Lampu-lampu penerangan yang tergantung di sudut-sudut taman menambah cahaya bulan dan di dalam taman yang remang-remang itu tampaklah banyak orang berkelebat dan saling bertanding. Ia mengenal belasan orang pengawal istana ayahnya yang dengan gagah berani melawan serbuan para perampok yang berjumlah besar, dua kali lebih besar daripada jumlah para pengawal.
Melihat daun jendela terbuka
dan seorang anak laki-laki tampak di jendela, dua orang perampok yang bertubuh
tinggi besar segera melompat maju dan lari menghampiri Bagus Seta. Anak ini
tidak takut, bahkan ia segera melompat keluar dari jendela dengan golok
terhunus di tangan kanan dan keris di tangan kiri. Melihat ini, dua orang
perampok itu tertawa terbahak-bahak.
"Ha-ha-ha, anak kecil
berani bukan main!"
"Wah, pakaiannya indah.
Tentu bukan anak sembarangan. Di dalam kamarnya tentu banyak terdapat barang
berharga!" kata perampok ke dua.
"Keparat jahanam,
kalian perampok-perampok jahat! Jangan memasuki kamarku!" bentak Bagus
Seta sambil meloncat ke depan jendela menghadang ketika ia melihat betapa dua
orang perampok itu hendak memasuki kamarnya.
Dua orang perampok itu
saling pandang lalu tertawa bergelak. Biarpun mereka ini orang-orang kasar dan
perampok liar, namun tadinya mereka tidak berniat memusuhi seorang kanak-kanak.
Akan tetapi melihat sikap Bagus Seta, mereka menjadi marah juga dan sambil
tertawa mereka menerjang maju, perampok pertama mengayun goloknya dengan kuat,
hendak memenggal leher anak itu
sekali mengayun golok.
Ayunan goloknya ini cepat dan kuat sekali dan dua orang perampok itu sudah
memastikan bahwa si anak kecil tentu akan roboh binasa. Mereka sudah mengilar
ketika mengerling ke arah dalam kamar dari jendela. Memang kamar yang indah dan
mereka ingin sekali menjadi orang-orang pertama , memasukinya dan memilih
isinya yang berharga.
"Aihhh !I"
Perampok yang mengayun golok berseru kaget karena goloknya membacok angin
kosong ketika Bagus Seta dengan cepat dan tangkas mengelak ke kiri, dan lebih
besar lagi rasa kaget perampok itu ketika tiba-tiba pahanya sakit sekali dan
robek berdarah, kena hantam golok kecil di tangan Bagus Seta! Untung baginya
bahwa anak berusia sepuluh tahun itu tenaganya belum matang, kalau lebih kuat
sedikit saja bacokan itu, tentu pahanya sudah menjadi buntung! Perampok yang
terluka pahanya itu menjadi marah sekali, akan tetapi pahanya terasa amat perih
dan nyeri sehingga ia tidak dapat menerjang maju. Hanya temannya yang kini
dapat menduga bahwa anak kecil itu bukan bocah sembarangan, sudah meloncat maju
dan ayun goloknya melakukan serangan bertubi-tubi. Namun, makin besar keheranan
dua orang perampok itu karena betapapun cepatnya si perampok membacok, selalu
bacokannya mengenai tempat kosong. Anak itu gesitnya melebihi seekor kera!
Pada saat itu, dari tempat
pertempuran datang pula dua orang perampok. Memang jumlah perampok lebih banyak
sehingga para pengawal terdesak dan karena para perampok itu sudah ingin sekali
menyerbu istana untuk merampok harta benda dan memperkosa puteri-puteri kini
dua orang perampok itu yang melihat dua orang teman mereka mengeroyok seorang
anak kecil di dekat jendela terbuka, cepat menghampiri. Mereka terheran-heran
dan kagum melihat betapa seorang anak kecil dengan golok di tangan kanan dan
keris di tangan kiri dapat melayani terjangan seorang kawan mereka begitu
gesitnya!
"Aaahh, anak ini tentu
putera adipati! Puteranya hanya seorang, siapa lagi kalau bukan anak setan
ini?" Demikian kata seorang di antara mereka.
Bagus Seta yang mendengar
ucapan ini lalu meloncat mundur sambil menghardik,
"Sudah tahu aku putera
Adipati Tejolaksono yang sakti mandraguna, kalian masih berani datang?"
Sejenak empat orang perampok
itu tercengang akan tetapi mereka lalu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Bagus
sekali! Dia ini lebih berharga daripada segala benda rampasan. Gagak Lembah
Serayu tentu akan memberi
hadiah besar kepada kita
kalau kita menyerahkan anak ini sebagai tawanan!"
Mendengar ucapan ini, tiga
orang perampok yang tidak terluka itu lalu menubruk maju seakan berlumba hendak
berdulu-duluan menangkap Bagus Seta. Anak ini cepat melompat ke kanan
menghindarkan diri sambil menyabet dengan goloknya.
"Tranggggg...!!"
Dua buah golok perampok menangkisnya dengan pengerahan tenaga keras. Tentu saja
tenaga Bagus Seta tidak dapat melawan tenaga dua orang perampok kasar itu.
Golok kecil di tangannya terlempar jauh! Perampok-perampok itu tertawa dan
menubruk lagi. Akan tetapi biarpun goloknya sudah hilang, Bagus Seta tidak
menjadi gugup atau takut. Melihat dirinya ditubruk tiga orang, ia cepat
menggerakkan keris kecilnya, menyambut tangan-tangan mereka dengan tusukan
keris ke depan!
"Eh-eh, bocah ini
seperti anak harimau saja!" kata seorang perampok sambil menarik kembali
tangannya yang nyaris tertusuk keris. Akan tetapi kakinya melayang dari kiri
dan tepat mengenai pinggang Bagus Seta yang jatuh terguling-guling dan kerisnya
terlepas dari pegangan. Namun, anak itu meloncat bangun lagi, sudah siap
menghadapi para perampok dengan kedua tangan kosong! Melihat sikap ini, mau,
tak mau empat orang perampok itu memandang kagum dan terheran-heran. Belum
pernah selama hidup mereka yang penuh kekejaman itu mereka bertemu dengan
seorang anak kecil yang memiliki keberanian seperti ini! Seekor harimau
sekalipun agaknya tentu akan tunggang-langgang kalau sudah dihajar dan mendapat
kenyataan bahwa pihak lawan jauh lebih kuat. Anak ini sudah kehilangan golok
dan keris, sudah pula terjengkang roboh, akan tetapi masih bangkit lagi dan
sedikitpun tidak membayangkan rasa takut, apalagi menyerah! Rasa penasaran
membuat tiga orang perampok yang tak terluka itu menjadi marah. Masa tiga orang
gagah seperti mereka tidak mampu merobohkan seorang anak kecil? Alangkah akan
malu hati mereka kalau hal itu diketahui kawan-kawan mereka. Tentu mereka akan
menjadi bahan ejekan. Karena marah, berubahlah keinginan hati mereka yang tadi
hendak menawan Bagus Seta, menjadi nafsu untuk membunuhnya! Dengan golok di
tangan terangkat tinggi-tinggi, tiga orang itu kini melangkah maju, slap untuk
menghancurkan tubuh yang kecil itu dengan golok mereka yang tajam.
Akan tetapi tiba-tiba
terdengar suara auman yang menggetarkan taman. Bumi yang terpijak serasa
bergoyang. Tiga orang perampok itu tiba-tiba terbelalak dan berdiri seperti
berubah menjadi arca. Entah dari mana datangnya, tak jauh dari situ berdiri
seekor harimau yang besarnya seperti lembu! Seekor harimau berbulu putih yang
besar dan menyeramkan sekali! Akan tetapi kalau para perampok dan juga sebagian
pengawal yang bertanding di dekat tempat itu terkejut dan gentar, sebaliknya
Bagus Seta menjadi girang sekali. Ia menoleh dan melihat harimau putih itu,
segera mengenalnya sebagai harimau yang pernah ia jumpai di dalam hutan bersama
ayahnya, harimau yang telah menggondolnya. Karena anak inipun maklum bahwa ia
tidak akan menang menghadapi pengeroyokan para perampok, maka ia lalu lari
menghampiri binatang itu dan memeluk lehernya. Harimau itu merendahkan tubuhnya
sambil menggereng dan di lain saat Bagus Seta telah menunggang di atas
punggungnya!
"Paman sardulo, amuk
para perampok itu! Basmi mereka, usir mereka....” Bagus Seta menepuk-nepuk
punggung harimau itu sambil berbisik di dekat telinganya. Anak ini memang
pandai menunggang kuda, akan tetapi menunggang kuda jauh sekali bedanya dengan
menunggang harimau yang tanpa kendali tanpa sela itu. Maka ia duduk sambil
menelungkup dan merangkul leher menengkeram
bulu yang panjang putih pada
leher harimau.
Harimau itu kembali mengaum
dan tubuhnya menerjang maju. Tiga orang perampok yang tadi hendak membunuh
Bagus Seta, berbareng mengangkat golok untuk menyerang dalam pembelaan diri
mereka, akan tetapi hanya satu kali sang harimau putih mengangkat kaki depan
sebelah kanan, menampar atau mencakar dan tiga batang golok mereka terlepas dan
pegangan, bahkan lengan seorang di antara mereka kena cakar sampai robek-robek
dagingnya! Yang dua orang membalikkan tubuh dan lari, diikuti dua orang
temannya yang sudah terluka, yaitu yang tadi terluka golok pahanya dan yang
terluka lengannya. Harimau itu dengan Bagus Seta di punggungnya, lalu berlari
perlahan memasuki taman. Gegerlah mereka yang sedang berperang di dalam taman.
Para perampok menjadi ketakutan dan otomatis bubar meninggalkan lawan. Beberapa
orang perampok yang mencoba untuk melawan harimau putih, roboh oleh tamparan
kaki depan harimau itu yang berbeda dengan harimau-harimau biasa, bergerak
seperti seorang manusia, bukan menubruk atau menggigit seperti harimau lain.
Akan tetapi gerakan kaki depannya amat kuat sehingga senjata-senjata tajam
selalu terlempar kalau bertemu kakinya. Sebentar saja, para perampok yang
menyerbu kadipaten menjadi geger dan bubar meninggalkan kadipaten.
Bermacam-macam cerita
mereka. Bahkan yang tidak sempat bertemu dengan harimau putih itu dapat
bercerita bahwa "penjaga kadipaten" harimau yang sebesar gajah telah mengamuk!
Ada yang bilang bahwa itu adalah sang adipati sendiri yang berubah menjadi
harimau putih. Bahkan para pengawal yang sempat melihat harimau di dalam taman,
menjadi panik. Akan tetapi ada pula di antara mereka yang berusaha merampas
kembali Bagus Seta. Akan tetapi mereka inipun roboh oleh tamparan sang harimau
yang kemudian melarikan
Bagus Seta dari dalam taman sambil berlompatan cepat sekali! Bagus Seta merasa
ngeri juga dan terpaksa ia meramkan mata sambil memeluk leher harimau lebih
kuat lagi. Angin berdesir di pinggir telinganya dan tubuhnya kadang-kadang
terkena lecutan rumput alang-alang di kanan kiri.
"Paman sardulo.... ke
mana kau membawaku pergi? Kembalilah, kita harus membantu ibuku...harus
membasmi dan mengusir para perampok jahat .....!" Bekali-kali Bagus Seta
berbisik di dekat telinga si harimau, akan tetapi harimau putih itu tidak
memperdulikannya lagi dan berlari terus keluar masuk hutan dan naik turun
gunung.
Malam telah berganti pagi
ketika harimau putih tiba di lereng sebuah gunung, lalu mengaum dan berhenti.
Bagus Seta yang merasa lelah sekali lalu melorot turun dari atas punggung
harimau, memandang kepada kakek tua renta berpakaian putih yang tahu-tahu telah
berdiri di depan harimau. Kakek itu berdiri sambil memegang tongkat bambu gading,
tangan kiri mengelus jenggot panjang yang putih itu dan mulutnya tersenyum.
"Terpujilah Sang Hyang
Wishnu ………!” Kakek tua renta itu berkata halus.
"Suratan takdir tak
dapat dihapus oleh siapapun juga di dunia ini! Kulup, Bagus Seta, kedatanganmu
ini meyakinkan hatiku bahwa engkau memang berjodoh dengan aku. Engkaulah yang
kelak akan mempertahankan kebesaran Sang Hyang Wishnu, angger....!!!”
Bagus Seta memang seorang
anak kecil yang baru berusia sepuluh tahun. Namun ia telah banyak mempelajari
tata susila dan tahu menghormat dan menghargai seorang tua yang suci dan
bijaksana. Biarpun masih kecil, ia maklum bahwa kakek di hadapannya ini
bukanlah seorang manusia biasa dan bahkan menjadi majikan dari sang harimau
putih yang hebat. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut
dan menyembah.
“Jadi Eyangkah yang menyuruh
paman sardula putih datang menolong saya daripada pengeroyokan perampok? Saya
mengucap syukur dan menghaturkan banyak terima kasih, Eyang."
Kakek itu tertawa, suara
ketawanya halus dan sepasang matanya yang bersinar amat tajam itu berseri-seri
gembira.
"Sardulo pethak, kau
dengar, alangkah pandainya sang adipati di Selopenangkep mendidik puteranya!
Heh-heh-heh, angger Bagus Seta. Tidak ada yang menolong atau ditolong. Sardulo
pethak kusuruh datang ke Selopenangkep hanya untuk mempersiapkan diri
kalau-kalau memang engkau berjodoh denganku, Angger. Kalau bukan karena
kehendakmu sendiri engkau ikut dengannya, dia tidak akan memaksamu. Bukankah
engkau sendiri yang ikut bersamanya, kulup?"
"Tidak salah, Eyang.
Memang saya menunggangi punggungnya. Akan tetapi....saya tidak mengerti mengapa
dia membawa saya ke sini menghadap Eyang."
"Kekuasaan berada di
tangan Sang Hyang Widhi, Angger. Bahkan semua dewata dan manusia hanya
mempunyai tugas kewajiban, namun keputusan terakhir sepenuhnya berada di tangan
Yang Maha Kuasa. Akupun hanya berusaha, angger, dan agaknya usahaku mendapat
berkah Sang Hyang Wishnu yang memelihara dan menjaga semua kebaikan. Engkau
berjodoh untuk menjadi muridku, kulup, dan kepadamulah aku harus menurunkan
semua pengertian yang kumiliki."
"Banyak terima kasih
saya haturkan kepada Eyang. Menurut wejangan Ayah saya, amatlah bahagia menjadi
murid seorang yang maha sakti seperti Eyang. Akan tetapi, saya harus kembali ke
Selopenangkep, Eyang. Selopenangkep diserbu penjahat, Kanjeng Ibu tentu
terancam bahaya. Bagaimana saya dapat mendiamkannya saja dan berada di sini
dalam aman tenteram sedangkan Kanjeng Ibu terancam bahaya?"
"Ha-ha-ha, bagus
sekali, sekecil engkau sudah mengenal dharma bakti kepada orang tua! Akan
tetapi engkau lupa, Bagus Seta, bahwa kehadiranmu di sana sama sekali tidak
akan membantu ibumu, melainkan menambah beban ibumu karena harus melindungimu.
Jangan khawatir, Angger. Engkau ikutlah bersamaku dan kelak pasti engkau akan
bertemu kembali dengan orang tuamu."
No comments:
Post a Comment