Perawan Lembah Wilis; Bagian 037


Lampu-lampu penerangan yang tergantung di sudut-sudut taman menambah cahaya bulan dan di dalam taman yang remang-remang itu tampaklah banyak orang berkelebat dan saling bertanding. Ia mengenal belasan orang pengawal istana ayahnya yang dengan gagah berani melawan serbuan para perampok yang berjumlah besar, dua kali lebih besar daripada jumlah para pengawal.

Melihat daun jendela terbuka dan seorang anak laki-laki tampak di jendela, dua orang perampok yang bertubuh tinggi besar segera melompat maju dan lari menghampiri Bagus Seta. Anak ini tidak takut, bahkan ia segera melompat keluar dari jendela dengan golok terhunus di tangan kanan dan keris di tangan kiri. Melihat ini, dua orang perampok itu tertawa terbahak-bahak.
"Ha-ha-ha, anak kecil berani bukan main!"
"Wah, pakaiannya indah. Tentu bukan anak sembarangan. Di dalam kamarnya tentu banyak terdapat barang berharga!" kata perampok ke dua.
"Keparat jahanam, kalian perampok-perampok jahat! Jangan memasuki kamarku!" bentak Bagus Seta sambil meloncat ke depan jendela menghadang ketika ia melihat betapa dua orang perampok itu hendak memasuki kamarnya.
Dua orang perampok itu saling pandang lalu tertawa bergelak. Biarpun mereka ini orang-orang kasar dan perampok liar, namun tadinya mereka tidak berniat memusuhi seorang kanak-kanak. Akan tetapi melihat sikap Bagus Seta, mereka menjadi marah juga dan sambil tertawa mereka menerjang maju, perampok pertama mengayun goloknya dengan kuat, hendak memenggal leher anak itu
sekali mengayun golok. Ayunan goloknya ini cepat dan kuat sekali dan dua orang perampok itu sudah memastikan bahwa si anak kecil tentu akan roboh binasa. Mereka sudah mengilar ketika mengerling ke arah dalam kamar dari jendela. Memang kamar yang indah dan mereka ingin sekali menjadi orang-orang pertama , memasukinya dan memilih isinya yang berharga.
"Aihhh !I" Perampok yang mengayun golok berseru kaget karena goloknya membacok angin kosong ketika Bagus Seta dengan cepat dan tangkas mengelak ke kiri, dan lebih besar lagi rasa kaget perampok itu ketika tiba-tiba pahanya sakit sekali dan robek berdarah, kena hantam golok kecil di tangan Bagus Seta! Untung baginya bahwa anak berusia sepuluh tahun itu tenaganya belum matang, kalau lebih kuat sedikit saja bacokan itu, tentu pahanya sudah menjadi buntung! Perampok yang terluka pahanya itu menjadi marah sekali, akan tetapi pahanya terasa amat perih dan nyeri sehingga ia tidak dapat menerjang maju. Hanya temannya yang kini dapat menduga bahwa anak kecil itu bukan bocah sembarangan, sudah meloncat maju dan ayun goloknya melakukan serangan bertubi-tubi. Namun, makin besar keheranan dua orang perampok itu karena betapapun cepatnya si perampok membacok, selalu bacokannya mengenai tempat kosong. Anak itu gesitnya melebihi seekor kera!
Pada saat itu, dari tempat pertempuran datang pula dua orang perampok. Memang jumlah perampok lebih banyak sehingga para pengawal terdesak dan karena para perampok itu sudah ingin sekali menyerbu istana untuk merampok harta benda dan memperkosa puteri-puteri kini dua orang perampok itu yang melihat dua orang teman mereka mengeroyok seorang anak kecil di dekat jendela terbuka, cepat menghampiri. Mereka terheran-heran dan kagum melihat betapa seorang anak kecil dengan golok di tangan kanan dan keris di tangan kiri dapat melayani terjangan seorang kawan mereka begitu gesitnya!
"Aaahh, anak ini tentu putera adipati! Puteranya hanya seorang, siapa lagi kalau bukan anak setan ini?" Demikian kata seorang di antara mereka.
Bagus Seta yang mendengar ucapan ini lalu meloncat mundur sambil menghardik,
"Sudah tahu aku putera Adipati Tejolaksono yang sakti mandraguna, kalian masih berani datang?"
Sejenak empat orang perampok itu tercengang akan tetapi mereka lalu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Bagus sekali! Dia ini lebih berharga daripada segala benda rampasan. Gagak Lembah Serayu tentu akan memberi
hadiah besar kepada kita kalau kita menyerahkan anak ini sebagai tawanan!"

Mendengar ucapan ini, tiga orang perampok yang tidak terluka itu lalu menubruk maju seakan berlumba hendak berdulu-duluan menangkap Bagus Seta. Anak ini cepat melompat ke kanan menghindarkan diri sambil menyabet dengan goloknya.
"Tranggggg...!!" Dua buah golok perampok menangkisnya dengan pengerahan tenaga keras. Tentu saja tenaga Bagus Seta tidak dapat melawan tenaga dua orang perampok kasar itu. Golok kecil di tangannya terlempar jauh! Perampok-perampok itu tertawa dan menubruk lagi. Akan tetapi biarpun goloknya sudah hilang, Bagus Seta tidak menjadi gugup atau takut. Melihat dirinya ditubruk tiga orang, ia cepat menggerakkan keris kecilnya, menyambut tangan-tangan mereka dengan tusukan keris ke depan!
"Eh-eh, bocah ini seperti anak harimau saja!" kata seorang perampok sambil menarik kembali tangannya yang nyaris tertusuk keris. Akan tetapi kakinya melayang dari kiri dan tepat mengenai pinggang Bagus Seta yang jatuh terguling-guling dan kerisnya terlepas dari pegangan. Namun, anak itu meloncat bangun lagi, sudah siap menghadapi para perampok dengan kedua tangan kosong! Melihat sikap ini, mau, tak mau empat orang perampok itu memandang kagum dan terheran-heran. Belum pernah selama hidup mereka yang penuh kekejaman itu mereka bertemu dengan seorang anak kecil yang memiliki keberanian seperti ini! Seekor harimau sekalipun agaknya tentu akan tunggang-langgang kalau sudah dihajar dan mendapat kenyataan bahwa pihak lawan jauh lebih kuat. Anak ini sudah kehilangan golok dan keris, sudah pula terjengkang roboh, akan tetapi masih bangkit lagi dan sedikitpun tidak membayangkan rasa takut, apalagi menyerah! Rasa penasaran membuat tiga orang perampok yang tak terluka itu menjadi marah. Masa tiga orang gagah seperti mereka tidak mampu merobohkan seorang anak kecil? Alangkah akan malu hati mereka kalau hal itu diketahui kawan-kawan mereka. Tentu mereka akan menjadi bahan ejekan. Karena marah, berubahlah keinginan hati mereka yang tadi hendak menawan Bagus Seta, menjadi nafsu untuk membunuhnya! Dengan golok di tangan terangkat tinggi-tinggi, tiga orang itu kini melangkah maju, slap untuk menghancurkan tubuh yang kecil itu dengan golok mereka yang tajam.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara auman yang menggetarkan taman. Bumi yang terpijak serasa bergoyang. Tiga orang perampok itu tiba-tiba terbelalak dan berdiri seperti berubah menjadi arca. Entah dari mana datangnya, tak jauh dari situ berdiri seekor harimau yang besarnya seperti lembu! Seekor harimau berbulu putih yang besar dan menyeramkan sekali! Akan tetapi kalau para perampok dan juga sebagian pengawal yang bertanding di dekat tempat itu terkejut dan gentar, sebaliknya Bagus Seta menjadi girang sekali. Ia menoleh dan melihat harimau putih itu, segera mengenalnya sebagai harimau yang pernah ia jumpai di dalam hutan bersama ayahnya, harimau yang telah menggondolnya. Karena anak inipun maklum bahwa ia tidak akan menang menghadapi pengeroyokan para perampok, maka ia lalu lari menghampiri binatang itu dan memeluk lehernya. Harimau itu merendahkan tubuhnya sambil menggereng dan di lain saat Bagus Seta telah menunggang di atas punggungnya!
"Paman sardulo, amuk para perampok itu! Basmi mereka, usir mereka....” Bagus Seta menepuk-nepuk punggung harimau itu sambil berbisik di dekat telinganya. Anak ini memang pandai menunggang kuda, akan tetapi menunggang kuda jauh sekali bedanya dengan menunggang harimau yang tanpa kendali tanpa sela itu. Maka ia duduk sambil menelungkup dan merangkul leher menengkeram
bulu yang panjang putih pada leher harimau.
Harimau itu kembali mengaum dan tubuhnya menerjang maju. Tiga orang perampok yang tadi hendak membunuh Bagus Seta, berbareng mengangkat golok untuk menyerang dalam pembelaan diri mereka, akan tetapi hanya satu kali sang harimau putih mengangkat kaki depan sebelah kanan, menampar atau mencakar dan tiga batang golok mereka terlepas dan pegangan, bahkan lengan seorang di antara mereka kena cakar sampai robek-robek dagingnya! Yang dua orang membalikkan tubuh dan lari, diikuti dua orang temannya yang sudah terluka, yaitu yang tadi terluka golok pahanya dan yang terluka lengannya. Harimau itu dengan Bagus Seta di punggungnya, lalu berlari perlahan memasuki taman. Gegerlah mereka yang sedang berperang di dalam taman. Para perampok menjadi ketakutan dan otomatis bubar meninggalkan lawan. Beberapa orang perampok yang mencoba untuk melawan harimau putih, roboh oleh tamparan kaki depan harimau itu yang berbeda dengan harimau-harimau biasa, bergerak seperti seorang manusia, bukan menubruk atau menggigit seperti harimau lain. Akan tetapi gerakan kaki depannya amat kuat sehingga senjata-senjata tajam selalu terlempar kalau bertemu kakinya. Sebentar saja, para perampok yang menyerbu kadipaten menjadi geger dan bubar meninggalkan kadipaten.

Bermacam-macam cerita mereka. Bahkan yang tidak sempat bertemu dengan harimau putih itu dapat bercerita bahwa "penjaga kadipaten" harimau yang sebesar gajah telah mengamuk! Ada yang bilang bahwa itu adalah sang adipati sendiri yang berubah menjadi harimau putih. Bahkan para pengawal yang sempat melihat harimau di dalam taman, menjadi panik. Akan tetapi ada pula di antara mereka yang berusaha merampas kembali Bagus Seta. Akan tetapi mereka inipun roboh oleh tamparan sang harimau
yang kemudian melarikan Bagus Seta dari dalam taman sambil berlompatan cepat sekali! Bagus Seta merasa ngeri juga dan terpaksa ia meramkan mata sambil memeluk leher harimau lebih kuat lagi. Angin berdesir di pinggir telinganya dan tubuhnya kadang-kadang terkena lecutan rumput alang-alang di kanan kiri.
"Paman sardulo.... ke mana kau membawaku pergi? Kembalilah, kita harus membantu ibuku...harus membasmi dan mengusir para perampok jahat .....!" Bekali-kali Bagus Seta berbisik di dekat telinga si harimau, akan tetapi harimau putih itu tidak memperdulikannya lagi dan berlari terus keluar masuk hutan dan naik turun gunung.
Malam telah berganti pagi ketika harimau putih tiba di lereng sebuah gunung, lalu mengaum dan berhenti. Bagus Seta yang merasa lelah sekali lalu melorot turun dari atas punggung harimau, memandang kepada kakek tua renta berpakaian putih yang tahu-tahu telah berdiri di depan harimau. Kakek itu berdiri sambil memegang tongkat bambu gading, tangan kiri mengelus jenggot panjang yang putih itu dan mulutnya tersenyum.
"Terpujilah Sang Hyang Wishnu ………!” Kakek tua renta itu berkata halus.
"Suratan takdir tak dapat dihapus oleh siapapun juga di dunia ini! Kulup, Bagus Seta, kedatanganmu ini meyakinkan hatiku bahwa engkau memang berjodoh dengan aku. Engkaulah yang kelak akan mempertahankan kebesaran Sang Hyang Wishnu, angger....!!!”
Bagus Seta memang seorang anak kecil yang baru berusia sepuluh tahun. Namun ia telah banyak mempelajari tata susila dan tahu menghormat dan menghargai seorang tua yang suci dan bijaksana. Biarpun masih kecil, ia maklum bahwa kakek di hadapannya ini bukanlah seorang manusia biasa dan bahkan menjadi majikan dari sang harimau putih yang hebat. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.
“Jadi Eyangkah yang menyuruh paman sardula putih datang menolong saya daripada pengeroyokan perampok? Saya mengucap syukur dan menghaturkan banyak terima kasih, Eyang."
Kakek itu tertawa, suara ketawanya halus dan sepasang matanya yang bersinar amat tajam itu berseri-seri gembira.
"Sardulo pethak, kau dengar, alangkah pandainya sang adipati di Selopenangkep mendidik puteranya! Heh-heh-heh, angger Bagus Seta. Tidak ada yang menolong atau ditolong. Sardulo pethak kusuruh datang ke Selopenangkep hanya untuk mempersiapkan diri kalau-kalau memang engkau berjodoh denganku, Angger. Kalau bukan karena kehendakmu sendiri engkau ikut dengannya, dia tidak akan memaksamu. Bukankah engkau sendiri yang ikut bersamanya, kulup?"
"Tidak salah, Eyang. Memang saya menunggangi punggungnya. Akan tetapi....saya tidak mengerti mengapa dia membawa saya ke sini menghadap Eyang."
"Kekuasaan berada di tangan Sang Hyang Widhi, Angger. Bahkan semua dewata dan manusia hanya mempunyai tugas kewajiban, namun keputusan terakhir sepenuhnya berada di tangan Yang Maha Kuasa. Akupun hanya berusaha, angger, dan agaknya usahaku mendapat berkah Sang Hyang Wishnu yang memelihara dan menjaga semua kebaikan. Engkau berjodoh untuk menjadi muridku, kulup, dan kepadamulah aku harus menurunkan semua pengertian yang kumiliki."
"Banyak terima kasih saya haturkan kepada Eyang. Menurut wejangan Ayah saya, amatlah bahagia menjadi murid seorang yang maha sakti seperti Eyang. Akan tetapi, saya harus kembali ke Selopenangkep, Eyang. Selopenangkep diserbu penjahat, Kanjeng Ibu tentu terancam bahaya. Bagaimana saya dapat mendiamkannya saja dan berada di sini dalam aman tenteram sedangkan Kanjeng Ibu terancam bahaya?"
"Ha-ha-ha, bagus sekali, sekecil engkau sudah mengenal dharma bakti kepada orang tua! Akan tetapi engkau lupa, Bagus Seta, bahwa kehadiranmu di sana sama sekali tidak akan membantu ibumu, melainkan menambah beban ibumu karena harus melindungimu. Jangan khawatir, Angger. Engkau ikutlah bersamaku dan kelak pasti engkau akan bertemu kembali dengan orang tuamu."

<<< Bagian 036                                                                                    Bagian 038 >>>

No comments:

Post a Comment