Wanita ini menjadi pucat
wajahnya, lalu berusaha bangkit berdiri, terhuyung-huyung, kedua tangannya
memegang kepala sendiri, matanya dimeramkan, mulutnya mengeluh lirih,
"Ahhh...kepalaku...
begini pening... panas... “
Tejolaksono terkejut sekali.
Sekali pandang melihat wajah yang agak pucat itu kedua pipinya mangar-mangar
merah, bibirnya yang terbuka itupun merah seperti habis makan cabe, matanya
setengah dipejamkan, napasnya tersendat-sendat, tubuhnya gemetar, tahulah ia
bahwa Endang Patibroto yang seperti orang mabok arak ini telah keracunan!
"Endang....kau
keracunan......Lekas, bersila mengatur napas, menggunakan tenaga sakti mengusir
hawa racun dari dada dan kepalamu ...., pergunakan Widodo Mantra.....”
Namun terlambat sudah.
Endang Patibroto agaknya sudah tidak dapat menguasai diri dan pikirannya lagi,
mulutnya berbisik-bisik,
".....pangeran.......kekasihku
pangeran.......”
“Ha-ha-ha-ha! Jangan harap
dapat lari dariku, diajeng......!!" Daun pintu kamar tahanan terbuka dari
luar dan Sindupati melompat masuk. Melihat Endang Patibroto yang
terhuyung-huyung seperti orang mabuk, ia terkekeh girang lalu menubruk maju,
memeluk dan memondong tubuh Endang Patibroto.
"Diajeng Endang
Patibroto......! Aku cinta padamu......ha-ha-ha......mengapa lari dari
kakanda……?”
“.......pangeran......pangeran
..!” Dengan mata dipejamkan Endang Pathbroto berbisik-bisik dan ia sama sekali
tidak marah lagi seperti tadi ketika tubuhnya didekap dan dipondong, bahkan
kedua lengannya lalu merayap dan merangkul leher Sindupati, mukanya
disembunyikan pada dada senopati itu!
"Ha-ha-ha-ha!"
Sindupati tertawa bergelak, lalu sambil memondong tubuh wanita yang mabuk oleh
racun pembangkit nafsu berahi yang tadi ia campurkan ke dalam madu, ia mengayun
kaki menendang Tejolaksono yang memandang semua itu dengan mata melotot. Dalam
keadaan terbelenggu seperti itu, terpaksa Tejolaksono menerima tendangan yang
mengenai pinggangnya sehingga tubuhnya terbentur dinding. Kembali Sindupati
tertawa sambil membawa tubuh Endang Patibroto keluar dari dalam kamar tahanan.
Blambangan adalah gudangnya
ilmu hitam, gudangnya jamu-jamu yang amat mujijat, dan di kadipaten ini
terdapat banyak sekali ahli-ahli pembuat racun. Ketika Sindupati malam kemarin
memberi minum madu kepada Endang Patibroto, ia mencampurkan bubukan jamur
belang yang mengandung racun pembangkit nafsu berahi amat hebat. Orang yang
terkena racun ini, terutama sekali wanita, akan mabuk dan tidak dapat menguasai
dirinya lagi, tidak sadar apa yang dilakukannya, dan seluruh tubuhnya dikuasai
oleh nafsu berahi yang menyala-nyala. Demikian pula, biarpun ia seorang wanita
yang sakti mandraguna, namun darahnya yang sudah keracunan membuat Endang
Patibroto mabuk juga sehingga terbayang olehnya Pangeran Panjirawit yang tercinta
dan ketika ia dipondong Sindupati, ia menganggap bahwa suaminyalah yang
memondongnya!
Dengan kegirangan hati yang
meluap-luap Sindupati memondong tubuh Endang Patibroto ke dalam rumahnya, masuk
ke dalam kamarnya yang tadi ditinggalkan Endang Patibroto. Kini tercapailah
keinginan hatinya. Ia ingin memiliki tubuh Endang Patibroto, baik secara suka
rela ataupun paksa, dan setelah itu baru ia akan membunuh wanita ini untuk
memenuhi perintah Adipati Blambangan! Kini, setelah Endang Patibroto mabuk oleh
racun jamur belang, pasti akan terpenuhi keinginan dan nafsunya! Dengan wajah
berseri-seri ia melemparkan tubuh Endang Patibroto ke atas pembaringan. Endang
Patibroto hanya mengeluh lirih dan bergulingan gelisah di atas pembaringan itu,
matanya dipejamkan.
"Ha-ha-ha-ha, Endang
Patibroto. Akhirnya engkau terlempar juga dalam pelukanku, cah ayu denok....”
Dengan nafsu berkobar Raden Sindupati menghampiri pembaringan, matanya jalang
memerah, napasnya agak terengah-engah panas, hidungnya kembang kempis, wajahnya
yang tampan kini tampak buas. Lama ia berdiri di pinggir pembaringan, melahap
tubuh Endang Patibroto
dengan pandang matanya,
kemudian ia membungkuk, terkekeh dan kedua tangannya menjangkau.
"Kakangmas
senopati......”
Raden Sindupati yang sudah
menyentuh pundak Endang Patibroto dan sudah menaikkan sebelah lututnya ke atas
pembaringan, tersentak kaget dan turun membalikkan tubuh dan menghardik,
"Umi! Mau apa engkau
masuk ke sini? Hayo pergi, kalau tidak ingin kutempiling kau!!" Wanita
muda bermuka pucat itu memandang dengan mata terbelalak ke arah tubuh Endang
Patibroto yang bergerak-gerak gelisah dl atas pembaringan. Hatinya menjadi
semakin panas sekali, panas oleh cemburu. Biarpun ia mengalami banyak derita
batin semenjak oleh ayahnya, sang adipati, dihadiahkan kepada senopati
Sindupati, namun ia telah jatuh cinta kepada laki-laki ini sepenuh hatinya.
Tidak ingin ia melihat suaminya bermain dengan wanita lain, dan hatinya selalu
sakit dan hancur kalau ia melihat Sindupati membawa pulang wanita-wanita
cantik. Akan tetapi kali ini ia tidak dapat menahan kemarahannya melihat betapa
suaminya itu hendak
memiliki seorang wanita
dengan cara yang amat tidak patut, yaitu dengan paksa dan dengan bantuan jamu
racun perangsang!
"Kakangmas....,
jangan....jangan lakukan itu .....“
Marah sekali Sindupati. Ia
melangkah maju mendekati selirnya ini, mukanya merah.
"Apa? Sejak kapan
engkau berani menghalangi kesenanganku??"
Dewi Umirah, wanita muda itu
menggelengkan kepalanya dengan,
"Tidak, kakangmas, saya
tidak menghalangl kesenanganmu. Sebagai seorang selir, saya tidak berhak
melakukan hal itu. Akan tetapi, saya berkewajiban untuk mengingatkan suami
daripada perbuatan jahat dan keji! Memperkosa seorang wanita di luar
kehendaknya adalah perbuatan jahat dan keji, kakangmas. Ingatlah, dan harap
kakangmas sadar, jangan lakukan itu............! Wanita ini tidak sadar.....dia
mabuk racun.....tidak baik memperkosa.....“
"Tutup mulutmu! Ha,
engkau iri hati! Engkau cemburu, setan....!" Dengan marah sekali Sindupati
mendorong pundak selirnya sehingga tubuh Dewi Umirah terlempar ke belakang,
menabrak dinding dan terguling. Namun wanita itu bangun lagi, berlutut dan
berkata,
"Saya tidak iri hati,
tidak cemburu, kakangmas. Sudah kukubur perasaan itu! Akan tetapi.....melihat
kau hendak melakukan perkosaan keji....ah, bagaimana saya dapat melihat suami
saya melakukan kekejian ini dan mendiamkannya saja? Ingat kakangmas, perbuatan
ini akan dikutuk para dewata......!”
"Apa? Keparat engkau!
Berani mengumpat ..! Pergi minggat!!" Sindupati menggerakkan kakinya
menendang dan tubuh Dewi Umirah terlempar ke luar melalui pintu!
Sindupati sambil memaki-maki
lalu membanting daun pintu kamar dan menguncinya dari dalam! Napasnya
terengah-engah saking marahnya dan kemarahan ini telah mengusir gelora nafsu
berahinya. Ia jengkel sekali, lalu menyambar sebuah botol berisi arak dari atas
meja, menuangkan isinya ke dalam perut. Perut dan dadanya terasa panas kini dan
perlahan-lahan nafsunya menggelora lagi. Dilemparkannya botol kosong ke sudut
kamar dan ia melangkah maju menghampiri pembaringan di mana Endang Patibroto
masih menggeliat-geliat sambil mengeluh lirih. Sindupati terkekeh, tangannya
meraih, merenggut, terdengar suara "breettt!!" pakaian robek, disusul
ketawa terbahak.
Ketika Tejolaksono melihat
betapa tubuh Endang Patibroto yang ia tahu dalam keadaan setengah sadar karena
pengaruh racun itu dipondong oleh Sindupati dan dilarikan keluar tahanan,
hatinya penuh kegelisahan dan kemarahan. Tadinya ia sudah hampir berputus asa
karena kalau ia memberontak dan dapat membebaskan diri, tidak mungkin ia dapat
membebaskan diri, karena di sana, terdapat banyak senopati tangguh, terutama
sekali ada Endang Patibroto! Kini, menyaksikan keadaan Endang Patibroto yang
terancam bahaya lebih mengerikan daripada maut, timbul semangatnya. Ia segera
meramkan mata, mengheningkan cipta, mengumpulkan seluruh daya dan hawa sakti di
tubuhnya, mengetrapkan aji-ajinya lalu tiba- tiba terlengkinglah pekik yang
dahsyat dari mulutnya, pekik Aji Dirodo Meta (Gajah Mengamuk) dan pada saat itu
juga, ia meronta dan...terdengar suara keras ketika semua rantai besi yang
membelenggu kaki tangan dan lehernya hancur berkeping-keping!!
Tejolaksono melompat bangun
dan pada saat itu, para pengawal yang mendengan suara pekikan dahsyat tadi
sudah menyerbu ke dalam. Akan tetapi lima orang pengawal termasuk tiga orang
algojo yang terdahulu masuk, disambut oleh hantaman yang membuat mereka semua
roboh terjengkang kembali keluar pintu! Tubuh Tejolaksono menerjang keluar dan
ia telah mengerahkan Aji
Triwikrama, sebuah aji
kesaktian agung yang didapatnya dari ajaran mendiang ang Prabu Airlangga.
Begitu tubuhnya muncul keluar, para pengawal dan penjaga bediri terpaku di
tempat masing-masing dengan mata terbelalak dan muka pucat. Aji kesaktian agung
Triwikrama bukanlah sembarang aji dan hanya Tejolaksono seoranglah yang dapat
mewarisinya dari Sang Prabu Airlangga. Di jaman Purwacarita, jamannya
Mahabharata, yang memiliki aji kesaktian agung ini hanyallah Sang Prabu
Dwarawati atau Sri Bathara Kresna. Aji kesaktian ini baru dapat dikeluarkan
apabila hati dalam keadaan marah dan sakit hati dan begitu aji diterapkan,
akibatnya hebat luar biasa. Para lawan akan terpesona, akan ngeri ketakutan
karena dari tubuh yang beraji Triwikrama ini seakan-akan keluar hawa mujijat
yang menakutkan, mengeluarkan perbawa yang menggiriskan, seakan-akan berubah
menjadi seorang raksasa sebesar Gunung Semeru yang akan menghancurkan segala
yang menentangnya! Pihak lawan akan dicekam ketakutan sehingga mereka sampai
lupa untuk bergerak menentang musuh.
Ketika para pengawal itu
berdiri terhenyak pucat ketakutan, Tejolaksono segera melesat keluar dan dengan
kecepatan kilat ia sudah melampaui kepala mereka untuk pergi mengejar
Sindupati. Selama beberapa pekan menjadi tukang kuda di Blambangan, waktunya
tidak dibuang sia- sia sehingga ia sudah hafal akan keadaan di Blambangan, tahu
pula di mana adanya istana senopati Sindupati. Baru setelah Tejolaksono lari
jauh, para pengawal sadar akan keadaan mereka. Sambil berteriak-teriak mereka
mengejar. Beberapa orang pengawal yang berada di depan sempat menghadang dan
belasan orang sudah menyeruduk maju dengan tornbak dan golok di tangan. Namun
dengan ketangkasan yang luar biasa, terdorong oleh rasa khawatir dan marah
mengingat akan nasib Endang Patibroto, Tejolaksono menggerakkan kaki tangannya.
Dua orang roboh mencelat, seorang dapat ia tangkap tengkuknya, ia angkat
tubuhnya dan ia putar-putar sedemikian rupa sehingga para pengeroyok cepat
mundur dan menahan senjata, takut mengenai tubuh kawan sendiri. Tejolaksono
lalu melempar tubuh orang yang dijadikan perisai tadi ke arah para pengeroyok,
kemudian menggunakan kepanikan mereka ia meloncat lagi terus melanjutkan
pengejarannya. Makin banyak kini perajurit-perajurit mengejarnya dari belakang,
namun tak seorangpun dapat menandingi kecepatan gerak tubuh Tejolaksono yang
melesat ke depan seperti burung terbang cepatnya. Empat orang pengawal
menyambutnya di depan pintu rumah Raden Sindupati, akan tetapi dalam dua
gebrakan saja Tejolaksono sudah merobohkan mereka dengan pukulan-pukulan jari
tangannya yang mengandung Aji Pethit Nogo. Ia terus menyerbu ke dalam. Dewi
Umirah terbelalak dan dengan muka pucat wanita ini lari keluar dari rumahnya,
terus melarikan diri ke istana ayahnya untuk melaporkan segala peristiwa yang amat
menghancurkan hatinya. Tejolaksono tidak mengenal dan tidak memperdulikan Dewi
Umirah, bahkan tidak mengganggu para pelayan yang mendeprok dan menggigil di
atas lantai terus lari ke dalam. Ia tahu di mana adanya kamar senopati Raden
Sindupa karena ia pernah menyelidiki rumah ini di waktu malam. Daun pintu kamar
it tertutup dan la mendengar suara ketawa bergelak di sebelah dalam.
Tejolaksono mengerahkan tenaga sakti di dalam tubuhnya lalu menggempur daur
pintu dengan bahunya.
"Braaaakkkk......!!"
Daun pintu jebol dan pecah, tubuhnya menerjang ke dalam kamar.
Mata Tejolaksono menjadi
merah saking marahnya ketika ia melihat Sindupati duduk di pinggir pembaringan,
dengan tubuh Endang Patibroto rebah atas pembaringan. Pakaian Endang Patibroto
terobek dari atas ke bawah, sedangkan senopati itu sambil tertawa-tawa sedang
membuka bajunya. Ketika Sindupati mendengar suara keras pecahnya daun pintu, ia
menoleh dan matanya terbelalak melihat bahwa yang muncul adalah Tejolaksono
yang baru saja tadi ia tendang ketika ia melarikan Endang Patibroto. Ia kaget
bukan main, juga terheran-heran, akan tetapi secepat kilat ia meloncat,
menyambar tombaknya di sudut kamar kemudian langsung menerjang Tejolaksono
dengan tusukan tombak pusakanya.
"Sindupati keparat
engkau....!!" Tejolaksono memaki, miringkan tubuh sehingga tombak itu
menyeleweng dekat lambungnya. Tangan kiri meyambar menangkap tombak, ditarik
dengan gentakan keras sehingga tubuh lawan ikut mendekat, tangan kiri dengan
jari-jari terbuka menampar dengan Aji Pethit Nogo.
"Bresssss....!!"
Tubuh Sindupati terlempar dibarengi jeritnya dan terus menubruk jeruji jendela
yang menjadi patah-patah, tidak tahan menerima hantaman tubuh yang sakti itu,
dan tubuh Sindupati terus terlempar keluar kamar, dan terbanting jatuh
bergulingan.
No comments:
Post a Comment