Adipati Menak Linggo yang tinggi besar dan tubuhnya penuh bulu itu memiliki kekuatan yang dahsyat. Kabarnya, ketika gajah putih Dwipangga Seta yang didapatnya sebagai hadiah dari barat pada suatu hari mengamuk, kepalan tangan kanan Adipati Menak Linggo inilah yang menundukkannya, dengan sekali pukulan membikin pecah kepala gajah yang mengamuk itu sehingga tewas seketika! Di samping tenaganya yang dahsyat, adipati ini wataknya keras dan dengan tangannya sendiri, ponggawanya yang bersalah akan dipukulnya mati sekali pukul! Akan tetapi, di samping kekerasan terhadap yang salah, adipati ini terkenal royal dan pandai mengambil hati ponggawa-ponggawa yang pandai dan berjasa sehingga para ponggawa yang pandai suka mengabdi kepadanya. Sebagal contoh akan keroyalannya, karena melihat kesetiaan dan kepandaian Raden Sindupati, ia tidak saja membiarkan Raden Sindupati bermain gila dengan selir-selirnya yang cantik- cantik dan banyak jumlahnya, bahkan ia menyerahkan seorang di antara puteri-puteri selirnya yang baru berusia lima belas tahun untuk diselir oleh Raden Sindupati yang tak pernah mempunyai isteri. Banyak sekali senopati-senopati yang sakti mandraguna dan pandai memimpin tentara bekerja di Blambangan. Selain Raden Sindupatl yang selain sakti juga amat pandai bersiasat dan dua bersaudara Klabangkoro dan Klabangmuko yang kuat dan setia, masih terdapat banyak senopati-senopati yang sakti, di antaranya yang paling menyolok adalah Ki Patih Kalanarmodo, Patih Blambangan yang masih tunggal guru dengan Adipati Menak Linggo. Kalau sang adipati berusia lima puluh tahun dan bertubuh tinggi besar, ki patih ini usianya lebih tua lima tahun, tubuhnya tinggi kurus dan kelihatan seperti orang berpenyakitan. Akan tetapi kalau orang sudah menyaksikan tandangnya (sepak terjangnya), dia akan terkejut sekali. Ki patih ini adalah seorang yang amat ahli dalam air. Ia pandai berenang seperti seekor ikan hiu, kuat sampai lama sekali menyelam dalam air dan pandai mengatur barisan yang bergerak di atas perahu-perahu. Berkat kepandaian ki patih inilah maka beberapa kali barisan Bali yang menyerang melalui laut, selalu mengalami kegagalan. Selain ahli dalam hal itu, juga ki patih ini memiliki tubuh yang licin seperti belut. Kabarnya, dia tidak dapat dibelenggu, tidak dapat dirantai. Betapapun kuat orang merantai dan mengikatnya, tubuhnya yang licin seperti belut itu pasti akan dapat terlepas dalam waktu singkat! Orang ke dua yang terkenal sekali dalam barisan senopati Blambangan adalah Mayangkurdo. Senopati Blambangan ini adalah seorang peranakan Bali, tubuhnya besar sekali akan tetapi pendek sehingga kelihatan persegi empat! Kekuatannya amat mengagumkan dan selain kuat, iapun kebal tidak termakan senjata tajam dan runcing.
"Huah-hah-ha-ha-ha!
Bagus, bagus ...... ! Aaahh, wong denok ayu yang gagah perkasa! Endang
Patibroto yang sakti manraguna! Aha, sudah lama sekali aku mendengar tentang
dirimu yang amat mengagumkan! Bagus, andika suka datang bersama Sindupati
senopatiku yang setia. Bagus sekali! Sudah kudengar pelaporan juru berita
tentang malapetaka yang menimpa dirimu. Waaahhh! Memang Raja Jenggala itu
seorang manusia tak berjantung! Tega membunuh putera sendiri dan menjatuhkan
fitnah keji kepada seorang puteri mantu yang begini denok, begini perkasa!
Keparat! Dan apa pula itu Raja Panjalu! Halus mulus seperti wanita! Tidak
patut! Tidak patut! Harus dihancurkan Jenggala dan Panjalu, dibumihanguskan
disamaratakan dengan bumi. Eh, sang puteri, Endang Patibroto. Katakanlah, apa
kehendakmu sekarang setelah andika menghadap di depanku, heh?"
Ucapan sang adipati ini
kasar sekali, akan tetapi Endang Patibroto sudah biasa dengan sikap dan ucapan
kasar. Gurunya dahulu, Dibyo Mamangkoro, lebih kasar daripada adipati ini.
Dahulu, dalam pergaulannya dengan gurunya dan anak buah gurunya, semua
laki-laki itu kasar dan tidak sopan, akan tetapi di dalam kekasaran mereka itu
ia melihat suatu keindahan, yaitu keindahan daripada sikap jantan yang terus
terang dan jujur polos! Karena itulah maka kini ia menilai sang adipati dengan
kesan yang baik pula, menganggap bahwa Adipati Menak Linggo inipun tentu
seorang kasar yang jujur! Endang Patibroto sama sekali tidak tahu bahwa
kekasaran sikap seorang laki-laki tidak dapat dijadikan ukuran bahwa ia jujur
dan setia! Ia sama sekali tidak tahu, bahkan mendugapun tidak bahwa di balik
kekasaran watak Sang Adipati Blambangan ini tersembunyi kecerdikan dan
kepalsuan yang mengerikan!
Teringat akan persamaan
watak adipati ini dengan gurunya, Endang Patibroto tersenyum. Disebut wong
denok ayu oleh seorang bersikap seperti ini tidaklah menyakitkan hati, bahkan
menyenangkan karena ia tahu bahwa di balik sebutan yang amat bebas dan berani
ini tidak tersembunyi maksud buruk. Andaikata orang lain yang menyebutnya
demikian, dengan sikap mencumbu atau berkurang ajar, tentu tanpa banyak cakap
lagi ia akan turun tangan menghajarnya, mungkin membunuhnya!
"Adipati Menak Linggo,
hatikupun lega melihat dan bertemu denganmu. Kau bertanya tentang kehendakku
datang ke Blambangan dan bertemu denganmu? Sudah jelas dan agaknya Raden
Sindupati sudah menyampaikan pelaporan kepadamu bahwa aku ingin sekali membalas
dendam atas kematian suamiku dan atas pencemaran nama baikku. Karena itu,
mendengar bahwa engkau berhasrat hendak menyerang Jenggala, maka aku ingin
bekerja sama denganmu. Aku ingin menjadi senopati jika bala tentaramu menyerang
Jenggala."
"Huah-ha-ha-ha-ha!
Hebat engkau! Hebat sekali! Siapa menyangka bahwa dalam tubuh yang denok ayu,
di balik wajah yang cantik jelita, seperti Dewi Sri, bersembunyi semangat yang
membara! Bagus, bagus! Mulai saat ini, anggaplah dirimu sendiri sebagai
senopatiku! Ha-ha-ha-ha! Di mana di dunia ini ada seorang adipati yang
mempunyai seorang senopati begini hebat, begini bahenol (denok)? Eh, senopatiku
yang denok, tahukah engkau syarat menjadi senopati?"
"Adipati, di waktu aku
baru berusia belasan tahun, aku sudah pernah menjadi senopati Kerajaan
Jenggala! Tentu saja syarat seorang senopati harus pandai mengatur barisan,
harus memiliki kesaktian dan keberanian, dan harus setia."
Tentu saja Sang Adipati
Menak Linggo tahu akan kesemuanya itu. Ia tahu betul siapa wanita di depannya
ini. Tahu bahwa wanita sakti inilah yang menggegerkan Kerajaan Jenggala dan
Panjalu. Wanita inilah yang membunuhi orang orang perkasa, dan yang amat
menyakitkan hatinya adalah terbunuhnya pamannya, yaitu Bhagawan Kundilomuko di
tangan wanita ini! Akan tetapi semua ini hanya terkandung di dalam hati Sang
Adipati Menak Linggo, sedangkan pada wajahnya yang penuh cambang bauk itu tidak
tampak sesuatu kecuali ketawa riang gembira.
"Heh-heh, bagus-bagus!
Memang itulah syaratnya, akan tetapi bagaimana aku tahu bahwa kesaktianmu yang
tersohor luar biasa itu benar-benar dapat mengatasi semua senopatiku? Ha-ha-ha,
ketahuilah, Endang Patibroto senopatiku, di Blambangan ini aku mempunyai banyak
sekali senopati yang sakti mandraguna! Dan perang terhadap Jenggala dan Panjalu
adalah perang besar yang tidak ringan. Aku sendiri harus maju dan tentu saja
yang menjadi senopati beryuda (berperang) harus yang terbaik di antara semua
senopatiku!"
Merah kedua pipi yang halus
seperti lilin itu. Endang Patibroto yang masih berdiri di depan Adipati Menak
Linggo yang duduk, kini menyapu ruangan paseban itu dengan pandang matanya. Ia
memandang setiap orang yang hadir, yang duduk bersila di atas lantai. Mereka
yang bertemu pandang dengan mata Endang Patibroto, melihat sinar mata yang
tajam seperti ujung keris pusaka, yang mengandung cahaya panas berahi, yang
amat berwibawa dan yang jelas membayangkan keberanian yang mengerikan. Banyak
di antara para ponggawa yang hadir, tak dapat lama-lama menentang pandang mata
seperti itu, ada yang menunduk, dan ada pula yang memaksa bertahan untuk
akhirnya berkedip-kedip!
"Adipati Menak Linggo!
Untuk membuktikan kesanggupanku, aku bersedia melayani semua senopatimu untuk
bertanding kedigdayaan!"
"Huah-hah-hah-hah!"
Adipati Menak Linggo menoleh ke kanan kiri, memandangi para senopatinya. sambil
terkekeh-kekeh.
"Para senopatiku
ditantang! Ditantang bertanding kedigdayaan oleh seorang wanita cantik jelita!
Hah-ha-ha- ha, apakah ini tidak menggelikan? Hayo, siapa yang berani??"
Seorang di antara para
senopati Blambangan itu adalah seorang yang usianya kurang lebih tiga puluh
lima tahun, wajahnya tampan, tubuhnya sedang akan tetapi wajahnya agak pucat
dan matanya kemerahan penuh nafsu berahi. Pemuda ini seorang senopati yang
terkenal pandai bermain panah, namanya Haryo Baruno. Di samping ahli bermain
panah, juga dia seorang ahli bermain asmara! Semacam Raden Sindupati akan
tetapi lebih parah lagi. Kalau Raden Sindupati mencari korban nafsunya di
antara para puteri, adalah Haryo Baruno ini begitu mata keranjangnya sehingga
siapa saja, asal dia wanita masih muda dan tidak cacad, tentu tidak terlepas
daripada incaran dan godaannya. Semenjak tadi ia melihat tubuh belakang Endang
Patibroto dan jantungnya sudah jungkir-balik tidak karuan. Berkali-kali
kalamenjingnya bergerak turun naik ketika ia menelan ludah saking besarnya
dorongan hasrat dan gairah nafsu berahinya. Baru melihat bentuk pinggul itu
saja, ia sudah tergila-gila, apalagi ketika Endang Patibroto memutar tubuh dan
tampak wajahnya. Haryo Baruno melongo dan pandang matanya seakan hendak menelan
Endang Patibroto bulat-bulat! Ia baru sekali ini melihat dan mendengar nama
Endang Patibroto maka tentu saja akan kesaktian yang dipuji-puji setinggi
langit oleh Adipati Menak Linggo, ia sama sekali tidak memandang sebelah mata.
Kini, begitu melihat kesempatan untuk mempermainkan Endang Patibroto seperti
yang biasa ia lakukan terhadap setiap wanita, berkatalah ia cepat-cepat sebelum
lain orang ada yang mendahuluinya,
"Gusti adipati, hamba
rasa amatlah sayang kalau kulit yang begitu halus menjadi lecet dalam bermain
yuda! Hamba berani menantangnya mengadu kelincahan. Kalau dia dapat mengelak
semua usaha hamba untuk memeluk dan menciumnya, hamba akan mengaku kalah dan
tidak berkeberatan dia menjadi senopati perang, yaitu setelah lima kali hamba
menubruknya. Akan tetapi, kalau sampai dapat terpeluk dan tercium oleh hamba
sang dewi yang jelita ini harus menemani hamba, tidur selama..............
aaauuuuggghhh .............. !!"
Tahu-tahu tubuh Haryo Baruno
terlempar sampai menabrak dinding ruangan itu dan ketika tubuhnya terbanting ke
atas lantai, darah mengalir dari telinga, mulut, hidung dan mata. Kepalanya
telah pecah dan tewas seketika! Semua orang melongo, terbelalak dan kaget
sekali. Mereka tadi hanya melihat tubuh Endang Patibroto bergerak ke arah Haryo
Baruno dan tangan kanan wanita itu bergerak menghantam. Tahu-tahu senopati muda
itu telah terlempar dan tewas dalam keadaan begitu mengerikan. Bahkan Adipati
Menak Linggo sendiri merasa kaget dan ngeri. Bukan main hebatnya wanita ini.
Pantas saja pamannya yang sakti, Bhagawan Kundilomuko, tewas di tangan wanita
ini. Juga sekutu utusannya, Sang Wiku Kalawisesa juga tewas di tangannya!
"Eh.......
hoh-hoh••••••• kenapa.. ..... ? Kenapa kau membunuh seorang senopatiku begitu
saja di hadapanku, Endang Patlbroto?"
Baru sekali ini sejak tadi
sang adipati tidak tertawa, mukanya yang penuh cambang bauk itu kemerahan,
matanya melotot lebih lebar lagi dan air ludahnya muncrat-muncrat ketika ia
menegur. Endang Patibroto yang tadi menghajar mampus Haryo Baruno dengan gerak
Bayu Tantra dilanjutkan pukulan Pethit Nogo kemudian secepat kilat melayang
kembali ke tempatnya yang tadi, perlahan-lahan memutar tumit kakinya menghadapi
sang adipati. Bibir yang manis itu tersenyum dan orang yang sudah mengenal
watak Endang Patibroto sebelum menjadi isteri Pangeran Panjirawit, senyum ini
amat mengerikan. Makin manis senyum Endang Patibroto seperti itu, makin
berbahayalah dia karena senyum ini menyembunyikan gelora hati yang marah!
"Adipati Menak Linggo,
maafkan kalau aku telah mengotori ruangan persidanganmu, akan tetapi aku tidak
bisa membiarkan seorang macam dia menghinaku. Siapapun orangnya, kalau berani
mengucapkan kata-kata kotor menghina seperti itu kepadaku, tentu akan kubunuh,
di manapun ia berada dan bilamanapun!"
Adipati Menak Linggo
termenung sebentar, mengerutkan alisnya yang tebal sekali, kemudian bertanya,
"Kalau ada senopati
hendak mengujimu, apakah kaupun akan turun tangan membunuhnya?"
Endang Patibroto menggeleng
kepala.
"Tentu saja tidak.
Bertanding mengadu kedigdayaan bukanlah pertandingan mengadu nyawa. Penghinaan
berbeda lagi, harus dibalas dengan kematian. Sampai di mana harga diri seorang
wanita kalau membiarkan dirinya diperhina laki-laki seperti yang dikeluarkan
dari mulut laki-laki keparat itu tadi?"
Adipati Menak Linggo
mengangguk-angguk, kemudian sudah menyeringai tertawa lagi, menggerakkan tangan
kepada para pengawal,
"Sudah, lekas bawa
keluar mayat itu!"
Para senopati
yang hadir di situ diam-diam menjadi marah sekali terhadap Endang Patibroto.
Kemarahan yang tadinya timbul oleh rasa iri hati menyaksikan betapa junjungan
mereka memuji-muji dan menghormat Endang Patibroto secara berlebihan. Semua
senopati menghadap sambil duduk di lantai, akan tetapi wanita ini berdiri saja
dan sama sekali tidak menghormat Adipati Menak Linggo. Kemarahan mereka makin
menjadi oleh pembunuhan yang dilakukan Endang Patibroto terhadap Haryo Baruno.
No comments:
Post a Comment