Perawan Lembah Wilis; Bagian 032


Belum pernah selama hidupnya Joko Wandiro tenggelam dalam madu asmara seperti itu. Cinta kasih Ayu Candra kepadanya amat besar, akan tetapi tenang dan halus. Kini ia terseret oleh cinta kasih Endang Patibroto yang bagaikan badai Laut Selatan, menggelora dan menyeretnya sampai ke dasar yang paling dalam. Sesuai dengan watak Endang Patibroto, apalagi ditambah oleh racun yang telah terminum oleh wanita itu. Juga Endang Patibroto seperti mabuk. Dahulu ia selalu terbuai oleh gelora cinta kasih suaminya, Pangeran Panjirawit yang amat besar. Akan tetapi sekarang ia mabuk oleh cinta kasihnya sendiri yang meluap-luap. Semua perasaannya terhadap Joko Wandiro yang dahulu ia tindas dan pendam, kini meletus dan meluap, tak terbendung lagi. Kedua orang insan ini seperti dalam sekarat menghadapi maut. Memang mereka menghadapi maut, dan karena inilah maka mereka seperti dalam sekarat. Tak pernah sedetikpun mereka terpisah lagi semenjak saat mereka berciuman itu. Mereka lupa akan segala, lupa waktu, bahkan ancaman kematian, hanya tahu bahwa mereka hidup bersama dan akan mati bersama, dan pengetahuan inilah yang menambah kemesraan di antara mereka. Kini mereka tidak perduli apa-apa lagi, bahkan menanti datangnya maut dengan bibir tersenyum. Tiga hari tiga malam mereka berada di ruangan bawah tanah itu. Tubuh mereka sudah lemah. Kekosongan perut membuat mereka lemas. Namun mereka tak pernah mengeluh, juga tak pernah saling melepaskan. Seakan-akan mereka hendak menebus semua kehilangan belasan tahun itu dalam beberapa hari ini selagi nyawa masih belum meninggalkan badan yang makln lemah. Beberapa kali Endang Patibroto sudah pingsan di atas pangkuan Adipati Tejolaksono, pingsan dalam pelukannya. Akan tetapi begitu ia siuman, la selalu merangkul leher pria itu, berbisik-bisik mesra, selalu haus akan cinta kasih Joko Wandiro, kini suaaminya! Kehausan yang tak pernah terpuaskan. Bagi orang-orang yang memiliki kesaktian seperti Endang Patibroto dan Adipati Tejolaksono, agaknya berpuasa sampai sebulan pun kiranya tidak akan membuat mereka mati. Akan tetapi, sekali ini mereka bukan berpuasa, bukan bertapa, melainkan terpaksa tidak makan tidak minum. Dltambah lagi dengan luka-luka mereka bekas pertempuran hebat, kemudian tenggelam dalam bercinta kasih yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang sudah tiada harapan untuk hidup lagi! Pada hari ke empat, Endang Patibroto rebah terlentang di atas pangkuan Adipati Tejolaksono, tubuhnya lemas, wajahnya pucat sekali, dan sinar matanya layu, akan tetapi bibirnya tersenyum penuh bahagia ketika ia menengadah dan memandang wajah Tejolaksono. Ia baru saja siuman kembali dari pingsan yang ke sekian kalinya. Akan tetapi ia merasa seperti orang baru bangun dari tidur yang amat nyenyak dan nyaman. Ia menggerakkan lengan dengan lemah, lalu menangkap tangan Tejolaksono yang mengelus-elus rambutnya. Jari-jari tangan mereka saling cengkeram dan dari jari-jari tangan mereka itu saja sudah terpancar getaran-getaran penuh cinta kasih! Jelas terasa oleh jari-jari tangan masing-masing. Endang Patibroto tersenyum bahagia, mempererat cengkeraman jari tangannya.
"Joko Wandiro............ belum mati jugakah kita............?"
Tejolaksono tersenyum, menaikkan pahanya, merangkul dan mencium dahi yang pucat itu, di mana rambut-rambut sinom melingkar layu.
"Ingin benarkah engkau mati, nimas?"
Jari-jari tangan Endang Patibroto yang sudah lemas itu seketika menjadi kuat kembali terdorong oleh cinta kasihnya yang selalu membara. Ia sudah menjambak rambut kepala Tejolaksono, menarik kepala itu sehingga turun dan bukan lagi dahinya yang tercium, melainkan mulutnya. Kemudian ia melepaskan tangannya dan terkulai lemas ke atas dada Tejolaksono, napasnya terengah ketika menjawab lirih.
"Mati bersamamu adalah nikmat bagiku, Joko Wandiro............ “

Mendengar betapa Endang Patibroto selalu menyebut nama kecilnya, Tejolaksono tersenyum. Selama tiga hari tiga malam itu, di waktu Endang Patibroto tidur entah pingsan di atas pangkuannya, tak pernah bosan ia memandang wajahnya, penuh cinta kasih, kekaguman dan keheranan. Tak pernah disangka-sangkanya dahulu bahwa di dalam diri Endang Patibroto ini terdapat api cinta kasih yang berkobar-kobar terhadap dirinya, api yang begitu panas membakar, bagaikan kawah Gunung Bromo. Ia merasa seakan-akan terbakar oleh api cinta kasih ini, membuatnya panas dan nanar akan tetapi juga bahagia!
"Nimas, engkau sudah tahu bahwa aku sekarang adalah Adipati Tejolaksono... mengapa kau tak pernah menyebutku kakanda? Kau nakal sekali, manis.... masa memanggilku dengan menyebut nama kecilku.... Endang Patibroto tersenyum, lalu menghela papas
panjang, tertawa kecil dan berkata, suaranya penuh kesungguhan,
"Akan tetapi aku masih menganggapmu Joko Wandiro, karena engkau adalah Joko Wandiro bagiku, dan selamanya akan menjadi Joko Wandiroku! Joko Wandiro yang bertahun-tahun kurindukan, yang telah sering kumusuhi, biarlah sekarang kumelepaskan rinduku dan menebus kesalahan-kesalahanku kepada Joko Wandiro." Tejolaksono mencium dua butir air mata di atas pipi Endang Patibroto.
"Engkau memang wanita aneh dan hebat sejak dahulu."
"Joko Wandiro, adakah sedikit cinta kasih di hatimu kepadaku sekarang?"
Tejolaksono membelai rambut yang kusut masai di atas pangkuannya.
"Adindaku, perlu lagikah kau bertanya? Perlukah aku menyatakan dengan mulut? Nimas, bagi cinta kasih di antara kita, pengakuan bibir adalah jauh terlalu hambar dan bahkan mengecilkan arti dan kebesarannya. Mungkinkah kata-kata dapat mewakili getaran yang terasa oleh kita? Pancaran sinar dari pandang matamu yang bagaikan cahaya sinar matahari pagi menembus dan menimbulkan embun sejuk di bunga dalam hatiku? Nyanyian dan gamelan dari Lokananta yang terkandung dalam getaran suara kita? Dapatkah kata-kata menggambarkan perasaan yang aneh dan ajaib ini? Menggantikan perasaan yang tercurah sehingga terasa benar cinta kasih di antara kita sampai ke bulu-bulu di tubuh yang meremang? Sampai ke denyut-denyut darah yang mengencang tak menentu? Sampai, ke ujung-ujung hidung kita yang mencium ganda harum semerbak seluruh kembang di Indraloka? Endang Patibroto kekasihku, masih perlu lagikah aku mengaku cinta?"
Endang Patibroto rebah terlentang di atas pangkuan Tejolaksono, kedua matanya dipejamkan, bulu matanya yang hitam panjang melengkung itu membentuk bayang- bayang manis di pipinya dan bagaikan mutiara-mutiara keluarlah air matanya bertitik-titik. Bibirnya bergerak dan ia berbisik lirih,
"Terima kasih..., terima kasih Joko Wandiro, kekasihku, suamiku... sekarang aku siap untuk menerima datangnya Sang Yamadipati, marilah Joko Wandiro, mari kita bersama menghadap ramanda Pujo... kita bersama menemui Pangeran Panjirawit, kau bimbinglah tanganku, Joko Wandiro... !!!”

Pada saat itu terdengar suara percik air dari atas lubang sumur dan.... bagaikan hujan turun, berjatuhan air ke atas kepala dan tubuh mereka berdua. Air yang segar dingin ini seketika membuat tubuh mereka berdua yang sudah lunglai itu menjadi segar dan meloncatlah mereka bangun, berdiri lalu menengadah, memandang ke atas. Kiranya dari atas sumur itu kini dipasangi bambu besar berlubang dan dari bambu itulah air dipancurkan ke dalam sumur! Dan tampak bayangan beberapa orang, bahkan terdengar, suara yang tertawa bergelak, suara Raden Sindupati,
"Ha-ha-ha, kalau mereka belum mampus, biarlah sekarang mereka menjadi tikus-tikus tenggelam! Joko Wandiro dan Endang Patibroto, selamat minum dan mandi sepuasnya!" Kini dari bawah tampak bentuk kepala Sindupati yang sebentar kemudian lenyap lagi.
Dan kata-kata Sindupati itu benar-benar dilakukan oleh Endang Patibroto dan Tejolaksono! Setelah empat hari tidak pernah mendapat air, kini pancuran air itu membuat mereka berdua tiba-tiba menjadi haus. Mereka menerima air dengan kedua tangan dan minum sepuasnya, membiarkan air menyiram tubuh sehingga merekapun mandi sepuasnya. Sejenak mereka lupa bahwa air tadi dipancurkan dari atas sama sekali bukan karena kebaikan hati Adipati Blambangan, sama sekali bukan memberi kesempatan mereka dapat minum dan mandi! Mereka tertawa-tawa dan menikmati air sambil berpelukan dan barulah mereka sadar akan ancaman kematian mengerikan setelah air menggenang di dalam ruangan itu sampai ke lutut mereka!
"Endang, air mulai naik...." kata Adipati Tejolaksono. Biarpun dia tahu kematian berada di depan mata, namun suaranya masih tenang saja, sedikitpun tidak membayangkan rasa takut atau ngeri.
Endang Patibroto malah tertawa!
"Joko Wandiro, pegang tubuhku erat-erat agar kita tidak berpisah lagi. Mari kita hadapi kematian yang indah ini...!”
"Endang, kurasa tidak seharusnya kita membiarkan diri mati konyol. Kalau begitu, akan sia-sia saja dahulu Eyang Resi Bhargowo menggembleng kita, kemudian orang tuamu, dan guru-guru kita. Tidak, kekasih, selama nyawa kita belum direnggut Sang Yamadipati, kita berkewajiban untuk mempertahankannya!"
"Engkau selalu benar, Joko Wandiro. Akan tetapi betapa mungkin? Air akan naik terus memenuhi tempat ini, dan tenaga dalam tubuh kita tidak ada setengahnya lagi. Betapa kita akan dapat melawan cengkeraman maut? Akan tetapi kita tidak akan mati seperti tikus yang dikatakan si jahanam keparat Sindupati tadi. Kita akan mati dengan tenang dan tak kenal takut, bukan, Joko Wandiro?"
"Hemmm, kalau air naik sampai memenuhi sumur, kita dapat berenang ke atas dan berusaha lolos dengan perlawanan. Setidaknya kita harus dapat membunuh si keparat Sindupati!" kata TejolakSono.

Akan tetapi, pada saat itu seakan-akan sebagai jawaban pernyataannya, dari atas menyambar turun banyak sekali anak panah! Terpaksa Tejolaksono dan Endang Patibroto mundur sampai terlindung, tidak tepat di bawah lubang sumur yang lebih sempit.
"Tiada gunanya, Joko Wandiro. Lebih baik kita mati tenggelam daripada dikeroyok anak panah dari atas. Marilah pegang erat-erat dan kita berpegang batu karang di sini sampai mati!"
Endang Patibroto memeluk pinggang Tejolaksono dan mendekapkan muka di dada pria yang dikasihinya ini. Mereka berdekapan, sementara air makin naik sampai di atas lutut. Dari atas lubang terdengar gema suara ketawa dan anak panah kadang-kadang menyambar turun seperti hujan. Agaknya Sindupati dan kawan-kawannya sudah menjaga kalau-kalau dua orang korban di bawah itu hendak naik melalui air. Bencana kematian sudah membayang di depan mata, agaknya mereka berdua tidak akan dapat lolos lagi!
Dengan mulut tersenyum Endang Patibroto membenamkan muka di dada Tejolaksono dan ia menutup seluruh panca indranya, dicurahkan kepada detak jantung di dada kekasihnya. Ia hendak mati dengan detak jantung ini memenuhi semua perasaan dan pikirannya, tidak mau memikirkan hal lain lagi, tidak merasa betapa air kini tidak lagi naik, malah turun sampai ke bawah lutut!
"Eh.... airnya menurun....!!" Tejolaksono berseru girang dan juga heran. Air dari atas masih terus memancur, akan tetapi mengapa air di kaki kini tidak menaik malah menurun? Karena merasa betapa Tejolaksono melepaskan pelukannya karena pria ini sekarang memandang ke sekeliling penuh selidik, Endang Patibroto sadar dan membuka mata. Kebetulan sekali ia menghadap pada dinding yang berlapis besi dan dengan mata terbelalak ia melihat dinding itu bergerak-gerak!
"Dinding itu bergerak....!!" Iapun berteriak kaget dan heran.
Tejolaksono cepat memutar tubuh menengok dan benar saja, perlahan akan tetapi pasti dinding besi itu bergerak dan membuka lubang yang kini sudah kurang lebih setengah meter lebarnya! Dan air menerobos cepat sekali melalui lubang itu!
"Endang, lekas, melalui lubang itu....!!" Tejolaksono menarik tangan Endang Patibroto dan mereka cepat menyelinap memasuki celah dinding yang terbuka itu. Mereka harus mengerahkan seluruh sisa tenaga mereka karena arus air yang menyerbu keluar amat kuatnya sehingga mereka yang sudah lemah itu menjadi terhuyung-huyung ke depan. Namun dengan bergandeng tangan, mereka dapat menahan arus air. Karena air yang membobol keluar mendapat jalan lebih cepat dan lebih besar daripada air yang memancur dari atas, maka sebentar saja air mengecil dan dua orang itu lalu meraba-raba dan terhuyung maju melalui terowongan tanah yang amat gelap.
"Ke mana kita....?" Endang Patibroto bertanya, suaranya gemetar penuh ketegangan. Hal ini amat tidak disangka-sangkanya sehingga menimbulkan ketegangan hati.
Bahkan Adipati Tejolaksono yang biasanya tenang itupun kini tampak tegang dan gugup. Diapun tadinya sudah yakin akan tewas di tempat itu dan hal ini benar amat ajaib baginya.
"Entahlah, setidaknya tentu ada jalan keluar dan kita tidak mati di dasar sumur!"
"Tapi.... tapi..... siapa yang membuka dinding itu?"
"Siapa tahu, nimas? Tentu Dewata yang menolong kita...”
"Jangan-jangan jebakan mereka untuk menyiksa kita lebih hebat lagi...”
"Tidak perduli, setidaknya setiap kesempatan harus kita pergunakan. Lebih baik mati dalam perlawanan daripada mati konyol di dalam sumur. Mari, nimas, jangan lepaskan tanganku, begini gelap...”

<<< Bagian 031                                                                                    Bagian 033 >>>

No comments:

Post a Comment