Sejenak Adipati Tejolaksono
termenung. Terbayanglah di depan matanya segala peristiwa dahulu di waktu dia
masih muda. Watak Endang Patibroto amatlah keras liar dan aneh. Biarpun
akhir-akhir ini Endang Patibroto bersikap amat mesra, lembut, dan merupakan
seorang wanita yang mencintanya dengan seluruh jiwa raga, yang sepenuhnya
wanita, namun agaknya, tepat seperti wawasan Roro Luhito, Endang Patibroto
masih belum berubah wataknya yang keras dan aneh luar biasa. Dan mengingat akan
watak ini, agaknya akan sia-sia belaka kalau ia menyusul. Selain amatlah sukar
mencari seorang wanita sesakti Endang Patibroto yang melarikan diri, juga
andaikata bertemu kiranya tidak mudah membujuknya untuk pulang ke
Selopenangkep. Ia tahu bahwa Endang Patibroto mencintanya, namun kekerasan hati
wanita itu akan mengalahkan cinta kasihnya karena wanita itu berwatak baja,
tidak mau tunduk terhadap siapapun juga. Ia menghela napas panjang, lalu
mengangkat bangun Ayu Candra,
"Tidak akan ada
gunanya, Nimas. Seorang yang berhati baja seperti diajeng Endang Patibroto,
tidak akan mudah dibujuk. Dia tidak akan menyerah sampai mati, kalau tidak
karena kehendak sendiri. Dia sudah pergi, dan satu-satunya yang dapat kita
lakukan hanyalah menanti sampai dia suka pulang sendiri. Apa boleh buat
....seorang manusla hanya dapat menerima apa yang telah ditentukan oleh Hyang
Widhi.....“ Semenjak terjadi peristiwa ini, terjadi perubahan yang amat besar
di dalam Kadipaten Selopenangkep. Perubahan yang amat terasa oleh seluruh
penghuni kadipaten. Ayu Candra seringkali termenung dan berduka, tidak hanya
karena rindunya kepada Bagus Seta, juga karena rasa penyesalan di dalam hati
karena wanita yang halus budi ini tak pernah berhenti menyesali diri sendiri
dan menganggap dialah yang menyebabkan larinya Endang Patibroto sehingga
akibatnya, dia pula yang menyebabkan suaminya selalu berduka.
Tubuh Adipati Tejolaksono
menjadi kurus dan adipati yang sakti ini kehilangan cahaya kegairahan sinar
matanya. Sikapnya menjadi makin tenang dan pendiam sungguhpun terhadap Ayu
Candra tidak pernah berubah kemesraan cinta kasihnya. Kadipaten yang
bertahun-tahun selalu gembira dan suasana riang dengan adanya tiga orang yaitu
Setyaningsih, Pusporini dan Bagus Seta, kini kelihatan sunyi karena dua dari
tiga orang anak itu telah pergi dan kini tinggal Pusporini seorang.
Karena di situ hanya tinggal
Puspotini seoranglah maka sang adipati dan isterinya melimpahkan rasa sayangnya
kepada anak ini. Seakan-akan anak ini yang merupakan penghibur bagi mereka.
Memang Pusporini seorang anak yang dapat mendatangkan kegembiraan. Dia amat
lincah dan gembira, cerdik dan pandai bicara. Melihat kecerdikan Pusporini,
Adipati Tejolaksono lalu mulai mendidik anak ini dengan ilmu silat den
kedigdayaan. Roro Luhito amat girang melihat hal ini. Terutama sekali girang
karena anak keponakannya itu dan isterinya mendapat hiburan dengan adanya
Pusporini, maka iapun melepas tangan dan membiarkan puterinya menerima
gemblengan sang adipati yang memiliki ilmu kesaktian jauh lebih tinggi daripada
dia sendiri. Maka mulai tenteram pulalah keadaan hati Adipati Tejolaksono dan
isterinya. Memang mereka selalu masih merindukan Bagus Seta dan menyesalkan
kepergian Endang Patibroto, akan tetapi hati mereka terobat oleh kelincahan dan
keriangan Pusporini. Hanya di waktu malam yang sunyi, kadang-kadang apabila
teringat akan puteranya dan akan Endang Patibroto, Ayu Candra suka menangis dan
suaminya selalu siap untuk menghiburnya. Suami isteri ini seolah-olah mengikuti
hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun mengharapkan lewatnya
lima tahun untuk menyambut kembalinya putera mereka, Bagus Seta.
Pusporini seorang anak
perempuan yang cerdik sekali di samping wajahnya yang cantik manis. Kulit
tubuhnya hitam manis seperti ibunya, perawakannya singsat padat dan langsing,
rambutnya hitam agak berikal. Anak ini maklum akan kehebatan ilmu kesaktian
rakandanya, maka ia belajar dengan amat tekun dan berlatih amat rajin sehingga
amat mengagumkan hati Tejolaksono. Adipati ini maklum bahwa puteranya
mendapatkan guru yang jauh lebih sakti daripadanya, dan karena tidak ada anak
lain yang akan ia warisi ilmunya, maka satu-satunya anak yang telah menjadi
muridnya adalah adik misannya ini, puteri bibinya yang ternyata merupakan murid
yang patut dibanggakan. Yang terutama sekali mengagumkan pada diri Pusporini
adalah bakatnya dalam ilmu meringankan tubuh dan gerakan yang amat gesit
lincah, sesuai dengan wataknya yang periang. Bakatnya dalam hal ini jauh lebih
menonjol daripada yang lain-lain sehingga dalam beberapa tahun saja ia sudah
pandai berloncatan dan berkelebat cepat sekali melampaui kecepatan ibu
kandungnya sendiri, bahkan menyusul pula tingkat Ayu Candra! Aji kecepatan Bayu
Tantra dapat ia pelajari dengan mudah dan tidak menghabiskan waktu terlalu
lama, bahkan empat tahun kemudian ia sudah mulai mempelajari aji kecepatan Bayu
Sakti! Dalam hal ilmu silat, memang terdapat bakat menari pada diri Pusporini.
Ia dapat bergerak dengan lemas dan lemah gemulai sehingga di waktu ia dilatih
ilmu silat oleh Adipati Tejolaksono, gerakan-gerakannya begitu indahnya seperti
orang menari-nari saja. Rakandanya yang menjadi gurunya ini sampai menjadi
terheran-heran dan juga amat kagum, tak pernah menyangka bahwa ilmu silatnya
dan aji-aji seperti Pethit Nogo yang dahsyat dan terkenal keampuhannya itu
dapat dimainkan sedemikian indahnya sehingga merupakan tari-tarian luar biasa
oleh Pusporini! Bakat-bakat yang baik dalam diri Pusporini menambah kegembiraan
Adipati Tejolaksono dalam memberi pelajaran, dan kemajuan-kemajuan anak ini
menambah rasa sayang pada hati ketiga orang tua itu, Roro Luhito, Tejolaksono,
dan Ayu Candra. Bahkan bukan hanya tiga orang ini saja yang menaruh rasa sayang
kepada Pusporini, juga semua abdi dalem Kadipaten Selopenangkep dan akhirnya
rasa sayang ini menjalar sampai keluar kadipaten, di antara para ponggawa dan
penduduk sekitar kadipaten.
Hal ini adalah karena
Pusporini yang lincah gembira itu selalu bersikap baik dan ramah kepada
siapapun juga, selalu rendah hati dan tidak sombong seperti biasanya
puteri-puteri bangsawan yang memandang rendah rakyat kecil. Tidak, Pusporini
tidak seperti itu. Puteri ini bahkan seringkali membantu para petani dalam
pekerjaan di sawah ladang milik sang adipati. Membantu dalam hal bercocok
tanam, ramai-ramai ikut menanam dan memotong padi dengan paman-paman dan
bibi-bibi tani. Juga ia amat terkenal dan disayang di antara para pengawal dan
prajurit karena selain memiliki ilmu kepandaian yang mengagumkan, juga
Pusporini ikut pula berlatih perang-perangan, berlatih menunggang kuda sehingga
semua prajurit yang menyaksikan ketangkasan gadis cilik ini menjadi kagum dan
sayang. Jangan disangka bahwa Puspirini hanya suka akan olah keprajuritan, sama
sekali bukan demikian. Iapun terkenal di dalam kadipaten, di antara para abdi
dalem, di antara para seniman dan seniwati kadipaten karena anak ini semenjak
kecil ikut pula belajar seni tari di mana bakatnya amat menonjol dan belajar
pula seni suara dengan suaranya yang nyaring sekali. Demikianlah, dengan adanya
Pusporini, sedikitnya mendung yang menyelimuti Kadipaten Selopenangkep dapat
terusir. Atau setidaknya, pada lahirnya Pusporini dapat menciptakan sinar
kegembiraan di dalam kadipaten sehingga sang adipati dan isterinya dapat
terhibur dan agaknya keadaanpun menjadi aman dan tenteram. Hari berganti
minggu, minggu berganti bulan dan bulan-bulan ditelan tahun. Sang Waktu
bergerak terus, tiada kekuasaan di bumi ini yang dapat menahannya, merayap amat
perlahan jika diperhatikan, membalap cepat melebih kilat apabila tidak diingat.
Betapapun juga, segala yang tampak dan tidak tampak di dunia ini, besar maupun
kecil, keras maupun lunak, apa saja tidak pandang bulu, kesemuanya ditelan
habis oleh Sang Waktu yang memegang rahasia akhir kemenangan.
Segala sesuatu yang
diperoleh manusia di dunia ini tidak ada yang kekal. Pertemuan akan berakhir
perpisahan. Yang mendapatkan atau mempunyai akan kehilangan. Karena
sesungguhnya, segala di dunia ini bukanlah milik manusia. Manusia hanya berhak
menikmati, namun sama sekali tidak berhak memiliki. Harta benda dan kedudukan,
semua itu hanya benda titipan, sewaktu-waktu kita akan dipaksa berpisah dari
mereka, mau atau tidak, suka atau tidak. Harta benda atau kedudukan akan pergi
meninggalkan kita, atau kita yang akan pergi meninggalkan mereka. Bahkan keluarga
yang kita cinta, anak-anak, isteri dan semua keluarga, sesungguhnya bukanlah
milik kita! Manusia hanya mendapat titipan yang dilengkapi dengan kewajiban-
kewajiban sebagai manusia beradab, dan tidak lebih daripada itu. Jika sudah
tiba saatnya Yang Maha Kuasa yang menjadi Pemilik Sejati mengambilnya kembali
dari tangan kita, tidak ada kekuasaan lain di dunia ini yang akan menahan atau
mencegahnya. Harta benda dan kedudukan
bisa musnah sewaktu-waktu.
Anggota keluarga tersayang bisa mati sewaktu-waktu. Atau dengan lain cara, jika
Yang Maha Kuasa menghendaki, kita sendiri bisa mati sewaktu- waktu meninggalkan
dan berpisah dari kesemuanya itu! Ditinggalkan oleh atau meninggalkan segala
sesuatu yang hanya "dititipkan" kepada kita. Karena itu, makin besar
cinta kasih kita kepada semua itu, makin sengsaralah apablia dipisah dari kita.
Seperti dua buah benda, makin kuat melekat, makin parah kalau dipaksa berpisah,
makin parah luka yang terobek oleh perpisahan paksaan itu. Sesungguhnyalah
bahwa manusia tidak mempunyai kekuasaan atas segala benda, yang terkecil maupun
terendah sekalipun, bahkan, tidak mempunyai kekuasaan atas dirinya sendiri,
tidak kuasa mengatur denyut jantung, aliran darah, tumbuhnya kuku dan rambut di
tubuh kita. Tidak kuasa atas nyawa sendiri. Karena hanya Yang Maha Kuasa
sajalah yang berkuasa atas segala benda, yang tampak maupun tidak! Manusia
tidak punya kuasa, hanya mempunyai hak menikmati anugerah dan kewajiban
memelihara segala sesuatu yang dititipkan atau dianugerahkan kepadanya. Kalau tidak
melaksanakan kewajiban, tidak benar pemeliharaannya, akan rusaklah kesemuanya
itu dan akibatnya menimpa diri sendiri. Segala peristiwa yang terjadi di atas
bumi ini telah dikehendaki oleh Yang Maha Adil, dan betapapun peristiwa itu,
adalah sudah tepat, wajar dan adil! Bukanlah hal yang aneh kalau sesuatu
peristiwa mendapat tanggapan yang berlawanan. Ada yang menganggapnya adif ada
pula yang tidak, karena manusia amat dipengaruhi oleh nafsu ego masing-masing
yang selalu mementingkan diri pribadi. Peristiwa yang menguntungkan dirinya
pribadi akan dianggap adil, dan sebaliknya yang merugikan atau tidak
menyenangkan dirinya pribadi akan dianggap tidak adil! Akan tetapi
sesungguhnya, setiap peristiwa itu adalah wajar dan adil, sesuai dengan sifat
Yang Maha Adil! Manusia yang tidak dapat melihat keadilan dalam setiap
peristiwa, hanya disebabkan karena tidak mengertinya. Tentu saja orang tidak
akan dapat melihat keadilan kalau dia tidak mengerti akan duduknya perkara,
tidak tahu akan sebab akibat.
Peristiwa yang menimpa diri
Adipati Tejolaksono berturut-turut kalau dipandang dan dinilai mata manusia
biasa tampaknya juga tidak adil karena satria perkasa ini seakan-akan selalu
ditimpa kemalangan. Empat tahun telah lewat semenjak Endang Patibroto minggat
pada malam hari itu, tak diketahui ke mana perginya, membawa Setyaningsih
bersamanya. Empat tahun telah lalu semenjak Bagus Seta tidak berada di
Kadipaten Selopenangkep. Sementara itu, bahaya besar datang mengurung, seperti
mendung-mendung hitam yang ditiup datang oleh angin angkasa yang keras sehingga
tanpa disangka-sangka tahu-tahu telah memenuhi udara di atas kepala. Tadinya
Adipati Tejolaksono hanya mendengar berita bahwa ada pergerakan pasukan-pasukan
asing di barat dan utara, akan tetapi karena tidak terjadi perampokan dan
penyerbuan terhadap dusun-dusun, maka tidak ada laporan apa-apa yang sampai ke
telinganya. Kalau terjadi perampokan-perampokan seperti yang dilakukan pasukan
gerombolan Lembah Serayu seperti yang terjadi empat tahun yang lalu, tentu
siang-siang sudah banyak rakyat yang datang melapor ke kadipaten.
Akan tetapi malam hari itu
hati Sang Adipati Tejolaksono merasa gelisah tanpa sebab. Seringkali jantungnya
berdebar aneh. Sebagai seorang sakti, sang adipati segera memasuki kamar dan
duduk bersila di atas pembaringan, bermuja samadhi. Isterinya, Ayu Candra, juga
merasa tidak enak hati, maka iapun duduk di dekat suaminya, siap melayani
kebutuhan suaminya yang sedang bersamadhi itu. Di dalam keheningan samadhinya,
telinga sang adipati menangkap suara berisik, seolah-olah ia mendengar ombak
laut selatan mengamuk, atau seolah-olah mendengar kawah Gunung Mahameru
mendidih, ataukah Sungai Progo membanjir? Bulu tengkuknya meremang dan ia sadar
dari samadhinya, menoleh kepada isterinya sambil menarik napas panjang.
"Nimas, apakah engkau
merasa juga apa yang kurasakan?"
Ayu Candra mengangguk.
"Semenjak sore tadi
hatiku merasa tidak enak....”
"Biarlah kita serahkan
segalanya kepada kehendak Hyang Widhi, Nimas. Sekarang kau perintahkan pengawal
untuk memanggil kepala pengawal menghadap, sekarang juga."
Biarpun agak
heran mendengar suaminya menyuruh kepala pengawal menghadap di malam hari,
hampir tengah malam, namun Ayu Candra tidak membantah, tidak pula bertanya,
melainkan bergegas dari kamar dan memanggil pengawal yang menjaga di depan
kadipaten. Seorang di antara para pengawal itu cepat melakukan perintah ini,
pergi memanggil kepala pengawal yang tinggal di ksatrian. Tentu saja kepala
pengawal segera menghadap dengan gelisah. Kala pada waktu seperti itu sang adipati
memanggilnya menghadap, sudah pasti terjadi hal yang amat penting.
No comments:
Post a Comment