Ki Tunggaljiwa tertawa.
”Angger adipati berdua harap
maklum bahwa kehendak Hyang Widhi tidak dapat diubah oleh perbuatan manusia.
Ketahuilah bahwa bukan semata-mata kehendak saya untuk mengambil murid Bagus
Seta, melainkan agaknya Sang Hyang Wishnu sendiri yang memilih anak ini untuk
kelak menyelamatkan nama besarNya.”
”Akan tetapi, Eyang....!!!”
Suara bantahan Adipati
Tejolaksono terhenti karena pada saat itu terdengar suara ketawa bergelak dan
muncullah dua orang kakek yang entah dari mana tahu-tahu telah berada di tempat
itu, berdiri sambil tertawa menghadapi Ki Tunggaljiwa. Kakek ini memandang,
menghela napas lalu bangkit berdiri. Melihat sikap, dua orang yang baru tiba,
Adipati Tejolaksono juga bangkit berdiri, diikuti Ayu Candra yang masih memeluk
puteranya. Tejolaksono yang memandang penuh perhatian, diam-diam menjadi
terkejut. Dari cahaya muka dan sinar mata mereka, ia maklum bahwa dua kakek ini
adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Kedua orang kakek itu sudah amat tua,
sukar diduga berapa usianya, akan tetapi agaknya tidak kalah tua oleh Ki
Tunggaljiwa yang juga sukar ditaksir berapa usianya. Yang seorang bertubuh
pendek gendut, berkepala gundul licin, dengan jubah kuning yang besar. Wajah
kakek ini amat tenang, mulutnya tersenyum dan pandang matanya tajam penuh
pengertian seakan-akan tidak ada rahasia lagi baginya akan apa yang terjadi di
kolong langit ini. Tangan kirinya memegang seuntai tasbih dari batu putih halus
mengkilap, sedangkan tangan kanannya memegang sebatang tongkat kayu cendana
yang kepalanya berbentuk ukiran kepala naga. Seluruh sikap kakek gundul ini,
dari kaki sampai ke kepala, pada senyum mulutnya dan sinar matanya, semua
membayangkan ketenangan dan kesabaran, kepala yang gundul dan jubah kuningnya
menunjukkan bahwa dia adalah seorang pendeta beragama Buddha dan melihat betapa
sinar kasih terpancar keluar dari matanya, mudah diduga bahwa pendeta ini
adalah seorang pendeta suci yang sudah matang betul ilmunya. Orang ke dua
adalah seorang kakek tinggi kurus dan kakek inilah yang tadi tertawa-tawa.
Kakek ini rambutnya panjang seperti rambut Ki Tunggaljiwa, juga sudah putih
semua, akan tetapi mukanya berkulit merah sehat seperti muka seorang anak kecil
yang banyak bermain di bawah sinar matahari. Matanya amat tajam dan penuh
semangat hidup, penuh gairah dan panas. Anehnya, pakaian kakek ini yang juga
merupakan jubah seorang pendeta Hindu, berwarna merah menyolok. Kedua tangannya
kosong tidak memegang sesuatu, akan tetapi di pinggangnya tampak terselip
gagang sebuah senjata yang tersembunyi di balik jubahnya.
Ki Tunggaljiwa menghela
napas panjang dan mengucapkan puja-puji kepada dewata sambil berkata,
”Puji syukur kepada Sang
Hyang Widhi Wisesa yang telah menurunkan anugerah kebahagiaan pada saat ini!
Pantas saja angin bersilir sejuk, burung prenjak mengganter (berkicau riang),
bajing lompat-lompat berkejaran gembira, hari cerah dan jauh lebih indah
daripada biasanya. Kiranya puncak Merapi mendapat kehormatan besar menerima
sentuhan kaki dua orang suci yang mendatangkan kebajikan kepada sesama umat
manusia! Sang Biku Janapati............ dan Sang Wasi Bagaspati, selamat datang
di puncak Merapi!”
”Sadhu.. sadhu... sadhu...
semoga Sang Tri Ratna melindungi kita semua!” Biku Janapati yang gendut dan berkepala
gundul itu berdoa sambil merangkapkan kedua telapak tangan ke depan dada.
”Wahai sang sakti Ki
Tunggaljiwa, alangkah pandainya Andika memilih tempat yang begini indah.
Sahabatku yang baik Ki Tunggaljiwa, seperti telah dikatakan oleh sabda suci
Sang Buddha bahwa yang meninggalkan kejahatan dinamakan Brahmana, yang hidup
tenang dan tenteram disebut Samana (orang suci), dan yang mengenyahkan
kekotoran dirinya dinamakan Pabbayita (bersih dari noda). Semoga Andika sudah
mencapai tingkat itu, oh, sahabat dan saudaraku Ki Tunggaljiwal”
Ki Tunggaljiwa tersenyum
ramah, sepasang matanya yang bening dan bersinar terang itu ikut pula
tersenyum.
”Saudaraku yang bijaksana,
Sang Biku Janapati. Sabda suci Buddhadarma dalam kitab Dhammapada itu
menerangkan tentang
sifat-sifat seorang Brahmana
dan Andika pergunakan untuk memuji seorang seperti aku. Ha-ha-ha-ha! Terlalu
tinggi, sang biku. Masa mungkin seorang petani bodoh macam Ki Tunggaljiwa ini
disebut seorang Brahmana? Tidak berani aku menerimanya, Saudaraku. Andika inilah
yang patut disebut seorang Bhikku yang telah matang jiwanya, seperti telah
disabdakan dalam Dhammapada bahwa seorang Bhikku hendaknya tidak
melebih-lebihkan apa yang diterima olehnya, tidak iri hati terhadap orang lain,
karena seorang Bhikku yang mengiri terhadap orang lain. Takkan memperoleh
ketenangan batin!”
”Ucapan Andika amat
menyenangkan dan baik, Ki Tunggaljiwa. Sadhu...!”
”Ha-ha-ha-ha-ha! Semenjak
puluhan tahun yang lalu Ki Tunggaljiwa memang seorang yang pandai dan
bijaksana. Pandai lahir batin dan pandai pula mengelus hati dan perasaan.
Sampai-sampai Biku Janapati dapat kau nina bobokkan dengan sabda-sabda suci
Buddhadharma. Akan tetapi, Ki Tunggaljiwa, suara dari mulut itu bukanlah
pernyataan pikiran dan senyum bukanlah cermin hati. Karena kita bertiga
bukanlah anak-anak kecil lagi, kuminta, Ki Tunggaljiwa, janganlah menggunakan
basa-basi dan tak perlu menanam madu di bibir. Lebih baik kita mengeluarkan isi
hati dan pikiran sebagaimana adanya. Nah, aku telah berkata demi nama
Sang Hyang Syiwa yang
berkuasa! Omm, shanti-shanti-shanti....!!”
Ki Tunggaljiwa
mengangguk-angguk, masih tersenyum ramah dan sepasang matanya makin tajam
bersinar-sinar. Lengan kanannya memeluk dada, lengan kirinya bertopang siku
pada lengan kanan dan tangannya mengelus-elus jenggotnya yang putih seperti
benang-benang sutera perak yang halus.
”Duhai, Jagad Dewa
Bhatara...........! Sang Wasi Bagaspati semenjak puluhan tahun yang lalu masih
saja penuh api dan semangat, seperti tidak pernah menjadi tua. Sungguh
mengagumkan sekali! Sesungguhnyalah, aku sama sekali tidak ...berkedok
basa-basi yang kosong, sahabat. Memang aku menanam madu di bibir, akan tetapi,
ini merupakan tata susila dan kepribadian bangsa kita. Bukankah amat indah tata
susila dan kepribadian bangsa kita, Sang Wasi? Tata susila pencerminan
peradaban dan tanpa peradaban, apa bedanya antara manusia dan binatang? Betapa
janggalnya kalau Andika berdua datang bertemu dengan aku lalu kita saling
memandang dengan mata melotot dan mulut cemberut penuh ancaman seperti sekumpulan
binatang bertemu lawan.”
Mendengar sikap Ki
Tunggaljiwa dan mendengar ucapan kakek ini, Adipati Tejolaksono benar-benar
amat kagum dan tertarik hatinya. Juga ia tadi kaget dan kagum mendengar bahwa
kakek yang diangkat guru puteranya ini benar-benar adalah Ki Tunggaljiwa
seperti yang pernah disangka oleh mendiang bibinya Kartikosari. Saking kagum
hatinya, tak terasa lagi ia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan
bantahan itu.
”Ha-ha-ha! Dia yang tidak
mengerti apa-apa, hanya pandai mengangguk-angguk menelan semua kata-kata manis
seperti seekor kerbau mendapat makanan rumput kering dari si petani!” kata pula
Wasi Bagaspati yang berwatak brangasan itu sambil memandang.
Tejolaksono tentu saja
merasa dirinya disindir. Ia mengangkat muka memandang pendeta pemuja Sang Hyang
Syiwa itu dan begitu pandang matanya bertemu dengan pandang mata kakek itu, ia
terkejut bukan main. Dari sepasang mata kakek itu seperti keluar api berkilat
yang panas sekali sehingga menyilaukan matanya. Akan tetapi Adipati Tejolaksono
bukan orang sembarangan. Dia pernah digembleng oleh Ki Patih Narotama, bahkan
pernah pula diwejang oleh Sang Prabu Airlangga, maka diapun memiliki kekuatan
batin amat hebat. Cepat ia mengerahkan tenaga batinnya menentang pandang mata
ini, namun biar dia kuat menentangnya, tidak urung jantungnya berdebar dan uap
panas mengepul dari ubun-ubun kepalanya!
”Ha-ha-ha! Kiranya temanmu
yang muda ini seorang muda yang berisi juga, Ki Tunggaljiwa! Muridmukah dia
ini? Lebih baik kau menyuruh mereka bertiga ini menyingkir lebih dulu agar
percakapan kita yang maha penting tidak terganggu.”
Tejolaksono bergidik ketika
kakek itu mengalihkan pandang mata kepada Ki Tunggaljiwa. Ia maklum bahwa
sebentar lagi, kalau adu pandang itu dilanjutkan, ia takkan kuat bertahan.
Alangkah hebatnya kakek pemuja Sang Hyang Syiwa itu!
”Heh-heh, dia bukan orang
lain, juga bukan muridku, Sang Wasi. Dia adalah Adipati Tejolaksono, Adipati
Selopenangkep.”
”Aaahhh! Kiranya dia
ponggawa Panjalu, bukan? Bagus sekali! Biarlah dia menjadi saksi dan pendengar
untuk menyampaikan kepada sang prabu di Panjalu. Kami tidak takut!”
”Sudahlah, Sabahatku Wasi
Bagaspati. Tidak ada yang menentangmu, maka memang tidak ada persoalan berani
atau takut. Lebih baik kalau Andika berdua Sang Biku Banapati menjelaskan
maksud kedatangan Andika berdua.”
”Ha-ha, seperti anak kecil
engkau, Ki Tunggaljiwa. Perlu lagikah dijelaskan kepada seorang sakti
mandraguna seperti engkau yang kabarnya memiliki mata batin yang tajam dan awas
sehingga dapat melihat keadaan masa mendatang?”
Ki Tunggaljiwa
menggeleng-geleng kepala.
“Andika maklum, bukan hak
manusia untuk mendahului kehendak Hyang Widhi Wisesa. Kalau engkau enggan
mengaku, aku mohon
Sang Biku Janapati
menjelaskan maksud kedatangannya.“
Biku Janapati yang sejak
tadi hanya berdiri diam tak bergerak, kini mendehem tiga kali, lalu
merangkapkan kedua tangannya lagi.
“Ah, saudaraku Ki
Tunggaljiwa. Semoga Sang Buddha menjauhkan hatiku daripada kehendak buruk!
Kedatanganku ini tidak lain hanya mohon petunjuk dan penjelasan mengenai
perjumpaanmu setengah tahun yang lalu di puncak Sanggabuwana dengan seorang
di antara murid-muridku.
Engkau dan muridku berdebat, juga dengan murid Saudara Wasi Bagaspati, dan
mendengar bahwa Andika menentang berkembangnya Agama Buddha dan Agama Shiwa.
Aku hanya ingin mendengar dari mulut Andika sendiri, benarkah Andika menentang
Agama Buddha?”
”Biku Janapati, perlu apa
bertanya lagi? Andaikata benar demikian, tentu Ki Tunggaljiwa yang
plintat-plintut ini tidak akan mengaku. Kita semua tahu bahwa dia penyembah
Sang Hyang Wishnu dan kita sama tahu pula betapa para penyembah Wishnu selalu
menyelamatkan diri di balik ketajaman lidahnya!”
Ki Tunggaljiwa tidak menjadi
marah, hanya mengangguk-angguk dan tersenyum lalu mengelus-elus jenggotnya.
”Memang benar seperti yang
diucapkan Wasi Bagaspati. Perlu apa lagi aku bicara kalau orang datang dengan
etikat buruk? Orang yang telah diracuni kebencian tidak akan dapat melihat
kebenaran, tidak akan dapat mempertimbangkan keadilan! Kalau aku bicara dan membela
kebenaran, tentu akan kalian anggap keliru pula, bahkan jangan-jangan aku
disangka tumbak-cucukan (penceloteh). Tidak, kedua saudaraku yang bijaksana.
Aku tidak akan membela diri dan membenarkan diri sendiri. Hanya pendirianku
begini, hendaknya kalian berdua dengarkan secara teliti, dengan kepala dingin.
Tidak aku sangkal lagi bahwa aku, bersama sebagian besar rakyat Panjalu dan
Jenggala, memuja Sang Bathara Wishnu yang penuh kasih dan yang bijaksana yang
hendak menuntun manusia ke jalan kebenaran, tidak melawan kehendak Sang Hyang
Widhi Wisesa! Akan tetapi, sungguh menyimpang daripada ajaran Sang Hyang Wishnu
kalau kami para pemujanya membenci dan menghalangi perkembangan agama lain,
karena kami tahu bahwasanya semua agama itu bagaikan jalan-jalan yang berlainan
namun kesemuanya mempunyai titik tujuan yang sama! Sinar agung Sang Hyang
Wisesa merupakan mercu suar dan ke arah mercu suar itulah semua jalan menuju.
Sahabat berdua, sekali lagi kutekankan bahwa kami anak murid Sri Wishnu tidak
akan menentang agama lain, akan tetapi tentu saja kami juga tidak mau ditekan.”
”Sungguh baik dan benar
wawasan Ki Tunggaljiwa dan semoga Sang Buddha memberkahi kita sekalian yang
berkemauan baik,” kata Biku Janapati dengan wajah berseri. Akan tetapi Wasi
Bagaspati lalu tertawa bergelak penuh ejekan, kemudian berkata, suaranya
nyaring,
”Ha-ha-ha, pemutaran
kata-kata yang manis beracun! Heh, Ki Tunggaljiwa! Kakek-kakek seperti kita
ini, perlu apa memutar-rnutar omongan? Lebih baik engkau katakan bahwa engkau
tidak rela melihat agama kami berkembang ke Panjalu dan Jenggala!. Aku Wasi
Bagaspati semenjak muda terkenal sebagai orang yang paling suka akan sikap
jantan yang blak-blakan, membenci sifat plintat-plintut!” Keras dan memanaskan
hati ucapan yang keluar dari tokoh pemuja Agama Shiwa ini, akan tetapi Ki
Tunggaljiwa masih tersenyum, bukan senyum sabar melainkan senyum penuh maklum,
seperti senyum seorang tua melihat kenakalan kanak-kanak.
”Wasi Bagaspati, aku tidak
menyembunyikan sesuatu yang aku sudah tahu pula akan latar belakang kemarahan
Andika berdua. Misalnya, aku tahu bahwa Andika dan murid Andika adalah
utusan-utusan atau wakil Kerajaan Cola yang ingin menancapkan kekuasaan di
Jawa-dwipa, seperti juga sahabat Biku Janapati ini adalah utusan Sriwijaya yang
semenjak dahulu memang ingin mendesak Mataram! Kedua kerajaan ini memperalat
kalian, entah kalian sadari ataukah tidak. Akan tetapi aku tidak mencampuri
urusan kerajaan. Bagiku, kujelaskan lagi, asal kalian tidak menekan kami para
anak murid Sri Wishnu, kami tidak akan menentang siapa-siapa.”
”Ha-ha-ha!
Tanpa tedeng aling-aling memang kuakui bahwa aku utusan Kerajaan Cola! Dan Biku
Janapati memang utusan Sriwijaya! Akan tetapi kau tidak perlu berpura-pura
lagi, Ki Tunggaljiwa. Siapakah tidak tahu kepada engkau dan kakak seperguruanmu
Bhagawan Satyadarma di Gunung Agung? Siapakah tidak tahu betapa dahulu,
semenjak di Balidwipa, kalian mengusahakan agar dapat menguasai Jawa? Buktinya,
anak Balidwipa, murid Bhagawan Satyadarma, menjadi Raja Kahuripan! Dan kini
putera-puteranya merajai Jenggala dan Panjalu. Tentu saja engkau melindungi
mereka! Pendeknya, Kerajaan Cola dan Sriwijaya akan maju terus, dan kamipun
akan maju terus!”
No comments:
Post a Comment