Perawan Lembah Wilis; Bagian 035


Setelah memberi pesan kepada para sisa prajurit agar melakukan penjagaan di daerah itu, Adipati Tejolaksono lalu melompat
ke atas punggung kudanya dan membalapkan kuda itu terus ke barat, menuju Kadipaten Selopenangkep yang sudah tak jauh lagi letaknya. Hatinya makin gelisah karena dari para prajurit itu ia mendengar bahwa kadipaten sudah beberapa kali diserbu pasukan perampok yang amat kuat. Hari telah menjadi senja ketika ia memasuki kota kadipaten yang kelihatan sunyi, namun penuh dengan para pengawal yang melakukan penjagaan. Para perwira pengawal menyambut kedatangannya dengan wajah gembira, namun dengan pandang mata duka. Adipati Tejolaksono tidak mau membuang banyak waktu lagi, terus membalapkan kuda memasuki kota, menuju ke gedung kadipaten. Ia merasa betapa semua pandang mata para pengawal kepadanya mengandung iba dan duka, maka hatinya berdebar tidak enak ketika ia melompat turun dari kuda, menyerahkan kuda kepada seorang pengawal, kemudian ia meloncat dan lari memasuki gedungnya.
"Gusti Adipati tiba ……..!!”
"Gusti Adipati pulang... , kita tertolong..!!" Teriakan-teriakan ini menggema di seluruh kadipaten, bahkan masuk ke dalam gedung kadipaten sebelum Adipati Tejolaksono sampai ke ruangan dalam. Maka baru saja ia melewati pendopo, ia disambut Ayu Candra yang menjatuhkan diri berlutut, merangkul kakinya dan menangis! Di belakang Ayu Candra yang berpakaian perang, ringkas dan dalam keadaan siap, menyambut pula Setyaningsih dan Pusporini, dua orang gadis cilik yang juga menangis.

Bahkan dua orang gadis cilik inipun berpakaian ringkas, pakaian untuk bertanding dan di pinggang mereka yang kecil tampak gagang keris! Dapat dibayangkan betapa gelisah dan kaget hati Tejolaksono menyaksikan penyambutan isterinya ini. Cepat ia membungkuk, memegang kedua pundak isterinya dan menariknya bangun sambil berkata,
"Tenangkanlah hatimu, yayi, dan ceritakan apa yang terjadi di sini."
Ayu Candra masih terisak-isak ketika ia dituntun suaminya memasuki ruangan dalam dan diajak duduk di situ. Setyaningsih dan Pusporini tidak berani ikut masuk dan segera mengundurkan diri.
"Aduh, Kakangmas... malapetaka telah menimpa keluarga kita selama Kanda pergi..." Ayu Candra kembali menangis.
".... Bagus Seta... bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito..." Adipati Tejolaksono merasa seakan-akan jantungnya berhenti berdetik. Punggung dan tengkuknya terasa dingin sekali. Kemball ia meraih isterinya dan bertanya, suaranya gemetar,
"Ada apa dengan mereka? Mana Bagus Seto....?”
“.... serangan pertama....sebulan yang lalu... di malam hari terjadi tiba-tiba. Keadaan menjadi kacau dan...dan anak kita itu hilang...“
"Apa...? Tertawan oleh Lima Gagak Serayu??" Pertanyaan ini mengandung kemarahan besar terhadap pimpinan para penyerbu itu.
"Mudah-mudahan tidak begitu, Kakangmas AdIpati. Mereka itu amat keji dan kejam! Ada di antara para pengawal kita yang melihat bahwa pada malam terjadinya penyerbuan itu ada seekor harimau putih yang besar sekali lari keluar dari taman sari dan..... dan Bagus Seta menunggang di punggungnya ... "
"Aahhhh... harimau putih....? Ki Tunggaljiwa.....?"
"Mudah-mudahan begitulah seperti yang diperkirakan pula oleh mendiang ... bibi Kartikosari...“
"Haaaa....???" Kini Adipati Tejolaksono benar-benar terkejut, sampai pucat mukanya.
"Mendiang....?"
Ayu Candra terisak-isak dan berkata tersendat-sendat, "Tiga hari berikutnya....dalam perlawanan terhadap para musuh yang dipimpin sendiri oleh bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito... bibi Kartikosari tewas di tangan musuh”
"Dan bibi Roro Luhito....?"
"Terluka parah...kini beristirahat di kamarnya”
"Duh Jagad Dewa Bathara......!!" Adipati Tejolaksono duduk termenung seperti arca. Wajahnya pucat, matanya sayu dan bibirnya menggigil. Isterinya hanya menangis terisak-isak. Adipati Tejolaksono ingin sekali memukul kepala sendiri. Mala petaka hebat terjadi di rumahnya.

Puteranya lenyap, bibinya tewas dan yang seorang terluka, rakyatnya banyak yang dirampok, dibakar rumahnya, diperkosa dan dibunuh, para prajuritnya banyak pula yang tewas. Dan dia..., dia bersenang-senang memadu kasih bersama Endang Patibroto! Akan tetapi, haruskah ia menyalahkan diri sendiri? Ah, tidak bisa! Mereka berdua bukan sengaja hendak bersenang-senang! Mereka berdua bukan sengaja hendak memadu kasih karena terdorong nafsu belaka! Tidak! Mereka berduapun terancam bahaya hebat yang nyaris merenggut nyawa mereka. Dan keberangkatannya ke Blambangan adalah karena tugas yang dibebankan sang prabu ke atas pundaknya, seperti juga pada saat ini Endang Patibroto dibebani tugas menyerbu Blambangan. Nyawa manusia di tangan Hyang Widhi. Nyawa manusia setiap saat terancam maut. Kalau Hyang Widhi menghendaki, tiada kekuasaan apapun di dunia ini yang dapat merubah jalan hidup seseorang. Yang dapat merubah saat datangnya kematian!
"Bagaimanakah Bibi Kartikosari dan Bibi Roro Luhito yang sakti mandraguna sampai terkalahkan oleh musuh?"
"Kedua orang bibi itu tidak dapat menahan kemarahan ketika mendengar akan sepak terjang dan kekejaman para perampok yang merusak dusun-dusun di sekitar Selopenangkep. Mereka membawa pasukan dan mengejar jauh keluar kadipaten, ke dusun-dusun. Akan tetapi pasukan mereka terkepung dan karena jumlah lawan jauh lebih banyak, mereka terjebak dan dikeroyok oleh Lima Gagak Serayu dengan anak buah mereka. Bibi Kartikosari terluka parah dan biarpun dapat dilarikan oleh Bibi Roro Luhito yang juga luka-luka sampai ke kadipaten, namun Bibi Kartikosari meninggal karena terlalu banyak kehilangan darah. Beberapa kali kadipaten diserbu musuh, namun kami dan para pengawal yang setia dapat mempertahankan kadipaten."
"Sudahlah, keringkan air matamu, nimas. Setelah aku berada di sini, aku akan membalaskan kematian Bibi Kartikosari, kemudian setelah musuh dapat terbasmi, aku akan menyusul Bagus Seta ke Merapi."
Adipati Tejolaksono tidak membuang waktu lagi. Ia menengok Roro Luhito yang biarpun terluka parah namun tidak membahayakan nyawanya.
"Sayang kau datang terlambat.... sebetulnya aku dan Bibimu Kartikosari tidak akan kalah melawah Lima Gagak Serayu...akan
tetapi.... musuh terlalu banyak.... dan Bibimu Kartikosari mengamuk, memisahkan diri... ah, maafkan, anakku. Kami tidak dapat menjaga... puteramu Bagus Seta...”
"Sudahlah, Kanjeng Bibi. Yang sudah terjadi tidak perlu disesalkan lagi. Semua sudah dikehendaki Hyang Widhi. Pembelaan sudah cukup dan saya amat berterima kasih. Saya sendiri akan menghajar Lima Gagak Serayu!" kata Adipati Tejolaksono.

Adipati ini segera mengumpulkan semua pengawal dan barisan bantuan dari Panjalu, menyusun barisan dan rnembagi-bagi tugas. Sebagian daripada pasukan bertugas menjaga kadipaten, dipimpin sendiri oleh Ayu Candra. Kemudian Adipati Tejolaksono memimpin pasukan pilihan, keluar dari kadipaten dan mulailah pasukan istimewa ini melakukan pengejaran dan pembersihan ke dusun-dusun di sekitar Selopenangkep. Karena dipimpin sendiri oleh Adipati Tejolaksono yang sakti mandraguna, maka semangat pasukan ini hebat sekali. Setiap gerombolan perampok yang mengganas dan bertemu dengan pasukan ini dihancurkan, jarang ada yang dapat melarikan diri. Mawutlah gerombolan-gerombolan perampok Bagelen dan Lembah Serayu. Mereka mundur terus bahkan lalu menggabung dengan induk pasukan di sebelah barat, dan terus dikejar oleh Adipati Tejolaksono. Pasukan sang adipati makin lama makin besar karena ke manapun pasukan itu tiba, selalu disambut oleh rakyat yang menjadi girang sekali dan di situlah pasukan bertambah besar dengan adanya rakyat yang menggabungkan diri untuk membalas dendam kepada perampok yang mengganas selama ini. Bala bantuan dari Panjalu yang diminta oleh Adipati Tejolaksono yang mengirim utusan ke sana, tiba tak lama kemudian, maka makin kuatlah barisan Kadipaten Selopenangkep. Akhirnya, setelah mengejar dan menghancurkan banyak gerombolan sebulan kemudian pasukan Adipati Tejolaksono yang kini menjadi besar jumlahnya bertemu dengan induk pasukan Lima Gagak Serayu. Terjadilah perang tanding yang amat hebat! Perang tanding yang terjadi di lembah Serayu ini amat hebat dan ia jadi cerita prajurit yang lolos dari maut untuk diceritakan kepada anak cucu mereka kelak. Perang ini terkenal dengan sebutan Perang Serayu yang amat dahsyat. Ribuan orang, sebagian besar di pihak gerombolan Bagelen dan gerombolan Lembah Serayu, tewas dalam perang ini. Biarpun pihak pasukan Adipati Tejolaksono kalah banyak, namun mereka ini menang semangat dan memang pasukan pengawal Kadipaten Selopenangkep dan pasukan bantuan dari Panjalu adalah pasukan istimewa yang rata-rata terdiri dari prajurit-prajurit gemblengan dan pilihan. Apalagi karena mereka ini semua dipenuhi dendam kemarahan terhadap para gerombolan yang sudah mengacau daerah mereka, sudah membinasakan dan merusak dusun-dusun. Sepak terjang barisan di bawah pimpinan Adipati Tejolaksono seperti banteng ketaton (terluka). Menurut cerita, sampai tiga hari tiga malam perang tanding ini berlangsung, dan mereka yang berhenti untuk makan atau tidur digantikan oleh rombongan lain. Adipati Tejolaksono sendiri menjadi buah bibir semua orang yang ikut beryuda, baik dari pihak lawan maupun pihak kawan. Barisan Selopenangkep menjadi makin besar semangatnya menyaksikan sepak terjang Adipati Tejolaksono sedangkan pihak lawan menjadi giris hatinya.
Menurut cerita para prajurit kemudian, jika lapar, sang adipati ini mengepal nasi dan makan dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri yang memegang keris terus mengamuk. Setiap kepal nasi yang memasuki mulut diantar dengan nyawa seorang musuh yang roboh oleh kerisnya! Bahkan ada yang bilang bahwa sang adipati ini tidur sambil berperang! Jasmaninya tertidur, akan tetapi dalam tidur itu sang adipati bermimpi mengamuk dan berperang merobohkan banyak sekali perajurit lawan!

Pada hari ke tiga, terjadilah perang tanding yang amat dahsyat antara Adipati Tejolaksono yang dihadapi oleh Lima Gagak Serayu sendiri! Di sinilah letak pertandingan yang akan memutuskan keadaan perang itu. Lima Gagak Serayu adalah lima orang kakak beradik yang tinggi besar dan memiliki kesaktian yang luar biasa, juga masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri, akan tetapi rata-rata bertubuh kebal. Banyak prajurit Selopenangkep yang roboh dan tewas di tangan mereka ini. Golok dan tombak tak dapat melukai tubuh mereka dan sekali mereka menggunakan bedog (golok) mereka yang lebar dan berat, tentu tubuh lawan terpotong menjadi dua. Karena inilah maka Adipati Tejolaksono sengaja mencari mereka dan kini, di waktu siang dan panas sedang membakar medan perang, sang adipati bertemu dengan lima orang pimpinan barisan musuh itu. Orang pertama dari mereka adalah Gagak Dwipa, yang paling sakti di antara mereka. Sama tinggi besar dengan adik-adiknya, hanya karena ia paling kurus maka kelihatan paling tinggi. Permainan bedog di tangannya amat cepat dan kuat dan memang dialah yang terpandai di antara kelima orang Gagak Serayu itu. Orang ke dua adalah Gagak Kroda yang memiliki tubuh paling besar dengan otot-otot melingkar-lingkar di seluruh tubuh, terutama di kedua lengannya yang sebesar kaki manusia lumrah.
Demikian kuat dan kebal si Gagak Kroda ini sehingga ia bersombong bahwa setiap pagi ia "sarapan" golok dan tombak yang harus ditusuk-tusukkan dan dibacok-bacokkan pada tubuhnya untuk menghilangkan gatal-gatal dan kekakuan tubuhnya! Orang ke tiga adalah Gagak Tirta yang di samping kesaktiannya, juga memiliki keistimewaan bermain di dalam air. Kabarnya dia ini sanggup menyelam ke dalam air sampai setengah hari lamanya! Senjatanya juga bedog, akan tetapi dia memiliki sebuah senjata rahasia yang aneh, yaitu sehelai jaring yang kuat sekali. Orang ke empat dan ke lima adalah Gagak Maruta dan Gagak Legawa.

Sejenak Adipati Tejolaksono yang berdiri berhadapan dengan lima orang lawannya itu memandang dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan. Ia memandang dengan penuh perhatian lima orang yang telah membikin kacau daerahnya ini, dan sinar matanya menyapu mereka seperti lecutan cambuk sakti. Lima orang itu tak tahan menentang pandang mata Adipati Tejolaksono dan untuk menyembunyikan kegentaran hati mereka tertawa-tawa mengejek.
"Heh, si keparat Gagak Serayu berlima! Sudah lama aku mendengar kejahatan kalian di sepanjang Lembah Serayu, akan tetapi selama itu aku berdiam diri saja karena jalan hidup kita memang tak pernah saling bersilang. Akan tetapi mengapa kalian berani mengganggu Selopenangkep secara pengecut, selagi aku tidak berada di sana?"
"Babo-babo, Adipati Tejolaksono! Sudah lama kami menanti saat ini untuk berhadapan dengan senjata di tangan denganmu! Ingatkah engkau ketika engkau dahulu masih menjadi seorang bocah gunung yang hina? Ingatkah engkau bahwa sejak dahulu engkau memusuhi orang-orang dari Bagelen dan Lembah Serayu?"
"Hemmm, aku tidak ingat lagi karena terlampau banyak orang jahat yang terpaksa menjadi lawanku. Aku tidak memusuhi siapa-siapa kecuali orang jahat, dari manapun datang dan asalnyal"
"Ha-ha-ha-ha! Demi setan jin brekasakan! Kau hendak memungkiri? Lupakah engkau kepada Ki Krendoyakso dari Bagelen? Dia adalah kakak segemblengan kami! Dan lupa pula engkau kepada Sang Dibyo Mamangkoro? Dia adalah bekas junjungan kami!"

<<< Bagian 034                                                                                    Bagian 036 >>>

No comments:

Post a Comment