Alangkah herannya ketika menghadap, sang adipati memerintahkan dia membawa pasukan dan berangkat malam itu juga keluar dari kadipaten, membagi pasukan dan melakukan penyelidikan ke barat dan utara.
"Bawa separuh pasukan keluar
dan bagi menjadi dua, selidiki keluar kadipaten bagian barat dan utara. Separuh
pasukan tinggalkan menjaga kadipaten, perkuat penjagaan dan perketat
kewaspadaan. Kau sendiri pimpinlah pasukan yang bertugas keluar, kakang
Mundingyudo, dan selidikilah desas-desus tentang gerakan pasukan asing di barat
dan di utara itu. Kalau bertemu dengan pasukan-pasukan itu, jangan sekali-kali
turun tangan menggempur mereka sebelum mengetahui apa kehendak mereka. Kemudian
kirim laporan kepadaku tentang penyelidikanmu."
Maka ributlah para prajurit
Kadipaten Selopenangkep karena pada tengah malam itu mereka semua diperintah
untuk bangun dan bersiap-siap. Kepala pasukan Raden Mundingyudo segera
membagi-bagi tugas dengan para bawahannya dan setelah berunding secara singkat,
berangkatlah pasukan-pasukan Selopenangkep ini keluar dari kota kadipaten dan
seperti rombongan semut pindah tempat mereka terpecah menjadi dua bagian,
sebagian ke barat dan sebagian lagi ke utara. Pasukan-pasukan yang tertinggal
di kadipaten memperkuat penjagaan dan kewaspadaan sesuai dengan perintah sang
adipati melalui Raden Mundingyudo. Semua persiapan bahkan sampai pemberangkatan
pasukan keluar kadipaten, dilangsungkan dengan rapi dan tidak sampai diketahui
para penduduk sehingga tidak menimbulkan kepanikan.
Adipati Tejolaksono sendiri
lalu mengajak isterinya pergi menghadap Roro Luhito di bagian belakang
kadipaten kemudian sang adipati menceritakan tentang perasaannya yang tidak
enak.
"Pergerakan
pasukan-pasukan asing itu amat mencurigakan, Bibi. Karena itu malam ini juga
saya sendiri akan pergi melakukan penyelidikan. Harap Kanjeng Bibi dan Ayu
Candra bersikap waspada memimpin pasukan yang melakukan penjagaan di
kadipaten."
"Jangan khawatir,
Ananda Adipati. Memang seyogianya dilakukan penyelidikan sendiri. Setelah apa
yang Ananda saksikan ketika terjadi pertemuan di puncak Merapi, desas-desus
tentang pasukan-pasukan asing itu harus dicurigai. Tentang kadipaten, cukup
berada di tanganku dan isterimu Ayu Candra. Juga Pusporini sekarang bukan
kanak-kanak lagi, tenaganya dapat kita pergunakan untuk memperkuat penjagaan
kadipaten" demikian kata Roro Luhito yang biarpun usianya sudah lima puluh
tahun lebih, hampir lima puluh dua tahun, namun semangatnya masih besar dan
ketangkasannya tidak banyak berkurang. Setelah meninggalkan pesan kepada
isterinya agar berhati-hati menjaga kadipaten, dan mengatakan bahwa
penyelidikannya tidak akan lebih daripada sepekan lamanya, Tejolaksono malam
itu juga menyusul keberangkatan pasukan-pasukan yang dipimpin oleh Raden Mundingyudo
dan teman-temannya. Karena ia ingin agar penyelidikannya dapat dilakukan dengan
leluasa, maka Adipati Tejolakspno mengganti pakaiannya dengan pakaian petani
biasa dan ia berangkat dengan jalan kaki saja. Namun, kiranya jika ia berkuda,
tidak akan secepat perjalanannya sekarang karena ia mempergunakan Aji Bayu
Sakti sehingga tubuhnya berkelebat cepat sekali bagaikan burung terbang
sehingga dalam waktu singkat ia telah melampaui pasukannya yang menuju ke
barat. Kalau Mundingyudo ia perintahkan menyelidiki keadaan dan gerak-gerik
pasukan asing yang kabarnya bergerak di daerah barat dan utara, adalah dia
sendiri ingin menyelidiki keadaan rakyat di dusun-dusun, ingin melihat apakah
terjadi sesuatu di dalam tata kehidupan rakyat pedesaan, terutama sekali
tentang kehidupan budaya dan kepercayaan agama, karena sang adipati khawatir
kalau-kalau rakyat akan dipaksa dalam hal ini oleh kekuatan-kekuatan asing.
Dalam penyamarannya sebagai seorang petani sederhana, dengan mudah Tejolaksono
dapat masuk keluar dusun-dusun tanpa ada yang mengenalnya. Dan apa yang
disaksikan membuat ia terkejut bukan main. Memang, pada lahirnya, tidak terjadi
sesuatu yang menghebohkan di dalam dusun-dusun itu dan keadaan rakyatnya tampak
senang dan
tata tenteram kerta raharja.
Akan tetapi sesungguhnya telah terjadi perubahan yang hebat. Di dalam beberapa
buah dusun ia melihat telah didirikan wihara-wihara dan candi dan sebagian
besar penduduk dusun sudah menukar pujaan mereka. Di sebuah dusun, penduduknya
mulai menukar pujaan menjadi pemeluk Agama Buddha, dan di lain dusun memuja
Sang Hyang Shiwa. Akan tetapi karena ia tidak melihat kekerasan atau paksaan
dalam hal pengembangan kedua agama itu, ia tidak dapat berbuat sesuatu. Hanya
ia melihat gejala-gejala aneh dalam penukaran pujaan ini, yaitu lenyapnya para
pendeta pemuja Sang Hyang Wishnu dan digantinya kepala-kepala dusun oleh pemuja
Sang Hyang Shiwa atau yang beragama Buddha! Di samping itu, rakyat tertarik
berganti pujaan karena kegaiban-kegaiban yang didemonstrasikan oleh pendeta-pendeta
pembawa agama baru itu.
Adipati Tejolaksono lalu
mendatangi Dusun Sumber karena ia mengenal baik kepala dusun di situ. Bahkan
dia sendiri yang mengangkat Ki Sentana menjadi kepala dusun Sumber. Ia tahu
benar bahwa Ki Sentana adalah seorang pemeluk atau pemuja Sang Hyang Wishnu
yang patuh, seorang bekas prajurit Panjalu yang setia. Ia mengharapkan
keterangan yang jelas dari bawahannya itu tentang segala rahasia yang kini
mencengkeram dusun-dusun di sebelah barat Selopenangkep. Ia memasuki dusun Sumber
di waktu senja dan langsung mendatangi rumah kepala dusun. Rumah itu sunyi dan
gelap, bahkan di ruangan depan tidak ada meja kursinya, juga pekarangan
depannya kotor sekali, tidak terpelihara. Tejolaksono memasuki halaman yang
penuh dengan daun kering, terus maju memasuki ruangan depan, memandang ke arah
pintu yang terbuka separuh sambil berseru,
"Kulonuwun ....”
Tidak ada jawaban, akan
tetapi telinganya yang tajam mendengar suara langkah kaki dari dalam rumah itu.
Langkah kaki wanita, pikirnya, karena langkah itu halus perlahan, ia menanti
dengan hati berdebar. Ada sesuatu yang tidak wajar dalam rumah Ki Sentana ini,
pikirnya. Mengapa begini sunyi dan gelap? Mengapa rumah kepala dusun begini
kotor tidak terawat? Sinar terang tampak dari dalam dan tak lama kemudian
muncullah wanita, yang langkah kakinya terdengar oleh Tejolaksono. Wanita yang
masih muda, kurang lebih dua puluh lima tahun usianya. Wanita yang cantik
dengan sepasang mata yang bersinar tajam dan kerling serta tarikan mulutnya
genit sekali. Wanita ini melangkah keluar dengan lenggang menarik, membawa
sebuah lampu kecil. Begitu muncul dari pintu dan berhadapan dengan Tejolaksono,
ia memandang penuh selidik dan pandang mata itu menjadi manis sekali, diikuti
senyumnya memikat dan malu-malu. Biarpun wanita itu tidak berkata sesuatu,
namun pandang matanya penuh pertanyaan dan Tejolaksono cepat memperkenalkan
diri tanpa menyebut namanya,
"Maafkan kalau saya
menganggu. Saya mohon berjumpa dengan Paman Sentana lurah dusun ini."
"Oohhh, sungguh tidak
kebetulan sekali. Paman Sentana sedang tidak berada di rumah." Suara
wanita itu halus dan merdu seperti suara seorang waranggana, dan di waktu
bicara, bibirnya bergerak memikat dan tampak giginya yang putih rata
menggigit-gigit bibir bawah menyeling kata-katanya. Bibir yang penuh basah dan
bergerak seperti itu, gigitan bibir, dagu yang kadang-kadang menggeser ke kanan
kiri, kerling yang tajam menyambar, semua itu membayangkan kegenitan yang
memikat sehingga Tejolaksono terheran-heran dan menduga-duga siapa gerangan
wanita ini. Ia tahu bahwa Ki Sentana yang sudah tua tidak mempunyai puteri,
hanya ada dua orang puteranya yang lima tahun lalu masih perjaka. Apakah wanita
ini seorang di antara menantunya?
"Kalau bibi ... adakah
......?" tanyanya agak gugup, karena memang merasa canggung sekali dan
tidak terduga-duga bahwa kedatangannya akan disambut seorang wanita muda yang
selain cantik jelita juga jelas memperlihatkan sikap genit memikat!
Wanita itu menahan senyum,
bibir bawah agak berjebi dan menggeleng kepala.
"Sayang sekali, bibi
juga pergi bersama Paman Sentana."
Makin tidak enak rasa hati
Tejolaksono melihat bibir yang berjebi sehingga tampak penuh dan merah itu
serta mata yang makin menantang.
"Kalau begitu, biarlah
lain kali saya datang lagi .......“
Ia sudah hendak memutar
tubuh ketika wanita itu berkata,
"Aehh, nanti dulu harap
jangan tergesa-gesa pergi. Saya bukanlah orang lain, melainkan keponakan Paman
Sentana, namaku Sariwuni. Lebih baik andika menanti di sini sebentar, karena
malam ini paman dan bibi akan pulang. Paman dan bibi tentu marah sekali kepada
saya kalau mendengar bahwa ada tamu datang tidak saya persilahkan menunggu.
Silahkan masuk, Raden ..... kamar tamu di sebelah kiri ini kosong. Harap suka
menanti sebentar, tidak lama lagi paman dan bibi tentu akan pulang."
Lenyap keraguan hati
Tejolaksono. Hemm, kiranya anak keponakan Ki Sentana. Heran dia bahwa Ki
Sentana mempunyai seorang anak keponakan yang secantik dan segenit ini! Tidak
apalah ia menanti sebentar, karena ia ingin sekali bicara dengan Ki Sentana.
Pula, kalau ia tidak mau menanti, ke manakah ia akan mencari keterangan? Tanpa
berkata sesuatu ia lalu menganggukkan kepala dan memasuki rumah itu, terus
memasuki sebuah kamar yang cukup bersih namun sederhana di sebelah kiri ruangan
depan. Wanita yang bernama Sariwuni itu meninggalkan pelitanya dalam kamar,
lalu berkata manis,
"Silahkan Raden
beristirahat sambil menanti."
Berdebar hati Tejolaksono.
Baru sekarang ia melihat kejanggalan itu. Sudah dua kali Sariwuni menyebutnya
"raden"! Tentu saja hal ini janggal dan aneh sekali! Biarpun ia
seorang adipati, akan tetapi pada saat itu ia menyamar sebagai seorang petani
sederhana dan wanita ini tidak mengenal siapa dia. Mengapa menyebut raden?
Hatinya tidak enak, akan tetapi wanita itu sudah melangkah keluar dari pintu
kamarnya. Jelas tampak sepasang buah pinggul wanita itu bergoyang turun naik
karena langkahnya yang sengaja dibuat-buat melenggang-lenggok. Ah, kalau tidak
sudah terlanjur memasuki kamar tamu, dan kalau tidak amat penting baginya menemui
Ki Sentana, tentu ia tidak suka berada di sini. Ada sesuatu yang aneh pada diri
wanita itu, seperti anehnya keadaan di rumah Ki Sentana ini yang sunyi dan
tidak seperti dahulu.
Tejolaksono duduk di atas
pembaringan di dalam kamar itu, pembaringan terbuat dari kayu jati. Ia
termenung dan mengharapkan kedatangan Ki Sentana dengan cepat. Akan tetapi
ketika terdengar langkah kaki, ia tahu bahwa yang mendatangi kamarnya kembali
adalah wanita cantik itu. Ia tetap duduk dan mengangkat muka memandang ke arah
pintu. Benar saja, Sariwuni yang muncul di pintu kamar, kini kedua tangannya
membawa sebuah penampan (baki) berisi nasi panas, lauk-pauk dan kendi air.
Sambil tersenyum dan dengan wajah berseri-seri mata bersinar-sinar, Sariwuni
menurunkan penampan dan mengatur hidangan itu di atas meja dalam kamar, dan
berkata, suaranya halus,
"Raden, silahkan dahar
seadanya." Sambil berkata demikian, Sariwuni dengan gerakan yang luwes
menuangkan air ke dalam kobokan, kemudian memandang wajah Tejolaksono,
tersenyum dan matanya menunduk seperti malu-malu dan mengundurkan diri.
"Nanti dulu ...!”
Tejolaksono berkata dan Sariwuni berhenti melangkah lalu membalikkan tubuhnya
yang ramping, memandang dengan alis terangkat. Manis sekali sikap dan wajahnya.
"Apakah yang dapat saya
lakukan untukmu, Raden?"
"Tahukah engkau ke mana
perginya paman dan bibi? Hari telah menjadi malam dan mereka belum juga
pulang." Dengan gerakan kenes wanita itu mengangkat kedua pundaknya dan
kembali giginya tampak berkilau terkena sinar api pelita ketika ia membuka
bibir.
"Saya tidak tahu ke
mana, Raden. Akan tetapi paman tadi berkata bahwa tidak akan lama pergi dan
malam ini pasti pulang."
Tejolaksono
mengangguk-angguk dan ketika wanita itu hendak membalikkan tubuh lagi ia
berkata,
"Eh, Sariwuni, mengapa
engkau menyebut aku raden? Aku hanya seorang petani kenalan Paman Sentana ....“
Sariwuni tertwa dan menutupi
mulut dengan tangan kirinya. Kembali gerakan ini amat manis dan kenes, gerakan
wanita yang tahu akan kebiasaan puteri-puteri bangsawan dan tidak seperti
biasanya seorang perawan dusun yang polos dan jujur.
"Hi-hik .....seorang
petani tidak bicara sehalus bicaramu, Raden. Juga kaki tangannya tidak sehalus
kaki tanganmu, kulitnya tidak seputih dan sebersih kulitmu. Selain itu, wajah
seorang petani .... eh, tidak setampan ...." Wanita itu tidak melanjutkan
kata-katanya, lalu membalikkan tubuh dan setengah berlari keluar kamar
meninggalkan suara ketawa ditahan.
Tejolaksono
termangu, mengerutkan keningnya kemudIan karena memang perutnya sudah lapar dan
mulutnya haus, ia minum air dari kendi, mencuci tangan dan makan nasi putih
yang pulen ditemani lauk-pauk yang cukup sedap. Selesai makan, ia mencuci
tangan, membersihkan kakinya lalu naik ke pembaringan, duduk bersila menanti
kedatangan Ki Lurah Sentana. Akan tetapi sampai lama dan jauh malam, belum juga
tuan rumah yang dinanti-nantinya itu datang. Tejolaksono menjadi hilang sabar.
Akan tetapi ketika ia hendak turun dari pembaringan untuk menyelidiki hal ini,
tiba-tiba pintu kamarnya itu terbuka dari luar. Ia terkejut karena kali ini ia
tidak mendengar langkah kaki.
No comments:
Post a Comment