Perawan Lembah Wilis; Bagian 022


Ia harus mendapatkan wanita ini! Harus! Belum pernah selama hidupnya ia mendapatkan seorang kekasih seperti Endang Patibroto ini, dalam mimpipun tidak pernah. Ia harus menggunakan akal, ia harus berhasil memiliki tubuh denok ayu yang penuh dengan hawa sakti itu! Harus! Pertandingan berjalan makin seru dan gerakan Endang Patibroto makin cepat sehingga akhirnya Mayangkurdo menyerang secara ngawur. Ke manapun ia melihat bayangan berkelebat, ke sanalah ia mengirim tinjunya.. Akan tetapi karena bayangan itu makin lama makin banyak dan berkelebat di sekeliling tubuhnya, iapun ikut berputaran sambil menghantam sana sini sampai akhirnya ia roboh terguling pingsan dalam keadaan mata terbelalak dan napas hampir putus, tubuhnya kejang-kejang. Endang Patibroto berhenti bergerak, dan melihat keadaan lawannya, ia kaget sekali. Ia tahu bahwa biarpun ia tadi tidak memukul, namun keadaan Mayangkurdo kini lebih berbahaya lagi. Lawannya ini telah mengalami akibat daripada tenaga sendiri yang membalik, ditambah pening dan kemarahan meluap-luap sehingga kalau dibiarkan dalam keadaan seperti ini, ada bahaya akan putus napasnya. Cepat ia menepuk pundak lawan yang segera lenyap kejangnya, tubuhnya lemas dan pingsan, akan tetapi napasnyapun tidak magap-megap seperti tadi. Dan ketika menotok pundak orang itu, diam-diam Endang Patibroto terkejut dan kagum karena baru ia tahu sekarang bahwa orang ini memiliki ilmu kekebalan yang setingkat dengan ilmu kekebalan gurunya, Dibyo Mamangkoro. Pantas saja kuat menahan pukulan-pukulan ampuh.

Kini berisiklah ruangan persidangan itu. Para senopati saling berbisik dan rata-rata mereka itu memuji kehebatan ilmu kesaktian Endang Patibroto. Bahkan Adipati Menak Linggo sampai lama tertegun, kemudian setelah melihat Mayangkurdo bergerak dan bangkit duduk sambil mengeluh, barulah ia tertawa terbahak.
"Ha-ha-ha-ha! Engkau benar hebat, Endang Patibroto!" Endang Patibroto menghadapi Adipati Menak Linggo, hatinya merasa puas.
"Memang sejak kecil aku digembleng. untuk menjadi senopati, adipati! Kalau engkau masih belum yakin, boleh mengajukan penguji lagi." Ia menoleh ke sekelilingnya dan kali ini semua yang bertemu pandang dengannya, cepatcepat menundukkan muka.
"Masih ada lagikah senopati gemblengan yang hendak main-main sebentar dengan aku?"
Kembali sunyi senyap di situ. Ketegangan timbul karena tantangan Endang Patibroto ini. Adipati Menak Linggo sendiri menjadi malu karena senopatinya seperti serombongan kelinci melihat munculnya seekor harimau buas. Bagaimanakah para jagoannya yang biasanya galak-galak itu kini menjadi seperti orong-orong terpijak, tidak ada suaranya sama sekali? Terdengar orang batuk-batuk, batuk buatan yang dimaksudkan mengusir keheningan yang mencekam.
"Gusti adipati, kalau paduka menghendaki, biarlah hamba sendiri yang menguji kesaktian Sang Puteri Endang Patibroto."
Inilah suara Ki Patih Kalanarmodo yang tadi batuk-batuk. Semua mata memandang kepada patih yang tua ini. Semua senopati maklum bahwa setelah Mayangkurdo kalah, memang tidak ada lain orang lagi yang patut menandingi Endang Patibroto. Ki patih ini adalah saudara seperguruan sang adipati sendiri, sungguhpun tingkat kepandaiannya masih kalah sedikit kalau dibandingkan dengan Adipati Menak Linggo, namun ia sakti sekali dan ada kemenangannya terhadap sang adipati, yaitu ilmu di dalam air.
"Kau, kakang patih? Ahhh, tidak usah, tidak perlu lagi.. Aku sudah percaya akan kesaktiannya. Endang Patibroto, engkau kuterima menjadi senopati perang. Memang kau tepat untuk memimpin bala tentaraku menyerbu Jenggala dan Panjalu. Akan tetapi, penyerbuan itu tidak perlu dilakukan secara tergesagesa, karena sekali bergerak, kita harus jangan sampai gagal. Kau boleh melatih dulu pasukan-pasukan istimewa yang akan menjadi penggempur terdepan. Sementara itu, kau tinggallah di sini, dan senangkan dirimu. Jangan khawatir, takkan lama lagi Jenggala dan Panjalu kita gempur, kita bikin karang abang (lautan api) dan kau boleh memuaskan hatimu membalas kematian suamimu, ha-ha-ha-ha!"
Demikianlah, sejak saat itu, Endang Patibroto menjadi senopati di Blambangan. Ia diberi tempat tinggal mewah, di sebuah bangunan mungil indah di sebelah kiri istana, lebih indah dan lebih mewah daripada istana mendiang suaminya. Segala keperluannya disediakan oleh Adipati Menak Linggo dan tampaknya saja Endang Patibroto hidup senang, mewah dan mulia. Akan tetapi, di samping kesibukannya menggembleng pasukan penyerbu yang istimewa dan segala kemewahan yang menyelimuti hidupnya, di waktu malam seorang diri di dalam kamarnya Endang Patibroto menangis tersedu-sedu, menangisi suaminya dengan hati penuh kedukaan.

Dari Adipati Menak Linggo sampai semua hulubalang, terutama sekali Raden Sindupati, semua amat menghormat dan ramah tamah kepadanya sehingga Endang Patibroto sama sekali tidak menyangka bahwa di belakang punggungnya, sang adipati seringkali berkasak-kusuk membuat rencana-rencana jahat dengan para pembantunya dan terutama sekali Raden Sindupati yang diserahi tugas untuk "membereskan" Endang Patibroto.
"Menurut pendapat hamba, kita harus dapat menarik keuntungan sebanyaknya dari wanita iblis itu," demikian antara lain Sindupati mengemukakan siasatnya kepada sang adipati,
"pertama-tama kita harus membiarkan dia menggembleng dan melatih pasukan Blambangan, kemudian setelah waktunya tiba, barulah diusahakan pembunuhan atas diri iblis betina itu untuk membalas dendam paduka. Hamba sanggup melakukan hal itu, malah
................ malah menurut pendapat hamba, ada cara untuk membalas dendam yang lebih memuaskan hati, yang lebih hebat daripada membunuhnya begitu saja."
"Heh-heh, cara bagaimana itu, senopatiku yang baik?" Wajah tampan Sindupati tersenyum, matanya mengerling penuh arti.
"Paduka tentu dapat mengira sendiri apa yang lebih hebat bagi seorang wanita!"
Sejenak adipati itu merenung, mengangkat alis, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Huah-ha-ha-ha-ha, dasar kau tak boleh melewatkan batuk kelimis (wanita cantik) begitu saja. Aku mengerti ......... ha-ha-ha-ha, aku mengerti......... , memang dia hebat, denok ayu seperti puteri Bali. Ha-ha-ha!"

Beberapa pekan kemudian, Blambangan kedatangan seorang yang wajahnya tampan namun membayangkan kebodohan seorang dusun. Laki-laki ini usianya tiga puluhan tahun, pakaiannya sederhana sekali, pakaian petani yang miskin. Wajahnya biarpun tampan tampak
bodoh, terutama sinar matanya yang seperti orang bingung. Laki-laki ini memasuki kota raja dan menawarkan tenaga kepada siapa saja yang suka memberinya makan. Akhirnya, pada suatu hari ia diterima menjadi tukang pemelihara kuda karena ia rajin dan pandai mencari rumput-rumput gemuk. Seorang perwira menerimanya dan menempatkannya di kandang kuda di mana dipelihara
empat puluh ekor kuda tunggangan para perwira Kerajaan Blambangan. Laki-laki ini pandai sekali memelihara kuda dan semua kuda yang bagaimana binal sekalipun selalu menurut kalau dituntun dan dibersihkan tubuhnya oleh Sutejo, laki-laki ini. Dari pagi sampai petang Sutejo bekerja giat dan rajin, mencari rumput, memberi makan kuda, membersihkan mereka, dan membersihkan pula kandang. Para perwira suka kepada pelayan baru ini yang mengaku berasal dari dusun Cempa di kaki Gunung Tengger. Akan tetapi kalau malam tiba, lewat tengah malam pada saat semua orang sudah tidur, tampak bayangan hitam berkelebat ke atas atap kandang dan kemudian lenyap ditelan kegelapan malam untuk kemudian berkelebatan pula di atas atap istana! Dialah Sutejo si tukang kuda yang bukan lain adalah Joko Wandiro atau lebih tepatnya sekarang bernama Tejolaksono, adipati di Selopenangkep! Seperti telah kita ketahui, Tejolaksono melakukan perjalanan ke Blambangan dan di tengah jalan ia bertemu dengan Ki Brejeng yang membuka rahasia segala peristiwa yang terjadi di Jenggala dan Panjalu. Ia melakukan perjalanan untuk mengejar dan mencari Endang Patibroto yang menurut Ki Brejeng, telah ikut bersama rombongan pasukan Blambangan menuju ke Blambangan di mana
tersedia perangkap untuk mencelakakan Endang Patibroto. Setibanya di daerah Blambangan, Tejolaksono lalu menitipkan kudanya pada seorang penduduk gunung, kemudian ia berjalan kaki memasuki kerajaan atau Kadipaten Blambangan dengan menyamar sebagai seorang petani bodoh yang mencari pekerjaan ke kota raja.
Dapat dibayangkan alangkah heran dan cemas hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa Endang Patibroto kini telah menjadi seorang senopati besar dari Blambangan! Ah, Endang......... Endang …….. pikirnya di hati, mengapa sampai sekarang engkau masih seperti dulu juga? Mengapa sudi menjadi Senopati Blambangan dan membiarkan dirimu tertipu? Ia makin cemas karena tidak mendengar akan diri Pangeran Panjirawit! Menurut penyelidikannya, Endang Patibroto datang ke Blambangan bersama dengan pasukan dan tanpa Pangeran Panjirawit suaminya yang telah dibebaskannya dari penjara Jenggala. Apa artinya ini? Ia mendengar pula penuturan beberapa orang perwira tentang sepak terjang senopati wanita itu yang telah mengalahkan para senopati gemblengan dari Blambangan dan kini diperbolehkan tinggal di dalam istana Sang Adipati Menak Linggo sendiri!

Sudah beberapa malam ia melakukan penyelidikan ke istana, namum belum juga ia mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Endang Patibroto. Dalam penyamarannya sebagai tukang kuda seperti sekarang ini, tentu saja tidak mungkin baginya untuk berjumpa secara berterang dengan Endang Patibroto, bahkan di waktu senopati wanita itu melatih pasukan di alun-alun, iapun hanya dapat menonton dari jauh saja. Hatinya terharu kalau melihat wanita itu dari jauh. Tidak banyak perubahan dalam bentuk tubuh wanita
itu, pikirnya. Masih langsing dan cantik jelita, tangkas seperti dahulu! Makin, trenyuh hatinya kalau mengenangkan nasib wanita itu dan makin besar keinginan hatinya untuk segera dapat berbicara dengan Endang Patibroto. Akan tetapi jangan sampai diketahui orang lain di Blambangan karena hal itu akan menjadi berbahaya sekali.
Malam itu ia sudah mengambil keputusan bulat untuk memasuki kamar Endang Patibroto. Sebagaimana lajimnya tempat tinggal seorang senopati, rumah di samping istana itu terjaga oleh para pengawal. Ia harus menemui Endang dan kalau perlu, ia akan menggunakan aji penyirepan atau kalau terpaksa akan merobohkan para pengawal. Dengan aji keringanan tubuh Aji Bayu Sakti, bagaikan seekor burung garuda saja Tejolaksono berlontatan di atas atap istana yang amat tinggi. Andaikata secara kebetulan ada penjaga yang melihatnya, tentu penjaga itu akan mengira bahwa yang dilihatnya adalah bayangan burung malam atau kalong, demikian cepatnya bayangan itu berkelebat. Tak lama kemudian Tejolaksono sudah berada di atas sebuah bangunan mungil yang menjadi tempat tinggal Endang Patibroto. Ia mengintai dari atas dan melihat dua orang pengawal peronda. Tanpa melalui dua orang pengawal ini, tak mungkin ia dapat turun mencari kamar Endang Patibroto, pikirnya. Maka cepat ia menyambar dari atas, kedua tangannya bergerak dan dua orang pengawal itu roboh pingsan tanpa mereka tahu mengapa mereka begitu! Cepat sekali pukulan Tejolaksono tadi menampar di belakang telinga dua orang pengawal. Kemudian Tejolaksono berindap-indap menyelinap ke
pinggir bangunan dan tiba-tiba ia mendengar isak tertahan. Cepat ia menyelinap dekat dan mengintai dari celah-celah daun jendela. Dilihatnya Endang Patibroto menelungkup di atas pembaringan sambil menangis! Yang tampak hanyalah belakang tubuh wanita itu, pinggulnya yang menyendul dan pundaknya yang bergerak-gerak ketika terisak-isak memeluk bantal. Tejolaksono terpaku seperti berubah menjadi arca. Endang Patibroto menangis! Selama hidupnya belum pernah ia melihat Endang Patibroto menangis. Gadis yang dahulu menantang maut dengan keberanian yang tiada taranya, gadis yang keras hati keras kepala, yang berhati baja, kini menangis terisak-isak memeluk bantal seperti kebiasaan wanita-wanita cengeng. Apa artinya ini?

Namun, biarpun agaknya Endang Patibroto telah kehilangan kekerasan hatinya, jelas bahwa kewaspadaannya tidak berkurang. Hal ini diketahui terlambat oleh Tejolaksono ketika tiba-tiba dari dalam kamar itu, dari arah pembaringan Endang Patibroto, menyambar sinar terang menuju ke arah jendela, menerobos celah jendela dan tentu akan tepat mengenai muka Tejolaksono yang mengintai tadi kalau saja dia. tidak cepat miringkan muka dan mengulur tangan menyambar benda bersinar itu yang ternyata adalah sebatang anak panah. Panah tangan beracun senjata rahasia Endang Patibroto yang dahulu amat ditakuti lawan! Senjata rahasia ini pulalah yang dahulu pernah melukai Ayu Candra, isterinya! Tejolaksono terkejut dan hendak melompat ke dalam memperkenalkan diri, akan tetapi dari dalam kamar itu sudah terdengar bentakan suara Endang Patibroto,
"Pengawal! Tangkap penjahat!!"
Adipati Tejolaksono hendak melompat ke atas atap, akan tetapi tiba-tiba menyerbulah tiga orang pengawal. Dia cepat melompat ke tempat gelap dan seketika tiga orang pengawal itu menyerbu dengan senjata di tangan, ia mendorong dengan kedua tangan ke depan, melakukan pukulan jarak jauh.

<<< Bagian 021                                                                                    Bagian 023 >>>

No comments:

Post a Comment