Perawan Lembah Wilis; Bagian 025


Endang Patibroto maklum bahwa senopati di depannya ini, di samping kesaktiannya, juga memiliki kecerdikan luar biasa, maka ia segera memandang penuh perhatian dan bertanya,
"Bagaimana siasatmu, kakang Sindupati?"
"Beginilah seharusnya diatur. Sudah jelas bahwa siapapun, adanya orang yang malam itu mendatangimu, dan mungkin sekali Adipati Tejolaksono melihat dari kesaktiannya dan aji pukulan Pethit Nogo seperti yang adinda katakan, kini berada dalam persembunyiannya dan masih berada dalam kota raja. Dan jelas pula bahwa dia tentu menanti saat yang baik untuk bertemu dengan engkau, karena kalau menghadapi pengeroyokan semua senopati dan pengawal, tentu dia tidak berani, betapapun juga hebat kepandaiannya. Oleh karena itu, tiada jalan lain kecuali memancingnya keluar dari tempat persembunyiannya dan satu-satunya orang yang dapat memancingnya keluar, adalah diajeng sendiri." Endang Patibroto mengangguk-angguk akan tetapi keningnya yang kecil panjang dan hitam seperti dilukis itu berkerut. Sebagai seorang yang mengutamakan kegagahan ia tidak suka akan segala macam siasat. Akan tetapi, iapun tahu bahwa ucapan ini mengandung kebenaran. Kalau tidak keliru dugaannya, tentu Joko Wandiro sedang menanti kesempatan untuk turun tangan terhadap dirinya, dan karena maklum bahwa dia merupakan lawan setanding dan berat, tentu saja Joko Wandiro berlaku hati-hati dan tidak sembrono. Memang benar kalau sampai dikeroyok, betapapun saktinya Joko Wandiro, tidak mungkin dapat menang. Kebenciannya terhadap Joko Wandiro sudah bertambah-tambah ketika terdapat bukti bahwa ia hendak diracun tadi, sungguhpun ia masih meragu apakah Joko Wandiro sudi melaksanakan hal semacam itu, hal yang amat pengecut dan rendah sedangkan ia tahu betul bahwa Joko Wandiro bukan seorang pengecut, apalagi berjiwa rendah!
"Bagaimana rencanamu untuk memancingnya, kakang Sindupati?"
"Malam ini juga sebaiknya diajeng keluar dari istana dan berada seorang diri di tempat yang sunyi. Untuk itu, menurut rencanaku, taman istana merupakan tempat yang amat baik. Kalau diajeng muncul pada malam hari di tempat sunyi seorang diri, aku merasa yakin bahwa penjahat itu tentu akan muncul. Aku akan mengepung tempat itu dan kalau dia muncul, kita maju menangkapnya. Orang ini harus ditangkap untuk diperiksa dan diketahui apa maksud datangannya di Blambangan. Gusti adipati
ingin sekali mengetahui, karena selain hendak mencelakai diajeng, siapa tahu dia adalah seorang mata-mata Jenggala atau Panjalu yang berbahaya."

Di dalam hatinya, Endang Patibroto kurang setuju. Akan tetapi ia tidak melihat cara lain untuk menghadapi Joko Wandiro. Ia sendiripun ingin melihat orang itu tertangkap, ingin melihat Joko Wandiro dikalahkan untuk memuaskan hatinya yang diracuni kebencian. Kalau Joko Wandiro memusuhinya dan menjadi utusan Pangeran Darmokusumo untuk membunuhnya, mengapa ia harus ragu-ragu untuk membantu Sindupati menangkap Joko Wandiro?
"Baiklah, malam nanti aku akan berada di dalam taman."
"Sebaiknya menjelang tengah malam jika semua penghuni istana sudah tidur, agar jangan meragukan hati penjahat itu diajeng.”
Endang Patibroto setuju dan berundinglah mereka berdua untuk menghadapi dan menangkap Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono seperti yang diduga penuh keyakinan oleh wanita sakti ini. Dengan hati girang Raden Sindupati lalu meninggalkan tempat itu untuk melakukan persiapan. Ia menghubungi para senopati yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga Ki Patih Kalanarmodo dan Mayangkurdo, kemudian mempersiapkan pula seratus orang prajurit pilihan termasuk dua lusin barisan anak panah yang mengepung taman sari dengan busur dan anak panah siap di tangan masing-masing. Malam hari itu, Adipati Tejolaksono atau yang kini berganti nama menjadi Sutejo tukang kuda, rebah di atas setumpukan jerami kering di dalam kamar di dekat kandang kuda. Hatinya gelisah sekali dan berkali-kali ia menghela napas panjang. Sudah beberapa pekan ia bekerja di situ sebagai tukang kuda, namun belum juga ia berhasil bertemu empat mata dengan Endang Patibroto. Ia tidak berani lagi secara sembrono mendatangi tempat Endang Patibroto setelah malam itu hampir saja ia tertangkap. Kalau sampai ia dikenal orang, tentu keadaan wanita itu akan menjadi terancam keselamatannya. Ah, dia sudah meninggalkan tanda tapak jari Aji Pethit Nogo, tidak mungkin Endang Patibroto tidak mengenalnya! Mengapa Endang Patibroto tidak mencarinya, bahkan para senopati dan pengawal yang berkeliaran mencari? Penjagaan makin diperketat sehingga ia tidak berani sembrono memperlihatkan diri, lebih tekun bekerja menyembunyikan diri di balik penyamarannya sebagai tukang kuda. Ia sudah mendengar percakapan para perwira yang seringkali datang jika membutuhkan kuda tunggangan mereka tentang keadaan Endang Patibroto, malah ia mendengar pula bahwa Raden Sindupati, senopati yang menjadi tokoh penting dan dipercaya sang adipati, agaknya jatuh cinta kepada Endang Patibroto! Ia mendengar pula percakapan para perwira tentang watak Raden Sindupati yang tak pernah mau melewatkan begitu saja wanita denok! Semua ini tidak menggelisahkan hati Tejolaksono. Yang membuat ia terkejut sekali adalah ketika siang hari tadi ia mendengar bahwa Endang Patibroto nyaris menjadi korban peracunan dalam santapan paginya. Ia harus cepat-cepat menemui Endang Patibroto yang terancam keselamatannya, malam hari ini juga, sebelum ia terlambat! Demikianlah, menjelang tengah malam, tukang kuda
Sutejo ini melompat keluar dari kamarnya dan sebentar saja ia sudah berlompatan di atas atap dengan kecepatan luar biasa.

Malam itu masih terang bulan dan kebetulan tidak ada mendung sehingga sinar bulan menerangi permukaan bumi. Dengan pandang matanya yang tajam dan waspada, ketika melewati atap istana, Tejolaksono dapat melihat berkelebatnya bayangan yang amat cepat menuju ke taman sari, yaitu taman bunga yang amat luas dan indah dari istana Kadipaten Blambangan. Hatinya berdebar keras. Bayangan seorang wanita yang bertubuh langsing. Tidak salah dugaannya ketika ia melihat wajah bayangan itu. Siapa lagi wanita yang dapat bergerak secepat itu kalau bukan Endang Patibroto! Dengan girang sekali Tejolaksono lalu melompat turun dan mengikuti dari jauh. Hatinya makin berdebar ketika ia melihat Endang Patibroto memasuki taman sari lalu duduk di atas bangku di tengah taman sari itu, lalu termenung menghadapi kolam ikan emas yang penuh dengan teratai putih. Sejenak Tejolaksono memandang tubuh yang duduk termenung itu dengan hati terharu. Inilah Endang Patibroto, wanita yang sejak kecil ia kenal, yang pernah menjadi musuhnya berkali-kali, lawan terberat yang pernah ia jumpai. Endang Patibroto, puteri kandung bibi Kartikosari dan ayah angkatnya, Pujo. Masih tunggal guru dengannya, ketika keduanya di waktu kecil digembleng oleh Resi Bhargowo di Pulau Sempu. Telah sepuluh tahun ia tidak pernah bertemu muka dengan Endang Patibroto yang semenjak menjadi isteri Pangeran Panjirawit tak pernah meninggalkan istana suaminya. Kini, secara aneh terlibat oleh peristiwa-peristiwa yang tak tersangka-sangka, mereka kembali bertemu di Blambangan. Sungguh tidak dapat disangka lika-liku hidup ini. Ia melangkah maju menghampiri dan memanggil lirih,
"Endang......... !"
Tubuh yang duduk diam seperti arca itu tiba-tiba bergerak melompat sambil memutar tubuh menghadapi Tejolaksono, sepasang mata yang seperti bintang bercahaya dan suaranya penuh teguran,
"Joko Wandiro, ternyata benar engkau..... ...... !!!"
Tejolaksono terpesona memandang Endang Patibroto masih tetap seperti dahulu, seakan-akan tidak bertambah sepuluh tahun usianya. Masih tetap cantik jelita dan masih penuh semangat, panas dan galak seperti dahulu. Mendengar suaranya ketika menyebut nama kecilnya dengan nada marah, Tejolaksono mau tak mau tersenyum.
"Benar aku, Endang Patibroto. Akan tetapi namaku sekarang Tejolaksono......."
"Tidak perduli Joko Wandiro atau Tejolaksono, engkau tetap selalu memusuhiku! Engkau......... pengecut rendah. Memang sudah kunanti-nanti kau.” Sambil berkata demikian, Endang Patibroto sudah menerjang maju dengan cepat dan tangkas, mengirim tamparan ke arah kepala Tejolaksono. Tangannya ketika berkelebat itu mengeluarkan angin panas menyambar.
"Plakk I!" Endang Patibroto menjadi miring kedudukan tubuhnya ketika lengannya bertemu dengan tapak tangan Tejolaksono yang menangkisnya. Akan tetapi secepat kilat Endang Patibroto sudah memukul lagi ke dada lawan. Tejolaksono melompat mundur sambil beseru,
"Nanti dulu, Endang......... engkau salah sangka……”
"Weerrrr......... plakk!" Kembali Tejolaksono terpaksa menangkis karena tamparan yang menyusul hantaman ke tiga tak dapat ia elakkan lagi, demikian cepat sekali datangnya. Kembali keduanya terdorong ke belakang.
"Endang, dengarlah keteranganku......... kau......... kau tertipu......... masuk perangkap......... !" Adipati Tejolaksono kembali melejit ke kanan agak jauh untuk menghindari tendangan kilat yang disusul hantaman Aji Wisangnala yang ampuhnya menggiriskan.
"Engkau utusan Panjalu, hayo menyangkallah kau manusia palsu!"
"Betul, memang sang prabu di Panjalu yang mengutusku menyusul dan mencarimu, tapi semua pembunuhan keji itu..... "
"Tak usah banyak cakap. Aku sudah tahu semua! Aku tahu siasat Darmokusumo yang jahat. Aku tahu......... ! Aku tahu......... Semua kesalahan ditimpakan pada diriku. Dan kau datang untuk menangkapku, menyeretku ke depan kaki Raja Panjalu dan Raja Jenggala yang jahat!"
"Endang......... l”
"Cukup! Tak usah banyak cerewet lagi. Kau sudah mencoba menangkapku malam itu, kemudian......... kemudian mencoba meracuniku ......... aku tidak takut. Hayo majulah, kalau tidak engkau yang menggeletak tewas di sini, tentu aku!"
Kembali Endang Patibroto sudah menerjangnya dengan dahsyat sekali. Wanita ini teringat akan semua peristiwa yang menimpa dirinya, teringat akan kematian suaminya dan kini melihat Joko Wandiro yang hidupnya selalu lebih bahagia daripadanya, membuat ia menumpahkan semua kebencian dan kemarahannya kepada musuh lama ini.
"Endang, dengar dulu......... kau tertipu ……..!” Akan tetapi pada saat itu tampak banyak sekali bayangan manusia berkelebat dan ternyata tempat itu sudah terkurung oleh belasan orang senopati dan perwira yang dipimpin sendiri oleh Ki Patih Kalanarmodo dan Sindupati.
"Tangkap mata-mata.........” terdengar teriakan-teriakan di sekeliling tempat itu.
Tejolaksono terkejut sekali, tidak menyangka bahwa ia akan menghadapi kepungan seperti ini. Ketika dua orang senopati menerjang dari kiri ia menggerakkan kaki tangan dan......... dua orang lawan itu roboh terjengkang!
"Wuuuttt......... !!" Tejolaksono cepat membuang diri ke kiri karena pukulan Endang Patibroto dari kanan itu dahsyat sekali datangnya.
"Endang, larilah. Mari kau ikut aku, Endang.........sebelum terlarnbat. Marilah, nanti aku beri penjelasan.........”
Namun Endang Patibroto tidak memperdulikannya dan pada saat itu, Raden Sindupati, Mayangkurdo, Ki Patih Kalanarmodo, Klabangkoro, Klabangmuko dan beberapa orang senopati yang lain yang pilihan telah menerjang maju. Cepat Tejolaksono menggerakkan tubuhnya, kaki tangannya menyambar dan sambil menangkis semua hantaman lawan, ia telah berhasil merobohkan Klabangmuko dan Klabangkoro dengan tendangan berantai. Akan tetapi, karena ia dihujani serangan, seperti juga senopati-senopati yang ia robohkan tadi, Klabangkoro dan Klabangmuko tidak terluka parah dan dapat bangkit kembali sambil meringis kesakitan.
"Ehh......... dia ini si Sutejo tukang kuda ……..!" Terdengar seorang perwira berseru kaget dan semua orang tercengang. Siapa kira bahwa penjahat yang dianggap maling haguna (maling sakti) dan selama ini dicari-cari itu ternyata adalah si tukang kuda yang baru! Orang dusun yang kelihatan bodoh, jujur, dan rajin bekerja! Kinipun pakaiannya masih sederhana, namun setelah bergerak, bukan main hebatnya!

Melihat banyaknya orang-orang yang mengeroyoknya, bukan orang-orang sembarangan pula, dan melihat betapa taman itu terkepung oleh seratus orang lebih perajurit sehingga merupakan pagar manusia yang tebal, Tejolaksono mulai khawatir. Ia masih sibuk berkelebat ke sana ke mari menghadapi pengeroyokan para senopati yang kini sudah menggunakan senjata, dan untuk yang penghabisan ia berseru,
"Endang......... dengarlah kepadaku. Mari kita lari bersama......... masih ada waktu. Kalau kita berdua menyerang, tikus-tikus busuk ini tak mungkin dapat menahan kita.........!”
Akan tetapi sebagai jawaban dari ajakan ini, Endang Patibroto kini malah mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo dan menghantam dengan Aji Wisangnala yang dilakukan dengan pengerahan tenaga dahsyat sekali ke arah lambung Tejolaksono. Itulah pukulan maut yang tak mungkin dapat ditahan, biar oleh seorang manusia sakti seperti Adipati Tejolaksono sekali pun! Beberapa orang senopati yang terdekat sudah roboh mendengar pekik tadi dan Tejolaksono terkejut bukan main. Dia sedang menghadapi serbuan senjata yang banyak sekali, dan kini dari samping kanan Endang Patibroto memukulnya ke arah lambung dengan pengerahan aji yang sedemikian dahsyatnya! Tidak ada pilihan lain baginya, mengelak tidak keburu lagi menangkis tentu kurang kuat dan tentu ia akan menjadi korban.

<<< Bagian 024                                                                                    Bagian 026 >>>

No comments:

Post a Comment