Perawan Lembah Wilis; Bagian 020


Adipati Menak Linggo yang tinggi besar dan tubuhnya penuh bulu itu memiliki kekuatan yang dahsyat. Kabarnya, ketika gajah putih Dwipangga Seta yang didapatnya sebagai hadiah dari barat pada suatu hari mengamuk, kepalan tangan kanan Adipati Menak Linggo inilah yang menundukkannya, dengan sekali pukulan membikin pecah kepala gajah yang mengamuk itu sehingga tewas seketika! Di samping tenaganya yang dahsyat, adipati ini wataknya keras dan dengan tangannya sendiri, ponggawanya yang bersalah akan dipukulnya mati sekali pukul! Akan tetapi, di samping kekerasan terhadap yang salah, adipati ini terkenal royal dan pandai mengambil hati ponggawa-ponggawa yang pandai dan berjasa sehingga para ponggawa yang pandai suka mengabdi kepadanya. Sebagal contoh akan keroyalannya, karena melihat kesetiaan dan kepandaian Raden Sindupati, ia tidak saja membiarkan Raden Sindupati bermain gila dengan selir-selirnya yang cantik- cantik dan banyak jumlahnya, bahkan ia menyerahkan seorang di antara puteri-puteri selirnya yang baru berusia lima belas tahun untuk diselir oleh Raden Sindupati yang tak pernah mempunyai isteri. Banyak sekali senopati-senopati yang sakti mandraguna dan pandai memimpin tentara bekerja di Blambangan. Selain Raden Sindupatl yang selain sakti juga amat pandai bersiasat dan dua bersaudara Klabangkoro dan Klabangmuko yang kuat dan setia, masih terdapat banyak senopati-senopati yang sakti, di antaranya yang paling menyolok adalah Ki Patih Kalanarmodo, Patih Blambangan yang masih tunggal guru dengan Adipati Menak Linggo. Kalau sang adipati berusia lima puluh tahun dan bertubuh tinggi besar, ki patih ini usianya lebih tua lima tahun, tubuhnya tinggi kurus dan kelihatan seperti orang berpenyakitan. Akan tetapi kalau orang sudah menyaksikan tandangnya (sepak terjangnya), dia akan terkejut sekali. Ki patih ini adalah seorang yang amat ahli dalam air. Ia pandai berenang seperti seekor ikan hiu, kuat sampai lama sekali menyelam dalam air dan pandai mengatur barisan yang bergerak di atas perahu-perahu. Berkat kepandaian ki patih inilah maka beberapa kali barisan Bali yang menyerang melalui laut, selalu mengalami kegagalan. Selain ahli dalam hal itu, juga ki patih ini memiliki tubuh yang licin seperti belut. Kabarnya, dia tidak dapat dibelenggu, tidak dapat dirantai. Betapapun kuat orang merantai dan mengikatnya, tubuhnya yang licin seperti belut itu pasti akan dapat terlepas dalam waktu singkat! Orang ke dua yang terkenal sekali dalam barisan senopati Blambangan adalah Mayangkurdo. Senopati Blambangan ini adalah seorang peranakan Bali, tubuhnya besar sekali akan tetapi pendek sehingga kelihatan persegi empat! Kekuatannya amat mengagumkan dan selain kuat, iapun kebal tidak termakan senjata tajam dan runcing.

"Huah-hah-ha-ha-ha! Bagus, bagus ...... ! Aaahh, wong denok ayu yang gagah perkasa! Endang Patibroto yang sakti manraguna! Aha, sudah lama sekali aku mendengar tentang dirimu yang amat mengagumkan! Bagus, andika suka datang bersama Sindupati senopatiku yang setia. Bagus sekali! Sudah kudengar pelaporan juru berita tentang malapetaka yang menimpa dirimu. Waaahhh! Memang Raja Jenggala itu seorang manusia tak berjantung! Tega membunuh putera sendiri dan menjatuhkan fitnah keji kepada seorang puteri mantu yang begini denok, begini perkasa! Keparat! Dan apa pula itu Raja Panjalu! Halus mulus seperti wanita! Tidak patut! Tidak patut! Harus dihancurkan Jenggala dan Panjalu, dibumihanguskan disamaratakan dengan bumi. Eh, sang puteri, Endang Patibroto. Katakanlah, apa kehendakmu sekarang setelah andika menghadap di depanku, heh?"
Ucapan sang adipati ini kasar sekali, akan tetapi Endang Patibroto sudah biasa dengan sikap dan ucapan kasar. Gurunya dahulu, Dibyo Mamangkoro, lebih kasar daripada adipati ini. Dahulu, dalam pergaulannya dengan gurunya dan anak buah gurunya, semua laki-laki itu kasar dan tidak sopan, akan tetapi di dalam kekasaran mereka itu ia melihat suatu keindahan, yaitu keindahan daripada sikap jantan yang terus terang dan jujur polos! Karena itulah maka kini ia menilai sang adipati dengan kesan yang baik pula, menganggap bahwa Adipati Menak Linggo inipun tentu seorang kasar yang jujur! Endang Patibroto sama sekali tidak tahu bahwa kekasaran sikap seorang laki-laki tidak dapat dijadikan ukuran bahwa ia jujur dan setia! Ia sama sekali tidak tahu, bahkan mendugapun tidak bahwa di balik kekasaran watak Sang Adipati Blambangan ini tersembunyi kecerdikan dan kepalsuan yang mengerikan!
Teringat akan persamaan watak adipati ini dengan gurunya, Endang Patibroto tersenyum. Disebut wong denok ayu oleh seorang bersikap seperti ini tidaklah menyakitkan hati, bahkan menyenangkan karena ia tahu bahwa di balik sebutan yang amat bebas dan berani ini tidak tersembunyi maksud buruk. Andaikata orang lain yang menyebutnya demikian, dengan sikap mencumbu atau berkurang ajar, tentu tanpa banyak cakap lagi ia akan turun tangan menghajarnya, mungkin membunuhnya!
"Adipati Menak Linggo, hatikupun lega melihat dan bertemu denganmu. Kau bertanya tentang kehendakku datang ke Blambangan dan bertemu denganmu? Sudah jelas dan agaknya Raden Sindupati sudah menyampaikan pelaporan kepadamu bahwa aku ingin sekali membalas dendam atas kematian suamiku dan atas pencemaran nama baikku. Karena itu, mendengar bahwa engkau berhasrat hendak menyerang Jenggala, maka aku ingin bekerja sama denganmu. Aku ingin menjadi senopati jika bala tentaramu menyerang Jenggala."
"Huah-ha-ha-ha-ha! Hebat engkau! Hebat sekali! Siapa menyangka bahwa dalam tubuh yang denok ayu, di balik wajah yang cantik jelita, seperti Dewi Sri, bersembunyi semangat yang membara! Bagus, bagus! Mulai saat ini, anggaplah dirimu sendiri sebagai senopatiku! Ha-ha-ha-ha! Di mana di dunia ini ada seorang adipati yang mempunyai seorang senopati begini hebat, begini bahenol (denok)? Eh, senopatiku yang denok, tahukah engkau syarat menjadi senopati?"
"Adipati, di waktu aku baru berusia belasan tahun, aku sudah pernah menjadi senopati Kerajaan Jenggala! Tentu saja syarat seorang senopati harus pandai mengatur barisan, harus memiliki kesaktian dan keberanian, dan harus setia."
Tentu saja Sang Adipati Menak Linggo tahu akan kesemuanya itu. Ia tahu betul siapa wanita di depannya ini. Tahu bahwa wanita sakti inilah yang menggegerkan Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Wanita inilah yang membunuhi orang orang perkasa, dan yang amat menyakitkan hatinya adalah terbunuhnya pamannya, yaitu Bhagawan Kundilomuko di tangan wanita ini! Akan tetapi semua ini hanya terkandung di dalam hati Sang Adipati Menak Linggo, sedangkan pada wajahnya yang penuh cambang bauk itu tidak tampak sesuatu kecuali ketawa riang gembira.
"Heh-heh, bagus-bagus! Memang itulah syaratnya, akan tetapi bagaimana aku tahu bahwa kesaktianmu yang tersohor luar biasa itu benar-benar dapat mengatasi semua senopatiku? Ha-ha-ha, ketahuilah, Endang Patibroto senopatiku, di Blambangan ini aku mempunyai banyak sekali senopati yang sakti mandraguna! Dan perang terhadap Jenggala dan Panjalu adalah perang besar yang tidak ringan. Aku sendiri harus maju dan tentu saja yang menjadi senopati beryuda (berperang) harus yang terbaik di antara semua senopatiku!"

Merah kedua pipi yang halus seperti lilin itu. Endang Patibroto yang masih berdiri di depan Adipati Menak Linggo yang duduk, kini menyapu ruangan paseban itu dengan pandang matanya. Ia memandang setiap orang yang hadir, yang duduk bersila di atas lantai. Mereka yang bertemu pandang dengan mata Endang Patibroto, melihat sinar mata yang tajam seperti ujung keris pusaka, yang mengandung cahaya panas berahi, yang amat berwibawa dan yang jelas membayangkan keberanian yang mengerikan. Banyak di antara para ponggawa yang hadir, tak dapat lama-lama menentang pandang mata seperti itu, ada yang menunduk, dan ada pula yang memaksa bertahan untuk akhirnya berkedip-kedip!
"Adipati Menak Linggo! Untuk membuktikan kesanggupanku, aku bersedia melayani semua senopatimu untuk bertanding kedigdayaan!"
"Huah-hah-hah-hah!" Adipati Menak Linggo menoleh ke kanan kiri, memandangi para senopatinya. sambil terkekeh-kekeh.
"Para senopatiku ditantang! Ditantang bertanding kedigdayaan oleh seorang wanita cantik jelita! Hah-ha-ha- ha, apakah ini tidak menggelikan? Hayo, siapa yang berani??"
Seorang di antara para senopati Blambangan itu adalah seorang yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun, wajahnya tampan, tubuhnya sedang akan tetapi wajahnya agak pucat dan matanya kemerahan penuh nafsu berahi. Pemuda ini seorang senopati yang terkenal pandai bermain panah, namanya Haryo Baruno. Di samping ahli bermain panah, juga dia seorang ahli bermain asmara! Semacam Raden Sindupati akan tetapi lebih parah lagi. Kalau Raden Sindupati mencari korban nafsunya di antara para puteri, adalah Haryo Baruno ini begitu mata keranjangnya sehingga siapa saja, asal dia wanita masih muda dan tidak cacad, tentu tidak terlepas daripada incaran dan godaannya. Semenjak tadi ia melihat tubuh belakang Endang Patibroto dan jantungnya sudah jungkir-balik tidak karuan. Berkali-kali kalamenjingnya bergerak turun naik ketika ia menelan ludah saking besarnya dorongan hasrat dan gairah nafsu berahinya. Baru melihat bentuk pinggul itu saja, ia sudah tergila-gila, apalagi ketika Endang Patibroto memutar tubuh dan tampak wajahnya. Haryo Baruno melongo dan pandang matanya seakan hendak menelan Endang Patibroto bulat-bulat! Ia baru sekali ini melihat dan mendengar nama Endang Patibroto maka tentu saja akan kesaktian yang dipuji-puji setinggi langit oleh Adipati Menak Linggo, ia sama sekali tidak memandang sebelah mata. Kini, begitu melihat kesempatan untuk mempermainkan Endang Patibroto seperti yang biasa ia lakukan terhadap setiap wanita, berkatalah ia cepat-cepat sebelum lain orang ada yang mendahuluinya,
"Gusti adipati, hamba rasa amatlah sayang kalau kulit yang begitu halus menjadi lecet dalam bermain yuda! Hamba berani menantangnya mengadu kelincahan. Kalau dia dapat mengelak semua usaha hamba untuk memeluk dan menciumnya, hamba akan mengaku kalah dan tidak berkeberatan dia menjadi senopati perang, yaitu setelah lima kali hamba menubruknya. Akan tetapi, kalau sampai dapat terpeluk dan tercium oleh hamba sang dewi yang jelita ini harus menemani hamba, tidur selama.............. aaauuuuggghhh .............. !!"
Tahu-tahu tubuh Haryo Baruno terlempar sampai menabrak dinding ruangan itu dan ketika tubuhnya terbanting ke atas lantai, darah mengalir dari telinga, mulut, hidung dan mata. Kepalanya telah pecah dan tewas seketika! Semua orang melongo, terbelalak dan kaget sekali. Mereka tadi hanya melihat tubuh Endang Patibroto bergerak ke arah Haryo Baruno dan tangan kanan wanita itu bergerak menghantam. Tahu-tahu senopati muda itu telah terlempar dan tewas dalam keadaan begitu mengerikan. Bahkan Adipati Menak Linggo sendiri merasa kaget dan ngeri. Bukan main hebatnya wanita ini. Pantas saja pamannya yang sakti, Bhagawan Kundilomuko, tewas di tangan wanita ini. Juga sekutu utusannya, Sang Wiku Kalawisesa juga tewas di tangannya!

"Eh....... hoh-hoh••••••• kenapa.. ..... ? Kenapa kau membunuh seorang senopatiku begitu saja di hadapanku, Endang Patlbroto?"
Baru sekali ini sejak tadi sang adipati tidak tertawa, mukanya yang penuh cambang bauk itu kemerahan, matanya melotot lebih lebar lagi dan air ludahnya muncrat-muncrat ketika ia menegur. Endang Patibroto yang tadi menghajar mampus Haryo Baruno dengan gerak Bayu Tantra dilanjutkan pukulan Pethit Nogo kemudian secepat kilat melayang kembali ke tempatnya yang tadi, perlahan-lahan memutar tumit kakinya menghadapi sang adipati. Bibir yang manis itu tersenyum dan orang yang sudah mengenal watak Endang Patibroto sebelum menjadi isteri Pangeran Panjirawit, senyum ini amat mengerikan. Makin manis senyum Endang Patibroto seperti itu, makin berbahayalah dia karena senyum ini menyembunyikan gelora hati yang marah!
"Adipati Menak Linggo, maafkan kalau aku telah mengotori ruangan persidanganmu, akan tetapi aku tidak bisa membiarkan seorang macam dia menghinaku. Siapapun orangnya, kalau berani mengucapkan kata-kata kotor menghina seperti itu kepadaku, tentu akan kubunuh, di manapun ia berada dan bilamanapun!"
Adipati Menak Linggo termenung sebentar, mengerutkan alisnya yang tebal sekali, kemudian bertanya,
"Kalau ada senopati hendak mengujimu, apakah kaupun akan turun tangan membunuhnya?"
Endang Patibroto menggeleng kepala.
"Tentu saja tidak. Bertanding mengadu kedigdayaan bukanlah pertandingan mengadu nyawa. Penghinaan berbeda lagi, harus dibalas dengan kematian. Sampai di mana harga diri seorang wanita kalau membiarkan dirinya diperhina laki-laki seperti yang dikeluarkan dari mulut laki-laki keparat itu tadi?"
Adipati Menak Linggo mengangguk-angguk, kemudian sudah menyeringai tertawa lagi, menggerakkan tangan kepada para pengawal,
"Sudah, lekas bawa keluar mayat itu!"
Para senopati yang hadir di situ diam-diam menjadi marah sekali terhadap Endang Patibroto. Kemarahan yang tadinya timbul oleh rasa iri hati menyaksikan betapa junjungan mereka memuji-muji dan menghormat Endang Patibroto secara berlebihan. Semua senopati menghadap sambil duduk di lantai, akan tetapi wanita ini berdiri saja dan sama sekali tidak menghormat Adipati Menak Linggo. Kemarahan mereka makin menjadi oleh pembunuhan yang dilakukan Endang Patibroto terhadap Haryo Baruno.

<<< Bagian 019                                                                                     Bagian 021 >>>

No comments:

Post a Comment