Endang Patibroto menjerit
lirih. Pahanya terkena anak panah. Karena ia pening dan lelah, dan karena
anak-anak panah yang menyambar itu amat kuat dan cepat, akhirnya ia termakan
oleh anak panah pada paha kirinya, jauh di atas dekat pangkal pahanya. Ia
terhuyung-huyung dan Tejolaksono cepat meloncat dekat dan memutar golok
melindungi tubuh Endang Patibroto.
"Kuatkan tubuhmu....
hayo kita lari ke dalam !!" Tejolaksono membiarkan Endang Patibroto lari
lebih dulu, sedangkan ia melindungi dari belakang dengan putaran golok. Kiranya
pihak lawan telah menggunakan ahli panah yang luar biasa dan bahkan mereka
tidak segan-segan mengorbankan belasan orang prajurit menjadi korban anak panah
mereka sendiri.
Endang Patibroto berhasil
memasuki gerbang pendopo dan pada saat Tejolaksono hendak menyelinap masuk,
punggungnya terasa nyeri sekali. Kiranya sebatang anak panah telah menancap di
punggungnya! Ia mengerahkan hawa sakti di tubuh menahan sakit dan alangkah
kagetnya ketika ia merasa betapa bagian yang terkena anak panah itu panas dan
gatal-gatal tanda bahwa anak panah itu ujungnya diberi racun!
"Cepat! Kita masuk ke
dalam, harus tangkap adipati sekarang juga!!" katanya tergesa-gesa.
Maklumlah ia bahwa setelah kini dia dan Endang Patibroto terluka, dan anak
panah itu mengandung racun pula, kalau mereka tidak lekas-lekas dapat menawan
sang adipati, tentu akan celaka! Beberapa orang pengawal istana yang menghadang
mereka, dapat dengan mudah mereka robohkan. Kemudian mereka terus lari memasuki
istana, mencari sang adipati di dalam kamarnya. Endang Patibroto yang
terpincang-
pincang menjadi petunjuk
jalan. Tejolaksono melindungi dari belakang. Setelah masuk ke dalam istana
mereka aman dari serangan anak panah. Akan tetapi sunyi sekali di dalam istana
itu. Bahkan seorangpun abdi dalem tiada tampak. Yang tampak hanya beberapa
orang pengawal istana yang kadang-kadang menyambut mereka namun dengan mudah
mereka robohkan. Tiba-tiba terdengar suara ketawa terbahak-bahak. Suara ketawa
Sang Adipati Menak Linggo! Girang sekali hati Endang Patibroto dan Tejolaksono.
Suara itu keluar dari sebuah kamar yang tertutup pintunya. Setahu Endang
Patibroto, kamar ini bukan kamar tidur, bukan pula kamar sidang, melainkan
kamar belakang. Tejolaksono lalu menghampiri pintu kamar dan menendang daun
pintunya yang seketika pecah berantakan. Tampaklah kini di sudut kamar itu,
sebelah dalam, Adipati Menak Linggo duduk di kursi gading, memangku seorang
selir yang muda dan cantik, dan di belakangnya berdiri pula Raden Sindupati, Ki
Patih Kalanarmodo, dan senopati Mayangkurdo yang kesemuanya memegang senjata
tajam di tangan!
Keadaan dua orang sakti ini
sesungguhnya sudah payah. Keringat membasahi seluruh tubuh dan mereka lelah.
Lebih-lebih Endang Patibroto yang masih berada dalam pengaruh racun perangsang
nafsu. Kini anak panah beracun pula menancap di paha, belum dicabutnya. Alga
anak panah yang menancap di punggung Tejolaksono belum tercabut. Namun dua
orang sakti ini tidak menjadi gentar, bahkan kini timbul harapan baru ketika
mereka melihat Adipati Menak Linggo. Akan tetapi, Endang Patibroto yang melihat
Raden Sindupati di situ, sama sekali tidak perduli lagi akan sang adipati.
Seluruh perhatiannya tertuju kepada Sindupati. Ia memandang dengan kebendan dan
kemarahan yang meluap-luap, seolah-olah hendak ditelannya hidup-hidup senopati
muda itu yang telah mempermainkannya, betapa ia telah berbaik dengan senopati
itu, betapa ia telah menganggapnya sebagai seorang sahabat baik, betapa ia
hampir saja ternoda, diperkosa oleh Sindupati! Saking marahnya, Endang
Patibroto sampai menggigil tubuhnya dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata.
"Huah-ha-ha-ha! Joko
Wandiro dan Endang Patibroto. Dua orang yang amat hebat!" Adipati Menak
Linggo tertawa bergelak.
"Akan tetapi akan
menemui ajal di Blambangan kecuali kalau kalian suka menakluk!" Endang
Patibroto mengeluarkan lengking mengerikan disusul bentakannya,
"Sindupati, jahanam
keji!!" Tubuhnya sudah menerjang masuk ke dalam kamar itu.
"Endang, hati-hati
!" Tejolaksono terpaksa menerjang masuk pula untuk melindungi temannya.
Tadinya ia menaruh curiga, akan tetapi melihat Endang Patibroto sudah melompat
masuk, ia tentu saja tidak mau membiarkan temannya itu terancam bahaya.
Begitu kaki kedua orang
sakti yang melompat ini menyentuh lantai............. "kraaaaakkkk
!!" lantai itu terbuka ke bawah dan tanpa dapat dicegah lagi tubuh kedua
orang ini terjun ke dalam lubang. Suara ketawa Sang Adipati Menak Linggo
menggema mengikuti jatuhnya dua orang itu! Tejolaksono cepat meraih tangan Endang
Patibroto dan dengan menggunakan Aji Bayu Sakti, ia dapat menahan luncuran
tubuh sehingga ketika kaki mereka tiba di dasar sumur, tidaklah terbanting
keras.
"Ah....
keparat.....kita tertipu, Joko Wandiro............. !!” Endang Patibroto
mengeluh.
"Kau duduklah istirahat,
Endang. Pahamu terluka dan kalau aku tidak keliru sangka, tentu anak panah itu
beracun, seperti yang menancap di punggungku. Paling perlu kita harus mencegah
menjalarnya racun. Bagaimana rasanya?"
"Memang beracun. Panas
dan gatal-gatal," jawab Endang Patibroto sambil menjatuhkan diri duduk di
lantai sumur itu dan bersandar pada dinding. Ternyata sumur ini adalah sumur
buatan manusia, dindingnya dari batu yang amat keras, lantainyapun dilapis besi
sehingga tidak mungkin menggali terowongan. Tempatnya cukup luas, segi empat
dan tidak kurang dari lima meter panjangnya.
Keadaan di situ
remang-remang, mendapat sinar dari atas karena setelah mereka termasuk
perangkap, lubang sumur di atas itu dibuka terus dan dijaga kuat.
"Endang Patibroto......
dalam keadaan seperti ini, kau maafkan aku, ya? Tiada jalan lain untuk
mengatasi racun anak panah kecuali menghisap racunnya keluar. Dapatkah kau
mengisap luka anak panah yang menancap di pahamu?"
Endang Patibroto tidak
menjawab, lalu mengerahkan tenaga mencabut keluar anak panah yang menancap di
pahanya. Darah yang menghitam akan tetapi hanya sedikit sekali, mengalir
keluar. Karena memang pakaiannya tadi terobek oleh Sindupati, maka dengan mudah
ia menyingkap bagian paha yang terluka itu, lalu ia menundukkan muka ke arah
paha sambil mengangkat kakinya. Namun, betapapun ia membungkuk, tak mungkin
mulutnya mencapai paha yang terluka. Mulutnya hanya dapat mencapai paha di atas
lutut saja, sedangkan yang terluka adalah dekat pangkal paha!
Adipati Tejolaksono dalam
keadaan remang-remang itu hanya melihat saja dan merasa kasihan. Ia sudah
memeriksa keadaan ruangan ini, mendapat kenyataan bahwa tidak ada jalan keluar
bagi mereka, kecuali melalui lubang yang berada di atas itu, yang tingginya
tidak kurang dari lima belas meter! Ruangan di bawah tanah yang menjadi penjara
mereka ini dilapis besi semua! Kini ia mendekati Endang Patibroto dan berkata,
"Endang Patibroto,
kalau tidak dikeluarkan racun itu....akan berbahaya. Bolehkah aku.....
membantumu?" Ia ragu-ragu karena tempat yang terkena adalah paha, tempat
yang tentu saja merupakan bagian terlarang untuk disentuh orang apa lagi
laki-laki! Kesuraman tempat itu menyembunyikan warna merah yang menjalar di
seluruh muka Endang Patibroto, sampai telinga dan lehernya. Ia menunduk dan
tidak menjawab. Kepalanya masih pening, dadanya panas sekali dan ia diam tak
bergerak seperti arca, tidak kuasa menjawab. Tejolaksono dapat memahami
perasaan Endang Patibroto, maka dengan hati-hati ia mendekati, duduk dan
berkata perlahan,
"Sekali lagi maafkan
aku, Endang. Dalam keadaan seperti ini, segala perasaan sungkan harus ditindas.
Yang terpenting adalah menyelamatkan diri dari bahaya racun yang mengancam
kita, baru kita mencari jalan untuk berusaha keluar dari sini. Bolehkan aku
membantu mengeluarkan racun itu?"
Endang Patibroto masih
menunduk dan hanya dapat mengangguk. Tejolaksono lalu membungkuk dan tanpa
ragu-ragu menempelkan mulutnya pada paha yang berkulit halus, putih, dan panas
itu. Pendekar sakti ini menggunakan seluruh kekuatan batinnya untuk menutup
semua panca indra, terutama sekali menutup perasaannya sehingga yang terasa
olehnya hanyalah luka yang harus ia hisap dan keluarkan darahnya yang telah
keracunan. Ia menahan napas dan menggunakan tenaganya menghisap sampai mulutnya
penuh dengan darah yang memancar keluar dari lubang luka, untuk kemudian
diludahkan dan dihisap lagi. Endang Patibroto yang tadinya menundukkan muka,
kini mengangkat mukanya tengadah, keningnya berkerut-kerut, bibirnya digigit.
Hampir ia tidak kuat menahan, bukan karena nyeri, melainkan karena ia merasa
tersiksa bukan main. Rangsangan racun pada tubuhnya masih mengamuk hebat,
membuat seluruh tubuhnya panas, membuat perasaannya haus akan kemesraan,
membuat ia ingin sekali menerima belaian cinta kasih pria! Dan kini..merasa
betapa mulut Joko Wandiro menempel di paha, tempat yang amat perasa, betapa
mulut yang basah dan panas itu menghisap, hampir saja ia tidak kuat bertahan.
Napasnya makin terengah-engah dan ia harus menggenggam dan mencengkeram
jari-jari tangannya sendiri agar jangan mencengkeram dan merangkul Joko
Wandiro! Hebat bukan main siksaan batin ini dan kedua pipi Endang Patibroto
sampai penuh dengan air mata yang bercucuran dari kedua matanya. Ia
membayangkan wajah suaminya, terus berpegang kepada suaminya, kepada
kesetiaannya terhadap suaminya almarhum agar dari situ ia mendapat tambahan
tenaga untuk melawan rangsangan nafsu berahi yang memuncak!
Akhirnya selesailah siksaan
yang dirasakannya amat lama itu. Terdengar suara Joko Wandiro seakan-akan
terdengar dari jauh, seperti dalam mimpi,
"Beres sudah, Endang.
Semua racun telah keluar dan kau boleh sekarang menghimpun tenaga sakti untuk
memulihkan tenagamu." Endang Patibroto membuka mata, menggunakan punggung
tangan kiri menghapus air matanya.
"Terima kasih, Joko
Wandiro. Sekarang kau membaliklah, biar aku membersihkan racun di
punggungmu."
Tejolaksono mengangguk, lalu
membalikkan tubuh, duduk bersila membelakangi Endang Patibroto. Wanita perkasa
ini lalu menggunakan tangan mencabut anak panah yang menancap di punggung,
membuka baju Tejolaksono dan seperti yang dilakukan oleh adipati ini tadi,
iapun lalu menempelkan mulutnya pada luka bekas anak panah dan menyedot.
Tejolaksono harus mengerahkan tenaga batin untuk melawan perasaan aneh yang
menyerang hatinya ketika ia merasa betapa bibir yang lembut dan panas itu
menempel punggungnya. Iapun menderita, akan tetapi tidaklah sehebat penderitaan
Endang Patibroto yang harus pula menahan serangan racun perangsang yang masih
menguasai dirinya. Akhirnya selesailah cara pengobatan yang sederhana itu.
Racun telah keluar semua dari punggung Tejolaksono dan mereka kini duduk
bersila, bersamadhi dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaga. Bahaya
maut yang mengancam mereka melalui racun anak panah sudah terlewat. Akan tetapi
bahaya yang lebih besar lagi terbentang di depan mata! Mereka terkurung dan
tidak mungkin dapat keluar dari dalam sumur. Seakan-akan mereka berdua telah
terkubur hidup-hidup!
"Hujani anak panah
saja!"
"Kubur saja mereka dan
tutup lubang ini dengan batu-batu besar!"
"Alirkan saja air
sungai ke dalam lubang agar mereka mati tenggelam seperti dua ekor tikus!"
Suara-suara ini mereka
dengar dari atas sumur dan tampak bayangan-bayangan di atas itu. Mereka berdua
hanya dapat menekan batin melawan kengerian, akan tetapi mereka maklum
sedalamnya bahwa semua ancaman itu kalau dilaksanakan, akan mengakibatkan
mereka tewas di dalam sumur. Tiada bedanya. Apapun yang mereka akan lakukan,
akhirnya mereka akan mati!
"Huah-ha-ha-ha, enak
benar kalau mereka dibikin mati begitu saja! Tidak, si wanita iblis Endang
tidak boleh mati terlalu enak begitu! Biarkan mereka kelaparan sampai mampus di
dalam lubang. Ha-ha-ha!"
Ucapan ini, yang biarpun
suaranya berubah terdengar dari dalam lubang itu, dapat mereka duga adalah
suara Adipati Menak Linggo. Dengan adanya ucapan itu agak legalah hati Endang
Patibroto dan Tejolaksono. Ucapan sang adipati merupakan keputusan dan hal ini
berarti mereka tidak akan mati seketika, masih akan dapat bertahan sampai
beberapa hari. Dan selama nyawa masih berada di dalam tubuh, mereka tidak akan
putus asa! Setelah bersamadhi agak lama, pulih kembali tenaga mereka. Juga
Endang Patibroto tidaklah terlalu tersiksa seperti tadi, sungguhpun pengaruh
jamu perangsang itu masih belum meninggalkan tubuhnya. Memang hebat sekali daya
rangsang racun jamur belang. Sekali memasuki tubuh lewat makanan atau minuman,
racun jamur belang ini akan memasuki darah dan tidak akan punah sebelum si
korban terlampiaskan dan terpuaskan nafsunya!
Setelah pulih
kembali tenaga mereka, mulailah dua orang sakti ini memeriksa keadaan dasar
sumur atau ruangan bawah tanah itu. Mereka memeriksa dan meraba-raba akan
tetapi ternyata bahwa benar-benar tidak ada jalan keluar melalui bawah. Dinding
sebelah kiri adalah batu gunung yang menghitam dan kuat sekali, demikian pula
dua dinding yang lain. Adapun dinding di kanan malah dilapis besi, sedikitpun
tak dapat digerakkan. Mereka sudah mencoba untuk menghantam dengan telapak
tangan mereka sambil mengerahkan aji kesaktian, namun dinding-dinding itu hanya
tergetar saja dan sedikit batu remuk, namun dinding tetap tertutup rapat!
Mereka sudah pula berusaha meloncat ke atas mengerahkan Aji Bayu Sakti, namun
sia-sia.
No comments:
Post a Comment