Ia harus mendapatkan wanita ini! Harus! Belum pernah selama hidupnya ia mendapatkan seorang kekasih seperti Endang Patibroto ini, dalam mimpipun tidak pernah. Ia harus menggunakan akal, ia harus berhasil memiliki tubuh denok ayu yang penuh dengan hawa sakti itu! Harus! Pertandingan berjalan makin seru dan gerakan Endang Patibroto makin cepat sehingga akhirnya Mayangkurdo menyerang secara ngawur. Ke manapun ia melihat bayangan berkelebat, ke sanalah ia mengirim tinjunya.. Akan tetapi karena bayangan itu makin lama makin banyak dan berkelebat di sekeliling tubuhnya, iapun ikut berputaran sambil menghantam sana sini sampai akhirnya ia roboh terguling pingsan dalam keadaan mata terbelalak dan napas hampir putus, tubuhnya kejang-kejang. Endang Patibroto berhenti bergerak, dan melihat keadaan lawannya, ia kaget sekali. Ia tahu bahwa biarpun ia tadi tidak memukul, namun keadaan Mayangkurdo kini lebih berbahaya lagi. Lawannya ini telah mengalami akibat daripada tenaga sendiri yang membalik, ditambah pening dan kemarahan meluap-luap sehingga kalau dibiarkan dalam keadaan seperti ini, ada bahaya akan putus napasnya. Cepat ia menepuk pundak lawan yang segera lenyap kejangnya, tubuhnya lemas dan pingsan, akan tetapi napasnyapun tidak magap-megap seperti tadi. Dan ketika menotok pundak orang itu, diam-diam Endang Patibroto terkejut dan kagum karena baru ia tahu sekarang bahwa orang ini memiliki ilmu kekebalan yang setingkat dengan ilmu kekebalan gurunya, Dibyo Mamangkoro. Pantas saja kuat menahan pukulan-pukulan ampuh.
Kini berisiklah ruangan
persidangan itu. Para senopati saling berbisik dan rata-rata mereka itu memuji
kehebatan ilmu kesaktian Endang Patibroto. Bahkan Adipati Menak Linggo sampai
lama tertegun, kemudian setelah melihat Mayangkurdo bergerak dan bangkit duduk
sambil mengeluh, barulah ia tertawa terbahak.
"Ha-ha-ha-ha! Engkau
benar hebat, Endang Patibroto!" Endang Patibroto menghadapi Adipati Menak
Linggo, hatinya merasa puas.
"Memang sejak kecil aku
digembleng. untuk menjadi senopati, adipati! Kalau engkau masih belum yakin,
boleh mengajukan penguji lagi." Ia menoleh ke sekelilingnya dan kali ini
semua yang bertemu pandang dengannya, cepatcepat menundukkan muka.
"Masih ada lagikah
senopati gemblengan yang hendak main-main sebentar dengan aku?"
Kembali sunyi senyap di
situ. Ketegangan timbul karena tantangan Endang Patibroto ini. Adipati Menak
Linggo sendiri menjadi malu karena senopatinya seperti serombongan kelinci
melihat munculnya seekor harimau buas. Bagaimanakah para jagoannya yang
biasanya galak-galak itu kini menjadi seperti orong-orong terpijak, tidak ada
suaranya sama sekali? Terdengar orang batuk-batuk, batuk buatan yang
dimaksudkan mengusir keheningan yang mencekam.
"Gusti adipati, kalau
paduka menghendaki, biarlah hamba sendiri yang menguji kesaktian Sang Puteri
Endang Patibroto."
Inilah suara Ki Patih
Kalanarmodo yang tadi batuk-batuk. Semua mata memandang kepada patih yang tua
ini. Semua senopati maklum bahwa setelah Mayangkurdo kalah, memang tidak ada
lain orang lagi yang patut menandingi Endang Patibroto. Ki patih ini adalah
saudara seperguruan sang adipati sendiri, sungguhpun tingkat kepandaiannya
masih kalah sedikit kalau dibandingkan dengan Adipati Menak Linggo, namun ia
sakti sekali dan ada kemenangannya terhadap sang adipati, yaitu ilmu di dalam
air.
"Kau, kakang patih?
Ahhh, tidak usah, tidak perlu lagi.. Aku sudah percaya akan kesaktiannya.
Endang Patibroto, engkau kuterima menjadi senopati perang. Memang kau tepat
untuk memimpin bala tentaraku menyerbu Jenggala dan Panjalu. Akan tetapi, penyerbuan
itu tidak perlu dilakukan secara tergesagesa, karena sekali bergerak, kita
harus jangan sampai gagal. Kau boleh melatih dulu pasukan-pasukan istimewa yang
akan menjadi penggempur terdepan. Sementara itu, kau tinggallah di sini, dan
senangkan dirimu. Jangan khawatir, takkan lama lagi Jenggala dan Panjalu kita
gempur, kita bikin karang abang (lautan api) dan kau boleh memuaskan hatimu
membalas kematian suamimu, ha-ha-ha-ha!"
Demikianlah, sejak saat itu,
Endang Patibroto menjadi senopati di Blambangan. Ia diberi tempat tinggal
mewah, di sebuah bangunan mungil indah di sebelah kiri istana, lebih indah dan
lebih mewah daripada istana mendiang suaminya. Segala keperluannya disediakan
oleh Adipati Menak Linggo dan tampaknya saja Endang Patibroto hidup senang,
mewah dan mulia. Akan tetapi, di samping kesibukannya menggembleng pasukan
penyerbu yang istimewa dan segala kemewahan yang menyelimuti hidupnya, di waktu
malam seorang diri di dalam kamarnya Endang Patibroto menangis tersedu-sedu,
menangisi suaminya dengan hati penuh kedukaan.
Dari Adipati Menak Linggo
sampai semua hulubalang, terutama sekali Raden Sindupati, semua amat menghormat
dan ramah tamah kepadanya sehingga Endang Patibroto sama sekali tidak menyangka
bahwa di belakang punggungnya, sang adipati seringkali berkasak-kusuk membuat
rencana-rencana jahat dengan para pembantunya dan terutama sekali Raden
Sindupati yang diserahi tugas untuk "membereskan" Endang Patibroto.
"Menurut pendapat
hamba, kita harus dapat menarik keuntungan sebanyaknya dari wanita iblis
itu," demikian antara lain Sindupati mengemukakan siasatnya kepada sang
adipati,
"pertama-tama kita
harus membiarkan dia menggembleng dan melatih pasukan Blambangan, kemudian
setelah waktunya tiba, barulah diusahakan pembunuhan atas diri iblis betina itu
untuk membalas dendam paduka. Hamba sanggup melakukan hal itu, malah
................ malah
menurut pendapat hamba, ada cara untuk membalas dendam yang lebih memuaskan
hati, yang lebih hebat daripada membunuhnya begitu saja."
"Heh-heh, cara bagaimana
itu, senopatiku yang baik?" Wajah tampan Sindupati tersenyum, matanya
mengerling penuh arti.
"Paduka tentu dapat
mengira sendiri apa yang lebih hebat bagi seorang wanita!"
Sejenak adipati itu
merenung, mengangkat alis, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Huah-ha-ha-ha-ha,
dasar kau tak boleh melewatkan batuk kelimis (wanita cantik) begitu saja. Aku
mengerti ......... ha-ha-ha-ha, aku mengerti......... , memang dia hebat, denok
ayu seperti puteri Bali. Ha-ha-ha!"
Beberapa pekan kemudian,
Blambangan kedatangan seorang yang wajahnya tampan namun membayangkan kebodohan
seorang dusun. Laki-laki ini usianya tiga puluhan tahun, pakaiannya sederhana
sekali, pakaian petani yang miskin. Wajahnya biarpun tampan tampak
bodoh, terutama sinar
matanya yang seperti orang bingung. Laki-laki ini memasuki kota raja dan
menawarkan tenaga kepada siapa saja yang suka memberinya makan. Akhirnya, pada
suatu hari ia diterima menjadi tukang pemelihara kuda karena ia rajin dan
pandai mencari rumput-rumput gemuk. Seorang perwira menerimanya dan
menempatkannya di kandang kuda di mana dipelihara
empat puluh ekor kuda
tunggangan para perwira Kerajaan Blambangan. Laki-laki ini pandai sekali
memelihara kuda dan semua kuda yang bagaimana binal sekalipun selalu menurut
kalau dituntun dan dibersihkan tubuhnya oleh Sutejo, laki-laki ini. Dari pagi
sampai petang Sutejo bekerja giat dan rajin, mencari rumput, memberi makan
kuda, membersihkan mereka, dan membersihkan pula kandang. Para perwira suka
kepada pelayan baru ini yang mengaku berasal dari dusun Cempa di kaki Gunung
Tengger. Akan tetapi kalau malam tiba, lewat tengah malam pada saat semua orang
sudah tidur, tampak bayangan hitam berkelebat ke atas atap kandang dan kemudian
lenyap ditelan kegelapan malam untuk kemudian berkelebatan pula di atas atap
istana! Dialah Sutejo si tukang kuda yang bukan lain adalah Joko Wandiro atau
lebih tepatnya sekarang bernama Tejolaksono, adipati di Selopenangkep! Seperti
telah kita ketahui, Tejolaksono melakukan perjalanan ke Blambangan dan di
tengah jalan ia bertemu dengan Ki Brejeng yang membuka rahasia segala peristiwa
yang terjadi di Jenggala dan Panjalu. Ia melakukan perjalanan untuk mengejar
dan mencari Endang Patibroto yang menurut Ki Brejeng, telah ikut bersama
rombongan pasukan Blambangan menuju ke Blambangan di mana
tersedia perangkap untuk
mencelakakan Endang Patibroto. Setibanya di daerah Blambangan, Tejolaksono lalu
menitipkan kudanya pada seorang penduduk gunung, kemudian ia berjalan kaki
memasuki kerajaan atau Kadipaten Blambangan dengan menyamar sebagai seorang
petani bodoh yang mencari pekerjaan ke kota raja.
Dapat dibayangkan alangkah
heran dan cemas hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa Endang Patibroto
kini telah menjadi seorang senopati besar dari Blambangan! Ah, Endang.........
Endang …….. pikirnya di hati, mengapa sampai sekarang engkau masih seperti dulu
juga? Mengapa sudi menjadi Senopati Blambangan dan membiarkan dirimu tertipu?
Ia makin cemas karena tidak mendengar akan diri Pangeran Panjirawit! Menurut
penyelidikannya, Endang Patibroto datang ke Blambangan bersama dengan pasukan
dan tanpa Pangeran Panjirawit suaminya yang telah dibebaskannya dari penjara
Jenggala. Apa artinya ini? Ia mendengar pula penuturan beberapa orang perwira
tentang sepak terjang senopati wanita itu yang telah mengalahkan para senopati
gemblengan dari Blambangan dan kini diperbolehkan tinggal di dalam istana Sang
Adipati Menak Linggo sendiri!
Sudah beberapa malam ia
melakukan penyelidikan ke istana, namum belum juga ia mendapat kesempatan untuk
bertemu dengan Endang Patibroto. Dalam penyamarannya sebagai tukang kuda
seperti sekarang ini, tentu saja tidak mungkin baginya untuk berjumpa secara
berterang dengan Endang Patibroto, bahkan di waktu senopati wanita itu melatih
pasukan di alun-alun, iapun hanya dapat menonton dari jauh saja. Hatinya
terharu kalau melihat wanita itu dari jauh. Tidak banyak perubahan dalam bentuk
tubuh wanita
itu, pikirnya. Masih
langsing dan cantik jelita, tangkas seperti dahulu! Makin, trenyuh hatinya
kalau mengenangkan nasib wanita itu dan makin besar keinginan hatinya untuk
segera dapat berbicara dengan Endang Patibroto. Akan tetapi jangan sampai
diketahui orang lain di Blambangan karena hal itu akan menjadi berbahaya
sekali.
Malam itu ia sudah mengambil
keputusan bulat untuk memasuki kamar Endang Patibroto. Sebagaimana lajimnya
tempat tinggal seorang senopati, rumah di samping istana itu terjaga oleh para
pengawal. Ia harus menemui Endang dan kalau perlu, ia akan menggunakan aji
penyirepan atau kalau terpaksa akan merobohkan para pengawal. Dengan aji
keringanan tubuh Aji Bayu Sakti, bagaikan seekor burung garuda saja Tejolaksono
berlontatan di atas atap istana yang amat tinggi. Andaikata secara kebetulan
ada penjaga yang melihatnya, tentu penjaga itu akan mengira bahwa yang
dilihatnya adalah bayangan burung malam atau kalong, demikian cepatnya bayangan
itu berkelebat. Tak lama kemudian Tejolaksono sudah berada di atas sebuah
bangunan mungil yang menjadi tempat tinggal Endang Patibroto. Ia mengintai dari
atas dan melihat dua orang pengawal peronda. Tanpa melalui dua orang pengawal
ini, tak mungkin ia dapat turun mencari kamar Endang Patibroto, pikirnya. Maka
cepat ia menyambar dari atas, kedua tangannya bergerak dan dua orang pengawal
itu roboh pingsan tanpa mereka tahu mengapa mereka begitu! Cepat sekali pukulan
Tejolaksono tadi menampar di belakang telinga dua orang pengawal. Kemudian
Tejolaksono berindap-indap menyelinap ke
pinggir bangunan dan
tiba-tiba ia mendengar isak tertahan. Cepat ia menyelinap dekat dan mengintai
dari celah-celah daun jendela. Dilihatnya Endang Patibroto menelungkup di atas
pembaringan sambil menangis! Yang tampak hanyalah belakang tubuh wanita itu,
pinggulnya yang menyendul dan pundaknya yang bergerak-gerak ketika terisak-isak
memeluk bantal. Tejolaksono terpaku seperti berubah menjadi arca. Endang
Patibroto menangis! Selama hidupnya belum pernah ia melihat Endang Patibroto
menangis. Gadis yang dahulu menantang maut dengan keberanian yang tiada
taranya, gadis yang keras hati keras kepala, yang berhati baja, kini menangis
terisak-isak memeluk bantal seperti kebiasaan wanita-wanita cengeng. Apa
artinya ini?
Namun, biarpun agaknya
Endang Patibroto telah kehilangan kekerasan hatinya, jelas bahwa kewaspadaannya
tidak berkurang. Hal ini diketahui terlambat oleh Tejolaksono ketika tiba-tiba
dari dalam kamar itu, dari arah pembaringan Endang Patibroto, menyambar sinar
terang menuju ke arah jendela, menerobos celah jendela dan tentu akan tepat
mengenai muka Tejolaksono yang mengintai tadi kalau saja dia. tidak cepat
miringkan muka dan mengulur tangan menyambar benda bersinar itu yang ternyata
adalah sebatang anak panah. Panah tangan beracun senjata rahasia Endang
Patibroto yang dahulu amat ditakuti lawan! Senjata rahasia ini pulalah yang
dahulu pernah melukai Ayu Candra, isterinya! Tejolaksono terkejut dan hendak
melompat ke dalam memperkenalkan diri, akan tetapi dari dalam kamar itu sudah
terdengar bentakan suara Endang Patibroto,
"Pengawal! Tangkap
penjahat!!"
Adipati
Tejolaksono hendak melompat ke atas atap, akan tetapi tiba-tiba menyerbulah
tiga orang pengawal. Dia cepat melompat ke tempat gelap dan seketika tiga orang
pengawal itu menyerbu dengan senjata di tangan, ia mendorong dengan kedua
tangan ke depan, melakukan pukulan jarak jauh.
No comments:
Post a Comment