Adipati Tejolaksono
mengangguk-angguk. Mengertilah ia kini mengapa mereka ini memusuhinya, adapun
Dibyo Mamangkoro adalah dia sendiri yang membunuhnya!
"Ah, kiranya kalian ini
segolongan mereka? Tentu saja aku masih ingat kepada tokoh-tokoh jahat itu.
Nah, inilah dadaku, Gagak Serayu! Inilah aku Adipati Tejolaksono yang takkan
undur setapakpun menghadapi keganasan kalian. Majulah, tandingilah
Tejolaksono!"
"Ha-ha-ha-ha!"
Kembali Gagak Dwipa tertawa bergelak.
"Sumbarmu seperti
hendak mengeringkan air Kali Serayu! Ketahuilah bahwa saat kematianmu sudah
berada di depan mata, Tejolaksono. Rasakan ini...haaiiiiittttt...." Gagak
Dwipa menerjang maju menggerakkan bedognya secepat kilat.
Adipati Tejolaksono hanya
merendahkan tubuh sedikit untuk mengelak, akan tetapi pada saat itu, empat
orang Gagak yang lain sudah menyambar dari kiri kanan dan bedog mereka
menyambar-nyambar sampai mengeluarkan suara berdesing. Adipati Tejolaksono
mengerahkan Aji Bayu Sakti sehingga tubuhnya menjadi seringan kapas tertiup
angin, melayang ke sana ke mari menghindarkan diri daripada hujan sinar kilat
senjata kelima, orang pengeroyoknya. Iapun cepat mencabut keris Megantoro dari
pinggangnya
dan terjadilah pertandingan
yang luar biasa hebatnya. Lima orang itu selain bertenaga besar dan dapat
bergerak cepat, juga memiliki kerja sama yang amat rapi sehingga gerakan mereka
seolah-olah teratur sekali, dapat saling menjaga dan saling bantu. Mereka ini
memang sedang mainkan ilmu silat barisan yang mereka sendiri namakan Gagak
Yuda. Gerakan mereka teratur seperti seekor burung gagak bertanding dan kelima
orang itu merupakan kedua cakar, kedua sayap, dan sebuah paruh yang dapat
bekerja sama dengan baik, kadang-kadang sekaligus menerjang maju, kadang-kadang
yang satu menyerang yang lain melindungi. Di lain pihak, Adipati Tejolaksono
memiliki kelincahan yang sedemikian cepatnya sehingga lima pasang mata lawan
sampai-sampai menjadi
silau dan kabur.
Pertandingan itu seakan-akan
lima ekor burung gagak mengepung seekor garuda! Selain amat seru menyeramkan,
juga amat indah ditonton sehingga para anak buah kedua belah pihak yang
kebetulan bertempur di dekat tempat itu, otomatis tanpa diperintah menunda
pertandingan mereka sendiri dan berdiri melingkari medan pertempuran itu,
menonton dan menjagoi pimpinan masing-masing! Hanya mereka yang jauh saja yang
masih melanjutkan perang tanding. Pertandingan antara Tejolaksono dan lima
orang Gagak Serayu itu makin seru dan hebat. Tejolaksono memang sakti, lebih
lincah dan lebih kuat, namun ia menghadapi kerja sama yang amat rapi sehingga
tidak banyak mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Ksatria yang sakti itu
maklum bahwa kalau ia melanjutkan cara bertanding seperti ini, yaitu hanya
mempertahankan dan membela diri, ia akan celaka karena setiap serangan kelima
orang itu tidak boleh dipandang ringan, penuh dengan tenaga yang didasari hawa
sakti. Apalagi, ia telah berperang tanpa mengenal istirahat sehingga tubuhnya
mulai lelah. Ia harus cepat-cepat mengakhiri pertandingan ini dengan pengerahan
tenaga yang dahsyat. Sayang bahwa perasaannya tidaklah semarah dan sakit hati
seperti sebelum lima orang Gagak Serayu ini memperkenalkan diri sebagai adik
seperguruan Ki Krendoyakso tokoh Bagelen itu. Tadinya ia memang marah dan sakit
hati atas kematian Bibi Kartikosari, akan tetapi setelah ia mendengar bahwa
mereka ini saudara Ki Krendroyakso, ia dapat memaklumi sikap mereka memusuhinya
dan lenyaplah sakit hatinya. Mereka ini memang musuh dan mereka memusuhinya
adalah hal yang sewajarnya. Dan karena ia tidak marah dan tidak lagi merasa
sakit hati, akan percuma sajalah kalau ia menggunakan Aji Triwikrama, sebuah
aji yang hanya dapat dilakukan dalam keadaan marah dan sakit hati. Ia lalu
mengumpulkan tenaga batinnya dan meledaklah pekiknya yang dahsyat, yaitu pekik
Dirodo Meta yang keluar dari dadanya. Lima orang lawannya tergetar dan
terkejut. Saat itu dipergunakan oleh Tejolaksono untuk, menubruk dada Gagak
Dwipa yang merupakan lawan paling tangguh. Akan tetapi sungguh di luar
dugaannya. Lima orang itu benar-benar sudah merupakan lima orang dengan satu
perasaan agaknya. Tanpa dikomando lagi, lima batang golok itu sudah menangkis
kerisnya dengan kekuatan yang amat hebat!
"Tranggggg…..!!!”
Pengerahan tenaga yang amat
hebat dari Adipati Tejolaksono tersalur di dalam keris Megantoro dan akibat
dari pertemuan senjata ini hebat sekali karena berbareng dengan suara yang amat
nyaring ini tampak api berpijar menyilaukan mata dan lima batang golok itu
patah semua! Akan tetapi, karena sebuah di antara golok yang patah itu meleset
dan menyambar turun menggores lengan sang adipati, maka keris itu pun terlepas
dari tangan Tejolaksono! Melihat bahwa lawan yang dikeroyok inipun kehilangan
senjatanya, Lima Gagak Serayu menjadi girang dan sambil berteriak ganas mereka
menubruk dan mengirim serangan serentak. Namun Tejolaksono juga sudah siap.
Begitu lima orang lawan bergerak menyerangnya penuh nafsu, ia melihat
kesempatan baik sekali. Tubuhnya mengelak ke kiri, melewatkan tiga pukulan
lawan dan sengaja menerima hantaman dua orang gagak yang ia terima dengan dada
dan pundaknya sambil mengerahkan tenaga, namun berbareng jari-jari tangan
kanannya menusuk dengan Aji Pethit Nogo ke arah dada Gagak Legawa dan tangan
kirinya menangkis pukulan susulan dari Gagak Dwipa.
"Dessss....
krakkk....!!”
Tubuh Tejolaksono yang
menerima pukulan Gagak Maruta di dada kiri dan hantaman Gagak Legawa di pundak
itu hanya tergoncang seperti sebatang pohon beringin diserang angin lalu, akan
tetapi jari-jari tangan kanannya amblas masuk ke dalam dada Gagak Legawa,
mematahkan tulang-tulang iganya! Gagak Legawa berteriak ngeri dan roboh
berkelojotan. Seorang di antara lima Gagak Serayu, menjadi korban dan tewas.
Para prajurit Selopenangkep yang menonton pertandingan dahsyat itu bersorak
gembira, sebaliknya pihak pasukan Lembah Serayu marah dan gelisah.
"Siuuuuuttttt....!!”
Benda yang berubah menjadi
bayang-bayang hitam yang amat lebar itu adalah senjata rahasia Gagak Tirta,
yakni sehelai jaring yang amat lebar dan ujungnya dikelilingi mata kaitan terbuat
daripada baja. Jaring itu sendiri terbuat daripada kawat-kawat halus yang amat
kuat. Dengan jaring pusakanya yang ampuh ini, Gagak Tirta sanggup menangkap
hidup-hidup seekor harimau!
Karena secara otomatis, tiga
orang Gagak yang lain dengan kemarahan meluap-luap melihat kematian Gagak
Legawa juga menerjang maju dengan pukulan tangan kosong dari kanan kiri
sehingga tertutuplah jalan keluar bagi Tejolaksono, maka adipati inipun memutar
tubuh menangkis pukulan-pukulan itu dan sengaja membiarkan dirinya disambar
jaring. Ia tidak takut menghadapi jaring itu, bahkan adipati yang sakti dan
cerdik ini hendak menggunakan kesempatan ini untuk mencapai kemenangannya.
Empat orang Gagak Serayu
berseru girang dan anak buah mereka bersorak ketika melihat betapa tubuh Adipati
Tejolaksono terselimut dan tertangkap oleh jaring itu, Tejolaksono meronta dan
mendapat kenyataan bahwa jaring ini benar-benar amat kuat, dan pada saat itu,
Gagak Tirta menyendal tali jaringnya sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh
Tejolaksono terguling roboh! Makin riuh sorak sorai anak buah Gagak Serayu dan
makin kecil hati para prajurit Selopenangkep melihat jagoan mereka tertangkap!
Akan tetapi pada saat yang memang dinanti-nanti oleh Tejolaksono itu, tiba-tiba
tubuh sang adipati yang terguling tadi terus bergerak bergulingan dengan
kecepatan yang tak tersangka-sangka. Tahu-tahu tubuh yang berada dalam libatan
jaring ini telah menggelundung ke arah lawan. Empat orang Gagak Serayu kaget
dan meloncat, namun kurang cepat bagi Gagak Tirta yang memegang ujung tali
jaring. Kakinya tertangkap tangan Tejolaksono yang menyambar dari dalam jaring
sehingga Gagak Tirta dapat ditarik roboh! Gagak Maruta yang berada paling
dekat, cepat menubruk maju untuk menolong adiknya, hendak merampas adiknya yang
kakinya terpegang lawan.
"Maruta...
mundur...!" Gagak Dwipa memperingatkan adiknya, namun terlambat karena
pada saat Tejolaksono yang menggunakan aji kekuatan sakti, sudah melompat
bangun dengan kaki Gagak Tirta masih dipegangnya dan tubuh lawan ini ia ayun
sedemikian rupa merupakan senjata yang luar biasa. Gagak Maruta hendak
menghindar, namun terlambat.
"Prakkk ii" Suara
keras beradunya kepala Gagak Maruta dengan kepala Gagak Tirta ini disusul pekik
yang mengerikan, pekik kematian dua orang kakak beradik itu yang pecah
kepalanya! Darah dan otak keluar muncrat-muncrat dan Adipati Tejolaksono cepat
membebaskan diri dari libatan jaring untuk menghadapi lawannya yang kini hanya
tinggal dua orang lagi, yaitu Gagak Dwipa dan Gagak Kroda. Akan tetapi, pada
saat itu para anak buah pasukan Lembah Serayu sudah menerjangnya dan disambut
pula oleh prajurit-prajurit
Selopenangkep yang mendapat hati. Ketika Tejolaksono keluar dari jaring dan
melihat, ternyata dua orang pimpinan musuh itu sudah lenyap, lari sambil
membawa pergi mayat tiga orang adik mereka! Tejolaksono tidak mengejar,
melainkan memimpin anak buahnya menghajar musuh. Perang itu selesai pada sore
hari itu juga. Karena kehilangan pimpinan, para pasukan Lembah Serayu yang
terdiri dari perampok-perampok dan bajak menjadi kacau, apalagi karena mereka
sudah jerih dan ketakutan ketika mendengar berita bahwa Lima Gagak Serayu yang
mereka agul-agulkan itu kalah oleh Adipati Tejolaksono. Bubarlah mereka,
melarikan diri ke seberang barat Sungai Serayu. Ada pula yang melarikan diri ke
utara untuk bersembunyi
di dalam hutan-hutan di kaki
dan lereng Gunung Slamet, Gunung Beser, atau Gunung Ragajembangan.
Adipati Tejolaksono dan
pasukannya membuat pembersihan, mendapat kemenangan besar dan disambut oleh
rakyat dari Lembah Serayu sampai ke Selopenangkep dengan penuh kegirangan dan
terima kasih. Akan tetapi sang adipati sendiri tetap tidak bergembira, bahkan
wajahnya muram dan keningnya selalu berkerut. Ia tetap gelisah teringat akan
putera tunggalnya, Bagus Seta. Apakah yang telah terjadi atas diri Bagus Seta?
Anak yang baru berusia sepuluh tahun ini telah, mewarisi sifat-sifat ayah
bundanya. Ia tidak pernah mengenal takut, bersikap tenang dan biarpun masih
kanak-kanak, namun sudah nnempunyai pandangan yang jauh dan cerdik, tidak kekanak-kanakan.
Selain memiliki sifat-sifat ksatria ini, Bagus Seta juga semenjak kecil
digembleng oleh ayahnya sendiri dengan ilmu sehingga biarpun ia belum memiliki
kedigdayaan yang hanya dicapai oleh seseorang dengan latihan-latihan yang
matang, namun ia sudah memiliki tubuh yang kuat, hati yang tabah dan pikiran
yang cerdas. Nama yang diberikan ayah bundanya kepadanya, yaitu Bagus Seta,
selain untuk mengingat nama Joko Seta bekas tunangan ibunya yang gugur di dalam
perang membela Kerajaan Panjalu, juga amat cocok dengan kulit tubuh anak ini
yang putih kuning dan wajahnya yang amat tampan.
Yang amat menyolok pada diri
Bagus Seta adalah sepasang matanya yang bersinar-sinar dan amat tajam itu dan
mulutnya yang membayangkan hati yang tabah, kemauan yang keras, dan watak yang
berbudi dan welas asih. Ketika Kadipaten Selopenangkep diserbu oleh gerombolan
perampok Lembah Serayu, Bagus Seta sedikitpun tidak menjadi takut. Seperti
halnya dua orang bibinya yang masih kecil, yaitu Setyaningsih dan Pusporini,
Bagus Seta juga siap untuk ikut berperang! Sebatang keris kecil terselip di
pinggang, bahkan goloknya yang kecil, yang biasa ia pakai berlatih jika diajar
oleh ayahnya, kini tergantung di pinggangnya.
"Ibu, kalau ada
perampok jahat berani masuk ke rumah kita, kita gempur mereka sampai
habis!" demikian kata-kata yang keluar dari mulut anak ini.
"Betul, aku juga tidak
takut!" kata Setyaningsih dengan suara nyaring.
"Aku juga!" kata
Pusporini dengan mata bercahaya.
"Husssshhh. Anak-anak,
kalian tidak boleh keluar," pesan Kartikosari dan Roro Luhito yang sudah
siap menerjang musuh. "Sembunyi saja dalam kamar dan baru boleh melawan
kalau sampai ada musuh yang menyerbu masuk ke kamar kalian."
Setyaningsih dan Pusporini
tidak berani membantah ibu mereka, juga di depan ibunya yang memerintahkan agar
dia berdiam di dalam kamar, Bagus Seta tidak berani membantah. Akan tetapi
begitu ia mendengar malam itu suara hiruk-pikuk di luar kamarnya dan mendengar
dari para pelayan yang ketakutan bahwa para gerombolan perampok sudah menyerbu
istana kadipaten, hati Bagus
Seta berdebar
penuh kemarahan dan ketegangan. Ia marah sekali karena menganggap para perampok
itu pengecut, melakukan penyerbuan pada saat ayahnya tidak berada di rumah.
Coba kalau ayahnya berada di rumah, sudah lama para perampok itu dibasmi habis.
Ia merasa penasaran sekali akan perintah dan larangan ibunya. Kenapa ia harus
bersembunyi di dalam kamar? Ia tidak takut sama sekali terhadap para perampok!
Memalukan benar! Putera Adipati Tejolaksono yang terkenal sakti mandraguna
harus bersembunyi karena serbuan perampok! Tidak! Ia tidak mau bersembunyi lagi
dan membiarkan ibunya dan kedua eyang puterinya menghadapi para perampok
sendiri. Apalagi ketika malam itu suara pertempuran makin hebat, Bagus Seta tak
dapat menahan dirinya lagi. Terdengar olehnya suara pertempuran itu makin
mendekat dan kini bahkan terdengar suara beradunya senjata tajam dan
teriakan-teriakan orang bertanding di luar kamarnya, di dalam taman! Cepat
Bagus Seta membuka daun jendelanya dan memandang keluar.
No comments:
Post a Comment