Perawan Lembah Wilis; Bagian 040


Ki Tunggaljiwa tertawa.
”Angger adipati berdua harap maklum bahwa kehendak Hyang Widhi tidak dapat diubah oleh perbuatan manusia. Ketahuilah bahwa bukan semata-mata kehendak saya untuk mengambil murid Bagus Seta, melainkan agaknya Sang Hyang Wishnu sendiri yang memilih anak ini untuk kelak menyelamatkan nama besarNya.”
”Akan tetapi, Eyang....!!!”

Suara bantahan Adipati Tejolaksono terhenti karena pada saat itu terdengar suara ketawa bergelak dan muncullah dua orang kakek yang entah dari mana tahu-tahu telah berada di tempat itu, berdiri sambil tertawa menghadapi Ki Tunggaljiwa. Kakek ini memandang, menghela napas lalu bangkit berdiri. Melihat sikap, dua orang yang baru tiba, Adipati Tejolaksono juga bangkit berdiri, diikuti Ayu Candra yang masih memeluk puteranya. Tejolaksono yang memandang penuh perhatian, diam-diam menjadi terkejut. Dari cahaya muka dan sinar mata mereka, ia maklum bahwa dua kakek ini adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Kedua orang kakek itu sudah amat tua, sukar diduga berapa usianya, akan tetapi agaknya tidak kalah tua oleh Ki Tunggaljiwa yang juga sukar ditaksir berapa usianya. Yang seorang bertubuh pendek gendut, berkepala gundul licin, dengan jubah kuning yang besar. Wajah kakek ini amat tenang, mulutnya tersenyum dan pandang matanya tajam penuh pengertian seakan-akan tidak ada rahasia lagi baginya akan apa yang terjadi di kolong langit ini. Tangan kirinya memegang seuntai tasbih dari batu putih halus mengkilap, sedangkan tangan kanannya memegang sebatang tongkat kayu cendana yang kepalanya berbentuk ukiran kepala naga. Seluruh sikap kakek gundul ini, dari kaki sampai ke kepala, pada senyum mulutnya dan sinar matanya, semua membayangkan ketenangan dan kesabaran, kepala yang gundul dan jubah kuningnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang pendeta beragama Buddha dan melihat betapa sinar kasih terpancar keluar dari matanya, mudah diduga bahwa pendeta ini adalah seorang pendeta suci yang sudah matang betul ilmunya. Orang ke dua adalah seorang kakek tinggi kurus dan kakek inilah yang tadi tertawa-tawa. Kakek ini rambutnya panjang seperti rambut Ki Tunggaljiwa, juga sudah putih semua, akan tetapi mukanya berkulit merah sehat seperti muka seorang anak kecil yang banyak bermain di bawah sinar matahari. Matanya amat tajam dan penuh semangat hidup, penuh gairah dan panas. Anehnya, pakaian kakek ini yang juga merupakan jubah seorang pendeta Hindu, berwarna merah menyolok. Kedua tangannya kosong tidak memegang sesuatu, akan tetapi di pinggangnya tampak terselip gagang sebuah senjata yang tersembunyi di balik jubahnya.
Ki Tunggaljiwa menghela napas panjang dan mengucapkan puja-puji kepada dewata sambil berkata,
”Puji syukur kepada Sang Hyang Widhi Wisesa yang telah menurunkan anugerah kebahagiaan pada saat ini! Pantas saja angin bersilir sejuk, burung prenjak mengganter (berkicau riang), bajing lompat-lompat berkejaran gembira, hari cerah dan jauh lebih indah daripada biasanya. Kiranya puncak Merapi mendapat kehormatan besar menerima sentuhan kaki dua orang suci yang mendatangkan kebajikan kepada sesama umat manusia! Sang Biku Janapati............ dan Sang Wasi Bagaspati, selamat datang di puncak Merapi!”
”Sadhu.. sadhu... sadhu... semoga Sang Tri Ratna melindungi kita semua!” Biku Janapati yang gendut dan berkepala gundul itu berdoa sambil merangkapkan kedua telapak tangan ke depan dada.
”Wahai sang sakti Ki Tunggaljiwa, alangkah pandainya Andika memilih tempat yang begini indah. Sahabatku yang baik Ki Tunggaljiwa, seperti telah dikatakan oleh sabda suci Sang Buddha bahwa yang meninggalkan kejahatan dinamakan Brahmana, yang hidup tenang dan tenteram disebut Samana (orang suci), dan yang mengenyahkan kekotoran dirinya dinamakan Pabbayita (bersih dari noda). Semoga Andika sudah mencapai tingkat itu, oh, sahabat dan saudaraku Ki Tunggaljiwal”
Ki Tunggaljiwa tersenyum ramah, sepasang matanya yang bening dan bersinar terang itu ikut pula tersenyum.
”Saudaraku yang bijaksana, Sang Biku Janapati. Sabda suci Buddhadarma dalam kitab Dhammapada itu menerangkan tentang
sifat-sifat seorang Brahmana dan Andika pergunakan untuk memuji seorang seperti aku. Ha-ha-ha-ha! Terlalu tinggi, sang biku. Masa mungkin seorang petani bodoh macam Ki Tunggaljiwa ini disebut seorang Brahmana? Tidak berani aku menerimanya, Saudaraku. Andika inilah yang patut disebut seorang Bhikku yang telah matang jiwanya, seperti telah disabdakan dalam Dhammapada bahwa seorang Bhikku hendaknya tidak melebih-lebihkan apa yang diterima olehnya, tidak iri hati terhadap orang lain, karena seorang Bhikku yang mengiri terhadap orang lain. Takkan memperoleh ketenangan batin!”
”Ucapan Andika amat menyenangkan dan baik, Ki Tunggaljiwa. Sadhu...!”
”Ha-ha-ha-ha-ha! Semenjak puluhan tahun yang lalu Ki Tunggaljiwa memang seorang yang pandai dan bijaksana. Pandai lahir batin dan pandai pula mengelus hati dan perasaan. Sampai-sampai Biku Janapati dapat kau nina bobokkan dengan sabda-sabda suci Buddhadharma. Akan tetapi, Ki Tunggaljiwa, suara dari mulut itu bukanlah pernyataan pikiran dan senyum bukanlah cermin hati. Karena kita bertiga bukanlah anak-anak kecil lagi, kuminta, Ki Tunggaljiwa, janganlah menggunakan basa-basi dan tak perlu menanam madu di bibir. Lebih baik kita mengeluarkan isi hati dan pikiran sebagaimana adanya. Nah, aku telah berkata demi nama
Sang Hyang Syiwa yang berkuasa! Omm, shanti-shanti-shanti....!!”

Ki Tunggaljiwa mengangguk-angguk, masih tersenyum ramah dan sepasang matanya makin tajam bersinar-sinar. Lengan kanannya memeluk dada, lengan kirinya bertopang siku pada lengan kanan dan tangannya mengelus-elus jenggotnya yang putih seperti benang-benang sutera perak yang halus.
”Duhai, Jagad Dewa Bhatara...........! Sang Wasi Bagaspati semenjak puluhan tahun yang lalu masih saja penuh api dan semangat, seperti tidak pernah menjadi tua. Sungguh mengagumkan sekali! Sesungguhnyalah, aku sama sekali tidak ...berkedok basa-basi yang kosong, sahabat. Memang aku menanam madu di bibir, akan tetapi, ini merupakan tata susila dan kepribadian bangsa kita. Bukankah amat indah tata susila dan kepribadian bangsa kita, Sang Wasi? Tata susila pencerminan peradaban dan tanpa peradaban, apa bedanya antara manusia dan binatang? Betapa janggalnya kalau Andika berdua datang bertemu dengan aku lalu kita saling memandang dengan mata melotot dan mulut cemberut penuh ancaman seperti sekumpulan binatang bertemu lawan.”
Mendengar sikap Ki Tunggaljiwa dan mendengar ucapan kakek ini, Adipati Tejolaksono benar-benar amat kagum dan tertarik hatinya. Juga ia tadi kaget dan kagum mendengar bahwa kakek yang diangkat guru puteranya ini benar-benar adalah Ki Tunggaljiwa seperti yang pernah disangka oleh mendiang bibinya Kartikosari. Saking kagum hatinya, tak terasa lagi ia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan bantahan itu.
”Ha-ha-ha! Dia yang tidak mengerti apa-apa, hanya pandai mengangguk-angguk menelan semua kata-kata manis seperti seekor kerbau mendapat makanan rumput kering dari si petani!” kata pula Wasi Bagaspati yang berwatak brangasan itu sambil memandang.
Tejolaksono tentu saja merasa dirinya disindir. Ia mengangkat muka memandang pendeta pemuja Sang Hyang Syiwa itu dan begitu pandang matanya bertemu dengan pandang mata kakek itu, ia terkejut bukan main. Dari sepasang mata kakek itu seperti keluar api berkilat yang panas sekali sehingga menyilaukan matanya. Akan tetapi Adipati Tejolaksono bukan orang sembarangan. Dia pernah digembleng oleh Ki Patih Narotama, bahkan pernah pula diwejang oleh Sang Prabu Airlangga, maka diapun memiliki kekuatan batin amat hebat. Cepat ia mengerahkan tenaga batinnya menentang pandang mata ini, namun biar dia kuat menentangnya, tidak urung jantungnya berdebar dan uap panas mengepul dari ubun-ubun kepalanya!
”Ha-ha-ha! Kiranya temanmu yang muda ini seorang muda yang berisi juga, Ki Tunggaljiwa! Muridmukah dia ini? Lebih baik kau menyuruh mereka bertiga ini menyingkir lebih dulu agar percakapan kita yang maha penting tidak terganggu.”
Tejolaksono bergidik ketika kakek itu mengalihkan pandang mata kepada Ki Tunggaljiwa. Ia maklum bahwa sebentar lagi, kalau adu pandang itu dilanjutkan, ia takkan kuat bertahan. Alangkah hebatnya kakek pemuja Sang Hyang Syiwa itu!
”Heh-heh, dia bukan orang lain, juga bukan muridku, Sang Wasi. Dia adalah Adipati Tejolaksono, Adipati Selopenangkep.”
”Aaahhh! Kiranya dia ponggawa Panjalu, bukan? Bagus sekali! Biarlah dia menjadi saksi dan pendengar untuk menyampaikan kepada sang prabu di Panjalu. Kami tidak takut!”
”Sudahlah, Sabahatku Wasi Bagaspati. Tidak ada yang menentangmu, maka memang tidak ada persoalan berani atau takut. Lebih baik kalau Andika berdua Sang Biku Banapati menjelaskan maksud kedatangan Andika berdua.”
”Ha-ha, seperti anak kecil engkau, Ki Tunggaljiwa. Perlu lagikah dijelaskan kepada seorang sakti mandraguna seperti engkau yang kabarnya memiliki mata batin yang tajam dan awas sehingga dapat melihat keadaan masa mendatang?”
Ki Tunggaljiwa menggeleng-geleng kepala.
“Andika maklum, bukan hak manusia untuk mendahului kehendak Hyang Widhi Wisesa. Kalau engkau enggan mengaku, aku mohon
Sang Biku Janapati menjelaskan maksud kedatangannya.“

Biku Janapati yang sejak tadi hanya berdiri diam tak bergerak, kini mendehem tiga kali, lalu merangkapkan kedua tangannya lagi.
“Ah, saudaraku Ki Tunggaljiwa. Semoga Sang Buddha menjauhkan hatiku daripada kehendak buruk! Kedatanganku ini tidak lain hanya mohon petunjuk dan penjelasan mengenai perjumpaanmu setengah tahun yang lalu di puncak Sanggabuwana dengan seorang
di antara murid-muridku. Engkau dan muridku berdebat, juga dengan murid Saudara Wasi Bagaspati, dan mendengar bahwa Andika menentang berkembangnya Agama Buddha dan Agama Shiwa. Aku hanya ingin mendengar dari mulut Andika sendiri, benarkah Andika menentang Agama Buddha?”
”Biku Janapati, perlu apa bertanya lagi? Andaikata benar demikian, tentu Ki Tunggaljiwa yang plintat-plintut ini tidak akan mengaku. Kita semua tahu bahwa dia penyembah Sang Hyang Wishnu dan kita sama tahu pula betapa para penyembah Wishnu selalu menyelamatkan diri di balik ketajaman lidahnya!”
Ki Tunggaljiwa tidak menjadi marah, hanya mengangguk-angguk dan tersenyum lalu mengelus-elus jenggotnya.
”Memang benar seperti yang diucapkan Wasi Bagaspati. Perlu apa lagi aku bicara kalau orang datang dengan etikat buruk? Orang yang telah diracuni kebencian tidak akan dapat melihat kebenaran, tidak akan dapat mempertimbangkan keadilan! Kalau aku bicara dan membela kebenaran, tentu akan kalian anggap keliru pula, bahkan jangan-jangan aku disangka tumbak-cucukan (penceloteh). Tidak, kedua saudaraku yang bijaksana. Aku tidak akan membela diri dan membenarkan diri sendiri. Hanya pendirianku begini, hendaknya kalian berdua dengarkan secara teliti, dengan kepala dingin. Tidak aku sangkal lagi bahwa aku, bersama sebagian besar rakyat Panjalu dan Jenggala, memuja Sang Bathara Wishnu yang penuh kasih dan yang bijaksana yang hendak menuntun manusia ke jalan kebenaran, tidak melawan kehendak Sang Hyang Widhi Wisesa! Akan tetapi, sungguh menyimpang daripada ajaran Sang Hyang Wishnu kalau kami para pemujanya membenci dan menghalangi perkembangan agama lain, karena kami tahu bahwasanya semua agama itu bagaikan jalan-jalan yang berlainan namun kesemuanya mempunyai titik tujuan yang sama! Sinar agung Sang Hyang Wisesa merupakan mercu suar dan ke arah mercu suar itulah semua jalan menuju. Sahabat berdua, sekali lagi kutekankan bahwa kami anak murid Sri Wishnu tidak akan menentang agama lain, akan tetapi tentu saja kami juga tidak mau ditekan.”
”Sungguh baik dan benar wawasan Ki Tunggaljiwa dan semoga Sang Buddha memberkahi kita sekalian yang berkemauan baik,” kata Biku Janapati dengan wajah berseri. Akan tetapi Wasi Bagaspati lalu tertawa bergelak penuh ejekan, kemudian berkata, suaranya nyaring,
”Ha-ha-ha, pemutaran kata-kata yang manis beracun! Heh, Ki Tunggaljiwa! Kakek-kakek seperti kita ini, perlu apa memutar-rnutar omongan? Lebih baik engkau katakan bahwa engkau tidak rela melihat agama kami berkembang ke Panjalu dan Jenggala!. Aku Wasi Bagaspati semenjak muda terkenal sebagai orang yang paling suka akan sikap jantan yang blak-blakan, membenci sifat plintat-plintut!” Keras dan memanaskan hati ucapan yang keluar dari tokoh pemuja Agama Shiwa ini, akan tetapi Ki Tunggaljiwa masih tersenyum, bukan senyum sabar melainkan senyum penuh maklum, seperti senyum seorang tua melihat kenakalan kanak-kanak.
”Wasi Bagaspati, aku tidak menyembunyikan sesuatu yang aku sudah tahu pula akan latar belakang kemarahan Andika berdua. Misalnya, aku tahu bahwa Andika dan murid Andika adalah utusan-utusan atau wakil Kerajaan Cola yang ingin menancapkan kekuasaan di Jawa-dwipa, seperti juga sahabat Biku Janapati ini adalah utusan Sriwijaya yang semenjak dahulu memang ingin mendesak Mataram! Kedua kerajaan ini memperalat kalian, entah kalian sadari ataukah tidak. Akan tetapi aku tidak mencampuri urusan kerajaan. Bagiku, kujelaskan lagi, asal kalian tidak menekan kami para anak murid Sri Wishnu, kami tidak akan menentang siapa-siapa.”
”Ha-ha-ha! Tanpa tedeng aling-aling memang kuakui bahwa aku utusan Kerajaan Cola! Dan Biku Janapati memang utusan Sriwijaya! Akan tetapi kau tidak perlu berpura-pura lagi, Ki Tunggaljiwa. Siapakah tidak tahu kepada engkau dan kakak seperguruanmu Bhagawan Satyadarma di Gunung Agung? Siapakah tidak tahu betapa dahulu, semenjak di Balidwipa, kalian mengusahakan agar dapat menguasai Jawa? Buktinya, anak Balidwipa, murid Bhagawan Satyadarma, menjadi Raja Kahuripan! Dan kini putera-puteranya merajai Jenggala dan Panjalu. Tentu saja engkau melindungi mereka! Pendeknya, Kerajaan Cola dan Sriwijaya akan maju terus, dan kamipun akan maju terus!”

<<< Bagian 039                                                                                    Bagian 041 >>>

No comments:

Post a Comment