"Memang saya tidak dapat membantu ibu, Eyang. Akan tetapi....apapun yang terjadi di Selopenangkep, saya harus menyaksikannya. Kata Kanjeng Rama, bukanlah watak seorang ksatria kalau melarikan diri daripada bahaya meninggalkan orang lain yang terancam malapetaka. Mencari keselamatan sendiri tanpa memperdulikan orang lain, apalagi Kangjeng ibu sendiri, adalah perbuatan pengecut yang hina!"
Kakek itu merangkul pundak
sambil membungkuk, lalu membelai kepala Bagus Seta.
"Wahai muridku yang
bagus dan baik! Engkau benar-benar calon seorang ksatria budiman yang selalu
mengingat wejangan baik di dalam hati. Semoga pengetahuanmu tentang itu akan
mendarah daging pada dirimu, tidak hanya akan menjadi hafalan-hafalan kosong
belaka melainkan kau nyatakan di dalam semua sepak terjangmu dalam hidup! Tidak
salah seujung rambutpun wejangan Ramandamu, Angger. Akan tetapi, sekali ini
keadaannya berbeda. Engkau bukan melarikan diri, melainkan dituntun oleh tangan
gaib Sang Hyang Wishnu sendiri sehingga engkau datang kepadaku. Sekali lagi
kukatakan, janganlah kau khawatir dan marilah kau ikut aku. Sudah tentu saja
aku tidak hendak memaksakan kehendakku, karena aku selalu bertindak sesuai
dengan kehendak Sang Hyang Widhi. Sukakah engkau menjadi muridku, Bagus
Seta?"
Anak itu menyembah lagi.
"Demi semua Dewata di
Suralaya, Eyang. Saya suka sekali menjadi murid Eyang."
"Nah, kalau begitu,
mulai saat ini juga engkau kuangkat menjadi muridku. Aku dikenal sebagai Ki
Tunggaljiwa dan ketahuilah, muridku, bahwa sesungguhnya Ramandamu itu masih
cucu muridku sendiri! Bagus Seta, biarpun engkau masih seorang kanak-kanak,
tentu Ramandamu pernah bercerita kepadamu. Tahukah engkau guru ramandamu?"
Jantung anak itu sudah berdebar tegang saking kagetnya mendengar bahwa kakek
ini masih eyang guru ayahnya! Tentu saja ia sudah banyak mendengar dari ayahnya
tentang guru-guru ayahnya maka tanpa ragu-ragu ia menjawab.
"Menurut penuturan
Kanjeng Rama, pertama-tama yang menjadi guru Kangjeng Rama adalah Kanjeng Eyang
Pujo sendiri, ayah angkat Kanjeng Rama. Kemudian Kanjeng Rama digembleng oleh
Eyang Buyut Resi Bhargowo, dan yang terakhir, guru Kanjeng Rama adalah sang
bijaksana yang sakti mandraguna Rakyana Patih Narotama."
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Benar sekali apa yang
kaudengar dari Ramandamu itu, Angger. Yang membuat Ramandamu menjadi seorang
ksatria sakti mandraguna seperti sekarang ini adalah karena beliau menjadi
murid mendiang Ki Patih Narotama. Ketahuilah, bahwa bersama mendiang Sang Prabu
Airlangga, Ki Patih Narotama adalah murid-murid terkasih dari Sang Bhagawan
Satyadharma yang bertapa di puncak Gunung Agung di Bali. Nah, adapun Bhagawan
Satyadharma itu adalah kakak seperguruanku sendiri, Angger."
Terkejutlah hati Bagus Seta.
Ia menyembah lagi dan berkata penuh takjub.
"Kalau begitu..........
Eyang adalah Eyang guru dari Kanjeng Rama dan saya....adalah cucu buyut
Eyang....”
"Ha-ha-ha, tidak perlu
terlibat dalam urutan yang tiada artinya, muridku. Engkau adalah terpilih
menjadi muridku, karena itu engkau adalah muridku dan kau boleh saja menyebutku
Bapa Guru. Nah, setelah kau menjadi muridku, kau tentu tahu, apakah kewajiban
pertama dari seorang murid kepada gurunya?"
"Kalau saya tidak
keliru, kewajiban pertama adalah mentaati semua perintah dan petunjuk sang
guru."
"Tepat sekali, Angger.
Nah, sekarang perintahku yang pertama kali, engkau harus ikut bersamaku ke
puncak dan lenyapkan, semua kegelisahan hatimu tentang Selopenangkep."
Bagus Seta masih seorang
kanak-kanak. Berat sekali rasanya mentaati perintah ini, apalagi harus
melupakan Selopenangkep. Mana mungkin? Akan tetapi sebagai seorang anak
gemblengan yang tahu akan arti kata kegagahan dan memegang teguh kata-kata yang
sudah keluar dari mulut, ia tidak berani membantah, lalu bangkit berdiri dan
mengikuti gurunya yang mulai mendaki Gunung Merapi. Sardulo pethak, si macan
putih, tampak gembira sekali melihat Bagus Seta ikut naik ke puncak. Seperti
seekor anak kambing yang nakal, ia melonjak-lonjak dan kadang-kadang lari
mendahului mendaki lereng, dan di lain saat ia sudah berlari lagi turun,
mengitari Bagus Seta, dan mendorong-dorong punggung anak itu dari belakang,
seperti mengajak berlumba lari. Karena diapun masih seorang kanak-kanak, Bagus
Seta timbul kegembiraannya dan tak lama kemudian iapun sudah lupa akan
kegelisahannya dan bermain-main di sepanjang jalan pendakian itu bersama
Sardulo pethak. Kakek tua renta itu memang benar adik seperguruan Sang Bhagawan
Satyadharma di Gunung Agung yang terkenal maha sakti itu. Berbeda dengan Sang
Bhagawan
Satyadharma yang terkenal
menjadi seorang pendeta, adik seperguruan yang jauh lebih muda ini semenjak
dahulu suka melakukan perantauan. Akan tetapi kakek ini yang memakai nama
sederhana, yaitu Ki Tunggaljiwa, tidak suka menonjolkan diri di dunia ramai dan
ke manapun juga ia pergi, ia selalu mengunjungi puncak-puncak gunung yang
sunyi, jarang bertemu dengan manusia dan hidup bertani di tempat sunyi. Karena
itulah maka jarang ada orang mengenalnya. Andaikata ada yang melihatnya
sekalipun
tentu akan mengira bahwa dia
seorang petani tua biasa saja. Padahal sesungguhnya kakek ini adalah orang yang
memiliki ilmu amat tinggi!
Mengapa kini Ki Tunggaljiwa
yang biasanya hidup menyendiri itu secara tiba-tiba mengambil murid? Bukan
sedikit anak-anak yang ia lihat bertulang baik dan berjiwa bersih yang cukup
berharga untuk diambil murid selama ia melakukan perantauannya, akan tetapi
tadinya ia memang tidak ingin mencampuri urusan dunia, maka hatinyapun menjadi
dingin dan hambar, tidak ingin mempunyai murid, bahkan ingin membawa semua
ilmunya yang dianggap tiada gunanya itu ke alam baka. Akan tetapi, sungguh di
luar perkiraannya, terjadilah hal-hal yang membuat ia terkejut dan prihatin
sekali. Ia melihat ada usaha-usaha untuk mendesak agama yang dianut oleh rakyat
terbanyak di daerah Daha (Panjalu), Jenggala dan terus timur sampai ke Bali,
yaitu agama yang memuja Sang Hyang Wishnu! Kalau yang mengancam ini hanyalah
penyembah-penyembah Bathara Kala atau Bathari Durgo yang tidak banyak
pengikutnya, ia tidak merasa khawatir. Akan tetapi musuh-musuh yang akan muncul
ini merupakan bahaya-bahaya besar karena selain didukung oleh kerajaan-kerajaan
besar, juga dikendalikan atau dijagoi oleh orang-orang yang memiliki kesaktian
tinggi sekali. Melihat ancaman yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang ini,
hati Ki Tunggaljiwa merasa risau dan ia tahu bahwa kini tibalah saat baginya
untuk berdharma bakti kepada dunia, kepada manusia dengan perbuatan-perbuatan
yang nyata. Ia sudah amat tua, dan betapapun saktinya, ia bukan sebangsa ular
yang yang ditakdirkan dapat berganti kulit. Dia seorang manusia yang tidak akan
luput daripada kematian. Maka ia pikir bahwa jalan terbaik baginya adalah
menurunkan atau mewariskan seluruh ilmunya kepada seorang murid yang terbaik.
Memang apa yang dikhawatirkan Ki Tunggaljiwa itu tidaklah berlebihan kalau
dilihat dari perkembangan keadaan negara di waktu itu. Semenjak Kerajaan
Kahuripan yang tadinya menjadi amat besar dan kuat sebagai lanjutan Kerajaan
Mataram di bawah pimpinan Sang Prabu Airlangga dipecah menjadi dua seperti
keadaan waktu itu, yaitu menjadi Kerajaan Panjalu yang kemudian terkenal dengan
sebutan Kerajaan Daha dan Kerajaan Jenggala, maka keadaan menjadi lemah. Hal
ini mungkin karena pemecahan kerajaan menjadi dua mendatangkan pandangan dan
kesan yang amat tidak menguntungkan kerajaan-kerajaan keturunan Sang Prabu
Airlangga. Raja-raja yang tadinya takluk, menganggap pemecahan itu sebagai
kelemahan dan banyaklah di antara mereka yang memberontak dan berdiri sendiri,
tidak mengakui kedaulatan kedua kerajaan itu.
Hal ini menjadi lebih
memburuk dan berbahaya ketika pada masa itu ancaman membesar dari Kerajaan
Sriwijaya yang memasukkan pengaruhnya lewat Pulau Jawa di sebelah barat.
Tadinya, ketika Sriwijaya masih menghadapi musuh utamanya yaitu Kerajaan Cola (India
selatan) yang terus menerus menyerang Sriwijaya dan setiap kali mengalahkan
pasukan-pasukan Sriwijaya, maka Sriwijaya
tidak ada kesempatan untuk
mendesak Daha (Panjalu) dan Jenggala. Akan tetapi pada waktu itu, terjadilah
perdamaian antara Sriwijaya dan Cola, juga dengan kerajaan dari India utara
dari mana Sriwijaya mendapat banyak pelajaran tentang ilmu dan agama, yaitu
Agama Buddha (Mahayana). Setelah terdapat perdamaian ini, Sriwijaya merasa
dirinya kuat kembali dan mulailah melakukan desakan ke selatan, yaitu kepada
musuh lamanya, Mataram yang kini menjadi Panjalu atau Daha dan Jenggala itu.
Seperti telah menjadi
catatan sejarah, semenjak dahulu Sriwijaya dan Mataram selalu bertentangan.
Hanya pada masa jayanya Sang Prabu Airlangga, terjadilah hubungan baik, yaitu
ketika Sang Prabu Airlangga menikah dengan puteri dari Sriwijaya yang kemudian
menjadi ibu dari sang prabu di Jenggala. Akan tetapi, setelah terjadi
pertikaian antar saudara antara kedua orang pangeran putera Sang Prabu
Airlangga, hal ini kembali merenggangkan perhubungan dengan Sriwijaya. Apalagi
setelah Sang Prabu Airlangga dan puteri dari Sriwijaya telah meninggal dunia,
hubungan dengan Sriwijaya boleh dibilang terputus sama sekali. Namun tentu saja
hal ini tidak memutuskan cita-cita Sriwijaya untuk menanam pengaruhnya di
Jawadwipa dan terutama sekali untuk keperluan Agama Buddha yang dianutnya.
Selain itu, juga Kerajaan Cola yang kini sudah berbaik dengan Sriwijaya tidak
mau ketinggalan, ikut membonceng dan mencari kesempatan menanam pengaruh dan
mencari keuntungan di pulau yang indah dan lohjinawi (subur makmur) itu.
Golongan ini mempergunakan para penganut Sang Hyang Syiwa untuk mencari
kedudukan. Dahulu, memang pernah Agama Buddha yang memegang kekuasaan, yaitu
ketika Pulau Jawa berada di bawah pimpinan Raja-raja Syailendra. Akan tetapi,
pada jaman Mataram di bawah raja yang berjuluk Rakai Pikatan, agama yang memuja
Sang Bathara Syiwa menjadi
berkembang karena raja ini
beragama Syiwa. Dan pada masa itu dua agama itu, yaitu Agama Buddha dan Agama
Syiwa yang merupakan pecahan daripada Agama Hindu lama, mengalami masa
kebesarannya. Akhirnya, setelah Kerajaan Mataram berpindah ke timur di bawah
pimpinan Sang Prabu Airlangga, kedua agama ini mulai terdesak dan karena sang
raja memuja Sang Bathara Wishnu, maka rakyatpun banyak yang mengikuti jejak
raja. Dan sekarang, menurut wawasan Ki Tunggaljiwa yang menjadi seorang
penyembah Sang Hyang Wishnu, mulailah tampak ancaman dari Kerajaan Sriwijaya
dan Kerajaan Cola. Kakek ini sama sekali tidak prihatin akan
pertentangan antara
kerajaan, akan tetapi ia merasa prihatin sekali melihat betapa Agama Wishnu
terancam kebesarannya oleh agama-agama lain.
Ki Tunggaljiwa tahu akan hal
itu karena beberapa bulan yang lalu, ketika ia melakukan perjalanan merantau ke
barat, dan hendak bertapa dan bersunyi diri di Gunung Sanggabuwana, bertemulah
ia di sana dengan seorang tokoh Agama Syiwa dan seorang pendeta Buddha. Sebagai
manusia-manusia biasa, biarpun tiga orang tokoh besar ini sudah memiliki
kepandaian tinggi, terjadilah perdebatan yang berlarut-larut sehingga
memanaskan suasana dan kedua orang tokoh Agama Syiwa dan Agama Buddha itu dalam
keadaan hati panas menyatakan bahwa agama mereka sudah siap untuk mengembalikan
kekuasaannya di Daha (Panjalu) dan Jenggala!
"Kami akan menghalau
setiap rintangan!" Demikian tokoh Agama Syiwa yang marah itu berkata.
"Dan terutama sekali
andika, sebagai tokoh pemuja Sang Bathara Wishnu, kalau merintangi akan kami
lenyapkan lebih dahulu!"
Hanya karena kesadaran dan
kesabaran hati Ki Tunggaljiwa saja maka pertemuan dan perdebatan itu tidak
berubah menjadi pertempuran. Setelah terjadi hal itu, dengan hati penuh
prihatin kembalilah sang pertapa ke timur dan menetap di puncak Merapi. Biarpun
ia sudah mengambil keputusan untuk mencari murid, namun tetap saja sang pertapa
menyerahkan pemilihannya kepada Sang Hyang Wishnu sendiri, dan setiap hari
hanya berdoa agar ,memberi petunjuk dan agar bisa mendapatkan seorang murid
yang baik. Maka terjadilah pertemuannya dengan Bagus Seta dengan perantaraan
Sardulo pethak, binatang ajaib yang jarang ada ini dan yang menjadi
kelangenannya atau binatang peliharaan yang amat dikasihinya. Pertemuan inilah
yang dijadikan tanda oleh Ki Tunggaljiwa bahwa Sang Hyang Wishnu telah memberi
petunjuk. Apalagi setelah diketahuinya bahwa anak itu adalah putera Adipati
Tejolaksono yang ia tahu adalah murid Ki Patih Narotama, hatinya menjadi girang
sekali. Inilah murid yang selama ini ia tunggu-tunggu!
Di puncak
Merapi, tak jauh dari kawah yang selalu mengeluarkan asap, uap dan api panas,
terdapat sebuah pondok yang dijadikan tempat bertapa Ki Tunggaljiwa. Pondok
tempat tinggalnya berada di sebelah bawah puncak, di tempat yang subur, di mana
tumbuh banyak pohon dan buah-buahan dan di situ terdapat pula mata air yang mengeluarkan
dua macam air dari dua sumber yang berdampingan, yaitu sebuah sumber air panas
mengandung belerang, dan yang sebuah pula sumber air dingin yang amat dingin
dan jernih. Begitu tiba di situ, pada hari-hari pertama Bagus Seta digembleng
oleh gurunya dengan ilmu bersamadhi yang amat berat. Biarpun baru berusia
sepuluh tahun, Bagus Seta tidaklah asing akan ilmu samadhi, karena sudah
diajari ayahnya.
No comments:
Post a Comment