Ki Tunggaljiwa menggeleng kepalanya.
”Kalau begitu Sriwijaya dan
Cola takkan berhasil, dan Andika berdua juga akan menghadapi banyak tantangan!”
”Ahh..., begitukah? Dan
siapa yang akan menentang kami? Engkaukah, Ki Tunggaljiwa!”
”Mungkin...kalau perlu,”
jawab Ki Tunggaljiwa dengan sikap tenang.
Wasi Bagaspati mengedikkan
kepala, membusungkan dada dan matanya mengeluarkan sinar berkilat.
”Babo- babo.... Ki
Tunggaljiwa, kami anak murid Sang Hyang Shiwa memang bertugas membasmi yang
jahat!”
”Aku tidak akan menyangkal,
Wasi Bagaspati. Sang Hyang Shiwa memang berwenang membasmi akan tetapi
pengertianmu tentang yang baik dan yang jahat kacau-balau dan hanya menurutkan
nafsu dan mencari kemenangan pribadi belaka. Dengan demikian, kalau engkau
menentang yang benar, berarti engkau bahkan mengkhianati tugas suci Sang Hyang
Shiwa.”
”Bagus! Jadi menurut
pendapatmu, siapa yang benar? Orang-orang macam engkau inikah? Atau adipati
antek Panjaiu ini? Huh, kalau saja dahulu aku diberi kesempatan, sudah kubasmi
Airlangga dan Narotama, biang keladi utama sehingga agama-agama lain menjadi
muhdur dan hanya menonjolkan penyembahan Sang Hyang Wishnu! Hayo, Ki
Tunggaljiwa, majulah, biar kumusnahkan sekarang juga agar kelak tidak
mendatangkan banyak korban. Engkaulah biang keladi utama sekarang!”
”Wasi Bagaspati, Andika
sudah berjanji kepadaku tidak akan menggunakan kekerasan!” Tiba-tiba Biku
Janapati berkata dengan suaranya yang tenang dan mantap. Mendengar ini, Sang
Wasi Bagaspati tertawa dan kepalanya menengadah ke atas.
”Ha-ha-ha, jangan khawatir,
Biku Janapati. Aku tidak akan menggunakan kekerasan, akan tetapi kalau tua
bangka ini maju, hemmm, dia akan menemui kebinasaanl Orang Mataram semenjak
dahulu adalah orang-orang sombong dan pengecut!”
Kalau Ki Tunggaljiwa
tersenyum tenang saja mendengar semua kata-kata yang kasar dan menghina itu,
adalah Adipati Tejolaksono yang tidak dapat menahan sabar. Tadinya hanya kedua
telinganya saja yang merah. Akan tetapi makin lama, warna merah menjalar ke leher
dan seluruh mukanya. Apalagi ketika mendengar bahwa Ki Tunggaljiwa adalah
saudara seperguruan Sang Bhagawan Satyadharma, ia menjadi terkejut karena
Bhagawan Satyadharma adalah eyang gurunya, dan kini melihat Ki Tunggaljiwa yang
masih terhitung eyang gurunya pula itu diperhina orang, mendengar pula Mataram
dan orang-orang Mataram disebut sombong dan pengecut, malah tadi nama Airlangga
dan Narotama disebut-sebut, adipati yang jauh lebih muda ini segera melangkah
maju dan menudingkan telunjuknya ke arah Wasi Bagaspati samba berkata tandas,
”Heh, nanti dulu, Sang Wasi
Bagaspati! Andika mudah saja memaki-maki orang Mataram! Saya mendengar tadi
bahwa Andika adalah utusan Kerajaan Cola! Padahal melihat warna mata, rambut
dan kulit, Andika adalah bangsa saya juga! Akan tetapi Andika sudah merendahkan
diri menjadi antek kerajaan asing! Andika bertugas demi kepentingan Bangsa Cola
di seberang lautan! Sebaliknya, kami keturunan orang Mataram mengabdi kepada
tanah air dan bangsa! Dan Andika masih berani menyebut orang-orang Mataram
sombong dan pengecut?”
”Uaaahhh, babo-babo, si
keparat! Engkau bocah masih bau pupuk berani kurangajar terhadap seorang kakek
seperti aku? Majulah kalau kau ingin musnah hari ini!”
”Eyang guru Ki Tunggaljiwa
tentu sependapat dengan saya bahwa sebagai anak murid Sang Hyang Wishnu yang
taat, saya tidak akan menyerang orang lain tanpa sebab dan hanya akan
melayaninya apabila diserang!”
Ki Tunggaljiwa
mengangguk-angguk girang, akan tetapi Wasi Bagaspati menjadi makin marah
sehingga matanya melotot mukanya merah.
”Eyang guru? Jadi Ki
Tunggaljiwa ini eyang gurumu? Murid siapa engkau, bocah?”
”Mendiang Sang Prabu
Airlangga dan Ki Patih Narotama pernah membimbing hamba.”
”Hua-ha-ha-ha-ha! Hanya
murid si Airlangga dan Narotama sudah berani menentang aku, Wasi Bagaspati?”
”Saya sama sekali tidak
menentang seorang tua bernama Wasi Bagaspati, yang saya tentang adalah
kelaliman....”
“Huuuuushhh, keparat! Kau
bilang aku lalim? Heh, Adipati Tejolaksono, tahukah engkau bahwa dengan mata
meram aku sanggup membinasakanmu? Berani kau menerima dua kali pukulanku?“
„Saya tidak menantang, hanya
akan membela diri kalau diserang.“
“Bagus! Kalau begitu aku
akan menyerangmu dengan dua kali pukulan. Nah, kau terimalah pukulan tangan
kananku, bocah!“
Wasi Bagaspati tidak
melangkah maju, tetap berdiri di tempatnya semula, sejauh dua meter dari
Tejolaksono, tangan kanannya dldorongkan ke depan, kelihatannya perlahan saja,
namun datanglah angin pukulan yang amat dahsyat menyambar ke arah dada
Tejolaksono! Tejolaksono adalah seorang sakti. Ia maklum bahwa pukulan jarak
jauh yang ampuhnya menggila dan tidak mungkin dielakkan karena jarak
lingkungannya tak dapat diduga berapa luasnya. Terpaksa ia lalu mengerahkan
seluruh tenaga disalurkan kepada kedua lengannya, sampai ke ujung-ujung jari
kemudian kedua tangannya itu dikipatkan ke depan untuk menghalau pukulan lawan.
Ia menggunakan aji pukulan Pethit Nogo yang sudah berkali-kali ternyata
keampuhannya dalam menghadapi lawan tangguh. Sudah banyak sekali lawan sakti
roboh olehnya dengan aji pukulan Pethit Nogo ini. Adipati Tejolaksono sudah
mahir sekali menggunakan aji pukulan ini sehingga terkenal menjadi buah bibir
orang bahwa dengan Aji Pethit Nogo, sang adipati sanggup memukul permukaan
sungai sehingga dalam beberapa detik lamanya air itu terpecah atau terpisah
sampai tampak dasar sungai!
Kini ia menggunakan aji
pukulan Pethit Nogo dengan pengerahan seluruh tenaganya, dapat dibayangkan
hebatnya dan agaknya si penyerang yang tertangkis tentu akan patah-patah tulang
lengannya.
“Syuuuuutttt............ !“
Dari tangan kanan Wasi Bagaspati dan dari kedua tangan Adipati Tejolaksono
meluncur angin yang saling menghantam di tengah udara, di antara tangan mereka
yang hanya berpisah satu meter.
“Dessss............ !!”
Sang adipati merasa betapa
kedua telapak tangannya panas seperti dibakar dalam pertemuan tenaga yang tak
tampak itu, dan menurut perasaannya, betapapun hebat tenaga Sang Wasi
Bagaspati, namun tidak banyak selisihnya dengan tenaga saktinya sendiri. Akan
tetapi, alangkah kaget dan herannya ketika tanpa dapat ia cegah lagi, tubuhnya
terlempar ke belakang seperti ditolakkan tenaga yang luar biasa dahsyatnya.
Untung ia tidak kehilangan akal dan cepat berjungkir balik di udara menggunakan
Aji Bayu Sakti sehingga ia dapat melayang turun ke bawah dan tidak sampai
terbanting ke atas tanah.
„Hemmm ............ kau
dapat bertahan? Coba yang kedua kali dan terakhir ini, terimalah!“ kata pula
Wasi Bagaspati dan tiba-tiba tubuhnya meluncur ke depan. Lebih tepat disebut
meluncur karena kedua kakinya tidak tampak bergerak akan tetapi tahu-tahu
tubuhnya sudah meluncur maju. Kini tangan kirinya yang mendorong dengan telapak
tangan terbuka dan jari-jari tangannya merenggang. Sang adipati berlaku
hati-hati sekali. Jelas bahwa tadi tangkisan aji pukulan Pethit Nogo tidak kuat
menahan pukulan sang wasi, maka kini ia kembali mengerahkan seluruh tenaganya
dan menggunakan aji pukulan Bojro Dahono yang ia pelajari dari Ki Patih
Narotama. Pukulan Bojro Dahono ini setingkat lebih dahsyat daripada Aji Pethit
Nogo dan memiliki hawa panas seperti api dari dalam kawah Gunung Merapil Kalau
tidak yakin betul bahwa lawannya seorang yang saki mandraguna, kiranya Adipati
Tejolaksono tidak akan menggunakan aji ini karena ia tidak mempunyai permusuhan
apa-apa dengan kakek itu.
”Wessssssssss............
!!” Telapak tangan mereka bertumbuk di udara, belum saling menempel, dalam
jarak setengah meter, akan tetapi dari kedua telapak tangan mereka mengebul
asap dan uap. Hawa di sekitar tempat itu menjadi panas dan kiranya kedua orang
itu menggunakan aji pukulan yang berhawa panas!
Kembali seperti halnya tadi,
Tejolaksono merasa bahwa tenaga lawan tidaklah banyak lebih kuat daripada
tenaganya sendiri. Ia hanya kalah seusap. Akan tetapi aneh sekali, kini
tangannya itu terbetot oleh tenaga dahsyat yang tak tampak dan betapapun ia
mempertahankan diri, tetap
saja ia terbetot dan tangannya makin maju mendekati tangan lawan. Ia
mengerahkan tenaga menarik, namun percuma, kini bahkan kakinya terseret dan di
lain saat, bagaikan besi tertarik besi sembrani, telapak tangannya yang penuh
dengan Aji Bojro Dahono itu menempel pada telapak tangan Wasi Bagaspati! Begitu
telapak tangannya menempel pada telapak tangan lawan, Adipati Tejolaksono
terkejut bukan main. Ia merasa betapa hawa saktinya tersedot tanpa dapat
dicegah lagi, memasuki telapak tangan lawan dan kulit tangannya sendiri terasa
seperti dibakar api Kawah Condrodimuko! Ia mengerahkan tenaga membetot untuk
melepaskan tangan, namun sia-sia karena tenaganya “amblas” ke dalam telapak tangan
lawan.
“Huah-ha-ha-ha! Hayo
kerahkan seluruh tenagamu, keluarkan semua aji kesaktianmu, coba lepaskan
tanganmu kalau engkau mampu, bocah!” Wasi Bagaspati tertawa-tawa dan kelihatan
enak-enak saja sedangkan Tejolaksono mulai bermandi peluh dan mukanya berubah
pucat, napasnya terengah-engah menahan nyeri dan panas. Kalau dilanjutkan ia
tentu akan kehabisan tenaga yang disedot oleh lawan, dan seperti orang
kehabisan darah, akhirnya ia akan roboh lemas!
“Lepaskan suamiku….........
li” Ayu Candra sudah meloncat maju dan mengirim pukulan ke arah lambung Wasi
Bagaspati. Ayu Candra adalah puteri mendiang Ki Adibroto, seorang warok
Ponorogo aliran putih yang sakti, tentu saja pukulannya tidak boleh dipandang
ringan. Apalagi semenjak menjadi isteri Tejolaksono, ia telah memperoleh banyak
kemajuan berkat bimbingan suaminya. Akan tetapi, pukulannya tidak pernah
menyentuh kulit lambung Wasi Bagaspati. Kira-kira dalam jarak sejengkal jauhnya
dari lambung, pukulan itu bertemu dengan tenaga yang berhawa panas sehingga Ayu
Candra yang memukul bahkan terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung.
Wanita itu tentu roboh kalau
saja tidak cepat dipeluk dari belakang oleh puteranya, Bagus Seta.
”Ah, Angger adipati, harap
Andika mundur karena Wasi Bagaspati bukanlah lawan Andika!”
Mendengar ucapan Ki
Tunggaljiwa ini, Wasi Bagaspati tertawa dan Tejolaksono bingung. Tangannya
sudah melekat dan tenaga saktinya disedot terus oleh kakek lawannya yang luar
biasa itu. Bagaimana ia dapat mundur? Melepaskan tangannya saja tidak mampu!
Akan tetapi pada saat itu, Ki Tunggaljiwa memegang pundaknya dan dari tangan
kakek itu menjalar hawa yang amat dingin yang menembus punggung berkumpul di
pusar, mendatangkan tenaga yang amat hebat. Tejolaksono, seorang yang sakti
mandraguna, tahu akan bantuan ini dan cepat menyalurkan hawa itu ke arah
lengannya dan ............ terdengar suara seperti api disiram air dingin. Dari
telapak tangan yang saling menempel itu keluar asap dan sekali tarik,
Tejolaksono berhasil melepaskan tangannya. Ia tidak membuang waktu lagi dan
cepat melompat mundur. Akan tetapi karena ia lelah sekali, ia jatuh terduduk
lalu bersila dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaga.
”Ha-ha-ha, bagus sekali,
Tunggaljiwa! Memang bocah ini bukan lawanku. Hayo engkau majulah. Engkau lawanku.
Kita tua sama tua!” Wasi Bagaspati menantang sambil membusungkan dadanya yang
tipis. Ketika Tejolaksono dan Ayu Candra memandang wajah kakek penyembah
Bajhara Shiwa ini, mereka bergidik dan menjadi gentar. Kini mengertilah
Tejolaksono mengapa ia tadi tidak berdaya sama sekali menghadapi kakek itu. Ia
jauh kalah kuat perbawanya. Sekarang pun memandang wajah kakek itu, ia
seakan-akan melihat wajah itu mengeluarkan cahaya mencorong yang membuat
hatinya gentar. Hebat bukan main Wasi Bagaspati ini. Akan tetapi menghadapi
Wasi Bagaspati yang brangasan dan tinggi hati ini, Ki Tunggaljiwa tetap tenang
dan penuh kesabaran. Ia agaknya tidak memandang mata kepada Wasi Bagaspati yang
menantangnya, sebaliknya ia lalu menjura ke arah Biku Janapati dengan sikap
menghormat. Pendeta Buddha ini sejak tadi hanya menjadi penonton saja dan
sedikitpun tidak ada perubahan pada wajahnya yang amat tenang seperti air
telaga yang dalam.
”Aku tidak akan berdebat
dengan orang yang telah dikuasai amarah. Saudaraku Biku Janapati, bagaimana
pendapat Andika? Apakah aku harus melayani tantangan Wasi Bagaspati?”
Pendeta Buddha yang tak
berambut itu menarik napas panjang.
”Sadhu, sadhu! Harus diakui
bahwa dalam hal pengendalian perasaan, Andika lebih menang setingkat daripada
Saudara Wasi Bagaspati, Ki Tunggaljiwa! Memang tidak selayaknya orang-orang tua
seperti kita berkelahi seperti orang-orang muda! Bertempur bukanlah permainan
para pertapa dan pendeta, melainkan tugas para ksatria. Saudara Wasi Bagaspati,
simpanlah kembali aji-aji kesaktianmu. Biarlah kalau kelak terjadi keharusan
pertempuran, murid-murid kita yang akan mewakili kita.”
”Ha-ha-ha, engkau untung
sekali, Ki Tunggaljiwa! Usiamu yang tinggal sedikit diperpanjang beberapa tahun
lagi. Kalau Biku Janapati tidak membujukku, betapapun kau mengeluarkan seluruh
keampuhanmu, pasti hari ini engkau kukirim kembali ke alam asalmu!”
No comments:
Post a Comment