Perawan Lembah Wilis; Bagian 018


“Betul ucapan bibimu Luhito, anakku. Tidak perlu khawatir jika kali ini suamimu melaksanakan tugas dan perintah junjungan. Memang ini sudah menjadi kewajibannya. Apalagi, aku yakin benar bahwa pelaku pembunuhan-pembunuhan itu bukanlah seorang yang
benar-benar sakti mandraguna. Bukanlah seorang sakti yang suka melakukan perbuatan pengecut seperti itu, melainkan seorang lemah dan penakut. Yang tidak berani menghadapi akibat perbuatannya. Jangan kau khawatir, anakku, suamimu tidak akan menemui bahaya.”

Mendengar hiburan kedua orang tua itu, agak legalah hati Ayu Candra. Alangkah bangga dan besar hati Adipati Tejolaksono. Untung ada kedua orang bibi ini yang seratus prosen boleh diandalkan. Kalau tidak ada mereka, agaknya iapun akan ragu-ragu dan khawatir meninggalkan isteri tercinta sendirian di rumah bersama puteranya. Kalau tidak ada kedua orang bibinya yang boleh dipercaya ini, agaknya ia akan “mengantongi” isteri dan anaknya itu dan membawanya serta ke manapun ia pergi.
“Saya mohon perhatian dan bantuan bibi berdua, bukan untuk menghadapi urusan pembunuhan di Panjalu, melainkan … hemm … Bagus Seta …”
Kartikosari mengangguk.
"Ki Tunggaljiwa?" Wanita ini sudah dapat menduga apa yang dipikirkan sang adipati. Tejolaksono mengangguk.
"Saya tidak. Menyangka bahwa orang tua itu mempunyai niat buruk. Akan tetapi, hemm.............. , keadaannya juga amat aneh. Oleh karena itulah sepeninggal saya ke Panjalu, saya harap bibi berdua sudi membantu Ayu untuk mengamat-amati Bagus Seta.
Tentu saja hal Ini sudah dan akan bibi lakukan tanpa saya minta, akan tetapi.. ..... , hati saya akan lega dalam perjalanan kalau saya sudah membicarakan hal ini secara berdepan begini dengan bibi yang saya percaya dan hormati setingginya."
Kartikosari tersenyum. Biarpun Roro Luhito lebih pandai bicara daripadanya, akan tetapi menghadapi segala urusan, selalu dia yang menjadi dan penentunya. Roro Luhito hanya akan mengikuti semua jejaknya.
"Anakku adipati, kami mengerti perasaanmu setelah pengalamanmu bersama Bagus Seta di dalam hutan. Dan bukan hal yang kebetulan saja ucapan Ki Tunggaljiwa kepadamu yang meramalkan bahwa dalam waktu singkat anaknda akan pergi dari Selopenangkep. Oleh karena itu, harap engkau waspada dan hati-hati dalam perjalanan menunaikan tugas yang dibebankan oleh sang prabu kepadamu. Adapun tentang keadaan di Selopenangkep sepeninggalmu, harap legakan hati dan jangan khawatir. Isterimu, Ayu Candra bukan seorang anak-anak melainkan seorang ibu yang tentu akan dapat menjaga putera dan rumah tangga sebaiknya. Adapun kami, kedua bibimu ini, tentu saja akan mengamatamati kesemuanya dan akan membela Selopenangkep seisinya dengan taruhan nyawa." Ucapan Kartikosari yang tenang dan mantap ini membuat hati Adipati Tejolaksono menjadi lega. Lapang rasa dadanya dan ia dapat pergi dengan tenang. Ayu Candra juga sadar bahwa ketidakrelaannya yang diperlihatkan atas kepergian suaminya, amatlah tidak baik. Suaminya adalah seorang yang sakti mandraguna. Kalau hanya menghadapi seorang penjahat pengecut saja, memang tidak perlu dikhawatirkan sama sekali. Demikianlah, pada pagi hari itu juga, Adipati Tejolaksono meninggalkan Selopenangkep, menunggang seekor kuda berbulu dawuk yang besar dan kuat, membawa perbekalan dan tidak lupa membawa senjata pusakanya, yaitu keris Megantoro, sebatang keris berlekuk tujuh yang mengeluarkan sinar keputihan seperti awan. Hatinya tenang karena kepergiannya diantar senyum penuh kepercayaan oleh isteri dan kedua biblnya, dan dibekali peluk cium puteranya, Bagus Seta. Akan tetapi ketenangan hati Adipati Tejolaksono lenyap seperti awan ditiup angin ketika perjalanannya membawa ia makin mendekati Kerajaan Panjalu. Ia melakukan perjalanan ini seorang diri, tidak berpengawal karena apakah artinya pengawal bagi seorang sakti seperti adipati muda ini? Apalagi, perjalanannya kali ini adalah perjalanan untuk melakukan penyelidikan dan mencari seorang penjahat sakti sehingga perlu ia lakukan dengan diam-diam. Hatinya makin gelisah setelah ia dekat dengan Kerajaan Panjalu karena santer terdengar olehnya akan desas-desus tentang pembunuhan-pembunuhan itu. Apalagi setelah
pada suatu pagi ia tiba di luar kota raja, kagetnya bukan main mendengar berita bahwa di Kota Raja Panjalu terjadi geger yang hebat sekall. Yaitu tentang penyerbuan Endang Patibroto ke istana Pangeran Darmokusumo yang gagal. Berita ini membuat ia terkejut dan termenung di atas kudanya yang ia hentikan di tepi jalan agar mendapat kesempatan makan rumput hijau. Endang Patibroto menyerbu dan berniat membunuh Pangeran Darmokusumo? Inilah hebat! Untung, menurut berita itu, bahwa penyerbuan itu dapat digagalkan oleh pasukan-pasukan Panjalu yang memang sudah berjagajaga. Nyaris Endang Patibroto tertangkap, demikian berita itu. Penasaran memenuhi hati Adipati Tejolaksono. Mengapa Endang Patibroto melakukan hal itu? Bukankah wanita ini telah menjadi seorang isteri berbahagia dari Pangeran Panjirawit dan hidup mulia di Kerajaan Jenggala? Bukankah Pangeran Darmokusumo itu masih saudara iparnya sendiri karena isteri Pangeran ini adalah adik kandung Pangeran Panjirawit? Ah, hampir tak dapat ia mempercayail berita aneh itu. Akan tetapi, bukan hanya dari satu dua orang ia mendengar berita ini! Ia harus segera ke Jenggala, sekarang juga! Ia harus bertemu sendiri dengan Endang Patibroto dan bercakap-cakap dengan adik
angkatnya itu. Sebelum melihat bukti dan mendengar keterangan dari mulut Endang sendiri, ia tidak akan mengambil tindakan tergesa-gesa dan harus amat berhati-hati karena ia sudah cukup mengenal watak Endang Patibroto yang boleh dikatakan sejak kecil selalu menjadi musuhnya.

Tanpa memasuki Kota Raja Panjalu, Tejolaksono lalu membedal lagi kudanya berangkat menuju ke Jenggala. Melalui jalan-jalan yang amat dikenalnya ini terkenang lagilah sang adipati akan masa mudanya, terkenang akan segala peristiwa yang terjadi pada dirinya belasan tahun yang lalu dan terkenanglah ia kepada Endang Patibroto, gadis sakti mandraguna yang amat galak terhadapnya dahulu itu. Endang Patibroto, yang sejak kecil selalu benci kepadanya, yang merupakan lawan terberat baginya,
bahkan yang telah membunuh ibu kandungnya! Wanita yang amat dikasihaninya, dikaguminya akan tetapi juga pernah dibencinya karena telah membunuh ibunya. Namun karena ibu kandungnya menjadi pembunuh ayah kandung wanita ini, maka kesadaran hatinya telah menyudahi rasa bencinya, dan berbalik ia menjadi kasihan kepada Endang Patibroto, apalagi setelah ia hidup berkecimpung di dalam kebahagiaan cinta kasih dengan isterinya, Ayu Candra. Dan hatinya ikut girang dan bahagia ketika ia mendengar berita bahwa Endang Patibroto juga hidup bahagia di samping seorang suami yang amat mencintanya, yaitu Pangeran Panjirawit. Akan tetapi sekarang muncul peristiwa yang amat aneh ini. Mula-mula terjadi pembunuhan-pembunuhan gelap, kemudian timbul desas-desus bahwa Endang Patibrotolah orangnya yang melakukan perbuatan pengecut dan keji ini. Dan sekarang, yang amat mengejutkan adalah berita tentang penyerbuan Endang Patibroto seorang diri di malam gelap untuk membunuh Pangeran Darmokusumo. Mana ia bisa percaya?
Hari telah menjadi malam ketika Adipati Tejolaksono memasuki Kota Raja Jenggala yang dahulu amat dikenalnya itu. Begitu ia menuntun kudanya memasuki pintu gerbang, lima orang penjaga menghadang dan memandangnya penuh kecurigaan. Akan tetapi sebelum
mereka sempat menegurnya, seorang di antara para penjaga yang sudah tua usianya memandang Tejolaksono penuh perhatian, kemudian ia menudingkan telunjuknya ke arah adipati ini dan berkata gagap,
"Bukankah.............. andika ini.............. Raden Bagus Joko Wandiro ...... ??"
Tejolaksono tersenyum. Sebetulnya ia tidak ingin memperkenalkan diri, karena ia ingin diam-diam mengunjungi Pangeran Panjirawit dan menemui Endang Patibroto, tidak mau memberitakan tentang kedatangannya ke Jenggala kepada orang lain. Akan tetapi karena penjaga tua ini mengenalnya, ia tidak dapat menyangkal lagi dan mengangguk.
"Benar, paman. Aku ingin pergi mengunjungi Gusti Pangeran Panjirawit ...... "
Tejolaksono menghentikan ucapannya ketika melihat perubahan muka kelima orang penjaga itu yang tampak nyata di bawah sinar lampu di pintu gerbang. Mereka itu terbelalak, jelas kaget sekali mendengar disebutnya nama pangeran itu. Ia menyangka pasti ada hal yang hebal terjadi, maka cepat ia bertanya,
"Ada terjadi apakah, paman?"
Penjaga tua itu bertanya,
"Benarkah paduka ini Raden Bagus Joko Wandiro yang kini sudah menjadi gusti adipati di Selopenangkep?"
Kembali Tejolaksono mengangguk tak sabar. Ia tidak mempersoalkan dirinya, melainkan ingin mendengar tentang Endang Patibroto. Melihat orang muda ini mengangguk, lima orang penjaga itu lalu memberi hormat. Yang empat adalah penjaga-penjaga muda yang belum pernah melihat Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono, akan tetapi sudah mendengar nama besar ksatria yang sakti mandraguna ini.
"Maafkan hamba berlima tadi berlaku kurang hormat, gusti adipati.............. !”
"Ah, bangkitlah, paman dan harap suka menceritakan apa yang telah terjadi."

Dan Tejolaksono melongo keheranan ketika mendengar penjaga tua itu bercerita. Makin banyak ia mendengar, wajahnya makin keruh. Keheranan bercampur dengan kegelisahan dan tidak percaya. Bagaimana ia bisa percaya mendengar betapa Endang Patibroto benar-benar telah membunuh-bunuhi para ponggawa Jenggala dan Panjalu dengan ilmu hitam, kemudian betapa wanita sakti yang oleh para penjaga disebut "iblis betina" itu telah menyerbu istana Pangeran Darmokusumo, kemudian betapa Pangeran Panjirawit yang membela nama isterinya itu ditangkap sendiri oleh ayahnya, sang prabu di Jenggala lalu dipenjarakan. Betapa kemudian, iblis betina itu secara hebat dan seorang diri telah menyerbu penjara yang terjaga amat kuatnya, menyamar sebagai pria, sebagai penjaga kemudian berhasil melarikan suaminya itu dari penjara.
"Iblis itu hebat bukan main, gusti adipati. Jelas bahwa dia bukan manusia biasa, melainkan iblis. Kalau manusia biasa, bagaimana bisa berhasil merampas gusti pangeran yang terjaga oleh ratusan orang prajurit dan pengawal? Bahkan dikerocok (dihujani) anak panah, masih berhasil melesat pergi seperti terbang saja dan keluar dari kota raja, entah ke mana, hanya setan yang tahu"
Adipati Tejolaksono hanya bisa mengeluarkan suara "ahh!" berkali-kali, kemudian ia mengucapkan terima kasih dan pergi dari situ, meninggalkan para penjaga sambil menuntun kudanya, berjalan perlahan seperti orang mimpi melalui jalan yang amat gelap itu. Ia memang merasa seperti mimpi mendengar semua itu. Ia tersenyum kalau teringat akan keheranan para penjaga yang menceritakan tentang perbuatan Endang Patibroto membebaskan suaminya. Ia tidak heran mendengar itu. Seorang sakti seperti Endang Endang Patibroto tentu saja mampu melakukan hal itu, bahkan yang lebih daripada itu sekalipun! Ia tersenyum kalau membayangkan betapa Endang Patibroto mempermainkan ratusan orang prajurit itu, membakari sebagian istana dan menyamar sebagai prajurit, kemudian melarikan diri, dikeroyok puluhan orang pengawal dan menangkis semua anak panah yang datang bagaikan hujan. Ia sudah tahu akan kesaktian wanita itu. Iblis betina? Ah, ia cukup tahu akan watak Endang Patibroto. Kalau sedang marah memang melebihi iblis, akan tetapi sebetulnya mempunyai dasar watak satria puteri utama! Akan tetapi, tidak habis keheranannya mendengar semua peristiwa itu. Endang Patibroto membunuhi para ponggawa dengan ilmu hitam yang mujijat? Memang hal inipun tidak aneh dan bisa saja Endang Patibroto melakukannya, mengingat bahwa dia adalah murid Dibyo Mamangkoro yang jahat dan sakti seperti iblis sendiri. Akan tetapi, ia yakin bahwa tanpa alasan yang amat kuat, tak mungkin Endang Patibroto mau melakukannya, apalagi sebagai isteri Pangeran Panjirawit yang terkenal berbudi bawa-laksana! Kalau begitu, apa sebabnya? Mengapa terjadi semua itu? Mengapa? Dan ke mana ia harus mencari Endang Patibroto? Ia tidak akan menjatuhkan sesuatu pendapat atau penilaian atas peristiwa semua itu sebelum ia mendengar sendiri dari orang yang bersangkutan, dalam hal ini Endang Patibroto dan suaminya. Ia harus mencari Endang Patibroto dan Pangeran Panjirawit. Ia menyesal mengapa tidak datang lebih pagi. Peristiwa penyerbuan penjara oleh Endang Patibroto itu baru terjadi dua hari yang lalu!

Adipati Tejolaksono memeras otaknya. Di dalam gelap, ia berhenti berjalan, lalu duduk bersila, merenung dan mengerjakan otaknya. Peristiwa ini terlalu aneh, tidak mungkin terjadi tanpa dasar yang amat kuat. Ia merasa yakin bahwa tentu ada sesuatu yang menggerakkan semua itu, sesuatu yang memaksa Endang Patibroto melakukan perbuatan-perbuatan hebat itu, yakni menyerbu istana Pangeran Darmokusumo dan kemudian menyerbu penjara membebaskan suaminya, melawan prajurit-prajurit mertuanya sendiri, Sang Prabu Jenggala! Dan, satu-satunya hal yang mungkin terjadi adalah bahwa tentu penggerak itu merupakan musuh besar Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Siapa? Kadipaten Nusabarung merupakan musuh besar terakhir dari Jenggala, akan tetapi kadipaten itu telah dihancurkan. Siapa lagi yang dapat memusuhi Jenggala dan Panjalu? Memang banyak kerajaan-kerajaan kecil yang tidak tunduk kepada kedua kerajaan ini, akan tetapi mereka itu tak mungkin dapat melakukan hal yang amat hebat ini.

<<< Bagian 017                                                                                     Bagian 019 >>>

No comments:

Post a Comment