Perawan Lembah Wilis; Bagian 042


Ki Tunggaljiwa tersenyum dan membungkuk.
”Akupun amat berterima kasih kepada Biku Janapati atas pengertiannya yang mendalam dan kepadamu yang telah bersikap murah kepadaku, Wasi Bagaspati. Aku setuju dengan pendapat Biku Janapati, biarlah kelak murid-murid kita yang akan mewakili kita dan tentu saja biarlah kelak Sang Hyang Widhi Wisesa yang akan menentukan. Becik ketitik ala ketara (yang baik tampak yang buruk kelihatan)!”
”Berat..., berat....! Ki Tunggaljiwa seorang bijaksana dan sakti mandraguna, sungguh merupakan lawan berat. Marilah, Wasi Bagaspati, kita pergi. Selamat tinggal, Ki Tunggaljiwa. Semoga Sang Tri Ratna memberi penerangan kepada Andika!”
”Doa restuku mengiringi perjalananmu, Biku Janapati dan Wasi Bagaspati!”

Dua orang kakek itu berkelebat dan dalam sekejap mata saja lenyap dari tempat itu. Adipati Tejolaksono dan isterinya mengikuti bayangan mereka dengan hati kagum dan gentar. Tejolaksono menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
”Sungguh amat berbahaya.....!” Ia bergidik kalau teringat pengalamannya tadi. Semenjak muda ia sudah seringkali menghadapi lawan tangguh, akan tetapi sekali ini benar-benar tidak berdaya menghadapi Wasi Bagaspati yang dalam dua kali gebrakan saja hampir menewaskannya dalam keadaan mengerikan, menyedot semua hawa sakti dari dalam tubuhnya.
”Wasi Bagaspati belum seberapa, Angger adipati. Aku yang tua masih sanggup menanggulanginya. Akan tetapi baiknya Biku Janapati berpemandangan luas dan hatinya bersih. Kalau dia yang dimabuk nafsu amarah seperti Wasi Bagaspati, tidak dapat aku membayangkan apa jadinya. Ilmu kesaktian pendeta Buddha itu sedikitnya dua tingkat lebih tinggi daripada tingkat Wasi Bagaspati!”
Adipati Tejolaksono melongo, kaget dan khawatir sekali. Kalau Panjalu dan Jenggala diancam bahaya serangan orang-orang sesakti itu, benar-benar amat mengkhawatirkan! Kemudian ia teringat bahwa kakek ini masih eyang gurunya, maka ia segera memegang tangan isteri dan puteranya, diajak menjatuhkan diri berlutut dan menyembah orang tua itu.
”Mohon Eyang mengampunkan hamba yang tidak tahu bahwa Eyang adalah Paman guru Sang Prabu Airlangga dan Rakyana Patih Narotama. Ternyata Eyang adalah Eyang guru hamba sendiri!”
Kakek itu tersenyum dan mengelus jenggotnya, kemudian iapun duduk bersila seperti tadi.
”Kalian duduklah baik-baik dan dengarkan aku bicara,” katanya. Sikapnya tak pernah berubah, tetap tenang dan kini matahari yang telah naik tinggi menyoroti rambutnya yang putih seperti perak sehingga berkilauan menambah keagungannya.
”Kiranya Hyang Widhi telah membuka rahasia dengan kunjungan dua orang pendeta tadi. Angger adipati, setelah Andika menyaksikan dan mendengarkan semua, apakah Andika berdua isteri masih ragu-ragu untuk menyerahkan pendidikan puteramu kepadaku? Ketahuilah bahwa menurut penglihatanku, hanya puteramu ini yang kelak akan sanggup menyelamatkan Panjalu, dan terutama sekali menyelamatkan kewibawaan dan kebesaran Sang Hyang Wishnu. Kalian tadi telah menyaksikan sendiri betapa saktinya pihak lawan.”

Suami isteri itu saling berpandangan dengan pucat. Betapapun berat rasa hati mereka harus berpisah dari Bagus Seta, namun mereka dapat melihat kebenaran kata-kata kakek itu. Musuh yang mengancam negara amat sakti dan kalau tidak ada yang menanggulanginya, akan berbahaya sekali. Mereka amat mencinta putera tunggal mereka, akan tetapi mereka bukanlah orang-orang yang berpemandangan picik dan hanya mementingkan diri sendiri saja. Dari sepasang mata Ayu Candra bertitik dua air mata, akan tetapi Tejolaksono maklum dari pandang mata isterinya bahwa isterinya sudah merelakan puteranya. Maka ia lalu berkata,
”Setelah melihat keadaan dan menginsyafi dasar pengangkatan anak kami sebagai murid Eyang guru, hamba hanya pasrah kepada kebijaksanaan Eyang. Semoga saja Bagus Seta kelak tidak akan mengecewakan mengemban tugas yang maha berat itu.”
Ki Tunggaljiwa tertawa.
”Bagus sekali kalau kalian berdua sudah rela, Angger. Aku hanya mempunyai kesempatan selama lima tahun dan semoga dalam waktu itu, Sang Hyang Wishnu akan memberi bimbingan kepada puteramu sehingga berhasil dalam mengejar ilmu. Ketahuilah, dua orang pendeta tadi memiliki kesaktian yang amat tinggi. Dalam hal ilmu, kiranya engkau sendiri tidak akan kalah banyak oleh mereka, akan tetapi dalam hal kekuatan batin, ah, mereka itu sukar dilawan dan dikalahkan. Mereka sudah matang dalam gemblengan tapa
dan mantra. Andaikata tadi engkau menggunakan Aji Triwikrama, agaknya tidaklah begitu terpengaruh oleh perbawanya yang amat kuat, namun betapapun juga, tidak akan mudah mengalahkan Wasi Bagaspati, apalagi Biku Janapati. Nah, sekarang harap Andika berdua pulang ke Kadipaten Selopenangkep. Masih ada hal yang harus kauhadapi Angger, namun betapapun berat, harus banyak hal yang harus kau hadapi, Angger adipati. Namun, betapapun berat, harus dapat kau hadapi dengan tabah karena segala macam hal yang menimpa diri manusia telah ditentukan oleh Hyang Widhi, sesuai dengan karma dan sesuai pula dengan perbuatan-perbuatan manusia sendiri, sehingga segala hal itu amatlah adil dan wajar. Segala hal yang terjadi pada diri manusia adalah akibat, dan mencari sebab dari luar adalah perbuatan bodoh, Angger, karena sebab-sebabnya adalah perbuatan dan pakarti kita sendiri.”

Berdebar jantung Tejolaksono. Teringatlah ia akan semua perbuatannya selama ini. Diawali dengan perburuan di hutan dan pembunuhan anak harimau, pertemuannya dengan Ki Tunggaljiwa. Kemudian teringat ia akan pengalamannya dengan Endang Patibroto yang belum sempat ia ceritakan kepada Ayu Candra. Teringat akan ini semua, ia menundukkan mukanya, menduga-duga apa gerangan yang akan menjadi akibat daripada semua perbuatannya itu. Dan adipati yang arif bijaksana dan sakti mandraguna ini mengkirik, ngeri ia melihat kenyataan semua perbuatannya itu. Ah, betapa lemahnya manusia. Betapa manusia diombang-ambingkan oleh nafsunya sendiri sehingga terbentuklah sebab-sebab yang akan menelurkan akibat-akibat yang di kemudian hari tidak akan diakui sebagai akibat perbuatannya sendiri, lalu menimbulkan sengsara! Tiba-tiba sang adipati merasa nelangsa batinnya dan ia lalu bersembah sungkem di depan Ki Tunggaljiwa dan berkata, suaranya menggetar penuh perasaan haru,
”Duhai, Eyang...hamba mohon petunjuk untuk menggayuh (menjangkau) kesempurnaan, Eyang.”
Kakek itu tertawa, suara ketawanya ramah dan lunak.
”Ha-ha-ha-ha, Angger Adipati Tejolaksono. Kata-katamu amatlah lucu. Kesempurnaan apakah yang dapat dijangkau, Angger? Dan mengapa mencari kesempurnaan? Lihatlah dirimu sendiri, telitilah sedalam-dalamnya, lihatlah baik-baik segala warna-warni dan bentuk-bentuk, dengarlah segala suara, ciumlah segala ganda (bau), adakah sesuatu di dunia ini yang kurang atau belum sempurna? Segala sesuatu ciptaan Hyang Widhi Wisesa adalah sempurna, Angger, termasuk jasmani dan rohani kita manusia adalah sempurna. Sempurna, bersih dan suci. Yang menjadi persoalan hanyalah betapa cara menjaga kebersihan itu, mempertahankan kesucian itu. Jadi persoalannya hanyalah usaha, ikhtiar yang berupa laku-lampah dan karya kita. Segala perbuatan dan ucapan kita haruslah sesuai dengan isi hati dan pikiran sehingga tidak ada perbedaan antara lahir dan batin, atau jelasnya, perbuatan kita adalah pencerminan daripada isi hati kita. Perbuatan yang sesuai lahir batin inilah, Angger, yang akan menentukan akibat-akibat di belakang hari dalam kehidupan kita.”
”Perbuatan yang bagaimanakah, Eyang? Mohon petunjuk.”
”Tengoklah sekeliling kita, Angger. Adakah sebuah bendapun yang tiada gunanya bagi kita? Semua berguna, semua demi kenikmatan hidup kita. Demikianlah sifat Hyang Widhi Wisesa, sekalian isi alam diberikan kepada manusia. Memberi, memberi, dan member!, tanpa pamrih! Tidak pernah meminta, tidak pernah menuntut, berkah dan anugerah berlimpah-limpah dalam pemberian yang ikhlas tanpa pamrih. Tidak pilih kasih! Lihat cahaya matahari. Siapapun adanya dia, bodoh atau pintar, kaya atau miskin, boleh menikmatinya. Pendeknya, seluruh ciptaan Hyang Widhi Wisesa diberikan kepada siapa saja yang mau dan dapat menikmatinya! Lalu, apakah balas jasa manusia terhadap semua berkah yang tak kunjung habis itu? Apakah yang telah diberikan oleh manusia? Janganlah hanya pandai meminta, meminta, dan meminta lagi! Kita harus meniru sifat yang amat indah itu, ialah memberi, memberi, dan memberi tanpa pamrih! Melakukan kewajiban sebagai manusia tanpa pamrih, berarti membantu kelancaran perputaran roda kesempurnaan yang diciptakan Hyang Widhi Wisesa.”
”Kewajiban dan perbuatan yang bagaimanakah kiranya, Eyang? Maafkan, Eyang, sungguhpun sudah banyak hamba dengar dari para guru, namun petunjuk Eyang akan menjadi penambah sinar terang dalam jalan hidup hamba.” Ki Tunggaljiwa tersenyum.
”Memang, manusia harus senantiasa belajar, dan biarlah semua wawasanku ini tidak akan sia-sia. Terutama sekali kutujukan kepada muridku, Bagus Seta karena wawasan inipun merupakan pelajaran baginya.”

Bagus Seta yang tadi berada dalam pelukan ibunya, kini duduk bersila dan mendengarkan penuh perhatian.
”Semua sikap dalam hidup sudah digambarkan secara jelas dalam Bhagawad Gita ketika Sang Hyang Wishnu dalam diri Sang Bhatara Kresna memberi wejangan kepada Sang Harjuna. Akan tetapi sebagai dasar permulaan, aku mempunyai dua macam pelajaran yang amat mudah dan sederhana, mudah dimengerti sungguhpun belum tentu mudah dijalankan. Pertama : JANGAN MENYUSAHKAN HATI ORANG LAIN! Pelajaran pertama ini amat luasnya, Angger dan jangan mengira akan mudah saja dilaksanakan. Karena, jika pelajaran pertama ini sudah mendarah daging pada diri kita, maka kita tidak melakukan segala macam perbuatan jahat yang merugikan
atau menyinggung perasaan, pendeknya merugikan lain orang. Nah, kalau pelajaran pertama ini sudah benar-benar menjadi watak, mulailah kita meningkat kepada pelajaran ke dua, yaitu : SENANGKANLAH HATI ORANG LAIN! Senangkanlah hati orang lain sesering dan sebanyak mungkin karena sifat ini sesuai dengan semua ciptaan Sang Hyang Widhi yang serba sempurna. Hidup adalah suatu berkah dan nikmat, maka harus dinikmati bersama dengan landasan kasih sayang antar manusia yang sesungguhnya adalah senasib di dalam dunia ini.”
Tejolaksono mendengarkan penuh perhatian. Filsafat yang keluar dari mulut kakek itu amatlah sederhana, namun apabila benar-benar dijalankan manusia, kiranya tidak ada perlunya lagi manusia mengejar-ngejar kesempurnaan seperti banyak dilakukan orang sehingga sesat ke mana-mana. Cara hidup baik yang sesungguhnya amat sederhana dan mudah itu menjadi sulit dan membingungkan karena dituangkan dalam wejangan-wejangan dan pelajaran-pelajaran yang rumit-rumit dan sukar dimengerti. Setelah menerima banyak wejangan tentang sifat-sifat ksatria dan tentang pembelaan keadilan dan kebenaran, Adipati Tejolaksono dan Ayu Candra berpamit kembali ke Selopenangkep. Ayu Candra dapat menekan keharuan hatinya, hanya memeluk dan mencium pipi puteranya
sambil berbisik,
”Yang baik-baik dan rajin engkau belajar di sini, Anakku!”
”Jangan khawatir, Kanjeng Ibu. Saya tidak akan mengecewakan hati Kanjeng Rama Ibu dan Bapa guru,” jawab Bagus Seta dengan tabah. Ada keharuan membayang di pandang mata anak itu, akan tetapi wajahnya tetap berseri dan hal ini menjadi tanda bahwa anak ini sudah mulai pandai menguasai perasaannya. Melihat ini, kembali Tejolaksono menjadi kagum. Dalam waktu dua bulan lewat saja sudah tampak perubahan besar pada diri puteranya, kemajuan yang kiranya belum tentu dapat dicapai puteranya itu selama setahun dalam gemblengannya. Ia maklum bahwa mengenai kekuatan batin, Ki Tunggaljiwa sudah mencapai tingkat amat tinggi sehingga ia percaya bahwa puteranya tentu akan memperoleh ilmu kesaktian yang takkan pernah dapat ia ajarkan kepada puteranya itu. Hatinya menjadi lega dan gembira, dan sedikitpun pada wajahnya tidak tampak kedukaan seperti terdapat pada wajah isterinya ketika mereka berdua menuruni lereng Gunung Merapi.

Setelah suami isteri itu turun dart puncak Gunung Merapi, barulah Adipati Tejolaksono mendapat waktu dan kesempatan untuk menceritakan pengalamannya yang hebat di Blambangan. Ia menceritakan segala yang dialami Endang Patibroto, tentang tipu muslihat Blambangan dan tentang pengalamannya bersama Endang Patibroto yang terjeblos ke dalam perangkap, dalam sumur yang hampir saja menewaskan mereka berdua. Akhirnya ia menceritakan pula apa yang terjadi di dalam ruangan di bawah tanah itu, betapa dalam menghadapi kematian yang agaknya tak dapat dielakkan lagi, dia dan Endang Patibroto telah terangkap menjadi suami isteri. Mula-mula mendengar cerita suaminya, Ayu Candra menjadi terharu sekali dan merasa amat kasihan kepada Endang Patibroto yang bernasib malang. Iapun menjadi ikut gelisah dan tegang ketika mendengar cerita betapa suaminya bersama Endang Patibroto menghadapi lawan yang amat banyak, kemudian terjeblos ke dalam lubang jebakan menderita ancaman maut yang mengerikan. Ketika mendengar penuturan suaminya dengan suara tersendat-sendat tentang hubungan suaminya dengan Endang Patibroto sebagai suami isteri, wajah Ayu Candra menjadi pucat sekali dan sejenak suasana menjadi sunyi. Hanya langkah-langkah kaki mereka saja yang terdengar dan kini langkah Ayu Candra agak lemas.

<<< Bagian 041                                                                                    Bagian 043 >>>

No comments:

Post a Comment