Perawan Lembah Wilis; Bagian 034


Dan untuk semua jasanya itu, Pangeran Panjirawit, suaminya, ditangkap bahkan mengorbankan nyawanya terkena anak panah ketika dikeroyok! Yang paling menyesal dan berduka adalah Sang Prabu Jenggala sendiri. Raja yang sudah mulai tua itu sampai berlinang air mata mendengar semua itu. Panjirawit adalah puteranya dan dia sendiri yang membunuh puteranya melalui tangan para prajuritnya ketika mereka ini mengeroyok Endang Patibroto! Karena menyesal dan berduka, sang prabu menjadi marah sekali kepada Blambangan dan setelah menerima pelaporan Adipati Tejolaksono dan Endang Patibroto, seketika itu juga Sang Prabu di Jenggala mengumumkan perang terhadap Blambangan, memerintahkan barisan besar untuk menggempur Blambangan dan menyerahkan pimpinan pasukan kepada Endang Patibroto sendiri! Adapun Adipati Tejolaksono, sebagai seorang ponggawa Panjalu, lalu berpisah dari Endang Patibroto yang terpaksa harus mempersiapkan pasukan-pasukan Jenggala, untuk menghadap sang prabu di Panjalu menyampaikan laporan.
"Adinda, untuk sementara kita harus berpisah. Engkau laksanakanlah perintah. Sang Prabu dan persiapkan pasukan yang kuat. Aku akan melaporkan ke Panjalu, dan tidak lama aku tentu akan memimpin pasukan Panjalu untuk menggabung dan kita berdua akan kembali ke Blambangan membawa pasukan kuat dan mengancurkan Blambangan."
Endang Patibroto mengangguk. Betapapun besarnya cinta kasihnya kepada Adipati Tejolaksono dan betapapun inginnya tidak berpisah lagi dari suaminya ini, namun sebagai seorang perkasa ia mengenal kewajiban. Sudah pulih kembali kegagahannya, sudah bangkit lagi jiwa ksatrianya.
"Baiklah, kakanda. Akan tetapi jangan terlalu lama Kakanda ke Panjalu. Saya menanti dan kita bersama akan pergi menggempur Blambangan."
Adipati Tejolaksono lalu meninggalkan Jenggala sedangkan Endang Patibroto mulai mempersiapkan dan melatih pasukan sambil membuat rencana dengan para senopati yang akan ikut menggempur Blambangan. Para senopati yang kini sudah tahu akan duduknya perkara, dan sudah mengenal kesaktian wanita ini, semua tunduk dan taat akan perintahnya. Juga sang prabu di Panjalu bersama para senopati tercengang mendengar laporan yang disampaikan Adipati Tejolaksono. Sungguh tidak mereka duga bahwa Blambanganlah yang menjadi biang keladi semua peristiwa itu. Pangeran Darmokusumo tidak menyesal mendengar betapa Endang Patibroto menyerbunya karena dihasut oleh Wiku Kalawisesa, bahkan ia menjadi marah sekali kepada Blambangan. Seketika itu juga Pangeran Darmokusumo mohon kepada sang prabu untuk memimpin barisan Panjalu menggempur Blambangan!
"Biarlah hamba menggabungkan barisan Panjalu dengan barisan Jenggala yang dipimpin yayi Endang Patibroto, Kanjeng Rama. Hamba harus membalas kematian Adimas Pangeran Panjirawit! Juga kematian para ponggawa harus dibalas!"
"Hamba juga siap untuk membantu dalam perang melawan Blambangan!" kata pula Adipati Tejolaksono penuh semangat.
"Seyogianya memang andika yang paling tepat memimpin barisan menjadi senopati perang, Kakang Adipati," kata Pangeran Darmokusumo.
"Akan tetapi ..." Pangeran ini menghentikan kata-katanya dan memandang kepada ramandanya.
Adipati Tejolaksono dapat menangkap pandang mata ini. Hatinya merasa tidak enak sekali dan ia cepat bertanya,
"Ada apakah, Gusti Pangeran? Apakah yang terjadi?"
Sang prabu mendehem beberapa kali, lalu menarik napas panjang.
"Adlpatiku yang baik! Kami khawatir bahwa engkau tak mungkin ikut menggempur Blambangan dan harus cepat kembali ke Selopenangkep. Ketahuilah bahwa sepergimu dari sana, Selopenangkep telah diserbu oleh pasukan-pasukan dari barat yang kabarnya adalah gabungan dari para pemberontak Bagelen dan kerajaan-kerajaan kecil di Lembah Serayu yang dipimpin oleh Gagak Dwipa. Kami telah mengirim pasukan bantuan ke Selopenangkep dan perang di daerah itu masih belum dapat dipadamkan. Karena itu, engkau harus cepat pergi ke sana untuk menanggulangi musuh dari barat itu!"
Di dalam hatinya, sang adipati kaget bukan main, namun wajahnya yang tampan tidak menampakkan perasaan hatinya ini. Teringat ia akan ucapan kakek tua renta yang memperingatkannya di dalam hutan. Kakek pemelihara macan putlih itu telah memperingatkan bahwa ia akan segera meninggalkan Selopenangkep, dan telah membayangkan bahwa akan datang malapetaka sebagai hukumannya atas kedosaannya membunuh anak harimau yang tak bersalah apa-apa.
"Hamba menerima titah paduka, Gusti. Hamba akan segera kembali ke Selopenangkep. Hanya karena hamba tadinya telah berjanji dengan yayi Endang Patibroto untuk bersama-sama menggempur Biambangan, maka hamba mohon kepada Gusti Pangeran Darmokusumo untuk menyampaikan halangan ini kepada Yayi Dewi Endang Patibroto."
"Baiklah, Kakang Adipati Tejolaksono," jawab Pangeran Darmokusumo.

Setelah bermohon diri, berangkatlah Adipati Tejolaksono menuju pulang ke Selopenangkep. Ia menunggang sebuah kuda besar yang kuat karena kuda tunggangannya sendiri yang dibawanya ketika melakukan pengejaran ke Blambangan, masih ia titipkan pada seorang dusun dan ketika ia melarikan diri bersama Endang Patibroto melalui terowongan, tak dapat ia mengambilnya kembali. Kuda tunggangannya inipun bukan kuda sembarangan karena kuda ini pemberian Sang Prabu Panjalu sendiri. Tejolaksono melakukan perjalanan siang malam dengan cepat. Hatinya mulai gelisah sekali. Ia memang percaya penuh kepada isterinya yang bukan orang lemah, apalagi di sana terdapat kedua orang bibinya, Kartikosari dan Roro Luhito yang sukar dicari tandingannya, di samping para pengawalnya yang pilihan dan terlatih pula. Ia tidak akan merasa gelisah kalau Selopenangkep hanya menghadapi serangan gerombolan-gerombolan liar. Akan tetapi kali ini yang menyerang adalah pasukan-pasukan besar yang dipimpin oleh Gagak Dwipa! Dan ia sudah cukup mendengar tentang kekuatan pasukan-pasukan Bagelen dan Lembah Serayu! Tahu pula akan kesaktian dan kekejaman Lima Gagak Serayu! Ia sudah mendengar betapa Lima Gagak Serayu ini sudah bertahun-tahun merajalela di sepanjang Lembah Serayu. Akan tetapi oleh karena mereka itu tidak pernah mengganggu wilayah Selopenangkep, ia membiarkannya saja. Kini mendengar mereka itu menyerbu Selopenangkep dengan pasukan besar yang digabungkan dengan pasukan Bagelen, inilah hebat dan berbahaya! Lebih tidak enak lagi hatinya ketika ia sudah tiba di wilayah Selopenangkep sebelah timur, la melihat banyak penduduk dusun yang pergi mengungsi ke timur. Mereka ini tidak mengenal adipati mereka yang ketika ditanya mereka mengatakan bahwa pasukan-pasukan Bagelen dan Lembah Serayu membakari dusun-dusun di sebelah barat, membunuh dan merampok, memperkosa wanita-wanita muda dan bahwa Selopenangkep setiap hari sudah diserbu oleh para pengacau!
"Selopenangkep tidak akan dapat bertahan lama!"
Demikian penuturan seorang di antara mereka.
"Dan lebih baik kamu mengungsi lebih dulu sebelum para perampok itu datang menyerbu ke dusun kami."
Sakit hati Adipati Tejolaksono mendengar ini.
"Si keparat Lima Gagak Serayu! Berani engkau mengganggu rakyatku selama aku tidak berada di Selopenangkep!" geram hatinya dan ia melanjutkan perjalanannya dengan cepat. Kurang lebih sepuluh pal lagi jauhnya dari kota kadipaten, dari jauh ia mendengar ribut-ribut di dalam dusun di depan, bahkan tampak asap mengepul tinggi. Mereka telah berani merampoki dusun-dusun di sekeliling Selopenangkep yang hanya sepuluh pal jauhnya! Tejolaksono membalapkan kudanya yang sudah lelah itu masuk ke dusun dan amarahnya berkobar-kobar ketika ia melihat banyak sekali perampok tinggi besar sedang mengamuk di dusun. Para penduduk lari cerai berai dan mayat berserakan. Empat buah rumah sudah terbakar. Jerit lengking wanita terdengar di sana-sini. Dan di tengah-tengah dusun terjadi perang tanding mati-matian antara tiga puluh orang lebih prajurit Panjalu melawan perampok.
Akan tetapi tidak seimbang perang itu. Pihak perampok ada seratus orang lebih dan pihak prajurit sudah terdesak hebat!
"Bedebah!" seru Tejolaksono dan pada saat itu terdengar jerit mengerikan keluar dari sebuah rumah terdekat. Tejolaksono melompat turun dan atas kudanya. Jerit itu adalah jerit wanita, maka ia harus mendahulukan untuk menolongnya. Sekali tendang, daun pintu ambrol dan tubuhnya melesat ke dalam dengan penuh kemarahan. Tangannya menyambar dan terangkatlah tubuh tinggi besar itu seperti seekor anak ayam disambar elang. Di lain saat tubuh Tejolaksono sudah berada di luar rumah dan sekali ia membanting, tubuh orang tinggi besar itu sudah ia banting. Orang itu menjerit satu kali dan tak bergerak lagi karena kepalanya pecah dan tulang-tulang iganya berantakan! Wanita di dalam jatuh pingsan dengan pakaian robek-robek! Adipati Tejolaksono yang sudah menjadi marah laksana seekor harimau kelaparan mencium darah, kini berlari ke depan. Ia menyelinap ke kanan ketika mendengar pekik wanita yang meronta-ronta dan dipanggul di atas pundak seorang perampok yang tertawa-tawa.
Wanita ini masih muda, rambutnya awut-awutan, pakaiannya robek-robek hampir telanjang. Ia meronta dan menjerit minta dilepaskan. Tiba-tiba tubuh wanita itu terlepas karena sekali pundak perampok itu tercium jari tangan Tejolaksono, seketika tangannya lumpuh. Wanita itu terjatuh lalu melarikan diri. Si perampok memandang ganas kepada Tejolaksono, akan tetapi sebelum ia sempat bergerak, kaki Tejolaksono menyambar ke depan, mengenai pusatnya dan............ perampok itu terlempar sampai lima meter dan roboh dengan mata mendelik dan napas putus karena isi perutnya sudah hancur lebur di balik kulit perut yang menjadi biru menghitam!

Kini mengamuklah Adipati Tejolaksono. Biarpun ia menggunakan tangan kosong, namun ketika ia menyerbu ke dalam pertempuran, mawutlah pihak perampok. Siapa saja pihak perampok yang kena digerayang tangannya yang penuh dengan Aji Pethit Nogo, tentu terpelanting dengan kepala pecah, tidak usah dipukul sampai dua kali! Para prajurit Panjalu menjadi besar hati melihat ini, apalagi ketika mereka mengenal siapa jagoan Sakti yang membantu mereka ini.
"Sang Adipati telah tiba............ !”
"Gusti Adipati Tejolaksono telah pulang……!”
"Hidup Gusti Adipati.,.....!!"
Adipati Tejolaksono yang sudah marah sekali berkelebat maju dan sekali bergerak, tiga orang perampok terpelanting tak bernyawa lagi terkena pukulan kedua tangan dan disusul sebuah tendangannya! Kini Tejolaksono melihat pemimpin perampok yang bermuka hitam bermata besar. Pemimpin ini memegang sebatang golok besar yang sudah berlepotan darah. Pemimpin perampok inilah yang sudah menjatuhkan banyak korban di antara para prajurit dan penduduk dusun karena memang ia kuat sekali. Meluap kemarahan Adipati Tejolaksono. Ia melompat jauh dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan si kepala rampok.
"Setan keparat!!" Tejolaksono memaki.
Perampok bermuka hitam itu tadi sedang enak membabati musuh maka tidak melihat sepak terjang Tejolaksono yang menggiriskan hati. Kini ia tertawa,
"Ha- ha-hal Babo-babo, siapa lagi ini yang ingin mampus?" Goloknya membabat dari kanan ke kiri, mengarah leher Adipati Tejolaksono. Ia sudah tertawa-tawa membayangkan betapa leher itu akan putus dan muka yang tampan itu akan menggelinding bersama kepalanya seperti korban-korbanya yang lain karena goloknya menyambar amat cepatnya dan kelihatannya takkan dapat dihindarkan lawan.
"Singgg...." Ia terbelalak karena tahu-tahu goloknya mengenai angin ketika orang yang diserangnya itu menunduk. Goloknya lewat tidak ada sejengkal dari kepala orang itu dan tahu-tahu entah bagaimana ia tidak tahu, orang itu sudah menyentuh siku kanannya dan goloknya terlepas dari pegangan karena tiba-tiba lengannya lumpuh. Golok itu sebelum tiba di tanah, telah disambar oleh Tejolaksono sehingga kini golok berpindah tangan! Kepala rampok itu marah sekali, menggunakan tangan kirinya memukul, pukulan dengan kepalan tangan sebesar buah kelapa! Tejolaksono mengangkat tangan kiri menangkis.
"Krakkkk!!" Orang itu berteriak kesakitan karena tulang lengannya patah! Ia terbelalak, kini baru merasa ... jerih!
"Siapa....siapa engkau?" tanyanya gagap.
"Adipati Tejolaksono namaku!"
"Aahhhhh.....!" Kepala rampok bermuka hitam itu berteriak kaget akan tetapi pada saat itu juga, kepalanya sudah mencelat ketika lehernya terbabat putus oleh goloknya sendiri!
Para prajurit Panjalu bersorak gembira, sebaliknya para perampok menjadi panik dan ketakutan. Karena mereka ini sudah kacau-balau, enak saja Adipati Tejolaksono dan para prajurit membabati mereka sehingga banyak sekali anak buah perampok roboh binasa. Yang lain-lain segera lari pontang-panting menyelamatkan diri. Adipati Tejolaksono mematah-matahkan golok rampasannya dengan kedua tangan menjadi tujuh potong. Kemudian kedua tangannya itu digerakkan ke depan dan "cet-cet-cet-cet-cet-cet-cet!!” tujuh sinar meluncur ke depan dan robohlah tujuh orang perampok yang berusaha lari karena punggung mereka telah dimasuki potongan-potongan golok itu. Bahkan yang menyisip tulang sampai tembus keluar dari dada. Para prajurit bersorak-sorak dan mengejar para perampok yang makin ketakutan. Hanya belasan orang perampok saja yang berhasil melarikan diri dan dusun itu kini penuh dengan tumpukan mayat para perampok!

<<< Bagian 033                                                                                    Bagian 035 >>>

No comments:

Post a Comment