Perawan Lembah Wilis; Bagian 019


Kemudian ia teringat. Bukankah kerajaan Adipati Nusabarung mempunyai sekutu yang amat besar dan kuat? Adipati di Blambangan! Ya, kiranya Kadipaten Blambangan inilah merupakan satu-satunya musuh besar yang termasuk kuat dan berbahaya. Akan tetapi bagaimana Blambangan dapat mempengaruhi Endang Patibroto? Inipun kiranya tak masuk di akal karena setahunya, hubungan Endang Patibroto dengan pengaruh-pengaruh luar hanya dengan Dibyo Mamangkoro yang telah meninggal dunia, pula, Kerajaan Wengker di mana dahulu Dibyo Mamangkoro menjadi senopati besarnya, kini telah tiada pula. Adipati Tejolaksono bangkit berdiri, menuntun kudanya, kemudian melompat naik ke punggung kudanya.
"Dawuk, satu-satunya peganganku hanya Blambangan. Semoga tidak salah perhitunganku. Kita ke Blambangan!" Ia menarik kendali kudanya dan mulailah ia melakukan perjalanan, menuju ke timur. Ke Blambangan!
Pada malam ke dua tibalah ia di lembah Sungai Menjangan setelah melewati Gunung Semeru. Tiba-tiba kudanya Si Dawuk mengeluarkan ringkik perlahan. Tejolaksono menjadi waspada, cepat meloncat turun dan membiarkan kudanya terlepas di dekat sungai di mana terdapat banyak daun dan rumput hijau gemuk. Kemudian ia berjalan ke sebelah kira ke mana tadi kudanya menoleh ketika mengeluarkan ringkikan. Ia percaya akan ketajaman, ke enam yang amat tajam dari binatang tunggangannya. Kalau Si Dawuk meringkik seperti itu, tentu ada apa-apa yang tidak wajar di sebelah kiri itu. Berindap-indap Adipati Tejolaksono berjalan dan matanya tajam meneliti keadaan sekelilingnya, siap menghadapi segala kemungkinan. Malam itu bulan purnama menerangi jagat raya dan biarpun keadaan remang-remang namun Tejolaksono dapat melihat dengan terang.
Tiba-tiba ia merighentikan langkahnya. Ada suara mengerang perlahan, agak jauh dari tempat ia berdiri. Agaknya suara itulah yang tadi mengejutkan kudanya. Suara itu terdengar memang aneh, bukan seperti suara manusia, akan tetapi juga tak pernah ia mendengar ada binatang yang suaranya seperti itu. Cepat ia melangkah maju ke arah suara. Kiranya suara itu terdengar dari sebuah jurang atau sumur tua yang dalamnya kurang lebih tiga meter. Dan di atas sumur itu, ia melihat sesuatu bergerak- gerak. Cahaya bulan tidak mencapai dasar sumur sehingga keadaan amat gelap.
"Kisanak, siapakah andika yang berada di dasar jurang?" tanya Tejolaksono sambil berjongkok di pinggir jurang. Lama ia menanti jawabannya. Namun tidak ada jawaban. Kemudian terdengar suara merintih lagi, kini jelas suara manusia mengaduh.
Ada manusia yang membutuhkan pertolongan! Adipati Tejolaksono yang berjiwa satria, tentu saja tidak membuang waktu untuk meragu di mana tenaganya dibutuhkan orang lain. Ia segera lari ke arah serumpun bambu yang tumbuh tak jauh dari situ. Dengan pengerahan tenaga saktinya, tangan kanannya membabat ke bagian bawah sebatang pohon bambu dan .............. "krakkkI" pohon itu jebol dan tumbang. Dia lalu menyeret pohon yang amat panjang itu, diturunkan perlahan ke dalam sumur. Ternyata pohon bambu itu cukup tinggi sehingga dapat mencapai dasar sumur. Merayaplah Adipati Tejolaksono turun ke dalam sumur melalui batang pohon bambu.

Keadaan di dasar sumur gelap, remang-remang namun setelah matanya biasa dengan kegelapan itu, Tejolaksono dapat melihat sosok tubuh seorang laki-laki tinggi besar rebah miring sambil mengerang kesakitan. Ia meraba, lalu mengangkat tubuh itu dan memanggulnya. Perlahan ia memanjat batang bambu ke atas, kemudian mengerahkan tenaganya meloncat keluar lubang sumur.
"Aduh.............. aduhh.............. I" Laki-laki tinggi besar itu ternyata tubuhnya berlumur darah. Ketika memeriksanya di bawah sinar bulan, tampak oleh Tejolaksono gagang sebatang keris tersembul keluar dari dadanya. Keris itu menancap di dada sampai ke hulu kerisnya.
"Paman, siapakah andika dan mengapa berada dalam sumur dalam keadaan begini?" Tejolaksono bertanya setelah melihat bahwa laki-laki tinggi besar itu adalah seorang kakek yang bertampang gagah dan bertubuh kuat sekali. Ia sudah terheran-heran mengapa kakek ini belum tewas oleh luka di dadanya yang hebat itu. Tahulah ia bahwa orang ini bukan orang sembarangan, karena kalau tidak berkepandaian tinggi tentu tak dapat bertahan. Kakek itu membelalakkan matanya, mengerang lagi perlahan lalu berkata,
"Terima kasih....... terima kasih. .... aduhhh....... kasihan kau, gusti puteri Endang Patibroto....... aduhh, Gusti Dibyo Mamangkoro....... maafkan hamba......., Maafkan hamba tidak dapat melindungi murid paduka ...... . auugggghhh.......!"
Adipati Tejolaksono terkejut sekali. Cepat ia menyentuh punggung orang itu, mengerahkan aji kesaktian sehingga hawa panas keluar dari pusarnya melalui tangan dan menembus kulit punggung. Orang itu mengeluarkan seruan perlahan, agaknya terheran, kemudian napasnya yang terengah-engah itu mulai tenang.
"Kau....... kau siapa.. ...?" Agaknya kakek ini heran menyaksikan betapa orang yang mengangkatnya keluar dari sumur ini memiliki ilmu yang demikian hebat. Tadinya ia mengira bahwa yang menolongnya hanyalah seorang petani biasa.
"Paman, aku adalah saudara Endang Patibroto! Ke mana dia? Dan apakah yang telah terjadi dengannya? Katakanlah, paman."
"Uuhh....... siapa kau.......?"
Adipati Tejolaksono berpikir sebentar, orang ini menyebut-nyebut nama Dibyo Mamangkoro, tentu anak buah guru Endang Patibroto itu. Kalau ia menyebut namanya yang sekarang, tentu tidak mengenalnya. Maka ia lalu berkata,
"Paman, namaku adalah Joko Wandiro......." Tiba-tiba orang itu berseru dan tangannya yang besar itu melayang, menghantam ke arah muka Adipati Tejolaksono. Tentu saja dengan mudah Tejolaksono mengelak dan orang itu kembali mengerang kesakitan.
"Aduh, keparat. ...... ! Kau.... kau pembunuh gusti senopati Dibyo Mamangkoro.............. !”
Memang Adipati Tejolaksono dahulu telah membunuh manusia iblis itu.
"Paman, betapapun juga, aku adalah saudara Endang Patibroto. Kalau engkau gagal menolongnya, barangkali aku yang akan dapat menolongnya!"
"Benar.............. uuhh, benar.............. nah, dengarlah orang muda."
Kakek itu bukan lain adalah Ki Brejeng, bekas anak buah Dibyo Mamangkoro. Seperti telah kita ketahui di bagian depan cerita ini, Ki Brejeng telah menjadi anak buah Raden Sindupati pemimpin pasukan Blambangan dan telah ikut menjalankan siasat membujuk dan mempengaruhi Endang Patibroto sehingga wanita yang bernasib malang itu terbujuk ikut dengan rombongan itu ke Blambangan. Ketika rombongan tiba di lembah Sugai Menjangan, malam telah tiba dan mereka membuat pesanggrahan darurat di situ. Malam harinya, Raden Sindupati yang tak dapat menahan lagi nafsu hatinya yang sudah tergila-gila akan kecantikan Endang Patibroto, diam-diam dibantu oleh beberapa orang anak buahnya hendak menyergap wanita itu dengan menggunakan racun memabukkan dalam makanan yang dihidangkan kepada wanita itu. Akan tetapi, Ki Brejeng yang merasa sayang kepada murid bekas junjungannya,
tahu akan hal ini dan segera mencegahnya. Dia diam-diam masih amat setia kepada Dibyo Mamangkoro dan karena itu setia pula kepada Endang Patlbroto. Biarpun ia mau diajak menipu Endang Patibroto, namun diam-diam ia selalu memasang mata dan bersiap melindungi puteri yang dikasihinya ini.
"Demikianlah, raden.............. aku mengganti makanan yang disuguhkan gusti puteri sehingga usaha keji Raden Sindupati itu tak berhasil. Akan tetapi ...... . mereka mengetahui perbuatanku ini maka ketika malam itu aku tidur, mereka menyergap. Sia-sia aku melawan. Mereka sakti dan akhirnya aku roboh tertikam kerisku sendiri yang terampas oleh Raden Sindupati. Setelah sadar, aku mendapatkan diriku di dalam sumur sampai tiga hari tiga malam. Kebetulan kau dapat menolongku keluar..............”

Adipati Tejolaksono terkejut dan diam-diam ia makin kagum. Kakek ini hebat sekali. Terluka begitu parah masih dapat bertahan untuk hidup selama tiga hari tiga malam di dasar sumur!
"Akan tetapi, paman. Mengapakah paman Brejeng berada dalam rombongan Sindupati dan mengapa pula Endang Patibroto ikut bersama kalian?"
Dengan napas terengah-engah Ki Brejeng menceritakan riwayatnya, kemudian ia mulai menceritakan semua peristiwa yang terjadi, semua siasat Blambangan yang mempergunakan Wiku Kalawisesa untuk menyebar maut di antara para ponggawa kedua kerajaan dan betapa siasat itu selanjutnya menimpakan kesalahan di pundak Endang Patibroto, menyebar desas-desus kemudian betapa Enbang Patibroto tertipu oleh penuturan Wiku Kalawisesa untuk mengadu domba dia dengan Pangeran Darmokusumo. Adipati Tejolaksono terheran-heran dan bukan main marahnya mendengar semua siasat jahat Blambangan itu.
"Demikianlah..............dia.............. dia terbujuk.............. ikut ke Blambangan dan . ..... . dan ......ah, nasibnya tentu ..... tertimpa bencana hebat di sana.............. aku.............. aku tak berhasil.............. aaahhhhh!"
Tubuh tinggi besar itu mengejang lalu lemas dan habislah riwayat Ki Brejeng karena nyawanya telah meninggalkan badannya. Adipati Tejolaksono bangkit berdiri, mengepal tinju. Tak salah dugaannya. Blambangan yang berdiri di belakang semua peristiwa di Jenggala dan Panjalu itu, dan Endang Patibroto yang menjadi korban. Ia menyesal sekali mengapa Ki Brejeng keburu tewas sehingga ia tidak dapat bertanya lebih jelas. Ia tidak tahu bagaimana jadinya dengan Pangeran Panjirawit, suami Endang Patibroto. Dalam cerita yang singkat dan terputus-putus tadi, Ki Brejeng tidak menyebut-nyebut nama Pangeran Panjirawit dan dia sendiri yang pikirannya penuh dengan Endang Patibroto tidak ingat pula untuk menanyakannya. Kalau Endang Patibroto terkena bujukan orang-orang Blambangan, ia masih dapat menerimanya karena ia tahu bahwa Endang Patibroto yang tentu marah sekali karena dituduh melakukan pembunuhan-pembunuhan itu kemudian diadu domba dengan fihak Panjalu, tentu marah kepada kedua kerajaan itu dan mudah dihasut oleh orang Blambangan. Akan tetapi, mengapa Pangeran Panjirawit tidak mencegahnya? Tentu pangeran itu tidak sudi melakukan pengkhianatan, tidak sudi bersekutu dengan Blambangan. Apakah pangeran itu tidak bersama Endang? Kalau begitu, ke mana gerangan perginya setelah berhasil diselamatkan Endang Patibroto dari dalam penjara?
"Tidak perlu bingung, paling perlu mengejar dan menyusul ke Blambangan!” pikirnya.
"Endang Patibroto harus ditolong, kemudian bersama wanita itu datang menghadap kedua kerajaan untuk memberi laporan tentang keadaan sebenarnya yang telah terjadi."
Setelah berpikir, Adipati Tejolaksono menggali sebuah lubang dan mengubur mayat Ki Brejeng. Ia melakukan hal ini karena mengingat akan jasa dan budi Ki Brejeng terhadap Endang Patibroto. Setelah selesai, menjelang pagi ia melanjutkan perjalanan. Ke Blambangan.

Endang Patibroto merasa menyesal dan kecewa sekali mendengar penuturan Raden Sindupati bahwa Ki Brejeng semalam telah melarikan diri.
"Memang selama di Blambangan, dia selalu gelisah dan agaknya tidak kerasan. Dia yang sejak dahulu suka hidup bertualang dan bebas, agaknya tidak tahan hidup bermalas-malasan di Blambangan. Hanya karena ia merasa berhutang budi kepada Gusti Adipati Blambangan sajalah agaknya yang membuat kakek itu segan meninggalkan pekerjaannya. Akan tetapi, semenjak ia ikut bersama rombongan kami, makin tampak sifatnya yang suka akan alam bebas. Semalam, betapapun kami berusaha mencegahnya, ia tetap
tidak mau mendengar dan melarikan diri. Kami tidak dapat menahannya dengan paksa. Kasihan orang tua itu, kalau memang dia ingin hidup bebas, biarlah," demikian antara lain keterangan Raden Sindupati kepadanya. Endang Patibroto dapat menerima keterangan ini karena iapun mengenal watak seorang bekas anak buah gurunya seperti Ki Brejeng itu. Akan tetapi, sedikit banyak kepergian Ki Brejeng mempengaruhi hatinya, membuat ia kurang senang. Namun, karena ia harus membalas dendam hatinya kepada Kerajaan Jenggala dan Panjalu, ia harus mencari sekutu dan untuk menghadapi kekuatan barisan kedua kerajaan itu, maka Kadipaten Blambangan merupakan sekutu yang baik. Selama dalam perjalanan, Raden Sindupati memperlihatkan sikap yang amat baik, sopan dan menghormat kepadanya sehingga senang juga hati Endang Patibroto. Ia mengambil keputusan bahwa kalau Adipati Blambangan kurang baik sikapnya, masih belum terlambat baginya untuk pergi dari Blambangan dan menuntut balas seorang diri saja. Akan tetapi, ternyata bahwa Adipati Blambangan menyambut kedatangannya dengan sikap yang amat baik. Adipati itu seorang tinggi besar, mukanya penuh cambang bauk, kedua lengannya yang kuat dan besar itupun penuh rambut yang panjang seperti lengan monyet besar. Matanya lebar-lebar dan suaranya parau kasar, suka tertawa akan tetapi sikapnya yang kasar itu malah menyenangkan hati Endang Patibroto, mengingatkannya kepada mendiang gurunya, Dibyo Mamangkoro. Adipati Blambangan itu bernama Adipati Menak Linggo, dahulunya seorang adipati yang diangkat oleh raja di Bali, akan tetapi yang kemudian memberontak dan berdiri sendiri tidak mengakui kedaulatan Raja Bali maupun Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Berkali-kali Kerajaan Bali mengirim pasukan untuk menyerang, namun selalu dipukul mundur oleh barisan Kadipaten Blambangan yang kini menjadi kuat dan memiliki banyak panglima-panglima yang sakti.

<<< Bagian 018                                                                                    Bagian 020 >>>

No comments:

Post a Comment