Perawan Lembah Wilis; Bagian 024


Bukan dia yang dicinta Joko Wandiro, melainkan Ayu Candra! Maka timbullah bencinya yang hebat terhadap dua orang itu, benci yang tanpa ia sadari sendiri didasari oleh cinta kasih yang dikecewakan, oleh cemburu dan iri hati! Sampai akhirnya datang obat penawar yang sangat manjur, yaitu limpahan cinta kasih Pangeran Panjirawit yang akhirnya dapat menyembuhkan sakit hatinya.......... Kini......... suami tercinta telah meninggal dunia. Dan......... tanpa disangka-sangkanya, muncul pula Joko Wandiro dalam hidupnya, muncul sebagai Adipati Tejolaksono, sebagai utusan musuh besarnya, Pangeran Darmokusumo yang datang dengan niat jahat, menangkap atau membunuhnya! Ia mengerutkan kening, jantungnya seperti ditusuk oleh duka, kecewa dan dendam, lalu terhuyung memasuki kamarnya di mana ia membanting diri di atas kasur, menangis sampai ia tertidur pulas dengan bantal basah air mata.

Biarpun sepekan lamanya Raden Sindupati mengerahkan semua pasukan untuk mencari Adipati Tejdaksono, namun hasilnya sia-sia belaka. Orang yang dicari-carinya itu masih enak-enak bekerja sebagai tukang kuda yang rajin dan menyenangkan para perwira. Namun Endang Patibroto tidak memperdulikan hal itu. Ia tidak perduli apakah penyerbu itu tertangkap atau tidak, tidak perduli siapa penyerbu itu, benar Joko Wandiro seperti yang disangkanya ataukah bukan. Ia sudah dapat mengatasi kedukaan hatinya yang amat hebat di malam munculnya penyerbu itu, dan kini ia melakukan tugasnya kembali seperti biasa, melatih pasukan karena cita-citanya hanyalah untuk dapat menyerbu Jenggala, membalas dendam kematian suaminya. Raden Sindupati setiap hari sedikitnya satu kali tentu datang menjenguknya untuk memberi laporan tentang usaha mencari penjahat itu, dan dalam kesempatan ini selalu senopati muda itu memperlihatkan sikap manis, ramah tamah, menghiburnya dan tak lupa membawa apa saja untuk menyenangkan hatinya. Buah-buahan yang sukar didapat di Blambangan, sutera-sutera tenun yang indah, perhiasan emas permata. Pendeknya, makin jelas tampak sikap Raden Sindupati yang mencintanya, sungguhpun belum pernah menyatakan perasaan hatinya melalui mulut. Endang Patibroto tak dapat mengelak, tak dapat menolak semua pemberian tanda cinta itu, karena ia tidak mau menyakitkan hati satu-satunya orang yang pada saat itu dianggapnya sebagai seorang sahabat baik. tetapi ia sudah mengambil keputusan untuk dengan halus menolak apabila Sindupati menyatakan cinta kasihnya dengan kata-kata. Dan agaknya, saatnya tentu akan tiba sewaktu-waktu, melihat sikap yang makin mendesak itu.

Pada pagi hari itu, seperti biasa setelah bangun pagi-pagi, Endang Patibroto mandi lalu berganti pakaian, merias diri secara sederhana dan sudah siap untuk melakukan tugasnya setiap hari. Pada hari itu ia akan mulai dengan melatih barisan anak panah kepada pasukan istimewa yang digemblengnya. Dan sebelum berangkat ke alun-alun, lebih dulu ia duduk menghadapi meja di ruangan depan untuk sekedar mengisi perut dengan sarapan pagi yang disediakan oleh seorang pelayan. Endang Patibroto yang tidak mencurigai sesuatu, tidak tahu bahwa sejak sebelum ia bangun dari tidur tadi, sepasang mata telah mengawasi setiap gerak-geriknya. Sepasang mata Raden Sindupati. Kini, pada saat ia menghadapi meja untuk minum kopi dan makan ketan kelapa yang disediakan. Raden Sindupati juga sudah menyelinap ke depan dan bersembunyi. Endang Patibroto hendak mulai sarapan pagi dengan menghirup kopi panes. Akan tetapi baru saja cangkirnya menempel bibir, tiba-tiba terdengar suara nyaring,
"Diajeng, jangan diminum itu.........”
Endang Patibroto menoleh dan melihat Sindupati sudah ada di belakangnya. Wajah yang tampan dan biasanya tersenyum-senyum kepadanya itu kini tampak gelisah dan bersungguh-sungguh, bahkan wajahnya agak pucat. Endang Patibroto meletakkan kembali cangkir kopinya yang belum ia minum isinya, ke atas meja.
"Ada apakah, kakang Sindupati?" Sudah beberapa hari ini, atas permintaan Sindupati yang berkali-kali, ia menyebut kakang kepada senopati ini.
"Engkau belum makan ketan itu dan belum minum kopi itu, bukan?"
Endang Patibroto menggeleng kepala.
"Belum. Mengapakah?"
"Coba diajeng panggil pelayan yang menyediakan makan minum ini dan diajeng akan menyakslkan sendiri," jawab Raden Sindupati, mukanya masih pucat.
Endang Patibroto bertepuk tangan. Seorang pelayan muncul dan pelayan ini disuruh memanggil pelayan yang menyediakan sarapan pagi. Tak lama kemudian muncullah seorang pelayan, wanita yang setengah tua.
"Kaukah yang menyediakan sarapan pagi untuk diajeng Endang Patibroto?" Sindupati bertanya, suaranya keren.
"Betul seperti apa yang paduka katakan, raden. Memang tugas hamba untuk menyediakan semua makanan dan minuman gusti puteri.........”
"Bibi, kalau begitu, coba kau makan ketan itu dan minum kopinya!" kata pula Sindupati sambil menudingkan telunjuknya ke atas meja di mana terdapat sepiring kecil ketan kelapa dan secangkir kopi hitam.
"Tapi......... tapi......... " Wanita pelayan itu terbelalak memandang. Tentu saja la terheran dan tidak berani melakukan hal ini. Sarapan itu adalah persediaan untuk sang puteri, bagaimana ia berani minum dan memakannya? Juga beberapa orang pelayan yang tertarik oleh ribut-ribut dan berada di situ, terbelalak memandang heran.
"Tidak ada tapi! Hayo lekas makan dan minum ketan dan kopi itu atau......... kujejalkan nanti ke mulutmu!" bentak Raden Sindupati sehingga Endang Patibroto sendiri memandang heran. Tidak biasanya senopati muda ini bersikap demikian galak dan kasar. Akan tetapi karena ia menyangka tentu ada terjadi sesuatu, ia lalu berkata kepada pelayannya,
"Bibi, kalau memang engkau tidak mempunyai kesalahan dalam menghidangkan makanan dan minuman ini, mengapa kau tidak mau makan dan minum? Kau cobalah dan jangan takut, aku tidak akan marah."

Karena sang puteri yang dilayaninya sudah memberi ijin, terpaksa, dengan muka pucat, pelayan wanita itu tidak membantah lagi. Jari-jari tangannya gemeter ketika ia mengambil piring ketan dan memakan isinya sampai setengahnya. Kemudian iapun minum kopi itu sampai setengah cangkir. Tidak terjadi apa-apa!
"Kakang Sindupati......... " Endang Patibroto hendak menegur senopati itu akan tetapi menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, si wanita pelayan menjerit dan roboh terguling mencengkeram perutnya sendiri, merintih-rintih kemudian berkelojotan dan tewas. Endang Patibroto cepat menyambar piring ketan, mengambil ketan sedikit dan memasukkan ke mulut. Begitu lidahnya merasai ketan itu, cepat dibuang dan diludahkannya kembali. Dermikian pula ia mencicipi kopi yang cepat ia ludahkan keluar. Sikapnya tenang-tenang saja dan ia tidak tahu betapa Sindupati memandangnya dengan kagum dan khawatir. Kemudian ia membalikkan tubuhnya memandang senopati itu,
"Kakang Sindupati, ketan dan kopi mengandung racun. Bagaimana kau bisa tahu?"
Di dalam hatinya, Sindupati tersenyum girang. Untung ia berlaku cerdik, pikirnya. Tadinya, Sang Adipati Menak Linggo yang mengusulkan rencana untuk membunuh Endang Patibroto dengan jalan meracunnya, mencampurkan racun dalam makanan dan minumannya.
"Wanita itu terlalu sakti, terlalu berbahaya," demikian antara lain sang adipati berkata,
"biarpun sekarang kelihatan bersekutu dengan kita, akan tetapi sekali rahasia kita terbongkar, ia merupakan ancaman bahaya yang tak boleh dipandang ringan. Aku menghendaki agar dia mati, biar dengan cara apapun juga. Dan kaulah orangnya yang kuserahi tugas untuk membunuhnya, SindupatiI"
Untung bahwa Sindupati memiliki kecerdikan yang luar biasa dan ia membeberkan rencananya kepada sang adipati.
"Hamba yakin bahwa seorang sakti seperti Endang Patibroto, tidaklah mudah diracun begitu saja, gusti adipati. Mencampurkan racun ke dalam makanan dan minumannya adalah amat berbahaya karena selain belum tentu ia akan dapat diracuni karena memiliki daya tahan dan daya penolak untuk itu, kalau ketahuan bukankah akan menggagalkan semua rencana? Hamba mempunyai siasat
yang lebih halus lagi."

Ia lalu menuturkan siasatnya dan sang adipati menyetujuinya. Dan apa yang terjadi pada pagi hari ini adalah hasil daripada siasatnya yang amat licik. Ia diam- diam, tanpa setahu si pelayan, menaruh racun ke dalam ketan dan kopi, kemudian dia pula yang datang memberi peringatan kepada Endang Patibroto, bahkan secara kejam sekali ia memaksa si pelayan yang sebetulnya tidak tahu apa-apa itu untuk makan dan minum sarapan pagi yang sudah ia campuri racun sampai tewas! Ketika melihat Endang Patibroto dapat mengenal racun hanya dengan mencicipi sedikit ketan dan kopi itu, terbuktilah kebenaran dugaannya. Andaikata tidak ia peringatkan sekalipun, Endang Patibroto akan tahu tentang racun dan tidak akan menjadi korban, bahkan akan menjadi curiga! Kini, dengan mengorbankan nyawa si pelayan, ia dapat menangkan kepercayaan Endang Patibroto bahkan tampaklah ia sebagai seorang yang baik dan setia kawan, membuat ia makin menonjol dalam pandangan wanita sakti ini! Ketika ditanya oleh Endang Patibroto bagaimana ia bisa tahu bahwa sarapan itu ada racunnya, ia sudah menyediakan jawabannya seperti yang ia rencanakan.
“Ah ….. syukur bahwa para dewata masih melindungimu, diajeng," demikian jawabnya setelah ia memerintahkan para pengawal untuk membawa pergi mayat si pelayan dan di situ tidak terdapat orang lain lagi.
"Alangkah ngerinya! Kalau sampai diajeng menjadi korban racun......... aaahhh......... betapa mungkin aku dapat hidup lebih lama lagi......... !" Wajahnya pucat, suaranya menggetar dan ia melangkah maju, seperti hendak meraih dan memeluk karena hatinya terharu dan tegang. Akan tetapi Endang Patibroto melangkah mundur dan berkata,
"Bahaya telah lewat, kakang Sindupati. Sungguh untung bahwa kakang telah tahu dan dapat memperingatkan aku, sungguhpun belum tentu aku akan dapat diracun begitu saja. Duduklah dan ceritakan, bagaimana engkau bisa mengetahui akan perbuatan keji itu!"
Melihat wanita itu tidak melayani hasratnya, Sindupati tidak memaksa dan segera mengambil tempat duduk. Berkali-kali ia menarik napas panjang dan kedua tangannya yang ditaruh di atas meja masih gemetar. Sesungguhnya bukan gemetar karena kekhawatirannya terhadap Endang Patibroto, melainkan gemetar karena girang melihat berhasilnya siasatnya dan karena nafsu berahi yang menggelora!
"Diajeng Endang Patibroto, jantungku masih berdebar seakan-akan hendak pecah kalau kuingat betapa keselamatan adinda terancam maut yang mengerikan tadi! Ketahuilah, bahwa biarpun kami tidak berhasil menangkap si penjahat Tejolaksono atau siapapun dia yang menyerbu kamar adinda, akan tetapi aku diam-diam selalu menaruh penyelidik dan mata-mata di sekitar istana untuk mengawasi gerak-gerik yang mencurigakan. Semalam, demikian menurut penyelidikku, terlihat pelayan laknat itu mengadakan pertemuan dengan seorang yang tak dikenal di taman. Ketika para penyelidik hendak menyergap, orang itu berkelebat lenyap cepat sekali. Para penyelidik segera melapor kepadaku dan aku menjadi curiga kepada pelayan itu. Semalam aku tidak tidur memikirkan segala kemungkinan dan akhirnya aku teringat bahwa pelayan yang bertugas melayani makan minummu itu tentu hendak melakukan sesuatu atas perintah musuh keparat itu. Aku menghubungkan segala sesuatu dan mengambil kesimpulan bahwa mungkin si jahat itu hendak meracunimu. Cepat-cepat aku lalu berlari ke sini dan syukur bahwa kau belum makan atau minum sarapanmu!"
Kembali ia menggigil. Endang Patibroto tersenyum. Terharu juga hatinya. Senopati muda ini benar-benar amat memikirkan
keselamatannya sehingga menyiksa diri sendiri sedemikian rupa. Karena terharu dan berterima kasih, ia mengulurkan tangan dan menyentuh tangan senopati itu di atas meja.
"Terima kasih, kakang Sindupati. Engkau memang baik sekali terhadap diriku."
Sindupati cepat memegang tangan yang halus itu dan meremas jari-jari tangan Endang Patibroto.
"Diajeng ...... aku......... aku menyediakan nyawaku untukmu dan….”
Endang Patibroto menarik tangannya terlepas dari genggaman Sindupati.
"Kakang Sindupati," katanya cepat-cepat memotong kalimat yang diucapkan senopati itu,
"sungguh amat disayangkan bahwa kakang terburu nafsu tadi. Kalau saja pelayan itu tidak dibunuh dan kini masih hidup, tentu kita dapat memaksanya mengaku siapa orangnya yang menyuruh dia menaruh racun dalam sarapanku."
Wajah yang tampan itu kelihatan marah sekali, matanya bersinar-sinar.
"Siapa dapat menahan kemarahan, diajeng? Melihat dia hendak meracunimu! Aku sudah cukup bersabar. Kalau tidak melihat dia seorang wanita tua, sudah kuhancurkan kepalanya tadi! Akan tetapi jangan khawatir, diajeng, aku sudah mempunyai siasat yang baik sekali, yang dapat memastikan keluarnya penjahat itu!"

<<< Bagian 023                                                                                    Bagian 025 >>>

No comments:

Post a Comment