Ki Tunggaljiwa tersenyum dan membungkuk.
”Akupun amat berterima kasih
kepada Biku Janapati atas pengertiannya yang mendalam dan kepadamu yang telah
bersikap murah kepadaku, Wasi Bagaspati. Aku setuju dengan pendapat Biku Janapati,
biarlah kelak murid-murid kita yang akan mewakili kita dan tentu saja biarlah
kelak Sang Hyang Widhi Wisesa yang akan menentukan. Becik ketitik ala ketara
(yang baik tampak yang buruk kelihatan)!”
”Berat..., berat....! Ki
Tunggaljiwa seorang bijaksana dan sakti mandraguna, sungguh merupakan lawan
berat. Marilah, Wasi Bagaspati, kita pergi. Selamat tinggal, Ki Tunggaljiwa.
Semoga Sang Tri Ratna memberi penerangan kepada Andika!”
”Doa restuku mengiringi
perjalananmu, Biku Janapati dan Wasi Bagaspati!”
Dua orang kakek itu
berkelebat dan dalam sekejap mata saja lenyap dari tempat itu. Adipati
Tejolaksono dan isterinya mengikuti bayangan mereka dengan hati kagum dan
gentar. Tejolaksono menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
”Sungguh amat
berbahaya.....!” Ia bergidik kalau teringat pengalamannya tadi. Semenjak muda
ia sudah seringkali menghadapi lawan tangguh, akan tetapi sekali ini
benar-benar tidak berdaya menghadapi Wasi Bagaspati yang dalam dua kali
gebrakan saja hampir menewaskannya dalam keadaan mengerikan, menyedot semua
hawa sakti dari dalam tubuhnya.
”Wasi Bagaspati belum
seberapa, Angger adipati. Aku yang tua masih sanggup menanggulanginya. Akan
tetapi baiknya Biku Janapati berpemandangan luas dan hatinya bersih. Kalau dia
yang dimabuk nafsu amarah seperti Wasi Bagaspati, tidak dapat aku membayangkan
apa jadinya. Ilmu kesaktian pendeta Buddha itu sedikitnya dua tingkat lebih
tinggi daripada tingkat Wasi Bagaspati!”
Adipati Tejolaksono melongo,
kaget dan khawatir sekali. Kalau Panjalu dan Jenggala diancam bahaya serangan
orang-orang sesakti itu, benar-benar amat mengkhawatirkan! Kemudian ia teringat
bahwa kakek ini masih eyang gurunya, maka ia segera memegang tangan isteri dan
puteranya, diajak menjatuhkan diri berlutut dan menyembah orang tua itu.
”Mohon Eyang mengampunkan
hamba yang tidak tahu bahwa Eyang adalah Paman guru Sang Prabu Airlangga dan
Rakyana Patih Narotama. Ternyata Eyang adalah Eyang guru hamba sendiri!”
Kakek itu tersenyum dan
mengelus jenggotnya, kemudian iapun duduk bersila seperti tadi.
”Kalian duduklah baik-baik
dan dengarkan aku bicara,” katanya. Sikapnya tak pernah berubah, tetap tenang
dan kini matahari yang telah naik tinggi menyoroti rambutnya yang putih seperti
perak sehingga berkilauan menambah keagungannya.
”Kiranya Hyang Widhi telah
membuka rahasia dengan kunjungan dua orang pendeta tadi. Angger adipati,
setelah Andika menyaksikan dan mendengarkan semua, apakah Andika berdua isteri
masih ragu-ragu untuk menyerahkan pendidikan puteramu kepadaku? Ketahuilah
bahwa menurut penglihatanku, hanya puteramu ini yang kelak akan sanggup
menyelamatkan Panjalu, dan terutama sekali menyelamatkan kewibawaan dan
kebesaran Sang Hyang Wishnu. Kalian tadi telah menyaksikan sendiri betapa
saktinya pihak lawan.”
Suami isteri itu saling
berpandangan dengan pucat. Betapapun berat rasa hati mereka harus berpisah dari
Bagus Seta, namun mereka dapat melihat kebenaran kata-kata kakek itu. Musuh
yang mengancam negara amat sakti dan kalau tidak ada yang menanggulanginya,
akan berbahaya sekali. Mereka amat mencinta putera tunggal mereka, akan tetapi
mereka bukanlah orang-orang yang berpemandangan picik dan hanya mementingkan
diri sendiri saja. Dari sepasang mata Ayu Candra bertitik dua air mata, akan
tetapi Tejolaksono maklum dari pandang mata isterinya bahwa isterinya sudah
merelakan puteranya. Maka ia lalu berkata,
”Setelah melihat keadaan dan
menginsyafi dasar pengangkatan anak kami sebagai murid Eyang guru, hamba hanya
pasrah kepada kebijaksanaan Eyang. Semoga saja Bagus Seta kelak tidak akan
mengecewakan mengemban tugas yang maha berat itu.”
Ki Tunggaljiwa tertawa.
”Bagus sekali kalau kalian
berdua sudah rela, Angger. Aku hanya mempunyai kesempatan selama lima tahun dan
semoga dalam waktu itu, Sang Hyang Wishnu akan memberi bimbingan kepada
puteramu sehingga berhasil dalam mengejar ilmu. Ketahuilah, dua orang pendeta
tadi memiliki kesaktian yang amat tinggi. Dalam hal ilmu, kiranya engkau
sendiri tidak akan kalah banyak oleh mereka, akan tetapi dalam hal kekuatan
batin, ah, mereka itu sukar dilawan dan dikalahkan. Mereka sudah matang dalam
gemblengan tapa
dan mantra. Andaikata tadi
engkau menggunakan Aji Triwikrama, agaknya tidaklah begitu terpengaruh oleh
perbawanya yang amat kuat, namun betapapun juga, tidak akan mudah mengalahkan
Wasi Bagaspati, apalagi Biku Janapati. Nah, sekarang harap Andika berdua pulang
ke Kadipaten Selopenangkep. Masih ada hal yang harus kauhadapi Angger, namun
betapapun berat, harus banyak hal yang harus kau hadapi, Angger adipati. Namun,
betapapun berat, harus dapat kau hadapi dengan tabah karena segala macam hal
yang menimpa diri manusia telah ditentukan oleh Hyang Widhi, sesuai dengan
karma dan sesuai pula dengan perbuatan-perbuatan manusia sendiri, sehingga
segala hal itu amatlah adil dan wajar. Segala hal yang terjadi pada diri
manusia adalah akibat, dan mencari sebab dari luar adalah perbuatan bodoh,
Angger, karena sebab-sebabnya adalah perbuatan dan pakarti kita sendiri.”
Berdebar jantung
Tejolaksono. Teringatlah ia akan semua perbuatannya selama ini. Diawali dengan
perburuan di hutan dan pembunuhan anak harimau, pertemuannya dengan Ki
Tunggaljiwa. Kemudian teringat ia akan pengalamannya dengan Endang Patibroto
yang belum sempat ia ceritakan kepada Ayu Candra. Teringat akan ini semua, ia
menundukkan mukanya, menduga-duga apa gerangan yang akan menjadi akibat
daripada semua perbuatannya itu. Dan adipati yang arif bijaksana dan sakti
mandraguna ini mengkirik, ngeri ia melihat kenyataan semua perbuatannya itu.
Ah, betapa lemahnya manusia. Betapa manusia diombang-ambingkan oleh nafsunya
sendiri sehingga terbentuklah sebab-sebab yang akan menelurkan akibat-akibat
yang di kemudian hari tidak akan diakui sebagai akibat perbuatannya sendiri,
lalu menimbulkan sengsara! Tiba-tiba sang adipati merasa nelangsa batinnya dan
ia lalu bersembah sungkem di depan Ki Tunggaljiwa dan berkata, suaranya
menggetar penuh perasaan haru,
”Duhai, Eyang...hamba mohon
petunjuk untuk menggayuh (menjangkau) kesempurnaan, Eyang.”
Kakek itu tertawa, suara
ketawanya ramah dan lunak.
”Ha-ha-ha-ha, Angger Adipati
Tejolaksono. Kata-katamu amatlah lucu. Kesempurnaan apakah yang dapat
dijangkau, Angger? Dan mengapa mencari kesempurnaan? Lihatlah dirimu sendiri,
telitilah sedalam-dalamnya, lihatlah baik-baik segala warna-warni dan
bentuk-bentuk, dengarlah segala suara, ciumlah segala ganda (bau), adakah
sesuatu di dunia ini yang kurang atau belum sempurna? Segala sesuatu ciptaan
Hyang Widhi Wisesa adalah sempurna, Angger, termasuk jasmani dan rohani kita
manusia adalah sempurna. Sempurna, bersih dan suci. Yang menjadi persoalan
hanyalah betapa cara menjaga kebersihan itu, mempertahankan kesucian itu. Jadi
persoalannya hanyalah usaha, ikhtiar yang berupa laku-lampah dan karya kita.
Segala perbuatan dan ucapan kita haruslah sesuai dengan isi hati dan pikiran
sehingga tidak ada perbedaan antara lahir dan batin, atau jelasnya, perbuatan
kita adalah pencerminan daripada isi hati kita. Perbuatan yang sesuai lahir
batin inilah, Angger, yang akan menentukan akibat-akibat di belakang hari dalam
kehidupan kita.”
”Perbuatan yang
bagaimanakah, Eyang? Mohon petunjuk.”
”Tengoklah sekeliling kita,
Angger. Adakah sebuah bendapun yang tiada gunanya bagi kita? Semua berguna,
semua demi kenikmatan hidup kita. Demikianlah sifat Hyang Widhi Wisesa,
sekalian isi alam diberikan kepada manusia. Memberi, memberi, dan member!, tanpa
pamrih! Tidak pernah meminta, tidak pernah menuntut, berkah dan anugerah
berlimpah-limpah dalam pemberian yang ikhlas tanpa pamrih. Tidak pilih kasih!
Lihat cahaya matahari. Siapapun adanya dia, bodoh atau pintar, kaya atau
miskin, boleh menikmatinya. Pendeknya, seluruh ciptaan Hyang Widhi Wisesa
diberikan kepada siapa saja yang mau dan dapat menikmatinya! Lalu, apakah balas
jasa manusia terhadap semua berkah yang tak kunjung habis itu? Apakah yang
telah diberikan oleh manusia? Janganlah hanya pandai meminta, meminta, dan
meminta lagi! Kita harus meniru sifat yang amat indah itu, ialah memberi,
memberi, dan memberi tanpa pamrih! Melakukan kewajiban sebagai manusia tanpa
pamrih, berarti membantu kelancaran perputaran roda kesempurnaan yang
diciptakan Hyang Widhi Wisesa.”
”Kewajiban dan perbuatan
yang bagaimanakah kiranya, Eyang? Maafkan, Eyang, sungguhpun sudah banyak hamba
dengar dari para guru, namun petunjuk Eyang akan menjadi penambah sinar terang
dalam jalan hidup hamba.” Ki Tunggaljiwa tersenyum.
”Memang, manusia harus
senantiasa belajar, dan biarlah semua wawasanku ini tidak akan sia-sia.
Terutama sekali kutujukan kepada muridku, Bagus Seta karena wawasan inipun
merupakan pelajaran baginya.”
Bagus Seta yang tadi berada
dalam pelukan ibunya, kini duduk bersila dan mendengarkan penuh perhatian.
”Semua sikap dalam hidup
sudah digambarkan secara jelas dalam Bhagawad Gita ketika Sang Hyang Wishnu
dalam diri Sang Bhatara Kresna memberi wejangan kepada Sang Harjuna. Akan
tetapi sebagai dasar permulaan, aku mempunyai dua macam pelajaran yang amat
mudah dan sederhana, mudah dimengerti sungguhpun belum tentu mudah dijalankan.
Pertama : JANGAN MENYUSAHKAN HATI ORANG LAIN! Pelajaran pertama ini amat
luasnya, Angger dan jangan mengira akan mudah saja dilaksanakan. Karena, jika
pelajaran pertama ini sudah mendarah daging pada diri kita, maka kita tidak
melakukan segala macam perbuatan jahat yang merugikan
atau menyinggung perasaan,
pendeknya merugikan lain orang. Nah, kalau pelajaran pertama ini sudah
benar-benar menjadi watak, mulailah kita meningkat kepada pelajaran ke dua,
yaitu : SENANGKANLAH HATI ORANG LAIN! Senangkanlah hati orang lain sesering dan
sebanyak mungkin karena sifat ini sesuai dengan semua ciptaan Sang Hyang Widhi
yang serba sempurna. Hidup adalah suatu berkah dan nikmat, maka harus dinikmati
bersama dengan landasan kasih sayang antar manusia yang sesungguhnya adalah
senasib di dalam dunia ini.”
Tejolaksono mendengarkan
penuh perhatian. Filsafat yang keluar dari mulut kakek itu amatlah sederhana,
namun apabila benar-benar dijalankan manusia, kiranya tidak ada perlunya lagi
manusia mengejar-ngejar kesempurnaan seperti banyak dilakukan orang sehingga
sesat ke mana-mana. Cara hidup baik yang sesungguhnya amat sederhana dan mudah
itu menjadi sulit dan membingungkan karena dituangkan dalam wejangan-wejangan
dan pelajaran-pelajaran yang rumit-rumit dan sukar dimengerti. Setelah menerima
banyak wejangan tentang sifat-sifat ksatria dan tentang pembelaan keadilan dan
kebenaran, Adipati Tejolaksono dan Ayu Candra berpamit kembali ke
Selopenangkep. Ayu Candra dapat menekan keharuan hatinya, hanya memeluk dan
mencium pipi puteranya
sambil berbisik,
”Yang baik-baik dan rajin
engkau belajar di sini, Anakku!”
”Jangan khawatir, Kanjeng
Ibu. Saya tidak akan mengecewakan hati Kanjeng Rama Ibu dan Bapa guru,” jawab
Bagus Seta dengan tabah. Ada keharuan membayang di pandang mata anak itu, akan
tetapi wajahnya tetap berseri dan hal ini menjadi tanda bahwa anak ini sudah
mulai pandai menguasai perasaannya. Melihat ini, kembali Tejolaksono menjadi
kagum. Dalam waktu dua bulan lewat saja sudah tampak perubahan besar pada diri
puteranya, kemajuan yang kiranya belum tentu dapat dicapai puteranya itu selama
setahun dalam gemblengannya. Ia maklum bahwa mengenai kekuatan batin, Ki Tunggaljiwa
sudah mencapai tingkat amat tinggi sehingga ia percaya bahwa puteranya tentu
akan memperoleh ilmu kesaktian yang takkan pernah dapat ia ajarkan kepada
puteranya itu. Hatinya menjadi lega dan gembira, dan sedikitpun pada wajahnya
tidak tampak kedukaan seperti terdapat pada wajah isterinya ketika mereka
berdua menuruni lereng Gunung Merapi.
Setelah suami
isteri itu turun dart puncak Gunung Merapi, barulah Adipati Tejolaksono
mendapat waktu dan kesempatan untuk menceritakan pengalamannya yang hebat di Blambangan.
Ia menceritakan segala yang dialami Endang Patibroto, tentang tipu muslihat
Blambangan dan tentang pengalamannya bersama Endang Patibroto yang terjeblos ke
dalam perangkap, dalam sumur yang hampir saja menewaskan mereka berdua.
Akhirnya ia menceritakan pula apa yang terjadi di dalam ruangan di bawah tanah
itu, betapa dalam menghadapi kematian yang agaknya tak dapat dielakkan lagi,
dia dan Endang Patibroto telah terangkap menjadi suami isteri. Mula-mula
mendengar cerita suaminya, Ayu Candra menjadi terharu sekali dan merasa amat
kasihan kepada Endang Patibroto yang bernasib malang. Iapun menjadi ikut
gelisah dan tegang ketika mendengar cerita betapa suaminya bersama Endang
Patibroto menghadapi lawan yang amat banyak, kemudian terjeblos ke dalam lubang
jebakan menderita ancaman maut yang mengerikan. Ketika mendengar penuturan
suaminya dengan suara tersendat-sendat tentang hubungan suaminya dengan Endang Patibroto
sebagai suami isteri, wajah Ayu Candra menjadi pucat sekali dan sejenak suasana
menjadi sunyi. Hanya langkah-langkah kaki mereka saja yang terdengar dan kini
langkah Ayu Candra agak lemas.
No comments:
Post a Comment