Dan untuk semua jasanya itu, Pangeran Panjirawit, suaminya, ditangkap bahkan mengorbankan nyawanya terkena anak panah ketika dikeroyok! Yang paling menyesal dan berduka adalah Sang Prabu Jenggala sendiri. Raja yang sudah mulai tua itu sampai berlinang air mata mendengar semua itu. Panjirawit adalah puteranya dan dia sendiri yang membunuh puteranya melalui tangan para prajuritnya ketika mereka ini mengeroyok Endang Patibroto! Karena menyesal dan berduka, sang prabu menjadi marah sekali kepada Blambangan dan setelah menerima pelaporan Adipati Tejolaksono dan Endang Patibroto, seketika itu juga Sang Prabu di Jenggala mengumumkan perang terhadap Blambangan, memerintahkan barisan besar untuk menggempur Blambangan dan menyerahkan pimpinan pasukan kepada Endang Patibroto sendiri! Adapun Adipati Tejolaksono, sebagai seorang ponggawa Panjalu, lalu berpisah dari Endang Patibroto yang terpaksa harus mempersiapkan pasukan-pasukan Jenggala, untuk menghadap sang prabu di Panjalu menyampaikan laporan.
"Adinda, untuk
sementara kita harus berpisah. Engkau laksanakanlah perintah. Sang Prabu dan
persiapkan pasukan yang kuat. Aku akan melaporkan ke Panjalu, dan tidak lama
aku tentu akan memimpin pasukan Panjalu untuk menggabung dan kita berdua akan
kembali ke Blambangan membawa pasukan kuat dan mengancurkan Blambangan."
Endang Patibroto mengangguk.
Betapapun besarnya cinta kasihnya kepada Adipati Tejolaksono dan betapapun
inginnya tidak berpisah lagi dari suaminya ini, namun sebagai seorang perkasa
ia mengenal kewajiban. Sudah pulih kembali kegagahannya, sudah bangkit lagi
jiwa ksatrianya.
"Baiklah, kakanda. Akan
tetapi jangan terlalu lama Kakanda ke Panjalu. Saya menanti dan kita bersama
akan pergi menggempur Blambangan."
Adipati Tejolaksono lalu
meninggalkan Jenggala sedangkan Endang Patibroto mulai mempersiapkan dan
melatih pasukan sambil membuat rencana dengan para senopati yang akan ikut
menggempur Blambangan. Para senopati yang kini sudah tahu akan duduknya
perkara, dan sudah mengenal kesaktian wanita ini, semua tunduk dan taat akan
perintahnya. Juga sang prabu di Panjalu bersama para senopati tercengang
mendengar laporan yang disampaikan Adipati Tejolaksono. Sungguh tidak mereka
duga bahwa Blambanganlah yang menjadi biang keladi semua peristiwa itu.
Pangeran Darmokusumo tidak menyesal mendengar betapa Endang Patibroto
menyerbunya karena dihasut oleh Wiku Kalawisesa, bahkan ia menjadi marah sekali
kepada Blambangan. Seketika itu juga Pangeran Darmokusumo mohon kepada sang
prabu untuk memimpin barisan Panjalu menggempur Blambangan!
"Biarlah hamba
menggabungkan barisan Panjalu dengan barisan Jenggala yang dipimpin yayi Endang
Patibroto, Kanjeng Rama. Hamba harus membalas kematian Adimas Pangeran
Panjirawit! Juga kematian para ponggawa harus dibalas!"
"Hamba juga siap untuk
membantu dalam perang melawan Blambangan!" kata pula Adipati Tejolaksono
penuh semangat.
"Seyogianya memang
andika yang paling tepat memimpin barisan menjadi senopati perang, Kakang
Adipati," kata Pangeran Darmokusumo.
"Akan tetapi ..."
Pangeran ini menghentikan kata-katanya dan memandang kepada ramandanya.
Adipati Tejolaksono dapat
menangkap pandang mata ini. Hatinya merasa tidak enak sekali dan ia cepat
bertanya,
"Ada apakah, Gusti
Pangeran? Apakah yang terjadi?"
Sang prabu mendehem beberapa
kali, lalu menarik napas panjang.
"Adlpatiku yang baik!
Kami khawatir bahwa engkau tak mungkin ikut menggempur Blambangan dan harus
cepat kembali ke Selopenangkep. Ketahuilah bahwa sepergimu dari sana,
Selopenangkep telah diserbu oleh pasukan-pasukan dari barat yang kabarnya
adalah gabungan dari para pemberontak Bagelen dan kerajaan-kerajaan kecil di
Lembah Serayu yang dipimpin oleh Gagak Dwipa. Kami telah mengirim pasukan
bantuan ke Selopenangkep dan perang di daerah itu masih belum dapat dipadamkan.
Karena itu, engkau harus cepat pergi ke sana untuk menanggulangi musuh dari
barat itu!"
Di dalam hatinya, sang
adipati kaget bukan main, namun wajahnya yang tampan tidak menampakkan perasaan
hatinya ini. Teringat ia akan ucapan kakek tua renta yang memperingatkannya di
dalam hutan. Kakek pemelihara macan putlih itu telah memperingatkan bahwa ia
akan segera meninggalkan Selopenangkep, dan telah membayangkan bahwa akan
datang malapetaka sebagai hukumannya atas kedosaannya membunuh anak harimau
yang tak bersalah apa-apa.
"Hamba menerima titah
paduka, Gusti. Hamba akan segera kembali ke Selopenangkep. Hanya karena hamba
tadinya telah berjanji dengan yayi Endang Patibroto untuk bersama-sama
menggempur Biambangan, maka hamba mohon kepada Gusti Pangeran Darmokusumo untuk
menyampaikan halangan ini kepada Yayi Dewi Endang Patibroto."
"Baiklah, Kakang
Adipati Tejolaksono," jawab Pangeran Darmokusumo.
Setelah bermohon diri,
berangkatlah Adipati Tejolaksono menuju pulang ke Selopenangkep. Ia menunggang
sebuah kuda besar yang kuat karena kuda tunggangannya sendiri yang dibawanya
ketika melakukan pengejaran ke Blambangan, masih ia titipkan pada seorang dusun
dan ketika ia melarikan diri bersama Endang Patibroto melalui terowongan, tak
dapat ia mengambilnya kembali. Kuda tunggangannya inipun bukan kuda sembarangan
karena kuda ini pemberian Sang Prabu Panjalu sendiri. Tejolaksono melakukan
perjalanan siang malam dengan cepat. Hatinya mulai gelisah sekali. Ia memang
percaya penuh kepada isterinya yang bukan orang lemah, apalagi di sana terdapat
kedua orang bibinya, Kartikosari dan Roro Luhito yang sukar dicari
tandingannya, di samping para pengawalnya yang pilihan dan terlatih pula. Ia
tidak akan merasa gelisah kalau Selopenangkep hanya menghadapi serangan
gerombolan-gerombolan liar. Akan tetapi kali ini yang menyerang adalah
pasukan-pasukan besar yang dipimpin oleh Gagak Dwipa! Dan ia sudah cukup
mendengar tentang kekuatan pasukan-pasukan Bagelen dan Lembah Serayu! Tahu pula
akan kesaktian dan kekejaman Lima Gagak Serayu! Ia sudah mendengar betapa Lima
Gagak Serayu ini sudah bertahun-tahun merajalela di sepanjang Lembah Serayu.
Akan tetapi oleh karena mereka itu tidak pernah mengganggu wilayah
Selopenangkep, ia membiarkannya saja. Kini mendengar mereka itu menyerbu Selopenangkep
dengan pasukan besar yang digabungkan dengan pasukan Bagelen, inilah hebat dan
berbahaya! Lebih tidak enak lagi hatinya ketika ia sudah tiba di wilayah
Selopenangkep sebelah timur, la melihat banyak penduduk dusun yang pergi
mengungsi ke timur. Mereka ini tidak mengenal adipati mereka yang ketika
ditanya mereka mengatakan bahwa pasukan-pasukan Bagelen dan Lembah Serayu
membakari dusun-dusun di sebelah barat, membunuh dan merampok, memperkosa
wanita-wanita muda dan bahwa Selopenangkep setiap hari sudah diserbu oleh para
pengacau!
"Selopenangkep tidak
akan dapat bertahan lama!"
Demikian penuturan seorang
di antara mereka.
"Dan lebih baik kamu
mengungsi lebih dulu sebelum para perampok itu datang menyerbu ke dusun
kami."
Sakit hati Adipati
Tejolaksono mendengar ini.
"Si keparat Lima Gagak
Serayu! Berani engkau mengganggu rakyatku selama aku tidak berada di
Selopenangkep!" geram hatinya dan ia melanjutkan perjalanannya dengan
cepat. Kurang lebih sepuluh pal lagi jauhnya dari kota kadipaten, dari jauh ia
mendengar ribut-ribut di dalam dusun di depan, bahkan tampak asap mengepul
tinggi. Mereka telah berani merampoki dusun-dusun di sekeliling Selopenangkep
yang hanya sepuluh pal jauhnya! Tejolaksono membalapkan kudanya yang sudah
lelah itu masuk ke dusun dan amarahnya berkobar-kobar ketika ia melihat banyak
sekali perampok tinggi besar sedang mengamuk di dusun. Para penduduk lari cerai
berai dan mayat berserakan. Empat buah rumah sudah terbakar. Jerit lengking
wanita terdengar di sana-sini. Dan di tengah-tengah dusun terjadi perang
tanding mati-matian antara tiga puluh orang lebih prajurit Panjalu melawan
perampok.
Akan tetapi tidak seimbang
perang itu. Pihak perampok ada seratus orang lebih dan pihak prajurit sudah
terdesak hebat!
"Bedebah!" seru
Tejolaksono dan pada saat itu terdengar jerit mengerikan keluar dari sebuah
rumah terdekat. Tejolaksono melompat turun dan atas kudanya. Jerit itu adalah
jerit wanita, maka ia harus mendahulukan untuk menolongnya. Sekali tendang,
daun pintu ambrol dan tubuhnya melesat ke dalam dengan penuh kemarahan.
Tangannya menyambar dan terangkatlah tubuh tinggi besar itu seperti seekor anak
ayam disambar elang. Di lain saat tubuh Tejolaksono sudah berada di luar rumah
dan sekali ia membanting, tubuh orang tinggi besar itu sudah ia banting. Orang
itu menjerit satu kali dan tak bergerak lagi karena kepalanya pecah dan
tulang-tulang iganya berantakan! Wanita di dalam jatuh pingsan dengan pakaian
robek-robek! Adipati Tejolaksono yang sudah menjadi marah laksana seekor
harimau kelaparan mencium darah, kini berlari ke depan. Ia menyelinap ke kanan
ketika mendengar pekik wanita yang meronta-ronta dan dipanggul di atas pundak
seorang perampok yang tertawa-tawa.
Wanita ini masih muda,
rambutnya awut-awutan, pakaiannya robek-robek hampir telanjang. Ia meronta dan
menjerit minta dilepaskan. Tiba-tiba tubuh wanita itu terlepas karena sekali
pundak perampok itu tercium jari tangan Tejolaksono, seketika tangannya lumpuh.
Wanita itu terjatuh lalu melarikan diri. Si perampok memandang ganas kepada Tejolaksono,
akan tetapi sebelum ia sempat bergerak, kaki Tejolaksono menyambar ke depan,
mengenai pusatnya dan............ perampok itu terlempar sampai lima meter dan
roboh dengan mata mendelik dan napas putus karena isi perutnya sudah hancur
lebur di balik kulit perut yang menjadi biru menghitam!
Kini mengamuklah Adipati
Tejolaksono. Biarpun ia menggunakan tangan kosong, namun ketika ia menyerbu ke
dalam pertempuran, mawutlah pihak perampok. Siapa saja pihak perampok yang kena
digerayang tangannya yang penuh dengan Aji Pethit Nogo, tentu terpelanting
dengan kepala pecah, tidak usah dipukul sampai dua kali! Para prajurit Panjalu
menjadi besar hati melihat ini, apalagi ketika mereka mengenal siapa jagoan
Sakti yang membantu mereka ini.
"Sang Adipati telah tiba............
!”
"Gusti Adipati
Tejolaksono telah pulang……!”
"Hidup Gusti
Adipati.,.....!!"
Adipati Tejolaksono yang
sudah marah sekali berkelebat maju dan sekali bergerak, tiga orang perampok
terpelanting tak bernyawa lagi terkena pukulan kedua tangan dan disusul sebuah
tendangannya! Kini Tejolaksono melihat pemimpin perampok yang bermuka hitam
bermata besar. Pemimpin ini memegang sebatang golok besar yang sudah berlepotan
darah. Pemimpin perampok inilah yang sudah menjatuhkan banyak korban di antara para
prajurit dan penduduk dusun karena memang ia kuat sekali. Meluap kemarahan
Adipati Tejolaksono. Ia melompat jauh dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan
si kepala rampok.
"Setan keparat!!"
Tejolaksono memaki.
Perampok bermuka hitam itu
tadi sedang enak membabati musuh maka tidak melihat sepak terjang Tejolaksono
yang menggiriskan hati. Kini ia tertawa,
"Ha- ha-hal Babo-babo,
siapa lagi ini yang ingin mampus?" Goloknya membabat dari kanan ke kiri,
mengarah leher Adipati Tejolaksono. Ia sudah tertawa-tawa membayangkan betapa
leher itu akan putus dan muka yang tampan itu akan menggelinding bersama
kepalanya seperti korban-korbanya yang lain karena goloknya menyambar amat
cepatnya dan kelihatannya takkan dapat dihindarkan lawan.
"Singgg...." Ia
terbelalak karena tahu-tahu goloknya mengenai angin ketika orang yang
diserangnya itu menunduk. Goloknya lewat tidak ada sejengkal dari kepala orang
itu dan tahu-tahu entah bagaimana ia tidak tahu, orang itu sudah menyentuh siku
kanannya dan goloknya terlepas dari pegangan karena tiba-tiba lengannya lumpuh.
Golok itu sebelum tiba di tanah, telah disambar oleh Tejolaksono sehingga kini
golok berpindah tangan! Kepala rampok itu marah sekali, menggunakan tangan
kirinya memukul, pukulan dengan kepalan tangan sebesar buah kelapa! Tejolaksono
mengangkat tangan kiri menangkis.
"Krakkkk!!" Orang
itu berteriak kesakitan karena tulang lengannya patah! Ia terbelalak, kini baru
merasa ... jerih!
"Siapa....siapa
engkau?" tanyanya gagap.
"Adipati Tejolaksono
namaku!"
"Aahhhhh.....!" Kepala
rampok bermuka hitam itu berteriak kaget akan tetapi pada saat itu juga,
kepalanya sudah mencelat ketika lehernya terbabat putus oleh goloknya sendiri!
Para prajurit Panjalu
bersorak gembira, sebaliknya para perampok menjadi panik dan ketakutan. Karena
mereka ini sudah kacau-balau, enak saja Adipati Tejolaksono dan para prajurit
membabati mereka sehingga banyak sekali anak buah perampok roboh binasa. Yang
lain-lain segera lari pontang-panting menyelamatkan diri. Adipati Tejolaksono
mematah-matahkan golok rampasannya dengan kedua tangan menjadi tujuh potong.
Kemudian kedua tangannya itu digerakkan ke depan dan
"cet-cet-cet-cet-cet-cet-cet!!” tujuh sinar meluncur ke depan dan robohlah
tujuh orang perampok yang berusaha lari karena punggung mereka telah dimasuki
potongan-potongan golok itu. Bahkan yang menyisip tulang sampai tembus keluar
dari dada. Para prajurit bersorak-sorak dan mengejar para perampok yang makin
ketakutan. Hanya belasan orang perampok saja yang berhasil melarikan diri dan
dusun itu kini penuh dengan tumpukan mayat para perampok!
No comments:
Post a Comment