Akan tetapi, latihan samadhi yang diajarkan gurunya ini amatlah sukar dan menyiksa diri karena ia disuruh bersamadhi di siang hari sambil merendam tubuh sampai ke leher dalam air dari sumber air panas yang berbau belerang dan panasnya bukan main itu. Pada hari pertama, tubuhnya terasa terbakar dan hampir saja ia tidak kuat bertahan kalau saja di situ tidak ada Ki Tunggaljiwa yang setiap kali menyentuh kepalanya rasa panas membakar itu menjadi berkurang dan dapat ia tahan! Latihan di malam hari tidak kurang menyiksanya karena ia diharuskan bersamadhi sambil merendam diri di dalam air dari sumber air dingin. Bukan main dinginnya. Tubuhnya serasa membeku dan giginya sampai berbunyi karena saling beradu, tubuh menggigil dan ia tentu pingsan kalau saja tidak disentuh gurunya pada tengkuknya. Sentuhan bukan sembarang sentuhan karena dari jari tangan gurunya ifu, keluar hawa panas yang dapat melawan rasa dingin membeku itu! Setelah genap tiga pekan berlatih samadhi seperti ini, mulailah Bagus Seta terbiasa dan tidak perlu dibantu gurunya pula. Tubuhnya dapat menahan, akan tetapi masih belum mudahlah baginya untuk mengheningkan cipta. Semua pancaindranya ia kerahkan untuk melawan rasa panas jika berendam di air panas dan rasa dingin pada malam harinya jika berendam di air dingin, sehingga tidak ada sisa kekuatan lagi untuk mengendalikan pancaindra dan mematikan raga. Akan tetapi sudah mulai mendapat kemajuan, sedikit demi sedikit dibimbing gurunya. Adanya Sardulo pethak di situ banyak membantu Bagus Seta karena harimau ini ternyatapun kuat bertahan berendam di dalam air dingin. Bagus Seta adalah seorang anak yang menjunjung tinggi kegagahan, juga telah memiliki harga diri yang tinggi, maka tentu saja ja merasa malu kalau sampai kalah, oleh seekor harimau! Hal ini banyak menolongnya dan banyak membantunya memperoleh kemajuan pesat.
Kemajuan yang mulai tampak
itu menggembirakan hati Bagus Seta sehingga anak ini menjadi makin rajin.
Memang dalam waktu kurang lebih satu bulan itu, seringkali termenung kalau
memikirkan orang tuanya dan Selopenangkep, akan tetapi justeru hal inipun
merupakan latihan batin yang amat baik baginya. Mula-mula seringkali ia duduk
menangis seorang diri teringat akan, ibunya, akan tetapi akhirnya ia dapat
melawannya, bahkan kalau perasaan rindu kepada ibunya itu datang menyerangnya,
ia menceburkan diri ke dalam air panas di waktu siang hari dan air dingin di
waktu malam, kemudian, menghilangkan semua rasa rindu itu dengan bersamadhi!
Biarpun di luarnya tidak menyatakan sesuatu, namun sesungguhnya, setiap saat Ki
Tungaljiwa memperhatikan gerak-gerik muridnya dan ia gembira bukan main
menyaksikan betapa muridnya yang masih kecil itu ternyata sudah lulus dari
ujian pertama yang amat berat. Ia kini yakin bahwa memang Sang Hyang Wishnu
sendirilah yang telah memilihkan murid baginya dan ia merasa berterima kasih
sekali,
Kurang lebih delapan pekan
telah lewat semenjak Bagus Seta berada di puncak Gunung Merapi bersama Ki
Tunggaljiwa. Pagi hari itu, seperti biasa, setelah sarapan pagi yang amat
sederhana, yaitu ubi bakar dan minum air panas dari sumber yang berbau belerang
untuk mengusir hawa dingin pagi hari itu, Ki Tunggaljiwa bersama Bagus Seta
duduk di depan pondok. Setiap pagi, Ki Tunggaljiwa tentu mengajak muridnya
untuk menyambut munculnya matahari sambil duduk bersila di atas tanah.
”Sebelum dewangkara
(matahari) naik sampai ke atas kepala kita, cahayanya mengandung berkah yang
berlimpah-limpah, sarinya, mengandung dasar kekuatan yang tak ternilai
harganya. Karena itu, kita harus dapat menikmati berkahnya dan sedapat mungkin
kau harus dapat menampung inti sari kekuatan mujijat yang terdapat di dalam
sinar kencana itu, muridku.” Demikian Ki Tunggaljiwa memberitahu muridnya
sehingga setiap pagi mereka duduk bersila tak berbaju. Hal ini dilakukan oleh
guru dan murid dengan sikap yang amat menghormat, karena menurut pendapat Ki
Tunggaljiwa, yang menguasai sang dewangkara adalah Sang Hyang Bathara Surya
sendiri, oleh karena itu berkah dan kekuatan itu harus diterima dengan penuh
hormat. Guru yang amat tua dan murid yang masih kanak-kanak itu duduk bersila
di pagi hari itu di depan pondok. Tak lama kemudian, keduanya sudah duduk diam
dan berlatih samadhi sambil menikmati cahaya sinar matahari pagi yang
memandikan tubuh mereka. Demikian tekun dan hening
mereka dalam samadhi
sehingga, tidak tahu bahwa ada dua orang yang memiliki gerakan ringan dan gesit
telah mendaki puncak dan tiba di dekat pondok mereka. Dua orang itu bukan lain
adalah Adipati Tejolaksono sendiri bersama isterinya, Ayu Candra. Wanita ini
berkeras tidak mau ditinggalkan suaminya, hendak ikut dan turun tangan sendiri
mencari puteranya yang hilang.
Adipati Tejolaksono tidak
dapat, melarang isterinya maka berangkatlah suami isteri ini menunggang kuda
menuju ke kaki Gunung Merapi di mana dahulu sang adipati pernah bertemu dengan
Ki Tunggaljiwa ketika sedang memburu binatang hutan. Setelah perjalanan mendaki
gunung sampai di lereng dan amat sukar, terpaksa suami isteri perkasa ini
meninggalkan kuda mereka dan melanjutkan pendakian ke puncak dengan jalan kaki.
Hati mereka berdebar keras penuh ketegangan dan harapan ketika dari jauh mereka
melihat pondok kecil di dekat puncak itu. Akan tetapi tiba-tiba Adipati
Tejolaksono memegang lengan isterinya dan menarik isterinya itu menyelinap ke
belakang gerombolan pohon. Cepat ia menutup mulut isterinya dengan tangan
ketika melihat Ayu Candra hendak membuka mulut bertanya. Mereka mengintai
keluar rumpun dan tampaklah oleh Ayu Candra dua sosok bayangan orang melesat
naik ke puncak. Mata wanita itu terbelalak dan bulu tengkuknya berdiri.
Setan-setankah yang dilihatnya itu? Kalau manusia mengapa dapat melakukan
gerakan sehebat itu, seolah-olah terbang saja mendaki puncak? Dan melihat bahwa
mereka berdua itu agaknya sudah amat tua, sungguh luar biasa sekali. Di dalam
hatinya, Adipati Tejolaksono juga terkejut dan maklum bahwa dua orang kakek
yang lewat dengan kecepatan laksana terbang itu adalah orang-orang sakti yang
amat luar biasa. Maka ia lalu bersikap hati-hati, mengajak isterinya melanjutkan
perjalanan mendekati pondok. Ketika mereka berdua tiba di depan pondok dan
melihat Ki Tunggaljiwa yang duduk di depan pondok di atas tanah bersama Bagus
Seta, keduanya tercengang dan terharu sekali. Putera mereka sehat dan selamat.
Dan baru sekarang mereka melihat betapa putera mereka itu amat sehat dan
tampan, duduk bersila bertelanjang dada seperti sebuah arca Sang Hyang Wishnu
sendiri di waktu masih kanak-kanak, tubuhnya yang tertimpa sinar matahari itu
bercahaya seperti kencana, dari kepala tampak uap putih membumbung atas
membentuk lingkaran pelangi tipis. Hebat! Dan anak mereka itu sedang tekun
bersamadhi. Belum pernah mereka melihat putera mereka bersamadhi seperti itu,
demikian tenang, demikian hening, penuh kedamaian yang terpancar keluar dari
wajahnya yang tersenyum. Sampai terisak Ayu Candra saking girang dan terharu
hatinya melihat puteranya ini. Ingin ia berteriak memanggil dan lari memeluk
puteranya, akan tetapi tangannya dipegang dan ditahan oleh Tejolaksono yang
tidak berani berlaku sembrono di depan kakek yang ia tahu memiliki kesaktian
yang amat tinggi itu.
Tiba-tiba dari belakang
pondok itu muncul seekor harimau putih yang langsung melompat ke depan
Tejolaksono dan isterinya, lalu mengeluarkan suara gerengan keras dan
memperlihatkan taring-taringnya yang runcing. Ayu Candra kaget sekali dan
memegang lengan suaminya, siap menghadapi binatang buas yang amat besar dan
menyeramkan itu. Akan tetapi Tejolaksono bersikap tenang, bahkan ia lalu maju
ke depan harimau itu dan berkata nyaring,
”Harimau putih, apakah
andika masih menaruh dendam atas kematian anakmu? Tak dapatkah engkau memaafkan
aku?”
Ki Tunggaljiwa membuka
matanya dan menarik napas panjang, lalu tertawa halus.
”Ahh, kiranya Sang Adipati
telah datang! Ketahuilah, Angger. Harimau dan semua binatang tidaklah semua
pendendam seperti manusia. Kematian anaknya pun dianggapnya sesuatu peristiwa
yang wajar dan tak terelakkan, maka tak pernah menaruh dendam, baik kepada
manusia maupun dewata, karena segala perbuatan akan menimpa si pembuat sendiri,
tidak perlu dibalas oleh orang lain! Tidak, Sardulo pethak tidak mendendam
kepadamu, tidak pula memaafkan dan tidak sakit hati. Dia hanya merasa khawatir
kalau-kalau kalian datang untuk membawa pergi Bagus Seta dari sini!”
Dengan perlahan sang pertapa
bangkit berdiri, bersandar pada tongkatnya sambil berkata lirih,
”Kulup, Bagus Seta muridku
yang baik, bangunlah. Ini ayah bundamu telah datang, Angger.”
Bagus Seta yang tadinya
masih dalam keheningan samadhinya tidak mendengar sesuatu, karena sudah biasa
gurunya membangunkannya dari samadhi, kini menjadi sadar dan membuka matanya.
Sepasang mata yang tajam bersinar-sinar akan tetapi kini bertambah dengan
kehalusan yang tenang, memandang kepada ayah bundanya. Anak itu lalu melompat
bangun dan berseru gembira,
”Kanjeng Rama....! Kanjeng
Ibu ...!”
”Bagus Seta anakku.....!!”
Ayu Candra lari menghampiri, berlutut di depan puteranya sambil memeluk dan
menciuminya. Air mata ibu ini bercucuran saking girang hatinya. Akan tetapi
puteranya bersikap tenang, bahkan sambil merangkul leher ibunya la berkata,
”Ibu, kenapa menangis? Saya
tidak apa-apa, senang di sini bersama Bapa Guru dan Sardulo pethak.”
Aneh sekali tetapi nyata
terasa oleh Ayu Candra. Ucapan puteranya ini biarpun diucapkan dengan suara
yang sama sebulan yang lalu, yaitu suara puteranya yang nyaring dan halus,
namun ada sesuatu yang jauh berbeda. Di dalam suara ini terkandung sesuatu yang
amat berpengaruh, sesuatu yang membuat jantungnya berdetak aneh dan yang
sekaligus membuat ia malu akan diri sendiri, malu bahwa ia tadi telah
memperlihatkan perasaan yang membayangkan kelemahan hati. Puteranya ini
sekarang seolah-olah bicara seperti seorang dewata yang memiliki wibawa besar,
seperti ayahnya! Diam-diam Tejolaksono yang menyaksikan sikap
dan mendengar suara
puteranya, juga menjadi heran dan kagum sekali, apalagi ketika ia tadi
mendengar kakek itu menyebut murid kepada Bagus Seta dan puteranya itu menyebut
bapa guru kepada kakek itu! Karena maklum bahwa kakek itu bukan seorang manusia
sembarangan, maka Tejolaksono menarik tangan Ayu Candra dan menjatuhkan diri
berlutut di depan kakek itu. Dia seorang adipati dan sebetulnya tidaklah
semestinya kalau ia sebagaI seorang pembesar dan bangsawan harus menyembah
seorang kakek biasa yang tidak memiliki kedudukan. Akan tetapi Tejolaksono
bukan seorang adipati biasa yang terlalu mementingkan dan membanggakan
kedudukannya. Di sudut hatinya, dia adalah seorang ksatria yang selalu tahu
menghormat dan menjunjung tinggi seorang tua yang sakti, maka kini ia berlutut
menyembah tanpa ragu-ragu lagi. Juga Ayu Candra adalah puteri seorang pertapa
sakti, tentu saja wanita inipun bukan seorang penyombong seperti puteri-puteri
bangsawan biasa, kini dengan segala kerendahan hati la berlutut menyembah kakek
yang ia tahu telah menolong puteranya itu.
”Eyang panembahan, hamba
suami isteri menghaturkan banyak terima kasih kepada Eyang panembahan yang
sudah menyuruh harimau putih untuk menolong putera kami dari ancaman para
perampok yang menyerang Kadipaten Selopenangkep,” Tejolaksono berkata dengan
sikap menghormat.
Ki Tunggaljiwa tersenyum,
mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk. Ia kagum juga menyaksikan sikap
adipati dan isterinya ini yang begitu rendah hati, sikap yang jarang ditemukan
di antara pembesar atau bangsawan.
”Harap Andika suka bangkit
dan marilah kita duduk dan bicara yang enak dan Angger adipati harap jangan
keliru menduga. Saya bukanlah seorang panembahan melainkan seorang petani biasa
saja, seorang tua yang lemah dan tidak semestinya Andika sembah. Bangkitlah, Angger
dan mari kita duduk di atas rumput yang empuk ini.” Tejolaksono dan isterinya
tidak membantah dan mereka lalu duduk bersila di depan Ki Tunggaljiwa,
sedangkan Bagus Seta duduk di samping ibunya yang bersimpuh.
”Angger adipati, ketahuilah
bahwa puteramu berjodoh dengan saya. Harap jangan mengira bahwa saya yang
memaksanya datang ke sini, melainkan dia sendiri yang dengan suka rela ikut
bersama Sardulo pethak datang ke sini kemudian secara suka rela pula menjadi
muridku. Inilah yang dinamakan jodoh, dan selama lima tahun saya harap Andika
berdua rela melepaskan putera Andika itu untuk tinggal bersamaku mempelajari
ilmu.”
”Aahhhh....!” Ayu Candra
berseru kaget lalu memeluk puteranya seolah-olah tidak merelakan puteranya
berpisah dari sampingnya.
”Eyang, seperti telah Eyang
saksikan sendiri betapa beratnya seorang ibu berpisah dari puteranya yang hanya
satu-satunya. Bagus Seta masih terlalu kecil dan biarpun saya seorang bodoh
yang tiada kepandaian, namun saya masih sanggup untuk memberi pendidikan kepada
putera saya. Kelak, kalau dia sudah besar dan menghendaki memperdalam ilmunya
kepada Eyang, tentu kami tidak keberatan. Akan tetapi sekarang....harap Eyang
suka memaafkan kalau hamba berdua tidak dapat menyetujuinya,” kata Adipati
Tejolaksono dengan suara tenang.
”Kanjeng Rama, saya senang
sekali menjadi murid Bapa guru, harap Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu tidak
melarang hamba......” kata Bagus Seta tiba-tiba sambil memandang ayah bundanya.
”Hushhh....Bagus Seta,
bagaimana Ibumu dapat berpisah darimu, Nak? Apalagi sampai lima tahun!” kata
Ayu Candra.
”Bagus Seta, tidak boleh kau
membikin susah hati Ibumu!” kata Tejolaksono.
No comments:
Post a Comment