Endang Patibroto maklum bahwa senopati di depannya ini, di samping kesaktiannya, juga memiliki kecerdikan luar biasa, maka ia segera memandang penuh perhatian dan bertanya,
"Bagaimana siasatmu,
kakang Sindupati?"
"Beginilah seharusnya
diatur. Sudah jelas bahwa siapapun, adanya orang yang malam itu mendatangimu,
dan mungkin sekali Adipati Tejolaksono melihat dari kesaktiannya dan aji
pukulan Pethit Nogo seperti yang adinda katakan, kini berada dalam persembunyiannya
dan masih berada dalam kota raja. Dan jelas pula bahwa dia tentu menanti saat
yang baik untuk bertemu dengan engkau, karena kalau menghadapi pengeroyokan
semua senopati dan pengawal, tentu dia tidak berani, betapapun juga hebat
kepandaiannya. Oleh karena itu, tiada jalan lain kecuali memancingnya keluar
dari tempat persembunyiannya dan satu-satunya orang yang dapat memancingnya
keluar, adalah diajeng sendiri." Endang Patibroto mengangguk-angguk akan
tetapi keningnya yang kecil panjang dan hitam seperti dilukis itu berkerut.
Sebagai seorang yang mengutamakan kegagahan ia tidak suka akan segala macam
siasat. Akan tetapi, iapun tahu bahwa ucapan ini mengandung kebenaran. Kalau
tidak keliru dugaannya, tentu Joko Wandiro sedang menanti kesempatan untuk
turun tangan terhadap dirinya, dan karena maklum bahwa dia merupakan lawan
setanding dan berat, tentu saja Joko Wandiro berlaku hati-hati dan tidak
sembrono. Memang benar kalau sampai dikeroyok, betapapun saktinya Joko Wandiro,
tidak mungkin dapat menang. Kebenciannya terhadap Joko Wandiro sudah
bertambah-tambah ketika terdapat bukti bahwa ia hendak diracun tadi, sungguhpun
ia masih meragu apakah Joko Wandiro sudi melaksanakan hal semacam itu, hal yang
amat pengecut dan rendah sedangkan ia tahu betul bahwa Joko Wandiro bukan
seorang pengecut, apalagi berjiwa rendah!
"Bagaimana rencanamu
untuk memancingnya, kakang Sindupati?"
"Malam ini juga
sebaiknya diajeng keluar dari istana dan berada seorang diri di tempat yang
sunyi. Untuk itu, menurut rencanaku, taman istana merupakan tempat yang amat
baik. Kalau diajeng muncul pada malam hari di tempat sunyi seorang diri, aku
merasa yakin bahwa penjahat itu tentu akan muncul. Aku akan mengepung tempat
itu dan kalau dia muncul, kita maju menangkapnya. Orang ini harus ditangkap untuk
diperiksa dan diketahui apa maksud datangannya di Blambangan. Gusti adipati
ingin sekali mengetahui,
karena selain hendak mencelakai diajeng, siapa tahu dia adalah seorang
mata-mata Jenggala atau Panjalu yang berbahaya."
Di dalam hatinya, Endang
Patibroto kurang setuju. Akan tetapi ia tidak melihat cara lain untuk
menghadapi Joko Wandiro. Ia sendiripun ingin melihat orang itu tertangkap,
ingin melihat Joko Wandiro dikalahkan untuk memuaskan hatinya yang diracuni
kebencian. Kalau Joko Wandiro memusuhinya dan menjadi utusan Pangeran
Darmokusumo untuk membunuhnya, mengapa ia harus ragu-ragu untuk membantu
Sindupati menangkap Joko Wandiro?
"Baiklah, malam nanti
aku akan berada di dalam taman."
"Sebaiknya menjelang
tengah malam jika semua penghuni istana sudah tidur, agar jangan meragukan hati
penjahat itu diajeng.”
Endang Patibroto setuju dan
berundinglah mereka berdua untuk menghadapi dan menangkap Joko Wandiro atau
Adipati Tejolaksono seperti yang diduga penuh keyakinan oleh wanita sakti ini.
Dengan hati girang Raden Sindupati lalu meninggalkan tempat itu untuk melakukan
persiapan. Ia menghubungi para senopati yang memiliki ilmu kepandaian tinggi,
juga Ki Patih Kalanarmodo dan Mayangkurdo, kemudian mempersiapkan pula seratus
orang prajurit pilihan termasuk dua lusin barisan anak panah yang mengepung
taman sari dengan busur dan anak panah siap di tangan masing-masing. Malam hari
itu, Adipati Tejolaksono atau yang kini berganti nama menjadi Sutejo tukang
kuda, rebah di atas setumpukan jerami kering di dalam kamar di dekat kandang
kuda. Hatinya gelisah sekali dan berkali-kali ia menghela napas panjang. Sudah
beberapa pekan ia bekerja di situ sebagai tukang kuda, namun belum juga ia
berhasil bertemu empat mata dengan Endang Patibroto. Ia tidak berani lagi secara
sembrono mendatangi tempat Endang Patibroto setelah malam itu hampir saja ia
tertangkap. Kalau sampai ia dikenal orang, tentu keadaan wanita itu akan
menjadi terancam keselamatannya. Ah, dia sudah meninggalkan tanda tapak jari
Aji Pethit Nogo, tidak mungkin Endang Patibroto tidak mengenalnya! Mengapa
Endang Patibroto tidak mencarinya, bahkan para senopati dan pengawal yang
berkeliaran mencari? Penjagaan makin diperketat sehingga ia tidak berani
sembrono memperlihatkan diri, lebih tekun bekerja menyembunyikan diri di balik
penyamarannya sebagai tukang kuda. Ia sudah mendengar percakapan para perwira
yang seringkali datang jika membutuhkan kuda tunggangan mereka tentang keadaan
Endang Patibroto, malah ia mendengar pula bahwa Raden Sindupati, senopati yang
menjadi tokoh penting dan dipercaya sang adipati, agaknya jatuh cinta kepada
Endang Patibroto! Ia mendengar pula percakapan para perwira tentang watak Raden
Sindupati yang tak pernah mau melewatkan begitu saja wanita denok! Semua ini
tidak menggelisahkan hati Tejolaksono. Yang membuat ia terkejut sekali adalah
ketika siang hari tadi ia mendengar bahwa Endang Patibroto nyaris menjadi
korban peracunan dalam santapan paginya. Ia harus cepat-cepat menemui Endang
Patibroto yang terancam keselamatannya, malam hari ini juga, sebelum ia
terlambat! Demikianlah, menjelang tengah malam, tukang kuda
Sutejo ini melompat keluar
dari kamarnya dan sebentar saja ia sudah berlompatan di atas atap dengan
kecepatan luar biasa.
Malam itu masih terang bulan
dan kebetulan tidak ada mendung sehingga sinar bulan menerangi permukaan bumi.
Dengan pandang matanya yang tajam dan waspada, ketika melewati atap istana,
Tejolaksono dapat melihat berkelebatnya bayangan yang amat cepat menuju ke
taman sari, yaitu taman bunga yang amat luas dan indah dari istana Kadipaten
Blambangan. Hatinya berdebar keras. Bayangan seorang wanita yang bertubuh
langsing. Tidak salah dugaannya ketika ia melihat wajah bayangan itu. Siapa
lagi wanita yang dapat bergerak secepat itu kalau bukan Endang Patibroto! Dengan
girang sekali Tejolaksono lalu melompat turun dan mengikuti dari jauh. Hatinya
makin berdebar ketika ia melihat Endang Patibroto memasuki taman sari lalu
duduk di atas bangku di tengah taman sari itu, lalu termenung menghadapi kolam
ikan emas yang penuh dengan teratai putih. Sejenak Tejolaksono memandang tubuh
yang duduk termenung itu dengan hati terharu. Inilah Endang Patibroto, wanita
yang sejak kecil ia kenal, yang pernah menjadi musuhnya berkali-kali, lawan
terberat yang pernah ia jumpai. Endang Patibroto, puteri kandung bibi
Kartikosari dan ayah angkatnya, Pujo. Masih tunggal guru dengannya, ketika
keduanya di waktu kecil digembleng oleh Resi Bhargowo di Pulau Sempu. Telah
sepuluh tahun ia tidak pernah bertemu muka dengan Endang Patibroto yang semenjak
menjadi isteri Pangeran Panjirawit tak pernah meninggalkan istana suaminya.
Kini, secara aneh terlibat oleh peristiwa-peristiwa yang tak tersangka-sangka,
mereka kembali bertemu di Blambangan. Sungguh tidak dapat disangka lika-liku
hidup ini. Ia melangkah maju menghampiri dan memanggil lirih,
"Endang.........
!"
Tubuh yang duduk diam
seperti arca itu tiba-tiba bergerak melompat sambil memutar tubuh menghadapi
Tejolaksono, sepasang mata yang seperti bintang bercahaya dan suaranya penuh
teguran,
"Joko Wandiro, ternyata
benar engkau..... ...... !!!"
Tejolaksono terpesona
memandang Endang Patibroto masih tetap seperti dahulu, seakan-akan tidak
bertambah sepuluh tahun usianya. Masih tetap cantik jelita dan masih penuh
semangat, panas dan galak seperti dahulu. Mendengar suaranya ketika menyebut
nama kecilnya dengan nada marah, Tejolaksono mau tak mau tersenyum.
"Benar aku, Endang
Patibroto. Akan tetapi namaku sekarang Tejolaksono......."
"Tidak perduli Joko
Wandiro atau Tejolaksono, engkau tetap selalu memusuhiku! Engkau.........
pengecut rendah. Memang sudah kunanti-nanti kau.” Sambil berkata demikian,
Endang Patibroto sudah menerjang maju dengan cepat dan tangkas, mengirim
tamparan ke arah kepala Tejolaksono. Tangannya ketika berkelebat itu
mengeluarkan angin panas menyambar.
"Plakk I!" Endang
Patibroto menjadi miring kedudukan tubuhnya ketika lengannya bertemu dengan
tapak tangan Tejolaksono yang menangkisnya. Akan tetapi secepat kilat Endang
Patibroto sudah memukul lagi ke dada lawan. Tejolaksono melompat mundur sambil
beseru,
"Nanti dulu,
Endang......... engkau salah sangka……”
"Weerrrr.........
plakk!" Kembali Tejolaksono terpaksa menangkis karena tamparan yang
menyusul hantaman ke tiga tak dapat ia elakkan lagi, demikian cepat sekali
datangnya. Kembali keduanya terdorong ke belakang.
"Endang, dengarlah
keteranganku......... kau......... kau tertipu......... masuk
perangkap......... !" Adipati Tejolaksono kembali melejit ke kanan agak
jauh untuk menghindari tendangan kilat yang disusul hantaman Aji Wisangnala yang
ampuhnya menggiriskan.
"Engkau utusan Panjalu,
hayo menyangkallah kau manusia palsu!"
"Betul, memang sang
prabu di Panjalu yang mengutusku menyusul dan mencarimu, tapi semua pembunuhan
keji itu..... "
"Tak usah banyak cakap.
Aku sudah tahu semua! Aku tahu siasat Darmokusumo yang jahat. Aku tahu.........
! Aku tahu......... Semua kesalahan ditimpakan pada diriku. Dan kau datang
untuk menangkapku, menyeretku ke depan kaki Raja Panjalu dan Raja Jenggala yang
jahat!"
"Endang......... l”
"Cukup! Tak usah banyak
cerewet lagi. Kau sudah mencoba menangkapku malam itu, kemudian.........
kemudian mencoba meracuniku ......... aku tidak takut. Hayo majulah, kalau
tidak engkau yang menggeletak tewas di sini, tentu aku!"
Kembali Endang Patibroto
sudah menerjangnya dengan dahsyat sekali. Wanita ini teringat akan semua
peristiwa yang menimpa dirinya, teringat akan kematian suaminya dan kini
melihat Joko Wandiro yang hidupnya selalu lebih bahagia daripadanya, membuat ia
menumpahkan semua kebencian dan kemarahannya kepada musuh lama ini.
"Endang, dengar
dulu......... kau tertipu ……..!” Akan tetapi pada saat itu tampak banyak sekali
bayangan manusia berkelebat dan ternyata tempat itu sudah terkurung oleh
belasan orang senopati dan perwira yang dipimpin sendiri oleh Ki Patih
Kalanarmodo dan Sindupati.
"Tangkap
mata-mata.........” terdengar teriakan-teriakan di sekeliling tempat itu.
Tejolaksono terkejut sekali,
tidak menyangka bahwa ia akan menghadapi kepungan seperti ini. Ketika dua orang
senopati menerjang dari kiri ia menggerakkan kaki tangan dan......... dua orang
lawan itu roboh terjengkang!
"Wuuuttt.........
!!" Tejolaksono cepat membuang diri ke kiri karena pukulan Endang
Patibroto dari kanan itu dahsyat sekali datangnya.
"Endang, larilah. Mari
kau ikut aku, Endang.........sebelum terlarnbat. Marilah, nanti aku beri
penjelasan.........”
Namun Endang Patibroto tidak
memperdulikannya dan pada saat itu, Raden Sindupati, Mayangkurdo, Ki Patih
Kalanarmodo, Klabangkoro, Klabangmuko dan beberapa orang senopati yang lain
yang pilihan telah menerjang maju. Cepat Tejolaksono menggerakkan tubuhnya,
kaki tangannya menyambar dan sambil menangkis semua hantaman lawan, ia telah
berhasil merobohkan Klabangmuko dan Klabangkoro dengan tendangan berantai. Akan
tetapi, karena ia dihujani serangan, seperti juga senopati-senopati yang ia
robohkan tadi, Klabangkoro dan Klabangmuko tidak terluka parah dan dapat
bangkit kembali sambil meringis kesakitan.
"Ehh......... dia ini
si Sutejo tukang kuda ……..!" Terdengar seorang perwira berseru kaget dan
semua orang tercengang. Siapa kira bahwa penjahat yang dianggap maling haguna
(maling sakti) dan selama ini dicari-cari itu ternyata adalah si tukang kuda
yang baru! Orang dusun yang kelihatan bodoh, jujur, dan rajin bekerja! Kinipun
pakaiannya masih sederhana, namun setelah bergerak, bukan main hebatnya!
Melihat banyaknya
orang-orang yang mengeroyoknya, bukan orang-orang sembarangan pula, dan melihat
betapa taman itu terkepung oleh seratus orang lebih perajurit sehingga
merupakan pagar manusia yang tebal, Tejolaksono mulai khawatir. Ia masih sibuk
berkelebat ke sana ke mari menghadapi pengeroyokan para senopati yang kini
sudah menggunakan senjata, dan untuk yang penghabisan ia berseru,
"Endang.........
dengarlah kepadaku. Mari kita lari bersama......... masih ada waktu. Kalau kita
berdua menyerang, tikus-tikus busuk ini tak mungkin dapat menahan
kita.........!”
Akan tetapi
sebagai jawaban dari ajakan ini, Endang Patibroto kini malah mengeluarkan pekik
Sardulo Bairowo dan menghantam dengan Aji Wisangnala yang dilakukan dengan
pengerahan tenaga dahsyat sekali ke arah lambung Tejolaksono. Itulah pukulan
maut yang tak mungkin dapat ditahan, biar oleh seorang manusia sakti seperti
Adipati Tejolaksono sekali pun! Beberapa orang senopati yang terdekat sudah
roboh mendengar pekik tadi dan Tejolaksono terkejut bukan main. Dia sedang
menghadapi serbuan senjata yang banyak sekali, dan kini dari samping kanan
Endang Patibroto memukulnya ke arah lambung dengan pengerahan aji yang
sedemikian dahsyatnya! Tidak ada pilihan lain baginya, mengelak tidak keburu
lagi menangkis tentu kurang kuat dan tentu ia akan menjadi korban.
No comments:
Post a Comment