Perawan Lembah Wilis; Bagian 026


Maka cepat ia membalikkan tubuh ke kanan dan menerima pukulan Wisangnala yang ampuhnya menggila
itu dengan dorongan kedua telapak tangannya pula ke depan sambil mengerahkan Aji Brojo Dahono (Kilat Berapi) yang dahulu ia terima dari gurunya, Ki Patih Narotama.
"Desssss......... !!!" Dua pasang tangan bertemu permukaannya dan tubuh Endang Patibroto terlempar ke belakang sampai tiga meter lebih dalam keadaan pingsan. Akan tetapi, Tejolaksono juga terhuyung-huyung ke belakang, kepalanya pening pandang matanya berkunang. Kalau ia tadi mengerahkan seluruh tenaganya, tentu Endang Patibroto akan terpukul tewas dan dia sendiri tidak akan terluka parah. Akan tetapi bagaimana ia tega untuk membunuh Endang Patibroto? Maka ia tadi hanya mengerahkan sebagian besar tenaganya, tidak sepenuhnya sehingga akibatnya sungguhpun ia dapat membuat Endang Patibroto pingsan, namun dia sendiri juga mendapat hantaman di sebelah dalam tubuhnya yang cukup hebat. Sebelum Tejolaksono sempat memulihkan tenaga, banyak pukulan-pukulan keras dan penggada menghujani tubuhnya sehingga ia roboh pingsan. Segera para senopati menubruknya dan melibat-libat tubuhnya dengan ikatan- ikatan rantai yang amat kuat seperti seekor kerbau hendak disembelih saja. Kemudian, beramai-ramai mereka menggotong tubuh Tejolaksono sambil bersorak kegirangan. Adapun Endang Patibroto yang pingsan itu sudah lebih dulu dipondong oleh Raden Sindupati dan dibawa pergi menuju ke......... rumah senopati itu sendiri. Ketika Sindupati yang memondong tubuh Endang Patibroto tiba di rumah gedungnya, ia disambut oleh seorang wanita yang masih amat muda dan berwajah cantik jelita akan tetapi pucat pasi mukanya.
"Kakangmas......... !" Wanita itu menegur dan matanya terbelalak lebar. Akan tetapi dengan kasar Sindupati membentak,
"Minggir kau!" Lalu terus membawa tubuh Endang Patibroto memasuki kamarnya.

Wanita muda itu adalah selirnya, yaitu puteri Adipati Menak Linggo dari selir yang "dihadiahkan" kepada Sindupati. Dibentak seperti itu, wanita ini minggir dan terisak menangis, akan tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu, hanya pergi memasuki sebuah kamar lain dan membanting tubuh di atas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu. Semuda itu, sudah terlampau banyak ia menderita tekanan batin semenjak setahun yang lalu ia diberikan kepada Sindupati, dijadikan benda permainan senopati itu yang sama sekali tidak memperdulikan hati wanita muda ini. Endang Patibroto masih merasa pusing sekali dan napasnya agak terengah ketika ia mendengar suara yang halus,
"Minumlah, diajeng......... minumlah madu tentu akan sembuh dan enak badan-mu......... !" Segera ia merasa ada benda menempel bibirnya. Ia berada dalam keadaan setengah sadar akan tetapi dapat mengenal suara Sindupati, maka tanpa membuka mata ia segera membuka mulut dan minum madu manis dan harum dari cangkir itu dengan penuh kepercayaan. Memang enak rasanya, dan mendatangkan rasa hangat di dadanya. Madu yang manis dan harum bercampur jamu. Ia masih meramkan matanya, mengingat-ingat. Kemudian teringatlah ia akan pertandingan tadi. Tadikah? Ia tidak tahu bahwa ia telah rebah pingsan selama setengah malam. Joko Wandiro, alangkah berat lawan itu. Teringat ia betapa pukulan Wisangnala membentur gunung karang dan tenaga aji itu membalik, membuat dadanya sesak dan tubuhnya terlempar ke belakang. Bukan main hebatnya Joko Wandiro.
Tangan yang lembut membelai rambutnya dahinya lalu turun ke pipinya, terus ke lehernya. Bisikan-bisikan yang tadinya hampir tak terdengar, kini mulai terdengar, lirih- lirih dekat telinga.
"Diajeng Endang Patibroto......... alangkah cantik jelita engkau, alangkah gagah perkasa......... ah, adinda......... aku cinta padamu, diajeng.........” Jari tangan itu turun ke atas dada dan....... bibir yang panas menempel mulutnya! Endang Patibroto hampir saja tenggelam karena terbayang ia kepada kemesraan bercinta dengan suaminya, membayangkan bahwa yang berbisik-bisik, membelai dan menciumnya itu adalah suaminya. Akan tetapi ia segera teringat dan tersentak kaget. Bukan suaminya yang sudah mati, melainkan Raden Sindupati! Segera ia mendorong sambil melompat bangun dari atas pangkuan karena tadinya ia rebah telentang dengan kepala di atas pangkuan Sindupati yang duduk di atas pembaringan. Tubuh Sindupati terlempar keluar dari pembaringan dan seperti seekor burung kepinis, Endang Patibroto sudah melompat turun dan berdiri menatap Sindupati yang terbanting roboh di atas lantai.
"Diajeng.........” Sindupati merintih.

Merah wajah Endang Patibroto. Kamar ini terang dan kiranya sinar mata-hari telah bersinar masuk melalui celah-celah daun jendela kamar itu. Sebuah kamar yang indah. Dan ia tadi berada di atas pembaringan, bersama Sindupati, sejak malam tadi, ia memandang senopati itu, bingung karena merasa malu, menyesal bercampur marah.
"Maaf, kakang Sindupati. Akan tetapi ......... aku......... aku tidak dapat menerima cinta kasihmu! Betapapun baik engkau sudah terhadap diriku, namun....... hemm .....jangan sekali-kali berani meraba diriku lagi karena lain kali......... aku akan membunuhmu!" Setelah berkata demikian, Endang Patibroto lalu melompat keluar dari kamar itu dan terus melarikan diri.
"Diajeng......... Endang Patibroto......... !!"
Namun seruan Sindupati ini tidak terjawab dan senopati ini lalu merangkak bangun. Belakang kepalanya yang terbentur lantai menjendol dan terasa nyeri. Ia menyeringai, mukanya menjadi merah padam, kedua tangannya dikepal dan ia menggumam dengan marah,
"Hem m......... Endang Patibroto, engkau tak mau disayang orang! Lihat saja engkau nanti! Tidak bisa mendapatkan dirimu secara halus, aku akan menggunakan kekerasan! Ha-ha-ha, awas engkau jangan kira dapat melepaskan diri begitu saja dari tangan Raden Sindupati!" Kalau saja Endang Patibroto dapat mendengar ucapan dan sikap Sindupati setelah ia meninggalkan kamar senopati itu, tentu ia akan menjadi kaget sekali. Akan tetapi, Endang Patibroto sudah berlari jauh dan di dalam hatinya wanita ini malah merasa kasihan kepada Sindupati. Ia menganggap senopati itu amat baik dan biarpun tadi telah berani menjamah tubuhnya, bahkan mencium bibirnya, namun ia dapat memaafkan perbuatan yang ia anggap terdorong oleh cinta kasih yang mendalam! Seorang wanita seperti Endang Patibroto, tentu saja tidak dapat membedakan antara cinta kasih murni seperti cinta kasih mendiang suaminya, dengan cinta berahi seperti cinta seorang pria macam Sindupati yang menjadi hamba daripada nafsu berahi dan menginginkan tubuhnya karena ia cantik jelita belaka, seperti rasa sayang seorang akan setangkai bunga mawar. Jika masih segar dinikmati keindahannya dan harumnya, jika sudah bosan dan kembang itu melayu lalu dibuang begitu saja!

Ketika Endang Patibroto memasuki tempat tinggalnya, ia mendengar dari para pengawal bahwa Adipati Tejolaksono telah tertangkap dan kini sedang mengalami siksaan di dalam penjara!
"Menurut keputusan gusti adipati, mata-mata itu yang telah menewaskan tujuh orang pengeroyok semalam, akan dihukum picis di alun-alun sore hari nanti!" demikian antara lain para pengawal memberitahukannya.
Berdebar jantung Endang Patibroto. Dihukum picis! Hukuman yang mengerikan. Tubuh orang hukuman akan diikat di alun-alun, dan setiap orang boleh menggunakan sebuah pisau tajam yang tersedia di situ untuk mengerat kulit dan daging, si terhukum, kemudian algojo akan mengoleskan asam dan garam pada goresan pisau! Si terhukum tidak akan mati seketika, melainkan mati
perlahan-lahan, menderita siksaan ngeri yang tiada taranya, kemudian mungkin baru pada keesokan harinya mati kehabisan darah! Ia membayangkan wajah Joko Wandiro dan Endang Patibroto meramkan mata. Kepalanya makin pening, pandang matanya berkunang. Teringat ia akan semua kebaikan Joko Wandiro. Betapa pria itu kini telah menampung ibu kandungnya, betapa Joko Wandiro tidak mendendam kepadanya biarpun dialah yang membunuh ibu kandung Joko Wandiro! Betapa dahulu ia amat tertarik kepada Joko Wandiro, betapa ia merindu, haus akan kasih sayangnya namun pada lahirnya ia selalu bersikap keras dan bermusuh. Bahkan terbayang pula betapa seringkali, sebelum akhirnya ia jatuh cinta sungguh-sungguh kepada Pangeran Panjirawit, seringkali ia membayangkan wajah Joko Wandiro di kala suaminya itu mencumbunya.
"Tidak......... ! Tidak boleh......... !" Demikian teriak hatinya dan dengan kepala masih pening, dengan langkah terhuyung-huyung Endang Patibroto lalu lari menuju ke penjara!
Para penjaga yang menjaga penjara dengan ketat, semua mengenal Endang Patibroto dan tidak seorangpun di antara mereka berani mencegah ketika Endang Patibroto memasuki penjara. Bahkan Mayangkurdo yang bertugas mengepalai barisan penjaga, hanya bertanya,
"Apakah perlunya menemui keparat itu? Gusti adipati sudah memutuskan hukum picis, harap saja paduka jangan membunuhnya!"

Endang Patibroto hanya menggeleng kepala, tidak berani mengeluarkan suara karena ia tidak percaya kepada suaranya sendiri yang tentu akan tergetar. Adapun Mayangkurdo tidak melihat keberatan sesuatu atas kunjungan Endang Patibroto. Biarpun disiksa sejak malam tadi, Tejolaksono tidak pernah mau mengaku sesuatu, hanya tersenyum mengejek dan menerima siksaan sampai berkali-kali jatuh pingsan. Karena itu Mayangkurdo dan yang lain-lain tidak tahu bahwa rahasia busuk mereka telah diketahui Tejolaksono dari mulut Ki Brejeng! Mereka hanya menyangka bahwa Tejolaksono datang atas perintah sang prabu di Panjalu untuk menangkap Endang Patibroto yang sampai sekarang tentu dianggap pemberontak oleh Panjalu, dan Jenggala. Ketika Endang Patibroto memasuki kamar tahanan, ia melihat Tejolaksono rebah dan setengah bersandar pada dinding. Kaki tangannya dibelenggu dengan rantai besi, juga lehernya. Pakaiannya hancur dan seluruh tubuhnya berdarah bekas cambukan! Ksatria sakti ini tidak pingsan, sadar dan sinar matanya masih penuh semangat sungguhpun tampak lemah sekali. Sedikitpun tidak ada keluhan keluar dari mulutnya. Mukanya baret-baret bekas cambukan pula, mata kirinya membiru. Hati Endang Patibroto trenyuh sekali.
Apalagi melihat betapa sinar mata itu memandangnya dengan senyum, seperti mulutnya.
"Pergilah kalian! Tinggalkan aku sendiri dengan keparat ini!" bentak Endang Patibroto kepada tiga orang algojo tinggi besar yang agaknya kelelahan karena harus terus menyiksa akan tetapi tak boleh membunuh si tahanan. Mereka lalu pergi meninggalkan Endang Patibroto yang segera menutupkan daun pintu besi. Lalu ia berdiri di depan Tejolaksono.
"Hemm, Endang Patibroto. Agaknya engkau puas sekarang. Dapat melampiaskan semuan kebencianmu kepadaku. Ah, betapa bencimu kepadaku, Endang. Sejak sepuluh tahun yang lalu! Belum dapatkah engkau melupakan semua peristiwa yang lalu? Endang............. demi bibi Kartikosari, demi paman Pujo.............kaubunuhlah saja aku. Aku tidak takut menghadapi siksaan, akan tetapi ngeri menghadapi penghinaan. Kau pukullah aku sampai mati, aku akan berterima kasih dan............. dan tolonglah kau amat-amati keluargaku di Selopenangkep."
Ucapan itu keluar dengan ringannya dari mulut Tejolaksono, sedikitpun tidak tampak berduka atau takut. Alangkah perkasanya pria ini! Dan tak tertahankan lagi Endang Patibroto terisak, lalu menjatuhkan diri berlutut, lalu tangannya meraih belenggu-belenggu kaki tangan Tejolaksono.
"Tidak usah, Endang. Tiada gunanya. Kalau aku menghendaki, agaknya aku masih akan sanggup mematahkan belenggu-belenggu ini. Akan tetapi apa gunanya? Penjagaan terlampau kuat dan aku terlalu lelah dan lemah. Apalagi ada engkau, betapa mungkin aku dapat lari?"
Makin mengguguk Endang Patibroto menangis.
"Joko Wandiro............. mengapa......... ? Mengapa engkau selalu memusuhi aku? Mengapa engkau yang diutus oleh si
keparat Darmokusumo untuk mengejar dan menangkap aku? Aku sudah............. sudah tidak lagi menganggap engkau sebagai musuh, tapi............. tapi kau datang ke sini dan............. “
"Husssshh............. engkau salah sangka. Inilah yang hendak kuterangkan kepadamu. Inilah sebabnya mengapa aku selalu hendak menemuimu. Kau tertipu! Kau harus segera lari dari sini. Mereka menipumu. Mereka hendak membunuhmu! Dengarlah baik-baik, Endang Patibroto. Semua peristiwa di Jenggala dan Panjalu diatur oleh si keparat Sindupati!"
"Tidak mungkin! Aku mendengar sendiri dari mulut Wiku Kalawisesa............. !!”
"Kau dibohongi! Aku tahu semua ini dari mulut Ki Brejeng sebelum ia mati."
"Ki Brejeng? Mati? Apa artinya ini ...... .?”
"Aku memang mengejarmu, dan di tengah jalan aku bertemu Ki Brejeng. Kau masuk perangkap! Wiku Kalawisesa adalah anak buah
Sindupati. Sengaja membunuhi para ponggawa untuk melemahkan kedua kerajaan yang akan diserbu. Dan mereka memasang jerat.
Menyebar desas-desus memburukkan namamu, hendak mengadu domba. Kau terkena hasutan sehingga kau menyerbu Pangeran Darmokusumo yang tidak berdosa! Kau.... ..... eh, kenapa, Endang............. ?” Akan tetapi Endang sudah tidak mendengarnya lagi.

<<< Bagian 025                                                                                    Bagian 027 >>>

No comments:

Post a Comment