Perawan Lembah Wilis; Bagian 043


Tejolaksono memegang tangan isterinya dan berdiri berhadapan di sebuah lereng.
"Nimas, aku harap Adinda tidak akan menjadi marah. Percayalah, Nimas, bahwa hal ini terjadi di waktu kami menghadapi maut yang kami anggap tak dapat dihindarkan lagi sehingga pikiran kami menjadi gelap. Andaikata tidak dalam keadaan seperti itu, aku yakin hal itu tidak akan terjadi. Adinda tentu tahu bahwa kalaupun aku berhasrat mengambil selir, tentu dengan persetujuanmu lebih dahulu. Maka, harap Adinda tidak marah dan kalau hal ini menyinggung perasaanmu harap kau suka memaafkan kami...."
Kini Ayu Candra tersenyum, wajahnya berseri dan ia membenamkan mukanya di dada suaminya.
"Maaf, Kakangmas. Sebentar tadi aku digoda cemburu. Tidak....! Aku tidak cemburu. Apalagi Endang Patibroto yang menjadi selirmu. Aku bahkan bangga mempunyai madu seorang wanita yang sakti mandraguna! Memang dia patut dikasihani, Kakangmas. Apalagi setelah kanjeng bibi Kartikosari tidak ada. Biarlah, dia akan kusambut sebagai saudaraku, sebagai adikku, karena memang dia maduku, dia isterimu. Aku tidak cemburu, Kakangmas."
Alangkah girang dan besar hati Tejolaksono. Ia maklum akan kehalusan budi Ayu Candra. Ia lalu memegang wajah isterinya di antara kedua tangan, diangkatnya muka yang cantik jelita itu sehingga muka mereka berhadapan, mata mereka saling tatap. Tejolaksono melihat betapa pandang mata isterinya benar-benar tutus ikhlas, tidak ada sedikitpun bayangan amarah atau cemburu. Ia amat bersyukur dan berterima kasih maka diciumnya mata yang indah itu. Ayu Candra meramkan matanya dan merangkul leher suaminya yang amat dikasihinya. Ketika suami isteri ini tiba kembali di Kadipaten Selopenangkep, mereka disambut oleh Roro Luhito dan puterinya, Pusporini, kemudian puteri Kartikosari yang bernama Setyaningsih, dan seorang lagi yang amat mengejutkan dan menggirangkan hati suami isteri itu, yakni Endang Patibroto! Melihat Endang Patibroto, Ayu Candra lalu maju dan merangkulnya.
"Adikku wong ayu, Endang Patibroto...., aku sudah mendengar semua tentang dirimu. Ahhh, betapa banyak kesengsaraan kau derita, Adikku. Biarlah mulai sekarang kita bersama menikmati kebahagiaan, dan aku sungguh girang dapat memelukmu seperti seorang kakak, Adikku."
Endang Patibroto sekilas mengerling kepada Tejolaksono yang tersenyum kepadanya, maka mengertilah wanita ini bahwa Tejolaksono telah membuka rahasia mereka kepada Ayu Candra. Hal ini amat menggelisahkan hatinya tadi, menjadi ganjalan karena ia merasa malu kepada Ayu Candra dan selalu mengkhawatirkan pertemuan ini. Apalagi ketika ia tiba di Selopenangkep dan mendengar tentang tewasnya ibu kandungnya, hatinya makin trenyuh dan gelisah. Akan tetapi setelah kini bertemu, sikap Ayu Candra benar-benar tak pernah ia sangka-sangka dan hatinya menjadi lega dan terharu sekali. Wanita ini telah ia bunuh ayah ibunya, dan kini bahkan seakan-akan ia "curi" suaminya, akan tetapi menerimanya seramah ini. Ia balas merangkul dan berkata lirih,
“... terima kasih...., engkau baik sekali.... sudi menerima orang yang buruk watak dan buruk nasib seperti aku.... biarlah mulai saat ini aku mengaku ayunda kepadamu....dan aku akan mentaatimu seperti mentaati kakak sendiri....“ Melihat betapa dua orang wanita itu berpelukan terharu, Roro Luhito mengerutkan keningnya. Wanita ini tahu benar akan watak Endang Patibroto, dan sudah mengenal pula watak Ayu Candra. Sifat dan watak kedua orang wanita ini bagaikan bumi dan langit. Endang Patibroto liar dan keras, berdarah panas dan tidak punya rasa rendah hati sama sekali, sukar ditundukkan. Adapun Ayu Candra lemah lembut dan manja atau ingin dimanjakan suaminya. Betapa mungkin dua orang wanita ini menjadi madu? Dia tadi kaget bukan main mendengar percakapan dua orang wanita ini karena semenjak datang ke Selopenangkep pagi tadi, Endang Patibroto tidak pernah bercerita tentang itu.
"Anaknda adipati, harap ceritakan bagaimana dengan hasil usaha kalian mencari Bagus Seta. Mana dia? Mengapa tidak ikut pulang?" Pertanyaan ini ia ajukan dengan suara keras untuk menutupi ketidaksenangan hatinya melihat Endang Patibroto dan Ayu Candra berpelukan sebagai madu. Roro Luhito sama sekali bukan tidak setuju kalau Adipati Tejolaksono mernpunyai selir. Dia sendiri adalah isteri ke dua, isteri selir. Akan tetapi karena persatuan antara Endang Patibroto dan Ayu Candra, menurut pemandangannya, dapat menimbulkan hal-hal yang tidak baik dan ada bahaya meruntuhkan kebahagiaan rumah tangga Tejolaksono, maka ia merasa tidak setuju di dalam hatinya. Tentu saja bagi Roro Luhito, yang terpenting adalah kebahagiaan Tejolaksono karena adipati ini adalah keponakannya, putera dari kakaknya.

Ketika Tejolaksono dan Ayu Candra menceritakan tentang keadaan Bagus Seta yang dalam keadaan selamat dan menjadi murid kakek sakti Ki Tunggaljiwa, Roro Luhito menjadi lega hatinya. Sebagai orang tua, ia maklum bahwa pada saat itu merupakan pertemuan segi tiga yang mesra antara Tejolaksono dan kedua orang isterinya, maka ia lalu menggandeng tangan Pusporini dan Setyaningsih sambil berkata,
"Anaknda adipati tentu lelah dan ingin beristirahat. Marilah, kedua anakku, kita ke belakang."
Setyaningsih yang digandeng Roro Luhito, beberapa kali menengok ke arah Endang Patibroto. Semenjak Endang Patibroto datang pagi tadi, anak ini selaIu memandang kakaknya itu dengan pandang mata kagum dan penuh kasih. Sudah banyak ia mendengar dari mendiang ibunya tentang kakaknya ini yang menurut ibunya amat sakti mandraguna. Kini setelah ibunya meninggal dunia, munculnya kakaknya ini seakan-akan menjadi pengganti ibunya. Sebaliknya, Endang Patibroto juga amat mencinta adik kandungnya ini. Adipati Tejolaksono yang bercakap-cakap dengan kedua isterinya, agaknya penuh dengan kebahagiaan dan suasana tenteram damai penuh kasih menyelimutl mereka bertiga. Agaknya kekhawatiran Roro Luhito adalah kekhawatiran kosong belaka. Ayu Candra telah rela dan ikhlas terhadap Endang Patibroto, demi cinta kasihnya yang murni terhadap suaminya. Bahkan malam hari itu, sebagai isteri pertama yang bijaksana, Ayu Candra membujuk suaminya agar menemani Endang Patibroto di dalam kamarnya. Sukar dilukiskan betapa besar kebahagiaan hati Tejolaksono dan Endang Patibroto yang melihat bahwa hubungan mereka dapat perlangsung dengan amat baiknya, tiada halangan sesuatu. Dan dalam pertemuan yang mesra itu Endang Patibroto menceritakan tentang perang yang dilakukan Jenggala dan Panjalu terhadap Kadipaten Blambangan. Kedua kerajaan ini mengirim pasukan besar. Bahkan Panjalu mengirim pasukan istimewa yang dipimpin sendiri oleh Pangeran Darmokusumo dan setelah kedua pasukan ini menggabung, penyerbuan Blambangan dimulai. Blambangan dilanda serbuan besar-besaran dan biarpun Blambangan melakukan perlawanan mati-matian, namun kadipaten ini bukanlah lawan pasukan kedua kerajaan yang dipimpin orang-orang pandai. Apalagi ada Endang Patibroto di dalam pasukan itu yang mengamuk hebat dan banyak senopati Blambangan roboh di dalam tangan wanita sakti ini. Dalam waktu beberapa hari saja pertahanan Blambangan dapat dipatahkan, kadipaten diserbu, dan Adipati Menak Linggo tewas pula di tangan Endang Patibroto. Juga Ki Patih Kalanarmodo dan Senonati Mayangkurdo, Klabangkoro dan Klabangmuko semua tewas dalam perang yang pendek namun dahsyat. Hanya Sindupati yang dapat melarikan diri, berhasil menyelamatkan diri dengan sebuah perahu menyeberang selat dan bersembunyi di Bali-dwipa, dimana ia mencari orang-orang pandai untuk memperdalam ilmunya sambil bersembunyi dari pengejaran musuh.
"Setelah Blambangan terbasmi, aku meninggalkan pasukan dan berpamit dari Pangeran Darmokusumo untuk pergi lebih dulu karena kuanggap tugasku sudah selesai. Hanya sayang sekali, si keparat Sindupati dapat meloloskan diri, agaknya ia melarikan diri ke Bali-dwipa, akan tetapi aku tidak sempat mengejarnya, Kakangmas. Karena....karena....aku ingin sekali segera menyusulmu ke Selopenangkep."
Adipati Tejolaksono tertawa dan mencium isterinya ini yang bercerita sambil rebah dalam pelukannya.
"Mati hidup berada di tangan Hyang Widhi, adinda Endang Patibroto. Agaknya memang belum tiba saatnya Sindupati menerima hukumannya. Memang tepat sekali adinda cepat-cepat datang ke Selopenangkep karena .....hemm....aku telah rindu sekali...." Sejenak sunyi di antara mereka karena Endang Patibroto terbuai dalam belaian suaminya yang mesra dan penuh kasih sayang. Kemudian terdengar ia berkata,
“....Kakangmas, sesungguhnya....baru berpisah hampir dua bulan bagiku.... pun amat berat. Akan tetapi...... ah, terus terang saja, Kakangmas. Sebelum bertemu dengan engkau dan ..... ayunda Ayu Candra, hatiku amat gelisah dan khawatir. Aku telah banyak melakukan kisalahap dahulu terhadap ayunda Ayu Candra, dan tadinya aku takut untuk bertemu muka, takut untuk mengakui hubungan antara kita, takut dan malu. Tadinya aku bahkan hendak diam-diam pergi minggat saja, biar aku hidup sebagai pertapa, biar selamanya tidak bertemu dengan ayunda Ayu Candra, betapa pun akan beratnya penanggulangan hatiku yang penuh dendam rindu kepadamu, tapi....”
Adipati Tejolaksono menghentikan kata-kata isterinya dengan ciuman. Kemudian ia tertawa.
"Cukuplah, Yayi, tidak perlu dilanjutkan persangkaan yang bukan-bukan itu, karena buktinya sekarang tidak seperti yang kau khawatirkan, bukan?"
Endang Patibroto menarik napas panjang dengan hati lapang.
"Memang, dan aku bersyukur kepada Dewata, berterima kasih kepada ayunda Ayu Candra yang bijaksana dan berbudi luhur. Sesungguhnya, akan kelirulah kalau aku menuruti kata hati lalu minggat meninggalkanmu untuk selamanya seperti yang tadinya terniat di hatiku. Aduhh...betapa akan sengsaranya hatiku kalau begitu. Untung ..., untung sekali ada sesuatu yang memaksa aku harus bertemu dengan engkau, Kakangmas. Yang memaksakan datang ke Selopenangkep dan yang mencegah aku pergi minggat mengasingkan diri." Adipati Tejolaksono menunda belaian kasih sayangnya dan menatap wajah dalam rangkulannya, memandang penuh pertanyaan.
"Apakah sesuatu itu, Yayi?"

Tiba-tiba ia melihat air mata berlinangan di mata yang indah itu. Endang Patibroto menangis! Akan tetapi bukan tangis karena duka, buktinya bibir yang merah membasah itu tersenyum! Segera Tejolaksono mengecup sepasang mata itu untuk menghapus beberapa titik air mata bening yang turun ke pipi. Kedua lengan Endang Patibroto merangkul lehernya dengan ketat dan mulutnya berbisik dekat telinga Tejolaksono,
"Kakangmas.... Joko Wandiro...” Suaranya menggetar penuh perasaan dan jantung Tejolaksono berdebar pula mendengar disebutnya nama kecilnya.
".... aku... aku telah mengandung...., semenjak kita berpisah dari Blambangan ...." Dan kini air mata makin deras berlinang dari sepasang mata itu. Air mata kebahagiaan! Selama sepuluh tahun menjadi isteri Pangeran Panjirawit, Endang Patibroto tidak mempunyai anak dan kini ia telah mengandung keturunan Joko Wandiro, pria yang dahulu untuk pertama kalinya telah merebut kasih hatinya namun bertentangan karena keadaan.
"Heeeiiii....???" Saking kaget dan girangnya, Adipati Tejolaksono melompat turun dari pembaringan, memandang kepada Endang Patibroto dengan mata terbelalak.
"Ti...tidak girangkah....hatimu...mendengar hal itu.., Kakanda....?”
"Girang?? Ha-ha-ha-ha! Hampir gila aku karena girang! Aduh, adinda pujaan hati, kekasih hatiku, engkau masih bertanya apakah aku girang....? Ha-ha-ha!" Adipati Tejolaksono merangkul dan mengangkat tubuh isterinya, dipondong dan dibawa berjingkrakan dan berputaran di dalam kamar mereka!
Malam penuh madu asmara, penuh kebahagiaan bagi kedua orang ini. Malam yang indah di mana seluruh perasaan cinta kasih ditumpahkan dan saling dilimpahkan satu kepada yang lain. Malam bahagia yang agaknya menyangkal kekhawatiran hati Roro Luhito. Dan agaknya memang demikianlah kalau ditengok keadaan Ayu Candra yang rebah sendirian di dalam kamarnya, kadang-kadang tersenyum puas karena selain puteranya selamat dan menjadi murid seorang sakti, suaminya telah berkumpul kembali dengan kekasih lama. Sebagai seorang wanita, ia berperasaan halus dan sejak dahulupun ia sudah menduga bahwa ada jalinan kasih yang terpendam di antara suaminya dan Endang Patibroto. Kini agaknya Endang Patibroto sudah insyaf, sudah merubah wataknya yang liar dan ia merasa puas. Malam itu, biarpun tidur sendirian di dalam kamarnya, Ayu Candra tidur pulas tanpa mimpi. Akan tetapi, jalan hidup manusia sudah ada garisnya yang ditentukan oleh Tuhan. Garis ini wajar dan sudah semestlnya terjadi demikian, sudah adil dan baik, sesuai dengan karma manusia masing-masing. Berat atau ringan, duka atau suka dalam menerima garis ini tergantung kepada manusia sendiri. Manusia tak mampu merubahnya. Manusia hanya wajib mengisi hidupnya dengan kebaikan karena hanya dengan cara ini sajalah, dengan menumpuk kebaikan dan menjauhi kejahatan, manusia akan dapat "meluruskan" garis hidupnya di kemudian hari karena Tuhan itu Maha Adil. Dosa-dosa yang lalu hanya dapat ditebus dengan rasa tobat yang setulusnya disertai pemupukan perbuatan-perbuatan yang baik dan penerimaan hukuman dengan ikhlas dan sadar. Perbuatan-perbuatan baik barulah benar kalau dilakukan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan anugerah atau hadiah! Kekhawatiran Roro Luhito bukanlah kekhawatiran dungu, bukan ditimbulkan karena hati iri atau dengki, bukan pula oleh benci atau marah.

<<< Bagian 042                                                                                   Bagian 044 >>>

No comments:

Post a Comment