Kemudian ia teringat. Bukankah kerajaan Adipati Nusabarung mempunyai sekutu yang amat besar dan kuat? Adipati di Blambangan! Ya, kiranya Kadipaten Blambangan inilah merupakan satu-satunya musuh besar yang termasuk kuat dan berbahaya. Akan tetapi bagaimana Blambangan dapat mempengaruhi Endang Patibroto? Inipun kiranya tak masuk di akal karena setahunya, hubungan Endang Patibroto dengan pengaruh-pengaruh luar hanya dengan Dibyo Mamangkoro yang telah meninggal dunia, pula, Kerajaan Wengker di mana dahulu Dibyo Mamangkoro menjadi senopati besarnya, kini telah tiada pula. Adipati Tejolaksono bangkit berdiri, menuntun kudanya, kemudian melompat naik ke punggung kudanya.
"Dawuk, satu-satunya
peganganku hanya Blambangan. Semoga tidak salah perhitunganku. Kita ke
Blambangan!" Ia menarik kendali kudanya dan mulailah ia melakukan
perjalanan, menuju ke timur. Ke Blambangan!
Pada malam ke dua tibalah ia
di lembah Sungai Menjangan setelah melewati Gunung Semeru. Tiba-tiba kudanya Si
Dawuk mengeluarkan ringkik perlahan. Tejolaksono menjadi waspada, cepat
meloncat turun dan membiarkan kudanya terlepas di dekat sungai di mana terdapat
banyak daun dan rumput hijau gemuk. Kemudian ia berjalan ke sebelah kira ke
mana tadi kudanya menoleh ketika mengeluarkan ringkikan. Ia percaya akan
ketajaman, ke enam yang amat tajam dari binatang tunggangannya. Kalau Si Dawuk
meringkik seperti itu, tentu ada apa-apa yang tidak wajar di sebelah kiri itu.
Berindap-indap Adipati Tejolaksono berjalan dan matanya tajam meneliti keadaan
sekelilingnya, siap menghadapi segala kemungkinan. Malam itu bulan purnama
menerangi jagat raya dan biarpun keadaan remang-remang namun Tejolaksono dapat
melihat dengan terang.
Tiba-tiba ia merighentikan
langkahnya. Ada suara mengerang perlahan, agak jauh dari tempat ia berdiri.
Agaknya suara itulah yang tadi mengejutkan kudanya. Suara itu terdengar memang
aneh, bukan seperti suara manusia, akan tetapi juga tak pernah ia mendengar ada
binatang yang suaranya seperti itu. Cepat ia melangkah maju ke arah suara.
Kiranya suara itu terdengar dari sebuah jurang atau sumur tua yang dalamnya
kurang lebih tiga meter. Dan di atas sumur itu, ia melihat sesuatu bergerak-
gerak. Cahaya bulan tidak mencapai dasar sumur sehingga keadaan amat gelap.
"Kisanak, siapakah
andika yang berada di dasar jurang?" tanya Tejolaksono sambil berjongkok
di pinggir jurang. Lama ia menanti jawabannya. Namun tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar suara merintih lagi, kini jelas suara manusia mengaduh.
Ada manusia yang membutuhkan
pertolongan! Adipati Tejolaksono yang berjiwa satria, tentu saja tidak membuang
waktu untuk meragu di mana tenaganya dibutuhkan orang lain. Ia segera lari ke
arah serumpun bambu yang tumbuh tak jauh dari situ. Dengan pengerahan tenaga
saktinya, tangan kanannya membabat ke bagian bawah sebatang pohon bambu dan
.............. "krakkkI" pohon itu jebol dan tumbang. Dia lalu
menyeret pohon yang amat panjang itu, diturunkan perlahan ke dalam sumur.
Ternyata pohon bambu itu cukup tinggi sehingga dapat mencapai dasar sumur.
Merayaplah Adipati Tejolaksono turun ke dalam sumur melalui batang pohon bambu.
Keadaan di dasar sumur
gelap, remang-remang namun setelah matanya biasa dengan kegelapan itu,
Tejolaksono dapat melihat sosok tubuh seorang laki-laki tinggi besar rebah
miring sambil mengerang kesakitan. Ia meraba, lalu mengangkat tubuh itu dan
memanggulnya. Perlahan ia memanjat batang bambu ke atas, kemudian mengerahkan
tenaganya meloncat keluar lubang sumur.
"Aduh..............
aduhh.............. I" Laki-laki tinggi besar itu ternyata tubuhnya
berlumur darah. Ketika memeriksanya di bawah sinar bulan, tampak oleh
Tejolaksono gagang sebatang keris tersembul keluar dari dadanya. Keris itu
menancap di dada sampai ke hulu kerisnya.
"Paman, siapakah andika
dan mengapa berada dalam sumur dalam keadaan begini?" Tejolaksono bertanya
setelah melihat bahwa laki-laki tinggi besar itu adalah seorang kakek yang
bertampang gagah dan bertubuh kuat sekali. Ia sudah terheran-heran mengapa
kakek ini belum tewas oleh luka di dadanya yang hebat itu. Tahulah ia bahwa
orang ini bukan orang sembarangan, karena kalau tidak berkepandaian tinggi
tentu tak dapat bertahan. Kakek itu membelalakkan matanya, mengerang lagi
perlahan lalu berkata,
"Terima kasih.......
terima kasih. .... aduhhh....... kasihan kau, gusti puteri Endang
Patibroto....... aduhh, Gusti Dibyo Mamangkoro....... maafkan hamba.......,
Maafkan hamba tidak dapat melindungi murid paduka ...... .
auugggghhh.......!"
Adipati Tejolaksono terkejut
sekali. Cepat ia menyentuh punggung orang itu, mengerahkan aji kesaktian
sehingga hawa panas keluar dari pusarnya melalui tangan dan menembus kulit
punggung. Orang itu mengeluarkan seruan perlahan, agaknya terheran, kemudian
napasnya yang terengah-engah itu mulai tenang.
"Kau....... kau siapa..
...?" Agaknya kakek ini heran menyaksikan betapa orang yang mengangkatnya
keluar dari sumur ini memiliki ilmu yang demikian hebat. Tadinya ia mengira
bahwa yang menolongnya hanyalah seorang petani biasa.
"Paman, aku adalah
saudara Endang Patibroto! Ke mana dia? Dan apakah yang telah terjadi dengannya?
Katakanlah, paman."
"Uuhh....... siapa
kau.......?"
Adipati Tejolaksono berpikir
sebentar, orang ini menyebut-nyebut nama Dibyo Mamangkoro, tentu anak buah guru
Endang Patibroto itu. Kalau ia menyebut namanya yang sekarang, tentu tidak
mengenalnya. Maka ia lalu berkata,
"Paman, namaku adalah
Joko Wandiro......." Tiba-tiba orang itu berseru dan tangannya yang besar
itu melayang, menghantam ke arah muka Adipati Tejolaksono. Tentu saja dengan
mudah Tejolaksono mengelak dan orang itu kembali mengerang kesakitan.
"Aduh, keparat. ......
! Kau.... kau pembunuh gusti senopati Dibyo Mamangkoro.............. !”
Memang Adipati Tejolaksono
dahulu telah membunuh manusia iblis itu.
"Paman, betapapun juga,
aku adalah saudara Endang Patibroto. Kalau engkau gagal menolongnya, barangkali
aku yang akan dapat menolongnya!"
"Benar..............
uuhh, benar.............. nah, dengarlah orang muda."
Kakek itu bukan lain adalah
Ki Brejeng, bekas anak buah Dibyo Mamangkoro. Seperti telah kita ketahui di
bagian depan cerita ini, Ki Brejeng telah menjadi anak buah Raden Sindupati
pemimpin pasukan Blambangan dan telah ikut menjalankan siasat membujuk dan
mempengaruhi Endang Patibroto sehingga wanita yang bernasib malang itu terbujuk
ikut dengan rombongan itu ke Blambangan. Ketika rombongan tiba di lembah Sugai
Menjangan, malam telah tiba dan mereka membuat pesanggrahan darurat di situ.
Malam harinya, Raden Sindupati yang tak dapat menahan lagi nafsu hatinya yang
sudah tergila-gila akan kecantikan Endang Patibroto, diam-diam dibantu oleh
beberapa orang anak buahnya hendak menyergap wanita itu dengan menggunakan
racun memabukkan dalam makanan yang dihidangkan kepada wanita itu. Akan tetapi,
Ki Brejeng yang merasa sayang kepada murid bekas junjungannya,
tahu akan hal ini dan segera
mencegahnya. Dia diam-diam masih amat setia kepada Dibyo Mamangkoro dan karena
itu setia pula kepada Endang Patlbroto. Biarpun ia mau diajak menipu Endang
Patibroto, namun diam-diam ia selalu memasang mata dan bersiap melindungi
puteri yang dikasihinya ini.
"Demikianlah,
raden.............. aku mengganti makanan yang disuguhkan gusti puteri sehingga
usaha keji Raden Sindupati itu tak berhasil. Akan tetapi ...... . mereka
mengetahui perbuatanku ini maka ketika malam itu aku tidur, mereka menyergap.
Sia-sia aku melawan. Mereka sakti dan akhirnya aku roboh tertikam kerisku
sendiri yang terampas oleh Raden Sindupati. Setelah sadar, aku mendapatkan
diriku di dalam sumur sampai tiga hari tiga malam. Kebetulan kau dapat
menolongku keluar..............”
Adipati Tejolaksono terkejut
dan diam-diam ia makin kagum. Kakek ini hebat sekali. Terluka begitu parah
masih dapat bertahan untuk hidup selama tiga hari tiga malam di dasar sumur!
"Akan tetapi, paman.
Mengapakah paman Brejeng berada dalam rombongan Sindupati dan mengapa pula
Endang Patibroto ikut bersama kalian?"
Dengan napas terengah-engah
Ki Brejeng menceritakan riwayatnya, kemudian ia mulai menceritakan semua
peristiwa yang terjadi, semua siasat Blambangan yang mempergunakan Wiku
Kalawisesa untuk menyebar maut di antara para ponggawa kedua kerajaan dan
betapa siasat itu selanjutnya menimpakan kesalahan di pundak Endang Patibroto,
menyebar desas-desus kemudian betapa Enbang Patibroto tertipu oleh penuturan
Wiku Kalawisesa untuk mengadu domba dia dengan Pangeran Darmokusumo. Adipati
Tejolaksono terheran-heran dan bukan main marahnya mendengar semua siasat jahat
Blambangan itu.
"Demikianlah..............dia..............
dia terbujuk.............. ikut ke Blambangan dan . ..... . dan ......ah,
nasibnya tentu ..... tertimpa bencana hebat di sana..............
aku.............. aku tak berhasil.............. aaahhhhh!"
Tubuh tinggi besar itu
mengejang lalu lemas dan habislah riwayat Ki Brejeng karena nyawanya telah
meninggalkan badannya. Adipati Tejolaksono bangkit berdiri, mengepal tinju. Tak
salah dugaannya. Blambangan yang berdiri di belakang semua peristiwa di
Jenggala dan Panjalu itu, dan Endang Patibroto yang menjadi korban. Ia menyesal
sekali mengapa Ki Brejeng keburu tewas sehingga ia tidak dapat bertanya lebih
jelas. Ia tidak tahu bagaimana jadinya dengan Pangeran Panjirawit, suami Endang
Patibroto. Dalam cerita yang singkat dan terputus-putus tadi, Ki Brejeng tidak
menyebut-nyebut nama Pangeran Panjirawit dan dia sendiri yang pikirannya penuh
dengan Endang Patibroto tidak ingat pula untuk menanyakannya. Kalau Endang
Patibroto terkena bujukan orang-orang Blambangan, ia masih dapat menerimanya
karena ia tahu bahwa Endang Patibroto yang tentu marah sekali karena dituduh
melakukan pembunuhan-pembunuhan itu kemudian diadu domba dengan fihak Panjalu,
tentu marah kepada kedua kerajaan itu dan mudah dihasut oleh orang Blambangan.
Akan tetapi, mengapa Pangeran Panjirawit tidak mencegahnya? Tentu pangeran itu
tidak sudi melakukan pengkhianatan, tidak sudi bersekutu dengan Blambangan.
Apakah pangeran itu tidak bersama Endang? Kalau begitu, ke mana gerangan
perginya setelah berhasil diselamatkan Endang Patibroto dari dalam penjara?
"Tidak perlu bingung,
paling perlu mengejar dan menyusul ke Blambangan!” pikirnya.
"Endang Patibroto harus
ditolong, kemudian bersama wanita itu datang menghadap kedua kerajaan untuk
memberi laporan tentang keadaan sebenarnya yang telah terjadi."
Setelah berpikir, Adipati
Tejolaksono menggali sebuah lubang dan mengubur mayat Ki Brejeng. Ia melakukan
hal ini karena mengingat akan jasa dan budi Ki Brejeng terhadap Endang
Patibroto. Setelah selesai, menjelang pagi ia melanjutkan perjalanan. Ke
Blambangan.
Endang Patibroto merasa
menyesal dan kecewa sekali mendengar penuturan Raden Sindupati bahwa Ki Brejeng
semalam telah melarikan diri.
"Memang selama di
Blambangan, dia selalu gelisah dan agaknya tidak kerasan. Dia yang sejak dahulu
suka hidup bertualang dan bebas, agaknya tidak tahan hidup bermalas-malasan di
Blambangan. Hanya karena ia merasa berhutang budi kepada Gusti Adipati
Blambangan sajalah agaknya yang membuat kakek itu segan meninggalkan
pekerjaannya. Akan tetapi, semenjak ia ikut bersama rombongan kami, makin
tampak sifatnya yang suka akan alam bebas. Semalam, betapapun kami berusaha
mencegahnya, ia tetap
tidak mau
mendengar dan melarikan diri. Kami tidak dapat menahannya dengan paksa. Kasihan
orang tua itu, kalau memang dia ingin hidup bebas, biarlah," demikian
antara lain keterangan Raden Sindupati kepadanya. Endang Patibroto dapat
menerima keterangan ini karena iapun mengenal watak seorang bekas anak buah
gurunya seperti Ki Brejeng itu. Akan tetapi, sedikit banyak kepergian Ki
Brejeng mempengaruhi hatinya, membuat ia kurang senang. Namun, karena ia harus
membalas dendam hatinya kepada Kerajaan Jenggala dan Panjalu, ia harus mencari
sekutu dan untuk menghadapi kekuatan barisan kedua kerajaan itu, maka Kadipaten
Blambangan merupakan sekutu yang baik. Selama dalam perjalanan, Raden Sindupati
memperlihatkan sikap yang amat baik, sopan dan menghormat kepadanya sehingga
senang juga hati Endang Patibroto. Ia mengambil keputusan bahwa kalau Adipati
Blambangan kurang baik sikapnya, masih belum terlambat baginya untuk pergi dari
Blambangan dan menuntut balas seorang diri saja. Akan tetapi, ternyata bahwa
Adipati Blambangan menyambut kedatangannya dengan sikap yang amat baik. Adipati
itu seorang tinggi besar, mukanya penuh cambang bauk, kedua lengannya yang kuat
dan besar itupun penuh rambut yang panjang seperti lengan monyet besar. Matanya
lebar-lebar dan suaranya parau kasar, suka tertawa akan tetapi sikapnya yang
kasar itu malah menyenangkan hati Endang Patibroto, mengingatkannya kepada
mendiang gurunya, Dibyo Mamangkoro. Adipati Blambangan itu bernama Adipati
Menak Linggo, dahulunya seorang adipati yang diangkat oleh raja di Bali, akan
tetapi yang kemudian memberontak dan berdiri sendiri tidak mengakui kedaulatan
Raja Bali maupun Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Berkali-kali Kerajaan Bali
mengirim pasukan untuk menyerang, namun selalu dipukul mundur oleh barisan
Kadipaten Blambangan yang kini menjadi kuat dan memiliki banyak
panglima-panglima yang sakti.
No comments:
Post a Comment