Perawan Lembah Wilis; Bagian 038


"Memang saya tidak dapat membantu ibu, Eyang. Akan tetapi....apapun yang terjadi di Selopenangkep, saya harus menyaksikannya. Kata Kanjeng Rama, bukanlah watak seorang ksatria kalau melarikan diri daripada bahaya meninggalkan orang lain yang terancam malapetaka. Mencari keselamatan sendiri tanpa memperdulikan orang lain, apalagi Kangjeng ibu sendiri, adalah perbuatan pengecut yang hina!"

Kakek itu merangkul pundak sambil membungkuk, lalu membelai kepala Bagus Seta.
"Wahai muridku yang bagus dan baik! Engkau benar-benar calon seorang ksatria budiman yang selalu mengingat wejangan baik di dalam hati. Semoga pengetahuanmu tentang itu akan mendarah daging pada dirimu, tidak hanya akan menjadi hafalan-hafalan kosong belaka melainkan kau nyatakan di dalam semua sepak terjangmu dalam hidup! Tidak salah seujung rambutpun wejangan Ramandamu, Angger. Akan tetapi, sekali ini keadaannya berbeda. Engkau bukan melarikan diri, melainkan dituntun oleh tangan gaib Sang Hyang Wishnu sendiri sehingga engkau datang kepadaku. Sekali lagi kukatakan, janganlah kau khawatir dan marilah kau ikut aku. Sudah tentu saja aku tidak hendak memaksakan kehendakku, karena aku selalu bertindak sesuai dengan kehendak Sang Hyang Widhi. Sukakah engkau menjadi muridku, Bagus Seta?"
Anak itu menyembah lagi.
"Demi semua Dewata di Suralaya, Eyang. Saya suka sekali menjadi murid Eyang."
"Nah, kalau begitu, mulai saat ini juga engkau kuangkat menjadi muridku. Aku dikenal sebagai Ki Tunggaljiwa dan ketahuilah, muridku, bahwa sesungguhnya Ramandamu itu masih cucu muridku sendiri! Bagus Seta, biarpun engkau masih seorang kanak-kanak, tentu Ramandamu pernah bercerita kepadamu. Tahukah engkau guru ramandamu?" Jantung anak itu sudah berdebar tegang saking kagetnya mendengar bahwa kakek ini masih eyang guru ayahnya! Tentu saja ia sudah banyak mendengar dari ayahnya tentang guru-guru ayahnya maka tanpa ragu-ragu ia menjawab.
"Menurut penuturan Kanjeng Rama, pertama-tama yang menjadi guru Kangjeng Rama adalah Kanjeng Eyang Pujo sendiri, ayah angkat Kanjeng Rama. Kemudian Kanjeng Rama digembleng oleh Eyang Buyut Resi Bhargowo, dan yang terakhir, guru Kanjeng Rama adalah sang bijaksana yang sakti mandraguna Rakyana Patih Narotama."
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Benar sekali apa yang kaudengar dari Ramandamu itu, Angger. Yang membuat Ramandamu menjadi seorang ksatria sakti mandraguna seperti sekarang ini adalah karena beliau menjadi murid mendiang Ki Patih Narotama. Ketahuilah, bahwa bersama mendiang Sang Prabu Airlangga, Ki Patih Narotama adalah murid-murid terkasih dari Sang Bhagawan Satyadharma yang bertapa di puncak Gunung Agung di Bali. Nah, adapun Bhagawan Satyadharma itu adalah kakak seperguruanku sendiri, Angger."
Terkejutlah hati Bagus Seta. Ia menyembah lagi dan berkata penuh takjub.
"Kalau begitu.......... Eyang adalah Eyang guru dari Kanjeng Rama dan saya....adalah cucu buyut Eyang....”
"Ha-ha-ha, tidak perlu terlibat dalam urutan yang tiada artinya, muridku. Engkau adalah terpilih menjadi muridku, karena itu engkau adalah muridku dan kau boleh saja menyebutku Bapa Guru. Nah, setelah kau menjadi muridku, kau tentu tahu, apakah kewajiban pertama dari seorang murid kepada gurunya?"
"Kalau saya tidak keliru, kewajiban pertama adalah mentaati semua perintah dan petunjuk sang guru."
"Tepat sekali, Angger. Nah, sekarang perintahku yang pertama kali, engkau harus ikut bersamaku ke puncak dan lenyapkan, semua kegelisahan hatimu tentang Selopenangkep."

Bagus Seta masih seorang kanak-kanak. Berat sekali rasanya mentaati perintah ini, apalagi harus melupakan Selopenangkep. Mana mungkin? Akan tetapi sebagai seorang anak gemblengan yang tahu akan arti kata kegagahan dan memegang teguh kata-kata yang sudah keluar dari mulut, ia tidak berani membantah, lalu bangkit berdiri dan mengikuti gurunya yang mulai mendaki Gunung Merapi. Sardulo pethak, si macan putih, tampak gembira sekali melihat Bagus Seta ikut naik ke puncak. Seperti seekor anak kambing yang nakal, ia melonjak-lonjak dan kadang-kadang lari mendahului mendaki lereng, dan di lain saat ia sudah berlari lagi turun, mengitari Bagus Seta, dan mendorong-dorong punggung anak itu dari belakang, seperti mengajak berlumba lari. Karena diapun masih seorang kanak-kanak, Bagus Seta timbul kegembiraannya dan tak lama kemudian iapun sudah lupa akan kegelisahannya dan bermain-main di sepanjang jalan pendakian itu bersama Sardulo pethak. Kakek tua renta itu memang benar adik seperguruan Sang Bhagawan Satyadharma di Gunung Agung yang terkenal maha sakti itu. Berbeda dengan Sang Bhagawan
Satyadharma yang terkenal menjadi seorang pendeta, adik seperguruan yang jauh lebih muda ini semenjak dahulu suka melakukan perantauan. Akan tetapi kakek ini yang memakai nama sederhana, yaitu Ki Tunggaljiwa, tidak suka menonjolkan diri di dunia ramai dan ke manapun juga ia pergi, ia selalu mengunjungi puncak-puncak gunung yang sunyi, jarang bertemu dengan manusia dan hidup bertani di tempat sunyi. Karena itulah maka jarang ada orang mengenalnya. Andaikata ada yang melihatnya sekalipun
tentu akan mengira bahwa dia seorang petani tua biasa saja. Padahal sesungguhnya kakek ini adalah orang yang memiliki ilmu amat tinggi!
Mengapa kini Ki Tunggaljiwa yang biasanya hidup menyendiri itu secara tiba-tiba mengambil murid? Bukan sedikit anak-anak yang ia lihat bertulang baik dan berjiwa bersih yang cukup berharga untuk diambil murid selama ia melakukan perantauannya, akan tetapi tadinya ia memang tidak ingin mencampuri urusan dunia, maka hatinyapun menjadi dingin dan hambar, tidak ingin mempunyai murid, bahkan ingin membawa semua ilmunya yang dianggap tiada gunanya itu ke alam baka. Akan tetapi, sungguh di luar perkiraannya, terjadilah hal-hal yang membuat ia terkejut dan prihatin sekali. Ia melihat ada usaha-usaha untuk mendesak agama yang dianut oleh rakyat terbanyak di daerah Daha (Panjalu), Jenggala dan terus timur sampai ke Bali, yaitu agama yang memuja Sang Hyang Wishnu! Kalau yang mengancam ini hanyalah penyembah-penyembah Bathara Kala atau Bathari Durgo yang tidak banyak pengikutnya, ia tidak merasa khawatir. Akan tetapi musuh-musuh yang akan muncul ini merupakan bahaya-bahaya besar karena selain didukung oleh kerajaan-kerajaan besar, juga dikendalikan atau dijagoi oleh orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi sekali. Melihat ancaman yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang ini, hati Ki Tunggaljiwa merasa risau dan ia tahu bahwa kini tibalah saat baginya untuk berdharma bakti kepada dunia, kepada manusia dengan perbuatan-perbuatan yang nyata. Ia sudah amat tua, dan betapapun saktinya, ia bukan sebangsa ular yang yang ditakdirkan dapat berganti kulit. Dia seorang manusia yang tidak akan luput daripada kematian. Maka ia pikir bahwa jalan terbaik baginya adalah menurunkan atau mewariskan seluruh ilmunya kepada seorang murid yang terbaik. Memang apa yang dikhawatirkan Ki Tunggaljiwa itu tidaklah berlebihan kalau dilihat dari perkembangan keadaan negara di waktu itu. Semenjak Kerajaan Kahuripan yang tadinya menjadi amat besar dan kuat sebagai lanjutan Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sang Prabu Airlangga dipecah menjadi dua seperti keadaan waktu itu, yaitu menjadi Kerajaan Panjalu yang kemudian terkenal dengan sebutan Kerajaan Daha dan Kerajaan Jenggala, maka keadaan menjadi lemah. Hal ini mungkin karena pemecahan kerajaan menjadi dua mendatangkan pandangan dan kesan yang amat tidak menguntungkan kerajaan-kerajaan keturunan Sang Prabu Airlangga. Raja-raja yang tadinya takluk, menganggap pemecahan itu sebagai kelemahan dan banyaklah di antara mereka yang memberontak dan berdiri sendiri, tidak mengakui kedaulatan kedua kerajaan itu.

Hal ini menjadi lebih memburuk dan berbahaya ketika pada masa itu ancaman membesar dari Kerajaan Sriwijaya yang memasukkan pengaruhnya lewat Pulau Jawa di sebelah barat. Tadinya, ketika Sriwijaya masih menghadapi musuh utamanya yaitu Kerajaan Cola (India selatan) yang terus menerus menyerang Sriwijaya dan setiap kali mengalahkan pasukan-pasukan Sriwijaya, maka Sriwijaya
tidak ada kesempatan untuk mendesak Daha (Panjalu) dan Jenggala. Akan tetapi pada waktu itu, terjadilah perdamaian antara Sriwijaya dan Cola, juga dengan kerajaan dari India utara dari mana Sriwijaya mendapat banyak pelajaran tentang ilmu dan agama, yaitu Agama Buddha (Mahayana). Setelah terdapat perdamaian ini, Sriwijaya merasa dirinya kuat kembali dan mulailah melakukan desakan ke selatan, yaitu kepada musuh lamanya, Mataram yang kini menjadi Panjalu atau Daha dan Jenggala itu.
Seperti telah menjadi catatan sejarah, semenjak dahulu Sriwijaya dan Mataram selalu bertentangan. Hanya pada masa jayanya Sang Prabu Airlangga, terjadilah hubungan baik, yaitu ketika Sang Prabu Airlangga menikah dengan puteri dari Sriwijaya yang kemudian menjadi ibu dari sang prabu di Jenggala. Akan tetapi, setelah terjadi pertikaian antar saudara antara kedua orang pangeran putera Sang Prabu Airlangga, hal ini kembali merenggangkan perhubungan dengan Sriwijaya. Apalagi setelah Sang Prabu Airlangga dan puteri dari Sriwijaya telah meninggal dunia, hubungan dengan Sriwijaya boleh dibilang terputus sama sekali. Namun tentu saja hal ini tidak memutuskan cita-cita Sriwijaya untuk menanam pengaruhnya di Jawadwipa dan terutama sekali untuk keperluan Agama Buddha yang dianutnya. Selain itu, juga Kerajaan Cola yang kini sudah berbaik dengan Sriwijaya tidak mau ketinggalan, ikut membonceng dan mencari kesempatan menanam pengaruh dan mencari keuntungan di pulau yang indah dan lohjinawi (subur makmur) itu. Golongan ini mempergunakan para penganut Sang Hyang Syiwa untuk mencari kedudukan. Dahulu, memang pernah Agama Buddha yang memegang kekuasaan, yaitu ketika Pulau Jawa berada di bawah pimpinan Raja-raja Syailendra. Akan tetapi, pada jaman Mataram di bawah raja yang berjuluk Rakai Pikatan, agama yang memuja Sang Bathara Syiwa menjadi
berkembang karena raja ini beragama Syiwa. Dan pada masa itu dua agama itu, yaitu Agama Buddha dan Agama Syiwa yang merupakan pecahan daripada Agama Hindu lama, mengalami masa kebesarannya. Akhirnya, setelah Kerajaan Mataram berpindah ke timur di bawah pimpinan Sang Prabu Airlangga, kedua agama ini mulai terdesak dan karena sang raja memuja Sang Bathara Wishnu, maka rakyatpun banyak yang mengikuti jejak raja. Dan sekarang, menurut wawasan Ki Tunggaljiwa yang menjadi seorang penyembah Sang Hyang Wishnu, mulailah tampak ancaman dari Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola. Kakek ini sama sekali tidak prihatin akan
pertentangan antara kerajaan, akan tetapi ia merasa prihatin sekali melihat betapa Agama Wishnu terancam kebesarannya oleh agama-agama lain.
Ki Tunggaljiwa tahu akan hal itu karena beberapa bulan yang lalu, ketika ia melakukan perjalanan merantau ke barat, dan hendak bertapa dan bersunyi diri di Gunung Sanggabuwana, bertemulah ia di sana dengan seorang tokoh Agama Syiwa dan seorang pendeta Buddha. Sebagai manusia-manusia biasa, biarpun tiga orang tokoh besar ini sudah memiliki kepandaian tinggi, terjadilah perdebatan yang berlarut-larut sehingga memanaskan suasana dan kedua orang tokoh Agama Syiwa dan Agama Buddha itu dalam keadaan hati panas menyatakan bahwa agama mereka sudah siap untuk mengembalikan kekuasaannya di Daha (Panjalu) dan Jenggala!
"Kami akan menghalau setiap rintangan!" Demikian tokoh Agama Syiwa yang marah itu berkata.
"Dan terutama sekali andika, sebagai tokoh pemuja Sang Bathara Wishnu, kalau merintangi akan kami lenyapkan lebih dahulu!"
Hanya karena kesadaran dan kesabaran hati Ki Tunggaljiwa saja maka pertemuan dan perdebatan itu tidak berubah menjadi pertempuran. Setelah terjadi hal itu, dengan hati penuh prihatin kembalilah sang pertapa ke timur dan menetap di puncak Merapi. Biarpun ia sudah mengambil keputusan untuk mencari murid, namun tetap saja sang pertapa menyerahkan pemilihannya kepada Sang Hyang Wishnu sendiri, dan setiap hari hanya berdoa agar ,memberi petunjuk dan agar bisa mendapatkan seorang murid yang baik. Maka terjadilah pertemuannya dengan Bagus Seta dengan perantaraan Sardulo pethak, binatang ajaib yang jarang ada ini dan yang menjadi kelangenannya atau binatang peliharaan yang amat dikasihinya. Pertemuan inilah yang dijadikan tanda oleh Ki Tunggaljiwa bahwa Sang Hyang Wishnu telah memberi petunjuk. Apalagi setelah diketahuinya bahwa anak itu adalah putera Adipati Tejolaksono yang ia tahu adalah murid Ki Patih Narotama, hatinya menjadi girang sekali. Inilah murid yang selama ini ia tunggu-tunggu!

Di puncak Merapi, tak jauh dari kawah yang selalu mengeluarkan asap, uap dan api panas, terdapat sebuah pondok yang dijadikan tempat bertapa Ki Tunggaljiwa. Pondok tempat tinggalnya berada di sebelah bawah puncak, di tempat yang subur, di mana tumbuh banyak pohon dan buah-buahan dan di situ terdapat pula mata air yang mengeluarkan dua macam air dari dua sumber yang berdampingan, yaitu sebuah sumber air panas mengandung belerang, dan yang sebuah pula sumber air dingin yang amat dingin dan jernih. Begitu tiba di situ, pada hari-hari pertama Bagus Seta digembleng oleh gurunya dengan ilmu bersamadhi yang amat berat. Biarpun baru berusia sepuluh tahun, Bagus Seta tidaklah asing akan ilmu samadhi, karena sudah diajari ayahnya.

<<< Bagian 037                                                                                    Bagian 039 >>>

No comments:

Post a Comment