Tejolaksono memegang tangan isterinya dan berdiri berhadapan di sebuah lereng.
"Nimas, aku harap
Adinda tidak akan menjadi marah. Percayalah, Nimas, bahwa hal ini terjadi di
waktu kami menghadapi maut yang kami anggap tak dapat dihindarkan lagi sehingga
pikiran kami menjadi gelap. Andaikata tidak dalam keadaan seperti itu, aku
yakin hal itu tidak akan terjadi. Adinda tentu tahu bahwa kalaupun aku
berhasrat mengambil selir, tentu dengan persetujuanmu lebih dahulu. Maka, harap
Adinda tidak marah dan kalau hal ini menyinggung perasaanmu harap kau suka
memaafkan kami...."
Kini Ayu Candra tersenyum,
wajahnya berseri dan ia membenamkan mukanya di dada suaminya.
"Maaf, Kakangmas.
Sebentar tadi aku digoda cemburu. Tidak....! Aku tidak cemburu. Apalagi Endang
Patibroto yang menjadi selirmu. Aku bahkan bangga mempunyai madu seorang wanita
yang sakti mandraguna! Memang dia patut dikasihani, Kakangmas. Apalagi setelah
kanjeng bibi Kartikosari tidak ada. Biarlah, dia akan kusambut sebagai
saudaraku, sebagai adikku, karena memang dia maduku, dia isterimu. Aku tidak
cemburu, Kakangmas."
Alangkah girang dan besar
hati Tejolaksono. Ia maklum akan kehalusan budi Ayu Candra. Ia lalu memegang
wajah isterinya di antara kedua tangan, diangkatnya muka yang cantik jelita itu
sehingga muka mereka berhadapan, mata mereka saling tatap. Tejolaksono melihat
betapa pandang mata isterinya benar-benar tutus ikhlas, tidak ada sedikitpun
bayangan amarah atau cemburu. Ia amat bersyukur dan berterima kasih maka diciumnya
mata yang indah itu. Ayu Candra meramkan matanya dan merangkul leher suaminya
yang amat dikasihinya. Ketika suami isteri ini tiba kembali di Kadipaten
Selopenangkep, mereka disambut oleh Roro Luhito dan puterinya, Pusporini,
kemudian puteri Kartikosari yang bernama Setyaningsih, dan seorang lagi yang
amat mengejutkan dan menggirangkan hati suami isteri itu, yakni Endang
Patibroto! Melihat Endang Patibroto, Ayu Candra lalu maju dan merangkulnya.
"Adikku wong ayu,
Endang Patibroto...., aku sudah mendengar semua tentang dirimu. Ahhh, betapa
banyak kesengsaraan kau derita, Adikku. Biarlah mulai sekarang kita bersama
menikmati kebahagiaan, dan aku sungguh girang dapat memelukmu seperti seorang
kakak, Adikku."
Endang Patibroto sekilas
mengerling kepada Tejolaksono yang tersenyum kepadanya, maka mengertilah wanita
ini bahwa Tejolaksono telah membuka rahasia mereka kepada Ayu Candra. Hal ini
amat menggelisahkan hatinya tadi, menjadi ganjalan karena ia merasa malu kepada
Ayu Candra dan selalu mengkhawatirkan pertemuan ini. Apalagi ketika ia tiba di
Selopenangkep dan mendengar tentang tewasnya ibu kandungnya, hatinya makin
trenyuh dan gelisah. Akan tetapi setelah kini bertemu, sikap Ayu Candra
benar-benar tak pernah ia sangka-sangka dan hatinya menjadi lega dan terharu
sekali. Wanita ini telah ia bunuh ayah ibunya, dan kini bahkan seakan-akan ia
"curi" suaminya, akan tetapi menerimanya seramah ini. Ia balas
merangkul dan berkata lirih,
“... terima kasih....,
engkau baik sekali.... sudi menerima orang yang buruk watak dan buruk nasib
seperti aku.... biarlah mulai saat ini aku mengaku ayunda kepadamu....dan aku
akan mentaatimu seperti mentaati kakak sendiri....“ Melihat betapa dua orang
wanita itu berpelukan terharu, Roro Luhito mengerutkan keningnya. Wanita ini tahu
benar akan watak Endang Patibroto, dan sudah mengenal pula watak Ayu Candra.
Sifat dan watak kedua orang wanita ini bagaikan bumi dan langit. Endang
Patibroto liar dan keras, berdarah panas dan tidak punya rasa rendah hati sama
sekali, sukar ditundukkan. Adapun Ayu Candra lemah lembut dan manja atau ingin
dimanjakan suaminya. Betapa mungkin dua orang wanita ini menjadi madu? Dia tadi
kaget bukan main mendengar percakapan dua orang wanita ini karena semenjak
datang ke Selopenangkep pagi tadi, Endang Patibroto tidak pernah bercerita
tentang itu.
"Anaknda adipati, harap
ceritakan bagaimana dengan hasil usaha kalian mencari Bagus Seta. Mana dia?
Mengapa tidak ikut pulang?" Pertanyaan ini ia ajukan dengan suara keras
untuk menutupi ketidaksenangan hatinya melihat Endang Patibroto dan Ayu Candra
berpelukan sebagai madu. Roro Luhito sama sekali bukan tidak setuju kalau
Adipati Tejolaksono mernpunyai selir. Dia sendiri adalah isteri ke dua, isteri
selir. Akan tetapi karena persatuan antara Endang Patibroto dan Ayu Candra,
menurut pemandangannya, dapat menimbulkan hal-hal yang tidak baik dan ada
bahaya meruntuhkan kebahagiaan rumah tangga Tejolaksono, maka ia merasa tidak
setuju di dalam hatinya. Tentu saja bagi Roro Luhito, yang terpenting adalah
kebahagiaan Tejolaksono karena adipati ini adalah keponakannya, putera dari
kakaknya.
Ketika Tejolaksono dan Ayu
Candra menceritakan tentang keadaan Bagus Seta yang dalam keadaan selamat dan
menjadi murid kakek sakti Ki Tunggaljiwa, Roro Luhito menjadi lega hatinya.
Sebagai orang tua, ia maklum bahwa pada saat itu merupakan pertemuan segi tiga
yang mesra antara Tejolaksono dan kedua orang isterinya, maka ia lalu
menggandeng tangan Pusporini dan Setyaningsih sambil berkata,
"Anaknda adipati tentu
lelah dan ingin beristirahat. Marilah, kedua anakku, kita ke belakang."
Setyaningsih yang digandeng
Roro Luhito, beberapa kali menengok ke arah Endang Patibroto. Semenjak Endang
Patibroto datang pagi tadi, anak ini selaIu memandang kakaknya itu dengan
pandang mata kagum dan penuh kasih. Sudah banyak ia mendengar dari mendiang
ibunya tentang kakaknya ini yang menurut ibunya amat sakti mandraguna. Kini
setelah ibunya meninggal dunia, munculnya kakaknya ini seakan-akan menjadi
pengganti ibunya. Sebaliknya, Endang Patibroto juga amat mencinta adik
kandungnya ini. Adipati Tejolaksono yang bercakap-cakap dengan kedua isterinya,
agaknya penuh dengan kebahagiaan dan suasana tenteram damai penuh kasih
menyelimutl mereka bertiga. Agaknya kekhawatiran Roro Luhito adalah
kekhawatiran kosong belaka. Ayu Candra telah rela dan ikhlas terhadap Endang
Patibroto, demi cinta kasihnya yang murni terhadap suaminya. Bahkan malam hari
itu, sebagai isteri pertama yang bijaksana, Ayu Candra membujuk suaminya agar
menemani Endang Patibroto di dalam kamarnya. Sukar dilukiskan betapa besar
kebahagiaan hati Tejolaksono dan Endang Patibroto yang melihat bahwa hubungan
mereka dapat perlangsung dengan amat baiknya, tiada halangan sesuatu. Dan dalam
pertemuan yang mesra itu Endang Patibroto menceritakan tentang perang yang
dilakukan Jenggala dan Panjalu terhadap Kadipaten Blambangan. Kedua kerajaan
ini mengirim pasukan besar. Bahkan Panjalu mengirim pasukan istimewa yang
dipimpin sendiri oleh Pangeran Darmokusumo dan setelah kedua pasukan ini
menggabung, penyerbuan Blambangan dimulai. Blambangan dilanda serbuan
besar-besaran dan biarpun Blambangan melakukan perlawanan mati-matian, namun
kadipaten ini bukanlah lawan pasukan kedua kerajaan yang dipimpin orang-orang
pandai. Apalagi ada Endang Patibroto di dalam pasukan itu yang mengamuk hebat
dan banyak senopati Blambangan roboh di dalam tangan wanita sakti ini. Dalam
waktu beberapa hari saja pertahanan Blambangan dapat dipatahkan, kadipaten
diserbu, dan Adipati Menak Linggo tewas pula di tangan Endang Patibroto. Juga
Ki Patih Kalanarmodo dan Senonati Mayangkurdo, Klabangkoro dan Klabangmuko
semua tewas dalam perang yang pendek namun dahsyat. Hanya Sindupati yang dapat
melarikan diri, berhasil menyelamatkan diri dengan sebuah perahu menyeberang
selat dan bersembunyi di Bali-dwipa, dimana ia mencari orang-orang pandai untuk
memperdalam ilmunya sambil bersembunyi dari pengejaran musuh.
"Setelah Blambangan
terbasmi, aku meninggalkan pasukan dan berpamit dari Pangeran Darmokusumo untuk
pergi lebih dulu karena kuanggap tugasku sudah selesai. Hanya sayang sekali, si
keparat Sindupati dapat meloloskan diri, agaknya ia melarikan diri ke
Bali-dwipa, akan tetapi aku tidak sempat mengejarnya, Kakangmas.
Karena....karena....aku ingin sekali segera menyusulmu ke Selopenangkep."
Adipati Tejolaksono tertawa
dan mencium isterinya ini yang bercerita sambil rebah dalam pelukannya.
"Mati hidup berada di
tangan Hyang Widhi, adinda Endang Patibroto. Agaknya memang belum tiba saatnya
Sindupati menerima hukumannya. Memang tepat sekali adinda cepat-cepat datang ke
Selopenangkep karena .....hemm....aku telah rindu sekali...." Sejenak
sunyi di antara mereka karena Endang Patibroto terbuai dalam belaian suaminya
yang mesra dan penuh kasih sayang. Kemudian terdengar ia berkata,
“....Kakangmas, sesungguhnya....baru
berpisah hampir dua bulan bagiku.... pun amat berat. Akan tetapi...... ah,
terus terang saja, Kakangmas. Sebelum bertemu dengan engkau dan ..... ayunda
Ayu Candra, hatiku amat gelisah dan khawatir. Aku telah banyak melakukan
kisalahap dahulu terhadap ayunda Ayu Candra, dan tadinya aku takut untuk
bertemu muka, takut untuk mengakui hubungan antara kita, takut dan malu.
Tadinya aku bahkan hendak diam-diam pergi minggat saja, biar aku hidup sebagai
pertapa, biar selamanya tidak bertemu dengan ayunda Ayu Candra, betapa pun akan
beratnya penanggulangan hatiku yang penuh dendam rindu kepadamu, tapi....”
Adipati Tejolaksono
menghentikan kata-kata isterinya dengan ciuman. Kemudian ia tertawa.
"Cukuplah, Yayi, tidak
perlu dilanjutkan persangkaan yang bukan-bukan itu, karena buktinya sekarang
tidak seperti yang kau khawatirkan, bukan?"
Endang Patibroto menarik
napas panjang dengan hati lapang.
"Memang, dan aku
bersyukur kepada Dewata, berterima kasih kepada ayunda Ayu Candra yang
bijaksana dan berbudi luhur. Sesungguhnya, akan kelirulah kalau aku menuruti
kata hati lalu minggat meninggalkanmu untuk selamanya seperti yang tadinya
terniat di hatiku. Aduhh...betapa akan sengsaranya hatiku kalau begitu. Untung
..., untung sekali ada sesuatu yang memaksa aku harus bertemu dengan engkau,
Kakangmas. Yang memaksakan datang ke Selopenangkep dan yang mencegah aku pergi
minggat mengasingkan diri." Adipati Tejolaksono menunda belaian kasih
sayangnya dan menatap wajah dalam rangkulannya, memandang penuh pertanyaan.
"Apakah sesuatu itu,
Yayi?"
Tiba-tiba ia melihat air
mata berlinangan di mata yang indah itu. Endang Patibroto menangis! Akan tetapi
bukan tangis karena duka, buktinya bibir yang merah membasah itu tersenyum!
Segera Tejolaksono mengecup sepasang mata itu untuk menghapus beberapa titik
air mata bening yang turun ke pipi. Kedua lengan Endang Patibroto merangkul
lehernya dengan ketat dan mulutnya berbisik dekat telinga Tejolaksono,
"Kakangmas.... Joko
Wandiro...” Suaranya menggetar penuh perasaan dan jantung Tejolaksono berdebar
pula mendengar disebutnya nama kecilnya.
".... aku... aku telah
mengandung...., semenjak kita berpisah dari Blambangan ...." Dan kini air
mata makin deras berlinang dari sepasang mata itu. Air mata kebahagiaan! Selama
sepuluh tahun menjadi isteri Pangeran Panjirawit, Endang Patibroto tidak
mempunyai anak dan kini ia telah mengandung keturunan Joko Wandiro, pria yang
dahulu untuk pertama kalinya telah merebut kasih hatinya namun bertentangan
karena keadaan.
"Heeeiiii....???"
Saking kaget dan girangnya, Adipati Tejolaksono melompat turun dari
pembaringan, memandang kepada Endang Patibroto dengan mata terbelalak.
"Ti...tidak
girangkah....hatimu...mendengar hal itu.., Kakanda....?”
"Girang?? Ha-ha-ha-ha!
Hampir gila aku karena girang! Aduh, adinda pujaan hati, kekasih hatiku, engkau
masih bertanya apakah aku girang....? Ha-ha-ha!" Adipati Tejolaksono
merangkul dan mengangkat tubuh isterinya, dipondong dan dibawa berjingkrakan
dan berputaran di dalam kamar mereka!
Malam penuh
madu asmara, penuh kebahagiaan bagi kedua orang ini. Malam yang indah di mana
seluruh perasaan cinta kasih ditumpahkan dan saling dilimpahkan satu kepada
yang lain. Malam bahagia yang agaknya menyangkal kekhawatiran hati Roro Luhito.
Dan agaknya memang demikianlah kalau ditengok keadaan Ayu Candra yang rebah
sendirian di dalam kamarnya, kadang-kadang tersenyum puas karena selain
puteranya selamat dan menjadi murid seorang sakti, suaminya telah berkumpul
kembali dengan kekasih lama. Sebagai seorang wanita, ia berperasaan halus dan
sejak dahulupun ia sudah menduga bahwa ada jalinan kasih yang terpendam di
antara suaminya dan Endang Patibroto. Kini agaknya Endang Patibroto sudah
insyaf, sudah merubah wataknya yang liar dan ia merasa puas. Malam itu, biarpun
tidur sendirian di dalam kamarnya, Ayu Candra tidur pulas tanpa mimpi. Akan
tetapi, jalan hidup manusia sudah ada garisnya yang ditentukan oleh Tuhan.
Garis ini wajar dan sudah semestlnya terjadi demikian, sudah adil dan baik,
sesuai dengan karma manusia masing-masing. Berat atau ringan, duka atau suka
dalam menerima garis ini tergantung kepada manusia sendiri. Manusia tak mampu
merubahnya. Manusia hanya wajib mengisi hidupnya dengan kebaikan karena hanya
dengan cara ini sajalah, dengan menumpuk kebaikan dan menjauhi kejahatan,
manusia akan dapat "meluruskan" garis hidupnya di kemudian hari
karena Tuhan itu Maha Adil. Dosa-dosa yang lalu hanya dapat ditebus dengan rasa
tobat yang setulusnya disertai pemupukan perbuatan-perbuatan yang baik dan
penerimaan hukuman dengan ikhlas dan sadar. Perbuatan-perbuatan baik barulah
benar kalau dilakukan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan anugerah atau hadiah!
Kekhawatiran Roro Luhito bukanlah kekhawatiran dungu, bukan ditimbulkan karena
hati iri atau dengki, bukan pula oleh benci atau marah.
No comments:
Post a Comment