Perawan Lembah Wilis; Bagian 021


Akan tetapi, melihat kesaktian yang mengerikan itu, sebagian besar para senopati sudah kuncup hatinya, hilang keberaniannya untuk menentang wanita sakti itu.
"Huah-ha-ha-hal Kehebatanmu membuat hati laki-laki menjadi kecil, Endang Patibroto. Eh, Mayangkurdo, apakah engkau juga tidak berani menguji kedigdayaan Endang Patibroto?"
Mayangkurdo mengangkat mukanya, memandang kepada Endang Patibroto. Senopati Blambangan berusia empat puluh tahun ini tidak pernah mengenal takut. Di dalam perang ia terkenal sebagai penyerbu terdepan dan jika pasukan terpaksa mengundurkan diri, selalu berada paling belakang. Dia adalah tokoh nomor dua di antara para senopati yang dikepalai oleh Ki Patih Kalanarmodo sendiri sebagai tokoh nomor satu. Kematian Haryo Baruno tadi tidak menimbulkan perasaan sesuatu dalam hatinya karena Mayangkurdo menganggap Haryo Baruno sebagai seorang bawahan yang tiada artinya. Dan di antara para senopati, yang tahu bahwa Endang Patibroto ini sebetulnya musuh besar sang adipati yang harus dibunuh, mengerti pula bahwa sang adipati menggunakan siasat halus, hanyalah Ki Patih Kalanarmodo, Mayangkurdo, dan Raden Sindupati bersama tangan kanannya, yaitu kakak beradik Klabangkoro dan Klabangmuko. Oleh karena itulah maka ia tidak merasa iri hati menyaksikan betapa Adipati Menak Linggo memuji-muji Endang Patibroto.
"Hamba bersedia untuk menguji kesaktian wanita perkasa Endang Patibroto!" katanya, maklum bahwa sang adipati selain hendak menyuruhnya menguji kesaktian, juga kalau mungkin membunuh wanita ini.
"Ha-ha-ha, bagus sekali, Mayangkurdo. Memang engkaulah yang pantas menandingi Endang Patibroto!" kata sang, adipati girang.

Ruangan persidangan itu cukup luas untuk bertanding ilmu dan para senopati sudah mundur untuk memberi tempat yang luas bagi kedua orang yang hendak mengadu ilmu. Endang Patibroto tersenyum, memandang calon lawannya dengan sinar mata penuh selidik. Melihat bentuk tubuh orang itu, ia dapat menduga bahwa Mayangkurdo memiliki tenaga yang amat besar, dan sikap orang ini yang tenang, pandang matanya yang tajam juga membayangkan kekuatan dalam yang tak boleh dipandang ringan. Namun tentu saja ia tidak takut dam sambil tersenyum ia berkata kepada calon lawannya,
"Majulah, Mayangkurdol"
"Baiklah, Endang Patibroto, kau hati-hatilah akan seranganku!" kata pula Mayangkurdo yang sudah menyembah sang adipati kemudian sekali tubuhnya bergerak, ia sudah meloncat dan berhadapan dengan Endang Patibroto. Mayangkurdo sudah memasang kuda-kuda. Kedua kakinya bersilang, lutut ditekuk sedikit sehingga tubuhnya yang pendek menjadi makin rendah, tangan diangkat melengkung melindungi kepala, tangan kanan dengan jari dikepal ditaruh di depan dada kiri, sebagian mukanya terhalang oleh lengan kiri dan sepasang matanya mengintai lawan dari bawah lengan kiri itu. Kuda-kudanya ini amat kuat dan kedudukan kedua lengannya merupakan perisai yang setiap saat dapat bergerak menangkis, akan tetapi juga mudah dirubah untuk menjadi gerak serangan dari atas dan bawah. Karena tubuhnya pendek, maka kuda-kuda inipun merupakan kuda-kuda segi empat yang kokoh kuat. Lawan akan sukar mencari lowongan atau sasaran yang mudah "dimasuki". Melihat kuda-kuda lawan ini, Endang Patibroto diam-diam memuji. Orang ini bertenaga kuat dan agaknya sudah menduga akan kesaktiannya maka memasang kuda-kuda yang menitik beratkan kepada pertahanan itu. Karena tidak mau gagal Endang Patibroto tidak tergesa-gesa. Pertandingan kali ini adalah pertandingan untuk menguji kedigdayaan, bukan perkelahian merebut kemenangan dengan taruhan nyawa. Kalau dalam perkelahian, ia tidak akan berlaku terlalu sungkan atau mengalah, tentu sudah digempurnya dengan gerak cepatnya, seperti yang telah ia lakukan pada diri Haryo Baruno tadi. Kemenangan sekali ini harus ia dapatkan tanpa membunuh lawan, paling-paling hanya merobohkan dan melukainya tanpa membahayakan keselamatan nyawa. Maka iapun lalu memasang kuda-kuda yang amat indah dipandang. Indah dan gagah. Ia berdiri miring dengan lawan di sebelah kanannya. Kaki kanan diangkat dengan paha lurus ke depan, lutut ditekuk, kaki lurus ke bawah. Kaki kiri tegak dan teguh. Lengan kanan diangkat, tangan kanan dengan jari-jari terbuka dan dikembangkan menghadap musuh, telapak tangan di atas dengan ibu jari ditekuk ke dalam. Tangan kiri dikepal, menempel di siku kanan. Matanya melirik ke kanan, ke arah lawan. Tubuhnya tak bergerak sama sekali, teguh dan kokoh kuat, namun indah seperti sebuah patung batu pualam, bibirnya yang merah membasah tersenyum mengejek.

Para senopati memandang tegang. Adipati Menak Linggo juga memandang penuh perhatian, mulutnya menyeringai matanya melotot, tubuhnya agak condong ke depan karena ia tidak ingin melewatkan sedikitpun gerakan pertandingan ini. Ruangan menjadi sunyi sekali, seakan tiada manusianya. Tiba-tiba Mayangkurdo bergerak, mula-mula yang tampak hanya getaran pundak dan betis, lalu terdengar ia berseru keras dan tubuhnya sudah menerjang maju bagaikan angin badai.
"Haaaaahhhhh!!" Tubuhnya yang segi empat itu seperti sebuah peluru menyambar ke depan, tangan kiri mencengkeram pundak lawan, tangan kanan menyusul dengan pukulan keras sekali ke arah perut.
"Hyaaaaattt !!" Seruan nyaring ini keluar dari mulut Endang Patibroto dan tubuhnya itu sudah melejit seperti seekor burung walet, menghindar ke kiri. Dengan membanting kaki kanan ke depan dan membalikkan tubuh, kini kaki kiri yang berbalik di depan. Ketika membalikkan tubuh tadi, cengkeraman lawan terelakkan, akan tetapi, pukulan lawan ditangkis dengan kepretan jari-jari tangan kiri yang menyambar dari atas ke bawah, menampar lengan kanan yang memukul perut itu dari atas ke bawah.
"Plakkk.............. !!”
"Aiiihhh !" Tubuh Mayangkurdo seperti diseret dan hampir saja ia terbanting kalau tidak cepat-cepat ia meloncat dan mematahkan tenaga yang mendorongnya. Kepretan jari-jari tangan yang lentik halus itu bukan sembarangan kiranya! Bukan sembarang tamparan, melainkan tamparan dengan jari-jari kecil halus yang penuh berisi "setrum" Aji Pethit Nogo! Mayangkurdo menjadi merah mukanya. Lengan kanan di bagian pergelangan yang tercium jari-jari tangan wanita itu terasa pedas dan panas. Ia sudah memasang kuda-kuda lagi, kini tubuhnya makin merendah sehingga kepalanya kira-kira setinggi dada Endang Patibroto. Di lain fihak, Endang Patibroto juga tertegun. Kepretan jari tangannya tadi hebat sekali dan jarang ada lawan dapat menahannya. Ia tadinya menaksir bahwa dengan pengerahan tenaga sakti Pethit Nogo, ia akan berhasil mematahkan lawan, atau setidaknya membuat lengan lawan keselio. Akan tetapi ternyata lawan ini hanya berseru kesakitan saja. Ketika ia memandang, pergelangan lawan itu jangankan patah, lecet atau bengkak pun tidak! Tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan lawan yang memiliki aji kekebalan yang lumayan kuatnya. Kembali ia memasang kuda-kuda, menanti lawan menerjang. Hanya dengan cara inilah ia mengharapkan dapat merobohkan lawan tanpa membunuhnya. Kalau dia yang mendahului menerjang, ia tidak percaya kepada dirinya sendiri, tahu bahwa aji-ajinya terlampau hebat untuk dibuat main-main. Ia khawatir kalau ia yang menyerang, lawannya ini akan terpukul mati dan hal ini sama sekali tidak ia kehendaki karena ia benar-benar ingin bersekutu dengan Blambangan agar maksud hatinya membalas dendam tercapai. Mayangkurdo seorang senopati yang tidak mengenal takut. Akan tetapi, gebrakan pertama membuat ia berhati-hati sekali, dan tidak mau gegabah menerjang lagi seperti tadi. Ia hanya memasang kuda-kuda, kemudian melihat lawan tak bergerak sedikitpun, ia merubah kuda-kuda sambil melangkah maju setindak mendekat. Endang Patibroto tersenyum. Ia maklum bahwa perubahan kuda-kuda lawan ini menempatkan ia dalam posisi terbuka dan lemah. Namun ia sengaja tidak merubah kuda-kudanya yang amat sederhana, yaitu kedua kaki lurus, tangan kiri miring di depan dada dengan jari terbuka, tangan kanan menempel di pusar, juga dengan jari terbuka. Kuda-kuda ini seperti kedudukan tangan orang yang sedang bersamadhi berlatih pembinaan tenaga dalam. Karena kini Mayangkurdo sudah merubah kuda-kudĂ  dan menggeser ke sebelah kirinya, maka tentu saja kedudukan Endang Patibroto menjadi lemah. Kuda-kuda wanita sakti ini hanya menutup bagian depan tubuh, kalau lawan berada di kirinya, tentu saja lambung, dan leher sebelah kirinya menjadi terbuka dan tidak terjaga. Namun ia sengaja diam saja untuk memberi kesempatan kepada lawan agar suka menyerang karena iapun dapat menduga bahwa lawan menjadi hati-hati dan tidak mau menyerang secara sembrono seperti tadi. Saat yang dinanti-nantinya datang. Lawan menerjang dengan dahsyat sekali dan amat cepatnya sehingga dalam gebrakan ini, Mayangkurdo sudah menyerangnya dengan tiga serangan hampir sekaligus, yaitu dengan kedua tangan menyerang lambung dan leher, disusul sabetan kaki kanan menyerimpung kakinya!

"Haiiiiittttt ......!!" Mayangkurdo berkelebat cepat sekali ketika menyerang sehingga bagi yang tidak dapat mengikuti gerakannya, melihat seolah-olah kedua lengannya lenyap menjadi bayangan menyambar.
“Iiiiihhhh!!” Endang Patibroto berseru perlahan dan.............. bagi Mayangkurdo, tubuh lawannya itu tiba-tiba saja lenyap sehingga tiga serangannya mengenai angin kosong! Barulah ia tahu ketika ada angin menyambar dari atas, cepat ia menangkis, namun kalah cepat karena pundaknya tiba-tiba disambar sesuatu yang lunak namun beratnya seperti Gunung Semeru menindih pundak. Ia merasa pundaknya seperti ambleg dan kedua kakinya menggigil dan tak dapat ia pertahankan lagi sehingga ia mendeprok berlutut! Kepalanya terasa pening, pandang matanya berkunang-kunang akan tetapi senopati yang tangguh ini belum juga roboh! Bagi orang lain yang menonton, mereka melongo ketika tadi melihat betapa tiba-tiba tubuh Endang Patibroto yang diserang dahsyat itu melambung tinggi melewati atas kepala Mayangkurdo dan dari atas, Endang Patibroto menggunakan tangan kirinya menghantam pundak lawan. Biarpun kelihatannya hanya menepuk perlahan, namun sesungguhnya telapak tangan kiri wanita sakti ini menggunakan Aji Gelap Musti yang ampuhnya menggila dan hebatnya seperti kilat menyambar. Sengaja Endang Patibroto tidak menggunakan Aji Pethit Nogo karena khawatir kalau-kalau ia akan meremukkan tulang pundak dan hal ini terlalu berat bagi lawan. Memang ada perbedaan antara semua aji yang dimiliki Endang Patibroto. Aji Pethit Nogo (Ekor Naga) keistimewaannya adalah hawa sakti yang memenuhi ujung-ujung jari tangan. Aji ini didapatnya dari kakeknya, Resi Bhargowo. Karena terdapat di ujung-ujung jari, maka digunakan sebagai tamparan atau kepretan dan jari-jari yang berubah menjadi sekuat ekor naga ini dapat meremukkan tulang-tulang yang tertampar. Adapun aji pukulan Gelap Musti (Tinju Petir) ini dapat dipergunakan dengan tangan terkepal atau hanya dengan telapak tangan yang penuh dengan getaran tenaga yang timbul dari hawa sakti. Pukulan ini selain terasa berat seperti tindihan gunung, juga mengandung hawa panas yang melumpuhkan lawan, akan tetapi sifatnya tidak "tajam" sehingga tidak membahayakan tulang seperti halnya Aji Pethit Nogo. Ada lagi ilmu pukulan hebat luar biasa yang dimiliki Endang Patibroto, yaitu yang disebut Aji Pukulan Wisangnala (Hati Beracun). Pukulan ini hanya dapat digunakan jika ia berada dalam keadaan marah dan sakit hati, jika ia bermaksud untuk membunuh lawan karena kemarahan yang hebatlah yang menjadi pendorong pukulan ini hingga menjadi pukulan beracun yang dapat menghanguskan isi rongga dada lawan! Ilmu-ilmu yang hebat ini ia dapatkan dari gurunya si manusia iblis Dibyo Mamangkoro!

Kembali Endang Patibroto tertegun. Pukulan yang ke dua itu, Gelap Musti, amat kuat dan ia tadinya mengharapkan memukul pingsan lawan. Akan tetapi siapa kira, lawannya hanya jatuh terduduk dan pening sejenak, terbukti dari kedua matanya yang dipejamkan. Kemudian tubuh pendek besar itu sudah meloncat bangun lagi seakan- akan tidak pernah terpukul aji yang ampuh!
"Hebat.............. !!" katanya di dalam hati. Kiranya Blambangan memiliki senopati-senopati yang begini kuat. Ia tahu bahwa dalam hal kekebalan, Mayangkurdo ini tentu jauh lebih menang daripada Raden Sindupati, sungguhpun dalam hal ilmu silat, si pendek besar ini masih kalah setingkat. Pada saat itu, Mayangkurdo yang sudah menjadi marah sekali, telah menerjangnya secara bertubi-tubi dan hebat. Kali ini, dari kerongkongan Mayangkurdo terdengar suara menggereng-gereng seperti seekor harimau terluka. Namun serangan yang cepat ini malah menggirangkan hati Endang Patibroto. Makin cepat lawan menyerang, makin baik baginya karena jangankan hanya dengan gerak cepat yang dimiliki Mayangkurdo seperti itu, andaikata Mayangkurdo memlliki yang berlipat ganda, takkan dapat menandingi gerak cepatnya dengan aji Bayu Tantra ditambah gerakan-gerakan burung walet dan camar yang ia pelajari dahulu di waktu kecilnya darI ibunya, Kartikosari! Makin cepat Mayangkurdo menyerang, makin cepat pula tubuh Endang Patibroto bergerak mengelak sehingga lenyaplah bentuk tubuhnya, berubah menjadi bayangan yang kerkelebat ke sana ke mari! Mayangkurdo menjadi pening kepalanya, pandang matanya berkunang-kunang karena ia merasa seakan-akan bertanding melawan bayangannya sendiri. Para senopati, termasuk juga Adipati Menak Linggo, memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Gentarlah rasa hati mereka. Kecuali Raden Sindupati yang menonton dengan pandang mata penuh kekaguman dan dengan hati makin berdebar penuh rasa cinta berahi.

<<< Bagian 020                                                                                   Bagian 022 >>>

No comments:

Post a Comment