"Endang............ !!" Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono berseru kaget, matanya terbelalak memandang, hampir tidak percaya akan pendengaran telinganya ketika mendengar pengakuan yang tak pernah disangka-sangkanya ini. Kemudian dengan suara gemetar ia mencoba untuk membantah,
"Tapi....kau hendak
membunuhku..., ingatkah pertandingan di badai itu? Berebutan keris pusaka
Brojol Luwuk?"
"Tentu saja, Joko
Wandiro." Endang Patibroto menghela napas panjang.
"Tentu saja. Hati siapa
yang tidak sakit karena ditolak cintanya? Engkau menolak dijodohkan denganku.
Engkau memilih Ayu Candra!"
Melihat kini wanita itu
menunduk dan mengalirkan air mata, Tejolaksono menghela napas panjang, menekan
perasaannya yang menggelora, lalu berkata lirih,
"Endang Patibroto,
perlu apakah hal-hal yang sudah lalu kauceritakan? Perlu apakah hal itu
disebut-sebut lagi? Hanya untuk menghancurkan perasaan kita berdua."
Sampai lama Endang Patibroto
tidak menjawab, terisak-isak. Kemudian ia berkata lagi,
"Orang selalu keliru
menyangka tentang diriku, keliru menafsirkan isi hatiku. Mungkin karena aku
liar dan ganas, karena aku murid Dibyo Mamangkoro.....Biarlah sekarang aku
mengaku semua... pada saat terakhir hidup kita ini. Engkau tahu, Joko Wandiro,
setelah aku kalah olehmu, setelah aku putus harapan, kehilangan engkau yang
mencintai Ayu Candra, kehilangan Brojol Luwuk yang telah kaurampas, kehilangan
kasih ibu kandung....kehilangan semuanya, bahkan kehilangan hati karena cintaku
padamu tak terbalas....ketika itu... aku hendak membunuh diri di dalam
badai..."
"Endang............ “
Tejolaksono berseru lagi penuh keharuan.
"Biarlah kuceritakan
semua ... kita toh akan mati...biarlah kauanggap aku wanita tak bermalu...
semua ini kenyataan hatiku .....Joko Wandiro, ketika aku hendak membunuh diri,
muncul Pangeran Panjirawit yang mencintaku. Dialah yang merenggutku dari maut,
kemudian menghiburku... melimpahkan kebaikan budi kepadaku.... ah, kasihan
Pangeran Panjirawit suamiku...." Ia terisak lagi dan tak dapat melanjutkan
kata-katanya. Tejolaksono hanya duduk bersila dan memandang, seperti arca.
Pengakuan wanita ini benar-benar merupakan serangan dahsyat pada hatinya,
membuat ia lupa sama sekali bahwa mereka berdua pada saat itu menghadapi
ancaman maut yang tak terhindarkan lagi.
Setelah menyusut air
matanya, Endang Patibroto melanjutkan kata-katanya,
“... dengan penuh
pengertian, penuh kesabaran dia membimbingku, mengisi hidupku, seolah-olah
menghidupkan lagi aku yang bangkit dari kematian...melimpahkan cinta kasihnya
sampai aku berhasil membalas cintanya....tapi... tapi akhirnya ia tewas dalam
membela diriku.... ah, hampir aku gila dibuatnya. Hanya satu cita-cita hidupku.
Membalas kematiannya, mendendam kepada Jenggala dan Panjalu, sehingga nekat
bersekutu dengan Blambangan. Akan tetapi kau muncul...! Ternyata aku keliru
sangka, bukan Jenggala dan Panjalu yang menjadi sebab kematian suamiku,
melainkan Blambangan! Dan kini...aku dipertemukan lagi dengan engkau... kini di
tepi kematian. Ahhh, Joko Wandiro... !”
Endang Patibroto menubruk
dan menangis di atas pangkuan Tejolaksono yang masih terbenam dalam keharuan,
diam seperti arca.
Endang Patibroto kembali
bangkit dan duduk. Agaknya ia bisa menguasai hatinya yang remuk redam, tidak
menangis lagi, bahkan ia mulai membenarkan rambutnya yang kusut, disanggulnya,
akan tetapi kedua tangannya menggigil sehingga sanggul itu tidak benar, bahkan
terlepas dan terurai lagi, sepasang matanya memandang wajah pria yang bersila
di depannya. Cahaya matahari menyinar dari lubang di atas sehingga cahaya
remang-remang di ruangan bawah tanah itu tidak begitu gelap benar. Mereka
bertemu pandang dan sukar dilukiskan apa yang tersinar keluar dari pandang mata
masing-masing.
"Joko Wandiro ...”
Seperti mimpi Tejolaksono
mendengar panggilan ini, panggilan yang dikeluarkan dari bibir yang gemetar. Ia
memandang, tak mampu menjawab, hanya menggumam lirih,
"Hemmmm.....?"
“.... aku.., kita... "
Endang Patibroto tak dapat melanjutkan kata-atanya, lalu menunduk dan menarik
napas panjang. Agaknya sukar ia menyatakan isi hatinya.
"Bicaralah, Endang
Patibroto. Aku mendengar....“
"Joko Wandiro..., aku
telah berdosa kepada ayah.....dan sekarang kita berdua menghadapi kematian. Tak
lama lagi kita akan bertemu dengan ayah..., aku telah mengecewakan hati ayah...
tidak dapat memenuhi pesannya yang terakhir, yang keluar
dari mulutnya sebelum ia
meninggal dunia. Joko Wandiro..."
Kembali ia terdiam dan
kepalanya makin menunduk. Sampai lama Tejolaksono menanti, namun tidak juga
keluar ucapan lanjutan wanita itu dan ia sama sekali tidak dapat menduga apa
yang akan dikatakan wanita luar biasa ini.
"Bagaimana, Endang
Patibroto? Apa yang hendak kaukatakan?"
“... Joko
Wandiro...ahh...bagaimana aku harus mengatakan kepadamu.... Akan tetapi...
biarlah, biar semua orang menganggapku seorang wanita hina...biar kau sendiri
menganggapku rendah...aku tidak perduli...Joko Wandiro, kalau ada sedikit saja
rasa cinta dan kasihan di hatimu terhadap diriku... aku....“ Melihat betapa
sukarnya Endang Patibroto menyampaikan perasaan hatinya, Tejolaksono segera
berkata menghibur,
"Terus terang saja,
dahulu aku pernah amat kagum dan cinta kepadamu, Endang, sebelum aku bertemu dengan
Ayu Candra ... dan tentang kasihan, kau tahu bahwa aku selalu mengasihanimu...“
Endang Patibroto mengangkat mukanya dengan wajah berseri sedikit. Ia menggigit
bibir bawah, agaknya menahan perasaan jengah dan malu, kemudian la berkata,
"Kalau begitu....Joko
Wandiro, kau terimalah aku sebagai isterimu....”
"Haaaahhhh.....???"
Tejolaksono memandang dengan terbelalak. Sungguh mati ia tidak pernah menyangka
bahwa Endang Patibroto akan berkata demikian. Pantas saja begitu sukar keluar
dari mulut!
"Joko Wandiro, aku tahu
bahwa engkau tentu akan memandang rendah dan hina kepadaku dengan permintaanku
ini. Akan tetapi .... aku ingin mati sebagai isterimu! Aku ingin menghadap ayah
setelah memenuhi pesannya. Aku.... aku...ahhh....” Kembali ia menubruk dan
terisak perlahan ketika melihat sinar mata Tejolaksono seperti itu.
"Tapi...tapi...
Endang... ingatlah kepada Pangeran Panjirawit, mendiang suamimul!"
Tejolaksono yang wajahnya
menjadi pucat itu berkata gagap. Ia harus mengatakan sesuatu untuk memulihkan
ketenangannya,
Untuk menangkis serangan
Endang Patibroto yang langsung menusuk jantung menembus hati menyentuh
perasaan.
"Pangeran Panjirawit?
Kasihan suamiku, semoga rohnya diterima Sang Hyang Widhi. Tidak, dia tidak
apa-apa, karena dia sudah tahu, Joko Wandiro! Aku telah membuka rahasia hatiku
ketika ia meminangku, terus terang kuceritakan kepadanya bahwa aku adalah
jodohmu yang ditentukan ayah, bahwa aku... aku mencintaimu! Akan tetapi, dia
dapat mengerti, dan dapat mengasuh, begitu sabar dan penuh pengertian sehingga
beberapa tahun kemudian dia berhasil menjatuhkan hatiku. Ia tahu bahwa pada
bulan-bulan pertama, di waktu dia mencumbu rayu, aku menganggap bahwa dia
bukanlah Pangeran Panjirawit, melainkan ... Joko Wandiro... Nah, aku telah
membuka rahasia, terserah kepadamu, aku rela kauanggap apa saja.... , wanita
tak bermalu, wanita hina dina dan rendah... tidak setia.... apa saja, Joko
Wandiro. Kita akan mati bersama... dan aku ingin mati sebagai ... isterimu...!”
Sampai lama Tejolaksono yang
masih duduk bersila itu menatap wajah yang menunduk, rambut yang kusut terurai,
dada yang turun naik diseling tangis, pakaian yang robek- robek, tubuh yang
membayangkan kelemahan dan kelelahan, kesengsaraan dan duka nestapa menimbulkan
haru dan iba. Alangkah mudahnya bagi seorang pria untuk menyayang seorang
wanita sehebat Endang Patibroto! Alangkah mudahnya untuk jatuh cinta! Akan
tetapi ia teringat akan isterinya, terbayang wajah Ayu Candra yang mencintanya
dengan sifatnya yang halus dan setia. Hampir semua ponggawa di masa itu,
apalagi yang pangkatnya adipati, tentu mempunyai selir, pada umumnya sampai
belasan orang selir, sedikitnya tiga orang. Akan tetapi selama sepuluh tahun
ini Adipati Tejolaksono tidak mau mengambil selir, bukan karena Ayu Candra
melarangnya, sama sekali bukan. Ayu Candra dapat memaklumi
kedudukan wanita dan
"hak" kaum pria pada masa itu. Akan tetapi Adipati Tejolaksono tidak
mau mengambil selir karena cinta kasihnya kepada isterinya amat mendalam, ia
tidak mau membagi cinta kasihnya itu dengan wanita lain!
"Endang Patibroto.... ,
aku... kasihan kepada Ayu Candra....“
Endang Patibroto menutupi
mukanya dengan telapak tangannya.
"Aduh... sungguh aku
seorang wanita yang tidak tahu malu, Joko Wandiro... , kalau saja tidak
menghadapi kematian yang tak terelakkan lagi, sampai mati sekalipun tak mungkin
aku dapat membuka semua rahasia hati dan hidupku padamu! Memang sesungguhnya
engkau seorang laki-laki yang patut dicinta, engkau setia dan memang semestinya
engkau mengasihi Ayu Candra isterimu... akan tetapi... aku mendengar bahwa dia
mempunyai putera.... Ayu Candra ada puteranya dan di sana ada.... ibu
Kartikosari dan bibi Roro Luhito .... sedangkan aku.... aku tidak mempunyai
siapa-siapa di dunia ini... karena itu.... aku ingin sekali mempunyai engkau di
alam baka, Joko Wandiro.... ! Tidak kasihankah engkau kepadaku? Sedikitpun
tidak....?" Endang Patibroto menangis sambil menutupi mukanya. Air matanya
mengalir turun melalui celah-celah jari tangannya. Wanita ini telah membongkar
semua rahasia hatinya yang tak diketahui oleh orang lain kecuali mendiang
suaminya yang pernah ia ceritakan, itupun tidak semua, tidak seperti
pengakuannya kepada Joko Wandiro sekarang ini. Ia telah membuka semua isi
hatinya, maklum bahwa ia menghadapi resiko yang amat berat, dapat membuat ia
dipandang rendah dan hina. Namun, karena yakin bahwa mereka
berdua akan mati, ia tidak
perduli lagi. Ia ingin menjadi isteri Joko Wandiro pada saat-saat terakhir
hidupnya, untuk memenuhi pesan ayah kandungnya, untuk memenuhi.... hasrat yang
menjadi kandungan hatinya semenjak dahulu, semenjak pertemuannya dengan Joko
Wandiro setelah ia menjadi dewasa, semenjak diam-diam ia jatuh cinta kepada
pria ini namun keadaan tidak memberi kesempatan kepada dua hati ini untuk
bersatu padu, bahkan membuat mereka menjadi saling bertentangan!
"Endang kasihan kau,
Endang ....!" Ketika jari-jari tangan Tejolaksono dengan gerakan halus
mesra menyentuh kedua pundaknya, Endang Patibroto merasa seakan-akan ubun-ubun
kepalanya disiram air embun dari surga loka! Menyusup masuk memenuhi hati dan
perasaan, meluap keluar melalui kedua matanya dan ia mengeluarkan suara
setengah menjerit setengah merintih ketika memeluk pinggang Adipati Tejolaksono
dan membenamkan mukanya di dada pria yang selalu dicintanya dalam hati akan
tetapi dimusuhinya pada lahirnya itu.
"Terima kasih....
terima kasih, Joko .... kalau engkau ada sedikit kasihan dan sudi membagi
cintamu kepada diriku yang hina ini..." ia tersedu.
"Hushhhh.... mengapa
kau bilang begitu, Endang?" Joko Wandiro atau Tejolaksono memegang ujung
dagu Endang Patibroto dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, lalu mengangkat
muka wanita itu sehingga menengadah. Mereka bertemu pandang, muka mereka saling
mendekat sehingga napas hangat mereka terasa ke muka masing-masing.
"Endang Patibroto,
engkau sama sekali tidak hina, tidak rendah.... engkau mulia dalam pandanganku
karena pengakuanmu menghapus lenyap semua salah pengertian dahulu.... tidak,
bukan engkau yang minta menjadi isteriku, melainkan akulah kini yang
meminangmu. Endang Patibroto, maukah engkau menjadi isteriku, menjadi selirku
yang pertama dan terakhir?" Wajah cantik yang tengadah itu, pucat dan
rambutnya kusut, matanya dipejamkan akan tetapi air matanya terus berlinang
keluar melalui sepasang pipi, bibirnya gemetar, menggigil setengah menangis
setengah tersenyum, hanya dapat tergerak perlahan mengangguk-angguk. Kedua
tangan Joko Wandiro mendekap muka itu, pada leher di bawah telinga, memandang
seperti orang memandang sebuah mustika yang amat berharga, kemudian seperti
tanpa mereka sadari, bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang mesra, yang
didorong oleh getaran dua buah hati yang saling berjumpa, setelah lama dan jauh
berpisah. Ciuman ini membuat Joko Wandiro seakan-akan mendapatkan kembali
sebuah keindahan yang sudah lama terhilang sehingga keharuan memenuhi hatinya,
menaikkan sedu sedan dari dalam dada ke lehernya, menjadi satu dengan sedu
sedan yang naik dari dalam dada Endang Patlbroto! Adipati Tejolaksono atau Joko
Wandiro adalah seorang manusia juga. Seorang manusia dari darah dan daging.
Betapapun saktinya, ia masih tak dapat membebaskan diri daripada perasaan dan
hawa nafsu. Apalagi terjun dalam lautan asmara bersama seorang wanita seperti
Endang Patibroto!
Mereka berdua
bergandeng tangan menghadapi maut, telah berada di ambang pintu kematian.
Menghadapi ancaman kematian bersama, hanya mereka berdua, membuat mereka makin
lekat satu kepada yang lain.
No comments:
Post a Comment