Pingsan! Pukulan tadi amat kerasnya, dilakukan dalam keadaan amarah meluap-luap oleh Tejolaksono. Kalau orang lain tentu akan tancur remuk tulang-tulang iganya. Akan tetapi karena Sindupati bukan orang biasa, kekebalannya menyelamatkan nyawa dan ia hanya terlempar dan terbanting pingsan seperti orang diseruduk gajah!
"Endang...!"
Tejolaksono melompat mendekati pembaringan. Hatinya lega melihat dan mendapat
kenyataan bahwa kedatangannya belum terlambat. Untung sekali. Beberapa menit
lagi saja terlambat tentu...ah, ngeri ia membayangkan. Endang Patibroto
meno!eh, akan tetapi matanya setengah terpejam, bibirnya terbuka dan agak
terengah sambil tersenyum, berbisik-bisik tak menentu. Ketika Tejolaksono
meraba dahi, terasa amat panas. Cepat ia menyambar tubuh Endang Patibroto yang
panas dan lemas itu setelah merapikan kembali pakaian yang hampir telanjang,
memanggulnya nenelungkup di atas pundak kiri, merangkul kedua pahanya dengan
lengan kiri kemudian ia cepat membalikkan tubuh karena mendengar gerakan
orang-orang di pintu.
"Joko Wandiro! Lebih
baik kau menyerah, percuma saja kau melawan. Tempat ini telah terkepung ribuan
orang prajurit! Kalau melawan, akan hancur tubuh kalian di bawah senjata
kamil" kata Ki Patih Kalanarmodo yang mengepalai sendiri pengejaran
terhadap tawanan yang lolos ini. Di sampingnya tampak Mayangkurdo, Klabangkoro
dan Klabangmuko serta senopati lainnya, senjata di tangan!
"Hai!, orang-orang
Blambangan! Dengarlah! Inilah aku Adipati Tejolaksono, seorang ponggawa
Kerajaan Panjalu yang pantang menyerah! Jangan harap akan dapat menangkap kami
berdua sebelum pecah dadaku. Minggir!" Tiba-tiba Tejolaksono menerjang
maju, tangan kanannya menyambar ke depan karena ksatria sakti ini telah
mempergunakan Aji Bojro Dahono untuk membuka jalan. Ki Patih Kalanardomo dan
Mayangkurdo adalah dua orang tokoh sakti di Blambangan, dan mereka sudah
mengerahkan kekebalan untuk menahan pukulan jarak jauh ini, namun tetap saja
mereka terdorong roboh ke belakang, terjengkang dan menabrak Klabangkoro dan
Klabangmuko! Ributlah keadaan di pintu itu dan Tejolaksono mempergunakan
kesempatan ini untuk melesat keluar melalui lubang jendela di mana tadi tubuh
Sindupati terlempar. Di luar jendela, tampak Sindupati yang hanya mengenakan
sebuah celana hitam sampai ke lutut, berdiri dan mencak-mencak sambil
berteriak-teriak,
"Tangkap.....!
Tangkap...!” Akan tetapi dia sendiri lari mundur saking gentar menghadapi
Tejolaksono. Ksatria ini tidak memperdulikannya, terus saja melesat ke depan
lari keluar dari pintu samping. Namun di sini ia tertahan pula oleh barisan
pengawal yang sudah menghujankan tombak dan gobok ke arah tubuhnya. Tejolaksono
menangkis dan merampas sebatang golok. Diputarnya gobok ini dan terdengarlah
angin bersiutan, goloknya berdering aneh dan yang tampak hanya segulung sinar
putih yang menyelimuti tubuhnya dan tubuh Endang Patibroto.
"Trang-trang-cring....!!"
Beberapa batang tombak dan golok lawan patah-patah. Mereka mundur dan
Tejolaksono maju terus sambil memutar golok, mainkan ilmu goloknya yang dahulu
ia pelajari dari Ki Tejoranu, pertapa perantau ahli golok. Itulah Ilmu Golok
Lebah Putih yang mengeluarkan suara mengaung seperti suara serombongan lemah
mengamuk keluar dari sarang mereka yang terganggu. Senjata-senjata lawan beterbangan,
terdengar jerit kesakitan dan darah muncrat dari lengan yang tertabas putus
atau dari pundak yang terluka. Sebentar saja ujung golok di tangan kanan
Tejolaksono telah menjadi merah oleh darah musuh. Ia mengamuk terus sambil
bergerak maju sampai akhirnya ia tiba di pekarangan depan di mana musuh lebih
banyak lagi mengurungnya. Kini ia dihadapi oleh para senopati yang dipimpin
oleh Ki Patih Kalanarmodo. Terpaksa Tejolaksono tidak dapat melarikan diri dan
hanya memutar golok untuk melindungi tubuhnya dan tubuh Endang Patibroto. Ah,
kalau saja Endang tidak menjadi korban racun, mereka berdua tentu akan dapat
membuka jalan darah dan menerobos keluar, pikir Tejolaksono dengan menyesal.
Dengan adanya Endang Patibroto di sampingnya, mereka akan dapat mengamuk dan
mengatasi pengeroyokan sekian banyaknya lawan.
"Joko Wandiro.....!
" Bisikan lemah di dekat telinganya membuat ia berdebar. Endang Patibroto
telah sadar! Biarpun masih lemas dan lemah, namun jelas sudah ingat dan
buktinya dapat mengenalnya!
"Jangan khawatir,
Endang, aku melindungimu!" bisiknya kembali dan "trangg!" ia
membuat dua golok di tangan Klabangkoro dan Klabangmuko patah sekaligus! Dua
orang kakak beradik raksasa ini menyumpah-nyumpah karena telapak tangan mereka
lecet-lecet. Cepat mereka telah menyambar lain golok dari tangan anak buah
mereka. Sementara itu, lain-lain senopati sudah menyerbu dari sekeliling
Tejolaksono yang kembali harus memutar golok dengan cepat dan kuat. Ia kini
mengambil sikap bertahan sambil memasang mata mencari bagian yang paling lemah
untuk dapat menerobos keluar. Ia pikir bahwa dalam keadaan terkurung
ini, sementara ia masih
dapat bertahan, karena kalau tidak terkurung, musuh dapat menghujankan anak
panah dan ini berbahaya. Akan tetapi kalau terus mempertahankan diri terhadap
kepungan yang demiklan ketatnya, sampai berapa lama ia dapat bertahan?
Andaikata pengeroyokan itu terjadi di malam hari, ia masih mempunyai banyak
kesempatan meloloskan diri. Akan tetapi pada siang hari!
"Joko Wandiro.....,
keteranganmu ...tadi....., bagaimana itu..... Aku tidak mengerti....” Kembali
terdengar bisikan suara Endang Patibroto yang kini mulai mengangkat muka dan
lengannya tidak lemas lagi melainkan kini dapat merangkul leher menekan
pundaknya. Sebelum menjawab, Tejolaksono mainkan Ilmu Golok Lebah Putih dengan
cepat dan mainkan jurus-jurus pertahanan sehingga kini sinar golok putih
bergulung-gulung membungkus tubuh mereka berdua. Jangankan hanya hujan senjata
lawan, andaikata ada hujan air yang deras sekalipun tubuh mereka takkan menjadi
basah! Setelah yakin bahwa pertahanannya cukup kuat dan untuk sementara ia
tidak akan dapat terancam, Adipati Tejolaksono lalu membagi perhatiannya kepada
Endang Patibroto, lalu berbisik menjawab.
"Aku datang ke
Blambangan bukan untuk menangkapmu, Endang. Engkau, juga Panjalu dan Jenggala,
semua telah tertipu oleh Sindupati. Wiku Kalawisesa adalah kaki tangan mereka
dan kau sengaja diadu domba. Darmokusurno tidak berdosa, maka penyerbuan ke
sana tentu saja menimbulkan salah faham. Semua adalah hasil siasat Sindupati
yang menjadi utusan pemerintah Blambangan. Sadarlah... kau hampir saja menjadi
korban.....!”
"Ah....aku......aku
mengapa tadi..? Sindupati .... ah, apa yang terjadi .....?" Suara ini
bercampur isak.
"Si keparat itu hampir
saja mencemarkanmu, hampir memperkosamu, Endang! Kau telah diracun sehingga
mabuk dan tidak wajar, tidak sadar..... Sindupati adalah kaki tangan Blambangan
yang mengatur semua siasat. Dialah musuh besar kita....!”
Endang Patibroto mengeluh.
"Aahhhh ..... madu
itu....ahhh.....kakang Sindupati.....dia......dia......!" Kembali Endang
Patibroto terisak, agaknya pikirannya yang mulai sadar teringat akan segala
peristiwa yang terbang dan saling muncul dalam benaknya.
"Tenanglah, Endang. Kau
tidak apa-apa. Belum terlambat. Nyaris..... ah, Dewata masih
melindungimu......“
"Trang-trang-cring......!!"
Oleh percakapan itu, perhatian Tejolaksono terpecah dan hampir saja ia menjadi
korban ketika senjata di tangan Ki Patih Kalanarmodo, Mayangkurdo dan
Klabangkoro berhasil menerobos memasuki garis pertahanan gulungan sinar
goloknya.
"Joko Wandiro.... kau
lepaskan aku .... kau lepaskan, akan kuhancurkan kepala mereka.....!"
Berdebar jantung Adipati Tejolaksono. Suara Endang Patibroto itu! Itukah suara
Endang Patibroto yang dahulu! Penuh semangat, penuh keberanian, seperti suara
seekor harimau betina. Endang Patibroto sudah sadar sepenuhnya! Dan ini
merupakan cahaya yang membuka harapan baru untuk kebebasan.
"Tapi, kau masih
lemah.....“
"Tidak! Tidak, lebih
baik kita berdua mati dalam perlawanan daripada aku mati memberatkan engkau
seorang diri menghadapi mereka. Turunkan aku, Joko Wandiro!"
Lengan kiri Tejolaksono yang
memeluk kedua paha wanita sakti itu dapat merasa betapa di balik kain yang
membungkus paha, di balik kulit paha yang halus itu kini terasa bergerak-gerak
penuh tenaga sakti, ia girang sekali karena ini merupakan tanda bahwa Endang
Patibroto tidak lagi selemah tadi. Ia segera menurunkan tubuh itu, melepaskan
pelukannya, akan tetapi masih menjaga dan waspada dengan permainan goloknya agar
dapat melindungi tubuh Endang Patibroto.
Kedua kaki Endang Patibroto
masih menggigil, kepalanya masih agak pening, tubuhnya masih panas terpengaruh
racun perangsang nafsu. Akan tetapi begitu telapak kakinya menginjak tanah,
tubuhnya membalik dan kedua tangannya bergerak menyambar.
"Desss..!
Prakkkk....!!" Dua orang pengeroyok yang berada di belakang Tejolaksono
roboh dengan dada remuk dan kepala pecah terkena sambaran jari tangan Endang
Patibroto yang memukul dengan Aji Pethit Nogo!
"Bagus, Endang! Mari
kita hajar mereka ini!" seru Tejolaksono gembira sekali dan ia tidak mau
kalah, sekali bergerak, tangan kirinya menghantam roboh seorang lawan dan
goloknya membabat ke depan mengenai paha kiri Klabangmuko yang memekik dan
roboh dengan paha robek. Ia cepat ditolong anak buahnya dan dibawa mundur.
"Mari, Joko Wandiro.
Mari kita basmi orang-orang Blambangan!" kata pula Endang Patibroto yang
sudah berhasil merobohkan seorang lawan sambil merampas sebatang pedang, lalu
mengamuk. Tubuhya masih lemah, kepalanya masih pening, namun para pengeroyok
itu bukanlah tandingan wanita sakti ini.
Demikian girangnya hati
Tejolaksono sehingga ia kembali mengeluarkan pekik dahsyat Dirodo Meto lalu
bersumbar,
"Hayoh orang-orang
Blambangan! Babobabo! Inilah Endang Patibroto dan Joko Wandiro, keturunan
orang-orang Mataram! Keroyoklah, kerahkan seluruh perajurit Blambangan!!"
Hebat sekali amukan
Tejolaksono dan Endang Patibroto. Bertumpuk-tumpuk mayat para pengeroyok,
bergelimpangan dan kini kedua orang yang perkasa itu telah keluar dari
pekarangan, sampai di jalan-jalan akan tetapi selalu dikeroyok seperti dua ekor
jengkerik dikeroyok ribuan semut! Bukan hanya puluhan, ada ratusan orang
pengeroyok roboh tewas atau terluka parah. Sudah lima kali Tejolaksono berganti
golok yang sudah rompal, demikian dengan Endang Patibroto. Namun, Endang
Patibroto masih belum sehat benar. Pengaruh racun masih amat mengganggunya,
membuat darahnya panas bergolak, kepalanya pening, matanya mengantuk! Dan
pengeroyokpun amatlah banyaknya, ada ribuan orang banyaknya! Mulailah kedua
orang gagah ini terdesak. Tejolaksono boleh jadi gagah perkasa, sakti
mandraguna, namun iapun hanya seorang manusia dari darah dan daging. Ia mulai
lelah.
"Joko Wandiro..... mari
kita melarikan diri..... aku..... aku.......ah, panas sekali tubuhku.... pening
kepalaku...” Biarpun berkata demikian, namun seorang pengeroyok yang terlalu
dekat terbelah dadanya oleh pedang di tangan wanita sakti ini!
"Kurungan terlalu
rapat.. tak mungin lari...., mari kita menyerbu ke istana saja, Endang.....”
Tejolaksono menubruk maju merobohkan dua orang pengeroyok.
"Ke.... istana......
??”
"Ya, kita serbu istana
dan tawan adipati, baru ada harapan kita selamat. Hayolah....!!”
Endang Patibroto mengerti
apa yang dimaksudkan Tejolaksono. Memang melihat banyaknya pengeroyok, kiranya
tak akan mudah meloloskan diri, apalagi karena dia sendiri masih lemah dan
mabuk. Dan kalau mereka berhasil menawan Adipati Menak Linggo, mereka dapat
memaksa adipati itu membebaskan mereka! Endang Patibroto lalu mengerahkan tenaga,
menahan kepeningan kepalanya lalu mengamuk di samping Tejolaksono. Amukan dua
orang sakti ini membuat para pengeroyok terdesak mundur. Kesempatan ini
dipergunakan oleh Tejolaksono untuk menyambar tangan Endang Patibroto,
diajaknya meloncat tinggi melampaui kepala para pengeroyok naik ke atas atap.
"Kejar.... !!!”
"Siap barisan panah....
!!!”
Tejolaksono dan Endang
Patibroto memutar cepat pedang dan golok rampasan mereka ketika mendengar
bersiutnya banyak anak panah menyambar mereka. Anak- anak panah itu runtuh
semua ke bawah atap. Akan tetapi para pengeroyok itu sudah mengejar, dan ke
mana pun juga dua orang sakti itu melompat dan lari, mereka selalu dikurung
dari bawah dan dihujani anak panah. Tejolaksono dan Endang Patibroto lari terus
sampai tiba di atas atap istana. Hari telah mulai menjadi senja. Setengah hari
mereka tadi bertanding menghadapi keroyokan ratusan orang perajurit itu.
"Mari kita turun!"
kata Tejolaksono. Mereka meloncat turun dan kembali para pengawal mengeroyok
mereka sambil berteriak-teriak.
Dua orang ini mengamuk lagi,
sambil mencari kesempatan untuk menyerbu ke dalam istana. Tiba-tiba terdengar
sambaran anak panak yang banyak sekali. Anak-anak panah ini berbeda dengan yang
tadi, menyambarnya dengan kecepatan yang luar biasa tanda bahwa yang melepaskan
adalah seorang ahli. Dan melihat banyaknya tentulah banyak orang pula yang
melepaskan anak-anak panah itu. Endang Patibroto dan Tejolaksono cepat memutar
senjata menangkis, dan... terdengar jerit-jerit mengerikan ketika belasan orang
prajurit pengeroyok menjadi korban anak-anak panah ini. Akan tetapi anak-anak
panah itu meluncur terus sebagai hujan.
No comments:
Post a Comment