Perawan Lembah Wilis; Bagian 044



Roro Luhito seorang wanita yang sudah tua, sudah banyak makan garam dunia, sudah berpengalaman dan wawasannya juga tajam berdasarkan pandangan luas. Pada malam berikutnya, terbuktilah apa yang dikhawatirkan oleh Roro Luhito. Adipati Tejolaksono, sebagai seorang suami bijaksana, sungguhpun dendam rindunya terhadap Endang Patibroto masih menggelora, pada malam ke dua itu berdiam di dalam kamar Ayu Candra. Seperti biasa, suami isteri yang saling mencinta ini berkasih-kasihan, berbisik-bisik di atas pembaringan dan dalam kesempatan ini, Tejolaksono menceritakan isterinya tentang Endang Patibroto yang telah mengandung!
"Kiranya Hyang Widhi Wisesa juga memberkahi perjodohanku dengan Endang Patibroto, nimas Ayu. Buktinya, ikatan jodoh yang kami laksanakan di dalam ruangan bawah tanah dalam menghadapi maut itu ternyata dianugerahi dewata dan dia kini telah mengandung dua bulanl" Untuk menjaga perasaan isterinya pertama ini, sang adipati menekan kegirangan hatinya, namun dalam suaranya masih jelas terdengar kegirangan yang meluap-luap. Ayu Candra mula-mula tersenyum dan ikut merasa bahagia. Akan tetapi, ketika suaminya hampir pulas, ia tak dapat menahan lagi kesedihan hatinya dan menangislah Ayu Candra! Sebagai seorang sakti mandraguna yang memiliki tubuh selalu dalam keadaan siap siaga, sedikit saja keadaan tidak wajar telah membuat Adipati Tejolaksono lenyap kantuknya dan ia bangkit duduk. Dlpandangnya isterinya dan la bertanya Iirih dan halus,
"Yayi dewi....mengapa kau menangis? Apakah yang menyusahkan hatimu?"

Pertanyaan ini membuat Ayu Candra makin sedih dan menangis sampai mengguguk, menyembunyikan mukanya di atas bantal. Setelah dua tiga kali suaminya bertanya, barulah ia menjawab dengan suara tersendat-sendat,
"Aku....aku teringat akan Bagus Seta......!”
"Aaah, mengapa, Yayi? Bukankah putera kita itu sudah aman tenteram di bawah bimbingan Eyang Guru Ki Tunggaljiwa? Bayangkan betapa kelak ia akan pulang sebagai seorang ksatria yang gagah perkasa dan....!!”
"Kakangmas.....aku....besok akan pergi menyusulnya di puncak Merapi.... !”
"Ehhhh....??” Tejolaksono terkejut dan memegang kedua pundak isterinya, dibangunkannya isterinya itu duduk di depannya. Rambut yang terurai itu menutupi sebagian muka Ayu Candra.
"Kenapa begitu, Nimas?"
"Aku....aku tidak dapat berpisah darinya...aku akan menjaga dan menemaninya di sana sampai ia lulus dari perguruan di sana...aku....aku...” Ayu Candra terisak-isak.
Tejolaksono menarik napas panjang, bingung dan tidak mengerti.
"Nimas Ayu, engkau tentu maklum bahwa aku sendiripun merasa berat berpisah dari Bagus Seta, akan tetapi....kita sudah melihat peristiwa yang terjadi di sana dan sudah mendengar semua penuturan Eyang Guru Ki Tunggaljiwa. Betapapun berat rasa hatiku berpisah dari putera kita, terpaksa kutahankan karena...“
"Karena engkau sebentar lagi akan mempunyai putera lain, Kakangmas! Engkau dan diajeng Endang Patibroto akan mempunyai seorang putera yang selalu dekat dengan kalian, akan tetapi aku.....aku tidak punya siapa-siapa....“
Diam-diam Tejolaksono tersentak kaget. Jantungnya berdebar dan ia maklum bahwa inilah sebuah di antara akibat daripada perbuatannya!
"Aduh, nimas Ayu....mengapa engkau berpendapat begitu? Ingatlah, Nimas....anak Endang Patibroto adalah anakku, dan anakku berarti anakmu pula, bukan?. Ahhh, apakah akan jadinya kalau engkau pergi menyusul Bagus Seta? Hal ini tidak mungkin, tidak boleh kaulakukan, Nimas. Engkau tahu bahwa kalau hal itu kaulakukan, berarti engkau akan menghancurkan hatiku...betapa engkau tega melakukan hal seperti itu....“
Ayu Candra mengangkat mukanya memandang wajah suaminya. Melihat betapa sepasang alis suaminya berkerut, sepasang mata itu sayu dan sedih, ia lalu menubruk, merangkul dan membenamkan muka di dada suaminya.
"Duh....Kakangmas .....ampunkan hamba.... ampunkan hamba yang picik dan lemah .... Kakangmas, legakan hatimu, aku...aku takkan melakukan hal itu....betapapun berat rasa hatiku, akan kukuat-kuatkan.....“
Rasa hati Tejolaksono seperti disiram air embun di puncak Semeru. Batu seberat gunung yang menindih hati serasa diangkat. Lapang bukan main rasa dadanya. Diciumnya ubun-ubun kepala Isterinya dengan sepenuh kasih sayangnya dan ia berbisik,
"Aku tahu...aku tidak pernah meragukanmu, Yayi....aku tahu bahwa engkau adalah isteriku yang tercinta, seorang isteri yang setia dan bijaksana.....“
Agaknya urusan itu akan menjadi beres kembali dan hanya sampai sekian saja karena Ayu Candra sudah kelihatan tenang kembali dan hati Tejolaksono sudah menjadi lega dan girang. Akan tetapi sang adipati ini tidak melihat dan tidak tahu apa yang terjadi di luar kamarnya. Kalau saja ia tahu, tentu ia tidak akan dapat begitu bahagia memadu kasih dengan Ayu Candra.
Dengan gerakan yang amat ringan, Endang Patibroto meninggalkan jendela kamar Ayu Candra. Ia menahan suara isak tangisnya dengan kedua tangan yang didekapkan rapat-rapat ke depan mulut dan hidung, kemudian setelah agak jauh, ia lari memasuki taman yang gelap dan sunyi. Ia tidak berani kembali ke kamarnya, karena khawatir kalau-kalau suara tangisnya terdengar oleh bibi Roro Luhito. Kini ia berada di taman sari yang sunyi dan gelap dan di sinilah, di atas sebuah bangku di bawah pohon kenanga, Endang Patibroto menangis mengguguk. Dengan kekerasan hatinya ditahannya tangis itu, dan kini ia hanya terisak-isak dan duduk melamun. Percakapan antara Tejolaksono dan Ayu Candra masih terngiang-ngiang di telinganya dan jantungnya serasa ditusuk-tusuk.

Apa yang selama ini ia khawatirkan terjadi! Ayu Candra tidak rela ia menjadi isteri Tejolaksono, tidak rela ia berada di situ! Memang tidak terang-terangan menyatakan ketidakrelaannya, akan tetapi sama saja artinya. Masih terngiang dalam telinganya ucapan Ayu Candra sambil menangis tadi.
"Karena engkau sebentar lagi akan mempunyai putera lain! Engkau dan diajeng Endang Patibroto akan mempunyai seorang putera yang selalu dekat dengan kalian, akan tetapi aku....aku tidak punya siapa-siapa....” Ayu Candra bahkan rela hendak meninggalkan kadipaten! Ah, betapa mungkin ia mendesak kedudukan Ayu Candra seperti ini? Dahulu ia sudah melakukan banyak hal yang menyakitkan hati Ayu Candra. Membunuh ayah kandung dan ibu tirinya, bahkan hendak membunuh Ayu Candra. Dan sekarang, ia merampas suaminya dan hendak merebut pula kedudukannya? Tidak! Sampai matipun tidak sudi ia melakukan hal tak tahu malu ini! Dialah yang harus pergi dari situ! Memang sejak semula ia sudah ingin pergi, akan tetapi... cinta kasihnya terhadap Joko Wandiro demikian besar ... ingin ia selalu berdampingan, dan karena kandungannya, ia tak ingin berpisah lagi dari suaminya itu, ayah dari anak dalam kandungannya. Akan tetapi sekarang jelas baginya bahwa tidak mungkin terlaksana keinginan hatinya itu. Ayu Candra hanya di lahirnya saja mau menerimanya dengan rela, akan tetapi batinnya menolak dan membencinya! Dan Adipati Tejolaksono amat mencinta Ayu Candra! Dia tidak sudi kalau harus memperebutkan cinta! Dia tidak sudi kalau harus tunduk, memperlihatkan kelemahan hatinya. Tidak, hidup seperti itu akan membuatnya sengsara dan sewaktu-waktu ia tentu takkan dapat mengendalikan hatinya lagi dan mungkin timbul keributan kalau ia sampai bertentangan dengan madunya. Ia tidak ingin menimbulkan ribut dan dosa lagi. Ia akan pergi mengasingkan diri, mencari tempat sunyi. Biarpun hatinya mengambil keputusan demikian, namun Endang Patibroto merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk yang membuatnya menangis tersedu-sedu lagi. Teringat ia akan Tejolaksono, terbayang ia akan segala kemesraan yang dinikmatinya malam tadi. Ia tahu bahwa sesungguhnya pria inilah yang ia idam-idamkan semenjak dahulu. Dan sekarang, setelah menjadi miliknya, harus ia lepaskan lagi! Sebuah tangan yang halus menyentuh pundaknya diikuti suara yang halus pula, menggetar penuh keharuan,
"Ayunda.... mengapa ayunda menangis....? Mendengar suara adik kandungnya ini, makin sedih hati Endang Patibroto. Ia meraih Setyaningsih, merangkul dan mendekapnya sambil menangis makin sesenggukan. Setyaningsih biarpun baru berusia sebelas tahun, akan tetapi anak ini mewarisi watak ayahnya, yaitu mendiang Pujo, satria yang sakti mandraguna, bijaksana, berpandangan luas dan bersikap tenang. Setyaningsih biarpun saudara sekandung Endang Patibroto, namun wataknya jauh berbeda. Tidak mudah terseret perasaan sehingga biarpun kini air matanya juga turun bercucuran, namun ia dapat menahan diri, tidak sampai mengguguk seperti tangis Endang Patibroto. Wanita perkasa ini dahulu juga memiliki watak yang kuat, akan tetapi kekuatannya berdasarkan kekerasan, bukan seperti Setyaningsih yang berdasarkan ketenangan,
"Ayunda, apakah ayunda teringat kepada ibunda? Ah, ayunda. Kanjeng Ibu sudah seda (tewas) sebagai seorang wanita utama, sebagai seorang perajurit perkasa. Selayaknyakah kalau puteri-puterinya menangisinya terus? Ayunda, harap ayunda jangan menangis....“ Setyaningsih membelai-belai rambut kakaknya dengan penuh kasih sayang.
"Aduh, adikku Setyaningsih.....” Endang Patibroto mencium pipi adiknya dan sambil memegangi kedua pundak anak itu, mereka berpandangan.
"Engkau benar, Setyaningsih, tidak perlu banyak menangis karena menangis adalah tanda kelemahan. Dan kita berdua bukanlah orang-orang lemah, kita berdua adalah keturunan suami isteri yang sakti mandraguna! Kini ayah bunda kita telah meninggal dunia, adikku dan aku hanya mempunyai engkau, engkaupun hanya mempunyai aku! Karena itu.... kita harus pergi dari sini, Setyaningsih, sekarang juga."
Setyaningsih memandang ayundanya dengan sepasang mata terbelalak kaget dan heran. Ucapan ayundanya ini sama sekali tak pernah disangkanya. Biarpun ia baru berusia sebelas tahun, namun dia bersama Pusporini sudah mengerti bahwa ayundanya ini menjadi garwa selir Adipati Tejolaksono.
"Akan tetapl ....Ayunda .....bukankah ayunda telah menjadi isteri rakanda adipati?"
Endang Patibroto menghela napas panjang.
"Benar, adikku. Akan tetapi rumah ini adalah milik ayunda Ayu Candra. Setelah ibu kita sekarang meninggal dunia, kita berdua tidak berhak lagi tinggal di sini."
"Mengapa begitu, ayunda? Kalau ayunda menjadi isteri rakanda adipati, ayunda mempunyai hak sepenuhnya tinggal di sini. Siapakah yang akan melarang Ayunda? Saya kira tidak ada seorangpun yang akan, merasa keberatan dan.....”
"Sudahlah, Setyaningsih. Engkau masih terlalu kecil untuk dapat mengerti urusanku. Pendeknya, malam ini juga aku akan pergi dari sini. Kalau engkau kasihan dan mencinta kepada ayundamu ini, marilah engkau ikut bersamaku." Sambil berkata demikian, Endang Patibroto bangkit berdiri. Setyaningsih bangkit pula dan memegang tangan ayundanya erat-erat.
"Ayunda menjadi pengganti kanjeng ibu. Aku ikut.... "
"Anak baik, seharusnya begitulah. Mari kita pergi!" Endang Patibroto memondong tubuh Setyaningsih dan dibawanya meloncat cepat meninggalkan taman sari, menghilang di dalam kegelapan malam. Beberapa kali Setyaningsih menoleh dan memandang lampu-lampu yang menerangi gedung kadipaten sampai akhirnya bayangan gedung itu lenyap. Dua matanya menjadi basah dan di dalam hati anak ini timbul kesangsian apakah ia akan dapat melihat kembali gedung Kadipaten Selopenangkep ini.

Pada keesokan harinya, keluarga kadipaten menjadi gempar ketika melihat lenyapnya Endang Patibroto dan Setyaningsih. Lenyap begitu saja tanpa meninggalkan pesan, bahkan pakaian Setyaningsih di dalam kamarnyapun masih lengkap yang berarti bahwa anak itu lenyap hanya membawa pakaian yang dipakainya malam itu!
Roro Luhito menghela napas dan memeluk puterinya yang menangis karena hilangnya Setyaningsih, saudara tirinya yang amat dikasihinya.
"Ahhh, kukira tentu Endang Patibroto yang membawa Setyaningsih pergi. Agaknya masih juga belum berubah watak yang keras dan aneh luar biasa dari Endang Patibroto. Aku sudah merasa tidak enak hati dan menduga tentu akan terjadi sesuatu yang tidak baik ketika ia datang. Ah, angger, anakku adipati, kuatkanlah hatimu menghadapi ujian Hyang Widhi yang amat berat ini." Kembali Roro Luhito menghela. napas lalu menggandeng tangan Pusporini diajak masuk ke belakang. Tak tahan ia menyaksikan pandang mata sayu Adipati Tejolaksono. Hanya suami isteri itulah yang mengerti apa sebabnya Endang Patibroto melarikan diri. Mereka dapat menduganya. Tentu Endang Patibroto telah mendengar percakapan antara mereka semalam! Melihat sinar mata suaminya yang begitu sayu, wajah yang pucat dan muram, tarikan mulut yang membayangkan kedukaan yang hebat, Ayu Candra lalu membalikkan tubuhnya, terisak dan lari memasuki kamarnya. Adipati Tejolaksono melangkah dengan lemas mengikuti isterinya, memasuki kamar. Ketika Ayu Candra melihat suaminya masuk kamar, ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kedua kaki suaminya, menangis dan berkata,
"Aduh, Kakangmas Adipati. Semua adalah kesalahanku....! Karena kelemahan dan kepicikanku...., tentu diajeng Endang Patibroto mendengarnya dan merasa tersinggung hatinya..... padahal sungguh mati aku sudah menghapus perasaan itu, Kakangmas. Pergilah menyusulnya, Kakangmas. Bujuklah agar suka kembali ke sini dan aku akan mohon ampun kepadanya....!”

<<< Bagian 043                                                                                    Bagian 045 >>>

No comments:

Post a Comment