Akan tetapi, melihat kesaktian yang mengerikan itu, sebagian besar para senopati sudah kuncup hatinya, hilang keberaniannya untuk menentang wanita sakti itu.
"Huah-ha-ha-hal
Kehebatanmu membuat hati laki-laki menjadi kecil, Endang Patibroto. Eh,
Mayangkurdo, apakah engkau juga tidak berani menguji kedigdayaan Endang
Patibroto?"
Mayangkurdo mengangkat
mukanya, memandang kepada Endang Patibroto. Senopati Blambangan berusia empat
puluh tahun ini tidak pernah mengenal takut. Di dalam perang ia terkenal
sebagai penyerbu terdepan dan jika pasukan terpaksa mengundurkan diri, selalu
berada paling belakang. Dia adalah tokoh nomor dua di antara para senopati yang
dikepalai oleh Ki Patih Kalanarmodo sendiri sebagai tokoh nomor satu. Kematian
Haryo Baruno tadi tidak menimbulkan perasaan sesuatu dalam hatinya karena
Mayangkurdo menganggap Haryo Baruno sebagai seorang bawahan yang tiada artinya.
Dan di antara para senopati, yang tahu bahwa Endang Patibroto ini sebetulnya
musuh besar sang adipati yang harus dibunuh, mengerti pula bahwa sang adipati
menggunakan siasat halus, hanyalah Ki Patih Kalanarmodo, Mayangkurdo, dan Raden
Sindupati bersama tangan kanannya, yaitu kakak beradik Klabangkoro dan
Klabangmuko. Oleh karena itulah maka ia tidak merasa iri hati menyaksikan
betapa Adipati Menak Linggo memuji-muji Endang Patibroto.
"Hamba bersedia untuk
menguji kesaktian wanita perkasa Endang Patibroto!" katanya, maklum bahwa
sang adipati selain hendak menyuruhnya menguji kesaktian, juga kalau mungkin
membunuh wanita ini.
"Ha-ha-ha, bagus
sekali, Mayangkurdo. Memang engkaulah yang pantas menandingi Endang
Patibroto!" kata sang, adipati girang.
Ruangan persidangan itu
cukup luas untuk bertanding ilmu dan para senopati sudah mundur untuk memberi
tempat yang luas bagi kedua orang yang hendak mengadu ilmu. Endang Patibroto
tersenyum, memandang calon lawannya dengan sinar mata penuh selidik. Melihat
bentuk tubuh orang itu, ia dapat menduga bahwa Mayangkurdo memiliki tenaga yang
amat besar, dan sikap orang ini yang tenang, pandang matanya yang tajam juga
membayangkan kekuatan dalam yang tak boleh dipandang ringan. Namun tentu saja
ia tidak takut dam sambil tersenyum ia berkata kepada calon lawannya,
"Majulah,
Mayangkurdol"
"Baiklah, Endang
Patibroto, kau hati-hatilah akan seranganku!" kata pula Mayangkurdo yang
sudah menyembah sang adipati kemudian sekali tubuhnya bergerak, ia sudah
meloncat dan berhadapan dengan Endang Patibroto. Mayangkurdo sudah memasang
kuda-kuda. Kedua kakinya bersilang, lutut ditekuk sedikit sehingga tubuhnya
yang pendek menjadi makin rendah, tangan diangkat melengkung melindungi kepala,
tangan kanan dengan jari dikepal ditaruh di depan dada kiri, sebagian mukanya
terhalang oleh lengan kiri dan sepasang matanya mengintai lawan dari bawah
lengan kiri itu. Kuda-kudanya ini amat kuat dan kedudukan kedua lengannya
merupakan perisai yang setiap saat dapat bergerak menangkis, akan tetapi juga
mudah dirubah untuk menjadi gerak serangan dari atas dan bawah. Karena tubuhnya
pendek, maka kuda-kuda inipun merupakan kuda-kuda segi empat yang kokoh kuat.
Lawan akan sukar mencari lowongan atau sasaran yang mudah "dimasuki".
Melihat kuda-kuda lawan ini, Endang Patibroto diam-diam memuji. Orang ini
bertenaga kuat dan agaknya sudah menduga akan kesaktiannya maka memasang
kuda-kuda yang menitik beratkan kepada pertahanan itu. Karena tidak mau gagal
Endang Patibroto tidak tergesa-gesa. Pertandingan kali ini adalah pertandingan
untuk menguji kedigdayaan, bukan perkelahian merebut kemenangan dengan taruhan
nyawa. Kalau dalam perkelahian, ia tidak akan berlaku terlalu sungkan atau
mengalah, tentu sudah digempurnya dengan gerak cepatnya, seperti yang telah ia
lakukan pada diri Haryo Baruno tadi. Kemenangan sekali ini harus ia dapatkan
tanpa membunuh lawan, paling-paling hanya merobohkan dan melukainya tanpa
membahayakan keselamatan nyawa. Maka iapun lalu memasang kuda-kuda yang amat
indah dipandang. Indah dan gagah. Ia berdiri miring dengan lawan di sebelah
kanannya. Kaki kanan diangkat dengan paha lurus ke depan, lutut ditekuk, kaki
lurus ke bawah. Kaki kiri tegak dan teguh. Lengan kanan diangkat, tangan kanan
dengan jari-jari terbuka dan dikembangkan menghadap musuh, telapak tangan di
atas dengan ibu jari ditekuk ke dalam. Tangan kiri dikepal, menempel di siku
kanan. Matanya melirik ke kanan, ke arah lawan. Tubuhnya tak bergerak sama
sekali, teguh dan kokoh kuat, namun indah seperti sebuah patung batu pualam,
bibirnya yang merah membasah tersenyum mengejek.
Para senopati memandang
tegang. Adipati Menak Linggo juga memandang penuh perhatian, mulutnya
menyeringai matanya melotot, tubuhnya agak condong ke depan karena ia tidak
ingin melewatkan sedikitpun gerakan pertandingan ini. Ruangan menjadi sunyi
sekali, seakan tiada manusianya. Tiba-tiba Mayangkurdo bergerak, mula-mula yang
tampak hanya getaran pundak dan betis, lalu terdengar ia berseru keras dan
tubuhnya sudah menerjang maju bagaikan angin badai.
"Haaaaahhhhh!!"
Tubuhnya yang segi empat itu seperti sebuah peluru menyambar ke depan, tangan
kiri mencengkeram pundak lawan, tangan kanan menyusul dengan pukulan keras
sekali ke arah perut.
"Hyaaaaattt !!"
Seruan nyaring ini keluar dari mulut Endang Patibroto dan tubuhnya itu sudah
melejit seperti seekor burung walet, menghindar ke kiri. Dengan membanting kaki
kanan ke depan dan membalikkan tubuh, kini kaki kiri yang berbalik di depan.
Ketika membalikkan tubuh tadi, cengkeraman lawan terelakkan, akan tetapi,
pukulan lawan ditangkis dengan kepretan jari-jari tangan kiri yang menyambar
dari atas ke bawah, menampar lengan kanan yang memukul perut itu dari atas ke
bawah.
"Plakkk..............
!!”
"Aiiihhh !" Tubuh
Mayangkurdo seperti diseret dan hampir saja ia terbanting kalau tidak
cepat-cepat ia meloncat dan mematahkan tenaga yang mendorongnya. Kepretan
jari-jari tangan yang lentik halus itu bukan sembarangan kiranya! Bukan
sembarang tamparan, melainkan tamparan dengan jari-jari kecil halus yang penuh
berisi "setrum" Aji Pethit Nogo! Mayangkurdo menjadi merah mukanya.
Lengan kanan di bagian pergelangan yang tercium jari-jari tangan wanita itu
terasa pedas dan panas. Ia sudah memasang kuda-kuda lagi, kini tubuhnya makin
merendah sehingga kepalanya kira-kira setinggi dada Endang Patibroto. Di lain
fihak, Endang Patibroto juga tertegun. Kepretan jari tangannya tadi hebat
sekali dan jarang ada lawan dapat menahannya. Ia tadinya menaksir bahwa dengan
pengerahan tenaga sakti Pethit Nogo, ia akan berhasil mematahkan lawan, atau
setidaknya membuat lengan lawan keselio. Akan tetapi ternyata lawan ini hanya
berseru kesakitan saja. Ketika ia memandang, pergelangan lawan itu jangankan
patah, lecet atau bengkak pun tidak! Tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan
lawan yang memiliki aji kekebalan yang lumayan kuatnya. Kembali ia memasang
kuda-kuda, menanti lawan menerjang. Hanya dengan cara inilah ia mengharapkan
dapat merobohkan lawan tanpa membunuhnya. Kalau dia yang mendahului menerjang,
ia tidak percaya kepada dirinya sendiri, tahu bahwa aji-ajinya terlampau hebat
untuk dibuat main-main. Ia khawatir kalau ia yang menyerang, lawannya ini akan
terpukul mati dan hal ini sama sekali tidak ia kehendaki karena ia benar-benar
ingin bersekutu dengan Blambangan agar maksud hatinya membalas dendam tercapai.
Mayangkurdo seorang senopati yang tidak mengenal takut. Akan tetapi, gebrakan
pertama membuat ia berhati-hati sekali, dan tidak mau gegabah menerjang lagi
seperti tadi. Ia hanya memasang kuda-kuda, kemudian melihat lawan tak bergerak
sedikitpun, ia merubah kuda-kuda sambil melangkah maju setindak mendekat.
Endang Patibroto tersenyum. Ia maklum bahwa perubahan kuda-kuda lawan ini
menempatkan ia dalam posisi terbuka dan lemah. Namun ia sengaja tidak merubah
kuda-kudanya yang amat sederhana, yaitu kedua kaki lurus, tangan kiri miring di
depan dada dengan jari terbuka, tangan kanan menempel di pusar, juga dengan
jari terbuka. Kuda-kuda ini seperti kedudukan tangan orang yang sedang
bersamadhi berlatih pembinaan tenaga dalam. Karena kini Mayangkurdo sudah
merubah kuda-kudĂ dan menggeser ke sebelah kirinya, maka tentu saja kedudukan
Endang Patibroto menjadi lemah. Kuda-kuda wanita sakti ini hanya menutup bagian
depan tubuh, kalau lawan berada di kirinya, tentu saja lambung, dan leher
sebelah kirinya menjadi terbuka dan tidak terjaga. Namun ia sengaja diam saja
untuk memberi kesempatan kepada lawan agar suka menyerang karena iapun dapat
menduga bahwa lawan menjadi hati-hati dan tidak mau menyerang secara sembrono
seperti tadi. Saat yang dinanti-nantinya datang. Lawan menerjang dengan dahsyat
sekali dan amat cepatnya sehingga dalam gebrakan ini, Mayangkurdo sudah
menyerangnya dengan tiga serangan hampir sekaligus, yaitu dengan kedua tangan
menyerang lambung dan leher, disusul sabetan kaki kanan menyerimpung kakinya!
"Haiiiiittttt
......!!" Mayangkurdo berkelebat cepat sekali ketika menyerang sehingga bagi
yang tidak dapat mengikuti gerakannya, melihat seolah-olah kedua lengannya
lenyap menjadi bayangan menyambar.
“Iiiiihhhh!!” Endang
Patibroto berseru perlahan dan.............. bagi Mayangkurdo, tubuh lawannya
itu tiba-tiba saja lenyap sehingga tiga serangannya mengenai angin kosong!
Barulah ia tahu ketika ada angin menyambar dari atas, cepat ia menangkis, namun
kalah cepat karena pundaknya tiba-tiba disambar sesuatu yang lunak namun
beratnya seperti Gunung Semeru menindih pundak. Ia merasa pundaknya seperti
ambleg dan kedua kakinya menggigil dan tak dapat ia pertahankan lagi sehingga
ia mendeprok berlutut! Kepalanya terasa pening, pandang matanya
berkunang-kunang akan tetapi senopati yang tangguh ini belum juga roboh! Bagi
orang lain yang menonton, mereka melongo ketika tadi melihat betapa tiba-tiba
tubuh Endang Patibroto yang diserang dahsyat itu melambung tinggi melewati atas
kepala Mayangkurdo dan dari atas, Endang Patibroto menggunakan tangan kirinya
menghantam pundak lawan. Biarpun kelihatannya hanya menepuk perlahan, namun
sesungguhnya telapak tangan kiri wanita sakti ini menggunakan Aji Gelap Musti
yang ampuhnya menggila dan hebatnya seperti kilat menyambar. Sengaja Endang
Patibroto tidak menggunakan Aji Pethit Nogo karena khawatir kalau-kalau ia akan
meremukkan tulang pundak dan hal ini terlalu berat bagi lawan. Memang ada
perbedaan antara semua aji yang dimiliki Endang Patibroto. Aji Pethit Nogo
(Ekor Naga) keistimewaannya adalah hawa sakti yang memenuhi ujung-ujung jari
tangan. Aji ini didapatnya dari kakeknya, Resi Bhargowo. Karena terdapat di
ujung-ujung jari, maka digunakan sebagai tamparan atau kepretan dan jari-jari
yang berubah menjadi sekuat ekor naga ini dapat meremukkan tulang-tulang yang
tertampar. Adapun aji pukulan Gelap Musti (Tinju Petir) ini dapat dipergunakan
dengan tangan terkepal atau hanya dengan telapak tangan yang penuh dengan
getaran tenaga yang timbul dari hawa sakti. Pukulan ini selain terasa berat
seperti tindihan gunung, juga mengandung hawa panas yang melumpuhkan lawan, akan
tetapi sifatnya tidak "tajam" sehingga tidak membahayakan tulang
seperti halnya Aji Pethit Nogo. Ada lagi ilmu pukulan hebat luar biasa yang
dimiliki Endang Patibroto, yaitu yang disebut Aji Pukulan Wisangnala (Hati
Beracun). Pukulan ini hanya dapat digunakan jika ia berada dalam keadaan marah
dan sakit hati, jika ia bermaksud untuk membunuh lawan karena kemarahan yang
hebatlah yang menjadi pendorong pukulan ini hingga menjadi pukulan beracun yang
dapat menghanguskan isi rongga dada lawan! Ilmu-ilmu yang hebat ini ia dapatkan
dari gurunya si manusia iblis Dibyo Mamangkoro!
Kembali Endang Patibroto
tertegun. Pukulan yang ke dua itu, Gelap Musti, amat kuat dan ia tadinya
mengharapkan memukul pingsan lawan. Akan tetapi siapa kira, lawannya hanya
jatuh terduduk dan pening sejenak, terbukti dari kedua matanya yang dipejamkan.
Kemudian tubuh pendek besar itu sudah meloncat bangun lagi seakan- akan tidak
pernah terpukul aji yang ampuh!
"Hebat..............
!!" katanya di dalam hati. Kiranya Blambangan memiliki senopati-senopati
yang begini kuat. Ia tahu bahwa dalam hal kekebalan, Mayangkurdo ini tentu jauh
lebih menang daripada Raden Sindupati, sungguhpun dalam hal ilmu silat, si
pendek besar ini masih kalah setingkat. Pada saat itu, Mayangkurdo yang sudah
menjadi marah sekali, telah menerjangnya secara bertubi-tubi dan hebat. Kali
ini, dari kerongkongan Mayangkurdo terdengar suara menggereng-gereng seperti
seekor harimau terluka. Namun serangan yang cepat ini malah menggirangkan hati
Endang Patibroto. Makin cepat lawan menyerang, makin baik baginya karena
jangankan hanya dengan gerak cepat yang dimiliki Mayangkurdo seperti itu,
andaikata Mayangkurdo memlliki yang berlipat ganda, takkan dapat menandingi
gerak cepatnya dengan aji Bayu Tantra ditambah gerakan-gerakan burung walet dan
camar yang ia pelajari dahulu di waktu kecilnya darI ibunya, Kartikosari! Makin
cepat Mayangkurdo menyerang, makin cepat pula tubuh Endang Patibroto bergerak
mengelak sehingga lenyaplah bentuk tubuhnya, berubah menjadi bayangan yang kerkelebat
ke sana ke mari! Mayangkurdo menjadi pening kepalanya, pandang matanya
berkunang-kunang karena ia merasa seakan-akan bertanding melawan bayangannya
sendiri. Para senopati, termasuk juga Adipati Menak Linggo, memandang dengan
mata terbelalak dan mulut ternganga.
Gentarlah rasa
hati mereka. Kecuali Raden Sindupati yang menonton dengan pandang mata penuh
kekaguman dan dengan hati makin berdebar penuh rasa cinta berahi.
No comments:
Post a Comment