Perawan Lembah Wilis; Bagian 045



Sejenak Adipati Tejolaksono termenung. Terbayanglah di depan matanya segala peristiwa dahulu di waktu dia masih muda. Watak Endang Patibroto amatlah keras liar dan aneh. Biarpun akhir-akhir ini Endang Patibroto bersikap amat mesra, lembut, dan merupakan seorang wanita yang mencintanya dengan seluruh jiwa raga, yang sepenuhnya wanita, namun agaknya, tepat seperti wawasan Roro Luhito, Endang Patibroto masih belum berubah wataknya yang keras dan aneh luar biasa. Dan mengingat akan watak ini, agaknya akan sia-sia belaka kalau ia menyusul. Selain amatlah sukar mencari seorang wanita sesakti Endang Patibroto yang melarikan diri, juga andaikata bertemu kiranya tidak mudah membujuknya untuk pulang ke Selopenangkep. Ia tahu bahwa Endang Patibroto mencintanya, namun kekerasan hati wanita itu akan mengalahkan cinta kasihnya karena wanita itu berwatak baja, tidak mau tunduk terhadap siapapun juga. Ia menghela napas panjang, lalu mengangkat bangun Ayu Candra,
"Tidak akan ada gunanya, Nimas. Seorang yang berhati baja seperti diajeng Endang Patibroto, tidak akan mudah dibujuk. Dia tidak akan menyerah sampai mati, kalau tidak karena kehendak sendiri. Dia sudah pergi, dan satu-satunya yang dapat kita lakukan hanyalah menanti sampai dia suka pulang sendiri. Apa boleh buat ....seorang manusla hanya dapat menerima apa yang telah ditentukan oleh Hyang Widhi.....“ Semenjak terjadi peristiwa ini, terjadi perubahan yang amat besar di dalam Kadipaten Selopenangkep. Perubahan yang amat terasa oleh seluruh penghuni kadipaten. Ayu Candra seringkali termenung dan berduka, tidak hanya karena rindunya kepada Bagus Seta, juga karena rasa penyesalan di dalam hati karena wanita yang halus budi ini tak pernah berhenti menyesali diri sendiri dan menganggap dialah yang menyebabkan larinya Endang Patibroto sehingga akibatnya, dia pula yang menyebabkan suaminya selalu berduka.

Tubuh Adipati Tejolaksono menjadi kurus dan adipati yang sakti ini kehilangan cahaya kegairahan sinar matanya. Sikapnya menjadi makin tenang dan pendiam sungguhpun terhadap Ayu Candra tidak pernah berubah kemesraan cinta kasihnya. Kadipaten yang bertahun-tahun selalu gembira dan suasana riang dengan adanya tiga orang yaitu Setyaningsih, Pusporini dan Bagus Seta, kini kelihatan sunyi karena dua dari tiga orang anak itu telah pergi dan kini tinggal Pusporini seorang.
Karena di situ hanya tinggal Puspotini seoranglah maka sang adipati dan isterinya melimpahkan rasa sayangnya kepada anak ini. Seakan-akan anak ini yang merupakan penghibur bagi mereka. Memang Pusporini seorang anak yang dapat mendatangkan kegembiraan. Dia amat lincah dan gembira, cerdik dan pandai bicara. Melihat kecerdikan Pusporini, Adipati Tejolaksono lalu mulai mendidik anak ini dengan ilmu silat den kedigdayaan. Roro Luhito amat girang melihat hal ini. Terutama sekali girang karena anak keponakannya itu dan isterinya mendapat hiburan dengan adanya Pusporini, maka iapun melepas tangan dan membiarkan puterinya menerima gemblengan sang adipati yang memiliki ilmu kesaktian jauh lebih tinggi daripada dia sendiri. Maka mulai tenteram pulalah keadaan hati Adipati Tejolaksono dan isterinya. Memang mereka selalu masih merindukan Bagus Seta dan menyesalkan kepergian Endang Patibroto, akan tetapi hati mereka terobat oleh kelincahan dan keriangan Pusporini. Hanya di waktu malam yang sunyi, kadang-kadang apabila teringat akan puteranya dan akan Endang Patibroto, Ayu Candra suka menangis dan suaminya selalu siap untuk menghiburnya. Suami isteri ini seolah-olah mengikuti hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun mengharapkan lewatnya lima tahun untuk menyambut kembalinya putera mereka, Bagus Seta.
Pusporini seorang anak perempuan yang cerdik sekali di samping wajahnya yang cantik manis. Kulit tubuhnya hitam manis seperti ibunya, perawakannya singsat padat dan langsing, rambutnya hitam agak berikal. Anak ini maklum akan kehebatan ilmu kesaktian rakandanya, maka ia belajar dengan amat tekun dan berlatih amat rajin sehingga amat mengagumkan hati Tejolaksono. Adipati ini maklum bahwa puteranya mendapatkan guru yang jauh lebih sakti daripadanya, dan karena tidak ada anak lain yang akan ia warisi ilmunya, maka satu-satunya anak yang telah menjadi muridnya adalah adik misannya ini, puteri bibinya yang ternyata merupakan murid yang patut dibanggakan. Yang terutama sekali mengagumkan pada diri Pusporini adalah bakatnya dalam ilmu meringankan tubuh dan gerakan yang amat gesit lincah, sesuai dengan wataknya yang periang. Bakatnya dalam hal ini jauh lebih menonjol daripada yang lain-lain sehingga dalam beberapa tahun saja ia sudah pandai berloncatan dan berkelebat cepat sekali melampaui kecepatan ibu kandungnya sendiri, bahkan menyusul pula tingkat Ayu Candra! Aji kecepatan Bayu Tantra dapat ia pelajari dengan mudah dan tidak menghabiskan waktu terlalu lama, bahkan empat tahun kemudian ia sudah mulai mempelajari aji kecepatan Bayu Sakti! Dalam hal ilmu silat, memang terdapat bakat menari pada diri Pusporini. Ia dapat bergerak dengan lemas dan lemah gemulai sehingga di waktu ia dilatih ilmu silat oleh Adipati Tejolaksono, gerakan-gerakannya begitu indahnya seperti orang menari-nari saja. Rakandanya yang menjadi gurunya ini sampai menjadi terheran-heran dan juga amat kagum, tak pernah menyangka bahwa ilmu silatnya dan aji-aji seperti Pethit Nogo yang dahsyat dan terkenal keampuhannya itu dapat dimainkan sedemikian indahnya sehingga merupakan tari-tarian luar biasa oleh Pusporini! Bakat-bakat yang baik dalam diri Pusporini menambah kegembiraan Adipati Tejolaksono dalam memberi pelajaran, dan kemajuan-kemajuan anak ini menambah rasa sayang pada hati ketiga orang tua itu, Roro Luhito, Tejolaksono, dan Ayu Candra. Bahkan bukan hanya tiga orang ini saja yang menaruh rasa sayang kepada Pusporini, juga semua abdi dalem Kadipaten Selopenangkep dan akhirnya rasa sayang ini menjalar sampai keluar kadipaten, di antara para ponggawa dan penduduk sekitar kadipaten.

Hal ini adalah karena Pusporini yang lincah gembira itu selalu bersikap baik dan ramah kepada siapapun juga, selalu rendah hati dan tidak sombong seperti biasanya puteri-puteri bangsawan yang memandang rendah rakyat kecil. Tidak, Pusporini tidak seperti itu. Puteri ini bahkan seringkali membantu para petani dalam pekerjaan di sawah ladang milik sang adipati. Membantu dalam hal bercocok tanam, ramai-ramai ikut menanam dan memotong padi dengan paman-paman dan bibi-bibi tani. Juga ia amat terkenal dan disayang di antara para pengawal dan prajurit karena selain memiliki ilmu kepandaian yang mengagumkan, juga Pusporini ikut pula berlatih perang-perangan, berlatih menunggang kuda sehingga semua prajurit yang menyaksikan ketangkasan gadis cilik ini menjadi kagum dan sayang. Jangan disangka bahwa Puspirini hanya suka akan olah keprajuritan, sama sekali bukan demikian. Iapun terkenal di dalam kadipaten, di antara para abdi dalem, di antara para seniman dan seniwati kadipaten karena anak ini semenjak kecil ikut pula belajar seni tari di mana bakatnya amat menonjol dan belajar pula seni suara dengan suaranya yang nyaring sekali. Demikianlah, dengan adanya Pusporini, sedikitnya mendung yang menyelimuti Kadipaten Selopenangkep dapat terusir. Atau setidaknya, pada lahirnya Pusporini dapat menciptakan sinar kegembiraan di dalam kadipaten sehingga sang adipati dan isterinya dapat terhibur dan agaknya keadaanpun menjadi aman dan tenteram. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan-bulan ditelan tahun. Sang Waktu bergerak terus, tiada kekuasaan di bumi ini yang dapat menahannya, merayap amat perlahan jika diperhatikan, membalap cepat melebih kilat apabila tidak diingat. Betapapun juga, segala yang tampak dan tidak tampak di dunia ini, besar maupun kecil, keras maupun lunak, apa saja tidak pandang bulu, kesemuanya ditelan habis oleh Sang Waktu yang memegang rahasia akhir kemenangan.

Segala sesuatu yang diperoleh manusia di dunia ini tidak ada yang kekal. Pertemuan akan berakhir perpisahan. Yang mendapatkan atau mempunyai akan kehilangan. Karena sesungguhnya, segala di dunia ini bukanlah milik manusia. Manusia hanya berhak menikmati, namun sama sekali tidak berhak memiliki. Harta benda dan kedudukan, semua itu hanya benda titipan, sewaktu-waktu kita akan dipaksa berpisah dari mereka, mau atau tidak, suka atau tidak. Harta benda atau kedudukan akan pergi meninggalkan kita, atau kita yang akan pergi meninggalkan mereka. Bahkan keluarga yang kita cinta, anak-anak, isteri dan semua keluarga, sesungguhnya bukanlah milik kita! Manusia hanya mendapat titipan yang dilengkapi dengan kewajiban- kewajiban sebagai manusia beradab, dan tidak lebih daripada itu. Jika sudah tiba saatnya Yang Maha Kuasa yang menjadi Pemilik Sejati mengambilnya kembali dari tangan kita, tidak ada kekuasaan lain di dunia ini yang akan menahan atau mencegahnya. Harta benda dan kedudukan
bisa musnah sewaktu-waktu. Anggota keluarga tersayang bisa mati sewaktu-waktu. Atau dengan lain cara, jika Yang Maha Kuasa menghendaki, kita sendiri bisa mati sewaktu- waktu meninggalkan dan berpisah dari kesemuanya itu! Ditinggalkan oleh atau meninggalkan segala sesuatu yang hanya "dititipkan" kepada kita. Karena itu, makin besar cinta kasih kita kepada semua itu, makin sengsaralah apablia dipisah dari kita. Seperti dua buah benda, makin kuat melekat, makin parah kalau dipaksa berpisah, makin parah luka yang terobek oleh perpisahan paksaan itu. Sesungguhnyalah bahwa manusia tidak mempunyai kekuasaan atas segala benda, yang terkecil maupun terendah sekalipun, bahkan, tidak mempunyai kekuasaan atas dirinya sendiri, tidak kuasa mengatur denyut jantung, aliran darah, tumbuhnya kuku dan rambut di tubuh kita. Tidak kuasa atas nyawa sendiri. Karena hanya Yang Maha Kuasa sajalah yang berkuasa atas segala benda, yang tampak maupun tidak! Manusia tidak punya kuasa, hanya mempunyai hak menikmati anugerah dan kewajiban memelihara segala sesuatu yang dititipkan atau dianugerahkan kepadanya. Kalau tidak melaksanakan kewajiban, tidak benar pemeliharaannya, akan rusaklah kesemuanya itu dan akibatnya menimpa diri sendiri. Segala peristiwa yang terjadi di atas bumi ini telah dikehendaki oleh Yang Maha Adil, dan betapapun peristiwa itu, adalah sudah tepat, wajar dan adil! Bukanlah hal yang aneh kalau sesuatu peristiwa mendapat tanggapan yang berlawanan. Ada yang menganggapnya adif ada pula yang tidak, karena manusia amat dipengaruhi oleh nafsu ego masing-masing yang selalu mementingkan diri pribadi. Peristiwa yang menguntungkan dirinya pribadi akan dianggap adil, dan sebaliknya yang merugikan atau tidak menyenangkan dirinya pribadi akan dianggap tidak adil! Akan tetapi sesungguhnya, setiap peristiwa itu adalah wajar dan adil, sesuai dengan sifat Yang Maha Adil! Manusia yang tidak dapat melihat keadilan dalam setiap peristiwa, hanya disebabkan karena tidak mengertinya. Tentu saja orang tidak akan dapat melihat keadilan kalau dia tidak mengerti akan duduknya perkara, tidak tahu akan sebab akibat.

Peristiwa yang menimpa diri Adipati Tejolaksono berturut-turut kalau dipandang dan dinilai mata manusia biasa tampaknya juga tidak adil karena satria perkasa ini seakan-akan selalu ditimpa kemalangan. Empat tahun telah lewat semenjak Endang Patibroto minggat pada malam hari itu, tak diketahui ke mana perginya, membawa Setyaningsih bersamanya. Empat tahun telah lalu semenjak Bagus Seta tidak berada di Kadipaten Selopenangkep. Sementara itu, bahaya besar datang mengurung, seperti mendung-mendung hitam yang ditiup datang oleh angin angkasa yang keras sehingga tanpa disangka-sangka tahu-tahu telah memenuhi udara di atas kepala. Tadinya Adipati Tejolaksono hanya mendengar berita bahwa ada pergerakan pasukan-pasukan asing di barat dan utara, akan tetapi karena tidak terjadi perampokan dan penyerbuan terhadap dusun-dusun, maka tidak ada laporan apa-apa yang sampai ke telinganya. Kalau terjadi perampokan-perampokan seperti yang dilakukan pasukan gerombolan Lembah Serayu seperti yang terjadi empat tahun yang lalu, tentu siang-siang sudah banyak rakyat yang datang melapor ke kadipaten.
Akan tetapi malam hari itu hati Sang Adipati Tejolaksono merasa gelisah tanpa sebab. Seringkali jantungnya berdebar aneh. Sebagai seorang sakti, sang adipati segera memasuki kamar dan duduk bersila di atas pembaringan, bermuja samadhi. Isterinya, Ayu Candra, juga merasa tidak enak hati, maka iapun duduk di dekat suaminya, siap melayani kebutuhan suaminya yang sedang bersamadhi itu. Di dalam keheningan samadhinya, telinga sang adipati menangkap suara berisik, seolah-olah ia mendengar ombak laut selatan mengamuk, atau seolah-olah mendengar kawah Gunung Mahameru mendidih, ataukah Sungai Progo membanjir? Bulu tengkuknya meremang dan ia sadar dari samadhinya, menoleh kepada isterinya sambil menarik napas panjang.
"Nimas, apakah engkau merasa juga apa yang kurasakan?"
Ayu Candra mengangguk.
"Semenjak sore tadi hatiku merasa tidak enak....”
"Biarlah kita serahkan segalanya kepada kehendak Hyang Widhi, Nimas. Sekarang kau perintahkan pengawal untuk memanggil kepala pengawal menghadap, sekarang juga."
Biarpun agak heran mendengar suaminya menyuruh kepala pengawal menghadap di malam hari, hampir tengah malam, namun Ayu Candra tidak membantah, tidak pula bertanya, melainkan bergegas dari kamar dan memanggil pengawal yang menjaga di depan kadipaten. Seorang di antara para pengawal itu cepat melakukan perintah ini, pergi memanggil kepala pengawal yang tinggal di ksatrian. Tentu saja kepala pengawal segera menghadap dengan gelisah. Kala pada waktu seperti itu sang adipati memanggilnya menghadap, sudah pasti terjadi hal yang amat penting.

<<< Bagian 044                                                                                   Bagian 046 >>>

No comments:

Post a Comment