Perawan Lembah Wilis; Bagian 027


Wanita ini menjadi pucat wajahnya, lalu berusaha bangkit berdiri, terhuyung-huyung, kedua tangannya memegang kepala sendiri, matanya dimeramkan, mulutnya mengeluh lirih,
"Ahhh...kepalaku... begini pening... panas... “
Tejolaksono terkejut sekali. Sekali pandang melihat wajah yang agak pucat itu kedua pipinya mangar-mangar merah, bibirnya yang terbuka itupun merah seperti habis makan cabe, matanya setengah dipejamkan, napasnya tersendat-sendat, tubuhnya gemetar, tahulah ia bahwa Endang Patibroto yang seperti orang mabok arak ini telah keracunan!
"Endang....kau keracunan......Lekas, bersila mengatur napas, menggunakan tenaga sakti mengusir hawa racun dari dada dan kepalamu ...., pergunakan Widodo Mantra.....”
Namun terlambat sudah. Endang Patibroto agaknya sudah tidak dapat menguasai diri dan pikirannya lagi, mulutnya berbisik-bisik,
".....pangeran.......kekasihku pangeran.......”
“Ha-ha-ha-ha! Jangan harap dapat lari dariku, diajeng......!!" Daun pintu kamar tahanan terbuka dari luar dan Sindupati melompat masuk. Melihat Endang Patibroto yang terhuyung-huyung seperti orang mabuk, ia terkekeh girang lalu menubruk maju, memeluk dan memondong tubuh Endang Patibroto.
"Diajeng Endang Patibroto......! Aku cinta padamu......ha-ha-ha......mengapa lari dari kakanda……?”
“.......pangeran......pangeran ..!” Dengan mata dipejamkan Endang Pathbroto berbisik-bisik dan ia sama sekali tidak marah lagi seperti tadi ketika tubuhnya didekap dan dipondong, bahkan kedua lengannya lalu merayap dan merangkul leher Sindupati, mukanya disembunyikan pada dada senopati itu!
"Ha-ha-ha-ha!" Sindupati tertawa bergelak, lalu sambil memondong tubuh wanita yang mabuk oleh racun pembangkit nafsu berahi yang tadi ia campurkan ke dalam madu, ia mengayun kaki menendang Tejolaksono yang memandang semua itu dengan mata melotot. Dalam keadaan terbelenggu seperti itu, terpaksa Tejolaksono menerima tendangan yang mengenai pinggangnya sehingga tubuhnya terbentur dinding. Kembali Sindupati tertawa sambil membawa tubuh Endang Patibroto keluar dari dalam kamar tahanan.
Blambangan adalah gudangnya ilmu hitam, gudangnya jamu-jamu yang amat mujijat, dan di kadipaten ini terdapat banyak sekali ahli-ahli pembuat racun. Ketika Sindupati malam kemarin memberi minum madu kepada Endang Patibroto, ia mencampurkan bubukan jamur belang yang mengandung racun pembangkit nafsu berahi amat hebat. Orang yang terkena racun ini, terutama sekali wanita, akan mabuk dan tidak dapat menguasai dirinya lagi, tidak sadar apa yang dilakukannya, dan seluruh tubuhnya dikuasai oleh nafsu berahi yang menyala-nyala. Demikian pula, biarpun ia seorang wanita yang sakti mandraguna, namun darahnya yang sudah keracunan membuat Endang Patibroto mabuk juga sehingga terbayang olehnya Pangeran Panjirawit yang tercinta dan ketika ia dipondong Sindupati, ia menganggap bahwa suaminyalah yang memondongnya!

Dengan kegirangan hati yang meluap-luap Sindupati memondong tubuh Endang Patibroto ke dalam rumahnya, masuk ke dalam kamarnya yang tadi ditinggalkan Endang Patibroto. Kini tercapailah keinginan hatinya. Ia ingin memiliki tubuh Endang Patibroto, baik secara suka rela ataupun paksa, dan setelah itu baru ia akan membunuh wanita ini untuk memenuhi perintah Adipati Blambangan! Kini, setelah Endang Patibroto mabuk oleh racun jamur belang, pasti akan terpenuhi keinginan dan nafsunya! Dengan wajah berseri-seri ia melemparkan tubuh Endang Patibroto ke atas pembaringan. Endang Patibroto hanya mengeluh lirih dan bergulingan gelisah di atas pembaringan itu, matanya dipejamkan.
"Ha-ha-ha-ha, Endang Patibroto. Akhirnya engkau terlempar juga dalam pelukanku, cah ayu denok....” Dengan nafsu berkobar Raden Sindupati menghampiri pembaringan, matanya jalang memerah, napasnya agak terengah-engah panas, hidungnya kembang kempis, wajahnya yang tampan kini tampak buas. Lama ia berdiri di pinggir pembaringan, melahap tubuh Endang Patibroto
dengan pandang matanya, kemudian ia membungkuk, terkekeh dan kedua tangannya menjangkau.
"Kakangmas senopati......”
Raden Sindupati yang sudah menyentuh pundak Endang Patibroto dan sudah menaikkan sebelah lututnya ke atas pembaringan, tersentak kaget dan turun membalikkan tubuh dan menghardik,
"Umi! Mau apa engkau masuk ke sini? Hayo pergi, kalau tidak ingin kutempiling kau!!" Wanita muda bermuka pucat itu memandang dengan mata terbelalak ke arah tubuh Endang Patibroto yang bergerak-gerak gelisah dl atas pembaringan. Hatinya menjadi semakin panas sekali, panas oleh cemburu. Biarpun ia mengalami banyak derita batin semenjak oleh ayahnya, sang adipati, dihadiahkan kepada senopati Sindupati, namun ia telah jatuh cinta kepada laki-laki ini sepenuh hatinya. Tidak ingin ia melihat suaminya bermain dengan wanita lain, dan hatinya selalu sakit dan hancur kalau ia melihat Sindupati membawa pulang wanita-wanita cantik. Akan tetapi kali ini ia tidak dapat menahan kemarahannya melihat betapa suaminya itu hendak
memiliki seorang wanita dengan cara yang amat tidak patut, yaitu dengan paksa dan dengan bantuan jamu racun perangsang!
"Kakangmas...., jangan....jangan lakukan itu .....“
Marah sekali Sindupati. Ia melangkah maju mendekati selirnya ini, mukanya merah.
"Apa? Sejak kapan engkau berani menghalangi kesenanganku??"
Dewi Umirah, wanita muda itu menggelengkan kepalanya dengan,
"Tidak, kakangmas, saya tidak menghalangl kesenanganmu. Sebagai seorang selir, saya tidak berhak melakukan hal itu. Akan tetapi, saya berkewajiban untuk mengingatkan suami daripada perbuatan jahat dan keji! Memperkosa seorang wanita di luar kehendaknya adalah perbuatan jahat dan keji, kakangmas. Ingatlah, dan harap kakangmas sadar, jangan lakukan itu............! Wanita ini tidak sadar.....dia mabuk racun.....tidak baik memperkosa.....“
"Tutup mulutmu! Ha, engkau iri hati! Engkau cemburu, setan....!" Dengan marah sekali Sindupati mendorong pundak selirnya sehingga tubuh Dewi Umirah terlempar ke belakang, menabrak dinding dan terguling. Namun wanita itu bangun lagi, berlutut dan berkata,
"Saya tidak iri hati, tidak cemburu, kakangmas. Sudah kukubur perasaan itu! Akan tetapi.....melihat kau hendak melakukan perkosaan keji....ah, bagaimana saya dapat melihat suami saya melakukan kekejian ini dan mendiamkannya saja? Ingat kakangmas, perbuatan ini akan dikutuk para dewata......!”
"Apa? Keparat engkau! Berani mengumpat ..! Pergi minggat!!" Sindupati menggerakkan kakinya menendang dan tubuh Dewi Umirah terlempar ke luar melalui pintu!
Sindupati sambil memaki-maki lalu membanting daun pintu kamar dan menguncinya dari dalam! Napasnya terengah-engah saking marahnya dan kemarahan ini telah mengusir gelora nafsu berahinya. Ia jengkel sekali, lalu menyambar sebuah botol berisi arak dari atas meja, menuangkan isinya ke dalam perut. Perut dan dadanya terasa panas kini dan perlahan-lahan nafsunya menggelora lagi. Dilemparkannya botol kosong ke sudut kamar dan ia melangkah maju menghampiri pembaringan di mana Endang Patibroto masih menggeliat-geliat sambil mengeluh lirih. Sindupati terkekeh, tangannya meraih, merenggut, terdengar suara "breettt!!" pakaian robek, disusul ketawa terbahak.

Ketika Tejolaksono melihat betapa tubuh Endang Patibroto yang ia tahu dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh racun itu dipondong oleh Sindupati dan dilarikan keluar tahanan, hatinya penuh kegelisahan dan kemarahan. Tadinya ia sudah hampir berputus asa karena kalau ia memberontak dan dapat membebaskan diri, tidak mungkin ia dapat membebaskan diri, karena di sana, terdapat banyak senopati tangguh, terutama sekali ada Endang Patibroto! Kini, menyaksikan keadaan Endang Patibroto yang terancam bahaya lebih mengerikan daripada maut, timbul semangatnya. Ia segera meramkan mata, mengheningkan cipta, mengumpulkan seluruh daya dan hawa sakti di tubuhnya, mengetrapkan aji-ajinya lalu tiba- tiba terlengkinglah pekik yang dahsyat dari mulutnya, pekik Aji Dirodo Meta (Gajah Mengamuk) dan pada saat itu juga, ia meronta dan...terdengar suara keras ketika semua rantai besi yang membelenggu kaki tangan dan lehernya hancur berkeping-keping!!
Tejolaksono melompat bangun dan pada saat itu, para pengawal yang mendengan suara pekikan dahsyat tadi sudah menyerbu ke dalam. Akan tetapi lima orang pengawal termasuk tiga orang algojo yang terdahulu masuk, disambut oleh hantaman yang membuat mereka semua roboh terjengkang kembali keluar pintu! Tubuh Tejolaksono menerjang keluar dan ia telah mengerahkan Aji
Triwikrama, sebuah aji kesaktian agung yang didapatnya dari ajaran mendiang ang Prabu Airlangga. Begitu tubuhnya muncul keluar, para pengawal dan penjaga bediri terpaku di tempat masing-masing dengan mata terbelalak dan muka pucat. Aji kesaktian agung Triwikrama bukanlah sembarang aji dan hanya Tejolaksono seoranglah yang dapat mewarisinya dari Sang Prabu Airlangga. Di jaman Purwacarita, jamannya Mahabharata, yang memiliki aji kesaktian agung ini hanyallah Sang Prabu Dwarawati atau Sri Bathara Kresna. Aji kesaktian ini baru dapat dikeluarkan apabila hati dalam keadaan marah dan sakit hati dan begitu aji diterapkan, akibatnya hebat luar biasa. Para lawan akan terpesona, akan ngeri ketakutan karena dari tubuh yang beraji Triwikrama ini seakan-akan keluar hawa mujijat yang menakutkan, mengeluarkan perbawa yang menggiriskan, seakan-akan berubah menjadi seorang raksasa sebesar Gunung Semeru yang akan menghancurkan segala yang menentangnya! Pihak lawan akan dicekam ketakutan sehingga mereka sampai lupa untuk bergerak menentang musuh.

Ketika para pengawal itu berdiri terhenyak pucat ketakutan, Tejolaksono segera melesat keluar dan dengan kecepatan kilat ia sudah melampaui kepala mereka untuk pergi mengejar Sindupati. Selama beberapa pekan menjadi tukang kuda di Blambangan, waktunya tidak dibuang sia- sia sehingga ia sudah hafal akan keadaan di Blambangan, tahu pula di mana adanya istana senopati Sindupati. Baru setelah Tejolaksono lari jauh, para pengawal sadar akan keadaan mereka. Sambil berteriak-teriak mereka mengejar. Beberapa orang pengawal yang berada di depan sempat menghadang dan belasan orang sudah menyeruduk maju dengan tornbak dan golok di tangan. Namun dengan ketangkasan yang luar biasa, terdorong oleh rasa khawatir dan marah mengingat akan nasib Endang Patibroto, Tejolaksono menggerakkan kaki tangannya. Dua orang roboh mencelat, seorang dapat ia tangkap tengkuknya, ia angkat tubuhnya dan ia putar-putar sedemikian rupa sehingga para pengeroyok cepat mundur dan menahan senjata, takut mengenai tubuh kawan sendiri. Tejolaksono lalu melempar tubuh orang yang dijadikan perisai tadi ke arah para pengeroyok, kemudian menggunakan kepanikan mereka ia meloncat lagi terus melanjutkan pengejarannya. Makin banyak kini perajurit-perajurit mengejarnya dari belakang, namun tak seorangpun dapat menandingi kecepatan gerak tubuh Tejolaksono yang melesat ke depan seperti burung terbang cepatnya. Empat orang pengawal menyambutnya di depan pintu rumah Raden Sindupati, akan tetapi dalam dua gebrakan saja Tejolaksono sudah merobohkan mereka dengan pukulan-pukulan jari tangannya yang mengandung Aji Pethit Nogo. Ia terus menyerbu ke dalam. Dewi Umirah terbelalak dan dengan muka pucat wanita ini lari keluar dari rumahnya, terus melarikan diri ke istana ayahnya untuk melaporkan segala peristiwa yang amat menghancurkan hatinya. Tejolaksono tidak mengenal dan tidak memperdulikan Dewi Umirah, bahkan tidak mengganggu para pelayan yang mendeprok dan menggigil di atas lantai terus lari ke dalam. Ia tahu di mana adanya kamar senopati Raden Sindupa karena ia pernah menyelidiki rumah ini di waktu malam. Daun pintu kamar it tertutup dan la mendengar suara ketawa bergelak di sebelah dalam. Tejolaksono mengerahkan tenaga sakti di dalam tubuhnya lalu menggempur daur pintu dengan bahunya.
"Braaaakkkk......!!" Daun pintu jebol dan pecah, tubuhnya menerjang ke dalam kamar.
Mata Tejolaksono menjadi merah saking marahnya ketika ia melihat Sindupati duduk di pinggir pembaringan, dengan tubuh Endang Patibroto rebah atas pembaringan. Pakaian Endang Patibroto terobek dari atas ke bawah, sedangkan senopati itu sambil tertawa-tawa sedang membuka bajunya. Ketika Sindupati mendengar suara keras pecahnya daun pintu, ia menoleh dan matanya terbelalak melihat bahwa yang muncul adalah Tejolaksono yang baru saja tadi ia tendang ketika ia melarikan Endang Patibroto. Ia kaget bukan main, juga terheran-heran, akan tetapi secepat kilat ia meloncat, menyambar tombaknya di sudut kamar kemudian langsung menerjang Tejolaksono dengan tusukan tombak pusakanya.
"Sindupati keparat engkau....!!" Tejolaksono memaki, miringkan tubuh sehingga tombak itu menyeleweng dekat lambungnya. Tangan kiri meyambar menangkap tombak, ditarik dengan gentakan keras sehingga tubuh lawan ikut mendekat, tangan kiri dengan jari-jari terbuka menampar dengan Aji Pethit Nogo.
"Bresssss....!!" Tubuh Sindupati terlempar dibarengi jeritnya dan terus menubruk jeruji jendela yang menjadi patah-patah, tidak tahan menerima hantaman tubuh yang sakti itu, dan tubuh Sindupati terus terlempar keluar kamar, dan terbanting jatuh bergulingan.

<<< Bagian 026                                                                                   Bagian 028 >>>

No comments:

Post a Comment