Roro Luhito seorang wanita
yang sudah tua, sudah banyak makan garam dunia, sudah berpengalaman dan
wawasannya juga tajam berdasarkan pandangan luas. Pada malam berikutnya,
terbuktilah apa yang dikhawatirkan oleh Roro Luhito. Adipati Tejolaksono,
sebagai seorang suami bijaksana, sungguhpun dendam rindunya terhadap Endang
Patibroto masih menggelora, pada malam ke dua itu berdiam di dalam kamar Ayu
Candra. Seperti biasa, suami isteri yang saling mencinta ini berkasih-kasihan,
berbisik-bisik di atas pembaringan dan dalam kesempatan ini, Tejolaksono
menceritakan isterinya tentang Endang Patibroto yang telah mengandung!
"Kiranya Hyang Widhi
Wisesa juga memberkahi perjodohanku dengan Endang Patibroto, nimas Ayu.
Buktinya, ikatan jodoh yang kami laksanakan di dalam ruangan bawah tanah dalam
menghadapi maut itu ternyata dianugerahi dewata dan dia kini telah mengandung
dua bulanl" Untuk menjaga perasaan isterinya pertama ini, sang adipati
menekan kegirangan hatinya, namun dalam suaranya masih jelas terdengar
kegirangan yang meluap-luap. Ayu Candra mula-mula tersenyum dan ikut merasa
bahagia. Akan tetapi, ketika suaminya hampir pulas, ia tak dapat menahan lagi
kesedihan hatinya dan menangislah Ayu Candra! Sebagai seorang sakti mandraguna
yang memiliki tubuh selalu dalam keadaan siap siaga, sedikit saja keadaan tidak
wajar telah membuat Adipati Tejolaksono lenyap kantuknya dan ia bangkit duduk.
Dlpandangnya isterinya dan la bertanya Iirih dan halus,
"Yayi dewi....mengapa
kau menangis? Apakah yang menyusahkan hatimu?"
Pertanyaan ini membuat Ayu
Candra makin sedih dan menangis sampai mengguguk, menyembunyikan mukanya di
atas bantal. Setelah dua tiga kali suaminya bertanya, barulah ia menjawab
dengan suara tersendat-sendat,
"Aku....aku teringat
akan Bagus Seta......!”
"Aaah, mengapa, Yayi?
Bukankah putera kita itu sudah aman tenteram di bawah bimbingan Eyang Guru Ki
Tunggaljiwa? Bayangkan betapa kelak ia akan pulang sebagai seorang ksatria yang
gagah perkasa dan....!!”
"Kakangmas.....aku....besok
akan pergi menyusulnya di puncak Merapi.... !”
"Ehhhh....??”
Tejolaksono terkejut dan memegang kedua pundak isterinya, dibangunkannya
isterinya itu duduk di depannya. Rambut yang terurai itu menutupi sebagian muka
Ayu Candra.
"Kenapa begitu, Nimas?"
"Aku....aku tidak dapat
berpisah darinya...aku akan menjaga dan menemaninya di sana sampai ia lulus
dari perguruan di sana...aku....aku...” Ayu Candra terisak-isak.
Tejolaksono menarik napas
panjang, bingung dan tidak mengerti.
"Nimas Ayu, engkau
tentu maklum bahwa aku sendiripun merasa berat berpisah dari Bagus Seta, akan
tetapi....kita sudah melihat peristiwa yang terjadi di sana dan sudah mendengar
semua penuturan Eyang Guru Ki Tunggaljiwa. Betapapun berat rasa hatiku berpisah
dari putera kita, terpaksa kutahankan karena...“
"Karena engkau sebentar
lagi akan mempunyai putera lain, Kakangmas! Engkau dan diajeng Endang Patibroto
akan mempunyai seorang putera yang selalu dekat dengan kalian, akan tetapi
aku.....aku tidak punya siapa-siapa....“
Diam-diam Tejolaksono
tersentak kaget. Jantungnya berdebar dan ia maklum bahwa inilah sebuah di
antara akibat daripada perbuatannya!
"Aduh, nimas
Ayu....mengapa engkau berpendapat begitu? Ingatlah, Nimas....anak Endang
Patibroto adalah anakku, dan anakku berarti anakmu pula, bukan?. Ahhh, apakah
akan jadinya kalau engkau pergi menyusul Bagus Seta? Hal ini tidak mungkin,
tidak boleh kaulakukan, Nimas. Engkau tahu bahwa kalau hal itu kaulakukan,
berarti engkau akan menghancurkan hatiku...betapa engkau tega melakukan hal
seperti itu....“
Ayu Candra mengangkat
mukanya memandang wajah suaminya. Melihat betapa sepasang alis suaminya
berkerut, sepasang mata itu sayu dan sedih, ia lalu menubruk, merangkul dan
membenamkan muka di dada suaminya.
"Duh....Kakangmas
.....ampunkan hamba.... ampunkan hamba yang picik dan lemah .... Kakangmas,
legakan hatimu, aku...aku takkan melakukan hal itu....betapapun berat rasa
hatiku, akan kukuat-kuatkan.....“
Rasa hati Tejolaksono
seperti disiram air embun di puncak Semeru. Batu seberat gunung yang menindih
hati serasa diangkat. Lapang bukan main rasa dadanya. Diciumnya ubun-ubun
kepala Isterinya dengan sepenuh kasih sayangnya dan ia berbisik,
"Aku tahu...aku tidak
pernah meragukanmu, Yayi....aku tahu bahwa engkau adalah isteriku yang
tercinta, seorang isteri yang setia dan bijaksana.....“
Agaknya urusan itu akan
menjadi beres kembali dan hanya sampai sekian saja karena Ayu Candra sudah
kelihatan tenang kembali dan hati Tejolaksono sudah menjadi lega dan girang.
Akan tetapi sang adipati ini tidak melihat dan tidak tahu apa yang terjadi di
luar kamarnya. Kalau saja ia tahu, tentu ia tidak akan dapat begitu bahagia
memadu kasih dengan Ayu Candra.
Dengan gerakan yang amat
ringan, Endang Patibroto meninggalkan jendela kamar Ayu Candra. Ia menahan suara
isak tangisnya dengan kedua tangan yang didekapkan rapat-rapat ke depan mulut
dan hidung, kemudian setelah agak jauh, ia lari memasuki taman yang gelap dan
sunyi. Ia tidak berani kembali ke kamarnya, karena khawatir kalau-kalau suara
tangisnya terdengar oleh bibi Roro Luhito. Kini ia berada di taman sari yang
sunyi dan gelap dan di sinilah, di atas sebuah bangku di bawah pohon kenanga,
Endang Patibroto menangis mengguguk. Dengan kekerasan hatinya ditahannya tangis
itu, dan kini ia hanya terisak-isak dan duduk melamun. Percakapan antara
Tejolaksono dan Ayu Candra masih terngiang-ngiang di telinganya dan jantungnya
serasa ditusuk-tusuk.
Apa yang selama ini ia
khawatirkan terjadi! Ayu Candra tidak rela ia menjadi isteri Tejolaksono, tidak
rela ia berada di situ! Memang tidak terang-terangan menyatakan
ketidakrelaannya, akan tetapi sama saja artinya. Masih terngiang dalam
telinganya ucapan Ayu Candra sambil menangis tadi.
"Karena engkau sebentar
lagi akan mempunyai putera lain! Engkau dan diajeng Endang Patibroto akan
mempunyai seorang putera yang selalu dekat dengan kalian, akan tetapi
aku....aku tidak punya siapa-siapa....” Ayu Candra bahkan rela hendak
meninggalkan kadipaten! Ah, betapa mungkin ia mendesak kedudukan Ayu Candra
seperti ini? Dahulu ia sudah melakukan banyak hal yang menyakitkan hati Ayu
Candra. Membunuh ayah kandung dan ibu tirinya, bahkan hendak membunuh Ayu
Candra. Dan sekarang, ia merampas suaminya dan hendak merebut pula
kedudukannya? Tidak! Sampai matipun tidak sudi ia melakukan hal tak tahu malu
ini! Dialah yang harus pergi dari situ! Memang sejak semula ia sudah ingin
pergi, akan tetapi... cinta kasihnya terhadap Joko Wandiro demikian besar ...
ingin ia selalu berdampingan, dan karena kandungannya, ia tak ingin berpisah
lagi dari suaminya itu, ayah dari anak dalam kandungannya. Akan tetapi sekarang
jelas baginya bahwa tidak mungkin terlaksana keinginan hatinya itu. Ayu Candra
hanya di lahirnya saja mau menerimanya dengan rela, akan tetapi batinnya
menolak dan membencinya! Dan Adipati Tejolaksono amat mencinta Ayu Candra! Dia
tidak sudi kalau harus memperebutkan cinta! Dia tidak sudi kalau harus tunduk,
memperlihatkan kelemahan hatinya. Tidak, hidup seperti itu akan membuatnya
sengsara dan sewaktu-waktu ia tentu takkan dapat mengendalikan hatinya lagi dan
mungkin timbul keributan kalau ia sampai bertentangan dengan madunya. Ia tidak
ingin menimbulkan ribut dan dosa lagi. Ia akan pergi mengasingkan diri, mencari
tempat sunyi. Biarpun hatinya mengambil keputusan demikian, namun Endang
Patibroto merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk yang membuatnya menangis
tersedu-sedu lagi. Teringat ia akan Tejolaksono, terbayang ia akan segala
kemesraan yang dinikmatinya malam tadi. Ia tahu bahwa sesungguhnya pria inilah
yang ia idam-idamkan semenjak dahulu. Dan sekarang, setelah menjadi miliknya,
harus ia lepaskan lagi! Sebuah tangan yang halus menyentuh pundaknya diikuti
suara yang halus pula, menggetar penuh keharuan,
"Ayunda.... mengapa
ayunda menangis....? Mendengar suara adik kandungnya ini, makin sedih hati
Endang Patibroto. Ia meraih Setyaningsih, merangkul dan mendekapnya sambil
menangis makin sesenggukan. Setyaningsih biarpun baru berusia sebelas tahun, akan
tetapi anak ini mewarisi watak ayahnya, yaitu mendiang Pujo, satria yang sakti
mandraguna, bijaksana, berpandangan luas dan bersikap tenang. Setyaningsih
biarpun saudara sekandung Endang Patibroto, namun wataknya jauh berbeda. Tidak
mudah terseret perasaan sehingga biarpun kini air matanya juga turun
bercucuran, namun ia dapat menahan diri, tidak sampai mengguguk seperti tangis
Endang Patibroto. Wanita perkasa ini dahulu juga memiliki watak yang kuat, akan
tetapi kekuatannya berdasarkan kekerasan, bukan seperti Setyaningsih yang
berdasarkan ketenangan,
"Ayunda, apakah ayunda
teringat kepada ibunda? Ah, ayunda. Kanjeng Ibu sudah seda (tewas) sebagai
seorang wanita utama, sebagai seorang perajurit perkasa. Selayaknyakah kalau
puteri-puterinya menangisinya terus? Ayunda, harap ayunda jangan menangis....“
Setyaningsih membelai-belai rambut kakaknya dengan penuh kasih sayang.
"Aduh, adikku
Setyaningsih.....” Endang Patibroto mencium pipi adiknya dan sambil memegangi
kedua pundak anak itu, mereka berpandangan.
"Engkau benar,
Setyaningsih, tidak perlu banyak menangis karena menangis adalah tanda
kelemahan. Dan kita berdua bukanlah orang-orang lemah, kita berdua adalah
keturunan suami isteri yang sakti mandraguna! Kini ayah bunda kita telah
meninggal dunia, adikku dan aku hanya mempunyai engkau, engkaupun hanya
mempunyai aku! Karena itu.... kita harus pergi dari sini, Setyaningsih,
sekarang juga."
Setyaningsih memandang
ayundanya dengan sepasang mata terbelalak kaget dan heran. Ucapan ayundanya ini
sama sekali tak pernah disangkanya. Biarpun ia baru berusia sebelas tahun,
namun dia bersama Pusporini sudah mengerti bahwa ayundanya ini menjadi garwa
selir Adipati Tejolaksono.
"Akan tetapl ....Ayunda
.....bukankah ayunda telah menjadi isteri rakanda adipati?"
Endang Patibroto menghela
napas panjang.
"Benar, adikku. Akan
tetapi rumah ini adalah milik ayunda Ayu Candra. Setelah ibu kita sekarang
meninggal dunia, kita berdua tidak berhak lagi tinggal di sini."
"Mengapa begitu,
ayunda? Kalau ayunda menjadi isteri rakanda adipati, ayunda mempunyai hak
sepenuhnya tinggal di sini. Siapakah yang akan melarang Ayunda? Saya kira tidak
ada seorangpun yang akan, merasa keberatan dan.....”
"Sudahlah,
Setyaningsih. Engkau masih terlalu kecil untuk dapat mengerti urusanku.
Pendeknya, malam ini juga aku akan pergi dari sini. Kalau engkau kasihan dan
mencinta kepada ayundamu ini, marilah engkau ikut bersamaku." Sambil
berkata demikian, Endang Patibroto bangkit berdiri. Setyaningsih bangkit pula
dan memegang tangan ayundanya erat-erat.
"Ayunda menjadi
pengganti kanjeng ibu. Aku ikut.... "
"Anak baik, seharusnya
begitulah. Mari kita pergi!" Endang Patibroto memondong tubuh Setyaningsih
dan dibawanya meloncat cepat meninggalkan taman sari, menghilang di dalam
kegelapan malam. Beberapa kali Setyaningsih menoleh dan memandang lampu-lampu
yang menerangi gedung kadipaten sampai akhirnya bayangan gedung itu lenyap. Dua
matanya menjadi basah dan di dalam hati anak ini timbul kesangsian apakah ia
akan dapat melihat kembali gedung Kadipaten Selopenangkep ini.
Pada keesokan harinya,
keluarga kadipaten menjadi gempar ketika melihat lenyapnya Endang Patibroto dan
Setyaningsih. Lenyap begitu saja tanpa meninggalkan pesan, bahkan pakaian
Setyaningsih di dalam kamarnyapun masih lengkap yang berarti bahwa anak itu lenyap
hanya membawa pakaian yang dipakainya malam itu!
Roro Luhito menghela napas
dan memeluk puterinya yang menangis karena hilangnya Setyaningsih, saudara
tirinya yang amat dikasihinya.
"Ahhh, kukira tentu
Endang Patibroto yang membawa Setyaningsih pergi. Agaknya masih juga belum
berubah watak yang keras dan aneh luar biasa dari Endang Patibroto. Aku sudah
merasa tidak enak hati dan menduga tentu akan terjadi sesuatu yang tidak baik
ketika ia datang. Ah, angger, anakku adipati, kuatkanlah hatimu menghadapi
ujian Hyang Widhi yang amat berat ini." Kembali Roro Luhito menghela.
napas lalu menggandeng tangan Pusporini diajak masuk ke belakang. Tak tahan ia
menyaksikan pandang mata sayu Adipati Tejolaksono. Hanya suami isteri itulah
yang mengerti apa sebabnya Endang Patibroto melarikan diri. Mereka dapat
menduganya. Tentu Endang Patibroto telah mendengar percakapan antara mereka
semalam! Melihat sinar mata suaminya yang begitu sayu, wajah yang pucat dan
muram, tarikan mulut yang membayangkan kedukaan yang hebat, Ayu Candra lalu
membalikkan tubuhnya, terisak dan lari memasuki kamarnya. Adipati Tejolaksono
melangkah dengan lemas mengikuti isterinya, memasuki kamar. Ketika Ayu Candra
melihat suaminya masuk kamar, ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kedua
kaki suaminya, menangis dan berkata,
"Aduh,
Kakangmas Adipati. Semua adalah kesalahanku....! Karena kelemahan dan
kepicikanku...., tentu diajeng Endang Patibroto mendengarnya dan merasa
tersinggung hatinya..... padahal sungguh mati aku sudah menghapus perasaan itu,
Kakangmas. Pergilah menyusulnya, Kakangmas. Bujuklah agar suka kembali ke sini
dan aku akan mohon ampun kepadanya....!”
No comments:
Post a Comment