Maka cepat ia membalikkan tubuh ke kanan dan menerima pukulan Wisangnala yang ampuhnya menggila
itu dengan dorongan kedua
telapak tangannya pula ke depan sambil mengerahkan Aji Brojo Dahono (Kilat
Berapi) yang dahulu ia terima dari gurunya, Ki Patih Narotama.
"Desssss.........
!!!" Dua pasang tangan bertemu permukaannya dan tubuh Endang Patibroto
terlempar ke belakang sampai tiga meter lebih dalam keadaan pingsan. Akan
tetapi, Tejolaksono juga terhuyung-huyung ke belakang, kepalanya pening pandang
matanya berkunang. Kalau ia tadi mengerahkan seluruh tenaganya, tentu Endang
Patibroto akan terpukul tewas dan dia sendiri tidak akan terluka parah. Akan
tetapi bagaimana ia tega untuk membunuh Endang Patibroto? Maka ia tadi hanya
mengerahkan sebagian besar tenaganya, tidak sepenuhnya sehingga akibatnya
sungguhpun ia dapat membuat Endang Patibroto pingsan, namun dia sendiri juga
mendapat hantaman di sebelah dalam tubuhnya yang cukup hebat. Sebelum
Tejolaksono sempat memulihkan tenaga, banyak pukulan-pukulan keras dan penggada
menghujani tubuhnya sehingga ia roboh pingsan. Segera para senopati menubruknya
dan melibat-libat tubuhnya dengan ikatan- ikatan rantai yang amat kuat seperti
seekor kerbau hendak disembelih saja. Kemudian, beramai-ramai mereka menggotong
tubuh Tejolaksono sambil bersorak kegirangan. Adapun Endang Patibroto yang
pingsan itu sudah lebih dulu dipondong oleh Raden Sindupati dan dibawa pergi
menuju ke......... rumah senopati itu sendiri. Ketika Sindupati yang memondong
tubuh Endang Patibroto tiba di rumah gedungnya, ia disambut oleh seorang wanita
yang masih amat muda dan berwajah cantik jelita akan tetapi pucat pasi mukanya.
"Kakangmas.........
!" Wanita itu menegur dan matanya terbelalak lebar. Akan tetapi dengan kasar
Sindupati membentak,
"Minggir kau!"
Lalu terus membawa tubuh Endang Patibroto memasuki kamarnya.
Wanita muda itu adalah
selirnya, yaitu puteri Adipati Menak Linggo dari selir yang
"dihadiahkan" kepada Sindupati. Dibentak seperti itu, wanita ini minggir
dan terisak menangis, akan tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu, hanya pergi
memasuki sebuah kamar lain dan membanting tubuh di atas pembaringan sambil
menangis tersedu-sedu. Semuda itu, sudah terlampau banyak ia menderita tekanan
batin semenjak setahun yang lalu ia diberikan kepada Sindupati, dijadikan benda
permainan senopati itu yang sama sekali tidak memperdulikan hati wanita muda
ini. Endang Patibroto masih merasa pusing sekali dan napasnya agak terengah
ketika ia mendengar suara yang halus,
"Minumlah,
diajeng......... minumlah madu tentu akan sembuh dan enak badan-mu.........
!" Segera ia merasa ada benda menempel bibirnya. Ia berada dalam keadaan
setengah sadar akan tetapi dapat mengenal suara Sindupati, maka tanpa membuka
mata ia segera membuka mulut dan minum madu manis dan harum dari cangkir itu
dengan penuh kepercayaan. Memang enak rasanya, dan mendatangkan rasa hangat di
dadanya. Madu yang manis dan harum bercampur jamu. Ia masih meramkan matanya,
mengingat-ingat. Kemudian teringatlah ia akan pertandingan tadi. Tadikah? Ia
tidak tahu bahwa ia telah rebah pingsan selama setengah malam. Joko Wandiro,
alangkah berat lawan itu. Teringat ia betapa pukulan Wisangnala membentur
gunung karang dan tenaga aji itu membalik, membuat dadanya sesak dan tubuhnya
terlempar ke belakang. Bukan main hebatnya Joko Wandiro.
Tangan yang lembut membelai
rambutnya dahinya lalu turun ke pipinya, terus ke lehernya. Bisikan-bisikan
yang tadinya hampir tak terdengar, kini mulai terdengar, lirih- lirih dekat
telinga.
"Diajeng Endang
Patibroto......... alangkah cantik jelita engkau, alangkah gagah
perkasa......... ah, adinda......... aku cinta padamu, diajeng.........” Jari
tangan itu turun ke atas dada dan....... bibir yang panas menempel mulutnya!
Endang Patibroto hampir saja tenggelam karena terbayang ia kepada kemesraan
bercinta dengan suaminya, membayangkan bahwa yang berbisik-bisik, membelai dan
menciumnya itu adalah suaminya. Akan tetapi ia segera teringat dan tersentak
kaget. Bukan suaminya yang sudah mati, melainkan Raden Sindupati! Segera ia
mendorong sambil melompat bangun dari atas pangkuan karena tadinya ia rebah
telentang dengan kepala di atas pangkuan Sindupati yang duduk di atas
pembaringan. Tubuh Sindupati terlempar keluar dari pembaringan dan seperti
seekor burung kepinis, Endang Patibroto sudah melompat turun dan berdiri
menatap Sindupati yang terbanting roboh di atas lantai.
"Diajeng.........”
Sindupati merintih.
Merah wajah Endang
Patibroto. Kamar ini terang dan kiranya sinar mata-hari telah bersinar masuk
melalui celah-celah daun jendela kamar itu. Sebuah kamar yang indah. Dan ia
tadi berada di atas pembaringan, bersama Sindupati, sejak malam tadi, ia
memandang senopati itu, bingung karena merasa malu, menyesal bercampur marah.
"Maaf, kakang
Sindupati. Akan tetapi ......... aku......... aku tidak dapat menerima cinta
kasihmu! Betapapun baik engkau sudah terhadap diriku, namun....... hemm
.....jangan sekali-kali berani meraba diriku lagi karena lain kali......... aku
akan membunuhmu!" Setelah berkata demikian, Endang Patibroto lalu melompat
keluar dari kamar itu dan terus melarikan diri.
"Diajeng.........
Endang Patibroto......... !!"
Namun seruan Sindupati ini
tidak terjawab dan senopati ini lalu merangkak bangun. Belakang kepalanya yang
terbentur lantai menjendol dan terasa nyeri. Ia menyeringai, mukanya menjadi
merah padam, kedua tangannya dikepal dan ia menggumam dengan marah,
"Hem m......... Endang
Patibroto, engkau tak mau disayang orang! Lihat saja engkau nanti! Tidak bisa
mendapatkan dirimu secara halus, aku akan menggunakan kekerasan! Ha-ha-ha, awas
engkau jangan kira dapat melepaskan diri begitu saja dari tangan Raden
Sindupati!" Kalau saja Endang Patibroto dapat mendengar ucapan dan sikap
Sindupati setelah ia meninggalkan kamar senopati itu, tentu ia akan menjadi
kaget sekali. Akan tetapi, Endang Patibroto sudah berlari jauh dan di dalam
hatinya wanita ini malah merasa kasihan kepada Sindupati. Ia menganggap
senopati itu amat baik dan biarpun tadi telah berani menjamah tubuhnya, bahkan
mencium bibirnya, namun ia dapat memaafkan perbuatan yang ia anggap terdorong
oleh cinta kasih yang mendalam! Seorang wanita seperti Endang Patibroto, tentu
saja tidak dapat membedakan antara cinta kasih murni seperti cinta kasih
mendiang suaminya, dengan cinta berahi seperti cinta seorang pria macam
Sindupati yang menjadi hamba daripada nafsu berahi dan menginginkan tubuhnya
karena ia cantik jelita belaka, seperti rasa sayang seorang akan setangkai
bunga mawar. Jika masih segar dinikmati keindahannya dan harumnya, jika sudah
bosan dan kembang itu melayu lalu dibuang begitu saja!
Ketika Endang Patibroto
memasuki tempat tinggalnya, ia mendengar dari para pengawal bahwa Adipati
Tejolaksono telah tertangkap dan kini sedang mengalami siksaan di dalam
penjara!
"Menurut keputusan
gusti adipati, mata-mata itu yang telah menewaskan tujuh orang pengeroyok
semalam, akan dihukum picis di alun-alun sore hari nanti!" demikian antara
lain para pengawal memberitahukannya.
Berdebar jantung Endang
Patibroto. Dihukum picis! Hukuman yang mengerikan. Tubuh orang hukuman akan
diikat di alun-alun, dan setiap orang boleh menggunakan sebuah pisau tajam yang
tersedia di situ untuk mengerat kulit dan daging, si terhukum, kemudian algojo
akan mengoleskan asam dan garam pada goresan pisau! Si terhukum tidak akan mati
seketika, melainkan mati
perlahan-lahan, menderita
siksaan ngeri yang tiada taranya, kemudian mungkin baru pada keesokan harinya
mati kehabisan darah! Ia membayangkan wajah Joko Wandiro dan Endang Patibroto
meramkan mata. Kepalanya makin pening, pandang matanya berkunang. Teringat ia
akan semua kebaikan Joko Wandiro. Betapa pria itu kini telah menampung ibu
kandungnya, betapa Joko Wandiro tidak mendendam kepadanya biarpun dialah yang
membunuh ibu kandung Joko Wandiro! Betapa dahulu ia amat tertarik kepada Joko
Wandiro, betapa ia merindu, haus akan kasih sayangnya namun pada lahirnya ia
selalu bersikap keras dan bermusuh. Bahkan terbayang pula betapa seringkali,
sebelum akhirnya ia jatuh cinta sungguh-sungguh kepada Pangeran Panjirawit, seringkali
ia membayangkan wajah Joko Wandiro di kala suaminya itu mencumbunya.
"Tidak......... ! Tidak
boleh......... !" Demikian teriak hatinya dan dengan kepala masih pening,
dengan langkah terhuyung-huyung Endang Patibroto lalu lari menuju ke penjara!
Para penjaga yang menjaga
penjara dengan ketat, semua mengenal Endang Patibroto dan tidak seorangpun di
antara mereka berani mencegah ketika Endang Patibroto memasuki penjara. Bahkan
Mayangkurdo yang bertugas mengepalai barisan penjaga, hanya bertanya,
"Apakah perlunya
menemui keparat itu? Gusti adipati sudah memutuskan hukum picis, harap saja
paduka jangan membunuhnya!"
Endang Patibroto hanya
menggeleng kepala, tidak berani mengeluarkan suara karena ia tidak percaya
kepada suaranya sendiri yang tentu akan tergetar. Adapun Mayangkurdo tidak
melihat keberatan sesuatu atas kunjungan Endang Patibroto. Biarpun disiksa
sejak malam tadi, Tejolaksono tidak pernah mau mengaku sesuatu, hanya tersenyum
mengejek dan menerima siksaan sampai berkali-kali jatuh pingsan. Karena itu
Mayangkurdo dan yang lain-lain tidak tahu bahwa rahasia busuk mereka telah
diketahui Tejolaksono dari mulut Ki Brejeng! Mereka hanya menyangka bahwa
Tejolaksono datang atas perintah sang prabu di Panjalu untuk menangkap Endang
Patibroto yang sampai sekarang tentu dianggap pemberontak oleh Panjalu, dan
Jenggala. Ketika Endang Patibroto memasuki kamar tahanan, ia melihat
Tejolaksono rebah dan setengah bersandar pada dinding. Kaki tangannya
dibelenggu dengan rantai besi, juga lehernya. Pakaiannya hancur dan seluruh
tubuhnya berdarah bekas cambukan! Ksatria sakti ini tidak pingsan, sadar dan
sinar matanya masih penuh semangat sungguhpun tampak lemah sekali. Sedikitpun
tidak ada keluhan keluar dari mulutnya. Mukanya baret-baret bekas cambukan
pula, mata kirinya membiru. Hati Endang Patibroto trenyuh sekali.
Apalagi melihat betapa sinar
mata itu memandangnya dengan senyum, seperti mulutnya.
"Pergilah kalian!
Tinggalkan aku sendiri dengan keparat ini!" bentak Endang Patibroto kepada
tiga orang algojo tinggi besar yang agaknya kelelahan karena harus terus
menyiksa akan tetapi tak boleh membunuh si tahanan. Mereka lalu pergi
meninggalkan Endang Patibroto yang segera menutupkan daun pintu besi. Lalu ia
berdiri di depan Tejolaksono.
"Hemm, Endang
Patibroto. Agaknya engkau puas sekarang. Dapat melampiaskan semuan kebencianmu
kepadaku. Ah, betapa bencimu kepadaku, Endang. Sejak sepuluh tahun yang lalu!
Belum dapatkah engkau melupakan semua peristiwa yang lalu? Endang.............
demi bibi Kartikosari, demi paman Pujo.............kaubunuhlah saja aku. Aku
tidak takut menghadapi siksaan, akan tetapi ngeri menghadapi penghinaan. Kau
pukullah aku sampai mati, aku akan berterima kasih dan............. dan
tolonglah kau amat-amati keluargaku di Selopenangkep."
Ucapan itu keluar dengan
ringannya dari mulut Tejolaksono, sedikitpun tidak tampak berduka atau takut.
Alangkah perkasanya pria ini! Dan tak tertahankan lagi Endang Patibroto
terisak, lalu menjatuhkan diri berlutut, lalu tangannya meraih
belenggu-belenggu kaki tangan Tejolaksono.
"Tidak usah, Endang.
Tiada gunanya. Kalau aku menghendaki, agaknya aku masih akan sanggup mematahkan
belenggu-belenggu ini. Akan tetapi apa gunanya? Penjagaan terlampau kuat dan
aku terlalu lelah dan lemah. Apalagi ada engkau, betapa mungkin aku dapat
lari?"
Makin mengguguk Endang
Patibroto menangis.
"Joko
Wandiro............. mengapa......... ? Mengapa engkau selalu memusuhi aku?
Mengapa engkau yang diutus oleh si
keparat Darmokusumo untuk
mengejar dan menangkap aku? Aku sudah............. sudah tidak lagi menganggap
engkau sebagai musuh, tapi............. tapi kau datang ke sini
dan............. “
"Husssshh.............
engkau salah sangka. Inilah yang hendak kuterangkan kepadamu. Inilah sebabnya
mengapa aku selalu hendak menemuimu. Kau tertipu! Kau harus segera lari dari
sini. Mereka menipumu. Mereka hendak membunuhmu! Dengarlah baik-baik, Endang
Patibroto. Semua peristiwa di Jenggala dan Panjalu diatur oleh si keparat
Sindupati!"
"Tidak mungkin! Aku
mendengar sendiri dari mulut Wiku Kalawisesa............. !!”
"Kau dibohongi! Aku
tahu semua ini dari mulut Ki Brejeng sebelum ia mati."
"Ki Brejeng? Mati? Apa
artinya ini ...... .?”
"Aku memang mengejarmu,
dan di tengah jalan aku bertemu Ki Brejeng. Kau masuk perangkap! Wiku
Kalawisesa adalah anak buah
Sindupati. Sengaja membunuhi
para ponggawa untuk melemahkan kedua kerajaan yang akan diserbu. Dan mereka
memasang jerat.
Menyebar desas-desus
memburukkan namamu, hendak mengadu domba. Kau terkena hasutan sehingga kau
menyerbu Pangeran Darmokusumo yang tidak berdosa! Kau.... ..... eh, kenapa,
Endang............. ?” Akan tetapi Endang sudah tidak mendengarnya lagi.
No comments:
Post a Comment