Perawan Lembah Wilis; Bagian 031


"Endang............ !!" Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono berseru kaget, matanya terbelalak memandang, hampir tidak percaya akan pendengaran telinganya ketika mendengar pengakuan yang tak pernah disangka-sangkanya ini. Kemudian dengan suara gemetar ia mencoba untuk membantah,
"Tapi....kau hendak membunuhku..., ingatkah pertandingan di badai itu? Berebutan keris pusaka Brojol Luwuk?"
"Tentu saja, Joko Wandiro." Endang Patibroto menghela napas panjang.
"Tentu saja. Hati siapa yang tidak sakit karena ditolak cintanya? Engkau menolak dijodohkan denganku. Engkau memilih Ayu Candra!"
Melihat kini wanita itu menunduk dan mengalirkan air mata, Tejolaksono menghela napas panjang, menekan perasaannya yang menggelora, lalu berkata lirih,
"Endang Patibroto, perlu apakah hal-hal yang sudah lalu kauceritakan? Perlu apakah hal itu disebut-sebut lagi? Hanya untuk menghancurkan perasaan kita berdua."
Sampai lama Endang Patibroto tidak menjawab, terisak-isak. Kemudian ia berkata lagi,
"Orang selalu keliru menyangka tentang diriku, keliru menafsirkan isi hatiku. Mungkin karena aku liar dan ganas, karena aku murid Dibyo Mamangkoro.....Biarlah sekarang aku mengaku semua... pada saat terakhir hidup kita ini. Engkau tahu, Joko Wandiro, setelah aku kalah olehmu, setelah aku putus harapan, kehilangan engkau yang mencintai Ayu Candra, kehilangan Brojol Luwuk yang telah kaurampas, kehilangan kasih ibu kandung....kehilangan semuanya, bahkan kehilangan hati karena cintaku padamu tak terbalas....ketika itu... aku hendak membunuh diri di dalam badai..."
"Endang............ “ Tejolaksono berseru lagi penuh keharuan.
"Biarlah kuceritakan semua ... kita toh akan mati...biarlah kauanggap aku wanita tak bermalu... semua ini kenyataan hatiku .....Joko Wandiro, ketika aku hendak membunuh diri, muncul Pangeran Panjirawit yang mencintaku. Dialah yang merenggutku dari maut, kemudian menghiburku... melimpahkan kebaikan budi kepadaku.... ah, kasihan Pangeran Panjirawit suamiku...." Ia terisak lagi dan tak dapat melanjutkan kata-katanya. Tejolaksono hanya duduk bersila dan memandang, seperti arca. Pengakuan wanita ini benar-benar merupakan serangan dahsyat pada hatinya, membuat ia lupa sama sekali bahwa mereka berdua pada saat itu menghadapi ancaman maut yang tak terhindarkan lagi.
Setelah menyusut air matanya, Endang Patibroto melanjutkan kata-katanya,
“... dengan penuh pengertian, penuh kesabaran dia membimbingku, mengisi hidupku, seolah-olah menghidupkan lagi aku yang bangkit dari kematian...melimpahkan cinta kasihnya sampai aku berhasil membalas cintanya....tapi... tapi akhirnya ia tewas dalam membela diriku.... ah, hampir aku gila dibuatnya. Hanya satu cita-cita hidupku. Membalas kematiannya, mendendam kepada Jenggala dan Panjalu, sehingga nekat bersekutu dengan Blambangan. Akan tetapi kau muncul...! Ternyata aku keliru sangka, bukan Jenggala dan Panjalu yang menjadi sebab kematian suamiku, melainkan Blambangan! Dan kini...aku dipertemukan lagi dengan engkau... kini di tepi kematian. Ahhh, Joko Wandiro... !”

Endang Patibroto menubruk dan menangis di atas pangkuan Tejolaksono yang masih terbenam dalam keharuan, diam seperti arca.
Endang Patibroto kembali bangkit dan duduk. Agaknya ia bisa menguasai hatinya yang remuk redam, tidak menangis lagi, bahkan ia mulai membenarkan rambutnya yang kusut, disanggulnya, akan tetapi kedua tangannya menggigil sehingga sanggul itu tidak benar, bahkan terlepas dan terurai lagi, sepasang matanya memandang wajah pria yang bersila di depannya. Cahaya matahari menyinar dari lubang di atas sehingga cahaya remang-remang di ruangan bawah tanah itu tidak begitu gelap benar. Mereka bertemu pandang dan sukar dilukiskan apa yang tersinar keluar dari pandang mata masing-masing.
"Joko Wandiro ...”
Seperti mimpi Tejolaksono mendengar panggilan ini, panggilan yang dikeluarkan dari bibir yang gemetar. Ia memandang, tak mampu menjawab, hanya menggumam lirih,
"Hemmmm.....?"
“.... aku.., kita... " Endang Patibroto tak dapat melanjutkan kata-atanya, lalu menunduk dan menarik napas panjang. Agaknya sukar ia menyatakan isi hatinya.
"Bicaralah, Endang Patibroto. Aku mendengar....“
"Joko Wandiro..., aku telah berdosa kepada ayah.....dan sekarang kita berdua menghadapi kematian. Tak lama lagi kita akan bertemu dengan ayah..., aku telah mengecewakan hati ayah... tidak dapat memenuhi pesannya yang terakhir, yang keluar
dari mulutnya sebelum ia meninggal dunia. Joko Wandiro..."
Kembali ia terdiam dan kepalanya makin menunduk. Sampai lama Tejolaksono menanti, namun tidak juga keluar ucapan lanjutan wanita itu dan ia sama sekali tidak dapat menduga apa yang akan dikatakan wanita luar biasa ini.
"Bagaimana, Endang Patibroto? Apa yang hendak kaukatakan?"
“... Joko Wandiro...ahh...bagaimana aku harus mengatakan kepadamu.... Akan tetapi... biarlah, biar semua orang menganggapku seorang wanita hina...biar kau sendiri menganggapku rendah...aku tidak perduli...Joko Wandiro, kalau ada sedikit saja rasa cinta dan kasihan di hatimu terhadap diriku... aku....“ Melihat betapa sukarnya Endang Patibroto menyampaikan perasaan hatinya, Tejolaksono segera berkata menghibur,
"Terus terang saja, dahulu aku pernah amat kagum dan cinta kepadamu, Endang, sebelum aku bertemu dengan Ayu Candra ... dan tentang kasihan, kau tahu bahwa aku selalu mengasihanimu...“ Endang Patibroto mengangkat mukanya dengan wajah berseri sedikit. Ia menggigit bibir bawah, agaknya menahan perasaan jengah dan malu, kemudian la berkata,
"Kalau begitu....Joko Wandiro, kau terimalah aku sebagai isterimu....”
"Haaaahhhh.....???" Tejolaksono memandang dengan terbelalak. Sungguh mati ia tidak pernah menyangka bahwa Endang Patibroto akan berkata demikian. Pantas saja begitu sukar keluar dari mulut!
"Joko Wandiro, aku tahu bahwa engkau tentu akan memandang rendah dan hina kepadaku dengan permintaanku ini. Akan tetapi .... aku ingin mati sebagai isterimu! Aku ingin menghadap ayah setelah memenuhi pesannya. Aku.... aku...ahhh....” Kembali ia menubruk dan terisak perlahan ketika melihat sinar mata Tejolaksono seperti itu.
"Tapi...tapi... Endang... ingatlah kepada Pangeran Panjirawit, mendiang suamimul!"

Tejolaksono yang wajahnya menjadi pucat itu berkata gagap. Ia harus mengatakan sesuatu untuk memulihkan ketenangannya,
Untuk menangkis serangan Endang Patibroto yang langsung menusuk jantung menembus hati menyentuh perasaan.
"Pangeran Panjirawit? Kasihan suamiku, semoga rohnya diterima Sang Hyang Widhi. Tidak, dia tidak apa-apa, karena dia sudah tahu, Joko Wandiro! Aku telah membuka rahasia hatiku ketika ia meminangku, terus terang kuceritakan kepadanya bahwa aku adalah jodohmu yang ditentukan ayah, bahwa aku... aku mencintaimu! Akan tetapi, dia dapat mengerti, dan dapat mengasuh, begitu sabar dan penuh pengertian sehingga beberapa tahun kemudian dia berhasil menjatuhkan hatiku. Ia tahu bahwa pada bulan-bulan pertama, di waktu dia mencumbu rayu, aku menganggap bahwa dia bukanlah Pangeran Panjirawit, melainkan ... Joko Wandiro... Nah, aku telah membuka rahasia, terserah kepadamu, aku rela kauanggap apa saja.... , wanita tak bermalu, wanita hina dina dan rendah... tidak setia.... apa saja, Joko Wandiro. Kita akan mati bersama... dan aku ingin mati sebagai ... isterimu...!”
Sampai lama Tejolaksono yang masih duduk bersila itu menatap wajah yang menunduk, rambut yang kusut terurai, dada yang turun naik diseling tangis, pakaian yang robek- robek, tubuh yang membayangkan kelemahan dan kelelahan, kesengsaraan dan duka nestapa menimbulkan haru dan iba. Alangkah mudahnya bagi seorang pria untuk menyayang seorang wanita sehebat Endang Patibroto! Alangkah mudahnya untuk jatuh cinta! Akan tetapi ia teringat akan isterinya, terbayang wajah Ayu Candra yang mencintanya dengan sifatnya yang halus dan setia. Hampir semua ponggawa di masa itu, apalagi yang pangkatnya adipati, tentu mempunyai selir, pada umumnya sampai belasan orang selir, sedikitnya tiga orang. Akan tetapi selama sepuluh tahun ini Adipati Tejolaksono tidak mau mengambil selir, bukan karena Ayu Candra melarangnya, sama sekali bukan. Ayu Candra dapat memaklumi
kedudukan wanita dan "hak" kaum pria pada masa itu. Akan tetapi Adipati Tejolaksono tidak mau mengambil selir karena cinta kasihnya kepada isterinya amat mendalam, ia tidak mau membagi cinta kasihnya itu dengan wanita lain!
"Endang Patibroto.... , aku... kasihan kepada Ayu Candra....“
Endang Patibroto menutupi mukanya dengan telapak tangannya.
"Aduh... sungguh aku seorang wanita yang tidak tahu malu, Joko Wandiro... , kalau saja tidak menghadapi kematian yang tak terelakkan lagi, sampai mati sekalipun tak mungkin aku dapat membuka semua rahasia hati dan hidupku padamu! Memang sesungguhnya engkau seorang laki-laki yang patut dicinta, engkau setia dan memang semestinya engkau mengasihi Ayu Candra isterimu... akan tetapi... aku mendengar bahwa dia mempunyai putera.... Ayu Candra ada puteranya dan di sana ada.... ibu Kartikosari dan bibi Roro Luhito .... sedangkan aku.... aku tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini... karena itu.... aku ingin sekali mempunyai engkau di alam baka, Joko Wandiro.... ! Tidak kasihankah engkau kepadaku? Sedikitpun tidak....?" Endang Patibroto menangis sambil menutupi mukanya. Air matanya mengalir turun melalui celah-celah jari tangannya. Wanita ini telah membongkar semua rahasia hatinya yang tak diketahui oleh orang lain kecuali mendiang suaminya yang pernah ia ceritakan, itupun tidak semua, tidak seperti pengakuannya kepada Joko Wandiro sekarang ini. Ia telah membuka semua isi hatinya, maklum bahwa ia menghadapi resiko yang amat berat, dapat membuat ia dipandang rendah dan hina. Namun, karena yakin bahwa mereka
berdua akan mati, ia tidak perduli lagi. Ia ingin menjadi isteri Joko Wandiro pada saat-saat terakhir hidupnya, untuk memenuhi pesan ayah kandungnya, untuk memenuhi.... hasrat yang menjadi kandungan hatinya semenjak dahulu, semenjak pertemuannya dengan Joko Wandiro setelah ia menjadi dewasa, semenjak diam-diam ia jatuh cinta kepada pria ini namun keadaan tidak memberi kesempatan kepada dua hati ini untuk bersatu padu, bahkan membuat mereka menjadi saling bertentangan!
"Endang kasihan kau, Endang ....!" Ketika jari-jari tangan Tejolaksono dengan gerakan halus mesra menyentuh kedua pundaknya, Endang Patibroto merasa seakan-akan ubun-ubun kepalanya disiram air embun dari surga loka! Menyusup masuk memenuhi hati dan perasaan, meluap keluar melalui kedua matanya dan ia mengeluarkan suara setengah menjerit setengah merintih ketika memeluk pinggang Adipati Tejolaksono dan membenamkan mukanya di dada pria yang selalu dicintanya dalam hati akan tetapi dimusuhinya pada lahirnya itu.
"Terima kasih.... terima kasih, Joko .... kalau engkau ada sedikit kasihan dan sudi membagi cintamu kepada diriku yang hina ini..." ia tersedu.
"Hushhhh.... mengapa kau bilang begitu, Endang?" Joko Wandiro atau Tejolaksono memegang ujung dagu Endang Patibroto dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, lalu mengangkat muka wanita itu sehingga menengadah. Mereka bertemu pandang, muka mereka saling mendekat sehingga napas hangat mereka terasa ke muka masing-masing.
"Endang Patibroto, engkau sama sekali tidak hina, tidak rendah.... engkau mulia dalam pandanganku karena pengakuanmu menghapus lenyap semua salah pengertian dahulu.... tidak, bukan engkau yang minta menjadi isteriku, melainkan akulah kini yang meminangmu. Endang Patibroto, maukah engkau menjadi isteriku, menjadi selirku yang pertama dan terakhir?" Wajah cantik yang tengadah itu, pucat dan rambutnya kusut, matanya dipejamkan akan tetapi air matanya terus berlinang keluar melalui sepasang pipi, bibirnya gemetar, menggigil setengah menangis setengah tersenyum, hanya dapat tergerak perlahan mengangguk-angguk. Kedua tangan Joko Wandiro mendekap muka itu, pada leher di bawah telinga, memandang seperti orang memandang sebuah mustika yang amat berharga, kemudian seperti tanpa mereka sadari, bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang mesra, yang didorong oleh getaran dua buah hati yang saling berjumpa, setelah lama dan jauh berpisah. Ciuman ini membuat Joko Wandiro seakan-akan mendapatkan kembali sebuah keindahan yang sudah lama terhilang sehingga keharuan memenuhi hatinya, menaikkan sedu sedan dari dalam dada ke lehernya, menjadi satu dengan sedu sedan yang naik dari dalam dada Endang Patlbroto! Adipati Tejolaksono atau Joko Wandiro adalah seorang manusia juga. Seorang manusia dari darah dan daging. Betapapun saktinya, ia masih tak dapat membebaskan diri daripada perasaan dan hawa nafsu. Apalagi terjun dalam lautan asmara bersama seorang wanita seperti Endang Patibroto!

Mereka berdua bergandeng tangan menghadapi maut, telah berada di ambang pintu kematian. Menghadapi ancaman kematian bersama, hanya mereka berdua, membuat mereka makin lekat satu kepada yang lain.

<<< Bagian 030                                                                                   Bagian 032 >>>

No comments:

Post a Comment