Mereka berjalan terus
terhuyung-huyung dan meraba-raba ke depan. Air dari belakang masih terus
mengalir dan suara air mancur menimpa dasar terdengar jelas sekali. Akan tetapi
aliran air tidaklah kuat lagi, hanya setinggi mata kaki.
"Aihhh, apa ini....??”
Tejolaksono yang berjalan di depan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Kakinya
tadi menyentuh benda lunak hangat. Mereka berdua siap sedia menghadapi segala
kemungkinan.
"Aduhhh............
............ Rintihan di bawah mereka itu lemah dan jelas adalah suara seorang
wanita. Mendengar
ini, Endang Patibroto cepat
berjongkok dan tangannya meraba ke depan. Memang seorang wanita yang rebah di
situ, merintih-rintih kini, suaranya lirih dan napasnya terengah-engah. Ketika
Endang Patibroto meraba terus, ia mendapat kenyataan bahwa wanita itu menderita
luka parah di bagian kepalanya, seperti bekas dipukul atau terbanting pada
benda keras. Ia merangkul pundak wanita itu yang ia dudukkan, lalu bertanya,
"Engkau siapakah?"
"Endang Patibroto....
aku... aku isteri Sindupati”
Teringatlah Endang Patibroto
akan seorang wanita yang masih amat muda, baru lima belas tahun usianya, puteri
selir Sang Adipati Menak Linggo yang dihadiahkan sebagai selir Sindupati.
Pernah ia beberapa kali bertemu dengan wanita ini di dalam gedung Sindupati.
"Ahh.... kau... Dew!
Umirah....”
"Betul, Endang
Patibroto, aku ... aku.... aduhh..“
"Mengapa kau berada di
sini? Kaukah yang membuka dinding besi?"
"Memang aku yang
membuka... tempat ini merupakan tempat rahasia... peninggalan jaman
dahulu....hanya RĂ¡manda Adipati dan para puteranya yang tahu akan
rahasianya......aku....aku....ah, tidak sangka air itu amat deras, arusnya
menyeret aku.... terbanting pada batu-batu.... aduuuhhh...“ Terharu hati
Tejolaksono. Kiranya Hyang Widhi telah mengirim pertolongan melalui puteri Sang
Adipati Blambangan sendiri. Hal yang amat luar biasa sekali. Juga Endang
Patibroto menjadi terheran-heran.
"Dewi Umirah, kenapa
engkau menolong kami?"
Napas wanita muda itu makin
terengah-engah dan susah payah sekali ia memaksa diri bicara,
"...Sindupati...dia
terlalu menyakitkan hatiku..., Endang Patibroto, berjanjilah....kau balas
pertolonganku dan.... kau.... bunuhlah Sindupati untukku!" Suaranya
tersendat-sendat dan hanya di kerongkongan. Payah sekali agaknya keadaan wanita
muda ini, kepalanya yang terluka parah mengeluarkan banyak darah.
Endang Patibroto menggigit
bibir karena gemas. Sindupati memang jahanam besar dan tidak mengherankan kalau
wanita muda yang dihadiahkan menjadi selirnya ini mendendam sakit hati.
"Legakan hatimu, Dewi
Umirah. Aku bersumpah untuk membunuh si jahanam keparat Sindupati!"
katanya geram.
“....terima kasih...tidak
sia-sia aku mengorbankan diri... menolongmu ... Rama, maafkan hamba .."
napasnya makin sesak.
"Katakanlah di mana
jalan untuk keluar....!" Tejolaksono berkata di dekat telinga wanita yang
sudah sekarat itu.
"Terus saja... melalui
terowongan yang amat jauh..., jangan belok...akan tiba di hutan... lubang
tertutup batu... di guha." Terhenti kata-kata Dewi Umirah bersamaan dengan
terhentinya napas dan darahnya.
"Dia mati...."
kata Endang Padbroto.
"Kasihan dia telah
menolong kita”
"Hyang Widhi yang
menggerakkan dia. Mari, Endang!" Tejolaksono bangkit dan menarik tangan
Endang Patibroto. Mereka terpaksa meninggalkan jenazah penolong mereka itu dan
terus berjalan sambil meraba-raba melalui terowongan yang gelap dan panjang,
terowongan yang makin lama makin sempit sehingga tak dapat bagi mereka berjalan
berdampingan lagi. Endang Patibroto berjalan di belakang Tejolaksono, namun
tangan mereka masih saling berpegangan, tak pernah tangan mereka terpisah
semenjak berada di dalam sumur.
Lebih dari satu jam mereka
berjalan dan akhirnya, setelah jalan terowongan itu melalui banyak jalan
simpangan yang menanjak, mereka tiba di dalam sebuah guha yang tertutup batu
besar. Agaknya jalan-jalan simpangan tadi adalah jalan yang menjadi jalan
rahasia yang menembus istana dan tempat-tempat rahasia di kota raja Blambangan.
Setelah mengintai dari celah-celah batu penutup guha, Endang Patibroto dan
Tejolaksono lalu mendorong batu penutup ke pinggir, kemudian mereka melompat
keluar. Kiranya mereka telah berada di dalam sebuah hutan yang lebat dan liar!
Tak tampak seorangpun manusia di situ.
"Mari kita lari,
Endang. Ke barat!" kata Tejolaksono. Matahari telah naik tinggi dan mulai
condong ke barat. Agaknya waktu itu sudah lewat tengah hari. Akan tetapi Endang
Patibroto menahan tangannya yang ditarik.
"Tidak, aku mau kembali
ke Blambangan!" katanya, suaranya keras dan tegas.
"Eh, mau apa?"
"Membunuh si keparat
Sindupati dan sebanyak mungkin orang Blambangan, apa lagi?"
Melihat wajah itu
membayangkan kemarahan, Tejolaksono lalu merangkul pundaknya.
"Aihh, Endang, belum
waktunya sekarang! Keadaan kita amat lemah, dan mereka itu amat banyak. Betapa
mungkin kita melawan orang senegara? Kita harus menyelamatkan diri, ini yang
terpenting. Kelak kita akan membawa pasukan Jenggala dan Panjalu, menggempur
Blambangan dan itulah saatnya kita membunuh si jahat itu!"
Endang Patibroto tetap saja
kelihatan ragu-ragu dan kini ia memandang wajah Tejolaksono dengan sinar mata
penuh selidik.
"Joko Wandiro...!"
dan tiba-tiba saja Endang Patibroto menangis sesenggukan!
"Eh-eh... mengapa pula
ini? Endang Patibroto, kekasihku, jiwa hatiku, kenapa kau menangis? Bukankah
semestinya kita harus bergirang dan berbahagia bahwa Hyang Widhi masih
melindungi kita dan menyelamatkan kita daripada ancaman bahaya maut?"
Endang Patibroto
terisak-isak.
"Joko Wandiro,....aku
ingin mati bersamamu...!"
Tejolaksono tersenyum, lalu
dipegangnya muka Endang Patibroto dengan kedua telapak tangannya, dipaksanya
muka itu tengadah dan menentang mukanya agar mereka dapat berpandangan.
"Bocah bodoh kau...
Tidak senangkah engkau menjadi isteriku? Tidak cintakah kau kepadaku?"
Endang Patibroto yang
mukanya dihimpit kedua tangan itu hanya bergerak mengangguk. Tejolaksono lalu
menciumi muka yang penuh air mata itu, menghapus air mata dengan kecupan
bibirnya.
"Nah, kalau begitu,
hentikan tangismu. Bukahkah anugerah yang membahagiakan sekali kalau kita masih
hidup, masih mendapat kesempatan untuk lebih lagi menikmati hidup dan cinta
kasih kita? Bocah bodoh, pujaan hati, kalau aku girang dan bahagia, mengapa kau
menangis?"
"Aku... aku.... tadinya
mengira kita akan mati..., kalau tahu akan dapat lolos..ah, betapa aku dapat
membuka rahasia hatiku... Betapa memalukan... betapa hina aku“
"Ehhh, memang kau
wanita aneh. Wanita aneh dan hebat, tiada keduanya di dunia ini.
Ha-ha-ha!" Tejolaksono mencium bibir yang hendak banyak membantah lagi itu
kemudian memondongnya dan membawanya lari cepat ke barat. Tubuhnya amat lelah,
tenaganya hampir habis, akan tetapi kebahagiaannya karena dapat lobos dari
kematian itu seakan-akan mendatangkan tenaga baru kepadanya. Ia berlari terus
keluar hutan masuk hutan sampai matahari tenggelam, cuaca menjadi gelap dan ia
kehabisan tenaga lalu roboh terguling di dalam hutan. Pingsan! Kini Endang
Patibroto yang menjadi bingung dan gelisah setengah mati melihat Tejolaksono
rebah tak berkutik. Dipeluk dan dipanggil-panggil namanya, ditangisi! Akan
tetapi, barulah ia sadar akan kelakuannya yang seperti gila itu ketika ia
mendapat kenyataan bahwa Tejolaksono hanya pingsan karena lelah. Ia menjadi
geli dan tertawa sendiri. Endang Patibroto, menangis dan bingung melihat Joko
Wandiro yang hanya pingsan biasa. Takut kalau-kalau mati! Padahal tadinya
mengajak mati bersama! Ah, benar-benar cinta kasih yang menggelora membuat
orang menjadi bodoh dan lucu. Di mana lagi perginya kegagahperkasaannya? Dia
seorang wanita sakti mandraguna. Namun tadi bersikap sebagai seorang wanita
lemah yang menangis takut ditinggal mati suaminya.
Ketika Tejolaksono sadar
dari pingsannya, ia telah rebah telentang di dekat api unggun yang hangat.
Kepalanya berbantal paha Endang Patibroto yang membelai rambutnya dengan
jari-jari tangan penuh kasih sayang. Begitu ia membuka mata, Endang Patibroto
mencium matanya dan berbisik,
"Kakanda... , makanlah
pisang ini, kupetik tadi dari dalam hutan di sana...."
Tejolaksono membelalakkan
mata, lalu bangkit dan duduk.
"Kakanda....?" Ia
bertanya, mengulang sebutan itu.
Endang Patibroto menundukkan
mukanya dan...aneh bukan main bagi Tejolaksono melihat betapa wajah wanita
sakti ini menjadi kemalu-maluan seperti seorang dara diajak kawin! Di bawah
sinar api yang kemerahan, wajah itu tampak amat jelita menggairahkan. Rambut
itu tidak kusut lagi, agaknya tadi Endang Patibroto sudah sempat membereskan
rambutnya, pakaian mereka tidak basah lagi karena terpanggang dekat api unggun.
"Kita... kini akan
hidup terus... lain lagi halnya dengan ketika di dalam sumur maut.., kini kita
akan hidup di dunia ramai... tentu saja tidak pantas bagi seorang isteri
menyebut suaminya dengan nama kecilnya saja...!!”
Adipati Tejolaksono tertawa
bergelak, lalu merangkul. Luar biasa sekall wanita ini. Wataknya amat aneh akan
tetapi segalanya menyenangkan hatinyal Endang Patibroto menggunakan kedua
tangan mendorong dadanya dengan gerakan halus.
"Hiss....kau makanlah
dulu agar jangan mati kelaparan!" katanya tersenyum.
Koko Wandiro kembali
tertawa, lalu mengambil pisang yang besar-besar dan matang kemudian dikupas
kulitnya.
"Nih, kau
makanlah." ia menawarkan, karena tanpa bertanya ia tahu bahwa Endang
Patibroto juga belum makan. Pisang itu masih dua sisir. Endang Patibroto
menerima pisang dan makanlah mereka. Perut yang sudah empat hari tidak diisi
itu menerima pisang yang lembut dan terasa agak tidak enak pada permulaannya.
Akan tetapi lama-lama mendatangkan rasa lega dan memulihkan tenaga sehingga
tubuh mereka tidak lemas lagi.
"Endang, kenapa kau
tadi tidak makan dulu pisang ini?"
"Bagaimanakah aku boleh
makan dulu, Kakangmas Tejolaksono? Seorang isteri harus selalu melayani suami
lebih dulu.”
"Aduh, isteriku yang
tersayang...!" Tejolaksono menarik lengan Endang Patibroto, mendudukkannya
di atas pangkuannya dan bagaikan. sepasang pengantin baru, mereka saling
menyuapi pisang sambil bercumbuan!
"Kakanda," kata
Endang Patibroto kemudian jauh lewat tengah malam ketika tubuh mereka yang
kelelahan itu beristirahat, rebah di atas rumput yang lunak dan dekat api
unggun yang hangat, kepala Endang Patibroto berbantal dada suaminya,
"bagaimanakah nanti
kalau isterimu yang di Selopenangkep marah mengetahui bahwa aku telah menjadi
isterimu?"
"Ayu Candra? Ah, tidak,
nimas. Dia tidaklah demikian sempit pendapat. Apalagi kalau sudah kujelaskan
akan semua pengalaman kita. Dia akan menyambutmu sebagai saudara madu yang baik
dan aku percaya kalian akan dapat hidup rukun seperti ibumu, bibi Kartikosari
dan bibi Roro Luhita."
Endang Patibroto menarik
napas panjang.
"Aku khawatir...kalau-kalau
ibu akan marah kepadaku.... ah, kalau aku ingat betapa dahulu aku menyakitkan
hati ibu, dan Ayu Candra... betapa aku dahulu ingin membunuhnya...“
"Hushhh..... urusan
yang lalu tak perlu dipikirkan lagi. Aku yang akan mengatur segalanya, tak
perlu kau khawatir, nimas."
"Aku tidak
mengkhawatirkan apa-apa lagi kalau teringat bahwa engkau berada di sampingku,
Kakangmas Adipati. Asal engkau mencintaku, aku... aku sanggup menghadapi
kesengsaraan yang bagaimanapun juga....“
Akhirnya kedua orang yang
amat lelah itu tertidur pulas dan pada keesokan harinya setelah matahari naik
tinggi, baru mereka bangun, kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju ke
Jenggala. Perjalanan mereka merupakan perjalanan penuh kegembiraan dan
kebahagiaan, penuh dengan cinta kasih mesra.
Munculnya Endang Patibroto
di Jenggala tentu akan menimbulkan geger hebat kalau saja tidak bersama Adipati
Tejolaksono.
Melihat wanita
sakti yang dianggap memberontak ini muncul disamping Adipati Tejolaksono, para
perwira dan ponggawa Jenggala menjadi terheran-heran. Lebih besar lagi
keheranan dan kebingungan mereka ketika Adipati Tejolaksono membawa Endang
Patibroto menghadap sang prabu. Barulah mereka tercengang ketika mendengar
pelaporan Adipati Tejolaksono tentang semua peristiwa yang telah terjadi,
tentang siasat adu domba yang dilakukan oleh pihak Blambangan. Bukan main
besarnya penyesalan mereka ketika mendapat kenyataan bahwa Endang Patibroto
sama sekali bukanlah seorang pemberontak, bahkan wanita sakti inilah yang telah
menumpas Wiku Kalawisesa yang melakukan semua pembunuhan gelap dan keji itu!
Endang Patibroto bukan seorang yang berdosa terhadap Jenggala dan Panjalu,
bahkan sebaliknya menjadi seorang yang amat berjasa!
No comments:
Post a Comment