Perawan Lembah Wilis; Bagian 029



Endang Patibroto menjerit lirih. Pahanya terkena anak panah. Karena ia pening dan lelah, dan karena anak-anak panah yang menyambar itu amat kuat dan cepat, akhirnya ia termakan oleh anak panah pada paha kirinya, jauh di atas dekat pangkal pahanya. Ia terhuyung-huyung dan Tejolaksono cepat meloncat dekat dan memutar golok melindungi tubuh Endang Patibroto.
"Kuatkan tubuhmu.... hayo kita lari ke dalam !!" Tejolaksono membiarkan Endang Patibroto lari lebih dulu, sedangkan ia melindungi dari belakang dengan putaran golok. Kiranya pihak lawan telah menggunakan ahli panah yang luar biasa dan bahkan mereka tidak segan-segan mengorbankan belasan orang prajurit menjadi korban anak panah mereka sendiri.
Endang Patibroto berhasil memasuki gerbang pendopo dan pada saat Tejolaksono hendak menyelinap masuk, punggungnya terasa nyeri sekali. Kiranya sebatang anak panah telah menancap di punggungnya! Ia mengerahkan hawa sakti di tubuh menahan sakit dan alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa bagian yang terkena anak panah itu panas dan gatal-gatal tanda bahwa anak panah itu ujungnya diberi racun!
"Cepat! Kita masuk ke dalam, harus tangkap adipati sekarang juga!!" katanya tergesa-gesa. Maklumlah ia bahwa setelah kini dia dan Endang Patibroto terluka, dan anak panah itu mengandung racun pula, kalau mereka tidak lekas-lekas dapat menawan sang adipati, tentu akan celaka! Beberapa orang pengawal istana yang menghadang mereka, dapat dengan mudah mereka robohkan. Kemudian mereka terus lari memasuki istana, mencari sang adipati di dalam kamarnya. Endang Patibroto yang terpincang-
pincang menjadi petunjuk jalan. Tejolaksono melindungi dari belakang. Setelah masuk ke dalam istana mereka aman dari serangan anak panah. Akan tetapi sunyi sekali di dalam istana itu. Bahkan seorangpun abdi dalem tiada tampak. Yang tampak hanya beberapa orang pengawal istana yang kadang-kadang menyambut mereka namun dengan mudah mereka robohkan. Tiba-tiba terdengar suara ketawa terbahak-bahak. Suara ketawa Sang Adipati Menak Linggo! Girang sekali hati Endang Patibroto dan Tejolaksono. Suara itu keluar dari sebuah kamar yang tertutup pintunya. Setahu Endang Patibroto, kamar ini bukan kamar tidur, bukan pula kamar sidang, melainkan kamar belakang. Tejolaksono lalu menghampiri pintu kamar dan menendang daun pintunya yang seketika pecah berantakan. Tampaklah kini di sudut kamar itu, sebelah dalam, Adipati Menak Linggo duduk di kursi gading, memangku seorang selir yang muda dan cantik, dan di belakangnya berdiri pula Raden Sindupati, Ki Patih Kalanarmodo, dan senopati Mayangkurdo yang kesemuanya memegang senjata tajam di tangan!

Keadaan dua orang sakti ini sesungguhnya sudah payah. Keringat membasahi seluruh tubuh dan mereka lelah. Lebih-lebih Endang Patibroto yang masih berada dalam pengaruh racun perangsang nafsu. Kini anak panah beracun pula menancap di paha, belum dicabutnya. Alga anak panah yang menancap di punggung Tejolaksono belum tercabut. Namun dua orang sakti ini tidak menjadi gentar, bahkan kini timbul harapan baru ketika mereka melihat Adipati Menak Linggo. Akan tetapi, Endang Patibroto yang melihat Raden Sindupati di situ, sama sekali tidak perduli lagi akan sang adipati. Seluruh perhatiannya tertuju kepada Sindupati. Ia memandang dengan kebendan dan kemarahan yang meluap-luap, seolah-olah hendak ditelannya hidup-hidup senopati muda itu yang telah mempermainkannya, betapa ia telah berbaik dengan senopati itu, betapa ia telah menganggapnya sebagai seorang sahabat baik, betapa ia hampir saja ternoda, diperkosa oleh Sindupati! Saking marahnya, Endang Patibroto sampai menggigil tubuhnya dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata.
"Huah-ha-ha-ha! Joko Wandiro dan Endang Patibroto. Dua orang yang amat hebat!" Adipati Menak Linggo tertawa bergelak.
"Akan tetapi akan menemui ajal di Blambangan kecuali kalau kalian suka menakluk!" Endang Patibroto mengeluarkan lengking mengerikan disusul bentakannya,
"Sindupati, jahanam keji!!" Tubuhnya sudah menerjang masuk ke dalam kamar itu.
"Endang, hati-hati !" Tejolaksono terpaksa menerjang masuk pula untuk melindungi temannya. Tadinya ia menaruh curiga, akan tetapi melihat Endang Patibroto sudah melompat masuk, ia tentu saja tidak mau membiarkan temannya itu terancam bahaya.
Begitu kaki kedua orang sakti yang melompat ini menyentuh lantai............. "kraaaaakkkk !!" lantai itu terbuka ke bawah dan tanpa dapat dicegah lagi tubuh kedua orang ini terjun ke dalam lubang. Suara ketawa Sang Adipati Menak Linggo menggema mengikuti jatuhnya dua orang itu! Tejolaksono cepat meraih tangan Endang Patibroto dan dengan menggunakan Aji Bayu Sakti, ia dapat menahan luncuran tubuh sehingga ketika kaki mereka tiba di dasar sumur, tidaklah terbanting keras.
"Ah.... keparat.....kita tertipu, Joko Wandiro............. !!” Endang Patibroto mengeluh.
"Kau duduklah istirahat, Endang. Pahamu terluka dan kalau aku tidak keliru sangka, tentu anak panah itu beracun, seperti yang menancap di punggungku. Paling perlu kita harus mencegah menjalarnya racun. Bagaimana rasanya?"
"Memang beracun. Panas dan gatal-gatal," jawab Endang Patibroto sambil menjatuhkan diri duduk di lantai sumur itu dan bersandar pada dinding. Ternyata sumur ini adalah sumur buatan manusia, dindingnya dari batu yang amat keras, lantainyapun dilapis besi sehingga tidak mungkin menggali terowongan. Tempatnya cukup luas, segi empat dan tidak kurang dari lima meter panjangnya.

Keadaan di situ remang-remang, mendapat sinar dari atas karena setelah mereka termasuk perangkap, lubang sumur di atas itu dibuka terus dan dijaga kuat.
"Endang Patibroto...... dalam keadaan seperti ini, kau maafkan aku, ya? Tiada jalan lain untuk mengatasi racun anak panah kecuali menghisap racunnya keluar. Dapatkah kau mengisap luka anak panah yang menancap di pahamu?"
Endang Patibroto tidak menjawab, lalu mengerahkan tenaga mencabut keluar anak panah yang menancap di pahanya. Darah yang menghitam akan tetapi hanya sedikit sekali, mengalir keluar. Karena memang pakaiannya tadi terobek oleh Sindupati, maka dengan mudah ia menyingkap bagian paha yang terluka itu, lalu ia menundukkan muka ke arah paha sambil mengangkat kakinya. Namun, betapapun ia membungkuk, tak mungkin mulutnya mencapai paha yang terluka. Mulutnya hanya dapat mencapai paha di atas lutut saja, sedangkan yang terluka adalah dekat pangkal paha!
Adipati Tejolaksono dalam keadaan remang-remang itu hanya melihat saja dan merasa kasihan. Ia sudah memeriksa keadaan ruangan ini, mendapat kenyataan bahwa tidak ada jalan keluar bagi mereka, kecuali melalui lubang yang berada di atas itu, yang tingginya tidak kurang dari lima belas meter! Ruangan di bawah tanah yang menjadi penjara mereka ini dilapis besi semua! Kini ia mendekati Endang Patibroto dan berkata,
"Endang Patibroto, kalau tidak dikeluarkan racun itu....akan berbahaya. Bolehkah aku..... membantumu?" Ia ragu-ragu karena tempat yang terkena adalah paha, tempat yang tentu saja merupakan bagian terlarang untuk disentuh orang apa lagi laki-laki! Kesuraman tempat itu menyembunyikan warna merah yang menjalar di seluruh muka Endang Patibroto, sampai telinga dan lehernya. Ia menunduk dan tidak menjawab. Kepalanya masih pening, dadanya panas sekali dan ia diam tak bergerak seperti arca, tidak kuasa menjawab. Tejolaksono dapat memahami perasaan Endang Patibroto, maka dengan hati-hati ia mendekati, duduk dan berkata perlahan,
"Sekali lagi maafkan aku, Endang. Dalam keadaan seperti ini, segala perasaan sungkan harus ditindas. Yang terpenting adalah menyelamatkan diri dari bahaya racun yang mengancam kita, baru kita mencari jalan untuk berusaha keluar dari sini. Bolehkan aku membantu mengeluarkan racun itu?"
Endang Patibroto masih menunduk dan hanya dapat mengangguk. Tejolaksono lalu membungkuk dan tanpa ragu-ragu menempelkan mulutnya pada paha yang berkulit halus, putih, dan panas itu. Pendekar sakti ini menggunakan seluruh kekuatan batinnya untuk menutup semua panca indra, terutama sekali menutup perasaannya sehingga yang terasa olehnya hanyalah luka yang harus ia hisap dan keluarkan darahnya yang telah keracunan. Ia menahan napas dan menggunakan tenaganya menghisap sampai mulutnya penuh dengan darah yang memancar keluar dari lubang luka, untuk kemudian diludahkan dan dihisap lagi. Endang Patibroto yang tadinya menundukkan muka, kini mengangkat mukanya tengadah, keningnya berkerut-kerut, bibirnya digigit. Hampir ia tidak kuat menahan, bukan karena nyeri, melainkan karena ia merasa tersiksa bukan main. Rangsangan racun pada tubuhnya masih mengamuk hebat, membuat seluruh tubuhnya panas, membuat perasaannya haus akan kemesraan, membuat ia ingin sekali menerima belaian cinta kasih pria! Dan kini..merasa betapa mulut Joko Wandiro menempel di paha, tempat yang amat perasa, betapa mulut yang basah dan panas itu menghisap, hampir saja ia tidak kuat bertahan. Napasnya makin terengah-engah dan ia harus menggenggam dan mencengkeram jari-jari tangannya sendiri agar jangan mencengkeram dan merangkul Joko Wandiro! Hebat bukan main siksaan batin ini dan kedua pipi Endang Patibroto sampai penuh dengan air mata yang bercucuran dari kedua matanya. Ia membayangkan wajah suaminya, terus berpegang kepada suaminya, kepada kesetiaannya terhadap suaminya almarhum agar dari situ ia mendapat tambahan tenaga untuk melawan rangsangan nafsu berahi yang memuncak!

Akhirnya selesailah siksaan yang dirasakannya amat lama itu. Terdengar suara Joko Wandiro seakan-akan terdengar dari jauh, seperti dalam mimpi,
"Beres sudah, Endang. Semua racun telah keluar dan kau boleh sekarang menghimpun tenaga sakti untuk memulihkan tenagamu." Endang Patibroto membuka mata, menggunakan punggung tangan kiri menghapus air matanya.
"Terima kasih, Joko Wandiro. Sekarang kau membaliklah, biar aku membersihkan racun di punggungmu."
Tejolaksono mengangguk, lalu membalikkan tubuh, duduk bersila membelakangi Endang Patibroto. Wanita perkasa ini lalu menggunakan tangan mencabut anak panah yang menancap di punggung, membuka baju Tejolaksono dan seperti yang dilakukan oleh adipati ini tadi, iapun lalu menempelkan mulutnya pada luka bekas anak panah dan menyedot. Tejolaksono harus mengerahkan tenaga batin untuk melawan perasaan aneh yang menyerang hatinya ketika ia merasa betapa bibir yang lembut dan panas itu menempel punggungnya. Iapun menderita, akan tetapi tidaklah sehebat penderitaan Endang Patibroto yang harus pula menahan serangan racun perangsang yang masih menguasai dirinya. Akhirnya selesailah cara pengobatan yang sederhana itu. Racun telah keluar semua dari punggung Tejolaksono dan mereka kini duduk bersila, bersamadhi dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaga. Bahaya maut yang mengancam mereka melalui racun anak panah sudah terlewat. Akan tetapi bahaya yang lebih besar lagi terbentang di depan mata! Mereka terkurung dan tidak mungkin dapat keluar dari dalam sumur. Seakan-akan mereka berdua telah terkubur hidup-hidup!
"Hujani anak panah saja!"
"Kubur saja mereka dan tutup lubang ini dengan batu-batu besar!"
"Alirkan saja air sungai ke dalam lubang agar mereka mati tenggelam seperti dua ekor tikus!"
Suara-suara ini mereka dengar dari atas sumur dan tampak bayangan-bayangan di atas itu. Mereka berdua hanya dapat menekan batin melawan kengerian, akan tetapi mereka maklum sedalamnya bahwa semua ancaman itu kalau dilaksanakan, akan mengakibatkan mereka tewas di dalam sumur. Tiada bedanya. Apapun yang mereka akan lakukan, akhirnya mereka akan mati!
"Huah-ha-ha-ha, enak benar kalau mereka dibikin mati begitu saja! Tidak, si wanita iblis Endang tidak boleh mati terlalu enak begitu! Biarkan mereka kelaparan sampai mampus di dalam lubang. Ha-ha-ha!"

Ucapan ini, yang biarpun suaranya berubah terdengar dari dalam lubang itu, dapat mereka duga adalah suara Adipati Menak Linggo. Dengan adanya ucapan itu agak legalah hati Endang Patibroto dan Tejolaksono. Ucapan sang adipati merupakan keputusan dan hal ini berarti mereka tidak akan mati seketika, masih akan dapat bertahan sampai beberapa hari. Dan selama nyawa masih berada di dalam tubuh, mereka tidak akan putus asa! Setelah bersamadhi agak lama, pulih kembali tenaga mereka. Juga Endang Patibroto tidaklah terlalu tersiksa seperti tadi, sungguhpun pengaruh jamu perangsang itu masih belum meninggalkan tubuhnya. Memang hebat sekali daya rangsang racun jamur belang. Sekali memasuki tubuh lewat makanan atau minuman, racun jamur belang ini akan memasuki darah dan tidak akan punah sebelum si korban terlampiaskan dan terpuaskan nafsunya!
Setelah pulih kembali tenaga mereka, mulailah dua orang sakti ini memeriksa keadaan dasar sumur atau ruangan bawah tanah itu. Mereka memeriksa dan meraba-raba akan tetapi ternyata bahwa benar-benar tidak ada jalan keluar melalui bawah. Dinding sebelah kiri adalah batu gunung yang menghitam dan kuat sekali, demikian pula dua dinding yang lain. Adapun dinding di kanan malah dilapis besi, sedikitpun tak dapat digerakkan. Mereka sudah mencoba untuk menghantam dengan telapak tangan mereka sambil mengerahkan aji kesaktian, namun dinding-dinding itu hanya tergetar saja dan sedikit batu remuk, namun dinding tetap tertutup rapat! Mereka sudah pula berusaha meloncat ke atas mengerahkan Aji Bayu Sakti, namun sia-sia.

<<< Bagian 028                                                                                   Bagian 030 >>>

No comments:

Post a Comment