Perawan Lembah Wilis; Bagian 041


Ki Tunggaljiwa menggeleng kepalanya.
”Kalau begitu Sriwijaya dan Cola takkan berhasil, dan Andika berdua juga akan menghadapi banyak tantangan!”
”Ahh..., begitukah? Dan siapa yang akan menentang kami? Engkaukah, Ki Tunggaljiwa!”
”Mungkin...kalau perlu,” jawab Ki Tunggaljiwa dengan sikap tenang.
Wasi Bagaspati mengedikkan kepala, membusungkan dada dan matanya mengeluarkan sinar berkilat.
”Babo- babo.... Ki Tunggaljiwa, kami anak murid Sang Hyang Shiwa memang bertugas membasmi yang jahat!”
”Aku tidak akan menyangkal, Wasi Bagaspati. Sang Hyang Shiwa memang berwenang membasmi akan tetapi pengertianmu tentang yang baik dan yang jahat kacau-balau dan hanya menurutkan nafsu dan mencari kemenangan pribadi belaka. Dengan demikian, kalau engkau menentang yang benar, berarti engkau bahkan mengkhianati tugas suci Sang Hyang Shiwa.”
”Bagus! Jadi menurut pendapatmu, siapa yang benar? Orang-orang macam engkau inikah? Atau adipati antek Panjaiu ini? Huh, kalau saja dahulu aku diberi kesempatan, sudah kubasmi Airlangga dan Narotama, biang keladi utama sehingga agama-agama lain menjadi muhdur dan hanya menonjolkan penyembahan Sang Hyang Wishnu! Hayo, Ki Tunggaljiwa, majulah, biar kumusnahkan sekarang juga agar kelak tidak mendatangkan banyak korban. Engkaulah biang keladi utama sekarang!”
”Wasi Bagaspati, Andika sudah berjanji kepadaku tidak akan menggunakan kekerasan!” Tiba-tiba Biku Janapati berkata dengan suaranya yang tenang dan mantap. Mendengar ini, Sang Wasi Bagaspati tertawa dan kepalanya menengadah ke atas.
”Ha-ha-ha, jangan khawatir, Biku Janapati. Aku tidak akan menggunakan kekerasan, akan tetapi kalau tua bangka ini maju, hemmm, dia akan menemui kebinasaanl Orang Mataram semenjak dahulu adalah orang-orang sombong dan pengecut!”

Kalau Ki Tunggaljiwa tersenyum tenang saja mendengar semua kata-kata yang kasar dan menghina itu, adalah Adipati Tejolaksono yang tidak dapat menahan sabar. Tadinya hanya kedua telinganya saja yang merah. Akan tetapi makin lama, warna merah menjalar ke leher dan seluruh mukanya. Apalagi ketika mendengar bahwa Ki Tunggaljiwa adalah saudara seperguruan Sang Bhagawan Satyadharma, ia menjadi terkejut karena Bhagawan Satyadharma adalah eyang gurunya, dan kini melihat Ki Tunggaljiwa yang masih terhitung eyang gurunya pula itu diperhina orang, mendengar pula Mataram dan orang-orang Mataram disebut sombong dan pengecut, malah tadi nama Airlangga dan Narotama disebut-sebut, adipati yang jauh lebih muda ini segera melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah Wasi Bagaspati samba berkata tandas,
”Heh, nanti dulu, Sang Wasi Bagaspati! Andika mudah saja memaki-maki orang Mataram! Saya mendengar tadi bahwa Andika adalah utusan Kerajaan Cola! Padahal melihat warna mata, rambut dan kulit, Andika adalah bangsa saya juga! Akan tetapi Andika sudah merendahkan diri menjadi antek kerajaan asing! Andika bertugas demi kepentingan Bangsa Cola di seberang lautan! Sebaliknya, kami keturunan orang Mataram mengabdi kepada tanah air dan bangsa! Dan Andika masih berani menyebut orang-orang Mataram sombong dan pengecut?”
”Uaaahhh, babo-babo, si keparat! Engkau bocah masih bau pupuk berani kurangajar terhadap seorang kakek seperti aku? Majulah kalau kau ingin musnah hari ini!”
”Eyang guru Ki Tunggaljiwa tentu sependapat dengan saya bahwa sebagai anak murid Sang Hyang Wishnu yang taat, saya tidak akan menyerang orang lain tanpa sebab dan hanya akan melayaninya apabila diserang!”
Ki Tunggaljiwa mengangguk-angguk girang, akan tetapi Wasi Bagaspati menjadi makin marah sehingga matanya melotot mukanya merah.
”Eyang guru? Jadi Ki Tunggaljiwa ini eyang gurumu? Murid siapa engkau, bocah?”
”Mendiang Sang Prabu Airlangga dan Ki Patih Narotama pernah membimbing hamba.”
”Hua-ha-ha-ha-ha! Hanya murid si Airlangga dan Narotama sudah berani menentang aku, Wasi Bagaspati?”
”Saya sama sekali tidak menentang seorang tua bernama Wasi Bagaspati, yang saya tentang adalah kelaliman....”
“Huuuuushhh, keparat! Kau bilang aku lalim? Heh, Adipati Tejolaksono, tahukah engkau bahwa dengan mata meram aku sanggup membinasakanmu? Berani kau menerima dua kali pukulanku?“
„Saya tidak menantang, hanya akan membela diri kalau diserang.“
“Bagus! Kalau begitu aku akan menyerangmu dengan dua kali pukulan. Nah, kau terimalah pukulan tangan kananku, bocah!“
Wasi Bagaspati tidak melangkah maju, tetap berdiri di tempatnya semula, sejauh dua meter dari Tejolaksono, tangan kanannya dldorongkan ke depan, kelihatannya perlahan saja, namun datanglah angin pukulan yang amat dahsyat menyambar ke arah dada Tejolaksono! Tejolaksono adalah seorang sakti. Ia maklum bahwa pukulan jarak jauh yang ampuhnya menggila dan tidak mungkin dielakkan karena jarak lingkungannya tak dapat diduga berapa luasnya. Terpaksa ia lalu mengerahkan seluruh tenaga disalurkan kepada kedua lengannya, sampai ke ujung-ujung jari kemudian kedua tangannya itu dikipatkan ke depan untuk menghalau pukulan lawan. Ia menggunakan aji pukulan Pethit Nogo yang sudah berkali-kali ternyata keampuhannya dalam menghadapi lawan tangguh. Sudah banyak sekali lawan sakti roboh olehnya dengan aji pukulan Pethit Nogo ini. Adipati Tejolaksono sudah mahir sekali menggunakan aji pukulan ini sehingga terkenal menjadi buah bibir orang bahwa dengan Aji Pethit Nogo, sang adipati sanggup memukul permukaan sungai sehingga dalam beberapa detik lamanya air itu terpecah atau terpisah sampai tampak dasar sungai!

Kini ia menggunakan aji pukulan Pethit Nogo dengan pengerahan seluruh tenaganya, dapat dibayangkan hebatnya dan agaknya si penyerang yang tertangkis tentu akan patah-patah tulang lengannya.
“Syuuuuutttt............ !“ Dari tangan kanan Wasi Bagaspati dan dari kedua tangan Adipati Tejolaksono meluncur angin yang saling menghantam di tengah udara, di antara tangan mereka yang hanya berpisah satu meter.
“Dessss............ !!”
Sang adipati merasa betapa kedua telapak tangannya panas seperti dibakar dalam pertemuan tenaga yang tak tampak itu, dan menurut perasaannya, betapapun hebat tenaga Sang Wasi Bagaspati, namun tidak banyak selisihnya dengan tenaga saktinya sendiri. Akan tetapi, alangkah kaget dan herannya ketika tanpa dapat ia cegah lagi, tubuhnya terlempar ke belakang seperti ditolakkan tenaga yang luar biasa dahsyatnya. Untung ia tidak kehilangan akal dan cepat berjungkir balik di udara menggunakan Aji Bayu Sakti sehingga ia dapat melayang turun ke bawah dan tidak sampai terbanting ke atas tanah.
„Hemmm ............ kau dapat bertahan? Coba yang kedua kali dan terakhir ini, terimalah!“ kata pula Wasi Bagaspati dan tiba-tiba tubuhnya meluncur ke depan. Lebih tepat disebut meluncur karena kedua kakinya tidak tampak bergerak akan tetapi tahu-tahu tubuhnya sudah meluncur maju. Kini tangan kirinya yang mendorong dengan telapak tangan terbuka dan jari-jari tangannya merenggang. Sang adipati berlaku hati-hati sekali. Jelas bahwa tadi tangkisan aji pukulan Pethit Nogo tidak kuat menahan pukulan sang wasi, maka kini ia kembali mengerahkan seluruh tenaganya dan menggunakan aji pukulan Bojro Dahono yang ia pelajari dari Ki Patih Narotama. Pukulan Bojro Dahono ini setingkat lebih dahsyat daripada Aji Pethit Nogo dan memiliki hawa panas seperti api dari dalam kawah Gunung Merapil Kalau tidak yakin betul bahwa lawannya seorang yang saki mandraguna, kiranya Adipati Tejolaksono tidak akan menggunakan aji ini karena ia tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan kakek itu.
”Wessssssssss............ !!” Telapak tangan mereka bertumbuk di udara, belum saling menempel, dalam jarak setengah meter, akan tetapi dari kedua telapak tangan mereka mengebul asap dan uap. Hawa di sekitar tempat itu menjadi panas dan kiranya kedua orang itu menggunakan aji pukulan yang berhawa panas!
Kembali seperti halnya tadi, Tejolaksono merasa bahwa tenaga lawan tidaklah banyak lebih kuat daripada tenaganya sendiri. Ia hanya kalah seusap. Akan tetapi aneh sekali, kini tangannya itu terbetot oleh tenaga dahsyat yang tak tampak dan betapapun ia
mempertahankan diri, tetap saja ia terbetot dan tangannya makin maju mendekati tangan lawan. Ia mengerahkan tenaga menarik, namun percuma, kini bahkan kakinya terseret dan di lain saat, bagaikan besi tertarik besi sembrani, telapak tangannya yang penuh dengan Aji Bojro Dahono itu menempel pada telapak tangan Wasi Bagaspati! Begitu telapak tangannya menempel pada telapak tangan lawan, Adipati Tejolaksono terkejut bukan main. Ia merasa betapa hawa saktinya tersedot tanpa dapat dicegah lagi, memasuki telapak tangan lawan dan kulit tangannya sendiri terasa seperti dibakar api Kawah Condrodimuko! Ia mengerahkan tenaga membetot untuk melepaskan tangan, namun sia-sia karena tenaganya “amblas” ke dalam telapak tangan lawan.
“Huah-ha-ha-ha! Hayo kerahkan seluruh tenagamu, keluarkan semua aji kesaktianmu, coba lepaskan tanganmu kalau engkau mampu, bocah!” Wasi Bagaspati tertawa-tawa dan kelihatan enak-enak saja sedangkan Tejolaksono mulai bermandi peluh dan mukanya berubah pucat, napasnya terengah-engah menahan nyeri dan panas. Kalau dilanjutkan ia tentu akan kehabisan tenaga yang disedot oleh lawan, dan seperti orang kehabisan darah, akhirnya ia akan roboh lemas!
“Lepaskan suamiku…......... li” Ayu Candra sudah meloncat maju dan mengirim pukulan ke arah lambung Wasi Bagaspati. Ayu Candra adalah puteri mendiang Ki Adibroto, seorang warok Ponorogo aliran putih yang sakti, tentu saja pukulannya tidak boleh dipandang ringan. Apalagi semenjak menjadi isteri Tejolaksono, ia telah memperoleh banyak kemajuan berkat bimbingan suaminya. Akan tetapi, pukulannya tidak pernah menyentuh kulit lambung Wasi Bagaspati. Kira-kira dalam jarak sejengkal jauhnya dari lambung, pukulan itu bertemu dengan tenaga yang berhawa panas sehingga Ayu Candra yang memukul bahkan terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung.
Wanita itu tentu roboh kalau saja tidak cepat dipeluk dari belakang oleh puteranya, Bagus Seta.
”Ah, Angger adipati, harap Andika mundur karena Wasi Bagaspati bukanlah lawan Andika!”

Mendengar ucapan Ki Tunggaljiwa ini, Wasi Bagaspati tertawa dan Tejolaksono bingung. Tangannya sudah melekat dan tenaga saktinya disedot terus oleh kakek lawannya yang luar biasa itu. Bagaimana ia dapat mundur? Melepaskan tangannya saja tidak mampu! Akan tetapi pada saat itu, Ki Tunggaljiwa memegang pundaknya dan dari tangan kakek itu menjalar hawa yang amat dingin yang menembus punggung berkumpul di pusar, mendatangkan tenaga yang amat hebat. Tejolaksono, seorang yang sakti mandraguna, tahu akan bantuan ini dan cepat menyalurkan hawa itu ke arah lengannya dan ............ terdengar suara seperti api disiram air dingin. Dari telapak tangan yang saling menempel itu keluar asap dan sekali tarik, Tejolaksono berhasil melepaskan tangannya. Ia tidak membuang waktu lagi dan cepat melompat mundur. Akan tetapi karena ia lelah sekali, ia jatuh terduduk lalu bersila dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaga.
”Ha-ha-ha, bagus sekali, Tunggaljiwa! Memang bocah ini bukan lawanku. Hayo engkau majulah. Engkau lawanku. Kita tua sama tua!” Wasi Bagaspati menantang sambil membusungkan dadanya yang tipis. Ketika Tejolaksono dan Ayu Candra memandang wajah kakek penyembah Bajhara Shiwa ini, mereka bergidik dan menjadi gentar. Kini mengertilah Tejolaksono mengapa ia tadi tidak berdaya sama sekali menghadapi kakek itu. Ia jauh kalah kuat perbawanya. Sekarang pun memandang wajah kakek itu, ia seakan-akan melihat wajah itu mengeluarkan cahaya mencorong yang membuat hatinya gentar. Hebat bukan main Wasi Bagaspati ini. Akan tetapi menghadapi Wasi Bagaspati yang brangasan dan tinggi hati ini, Ki Tunggaljiwa tetap tenang dan penuh kesabaran. Ia agaknya tidak memandang mata kepada Wasi Bagaspati yang menantangnya, sebaliknya ia lalu menjura ke arah Biku Janapati dengan sikap menghormat. Pendeta Buddha ini sejak tadi hanya menjadi penonton saja dan sedikitpun tidak ada perubahan pada wajahnya yang amat tenang seperti air telaga yang dalam.
”Aku tidak akan berdebat dengan orang yang telah dikuasai amarah. Saudaraku Biku Janapati, bagaimana pendapat Andika? Apakah aku harus melayani tantangan Wasi Bagaspati?”
Pendeta Buddha yang tak berambut itu menarik napas panjang.
”Sadhu, sadhu! Harus diakui bahwa dalam hal pengendalian perasaan, Andika lebih menang setingkat daripada Saudara Wasi Bagaspati, Ki Tunggaljiwa! Memang tidak selayaknya orang-orang tua seperti kita berkelahi seperti orang-orang muda! Bertempur bukanlah permainan para pertapa dan pendeta, melainkan tugas para ksatria. Saudara Wasi Bagaspati, simpanlah kembali aji-aji kesaktianmu. Biarlah kalau kelak terjadi keharusan pertempuran, murid-murid kita yang akan mewakili kita.”
”Ha-ha-ha, engkau untung sekali, Ki Tunggaljiwa! Usiamu yang tinggal sedikit diperpanjang beberapa tahun lagi. Kalau Biku Janapati tidak membujukku, betapapun kau mengeluarkan seluruh keampuhanmu, pasti hari ini engkau kukirim kembali ke alam asalmu!”

<<< Bagian 040                                                                                   Bagian 042 >>>

No comments:

Post a Comment