Tak mungkin meloncat keluar dari tempat sedalam itu, apalagi meloncat secara tegak lurus begitu. Habis sudah akal mereka pergunakan, semua tenaga
mereka kerahkan, namun
sia-sia. Andaikata mereka dapat mencapai atas sumur, tetap saja mereka akan
berhadapan dengan penjagaan yang amat ketat, dan sebelum dapat keluar tentu
akan dihujani anak panah sehingga terpaksa harus turun kembali!
Tejolaksono menindas
perasaannya, bersikap tenang. Ia mengajak Endang Patibroto duduk bersila di
lantai, berhadapan.
"Tidak ada jalan untuk
lolos, Endang Patibroto, akan tetapi aku tetap yakin bahwa selama Hyang Widhi
belum menghendaki kita mati, tentu kita akan dapat lolos juga akhirnya."
Endang Patibroto menghela
papas. panjang. Sudah semalam suntuk mereka berusaha mencari jalan keluar
dengan sia-sia. Kini agaknya hari telah siang kembali, melihat sinar terang
yang turun dari lubang di atas. Kadang-kadang tampak bayangan kepala orang di
atas lubang, akan tetapi biarpun ada orang menjenguk dari atas, dasar lubang
terlampau dalam sehingga takkan tampak. Apalagi, dasar lubang itu merupakan
ruangan tiga kali lebih luas daripada mulut lubang sehingga mereka berdua dapat
duduk agak terlindung ke pinggir, tidak tepat di bawah lubang sumur. Endang
Patibroto juga tidak merasa takut atau susah hatinya. Entah bagaimana, ia malah
merasa senang menghadapi kematian di dalam kuburan ini! Ia sendiri tidak
mengerti mengapa hatinya merasa begini. Yang ia tahu bahwa ia tidak sedih
karena di situ ada Joko Wandiro.
"Joko Wandiro, akupun
tidak takut menghadapi kematian. Apakah artinya kematian bagi seorang yang
sengsara seperti aku? Ahhh, daripada mengenang kesengsaraanku, lebih baik kau
ceritakan kembali, kini yang jelas, tentang segala pengalamanmu. Aku masih
merasa seolah-olah dalam mimpi mendengar keteranganmu kemarin yang amat
mengejutkan hatiku."
"Memang siasat Adipati
Blambangan amat busuk, Endang. Demikian rapi dan pandai siasat itu dijalankan
sehingga aku tidak bisa menyalahkan engkau. Baiklah kuceritakan sejelasnya agar
kau dapat mengerti. Mula-mula aku diperintah oleh sang prabu di Panjalu untuk
menyelidiki pembunuhan-pembunuhan aneh yang terjadi di Panjalu dan Jenggala,
yang memakan korban nyawa banyak ponggawa penting. Berangkatlah aku segera ke
Panjalu dan di sana aku mendengar tentang penyerbuanmu ke istana Pangeran
Darmokusumo. Dapat kau bayangkan betapa terkejut dan heran hatiku. Pangeran
Darmokusumo adalah suami adik suamimu sendiri, dan di antara kau dan dia ada
permusuhan. Kalau kau sudah menyerbu seperti itu, sudah pasti ada alasan-alasan
yang sangat kuat. Selain itu, aku mendengar desas-desus bahwa engkaulah
orangnya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan aneh itu. Hal inipun aku tidak
percaya, sama sekali karena aku yakin bahwa kau bukanlah seorang yang sudi
melakukan pembunuhan secara demikian pengecut dan keji. Tanpa berlaku pengecut
dan sembunyi-sembunyi, apa sukarnya kalau kau memang mau membunuh mereka?
Mereka itu sama sekali bukan lawanmu. Maka berangkatlah aku ke Jenggala dengan
maksud menemuimu sendiri dan bertanya kepadamu secara berterang tentang
penyerbuanmu ke Panjalu itu. Dan di Jenggala aku mendengar bahwa kau telah
membebaskan suamimu yang dipenjara oleh Sang Prabu Jenggala!"
Tejolaksono berhenti
sebentar, memandang wajah yang termenung dan kini alis yang indah bentuknya itu
mengerut, sinar mata itu jelas membayangkan kedukaan besar.
"Aku terkejut sekali
dan makin terheran-heran. Tentu telah terjadi sesuatu yang amat aneh. Entah
kejadian apa dan baru setelah aku bertemu denganmu akan dapat terbuka semua
rahasia itu. Maka aku lalu mulai mencarimu. Aku sudah mempunyai dugaan bahwa
dalam hal ini tentu terselip rahasia yang besar, dan bahwa orang yang mempunyai
keinginan merusak Jenggala dan Panjalu, tentulah musuh besar kedua kerajaan
itu. Dan siapa musuh besar yang pada saat ini paling kuat kecuali Blambangan?
Dengan dasar inilah maka aku segera berangkat ke Blambangan untuk mengusut
rahasia itu."
Endang Patibroto menghela
napas panjang.
"Engkau selalu jauh
lebih cerdik daripada aku, Joko Wandiro. Aku sudah tertipu dan terbujuk.... “
"Tidak, Endang. Bukan
karena aku lebih cerdik, melainkan mungkin lebih teliti dan hati-hati. Dan
kebetulan sekali di tengah jalan aku bertemu dengan Ki Brejeng yang
menceritakan segala macam rahasia itu. Ki Brejeng menjadi ponggawa Blambangan
dan dipercaya untuk ikut dalam pasukan Sindupati."
"Si keparat jahanam
Sindupati! Ahh ... aku akan mati penasaran sebelum dapat menghancurkan kepala
jahanam keji itu"
"Dia memang amat jahat
dan cerdik bukan main. Aku telah memukulnya dengan Aji Pethit Nogo, akan tetapi
ternyata ia belum mati. Selain cerdik ia juga sakti. Karena kecerdikannya
itulah maka dia diserahi pimpinan pasukan untuk mengacau Jenggala dan Panjalu.
Dan Sindupati menjalankan siasatnya dengan amat baiknya. Kau tentu ingat akan
mendiang Bhagawan Kundilomuko penyembah Bathari Durgo itu, bukan? Nah, Bhagawan
Kundilomuko adalah paman dari Adipati Menak Linggo, maka Adipati Blambangan
mendendam kepadamu dan berpesan kepada Sindupati agar mencelakaimu atau sedapat
mungkin membunuhmu."
"Mengapa Ki Brejeng
tidak menceritakan semua itu kepadaku?"
"Biar pun tidak
bercerita kepadamu karena takut kepada Sindupati, namun diam-diam Ki Brejeng
setia kepadamu, Endang. Nanti akan kuceritakan tentang itu. Menurut penuturan
Ki Brejeng, Sindupati mempergunakan dukun lepus Sang Wiku Kalawisesa untuk
membunuh-bunuhi para ponggawa penting kedua kerajaan untuk melemahkan kedua
kerajaan itu. Di samping itu, Sindupati menyebar desas-desus untuk menjatuhkan
nama baikmu. Setelah kau berhasil memaksa Wiku Kalawisesa mengaku, sang wiku
yang jahat itu makin menjerumuskan engkau dengan mengaku bahwa Darmokusumo yang
menyuruhnya. Demikianlah, tentu saja pihak Panjalu makin menyangka buruk
kepadamu ketika kau menyerbu ke sana. Dan Sang Prabu Jenggala setelah melihat
bukti penyerbuanmu itu, tentu saja menjadi marah dan menahan suamimu. Engkau
menyerbu penjara, memaksa suamimu bebas, kemudian melarikan diri. Nah, tentu
saja kalau aku tidak bertemu dan mendengar cerita Ki Brejeng, akupun akan
menyesalkan semua yang kau lakukan itu. Ki Brejenglah yang membuka semua
rahasia itu."
"Kenapa dia mati?
Menurut Sindupati si laknat, Ki Brejeng melarikan diri karena ingin hidup
bebas."
"Ha, memang Sindupati
pandai berdusta. Ki Brejeng melihat betapa engkau hendak dibunuh dengan racun,
maka ia yang masih setia kepadamu mencegah perbuatan itu dengan mengganti
makananmu yang, teracun. Akibatnya, ia disiksa dan dilempar ke dalam jurang dan
disangka sudah mati. Siapa kira, Ki Brejeng memiliki daya tahan luar biasa, sampai
tiga malam masih belum mati sehingga ketika aku lewat, dia dapat bertemu dan
bicara denganku."
Sepasang mata Endang
Patibroto bersinar-sinar penuh kemarahan dan kebencian.
"Hemm... si keparat
Sindupati! Dan kalau teringat betapa aku selalu menganggapnya orang baik-baik,
seorang sahabat sejati ..... ahh, aku malu kepada diri sendiri. Alangkah
bodohku... !”
"Bukan kau yang bodoh,
Endang...," kata Tejolaksono menghibur,
"melainkan Sindupati
yang terlalu licik dan cerdik. Akan tetapi, ada sebuah hal yang amat
menggelisahkan hatiku. Mengapa engkau di Biambangan seorang diri saja, Endang
Patibroto? Di manakah kau sembunyikan Pangeran Panjirawit, suamimu...??”
Endang Patibroto menarik
napas dari mulut keras-keras seperti tersedak. Ia memandang kepada Tejolaksono
dengan sepasang mata terbelalak dan muka pucat. Melihat Tejolaksono mengira
bahwa wanita yang keras hati ini kembali kurang percaya kepadanya karena kekurangpercayaan
itu memancar dari pandang matanya, maka ia cepat menyambung,
"Kurasa....kalau ada
sang pangeran, beliau tentu tidak akan begitu mudah terbujuk, bersekutu dengan
Blambangan."
"Endang... ! Endang...
! Kau kenapa....??" Tejolaksono terkejut dan heran sekali karena wanita
itu tiba-tiba menangis sesenggukan. Jantungnya berdebar keras penuh
kekhawatiran dan prasangka buruk.
"Aduh....,
Joko...kau..kau benar-benarkah tidak tahu....? Apakah kau tidak mendengar dari
Ki Brejeng....?" Tejolaksono menggeleng kepala.
"Dia tidak
menyebut-nyebut tentang suamimu...”
Tangis Endang Patibroto
makin mengguguk dan dengan suara tersendat-sendat ia berbisik,
"....dia...dia suamiku
...dia telah tewas..!”
"Duh Jagad Dewa
Bathara... !!!" Tejolaksono berseru kaget sekali dan saking terharu
hatinya, ia menerima tubuh Endang Patibroto yang menelungkup, memeluk pundak
wanita itu yang menangis sesenggukan sepertl anak kecil sehingga muka itu
membasahi dadanya. Sampai lama Endang Patibroto menangis. Baru sekali ini ia
dapat menumpahkan seluruh kedukaan yang terkumpul di hati dan tangisnya kali
ini seperti air bah yang jebol tanggulnya. Ia merintih-rintih dan memanggil
nama suaminya, memeluk
pinggang Tejolaksono, membenamkan mukanya di dada yang bidang Itu. Tejolaksono
mengelus-elus kepala Endang Patibroto. Hatinya penuh keharuan. Betapa buruknya
nasib wanita ini, pikirnya. Terbayanglah ia semenjak Endang Patibroto masih
kecil. Demikian banyaknya percobaan hidup, demikian banyaknya kenyataan pahit
harus ditelan oleh Endang Patibroto. Kemudian, setelah mengalami masa bahagia
bersama suaminya hanya untuk beberapa tahun saja, kini sudah lagi harus
menderita sengsara yang amat hebat.
Akan tetapi, sebagai
jawaban, Endang Patibroto menangis makin mengguguk sehingga Tejolaksono menjadi
bingung dan hanya dapat mendekap erat-erat sambil mengelus-elus rambut yang
halus itu. Setelah mereka tangis yang menggelora, Endang Patibroto menarik
napas panjang, terisak dan tanpa mengangkat mukanya dari dada Tejolaksono ia
berbisik,
"Ia terbunuh ketika aku
melarikannya, terkena anak panah yang datang bagaikan hujan.....”
"Aduh, kasihan kau
Endang Patibroto ..!"
Joko Wandiro atau
Tejolaksono kini dapat merasakan betapa hebat penderitaan batin yang menimpa
wanita ini. Dengan mata basah ia lalu mendekap kepala Endang Patibroto dengan
maksud hatl menghiburnya. Sementara itu, Endang Patibroto menangis lagi sampai
tubuhnya tergoyang-goyang dalam pelukan Tejolaksono. Sampai lama mereka
berpelukan di dasar sumur itu, dan akhirnya tangis Endang Patibroto terhenti.
Namun ia tidak bangkit dari atas dada Tejolaksono dan berkata lemah,
"Joko Wandiro....sejak
dahulu....alangkah baiknya engkau terhadap diriku. Aku dahulu seperti orang
buta. Engkau...engkau selalu baik kepadaku, Joko Wandiro.....“
Berdebar jantung Tejolaksono.
"Endang, kau lupa, aku
sekarang adalah Adipati Tejolaksono...." katanya sambil menekan
perasaannya.
"Bagiku kau tetap Joko
Wandiro yang baik hati, yang selalu mengalah kepadaku....“
"Hemm, dan kau dahulu
membenci aku, membenciku setengah mati dan memusuhiku....." Tejolaksono
tersenyum, teringat akan watak wanita ini dahulu yang amat keras. Maka amatlah
mengherankan melihat wanita ini sekarang menangis begitu sedihnya, dan
memeluknya seperti ini. Hampir tak dapai dipercaya!.
Tiba-tiba Endang Patibroto
merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan Tejolaksono. Ia duduk bersimpuh di
depan pria itu, matanya memandang dengan tajam, wajahnya yang masih basah itu
pucat, rambutnya kusut, namun menambah kecantikannya yang aseli, cantik jelita
sehingga mengharukan hati Tejolaksono yang memandangnya.
"Tidak... ! Tidak, Joko
Wandiro! Aku tidak pernah membencimu! Tidak.... belum pernah aku
membencimu!" Mata itu memandang dengan pancaran sinar yang membikin
Tejolaksono terkejut dan bingung. Begitu tajam, begitu mesra, begitu penuh
perasaan dan.... mengandung cinta kasih seperti kalau mata Ayu Candra
memandangnya! Ia cepat menekan hatinya.
"Ah, Endang Patibroto,
engkau dahulu selalu memusuhiku, bukan? Semenjak kita kecil...”
"Tentu saja, karena aku
tidak mau kalah olehmu. Aku ingin menang darimu, ingin kaukagumi. Aku tidak
pernah mau kalah oleh siapa juga, teristimewa oleh engkau Joko Wandiro. Akan
tetapi, akhirnya aku harus mengakui keunggulanmu dan... dan hal itu tidak
membuatku benci..."
"Tetapi setelah kita
dewasapun, kau selalu memusuhiku. Kau membenciku!"
"Tidak! Memang kita
selalu bertentangan, keadaan keluarga kita yang melibat kita sehingga terjadi
pertentangan. Akan tetapi. ... , aku tak pernah membencimu, Joko Wandiro. Di
sudut hatiku, tak pernah lenyap aku....aku.....ah, perlu apa aku berpura- pura
lagi? Kita sekarang menghadapi maut di depan mata. Kita takkan dapat lolos dari
sini, hal ini aku yakin benar. Kita pasti akan mati di sini, entah berapa hari
lagi. Karena itu, karena kita berdua akan mati bersama di sini, tak perlu lagi
aku berpura-pura, tak perlu lagi malu-malu. Andaikata kita tidak menghadapi
kematian yang tak mungkin dapat dihindarkan lagi, sampai matipun aku tentu
tidak sudi membuka mulut mengadakan pengakuan ini. Joko Wandiro, engkau keliru
besar kalau mengira bahwa dahulu aku membencimu. Tidak sama sekali! Ingatkah
engkau di dalam hutan itu, ketika engkau dari belakang memelukku? Dari belakang
engkau mendekap dan menciumku? Kalau aku membencimu, tentu sudah kupukul mati
kau di saat itu selagi engkau tidak siap! Akan tetapi tidak! Aku tidak
menyerangmu, aku menggigil karena bahagia! Akupun merasa bahagia sekali ketika
sebelum meninggal ayah berpesan agar aku berjodoh denganmu. Tidak, Joko
Wandiro. Aku tidak membencimu ketika itu. Aku.....aku cinta kepadamu! Nah,
dengar engkau sekarang? Menghadapi kematian aku tidak malu-malu lagi mengaku.
Aku cinta kepadamu."
No comments:
Post a Comment