Belum pernah selama hidupnya Joko Wandiro tenggelam dalam madu asmara seperti itu. Cinta kasih Ayu Candra kepadanya amat besar, akan tetapi tenang dan halus. Kini ia terseret oleh cinta kasih Endang Patibroto yang bagaikan badai Laut Selatan, menggelora dan menyeretnya sampai ke dasar yang paling dalam. Sesuai dengan watak Endang Patibroto, apalagi ditambah oleh racun yang telah terminum oleh wanita itu. Juga Endang Patibroto seperti mabuk. Dahulu ia selalu terbuai oleh gelora cinta kasih suaminya, Pangeran Panjirawit yang amat besar. Akan tetapi sekarang ia mabuk oleh cinta kasihnya sendiri yang meluap-luap. Semua perasaannya terhadap Joko Wandiro yang dahulu ia tindas dan pendam, kini meletus dan meluap, tak terbendung lagi. Kedua orang insan ini seperti dalam sekarat menghadapi maut. Memang mereka menghadapi maut, dan karena inilah maka mereka seperti dalam sekarat. Tak pernah sedetikpun mereka terpisah lagi semenjak saat mereka berciuman itu. Mereka lupa akan segala, lupa waktu, bahkan ancaman kematian, hanya tahu bahwa mereka hidup bersama dan akan mati bersama, dan pengetahuan inilah yang menambah kemesraan di antara mereka. Kini mereka tidak perduli apa-apa lagi, bahkan menanti datangnya maut dengan bibir tersenyum. Tiga hari tiga malam mereka berada di ruangan bawah tanah itu. Tubuh mereka sudah lemah. Kekosongan perut membuat mereka lemas. Namun mereka tak pernah mengeluh, juga tak pernah saling melepaskan. Seakan-akan mereka hendak menebus semua kehilangan belasan tahun itu dalam beberapa hari ini selagi nyawa masih belum meninggalkan badan yang makln lemah. Beberapa kali Endang Patibroto sudah pingsan di atas pangkuan Adipati Tejolaksono, pingsan dalam pelukannya. Akan tetapi begitu ia siuman, la selalu merangkul leher pria itu, berbisik-bisik mesra, selalu haus akan cinta kasih Joko Wandiro, kini suaaminya! Kehausan yang tak pernah terpuaskan. Bagi orang-orang yang memiliki kesaktian seperti Endang Patibroto dan Adipati Tejolaksono, agaknya berpuasa sampai sebulan pun kiranya tidak akan membuat mereka mati. Akan tetapi, sekali ini mereka bukan berpuasa, bukan bertapa, melainkan terpaksa tidak makan tidak minum. Dltambah lagi dengan luka-luka mereka bekas pertempuran hebat, kemudian tenggelam dalam bercinta kasih yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang sudah tiada harapan untuk hidup lagi! Pada hari ke empat, Endang Patibroto rebah terlentang di atas pangkuan Adipati Tejolaksono, tubuhnya lemas, wajahnya pucat sekali, dan sinar matanya layu, akan tetapi bibirnya tersenyum penuh bahagia ketika ia menengadah dan memandang wajah Tejolaksono. Ia baru saja siuman kembali dari pingsan yang ke sekian kalinya. Akan tetapi ia merasa seperti orang baru bangun dari tidur yang amat nyenyak dan nyaman. Ia menggerakkan lengan dengan lemah, lalu menangkap tangan Tejolaksono yang mengelus-elus rambutnya. Jari-jari tangan mereka saling cengkeram dan dari jari-jari tangan mereka itu saja sudah terpancar getaran-getaran penuh cinta kasih! Jelas terasa oleh jari-jari tangan masing-masing. Endang Patibroto tersenyum bahagia, mempererat cengkeraman jari tangannya.
"Joko
Wandiro............ belum mati jugakah kita............?"
Tejolaksono tersenyum,
menaikkan pahanya, merangkul dan mencium dahi yang pucat itu, di mana
rambut-rambut sinom melingkar layu.
"Ingin benarkah engkau
mati, nimas?"
Jari-jari tangan Endang
Patibroto yang sudah lemas itu seketika menjadi kuat kembali terdorong oleh
cinta kasihnya yang selalu membara. Ia sudah menjambak rambut kepala
Tejolaksono, menarik kepala itu sehingga turun dan bukan lagi dahinya yang
tercium, melainkan mulutnya. Kemudian ia melepaskan tangannya dan terkulai
lemas ke atas dada Tejolaksono, napasnya terengah ketika menjawab lirih.
"Mati bersamamu adalah
nikmat bagiku, Joko Wandiro............ “
Mendengar betapa Endang
Patibroto selalu menyebut nama kecilnya, Tejolaksono tersenyum. Selama tiga
hari tiga malam itu, di waktu Endang Patibroto tidur entah pingsan di atas
pangkuannya, tak pernah bosan ia memandang wajahnya, penuh cinta kasih,
kekaguman dan keheranan. Tak pernah disangka-sangkanya dahulu bahwa di dalam
diri Endang Patibroto ini terdapat api cinta kasih yang berkobar-kobar terhadap
dirinya, api yang begitu panas membakar, bagaikan kawah Gunung Bromo. Ia merasa
seakan-akan terbakar oleh api cinta kasih ini, membuatnya panas dan nanar akan
tetapi juga bahagia!
"Nimas, engkau sudah
tahu bahwa aku sekarang adalah Adipati Tejolaksono... mengapa kau tak pernah
menyebutku kakanda? Kau nakal sekali, manis.... masa memanggilku dengan
menyebut nama kecilku.... Endang Patibroto tersenyum, lalu menghela papas
panjang, tertawa kecil dan
berkata, suaranya penuh kesungguhan,
"Akan tetapi aku masih
menganggapmu Joko Wandiro, karena engkau adalah Joko Wandiro bagiku, dan
selamanya akan menjadi Joko Wandiroku! Joko Wandiro yang bertahun-tahun
kurindukan, yang telah sering kumusuhi, biarlah sekarang kumelepaskan rinduku
dan menebus kesalahan-kesalahanku kepada Joko Wandiro." Tejolaksono
mencium dua butir air mata di atas pipi Endang Patibroto.
"Engkau memang wanita
aneh dan hebat sejak dahulu."
"Joko Wandiro, adakah
sedikit cinta kasih di hatimu kepadaku sekarang?"
Tejolaksono membelai rambut
yang kusut masai di atas pangkuannya.
"Adindaku, perlu
lagikah kau bertanya? Perlukah aku menyatakan dengan mulut? Nimas, bagi cinta
kasih di antara kita, pengakuan bibir adalah jauh terlalu hambar dan bahkan
mengecilkan arti dan kebesarannya. Mungkinkah kata-kata dapat mewakili getaran
yang terasa oleh kita? Pancaran sinar dari pandang matamu yang bagaikan cahaya
sinar matahari pagi menembus dan menimbulkan embun sejuk di bunga dalam hatiku?
Nyanyian dan gamelan dari Lokananta yang terkandung dalam getaran suara kita?
Dapatkah kata-kata menggambarkan perasaan yang aneh dan ajaib ini? Menggantikan
perasaan yang tercurah sehingga terasa benar cinta kasih di antara kita sampai
ke bulu-bulu di tubuh yang meremang? Sampai ke denyut-denyut darah yang
mengencang tak menentu? Sampai, ke ujung-ujung hidung kita yang mencium ganda
harum semerbak seluruh kembang di Indraloka? Endang Patibroto kekasihku, masih
perlu lagikah aku mengaku cinta?"
Endang Patibroto rebah
terlentang di atas pangkuan Tejolaksono, kedua matanya dipejamkan, bulu matanya
yang hitam panjang melengkung itu membentuk bayang- bayang manis di pipinya dan
bagaikan mutiara-mutiara keluarlah air matanya bertitik-titik. Bibirnya
bergerak dan ia berbisik lirih,
"Terima kasih...,
terima kasih Joko Wandiro, kekasihku, suamiku... sekarang aku siap untuk
menerima datangnya Sang Yamadipati, marilah Joko Wandiro, mari kita bersama
menghadap ramanda Pujo... kita bersama menemui Pangeran Panjirawit, kau
bimbinglah tanganku, Joko Wandiro... !!!”
Pada saat itu terdengar
suara percik air dari atas lubang sumur dan.... bagaikan hujan turun,
berjatuhan air ke atas kepala dan tubuh mereka berdua. Air yang segar dingin ini
seketika membuat tubuh mereka berdua yang sudah lunglai itu menjadi segar dan
meloncatlah mereka bangun, berdiri lalu menengadah, memandang ke atas. Kiranya
dari atas sumur itu kini dipasangi bambu besar berlubang dan dari bambu itulah
air dipancurkan ke dalam sumur! Dan tampak bayangan beberapa orang, bahkan
terdengar, suara yang tertawa bergelak, suara Raden Sindupati,
"Ha-ha-ha, kalau mereka
belum mampus, biarlah sekarang mereka menjadi tikus-tikus tenggelam! Joko
Wandiro dan Endang Patibroto, selamat minum dan mandi sepuasnya!" Kini
dari bawah tampak bentuk kepala Sindupati yang sebentar kemudian lenyap lagi.
Dan kata-kata Sindupati itu
benar-benar dilakukan oleh Endang Patibroto dan Tejolaksono! Setelah empat hari
tidak pernah mendapat air, kini pancuran air itu membuat mereka berdua
tiba-tiba menjadi haus. Mereka menerima air dengan kedua tangan dan minum
sepuasnya, membiarkan air menyiram tubuh sehingga merekapun mandi sepuasnya.
Sejenak mereka lupa bahwa air tadi dipancurkan dari atas sama sekali bukan
karena kebaikan hati Adipati Blambangan, sama sekali bukan memberi kesempatan
mereka dapat minum dan mandi! Mereka tertawa-tawa dan menikmati air sambil
berpelukan dan barulah mereka sadar akan ancaman kematian mengerikan setelah
air menggenang di dalam ruangan itu sampai ke lutut mereka!
"Endang, air mulai
naik...." kata Adipati Tejolaksono. Biarpun dia tahu kematian berada di
depan mata, namun suaranya masih tenang saja, sedikitpun tidak membayangkan
rasa takut atau ngeri.
Endang Patibroto malah tertawa!
"Joko Wandiro, pegang
tubuhku erat-erat agar kita tidak berpisah lagi. Mari kita hadapi kematian yang
indah ini...!”
"Endang, kurasa tidak
seharusnya kita membiarkan diri mati konyol. Kalau begitu, akan sia-sia saja
dahulu Eyang Resi Bhargowo menggembleng kita, kemudian orang tuamu, dan
guru-guru kita. Tidak, kekasih, selama nyawa kita belum direnggut Sang
Yamadipati, kita berkewajiban untuk mempertahankannya!"
"Engkau selalu benar,
Joko Wandiro. Akan tetapi betapa mungkin? Air akan naik terus memenuhi tempat
ini, dan tenaga dalam tubuh kita tidak ada setengahnya lagi. Betapa kita akan
dapat melawan cengkeraman maut? Akan tetapi kita tidak akan mati seperti tikus
yang dikatakan si jahanam keparat Sindupati tadi. Kita akan mati dengan tenang
dan tak kenal takut, bukan, Joko Wandiro?"
"Hemmm, kalau air naik
sampai memenuhi sumur, kita dapat berenang ke atas dan berusaha lolos dengan
perlawanan. Setidaknya kita harus dapat membunuh si keparat Sindupati!"
kata TejolakSono.
Akan tetapi, pada saat itu
seakan-akan sebagai jawaban pernyataannya, dari atas menyambar turun banyak
sekali anak panah! Terpaksa Tejolaksono dan Endang Patibroto mundur sampai
terlindung, tidak tepat di bawah lubang sumur yang lebih sempit.
"Tiada gunanya, Joko
Wandiro. Lebih baik kita mati tenggelam daripada dikeroyok anak panah dari
atas. Marilah pegang erat-erat dan kita berpegang batu karang di sini sampai
mati!"
Endang Patibroto memeluk
pinggang Tejolaksono dan mendekapkan muka di dada pria yang dikasihinya ini.
Mereka berdekapan, sementara air makin naik sampai di atas lutut. Dari atas
lubang terdengar gema suara ketawa dan anak panah kadang-kadang menyambar turun
seperti hujan. Agaknya Sindupati dan kawan-kawannya sudah menjaga kalau-kalau
dua orang korban di bawah itu hendak naik melalui air. Bencana kematian sudah
membayang di depan mata, agaknya mereka berdua tidak akan dapat lolos lagi!
Dengan mulut tersenyum
Endang Patibroto membenamkan muka di dada Tejolaksono dan ia menutup seluruh
panca indranya, dicurahkan kepada detak jantung di dada kekasihnya. Ia hendak
mati dengan detak jantung ini memenuhi semua perasaan dan pikirannya, tidak mau
memikirkan hal lain lagi, tidak merasa betapa air kini tidak lagi naik, malah
turun sampai ke bawah lutut!
"Eh.... airnya
menurun....!!" Tejolaksono berseru girang dan juga heran. Air dari atas
masih terus memancur, akan tetapi mengapa air di kaki kini tidak menaik malah
menurun? Karena merasa betapa Tejolaksono melepaskan pelukannya karena pria ini
sekarang memandang ke sekeliling penuh selidik, Endang Patibroto sadar dan
membuka mata. Kebetulan sekali ia menghadap pada dinding yang berlapis besi dan
dengan mata terbelalak ia melihat dinding itu bergerak-gerak!
"Dinding itu
bergerak....!!" Iapun berteriak kaget dan heran.
Tejolaksono cepat memutar
tubuh menengok dan benar saja, perlahan akan tetapi pasti dinding besi itu
bergerak dan membuka lubang yang kini sudah kurang lebih setengah meter
lebarnya! Dan air menerobos cepat sekali melalui lubang itu!
"Endang, lekas, melalui
lubang itu....!!" Tejolaksono menarik tangan Endang Patibroto dan mereka
cepat menyelinap memasuki celah dinding yang terbuka itu. Mereka harus
mengerahkan seluruh sisa tenaga mereka karena arus air yang menyerbu keluar
amat kuatnya sehingga mereka yang sudah lemah itu menjadi terhuyung-huyung ke
depan. Namun dengan bergandeng tangan, mereka dapat menahan arus air. Karena
air yang membobol keluar mendapat jalan lebih cepat dan lebih besar daripada
air yang memancur dari atas, maka sebentar saja air mengecil dan dua orang itu
lalu meraba-raba dan terhuyung maju melalui terowongan tanah yang amat gelap.
"Ke mana
kita....?" Endang Patibroto bertanya, suaranya gemetar penuh ketegangan.
Hal ini amat tidak disangka-sangkanya sehingga menimbulkan ketegangan hati.
Bahkan Adipati Tejolaksono
yang biasanya tenang itupun kini tampak tegang dan gugup. Diapun tadinya sudah
yakin akan tewas di tempat itu dan hal ini benar amat ajaib baginya.
"Entahlah, setidaknya
tentu ada jalan keluar dan kita tidak mati di dasar sumur!"
"Tapi.... tapi.....
siapa yang membuka dinding itu?"
"Siapa tahu, nimas?
Tentu Dewata yang menolong kita...”
"Jangan-jangan jebakan
mereka untuk menyiksa kita lebih hebat lagi...”
"Tidak perduli,
setidaknya setiap kesempatan harus kita pergunakan. Lebih baik mati dalam perlawanan
daripada mati konyol di dalam sumur. Mari, nimas, jangan lepaskan tanganku,
begini gelap...”
No comments:
Post a Comment