Setelah memberi pesan kepada para sisa prajurit agar melakukan penjagaan di daerah itu, Adipati Tejolaksono lalu melompat
ke atas punggung kudanya dan
membalapkan kuda itu terus ke barat, menuju Kadipaten Selopenangkep yang sudah
tak jauh lagi letaknya. Hatinya makin gelisah karena dari para prajurit itu ia
mendengar bahwa kadipaten sudah beberapa kali diserbu pasukan perampok yang
amat kuat. Hari telah menjadi senja ketika ia memasuki kota kadipaten yang
kelihatan sunyi, namun penuh dengan para pengawal yang melakukan penjagaan.
Para perwira pengawal menyambut kedatangannya dengan wajah gembira, namun
dengan pandang mata duka. Adipati Tejolaksono tidak mau membuang banyak waktu
lagi, terus membalapkan kuda memasuki kota, menuju ke gedung kadipaten. Ia
merasa betapa semua pandang mata para pengawal kepadanya mengandung iba dan
duka, maka hatinya berdebar tidak enak ketika ia melompat turun dari kuda,
menyerahkan kuda kepada seorang pengawal, kemudian ia meloncat dan lari memasuki
gedungnya.
"Gusti Adipati tiba
……..!!”
"Gusti Adipati
pulang... , kita tertolong..!!" Teriakan-teriakan ini menggema di seluruh
kadipaten, bahkan masuk ke dalam gedung kadipaten sebelum Adipati Tejolaksono
sampai ke ruangan dalam. Maka baru saja ia melewati pendopo, ia disambut Ayu
Candra yang menjatuhkan diri berlutut, merangkul kakinya dan menangis! Di
belakang Ayu Candra yang berpakaian perang, ringkas dan dalam keadaan siap,
menyambut pula Setyaningsih dan Pusporini, dua orang gadis cilik yang juga
menangis.
Bahkan dua orang gadis cilik
inipun berpakaian ringkas, pakaian untuk bertanding dan di pinggang mereka yang
kecil tampak gagang keris! Dapat dibayangkan betapa gelisah dan kaget hati
Tejolaksono menyaksikan penyambutan isterinya ini. Cepat ia membungkuk,
memegang kedua pundak isterinya dan menariknya bangun sambil berkata,
"Tenangkanlah hatimu,
yayi, dan ceritakan apa yang terjadi di sini."
Ayu Candra masih
terisak-isak ketika ia dituntun suaminya memasuki ruangan dalam dan diajak
duduk di situ. Setyaningsih dan Pusporini tidak berani ikut masuk dan segera
mengundurkan diri.
"Aduh, Kakangmas...
malapetaka telah menimpa keluarga kita selama Kanda pergi..." Ayu Candra
kembali menangis.
".... Bagus Seta...
bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito..." Adipati Tejolaksono merasa
seakan-akan jantungnya berhenti berdetik. Punggung dan tengkuknya terasa dingin
sekali. Kemball ia meraih isterinya dan bertanya, suaranya gemetar,
"Ada apa dengan mereka?
Mana Bagus Seto....?”
“.... serangan
pertama....sebulan yang lalu... di malam hari terjadi tiba-tiba. Keadaan
menjadi kacau dan...dan anak kita itu hilang...“
"Apa...? Tertawan oleh
Lima Gagak Serayu??" Pertanyaan ini mengandung kemarahan besar terhadap
pimpinan para penyerbu itu.
"Mudah-mudahan tidak
begitu, Kakangmas AdIpati. Mereka itu amat keji dan kejam! Ada di antara para
pengawal kita yang melihat bahwa pada malam terjadinya penyerbuan itu ada
seekor harimau putih yang besar sekali lari keluar dari taman sari dan..... dan
Bagus Seta menunggang di punggungnya ... "
"Aahhhh... harimau
putih....? Ki Tunggaljiwa.....?"
"Mudah-mudahan
begitulah seperti yang diperkirakan pula oleh mendiang ... bibi Kartikosari...“
"Haaaa....???"
Kini Adipati Tejolaksono benar-benar terkejut, sampai pucat mukanya.
"Mendiang....?"
Ayu Candra terisak-isak dan
berkata tersendat-sendat, "Tiga hari berikutnya....dalam perlawanan
terhadap para musuh yang dipimpin sendiri oleh bibi Kartikosari dan bibi Roro
Luhito... bibi Kartikosari tewas di tangan musuh”
"Dan bibi Roro
Luhito....?"
"Terluka parah...kini
beristirahat di kamarnya”
"Duh Jagad Dewa
Bathara......!!" Adipati Tejolaksono duduk termenung seperti arca.
Wajahnya pucat, matanya sayu dan bibirnya menggigil. Isterinya hanya menangis
terisak-isak. Adipati Tejolaksono ingin sekali memukul kepala sendiri. Mala
petaka hebat terjadi di rumahnya.
Puteranya lenyap, bibinya
tewas dan yang seorang terluka, rakyatnya banyak yang dirampok, dibakar
rumahnya, diperkosa dan dibunuh, para prajuritnya banyak pula yang tewas. Dan
dia..., dia bersenang-senang memadu kasih bersama Endang Patibroto! Akan
tetapi, haruskah ia menyalahkan diri sendiri? Ah, tidak bisa! Mereka berdua
bukan sengaja hendak bersenang-senang! Mereka berdua bukan sengaja hendak
memadu kasih karena terdorong nafsu belaka! Tidak! Mereka berduapun terancam
bahaya hebat yang nyaris merenggut nyawa mereka. Dan keberangkatannya ke
Blambangan adalah karena tugas yang dibebankan sang prabu ke atas pundaknya,
seperti juga pada saat ini Endang Patibroto dibebani tugas menyerbu Blambangan.
Nyawa manusia di tangan Hyang Widhi. Nyawa manusia setiap saat terancam maut.
Kalau Hyang Widhi menghendaki, tiada kekuasaan apapun di dunia ini yang dapat
merubah jalan hidup seseorang. Yang dapat merubah saat datangnya kematian!
"Bagaimanakah Bibi Kartikosari
dan Bibi Roro Luhito yang sakti mandraguna sampai terkalahkan oleh musuh?"
"Kedua orang bibi itu
tidak dapat menahan kemarahan ketika mendengar akan sepak terjang dan kekejaman
para perampok yang merusak dusun-dusun di sekitar Selopenangkep. Mereka membawa
pasukan dan mengejar jauh keluar kadipaten, ke dusun-dusun. Akan tetapi pasukan
mereka terkepung dan karena jumlah lawan jauh lebih banyak, mereka terjebak dan
dikeroyok oleh Lima Gagak Serayu dengan anak buah mereka. Bibi Kartikosari
terluka parah dan biarpun dapat dilarikan oleh Bibi Roro Luhito yang juga
luka-luka sampai ke kadipaten, namun Bibi Kartikosari meninggal karena terlalu
banyak kehilangan darah. Beberapa kali kadipaten diserbu musuh, namun kami dan
para pengawal yang setia dapat mempertahankan kadipaten."
"Sudahlah, keringkan
air matamu, nimas. Setelah aku berada di sini, aku akan membalaskan kematian
Bibi Kartikosari, kemudian setelah musuh dapat terbasmi, aku akan menyusul
Bagus Seta ke Merapi."
Adipati Tejolaksono tidak
membuang waktu lagi. Ia menengok Roro Luhito yang biarpun terluka parah namun
tidak membahayakan nyawanya.
"Sayang kau datang
terlambat.... sebetulnya aku dan Bibimu Kartikosari tidak akan kalah melawah
Lima Gagak Serayu...akan
tetapi.... musuh terlalu
banyak.... dan Bibimu Kartikosari mengamuk, memisahkan diri... ah, maafkan,
anakku. Kami tidak dapat menjaga... puteramu Bagus Seta...”
"Sudahlah, Kanjeng
Bibi. Yang sudah terjadi tidak perlu disesalkan lagi. Semua sudah dikehendaki
Hyang Widhi. Pembelaan sudah cukup dan saya amat berterima kasih. Saya sendiri
akan menghajar Lima Gagak Serayu!" kata Adipati Tejolaksono.
Adipati ini segera
mengumpulkan semua pengawal dan barisan bantuan dari Panjalu, menyusun barisan
dan rnembagi-bagi tugas. Sebagian daripada pasukan bertugas menjaga kadipaten,
dipimpin sendiri oleh Ayu Candra. Kemudian Adipati Tejolaksono memimpin pasukan
pilihan, keluar dari kadipaten dan mulailah pasukan istimewa ini melakukan
pengejaran dan pembersihan ke dusun-dusun di sekitar Selopenangkep. Karena
dipimpin sendiri oleh Adipati Tejolaksono yang sakti mandraguna, maka semangat
pasukan ini hebat sekali. Setiap gerombolan perampok yang mengganas dan bertemu
dengan pasukan ini dihancurkan, jarang ada yang dapat melarikan diri. Mawutlah
gerombolan-gerombolan perampok Bagelen dan Lembah Serayu. Mereka mundur terus
bahkan lalu menggabung dengan induk pasukan di sebelah barat, dan terus dikejar
oleh Adipati Tejolaksono. Pasukan sang adipati makin lama makin besar karena ke
manapun pasukan itu tiba, selalu disambut oleh rakyat yang menjadi girang
sekali dan di situlah pasukan bertambah besar dengan adanya rakyat yang
menggabungkan diri untuk membalas dendam kepada perampok yang mengganas selama
ini. Bala bantuan dari Panjalu yang diminta oleh Adipati Tejolaksono yang
mengirim utusan ke sana, tiba tak lama kemudian, maka makin kuatlah barisan
Kadipaten Selopenangkep. Akhirnya, setelah mengejar dan menghancurkan banyak
gerombolan sebulan kemudian pasukan Adipati Tejolaksono yang kini menjadi besar
jumlahnya bertemu dengan induk pasukan Lima Gagak Serayu. Terjadilah perang
tanding yang amat hebat! Perang tanding yang terjadi di lembah Serayu ini amat
hebat dan ia jadi cerita prajurit yang lolos dari maut untuk diceritakan kepada
anak cucu mereka kelak. Perang ini terkenal dengan sebutan Perang Serayu yang
amat dahsyat. Ribuan orang, sebagian besar di pihak gerombolan Bagelen dan
gerombolan Lembah Serayu, tewas dalam perang ini. Biarpun pihak pasukan Adipati
Tejolaksono kalah banyak, namun mereka ini menang semangat dan memang pasukan
pengawal Kadipaten Selopenangkep dan pasukan bantuan dari Panjalu adalah
pasukan istimewa yang rata-rata terdiri dari prajurit-prajurit gemblengan dan
pilihan. Apalagi karena mereka ini semua dipenuhi dendam kemarahan terhadap
para gerombolan yang sudah mengacau daerah mereka, sudah membinasakan dan
merusak dusun-dusun. Sepak terjang barisan di bawah pimpinan Adipati
Tejolaksono seperti banteng ketaton (terluka). Menurut cerita, sampai tiga hari
tiga malam perang tanding ini berlangsung, dan mereka yang berhenti untuk makan
atau tidur digantikan oleh rombongan lain. Adipati Tejolaksono sendiri menjadi
buah bibir semua orang yang ikut beryuda, baik dari pihak lawan maupun pihak
kawan. Barisan Selopenangkep menjadi makin besar semangatnya menyaksikan sepak
terjang Adipati Tejolaksono sedangkan pihak lawan menjadi giris hatinya.
Menurut cerita para prajurit
kemudian, jika lapar, sang adipati ini mengepal nasi dan makan dengan tangan
kanan sedangkan tangan kiri yang memegang keris terus mengamuk. Setiap kepal
nasi yang memasuki mulut diantar dengan nyawa seorang musuh yang roboh oleh
kerisnya! Bahkan ada yang bilang bahwa sang adipati ini tidur sambil berperang!
Jasmaninya tertidur, akan tetapi dalam tidur itu sang adipati bermimpi mengamuk
dan berperang merobohkan banyak sekali perajurit lawan!
Pada hari ke tiga,
terjadilah perang tanding yang amat dahsyat antara Adipati Tejolaksono yang
dihadapi oleh Lima Gagak Serayu sendiri! Di sinilah letak pertandingan yang
akan memutuskan keadaan perang itu. Lima Gagak Serayu adalah lima orang kakak
beradik yang tinggi besar dan memiliki kesaktian yang luar biasa, juga
masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri, akan tetapi rata-rata bertubuh
kebal. Banyak prajurit Selopenangkep yang roboh dan tewas di tangan mereka ini.
Golok dan tombak tak dapat melukai tubuh mereka dan sekali mereka menggunakan
bedog (golok) mereka yang lebar dan berat, tentu tubuh lawan terpotong menjadi
dua. Karena inilah maka Adipati Tejolaksono sengaja mencari mereka dan kini, di
waktu siang dan panas sedang membakar medan perang, sang adipati bertemu dengan
lima orang pimpinan barisan musuh itu. Orang pertama dari mereka adalah Gagak
Dwipa, yang paling sakti di antara mereka. Sama tinggi besar dengan
adik-adiknya, hanya karena ia paling kurus maka kelihatan paling tinggi.
Permainan bedog di tangannya amat cepat dan kuat dan memang dialah yang
terpandai di antara kelima orang Gagak Serayu itu. Orang ke dua adalah Gagak
Kroda yang memiliki tubuh paling besar dengan otot-otot melingkar-lingkar di
seluruh tubuh, terutama di kedua lengannya yang sebesar kaki manusia lumrah.
Demikian kuat dan kebal si
Gagak Kroda ini sehingga ia bersombong bahwa setiap pagi ia "sarapan"
golok dan tombak yang harus ditusuk-tusukkan dan dibacok-bacokkan pada tubuhnya
untuk menghilangkan gatal-gatal dan kekakuan tubuhnya! Orang ke tiga adalah
Gagak Tirta yang di samping kesaktiannya, juga memiliki keistimewaan bermain di
dalam air. Kabarnya dia ini sanggup menyelam ke dalam air sampai setengah hari
lamanya! Senjatanya juga bedog, akan tetapi dia memiliki sebuah senjata rahasia
yang aneh, yaitu sehelai jaring yang kuat sekali. Orang ke empat dan ke lima
adalah Gagak Maruta dan Gagak Legawa.
Sejenak Adipati Tejolaksono
yang berdiri berhadapan dengan lima orang lawannya itu memandang dengan mata
bersinar-sinar penuh kemarahan. Ia memandang dengan penuh perhatian lima orang
yang telah membikin kacau daerahnya ini, dan sinar matanya menyapu mereka
seperti lecutan cambuk sakti. Lima orang itu tak tahan menentang pandang mata
Adipati Tejolaksono dan untuk menyembunyikan kegentaran hati mereka
tertawa-tawa mengejek.
"Heh, si keparat Gagak
Serayu berlima! Sudah lama aku mendengar kejahatan kalian di sepanjang Lembah
Serayu, akan tetapi selama itu aku berdiam diri saja karena jalan hidup kita
memang tak pernah saling bersilang. Akan tetapi mengapa kalian berani
mengganggu Selopenangkep secara pengecut, selagi aku tidak berada di
sana?"
"Babo-babo, Adipati
Tejolaksono! Sudah lama kami menanti saat ini untuk berhadapan dengan senjata
di tangan denganmu! Ingatkah engkau ketika engkau dahulu masih menjadi seorang
bocah gunung yang hina? Ingatkah engkau bahwa sejak dahulu engkau memusuhi
orang-orang dari Bagelen dan Lembah Serayu?"
"Hemmm, aku tidak ingat
lagi karena terlampau banyak orang jahat yang terpaksa menjadi lawanku. Aku
tidak memusuhi siapa-siapa kecuali orang jahat, dari manapun datang dan
asalnyal"
"Ha-ha-ha-ha! Demi
setan jin brekasakan! Kau hendak memungkiri? Lupakah engkau kepada Ki
Krendoyakso dari Bagelen? Dia adalah kakak segemblengan kami! Dan lupa pula
engkau kepada Sang Dibyo Mamangkoro? Dia adalah bekas junjungan kami!"
No comments:
Post a Comment