Bukan dia yang dicinta Joko Wandiro, melainkan Ayu Candra! Maka timbullah bencinya yang hebat terhadap dua orang itu, benci yang tanpa ia sadari sendiri didasari oleh cinta kasih yang dikecewakan, oleh cemburu dan iri hati! Sampai akhirnya datang obat penawar yang sangat manjur, yaitu limpahan cinta kasih Pangeran Panjirawit yang akhirnya dapat menyembuhkan sakit hatinya.......... Kini......... suami tercinta telah meninggal dunia. Dan......... tanpa disangka-sangkanya, muncul pula Joko Wandiro dalam hidupnya, muncul sebagai Adipati Tejolaksono, sebagai utusan musuh besarnya, Pangeran Darmokusumo yang datang dengan niat jahat, menangkap atau membunuhnya! Ia mengerutkan kening, jantungnya seperti ditusuk oleh duka, kecewa dan dendam, lalu terhuyung memasuki kamarnya di mana ia membanting diri di atas kasur, menangis sampai ia tertidur pulas dengan bantal basah air mata.
Biarpun sepekan lamanya
Raden Sindupati mengerahkan semua pasukan untuk mencari Adipati Tejdaksono,
namun hasilnya sia-sia belaka. Orang yang dicari-carinya itu masih enak-enak
bekerja sebagai tukang kuda yang rajin dan menyenangkan para perwira. Namun
Endang Patibroto tidak memperdulikan hal itu. Ia tidak perduli apakah penyerbu
itu tertangkap atau tidak, tidak perduli siapa penyerbu itu, benar Joko Wandiro
seperti yang disangkanya ataukah bukan. Ia sudah dapat mengatasi kedukaan
hatinya yang amat hebat di malam munculnya penyerbu itu, dan kini ia melakukan
tugasnya kembali seperti biasa, melatih pasukan karena cita-citanya hanyalah
untuk dapat menyerbu Jenggala, membalas dendam kematian suaminya. Raden
Sindupati setiap hari sedikitnya satu kali tentu datang menjenguknya untuk
memberi laporan tentang usaha mencari penjahat itu, dan dalam kesempatan ini
selalu senopati muda itu memperlihatkan sikap manis, ramah tamah, menghiburnya
dan tak lupa membawa apa saja untuk menyenangkan hatinya. Buah-buahan yang
sukar didapat di Blambangan, sutera-sutera tenun yang indah, perhiasan emas
permata. Pendeknya, makin jelas tampak sikap Raden Sindupati yang mencintanya,
sungguhpun belum pernah menyatakan perasaan hatinya melalui mulut. Endang
Patibroto tak dapat mengelak, tak dapat menolak semua pemberian tanda cinta
itu, karena ia tidak mau menyakitkan hati satu-satunya orang yang pada saat itu
dianggapnya sebagai seorang sahabat baik. tetapi ia sudah mengambil keputusan
untuk dengan halus menolak apabila Sindupati menyatakan cinta kasihnya dengan
kata-kata. Dan agaknya, saatnya tentu akan tiba sewaktu-waktu, melihat sikap
yang makin mendesak itu.
Pada pagi hari itu, seperti
biasa setelah bangun pagi-pagi, Endang Patibroto mandi lalu berganti pakaian,
merias diri secara sederhana dan sudah siap untuk melakukan tugasnya setiap
hari. Pada hari itu ia akan mulai dengan melatih barisan anak panah kepada
pasukan istimewa yang digemblengnya. Dan sebelum berangkat ke alun-alun, lebih
dulu ia duduk menghadapi meja di ruangan depan untuk sekedar mengisi perut
dengan sarapan pagi yang disediakan oleh seorang pelayan. Endang Patibroto yang
tidak mencurigai sesuatu, tidak tahu bahwa sejak sebelum ia bangun dari tidur
tadi, sepasang mata telah mengawasi setiap gerak-geriknya. Sepasang mata Raden
Sindupati. Kini, pada saat ia menghadapi meja untuk minum kopi dan makan ketan
kelapa yang disediakan. Raden Sindupati juga sudah menyelinap ke depan dan
bersembunyi. Endang Patibroto hendak mulai sarapan pagi dengan menghirup kopi
panes. Akan tetapi baru saja cangkirnya menempel bibir, tiba-tiba terdengar
suara nyaring,
"Diajeng, jangan
diminum itu.........”
Endang Patibroto menoleh dan
melihat Sindupati sudah ada di belakangnya. Wajah yang tampan dan biasanya
tersenyum-senyum kepadanya itu kini tampak gelisah dan bersungguh-sungguh,
bahkan wajahnya agak pucat. Endang Patibroto meletakkan kembali cangkir kopinya
yang belum ia minum isinya, ke atas meja.
"Ada apakah, kakang
Sindupati?" Sudah beberapa hari ini, atas permintaan Sindupati yang
berkali-kali, ia menyebut kakang kepada senopati ini.
"Engkau belum makan
ketan itu dan belum minum kopi itu, bukan?"
Endang Patibroto menggeleng
kepala.
"Belum.
Mengapakah?"
"Coba diajeng panggil
pelayan yang menyediakan makan minum ini dan diajeng akan menyakslkan
sendiri," jawab Raden Sindupati, mukanya masih pucat.
Endang Patibroto bertepuk
tangan. Seorang pelayan muncul dan pelayan ini disuruh memanggil pelayan yang
menyediakan sarapan pagi. Tak lama kemudian muncullah seorang pelayan, wanita
yang setengah tua.
"Kaukah yang
menyediakan sarapan pagi untuk diajeng Endang Patibroto?" Sindupati
bertanya, suaranya keren.
"Betul seperti apa yang
paduka katakan, raden. Memang tugas hamba untuk menyediakan semua makanan dan
minuman gusti puteri.........”
"Bibi, kalau begitu,
coba kau makan ketan itu dan minum kopinya!" kata pula Sindupati sambil
menudingkan telunjuknya ke atas meja di mana terdapat sepiring kecil ketan
kelapa dan secangkir kopi hitam.
"Tapi.........
tapi......... " Wanita pelayan itu terbelalak memandang. Tentu saja la
terheran dan tidak berani melakukan hal ini. Sarapan itu adalah persediaan
untuk sang puteri, bagaimana ia berani minum dan memakannya? Juga beberapa
orang pelayan yang tertarik oleh ribut-ribut dan berada di situ, terbelalak
memandang heran.
"Tidak ada tapi! Hayo
lekas makan dan minum ketan dan kopi itu atau......... kujejalkan nanti ke
mulutmu!" bentak Raden Sindupati sehingga Endang Patibroto sendiri
memandang heran. Tidak biasanya senopati muda ini bersikap demikian galak dan
kasar. Akan tetapi karena ia menyangka tentu ada terjadi sesuatu, ia lalu
berkata kepada pelayannya,
"Bibi, kalau memang
engkau tidak mempunyai kesalahan dalam menghidangkan makanan dan minuman ini,
mengapa kau tidak mau makan dan minum? Kau cobalah dan jangan takut, aku tidak
akan marah."
Karena sang puteri yang
dilayaninya sudah memberi ijin, terpaksa, dengan muka pucat, pelayan wanita itu
tidak membantah lagi. Jari-jari tangannya gemeter ketika ia mengambil piring
ketan dan memakan isinya sampai setengahnya. Kemudian iapun minum kopi itu
sampai setengah cangkir. Tidak terjadi apa-apa!
"Kakang
Sindupati......... " Endang Patibroto hendak menegur senopati itu akan
tetapi menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, si wanita pelayan
menjerit dan roboh terguling mencengkeram perutnya sendiri, merintih-rintih
kemudian berkelojotan dan tewas. Endang Patibroto cepat menyambar piring ketan,
mengambil ketan sedikit dan memasukkan ke mulut. Begitu lidahnya merasai ketan
itu, cepat dibuang dan diludahkannya kembali. Dermikian pula ia mencicipi kopi
yang cepat ia ludahkan keluar. Sikapnya tenang-tenang saja dan ia tidak tahu
betapa Sindupati memandangnya dengan kagum dan khawatir. Kemudian ia
membalikkan tubuhnya memandang senopati itu,
"Kakang Sindupati,
ketan dan kopi mengandung racun. Bagaimana kau bisa tahu?"
Di dalam hatinya, Sindupati
tersenyum girang. Untung ia berlaku cerdik, pikirnya. Tadinya, Sang Adipati
Menak Linggo yang mengusulkan rencana untuk membunuh Endang Patibroto dengan
jalan meracunnya, mencampurkan racun dalam makanan dan minumannya.
"Wanita itu terlalu
sakti, terlalu berbahaya," demikian antara lain sang adipati berkata,
"biarpun sekarang kelihatan
bersekutu dengan kita, akan tetapi sekali rahasia kita terbongkar, ia merupakan
ancaman bahaya yang tak boleh dipandang ringan. Aku menghendaki agar dia mati,
biar dengan cara apapun juga. Dan kaulah orangnya yang kuserahi tugas untuk
membunuhnya, SindupatiI"
Untung bahwa Sindupati
memiliki kecerdikan yang luar biasa dan ia membeberkan rencananya kepada sang
adipati.
"Hamba yakin bahwa
seorang sakti seperti Endang Patibroto, tidaklah mudah diracun begitu saja,
gusti adipati. Mencampurkan racun ke dalam makanan dan minumannya adalah amat
berbahaya karena selain belum tentu ia akan dapat diracuni karena memiliki daya
tahan dan daya penolak untuk itu, kalau ketahuan bukankah akan menggagalkan
semua rencana? Hamba mempunyai siasat
yang lebih halus lagi."
Ia lalu menuturkan siasatnya
dan sang adipati menyetujuinya. Dan apa yang terjadi pada pagi hari ini adalah
hasil daripada siasatnya yang amat licik. Ia diam- diam, tanpa setahu si
pelayan, menaruh racun ke dalam ketan dan kopi, kemudian dia pula yang datang
memberi peringatan kepada Endang Patibroto, bahkan secara kejam sekali ia
memaksa si pelayan yang sebetulnya tidak tahu apa-apa itu untuk makan dan minum
sarapan pagi yang sudah ia campuri racun sampai tewas! Ketika melihat Endang
Patibroto dapat mengenal racun hanya dengan mencicipi sedikit ketan dan kopi
itu, terbuktilah kebenaran dugaannya. Andaikata tidak ia peringatkan sekalipun,
Endang Patibroto akan tahu tentang racun dan tidak akan menjadi korban, bahkan
akan menjadi curiga! Kini, dengan mengorbankan nyawa si pelayan, ia dapat
menangkan kepercayaan Endang Patibroto bahkan tampaklah ia sebagai seorang yang
baik dan setia kawan, membuat ia makin menonjol dalam pandangan wanita sakti
ini! Ketika ditanya oleh Endang Patibroto bagaimana ia bisa tahu bahwa sarapan
itu ada racunnya, ia sudah menyediakan jawabannya seperti yang ia rencanakan.
“Ah ….. syukur bahwa para
dewata masih melindungimu, diajeng," demikian jawabnya setelah ia
memerintahkan para pengawal untuk membawa pergi mayat si pelayan dan di situ
tidak terdapat orang lain lagi.
"Alangkah ngerinya!
Kalau sampai diajeng menjadi korban racun......... aaahhh......... betapa
mungkin aku dapat hidup lebih lama lagi......... !" Wajahnya pucat,
suaranya menggetar dan ia melangkah maju, seperti hendak meraih dan memeluk
karena hatinya terharu dan tegang. Akan tetapi Endang Patibroto melangkah
mundur dan berkata,
"Bahaya telah lewat,
kakang Sindupati. Sungguh untung bahwa kakang telah tahu dan dapat
memperingatkan aku, sungguhpun belum tentu aku akan dapat diracun begitu saja.
Duduklah dan ceritakan, bagaimana engkau bisa mengetahui akan perbuatan keji
itu!"
Melihat wanita itu tidak
melayani hasratnya, Sindupati tidak memaksa dan segera mengambil tempat duduk.
Berkali-kali ia menarik napas panjang dan kedua tangannya yang ditaruh di atas
meja masih gemetar. Sesungguhnya bukan gemetar karena kekhawatirannya terhadap
Endang Patibroto, melainkan gemetar karena girang melihat berhasilnya siasatnya
dan karena nafsu berahi yang menggelora!
"Diajeng Endang Patibroto,
jantungku masih berdebar seakan-akan hendak pecah kalau kuingat betapa
keselamatan adinda terancam maut yang mengerikan tadi! Ketahuilah, bahwa
biarpun kami tidak berhasil menangkap si penjahat Tejolaksono atau siapapun dia
yang menyerbu kamar adinda, akan tetapi aku diam-diam selalu menaruh penyelidik
dan mata-mata di sekitar istana untuk mengawasi gerak-gerik yang mencurigakan.
Semalam, demikian menurut penyelidikku, terlihat pelayan laknat itu mengadakan
pertemuan dengan seorang yang tak dikenal di taman. Ketika para penyelidik
hendak menyergap, orang itu berkelebat lenyap cepat sekali. Para penyelidik
segera melapor kepadaku dan aku menjadi curiga kepada pelayan itu. Semalam aku
tidak tidur memikirkan segala kemungkinan dan akhirnya aku teringat bahwa
pelayan yang bertugas melayani makan minummu itu tentu hendak melakukan sesuatu
atas perintah musuh keparat itu. Aku menghubungkan segala sesuatu dan mengambil
kesimpulan bahwa mungkin si jahat itu hendak meracunimu. Cepat-cepat aku lalu
berlari ke sini dan syukur bahwa kau belum makan atau minum sarapanmu!"
Kembali ia menggigil. Endang
Patibroto tersenyum. Terharu juga hatinya. Senopati muda ini benar-benar amat
memikirkan
keselamatannya sehingga
menyiksa diri sendiri sedemikian rupa. Karena terharu dan berterima kasih, ia
mengulurkan tangan dan menyentuh tangan senopati itu di atas meja.
"Terima kasih, kakang
Sindupati. Engkau memang baik sekali terhadap diriku."
Sindupati cepat memegang
tangan yang halus itu dan meremas jari-jari tangan Endang Patibroto.
"Diajeng ......
aku......... aku menyediakan nyawaku untukmu dan….”
Endang Patibroto menarik
tangannya terlepas dari genggaman Sindupati.
"Kakang
Sindupati," katanya cepat-cepat memotong kalimat yang diucapkan senopati
itu,
"sungguh amat
disayangkan bahwa kakang terburu nafsu tadi. Kalau saja pelayan itu tidak
dibunuh dan kini masih hidup, tentu kita dapat memaksanya mengaku siapa
orangnya yang menyuruh dia menaruh racun dalam sarapanku."
Wajah yang tampan itu
kelihatan marah sekali, matanya bersinar-sinar.
"Siapa dapat menahan
kemarahan, diajeng? Melihat dia hendak meracunimu! Aku sudah cukup bersabar.
Kalau tidak melihat dia seorang wanita tua, sudah kuhancurkan kepalanya tadi!
Akan tetapi jangan khawatir, diajeng, aku sudah mempunyai siasat yang baik
sekali, yang dapat memastikan keluarnya penjahat itu!"
No comments:
Post a Comment