Perawan Lembah Wilis; Bagian 030


Tak mungkin meloncat keluar dari tempat sedalam itu, apalagi meloncat secara tegak lurus begitu. Habis sudah akal mereka pergunakan, semua tenaga
mereka kerahkan, namun sia-sia. Andaikata mereka dapat mencapai atas sumur, tetap saja mereka akan berhadapan dengan penjagaan yang amat ketat, dan sebelum dapat keluar tentu akan dihujani anak panah sehingga terpaksa harus turun kembali!
Tejolaksono menindas perasaannya, bersikap tenang. Ia mengajak Endang Patibroto duduk bersila di lantai, berhadapan.
"Tidak ada jalan untuk lolos, Endang Patibroto, akan tetapi aku tetap yakin bahwa selama Hyang Widhi belum menghendaki kita mati, tentu kita akan dapat lolos juga akhirnya."
Endang Patibroto menghela papas. panjang. Sudah semalam suntuk mereka berusaha mencari jalan keluar dengan sia-sia. Kini agaknya hari telah siang kembali, melihat sinar terang yang turun dari lubang di atas. Kadang-kadang tampak bayangan kepala orang di atas lubang, akan tetapi biarpun ada orang menjenguk dari atas, dasar lubang terlampau dalam sehingga takkan tampak. Apalagi, dasar lubang itu merupakan ruangan tiga kali lebih luas daripada mulut lubang sehingga mereka berdua dapat duduk agak terlindung ke pinggir, tidak tepat di bawah lubang sumur. Endang Patibroto juga tidak merasa takut atau susah hatinya. Entah bagaimana, ia malah merasa senang menghadapi kematian di dalam kuburan ini! Ia sendiri tidak mengerti mengapa hatinya merasa begini. Yang ia tahu bahwa ia tidak sedih karena di situ ada Joko Wandiro.
"Joko Wandiro, akupun tidak takut menghadapi kematian. Apakah artinya kematian bagi seorang yang sengsara seperti aku? Ahhh, daripada mengenang kesengsaraanku, lebih baik kau ceritakan kembali, kini yang jelas, tentang segala pengalamanmu. Aku masih merasa seolah-olah dalam mimpi mendengar keteranganmu kemarin yang amat mengejutkan hatiku."
"Memang siasat Adipati Blambangan amat busuk, Endang. Demikian rapi dan pandai siasat itu dijalankan sehingga aku tidak bisa menyalahkan engkau. Baiklah kuceritakan sejelasnya agar kau dapat mengerti. Mula-mula aku diperintah oleh sang prabu di Panjalu untuk menyelidiki pembunuhan-pembunuhan aneh yang terjadi di Panjalu dan Jenggala, yang memakan korban nyawa banyak ponggawa penting. Berangkatlah aku segera ke Panjalu dan di sana aku mendengar tentang penyerbuanmu ke istana Pangeran Darmokusumo. Dapat kau bayangkan betapa terkejut dan heran hatiku. Pangeran Darmokusumo adalah suami adik suamimu sendiri, dan di antara kau dan dia ada permusuhan. Kalau kau sudah menyerbu seperti itu, sudah pasti ada alasan-alasan yang sangat kuat. Selain itu, aku mendengar desas-desus bahwa engkaulah orangnya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan aneh itu. Hal inipun aku tidak percaya, sama sekali karena aku yakin bahwa kau bukanlah seorang yang sudi melakukan pembunuhan secara demikian pengecut dan keji. Tanpa berlaku pengecut dan sembunyi-sembunyi, apa sukarnya kalau kau memang mau membunuh mereka? Mereka itu sama sekali bukan lawanmu. Maka berangkatlah aku ke Jenggala dengan maksud menemuimu sendiri dan bertanya kepadamu secara berterang tentang penyerbuanmu ke Panjalu itu. Dan di Jenggala aku mendengar bahwa kau telah membebaskan suamimu yang dipenjara oleh Sang Prabu Jenggala!"

Tejolaksono berhenti sebentar, memandang wajah yang termenung dan kini alis yang indah bentuknya itu mengerut, sinar mata itu jelas membayangkan kedukaan besar.
"Aku terkejut sekali dan makin terheran-heran. Tentu telah terjadi sesuatu yang amat aneh. Entah kejadian apa dan baru setelah aku bertemu denganmu akan dapat terbuka semua rahasia itu. Maka aku lalu mulai mencarimu. Aku sudah mempunyai dugaan bahwa dalam hal ini tentu terselip rahasia yang besar, dan bahwa orang yang mempunyai keinginan merusak Jenggala dan Panjalu, tentulah musuh besar kedua kerajaan itu. Dan siapa musuh besar yang pada saat ini paling kuat kecuali Blambangan? Dengan dasar inilah maka aku segera berangkat ke Blambangan untuk mengusut rahasia itu."
Endang Patibroto menghela napas panjang.
"Engkau selalu jauh lebih cerdik daripada aku, Joko Wandiro. Aku sudah tertipu dan terbujuk.... “
"Tidak, Endang. Bukan karena aku lebih cerdik, melainkan mungkin lebih teliti dan hati-hati. Dan kebetulan sekali di tengah jalan aku bertemu dengan Ki Brejeng yang menceritakan segala macam rahasia itu. Ki Brejeng menjadi ponggawa Blambangan dan dipercaya untuk ikut dalam pasukan Sindupati."
"Si keparat jahanam Sindupati! Ahh ... aku akan mati penasaran sebelum dapat menghancurkan kepala jahanam keji itu"
"Dia memang amat jahat dan cerdik bukan main. Aku telah memukulnya dengan Aji Pethit Nogo, akan tetapi ternyata ia belum mati. Selain cerdik ia juga sakti. Karena kecerdikannya itulah maka dia diserahi pimpinan pasukan untuk mengacau Jenggala dan Panjalu. Dan Sindupati menjalankan siasatnya dengan amat baiknya. Kau tentu ingat akan mendiang Bhagawan Kundilomuko penyembah Bathari Durgo itu, bukan? Nah, Bhagawan Kundilomuko adalah paman dari Adipati Menak Linggo, maka Adipati Blambangan mendendam kepadamu dan berpesan kepada Sindupati agar mencelakaimu atau sedapat mungkin membunuhmu."
"Mengapa Ki Brejeng tidak menceritakan semua itu kepadaku?"
"Biar pun tidak bercerita kepadamu karena takut kepada Sindupati, namun diam-diam Ki Brejeng setia kepadamu, Endang. Nanti akan kuceritakan tentang itu. Menurut penuturan Ki Brejeng, Sindupati mempergunakan dukun lepus Sang Wiku Kalawisesa untuk membunuh-bunuhi para ponggawa penting kedua kerajaan untuk melemahkan kedua kerajaan itu. Di samping itu, Sindupati menyebar desas-desus untuk menjatuhkan nama baikmu. Setelah kau berhasil memaksa Wiku Kalawisesa mengaku, sang wiku yang jahat itu makin menjerumuskan engkau dengan mengaku bahwa Darmokusumo yang menyuruhnya. Demikianlah, tentu saja pihak Panjalu makin menyangka buruk kepadamu ketika kau menyerbu ke sana. Dan Sang Prabu Jenggala setelah melihat bukti penyerbuanmu itu, tentu saja menjadi marah dan menahan suamimu. Engkau menyerbu penjara, memaksa suamimu bebas, kemudian melarikan diri. Nah, tentu saja kalau aku tidak bertemu dan mendengar cerita Ki Brejeng, akupun akan menyesalkan semua yang kau lakukan itu. Ki Brejenglah yang membuka semua rahasia itu."
"Kenapa dia mati? Menurut Sindupati si laknat, Ki Brejeng melarikan diri karena ingin hidup bebas."
"Ha, memang Sindupati pandai berdusta. Ki Brejeng melihat betapa engkau hendak dibunuh dengan racun, maka ia yang masih setia kepadamu mencegah perbuatan itu dengan mengganti makananmu yang, teracun. Akibatnya, ia disiksa dan dilempar ke dalam jurang dan disangka sudah mati. Siapa kira, Ki Brejeng memiliki daya tahan luar biasa, sampai tiga malam masih belum mati sehingga ketika aku lewat, dia dapat bertemu dan bicara denganku."

Sepasang mata Endang Patibroto bersinar-sinar penuh kemarahan dan kebencian.
"Hemm... si keparat Sindupati! Dan kalau teringat betapa aku selalu menganggapnya orang baik-baik, seorang sahabat sejati ..... ahh, aku malu kepada diri sendiri. Alangkah bodohku... !”
"Bukan kau yang bodoh, Endang...," kata Tejolaksono menghibur,
"melainkan Sindupati yang terlalu licik dan cerdik. Akan tetapi, ada sebuah hal yang amat menggelisahkan hatiku. Mengapa engkau di Biambangan seorang diri saja, Endang Patibroto? Di manakah kau sembunyikan Pangeran Panjirawit, suamimu...??”
Endang Patibroto menarik napas dari mulut keras-keras seperti tersedak. Ia memandang kepada Tejolaksono dengan sepasang mata terbelalak dan muka pucat. Melihat Tejolaksono mengira bahwa wanita yang keras hati ini kembali kurang percaya kepadanya karena kekurangpercayaan itu memancar dari pandang matanya, maka ia cepat menyambung,
"Kurasa....kalau ada sang pangeran, beliau tentu tidak akan begitu mudah terbujuk, bersekutu dengan Blambangan."
"Endang... ! Endang... ! Kau kenapa....??" Tejolaksono terkejut dan heran sekali karena wanita itu tiba-tiba menangis sesenggukan. Jantungnya berdebar keras penuh kekhawatiran dan prasangka buruk.
"Aduh...., Joko...kau..kau benar-benarkah tidak tahu....? Apakah kau tidak mendengar dari Ki Brejeng....?" Tejolaksono menggeleng kepala.
"Dia tidak menyebut-nyebut tentang suamimu...”
Tangis Endang Patibroto makin mengguguk dan dengan suara tersendat-sendat ia berbisik,
"....dia...dia suamiku ...dia telah tewas..!”
"Duh Jagad Dewa Bathara... !!!" Tejolaksono berseru kaget sekali dan saking terharu hatinya, ia menerima tubuh Endang Patibroto yang menelungkup, memeluk pundak wanita itu yang menangis sesenggukan sepertl anak kecil sehingga muka itu membasahi dadanya. Sampai lama Endang Patibroto menangis. Baru sekali ini ia dapat menumpahkan seluruh kedukaan yang terkumpul di hati dan tangisnya kali ini seperti air bah yang jebol tanggulnya. Ia merintih-rintih dan memanggil
nama suaminya, memeluk pinggang Tejolaksono, membenamkan mukanya di dada yang bidang Itu. Tejolaksono mengelus-elus kepala Endang Patibroto. Hatinya penuh keharuan. Betapa buruknya nasib wanita ini, pikirnya. Terbayanglah ia semenjak Endang Patibroto masih kecil. Demikian banyaknya percobaan hidup, demikian banyaknya kenyataan pahit harus ditelan oleh Endang Patibroto. Kemudian, setelah mengalami masa bahagia bersama suaminya hanya untuk beberapa tahun saja, kini sudah lagi harus menderita sengsara yang amat hebat.

Akan tetapi, sebagai jawaban, Endang Patibroto menangis makin mengguguk sehingga Tejolaksono menjadi bingung dan hanya dapat mendekap erat-erat sambil mengelus-elus rambut yang halus itu. Setelah mereka tangis yang menggelora, Endang Patibroto menarik napas panjang, terisak dan tanpa mengangkat mukanya dari dada Tejolaksono ia berbisik,
"Ia terbunuh ketika aku melarikannya, terkena anak panah yang datang bagaikan hujan.....”
"Aduh, kasihan kau Endang Patibroto ..!"
Joko Wandiro atau Tejolaksono kini dapat merasakan betapa hebat penderitaan batin yang menimpa wanita ini. Dengan mata basah ia lalu mendekap kepala Endang Patibroto dengan maksud hatl menghiburnya. Sementara itu, Endang Patibroto menangis lagi sampai tubuhnya tergoyang-goyang dalam pelukan Tejolaksono. Sampai lama mereka berpelukan di dasar sumur itu, dan akhirnya tangis Endang Patibroto terhenti. Namun ia tidak bangkit dari atas dada Tejolaksono dan berkata lemah,
"Joko Wandiro....sejak dahulu....alangkah baiknya engkau terhadap diriku. Aku dahulu seperti orang buta. Engkau...engkau selalu baik kepadaku, Joko Wandiro.....“
Berdebar jantung Tejolaksono.
"Endang, kau lupa, aku sekarang adalah Adipati Tejolaksono...." katanya sambil menekan perasaannya.
"Bagiku kau tetap Joko Wandiro yang baik hati, yang selalu mengalah kepadaku....“
"Hemm, dan kau dahulu membenci aku, membenciku setengah mati dan memusuhiku....." Tejolaksono tersenyum, teringat akan watak wanita ini dahulu yang amat keras. Maka amatlah mengherankan melihat wanita ini sekarang menangis begitu sedihnya, dan memeluknya seperti ini. Hampir tak dapai dipercaya!.

Tiba-tiba Endang Patibroto merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan Tejolaksono. Ia duduk bersimpuh di depan pria itu, matanya memandang dengan tajam, wajahnya yang masih basah itu pucat, rambutnya kusut, namun menambah kecantikannya yang aseli, cantik jelita sehingga mengharukan hati Tejolaksono yang memandangnya.
"Tidak... ! Tidak, Joko Wandiro! Aku tidak pernah membencimu! Tidak.... belum pernah aku membencimu!" Mata itu memandang dengan pancaran sinar yang membikin Tejolaksono terkejut dan bingung. Begitu tajam, begitu mesra, begitu penuh perasaan dan.... mengandung cinta kasih seperti kalau mata Ayu Candra memandangnya! Ia cepat menekan hatinya.
"Ah, Endang Patibroto, engkau dahulu selalu memusuhiku, bukan? Semenjak kita kecil...”
"Tentu saja, karena aku tidak mau kalah olehmu. Aku ingin menang darimu, ingin kaukagumi. Aku tidak pernah mau kalah oleh siapa juga, teristimewa oleh engkau Joko Wandiro. Akan tetapi, akhirnya aku harus mengakui keunggulanmu dan... dan hal itu tidak membuatku benci..."
"Tetapi setelah kita dewasapun, kau selalu memusuhiku. Kau membenciku!"
"Tidak! Memang kita selalu bertentangan, keadaan keluarga kita yang melibat kita sehingga terjadi pertentangan. Akan tetapi. ... , aku tak pernah membencimu, Joko Wandiro. Di sudut hatiku, tak pernah lenyap aku....aku.....ah, perlu apa aku berpura- pura lagi? Kita sekarang menghadapi maut di depan mata. Kita takkan dapat lolos dari sini, hal ini aku yakin benar. Kita pasti akan mati di sini, entah berapa hari lagi. Karena itu, karena kita berdua akan mati bersama di sini, tak perlu lagi aku berpura-pura, tak perlu lagi malu-malu. Andaikata kita tidak menghadapi kematian yang tak mungkin dapat dihindarkan lagi, sampai matipun aku tentu tidak sudi membuka mulut mengadakan pengakuan ini. Joko Wandiro, engkau keliru besar kalau mengira bahwa dahulu aku membencimu. Tidak sama sekali! Ingatkah engkau di dalam hutan itu, ketika engkau dari belakang memelukku? Dari belakang engkau mendekap dan menciumku? Kalau aku membencimu, tentu sudah kupukul mati kau di saat itu selagi engkau tidak siap! Akan tetapi tidak! Aku tidak menyerangmu, aku menggigil karena bahagia! Akupun merasa bahagia sekali ketika sebelum meninggal ayah berpesan agar aku berjodoh denganmu. Tidak, Joko Wandiro. Aku tidak membencimu ketika itu. Aku.....aku cinta kepadamu! Nah, dengar engkau sekarang? Menghadapi kematian aku tidak malu-malu lagi mengaku. Aku cinta kepadamu."

<<< Bagian 029                                                                                    Bagian 031 >>>

No comments:

Post a Comment