Tiga orang itu terpelanting roboh. Tejolaksono cepat menghampiri seorang di antara mereka dan dengan cepat ia menampar dada orang itu dengan......... Pethit Nogo, dengan tenaga sedemikian rupa sehingga pukulan ini tidak mematikan orang, melainkan hanya meninggalkan bekas tapak lima buah jari tangan yang menghanguskan baju dan menembus kulit sehingga pada dada orang itu kini terdapat tanda tapak tangannya! Dia sengaja melakukan hal ini untuk memperkenalkan diri kepada. Endang. Patibroto. Ramailah suara para pengawal, akan tetapi ketika mereka menyerbu ke situ, Adipati Tejolaksono telah tiada. Tak seorangpun sampai melihat wajahnya, bahkan Endang Patibroto sendiripun tidak sampai melihatnya. Untung Endang Patibroto yang tidak ingin terlihat orang lain bahwa ia habis menangis itu, terlambat keluar karena harus mencuci muka lebih dulu. Endang Patibroto tadinya terheran-heran mendapat kenyataan bahwa ada seorang maling yang dapat menghindarkan diri daripada anak panah tangan, senjata rahasianya yang ampuh itu. Bukan hanya dapat mengelak, bahkan dapat menangkap dan merampas anak panah tangan itu karena buktinya anak panahnya lenyap tak berbekas. Akan tetapi keheranannya berubah menjadi kemarahan ketika ia melihat tapak lima jari tangan di atas dada seorang pengawalnya. Aji Pethit Nogo! Dan sekaligus ia dapat menduga siapa orangnya yang mengintai kamarnya tadi, Joko Wandiro! Siapa lagi kalau bukan pria yang sakti mandraguna, musuh besarnya semenjak ia kecil itu? Apa maunya Joko Wandiro datang ke Blambangan dan mencarinya?
Di dalam kamarnya, Endang
Patibroto termenung. Ia tahu bahwa Joko Wandiro kini telah diangkat menjadi
Adipati Tejolaksono, adipati di Selopenangkep yang termasuk wilayah Panjalu.
Hemmm, tak salah lagi, tentulah ini kehendak sang prabu di Panjalu, atau
mungkin si keparat Pangeran Darmokusumo yang memerintahkan Adipati Tejolaksono
untuk mengejar dan mencarinya.
"Setan kau Joko
Wandiro," gumamnya gemas di dalam hatinya.
"Kau datang hendak
menangkap aku? ,Hemm, kaukira aku takut kepadamu, keparat!"
Ia teringat bahwa Joko
Wandiro atau Adipati Tejolaksono itu hidup bahagia, demikian berita yang pernah
ia dengar dari suaminya, hidup di samping isterinya yang tercinta, Ayu Candra!
Masih teringat ia akan Ayu Candra, masih ada rasa tidak suka membara di hatinya
kalau ia teringat akan Ayu Candra. Tidak suka yang timbul karena sebab yang ia
sendiri tidak tahu mengapa. Mungkin karena iri hati? Pernah ia dahulu mengira,
atau mengharapkah? Mengira bahwa Joko Wandiro mencinta dirinya. Joko
Wandiro yang oleh mendiang
ayahnya telah dijodohkan dengannya. Kemudian Joko Wandiro malah mencinta Ayu
Candra dan menjadi suami Ayu Candra. Hal ini sebetulnya sama sekali terlupa
olehnya ketika ia masih berdampingan dengan suaminya. Tidak perduli itu semua
selama suaminya masih berada di sampingnya. Akan tetapi, sekarang suaminya
telah tiada! Dan Joko Wandiro masih berdua dengan Ayu Candra! Endang Patibroto
tidak dapat menahan air matanya yang panas membasahi pipinya. Keparat Ayu
Candra! Keparat Joko Wandiro! Sekarang datang hendak menangkapnya? Boleh coba!
"Keparat, jangan lari
kau!!" Tiba-tiba Endang Patibroto yang marah sekali tak dapat lagi menahan
kemarahannya. Tubuhnya melesat keluar dari jendela dan tak lama kemudian
tampaklah bayangannya, berkelebat di atas atap-atap rumah di sekitar Kerajaan
Blambangan. Dia mencari-cari sampai hampir pagi tanpa hasil sehingga ia menjadi
makin mendongkol dan gemas. Tiba-tiba ada bayangan lain berkelebat dari bawah
dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang laki-laki yang tampan. Endang
Patibroto sudah siap menerjangnya, akan tetapi ia menjadi lemas lagi ketika
melihat bahwa yang datang bukanlah Adipati Tejolaksono melainkan Sindupati yang
sudah membawa sebatang keris telanjang di tangannya.
"Aku......... aku
mendengar tentang penyerbuan orang jahat di tempatmu ...... , aku khawatir
kalau-kalau andika akan rnengalami celaka maka cepat-cepat mencari ketika tak
dapat mendapatkan andika di istana. Adinda Dewi......... , tidak apa-apakah
andika......... ?" Raden Sindupati cepat melangkah maju dan menangkap
tubuh Endang Patibroto yang terhuyung-huyung dan
memegang dahi dengan tangan
kirinya. Wanita ini menjadi pening karena terlalu berduka bercampur marah dan
kecewa menjadi satu, ditambah lagi tidak tidur semalam suntuk dan lelah.
Kedukaan hampir membuat Endang Patibroto hampir pingsan dan pada saat seperti
itu, setiap kata-kata halus yang menghiburnya membua hatinya trenyuh. Sejenak
ia membiarka dirinya dirangkul
pundaknya dan ia
menyandarkan kepalanya di atas pundak Raden Sindupati. la membutuhkan hiburan
dan kawan pada saat seperti itu dan karena selama ini sikap Sindupati amat baik
terhadap dirinya, halus dan ramah penuh kesopanan, ia menganggap orang ini
sebagai seorang sahabat. Ia terisak perlahan dan baru ia sadar ketika merasa
betapa tangan Sindupati dengan halus dan mesra membelai rambut kepalanya.
Begitu sadar.. ia merenggut lepas dari pelukan, akan tetapi tidak terlalu kasar
karena ia tidak ingin menyinggung orang yang sudah begitu baik terhadap
dirinya. Ia cukup maklum melihat sikap Sindupati selama ini bahwa senopati ini
diam-diam mencinta dirinya.
"Ahhh......... ,
maafkan......... aku......... aku sejenak kehilangan akal......... "
katanya menahan isak.
"Kasihan engkau,
diajeng. Engkau telah banyak menderita. Kalau saja aku bisa mendapat kehormatan
untuk menghibur......... ah, aku bersedia mengorbankan nyawaku untuk mengusir
kedukaanmu. Diajeng Endang Patibroto, apakah yang telah terjadi? Aku tadi
mendengar dari para pengawal bahwa ada orang jahat menyerbu tempat tinggalmu
dan kemudian melarikan diri. Melihat engkau tidak berada di sana, aku tahu
bahwa engkau mengejar penjahat itu lalu menyusul dan mencari. Apakah diajeng
tidak dapat menangkapnya?"
Merah kedua pipi Endang
Patibroto mendengar senopati ini menyebutnya diajeng. Akan tetapi ia tidak
marah dan hanya menghela napas panjang. Diam-diam ia merasa kasihan kepada
orang ini yang mencintanya dengan sia-sia. Sia-sia belaka karena ia tahu bahwa
tidak mungkin ia membalas perasaan itu.
"Aku tidak dapat menangkapnya,
akan tetapi aku tahu atau dapat menduga siapa orangnya."
"Ah......... begitukah?
Siapakah dia gerangan?" Ia tertarik sekali karena merasa terheran-heran.
Di seluruh Kerajaan Blambangan, kiranya hanya sang adipati saja yang menganggap
wanita sakti dan jelita ini sebagai musuh besar yang harus dibunuh. Dan yang
tahu akan hal ini hanyalah dia, Ki Patih Kalanarmodo, Mayangkurdo dan kedua
kakak beradik Klabangkoro dan Klabangmuko. Siapa lagi yang mempunyai niat buruk
bahkan berani menyerbu tempat kediaman ini?
"Hanya dugaanku saja,
akan tetapi aku sendiri masih ragu-ragu.........”
"Engkau agaknya kurang
sehat. Tidak baik berdiam di sini. Marilah kita kernbali dan bicara yang enak
di gedungmu, diajeng. Percayalah, siapapun adanya si keparat itu, aku Sindupati
akan menyediakan segenap jiwa ragaku untuk membelamu dan menangkap orang itu
sampai dapat."
Diam-diam Endang Patibroto
tertawa di dalam hatinya. Kalau betul dugaannya bahwa orang itu adalah Joko
Wandiro atau Adipati Tejolaksono, jangankan baru Sindupati seorang, biarpun
dikerahkan semua senopati di Blambangan, tak mungkin akan dapat menangkapnya!
Akan tetapi ia tidak berkata sesuatu dan menurut saja diajak pulang. Mereka
melompat turun dari atas atap lalu berjalan berdampingan menuju ke istana. Ketika
tiba kembali di gedung tempat tinggal Endang Patibroto, para pengawal yang
dirobohkan pingsan tanpa mereka tahu apa yang terjadi bersama tiga orang
pengawal yang bertanding melawan "penjahat" itu dipanggil menghadap.
Setelah mendengar cerita mereka yang aneh, yaitu bahwa penjahat itu amat sakti,
sehingga mereka keburu roboh tanpa diberi kesempatan melihat wajahnya. Endang
Patibroto lalu menyuruh pengawalnya yang terpukul itu membuka baju sehingga
dadanya yang terdapat tanda tapak lima jari tangan itu tampak nyata seperti
dibakar besi panas! Kemudian Endang Patibroto menyuruh para pengawal itu mundur
dan dia berkata kepada Raden Sindupati.
"Kau melihat sendiri,
raden. Tanda tapak lima jari tangan di dada pengawal tadi adalah tanda bekas
pukulan Pethit Nogo. Seperti ini!" Endang Patibroto mengayun telapak
tangan kirinya menghantam lantai, perlahan sekali dan tampaklah jelas tapak
jari tangannya di lantai batu itu!
"Aihhh......... ! Kalau
begitu sama dengan aji pukulan yang dimiliki diajeng ..... ......!"
Endang Patibroto mengangguk.
"Benar begitu, dan
karena itulah maka aku dapat menduga siapa adanya orang itu."
"Siapa, diajeng Endang
Patibroto?"
"Di dalam dunia ini,
yang mempunyai ilmu pukulan itu hanya dua orang, aku sendiri dan adipati di
Selopenangkep, Adipati Tejolaksono."
Biarpun belum pernah bertemu
dengan Adipati Tejolaksono, namun Raden Sindupati sudah mendengar tentang
Adipati Selopenangkep yang sakti mandraguna itu, maka berubahlah air mukanya
ketika berseru,
"Yang dahulu bernama
Joko Wandiro.........”
"Betul, dialah
orangnya, dan aku merasa yakin akan hal ini."
"Tapi..........
tapi......... mengapa.......?" Sindupati terheran,
"Apakah dia musuhmu,
diajeng?"
"Dahulu memang musuh
besarku, akan tetapi selama sepuluh tahun di antara kami tidak ada permusuhan,
tidak ada hubungan apa-apa lagi." Ia diam sebentar, termenung. Memang
tidak ada permusuhan di antara mereka.
Bagaimana bisa bermusuh?
Ibunya sendiri, ibu kandungnya, tinggal bersarna Adipati Tejolaksono!
"Agaknya......... aku
tahu bahwa dia tentulah menjadi utusan Kerajaan Panjalu untuk mencariku,
menangkapku atau membunuhku......... “
Raden Sindupati meloncat
bangun dari kursinya, wajahnya yang tampan menjadi merah padam, matanya
bersinar-sinar penuh kemarahan.
"Babo-babo ' Si keparat
Tejolaksono! Berani dia datang seorang diri di Blambangan dengan niat yang
begitu keji? Membunuhmu? Huh, harus dapat menyempal bahuku kanan, harus
melangkahi mayat Sindupati dahulu baru dapat menyentuh ujung rambut Endang
Patibroto!" Endang Patibroto tersenyum pahit.
Ia terharu menyaksikan
tingkah pria ini, tingkah seorang yang menjadi korban asmara, akan tetapi
alangkah lucunya kalau pria ini hendak menantang kesaktian Joko Wandiro! Dia
sendiri sudah beberapa kali harus mengakui keunggulan Adipati Selopenangkep
itu.
"Raden Sindupati, dia
itu amat sakti mandraguna, tidak mudah dikalahkan."
"Aku tidak takut!
Diajeng Endang Patibroto, lihatlah sinar mataku, lihatlah wajahku. Masih tidak
percayakah adinda bahwa aku akan membelamu dengan mernpertaruhkan seluruh jiwa
ragaku? Akan kukerahkan seluruh pasukan Blambangan! Biar Tejolaksono bersekutu
dengan dewa sekalipun, tak mungkin dia dapat menandingi pasukan Blambangan
seorang diri saja!"
Endang Patibroto menghela
napas panjang. Sukar berdebat dengan orang yang sudah mabuk cinta. Ia tidak
tega untuk membuyarkan harapan, merusak hati laki-laki ini. Masih banyak waktu
untuk membuka mata Sindupati kelak bahwa dia tidak mungkin dapat membalas
cintanya. Tidak mungkin! Wajah suaminya tak pernah meninggalkan hatinya, biar
sedetik sekalipun. Di siang hari terbayang di depan pelupuk mata, di malam hari
menjadi kembang mimpi.
"Cobalah kau usahakan,
raden. Kurasa Adipati Tejolaksono bersembunyi di sekitar kota raja. Aku cukup
mengenalnya dan tahu bahwa orang seperti dia tidak akan mundur sebelum tercapai
cita-citanya, sebelum terpenuhi tugasnya. Kadipaten Selopenangkep termasuk
wilayah Panjalu. Tentu dia menjadi jago sang prabu di Panjalu untuk menangkap
saya. Amat lelah tubuhku, aku ingin tidur."
"Aduh kasihan diajeng
yang bernasib malang. Kau beristirahatlah dan jangan khawatir, akan kukerahkan
pasukan sekarang juga untuk mencari di seluruh kota raja. Dan tentang
keselamatanmu, aku yang menjamin dan aku sendiri yang akan memimpin para
pengawal menjaga tempat tinggalmu ini!"
Setelah berkata demikian,
dengan sikap mengasih dan gagah Raden Sindupati memberi hormat lalu pergi
meninggalkan Endang Patibroto yang duduk termenung. Laki,laki yang baik,
pikirnya. Sayang aku terpaksa akan menghancurkan hatinya dengan penolakan cinta
kasihnya. Dan Adipati Tejolaksono! Joko Wandiro! Ah, mengapa ia terbayang akan
semua pengalamannya di masa dahulu, sepuluh tahun yang lalu? Teringat akan masa
dahulu, terbayang pula pangalarnan yang tak dapat dilupakan, pengalaman yang
amat pahit, yang amat menusuk perasaannya, yang membuatnya membenci Joko
Wandiro dan mernbenci pula Ayu Candra!
Terbayang ia betapa pada
waktu dipeluk dari belakang oleh Joko Wandiro, dibelai dan dicium tengkuknya,
penuh kasih sayang, penuh kemesraan. Pada waktu itu, ia belum ada hati sedikitpun
juga terhadap Pangeran Panjirawit dan ketika itu dengan sepenuh jiwa raganya ia
menyerahkan diri, hangat hatinya menyambut cinta kasih Joko Wandiro, orang yang
oleh ayahnya telah dijodohkan kepadanya!. Akan tetapi, 'bagaikan halilintar
menyambar kepalanya, mulut Joko Wandiro membisikkan nama Ayu Candra.
Kiranya Joko
Wandiro bukan memeluk dan membelainya, melainkan mengira bahwa dia adalah Ayu
Candra.
No comments:
Post a Comment