut karena kali ini ia tidak mendengar langkah kaki.

<<< Bagian 045                                                                                    Bagian 047 >>>

No comments:

Post a Comment