Perawan Lembah Wilis; Bagian 036



Adipati Tejolaksono mengangguk-angguk. Mengertilah ia kini mengapa mereka ini memusuhinya, adapun Dibyo Mamangkoro adalah dia sendiri yang membunuhnya!
"Ah, kiranya kalian ini segolongan mereka? Tentu saja aku masih ingat kepada tokoh-tokoh jahat itu. Nah, inilah dadaku, Gagak Serayu! Inilah aku Adipati Tejolaksono yang takkan undur setapakpun menghadapi keganasan kalian. Majulah, tandingilah Tejolaksono!"
"Ha-ha-ha-ha!" Kembali Gagak Dwipa tertawa bergelak.
"Sumbarmu seperti hendak mengeringkan air Kali Serayu! Ketahuilah bahwa saat kematianmu sudah berada di depan mata, Tejolaksono. Rasakan ini...haaiiiiittttt...." Gagak Dwipa menerjang maju menggerakkan bedognya secepat kilat.
Adipati Tejolaksono hanya merendahkan tubuh sedikit untuk mengelak, akan tetapi pada saat itu, empat orang Gagak yang lain sudah menyambar dari kiri kanan dan bedog mereka menyambar-nyambar sampai mengeluarkan suara berdesing. Adipati Tejolaksono mengerahkan Aji Bayu Sakti sehingga tubuhnya menjadi seringan kapas tertiup angin, melayang ke sana ke mari menghindarkan diri daripada hujan sinar kilat senjata kelima, orang pengeroyoknya. Iapun cepat mencabut keris Megantoro dari pinggangnya
dan terjadilah pertandingan yang luar biasa hebatnya. Lima orang itu selain bertenaga besar dan dapat bergerak cepat, juga memiliki kerja sama yang amat rapi sehingga gerakan mereka seolah-olah teratur sekali, dapat saling menjaga dan saling bantu. Mereka ini memang sedang mainkan ilmu silat barisan yang mereka sendiri namakan Gagak Yuda. Gerakan mereka teratur seperti seekor burung gagak bertanding dan kelima orang itu merupakan kedua cakar, kedua sayap, dan sebuah paruh yang dapat bekerja sama dengan baik, kadang-kadang sekaligus menerjang maju, kadang-kadang yang satu menyerang yang lain melindungi. Di lain pihak, Adipati Tejolaksono memiliki kelincahan yang sedemikian cepatnya sehingga lima pasang mata lawan sampai-sampai menjadi
silau dan kabur.

Pertandingan itu seakan-akan lima ekor burung gagak mengepung seekor garuda! Selain amat seru menyeramkan, juga amat indah ditonton sehingga para anak buah kedua belah pihak yang kebetulan bertempur di dekat tempat itu, otomatis tanpa diperintah menunda pertandingan mereka sendiri dan berdiri melingkari medan pertempuran itu, menonton dan menjagoi pimpinan masing-masing! Hanya mereka yang jauh saja yang masih melanjutkan perang tanding. Pertandingan antara Tejolaksono dan lima orang Gagak Serayu itu makin seru dan hebat. Tejolaksono memang sakti, lebih lincah dan lebih kuat, namun ia menghadapi kerja sama yang amat rapi sehingga tidak banyak mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Ksatria yang sakti itu maklum bahwa kalau ia melanjutkan cara bertanding seperti ini, yaitu hanya mempertahankan dan membela diri, ia akan celaka karena setiap serangan kelima orang itu tidak boleh dipandang ringan, penuh dengan tenaga yang didasari hawa sakti. Apalagi, ia telah berperang tanpa mengenal istirahat sehingga tubuhnya mulai lelah. Ia harus cepat-cepat mengakhiri pertandingan ini dengan pengerahan tenaga yang dahsyat. Sayang bahwa perasaannya tidaklah semarah dan sakit hati seperti sebelum lima orang Gagak Serayu ini memperkenalkan diri sebagai adik seperguruan Ki Krendoyakso tokoh Bagelen itu. Tadinya ia memang marah dan sakit hati atas kematian Bibi Kartikosari, akan tetapi setelah ia mendengar bahwa mereka ini saudara Ki Krendroyakso, ia dapat memaklumi sikap mereka memusuhinya dan lenyaplah sakit hatinya. Mereka ini memang musuh dan mereka memusuhinya adalah hal yang sewajarnya. Dan karena ia tidak marah dan tidak lagi merasa sakit hati, akan percuma sajalah kalau ia menggunakan Aji Triwikrama, sebuah aji yang hanya dapat dilakukan dalam keadaan marah dan sakit hati. Ia lalu mengumpulkan tenaga batinnya dan meledaklah pekiknya yang dahsyat, yaitu pekik Dirodo Meta yang keluar dari dadanya. Lima orang lawannya tergetar dan terkejut. Saat itu dipergunakan oleh Tejolaksono untuk, menubruk dada Gagak Dwipa yang merupakan lawan paling tangguh. Akan tetapi sungguh di luar dugaannya. Lima orang itu benar-benar sudah merupakan lima orang dengan satu perasaan agaknya. Tanpa dikomando lagi, lima batang golok itu sudah menangkis kerisnya dengan kekuatan yang amat hebat!
"Tranggggg…..!!!”
Pengerahan tenaga yang amat hebat dari Adipati Tejolaksono tersalur di dalam keris Megantoro dan akibat dari pertemuan senjata ini hebat sekali karena berbareng dengan suara yang amat nyaring ini tampak api berpijar menyilaukan mata dan lima batang golok itu patah semua! Akan tetapi, karena sebuah di antara golok yang patah itu meleset dan menyambar turun menggores lengan sang adipati, maka keris itu pun terlepas dari tangan Tejolaksono! Melihat bahwa lawan yang dikeroyok inipun kehilangan senjatanya, Lima Gagak Serayu menjadi girang dan sambil berteriak ganas mereka menubruk dan mengirim serangan serentak. Namun Tejolaksono juga sudah siap. Begitu lima orang lawan bergerak menyerangnya penuh nafsu, ia melihat kesempatan baik sekali. Tubuhnya mengelak ke kiri, melewatkan tiga pukulan lawan dan sengaja menerima hantaman dua orang gagak yang ia terima dengan dada dan pundaknya sambil mengerahkan tenaga, namun berbareng jari-jari tangan kanannya menusuk dengan Aji Pethit Nogo ke arah dada Gagak Legawa dan tangan kirinya menangkis pukulan susulan dari Gagak Dwipa.
"Dessss.... krakkk....!!”

Tubuh Tejolaksono yang menerima pukulan Gagak Maruta di dada kiri dan hantaman Gagak Legawa di pundak itu hanya tergoncang seperti sebatang pohon beringin diserang angin lalu, akan tetapi jari-jari tangan kanannya amblas masuk ke dalam dada Gagak Legawa, mematahkan tulang-tulang iganya! Gagak Legawa berteriak ngeri dan roboh berkelojotan. Seorang di antara lima Gagak Serayu, menjadi korban dan tewas. Para prajurit Selopenangkep yang menonton pertandingan dahsyat itu bersorak gembira, sebaliknya pihak pasukan Lembah Serayu marah dan gelisah.
"Siuuuuuttttt....!!”
Benda yang berubah menjadi bayang-bayang hitam yang amat lebar itu adalah senjata rahasia Gagak Tirta, yakni sehelai jaring yang amat lebar dan ujungnya dikelilingi mata kaitan terbuat daripada baja. Jaring itu sendiri terbuat daripada kawat-kawat halus yang amat kuat. Dengan jaring pusakanya yang ampuh ini, Gagak Tirta sanggup menangkap hidup-hidup seekor harimau!
Karena secara otomatis, tiga orang Gagak yang lain dengan kemarahan meluap-luap melihat kematian Gagak Legawa juga menerjang maju dengan pukulan tangan kosong dari kanan kiri sehingga tertutuplah jalan keluar bagi Tejolaksono, maka adipati inipun memutar tubuh menangkis pukulan-pukulan itu dan sengaja membiarkan dirinya disambar jaring. Ia tidak takut menghadapi jaring itu, bahkan adipati yang sakti dan cerdik ini hendak menggunakan kesempatan ini untuk mencapai kemenangannya.
Empat orang Gagak Serayu berseru girang dan anak buah mereka bersorak ketika melihat betapa tubuh Adipati Tejolaksono terselimut dan tertangkap oleh jaring itu, Tejolaksono meronta dan mendapat kenyataan bahwa jaring ini benar-benar amat kuat, dan pada saat itu, Gagak Tirta menyendal tali jaringnya sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Tejolaksono terguling roboh! Makin riuh sorak sorai anak buah Gagak Serayu dan makin kecil hati para prajurit Selopenangkep melihat jagoan mereka tertangkap! Akan tetapi pada saat yang memang dinanti-nanti oleh Tejolaksono itu, tiba-tiba tubuh sang adipati yang terguling tadi terus bergerak bergulingan dengan kecepatan yang tak tersangka-sangka. Tahu-tahu tubuh yang berada dalam libatan jaring ini telah menggelundung ke arah lawan. Empat orang Gagak Serayu kaget dan meloncat, namun kurang cepat bagi Gagak Tirta yang memegang ujung tali jaring. Kakinya tertangkap tangan Tejolaksono yang menyambar dari dalam jaring sehingga Gagak Tirta dapat ditarik roboh! Gagak Maruta yang berada paling dekat, cepat menubruk maju untuk menolong adiknya, hendak merampas adiknya yang kakinya terpegang lawan.
"Maruta... mundur...!" Gagak Dwipa memperingatkan adiknya, namun terlambat karena pada saat Tejolaksono yang menggunakan aji kekuatan sakti, sudah melompat bangun dengan kaki Gagak Tirta masih dipegangnya dan tubuh lawan ini ia ayun sedemikian rupa merupakan senjata yang luar biasa. Gagak Maruta hendak menghindar, namun terlambat.
"Prakkk ii" Suara keras beradunya kepala Gagak Maruta dengan kepala Gagak Tirta ini disusul pekik yang mengerikan, pekik kematian dua orang kakak beradik itu yang pecah kepalanya! Darah dan otak keluar muncrat-muncrat dan Adipati Tejolaksono cepat membebaskan diri dari libatan jaring untuk menghadapi lawannya yang kini hanya tinggal dua orang lagi, yaitu Gagak Dwipa dan Gagak Kroda. Akan tetapi, pada saat itu para anak buah pasukan Lembah Serayu sudah menerjangnya dan disambut
pula oleh prajurit-prajurit Selopenangkep yang mendapat hati. Ketika Tejolaksono keluar dari jaring dan melihat, ternyata dua orang pimpinan musuh itu sudah lenyap, lari sambil membawa pergi mayat tiga orang adik mereka! Tejolaksono tidak mengejar, melainkan memimpin anak buahnya menghajar musuh. Perang itu selesai pada sore hari itu juga. Karena kehilangan pimpinan, para pasukan Lembah Serayu yang terdiri dari perampok-perampok dan bajak menjadi kacau, apalagi karena mereka sudah jerih dan ketakutan ketika mendengar berita bahwa Lima Gagak Serayu yang mereka agul-agulkan itu kalah oleh Adipati Tejolaksono. Bubarlah mereka, melarikan diri ke seberang barat Sungai Serayu. Ada pula yang melarikan diri ke utara untuk bersembunyi
di dalam hutan-hutan di kaki dan lereng Gunung Slamet, Gunung Beser, atau Gunung Ragajembangan.

Adipati Tejolaksono dan pasukannya membuat pembersihan, mendapat kemenangan besar dan disambut oleh rakyat dari Lembah Serayu sampai ke Selopenangkep dengan penuh kegirangan dan terima kasih. Akan tetapi sang adipati sendiri tetap tidak bergembira, bahkan wajahnya muram dan keningnya selalu berkerut. Ia tetap gelisah teringat akan putera tunggalnya, Bagus Seta. Apakah yang telah terjadi atas diri Bagus Seta? Anak yang baru berusia sepuluh tahun ini telah, mewarisi sifat-sifat ayah bundanya. Ia tidak pernah mengenal takut, bersikap tenang dan biarpun masih kanak-kanak, namun sudah nnempunyai pandangan yang jauh dan cerdik, tidak kekanak-kanakan. Selain memiliki sifat-sifat ksatria ini, Bagus Seta juga semenjak kecil digembleng oleh ayahnya sendiri dengan ilmu sehingga biarpun ia belum memiliki kedigdayaan yang hanya dicapai oleh seseorang dengan latihan-latihan yang matang, namun ia sudah memiliki tubuh yang kuat, hati yang tabah dan pikiran yang cerdas. Nama yang diberikan ayah bundanya kepadanya, yaitu Bagus Seta, selain untuk mengingat nama Joko Seta bekas tunangan ibunya yang gugur di dalam perang membela Kerajaan Panjalu, juga amat cocok dengan kulit tubuh anak ini yang putih kuning dan wajahnya yang amat tampan.
Yang amat menyolok pada diri Bagus Seta adalah sepasang matanya yang bersinar-sinar dan amat tajam itu dan mulutnya yang membayangkan hati yang tabah, kemauan yang keras, dan watak yang berbudi dan welas asih. Ketika Kadipaten Selopenangkep diserbu oleh gerombolan perampok Lembah Serayu, Bagus Seta sedikitpun tidak menjadi takut. Seperti halnya dua orang bibinya yang masih kecil, yaitu Setyaningsih dan Pusporini, Bagus Seta juga siap untuk ikut berperang! Sebatang keris kecil terselip di pinggang, bahkan goloknya yang kecil, yang biasa ia pakai berlatih jika diajar oleh ayahnya, kini tergantung di pinggangnya.
"Ibu, kalau ada perampok jahat berani masuk ke rumah kita, kita gempur mereka sampai habis!" demikian kata-kata yang keluar dari mulut anak ini.
"Betul, aku juga tidak takut!" kata Setyaningsih dengan suara nyaring.
"Aku juga!" kata Pusporini dengan mata bercahaya.
"Husssshhh. Anak-anak, kalian tidak boleh keluar," pesan Kartikosari dan Roro Luhito yang sudah siap menerjang musuh. "Sembunyi saja dalam kamar dan baru boleh melawan kalau sampai ada musuh yang menyerbu masuk ke kamar kalian."
Setyaningsih dan Pusporini tidak berani membantah ibu mereka, juga di depan ibunya yang memerintahkan agar dia berdiam di dalam kamar, Bagus Seta tidak berani membantah. Akan tetapi begitu ia mendengar malam itu suara hiruk-pikuk di luar kamarnya dan mendengar dari para pelayan yang ketakutan bahwa para gerombolan perampok sudah menyerbu istana kadipaten, hati Bagus
Seta berdebar penuh kemarahan dan ketegangan. Ia marah sekali karena menganggap para perampok itu pengecut, melakukan penyerbuan pada saat ayahnya tidak berada di rumah. Coba kalau ayahnya berada di rumah, sudah lama para perampok itu dibasmi habis. Ia merasa penasaran sekali akan perintah dan larangan ibunya. Kenapa ia harus bersembunyi di dalam kamar? Ia tidak takut sama sekali terhadap para perampok! Memalukan benar! Putera Adipati Tejolaksono yang terkenal sakti mandraguna harus bersembunyi karena serbuan perampok! Tidak! Ia tidak mau bersembunyi lagi dan membiarkan ibunya dan kedua eyang puterinya menghadapi para perampok sendiri. Apalagi ketika malam itu suara pertempuran makin hebat, Bagus Seta tak dapat menahan dirinya lagi. Terdengar olehnya suara pertempuran itu makin mendekat dan kini bahkan terdengar suara beradunya senjata tajam dan teriakan-teriakan orang bertanding di luar kamarnya, di dalam taman! Cepat Bagus Seta membuka daun jendelanya dan memandang keluar.

<<< Bagian 035                                                                                    Bagian 037 >>>

No comments:

Post a Comment