Perawan Lembah Wilis; Bagian 028


Pingsan! Pukulan tadi amat kerasnya, dilakukan dalam keadaan amarah meluap-luap oleh Tejolaksono. Kalau orang lain tentu akan tancur remuk tulang-tulang iganya. Akan tetapi karena Sindupati bukan orang biasa, kekebalannya menyelamatkan nyawa dan ia hanya terlempar dan terbanting pingsan seperti orang diseruduk gajah!
"Endang...!" Tejolaksono melompat mendekati pembaringan. Hatinya lega melihat dan mendapat kenyataan bahwa kedatangannya belum terlambat. Untung sekali. Beberapa menit lagi saja terlambat tentu...ah, ngeri ia membayangkan. Endang Patibroto meno!eh, akan tetapi matanya setengah terpejam, bibirnya terbuka dan agak terengah sambil tersenyum, berbisik-bisik tak menentu. Ketika Tejolaksono meraba dahi, terasa amat panas. Cepat ia menyambar tubuh Endang Patibroto yang panas dan lemas itu setelah merapikan kembali pakaian yang hampir telanjang, memanggulnya nenelungkup di atas pundak kiri, merangkul kedua pahanya dengan lengan kiri kemudian ia cepat membalikkan tubuh karena mendengar gerakan orang-orang di pintu.

"Joko Wandiro! Lebih baik kau menyerah, percuma saja kau melawan. Tempat ini telah terkepung ribuan orang prajurit! Kalau melawan, akan hancur tubuh kalian di bawah senjata kamil" kata Ki Patih Kalanarmodo yang mengepalai sendiri pengejaran terhadap tawanan yang lolos ini. Di sampingnya tampak Mayangkurdo, Klabangkoro dan Klabangmuko serta senopati lainnya, senjata di tangan!
"Hai!, orang-orang Blambangan! Dengarlah! Inilah aku Adipati Tejolaksono, seorang ponggawa Kerajaan Panjalu yang pantang menyerah! Jangan harap akan dapat menangkap kami berdua sebelum pecah dadaku. Minggir!" Tiba-tiba Tejolaksono menerjang maju, tangan kanannya menyambar ke depan karena ksatria sakti ini telah mempergunakan Aji Bojro Dahono untuk membuka jalan. Ki Patih Kalanardomo dan Mayangkurdo adalah dua orang tokoh sakti di Blambangan, dan mereka sudah mengerahkan kekebalan untuk menahan pukulan jarak jauh ini, namun tetap saja mereka terdorong roboh ke belakang, terjengkang dan menabrak Klabangkoro dan Klabangmuko! Ributlah keadaan di pintu itu dan Tejolaksono mempergunakan kesempatan ini untuk melesat keluar melalui lubang jendela di mana tadi tubuh Sindupati terlempar. Di luar jendela, tampak Sindupati yang hanya mengenakan sebuah celana hitam sampai ke lutut, berdiri dan mencak-mencak sambil berteriak-teriak,
"Tangkap.....! Tangkap...!” Akan tetapi dia sendiri lari mundur saking gentar menghadapi Tejolaksono. Ksatria ini tidak memperdulikannya, terus saja melesat ke depan lari keluar dari pintu samping. Namun di sini ia tertahan pula oleh barisan pengawal yang sudah menghujankan tombak dan gobok ke arah tubuhnya. Tejolaksono menangkis dan merampas sebatang golok. Diputarnya gobok ini dan terdengarlah angin bersiutan, goloknya berdering aneh dan yang tampak hanya segulung sinar putih yang menyelimuti tubuhnya dan tubuh Endang Patibroto.
"Trang-trang-cring....!!" Beberapa batang tombak dan golok lawan patah-patah. Mereka mundur dan Tejolaksono maju terus sambil memutar golok, mainkan ilmu goloknya yang dahulu ia pelajari dari Ki Tejoranu, pertapa perantau ahli golok. Itulah Ilmu Golok Lebah Putih yang mengeluarkan suara mengaung seperti suara serombongan lemah mengamuk keluar dari sarang mereka yang terganggu. Senjata-senjata lawan beterbangan, terdengar jerit kesakitan dan darah muncrat dari lengan yang tertabas putus atau dari pundak yang terluka. Sebentar saja ujung golok di tangan kanan Tejolaksono telah menjadi merah oleh darah musuh. Ia mengamuk terus sambil bergerak maju sampai akhirnya ia tiba di pekarangan depan di mana musuh lebih banyak lagi mengurungnya. Kini ia dihadapi oleh para senopati yang dipimpin oleh Ki Patih Kalanarmodo. Terpaksa Tejolaksono tidak dapat melarikan diri dan hanya memutar golok untuk melindungi tubuhnya dan tubuh Endang Patibroto. Ah, kalau saja Endang tidak menjadi korban racun, mereka berdua tentu akan dapat membuka jalan darah dan menerobos keluar, pikir Tejolaksono dengan menyesal. Dengan adanya Endang Patibroto di sampingnya, mereka akan dapat mengamuk dan mengatasi pengeroyokan sekian banyaknya lawan.
"Joko Wandiro.....! " Bisikan lemah di dekat telinganya membuat ia berdebar. Endang Patibroto telah sadar! Biarpun masih lemas dan lemah, namun jelas sudah ingat dan buktinya dapat mengenalnya!
"Jangan khawatir, Endang, aku melindungimu!" bisiknya kembali dan "trangg!" ia membuat dua golok di tangan Klabangkoro dan Klabangmuko patah sekaligus! Dua orang kakak beradik raksasa ini menyumpah-nyumpah karena telapak tangan mereka lecet-lecet. Cepat mereka telah menyambar lain golok dari tangan anak buah mereka. Sementara itu, lain-lain senopati sudah menyerbu dari sekeliling Tejolaksono yang kembali harus memutar golok dengan cepat dan kuat. Ia kini mengambil sikap bertahan sambil memasang mata mencari bagian yang paling lemah untuk dapat menerobos keluar. Ia pikir bahwa dalam keadaan terkurung
ini, sementara ia masih dapat bertahan, karena kalau tidak terkurung, musuh dapat menghujankan anak panah dan ini berbahaya. Akan tetapi kalau terus mempertahankan diri terhadap kepungan yang demiklan ketatnya, sampai berapa lama ia dapat bertahan? Andaikata pengeroyokan itu terjadi di malam hari, ia masih mempunyai banyak kesempatan meloloskan diri. Akan tetapi pada siang hari!

"Joko Wandiro....., keteranganmu ...tadi....., bagaimana itu..... Aku tidak mengerti....” Kembali terdengar bisikan suara Endang Patibroto yang kini mulai mengangkat muka dan lengannya tidak lemas lagi melainkan kini dapat merangkul leher menekan pundaknya. Sebelum menjawab, Tejolaksono mainkan Ilmu Golok Lebah Putih dengan cepat dan mainkan jurus-jurus pertahanan sehingga kini sinar golok putih bergulung-gulung membungkus tubuh mereka berdua. Jangankan hanya hujan senjata lawan, andaikata ada hujan air yang deras sekalipun tubuh mereka takkan menjadi basah! Setelah yakin bahwa pertahanannya cukup kuat dan untuk sementara ia tidak akan dapat terancam, Adipati Tejolaksono lalu membagi perhatiannya kepada Endang Patibroto, lalu berbisik menjawab.
"Aku datang ke Blambangan bukan untuk menangkapmu, Endang. Engkau, juga Panjalu dan Jenggala, semua telah tertipu oleh Sindupati. Wiku Kalawisesa adalah kaki tangan mereka dan kau sengaja diadu domba. Darmokusurno tidak berdosa, maka penyerbuan ke sana tentu saja menimbulkan salah faham. Semua adalah hasil siasat Sindupati yang menjadi utusan pemerintah Blambangan. Sadarlah... kau hampir saja menjadi korban.....!”
"Ah....aku......aku mengapa tadi..? Sindupati .... ah, apa yang terjadi .....?" Suara ini bercampur isak.
"Si keparat itu hampir saja mencemarkanmu, hampir memperkosamu, Endang! Kau telah diracun sehingga mabuk dan tidak wajar, tidak sadar..... Sindupati adalah kaki tangan Blambangan yang mengatur semua siasat. Dialah musuh besar kita....!”
Endang Patibroto mengeluh.
"Aahhhh ..... madu itu....ahhh.....kakang Sindupati.....dia......dia......!" Kembali Endang Patibroto terisak, agaknya pikirannya yang mulai sadar teringat akan segala peristiwa yang terbang dan saling muncul dalam benaknya.
"Tenanglah, Endang. Kau tidak apa-apa. Belum terlambat. Nyaris..... ah, Dewata masih melindungimu......“
"Trang-trang-cring......!!" Oleh percakapan itu, perhatian Tejolaksono terpecah dan hampir saja ia menjadi korban ketika senjata di tangan Ki Patih Kalanarmodo, Mayangkurdo dan Klabangkoro berhasil menerobos memasuki garis pertahanan gulungan sinar goloknya.
"Joko Wandiro.... kau lepaskan aku .... kau lepaskan, akan kuhancurkan kepala mereka.....!" Berdebar jantung Adipati Tejolaksono. Suara Endang Patibroto itu! Itukah suara Endang Patibroto yang dahulu! Penuh semangat, penuh keberanian, seperti suara seekor harimau betina. Endang Patibroto sudah sadar sepenuhnya! Dan ini merupakan cahaya yang membuka harapan baru untuk kebebasan.
"Tapi, kau masih lemah.....“
"Tidak! Tidak, lebih baik kita berdua mati dalam perlawanan daripada aku mati memberatkan engkau seorang diri menghadapi mereka. Turunkan aku, Joko Wandiro!"
Lengan kiri Tejolaksono yang memeluk kedua paha wanita sakti itu dapat merasa betapa di balik kain yang membungkus paha, di balik kulit paha yang halus itu kini terasa bergerak-gerak penuh tenaga sakti, ia girang sekali karena ini merupakan tanda bahwa Endang Patibroto tidak lagi selemah tadi. Ia segera menurunkan tubuh itu, melepaskan pelukannya, akan tetapi masih menjaga dan waspada dengan permainan goloknya agar dapat melindungi tubuh Endang Patibroto.

Kedua kaki Endang Patibroto masih menggigil, kepalanya masih agak pening, tubuhnya masih panas terpengaruh racun perangsang nafsu. Akan tetapi begitu telapak kakinya menginjak tanah, tubuhnya membalik dan kedua tangannya bergerak menyambar.
"Desss..! Prakkkk....!!" Dua orang pengeroyok yang berada di belakang Tejolaksono roboh dengan dada remuk dan kepala pecah terkena sambaran jari tangan Endang Patibroto yang memukul dengan Aji Pethit Nogo!
"Bagus, Endang! Mari kita hajar mereka ini!" seru Tejolaksono gembira sekali dan ia tidak mau kalah, sekali bergerak, tangan kirinya menghantam roboh seorang lawan dan goloknya membabat ke depan mengenai paha kiri Klabangmuko yang memekik dan roboh dengan paha robek. Ia cepat ditolong anak buahnya dan dibawa mundur.
"Mari, Joko Wandiro. Mari kita basmi orang-orang Blambangan!" kata pula Endang Patibroto yang sudah berhasil merobohkan seorang lawan sambil merampas sebatang pedang, lalu mengamuk. Tubuhya masih lemah, kepalanya masih pening, namun para pengeroyok itu bukanlah tandingan wanita sakti ini.
Demikian girangnya hati Tejolaksono sehingga ia kembali mengeluarkan pekik dahsyat Dirodo Meto lalu bersumbar,
"Hayoh orang-orang Blambangan! Babobabo! Inilah Endang Patibroto dan Joko Wandiro, keturunan orang-orang Mataram! Keroyoklah, kerahkan seluruh perajurit Blambangan!!"
Hebat sekali amukan Tejolaksono dan Endang Patibroto. Bertumpuk-tumpuk mayat para pengeroyok, bergelimpangan dan kini kedua orang yang perkasa itu telah keluar dari pekarangan, sampai di jalan-jalan akan tetapi selalu dikeroyok seperti dua ekor jengkerik dikeroyok ribuan semut! Bukan hanya puluhan, ada ratusan orang pengeroyok roboh tewas atau terluka parah. Sudah lima kali Tejolaksono berganti golok yang sudah rompal, demikian dengan Endang Patibroto. Namun, Endang Patibroto masih belum sehat benar. Pengaruh racun masih amat mengganggunya, membuat darahnya panas bergolak, kepalanya pening, matanya mengantuk! Dan pengeroyokpun amatlah banyaknya, ada ribuan orang banyaknya! Mulailah kedua orang gagah ini terdesak. Tejolaksono boleh jadi gagah perkasa, sakti mandraguna, namun iapun hanya seorang manusia dari darah dan daging. Ia mulai lelah.
"Joko Wandiro..... mari kita melarikan diri..... aku..... aku.......ah, panas sekali tubuhku.... pening kepalaku...” Biarpun berkata demikian, namun seorang pengeroyok yang terlalu dekat terbelah dadanya oleh pedang di tangan wanita sakti ini!
"Kurungan terlalu rapat.. tak mungin lari...., mari kita menyerbu ke istana saja, Endang.....” Tejolaksono menubruk maju merobohkan dua orang pengeroyok.
"Ke.... istana...... ??”
"Ya, kita serbu istana dan tawan adipati, baru ada harapan kita selamat. Hayolah....!!”
Endang Patibroto mengerti apa yang dimaksudkan Tejolaksono. Memang melihat banyaknya pengeroyok, kiranya tak akan mudah meloloskan diri, apalagi karena dia sendiri masih lemah dan mabuk. Dan kalau mereka berhasil menawan Adipati Menak Linggo, mereka dapat memaksa adipati itu membebaskan mereka! Endang Patibroto lalu mengerahkan tenaga, menahan kepeningan kepalanya lalu mengamuk di samping Tejolaksono. Amukan dua orang sakti ini membuat para pengeroyok terdesak mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Tejolaksono untuk menyambar tangan Endang Patibroto, diajaknya meloncat tinggi melampaui kepala para pengeroyok naik ke atas atap.
"Kejar.... !!!”
"Siap barisan panah.... !!!”

Tejolaksono dan Endang Patibroto memutar cepat pedang dan golok rampasan mereka ketika mendengar bersiutnya banyak anak panah menyambar mereka. Anak- anak panah itu runtuh semua ke bawah atap. Akan tetapi para pengeroyok itu sudah mengejar, dan ke mana pun juga dua orang sakti itu melompat dan lari, mereka selalu dikurung dari bawah dan dihujani anak panah. Tejolaksono dan Endang Patibroto lari terus sampai tiba di atas atap istana. Hari telah mulai menjadi senja. Setengah hari mereka tadi bertanding menghadapi keroyokan ratusan orang perajurit itu.
"Mari kita turun!" kata Tejolaksono. Mereka meloncat turun dan kembali para pengawal mengeroyok mereka sambil berteriak-teriak.
Dua orang ini mengamuk lagi, sambil mencari kesempatan untuk menyerbu ke dalam istana. Tiba-tiba terdengar sambaran anak panak yang banyak sekali. Anak-anak panah ini berbeda dengan yang tadi, menyambarnya dengan kecepatan yang luar biasa tanda bahwa yang melepaskan adalah seorang ahli. Dan melihat banyaknya tentulah banyak orang pula yang melepaskan anak-anak panah itu. Endang Patibroto dan Tejolaksono cepat memutar senjata menangkis, dan... terdengar jerit-jerit mengerikan ketika belasan orang prajurit pengeroyok menjadi korban anak-anak panah ini. Akan tetapi anak-anak panah itu meluncur terus sebagai hujan.

<<< Bagian 027                                                                                    Bagian 029 >>>

No comments:

Post a Comment