“Betul ucapan bibimu Luhito, anakku. Tidak perlu khawatir jika kali ini suamimu melaksanakan tugas dan perintah junjungan. Memang ini sudah menjadi kewajibannya. Apalagi, aku yakin benar bahwa pelaku pembunuhan-pembunuhan itu bukanlah seorang yang
benar-benar sakti
mandraguna. Bukanlah seorang sakti yang suka melakukan perbuatan pengecut
seperti itu, melainkan seorang lemah dan penakut. Yang tidak berani menghadapi
akibat perbuatannya. Jangan kau khawatir, anakku, suamimu tidak akan menemui
bahaya.”
Mendengar hiburan kedua
orang tua itu, agak legalah hati Ayu Candra. Alangkah bangga dan besar hati
Adipati Tejolaksono. Untung ada kedua orang bibi ini yang seratus prosen boleh
diandalkan. Kalau tidak ada mereka, agaknya iapun akan ragu-ragu dan khawatir
meninggalkan isteri tercinta sendirian di rumah bersama puteranya. Kalau tidak
ada kedua orang bibinya yang boleh dipercaya ini, agaknya ia akan “mengantongi”
isteri dan anaknya itu dan membawanya serta ke manapun ia pergi.
“Saya mohon perhatian dan
bantuan bibi berdua, bukan untuk menghadapi urusan pembunuhan di Panjalu,
melainkan … hemm … Bagus Seta …”
Kartikosari mengangguk.
"Ki Tunggaljiwa?"
Wanita ini sudah dapat menduga apa yang dipikirkan sang adipati. Tejolaksono
mengangguk.
"Saya tidak. Menyangka
bahwa orang tua itu mempunyai niat buruk. Akan tetapi, hemm.............. ,
keadaannya juga amat aneh. Oleh karena itulah sepeninggal saya ke Panjalu, saya
harap bibi berdua sudi membantu Ayu untuk mengamat-amati Bagus Seta.
Tentu saja hal Ini sudah dan
akan bibi lakukan tanpa saya minta, akan tetapi.. ..... , hati saya akan lega
dalam perjalanan kalau saya sudah membicarakan hal ini secara berdepan begini
dengan bibi yang saya percaya dan hormati setingginya."
Kartikosari tersenyum.
Biarpun Roro Luhito lebih pandai bicara daripadanya, akan tetapi menghadapi
segala urusan, selalu dia yang menjadi dan penentunya. Roro Luhito hanya akan
mengikuti semua jejaknya.
"Anakku adipati, kami
mengerti perasaanmu setelah pengalamanmu bersama Bagus Seta di dalam hutan. Dan
bukan hal yang kebetulan saja ucapan Ki Tunggaljiwa kepadamu yang meramalkan
bahwa dalam waktu singkat anaknda akan pergi dari Selopenangkep. Oleh karena
itu, harap engkau waspada dan hati-hati dalam perjalanan menunaikan tugas yang
dibebankan oleh sang prabu kepadamu. Adapun tentang keadaan di Selopenangkep
sepeninggalmu, harap legakan hati dan jangan khawatir. Isterimu, Ayu Candra
bukan seorang anak-anak melainkan seorang ibu yang tentu akan dapat menjaga
putera dan rumah tangga sebaiknya. Adapun kami, kedua bibimu ini, tentu saja
akan mengamatamati kesemuanya dan akan membela Selopenangkep seisinya dengan
taruhan nyawa." Ucapan Kartikosari yang tenang dan mantap ini membuat hati
Adipati Tejolaksono menjadi lega. Lapang rasa dadanya dan ia dapat pergi dengan
tenang. Ayu Candra juga sadar bahwa ketidakrelaannya yang diperlihatkan atas
kepergian suaminya, amatlah tidak baik. Suaminya adalah seorang yang sakti
mandraguna. Kalau hanya menghadapi seorang penjahat pengecut saja, memang tidak
perlu dikhawatirkan sama sekali. Demikianlah, pada pagi hari itu juga, Adipati
Tejolaksono meninggalkan Selopenangkep, menunggang seekor kuda berbulu dawuk
yang besar dan kuat, membawa perbekalan dan tidak lupa membawa senjata
pusakanya, yaitu keris Megantoro, sebatang keris berlekuk tujuh yang
mengeluarkan sinar keputihan seperti awan. Hatinya tenang karena kepergiannya
diantar senyum penuh kepercayaan oleh isteri dan kedua biblnya, dan dibekali
peluk cium puteranya, Bagus Seta. Akan tetapi ketenangan hati Adipati
Tejolaksono lenyap seperti awan ditiup angin ketika perjalanannya membawa ia
makin mendekati Kerajaan Panjalu. Ia melakukan perjalanan ini seorang diri,
tidak berpengawal karena apakah artinya pengawal bagi seorang sakti seperti
adipati muda ini? Apalagi, perjalanannya kali ini adalah perjalanan untuk
melakukan penyelidikan dan mencari seorang penjahat sakti sehingga perlu ia
lakukan dengan diam-diam. Hatinya makin gelisah setelah ia dekat dengan
Kerajaan Panjalu karena santer terdengar olehnya akan desas-desus tentang
pembunuhan-pembunuhan itu. Apalagi setelah
pada suatu pagi ia tiba di
luar kota raja, kagetnya bukan main mendengar berita bahwa di Kota Raja Panjalu
terjadi geger yang hebat sekall. Yaitu tentang penyerbuan Endang Patibroto ke
istana Pangeran Darmokusumo yang gagal. Berita ini membuat ia terkejut dan
termenung di atas kudanya yang ia hentikan di tepi jalan agar mendapat
kesempatan makan rumput hijau. Endang Patibroto menyerbu dan berniat membunuh
Pangeran Darmokusumo? Inilah hebat! Untung, menurut berita itu, bahwa
penyerbuan itu dapat digagalkan oleh pasukan-pasukan Panjalu yang memang sudah
berjagajaga. Nyaris Endang Patibroto tertangkap, demikian berita itu. Penasaran
memenuhi hati Adipati Tejolaksono. Mengapa Endang Patibroto melakukan hal itu?
Bukankah wanita ini telah menjadi seorang isteri berbahagia dari Pangeran
Panjirawit dan hidup mulia di Kerajaan Jenggala? Bukankah Pangeran Darmokusumo
itu masih saudara iparnya sendiri karena isteri Pangeran ini adalah adik kandung
Pangeran Panjirawit? Ah, hampir tak dapat ia mempercayail berita aneh itu. Akan
tetapi, bukan hanya dari satu dua orang ia mendengar berita ini! Ia harus
segera ke Jenggala, sekarang juga! Ia harus bertemu sendiri dengan Endang
Patibroto dan bercakap-cakap dengan adik
angkatnya itu. Sebelum
melihat bukti dan mendengar keterangan dari mulut Endang sendiri, ia tidak akan
mengambil tindakan tergesa-gesa dan harus amat berhati-hati karena ia sudah
cukup mengenal watak Endang Patibroto yang boleh dikatakan sejak kecil selalu
menjadi musuhnya.
Tanpa memasuki Kota Raja
Panjalu, Tejolaksono lalu membedal lagi kudanya berangkat menuju ke Jenggala.
Melalui jalan-jalan yang amat dikenalnya ini terkenang lagilah sang adipati
akan masa mudanya, terkenang akan segala peristiwa yang terjadi pada dirinya
belasan tahun yang lalu dan terkenanglah ia kepada Endang Patibroto, gadis
sakti mandraguna yang amat galak terhadapnya dahulu itu. Endang Patibroto, yang
sejak kecil selalu benci kepadanya, yang merupakan lawan terberat baginya,
bahkan yang telah membunuh
ibu kandungnya! Wanita yang amat dikasihaninya, dikaguminya akan tetapi juga
pernah dibencinya karena telah membunuh ibunya. Namun karena ibu kandungnya
menjadi pembunuh ayah kandung wanita ini, maka kesadaran hatinya telah
menyudahi rasa bencinya, dan berbalik ia menjadi kasihan kepada Endang
Patibroto, apalagi setelah ia hidup berkecimpung di dalam kebahagiaan cinta
kasih dengan isterinya, Ayu Candra. Dan hatinya ikut girang dan bahagia ketika
ia mendengar berita bahwa Endang Patibroto juga hidup bahagia di samping
seorang suami yang amat mencintanya, yaitu Pangeran Panjirawit. Akan tetapi
sekarang muncul peristiwa yang amat aneh ini. Mula-mula terjadi
pembunuhan-pembunuhan gelap, kemudian timbul desas-desus bahwa Endang
Patibrotolah orangnya yang melakukan perbuatan pengecut dan keji ini. Dan
sekarang, yang amat mengejutkan adalah berita tentang penyerbuan Endang
Patibroto seorang diri di malam gelap untuk membunuh Pangeran Darmokusumo. Mana
ia bisa percaya?
Hari telah menjadi malam
ketika Adipati Tejolaksono memasuki Kota Raja Jenggala yang dahulu amat
dikenalnya itu. Begitu ia menuntun kudanya memasuki pintu gerbang, lima orang
penjaga menghadang dan memandangnya penuh kecurigaan. Akan tetapi sebelum
mereka sempat menegurnya,
seorang di antara para penjaga yang sudah tua usianya memandang Tejolaksono
penuh perhatian, kemudian ia menudingkan telunjuknya ke arah adipati ini dan
berkata gagap,
"Bukankah..............
andika ini.............. Raden Bagus Joko Wandiro ...... ??"
Tejolaksono tersenyum.
Sebetulnya ia tidak ingin memperkenalkan diri, karena ia ingin diam-diam
mengunjungi Pangeran Panjirawit dan menemui Endang Patibroto, tidak mau
memberitakan tentang kedatangannya ke Jenggala kepada orang lain. Akan tetapi
karena penjaga tua ini mengenalnya, ia tidak dapat menyangkal lagi dan
mengangguk.
"Benar, paman. Aku
ingin pergi mengunjungi Gusti Pangeran Panjirawit ...... "
Tejolaksono menghentikan
ucapannya ketika melihat perubahan muka kelima orang penjaga itu yang tampak
nyata di bawah sinar lampu di pintu gerbang. Mereka itu terbelalak, jelas kaget
sekali mendengar disebutnya nama pangeran itu. Ia menyangka pasti ada hal yang
hebal terjadi, maka cepat ia bertanya,
"Ada terjadi apakah,
paman?"
Penjaga tua itu bertanya,
"Benarkah paduka ini
Raden Bagus Joko Wandiro yang kini sudah menjadi gusti adipati di
Selopenangkep?"
Kembali Tejolaksono
mengangguk tak sabar. Ia tidak mempersoalkan dirinya, melainkan ingin mendengar
tentang Endang Patibroto. Melihat orang muda ini mengangguk, lima orang penjaga
itu lalu memberi hormat. Yang empat adalah penjaga-penjaga muda yang belum
pernah melihat Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono, akan tetapi sudah
mendengar nama besar ksatria yang sakti mandraguna ini.
"Maafkan hamba berlima
tadi berlaku kurang hormat, gusti adipati.............. !”
"Ah, bangkitlah, paman
dan harap suka menceritakan apa yang telah terjadi."
Dan Tejolaksono melongo
keheranan ketika mendengar penjaga tua itu bercerita. Makin banyak ia
mendengar, wajahnya makin keruh. Keheranan bercampur dengan kegelisahan dan
tidak percaya. Bagaimana ia bisa percaya mendengar betapa Endang Patibroto
benar-benar telah membunuh-bunuhi para ponggawa Jenggala dan Panjalu dengan
ilmu hitam, kemudian betapa wanita sakti yang oleh para penjaga disebut
"iblis betina" itu telah menyerbu istana Pangeran Darmokusumo,
kemudian betapa Pangeran Panjirawit yang membela nama isterinya itu ditangkap
sendiri oleh ayahnya, sang prabu di Jenggala lalu dipenjarakan. Betapa
kemudian, iblis betina itu secara hebat dan seorang diri telah menyerbu penjara
yang terjaga amat kuatnya, menyamar sebagai pria, sebagai penjaga kemudian
berhasil melarikan suaminya itu dari penjara.
"Iblis itu hebat bukan
main, gusti adipati. Jelas bahwa dia bukan manusia biasa, melainkan iblis.
Kalau manusia biasa, bagaimana bisa berhasil merampas gusti pangeran yang
terjaga oleh ratusan orang prajurit dan pengawal? Bahkan dikerocok (dihujani)
anak panah, masih berhasil melesat pergi seperti terbang saja dan keluar dari
kota raja, entah ke mana, hanya setan yang tahu"
Adipati Tejolaksono hanya
bisa mengeluarkan suara "ahh!" berkali-kali, kemudian ia mengucapkan
terima kasih dan pergi dari situ, meninggalkan para penjaga sambil menuntun
kudanya, berjalan perlahan seperti orang mimpi melalui jalan yang amat gelap
itu. Ia memang merasa seperti mimpi mendengar semua itu. Ia tersenyum kalau
teringat akan keheranan para penjaga yang menceritakan tentang perbuatan Endang
Patibroto membebaskan suaminya. Ia tidak heran mendengar itu. Seorang sakti
seperti Endang Endang Patibroto tentu saja mampu melakukan hal itu, bahkan yang
lebih daripada itu sekalipun! Ia tersenyum kalau membayangkan betapa Endang
Patibroto mempermainkan ratusan orang prajurit itu, membakari sebagian istana
dan menyamar sebagai prajurit, kemudian melarikan diri, dikeroyok puluhan orang
pengawal dan menangkis semua anak panah yang datang bagaikan hujan. Ia sudah
tahu akan kesaktian wanita itu. Iblis betina? Ah, ia cukup tahu akan watak
Endang Patibroto. Kalau sedang marah memang melebihi iblis, akan tetapi
sebetulnya mempunyai dasar watak satria puteri utama! Akan tetapi, tidak habis
keheranannya mendengar semua peristiwa itu. Endang Patibroto membunuhi para
ponggawa dengan ilmu hitam yang mujijat? Memang hal inipun tidak aneh dan bisa
saja Endang Patibroto melakukannya, mengingat bahwa dia adalah murid Dibyo
Mamangkoro yang jahat dan sakti seperti iblis sendiri. Akan tetapi, ia yakin
bahwa tanpa alasan yang amat kuat, tak mungkin Endang Patibroto mau
melakukannya, apalagi sebagai isteri Pangeran Panjirawit yang terkenal berbudi
bawa-laksana! Kalau begitu, apa sebabnya? Mengapa terjadi semua itu? Mengapa?
Dan ke mana ia harus mencari Endang Patibroto? Ia tidak akan menjatuhkan
sesuatu pendapat atau penilaian atas peristiwa semua itu sebelum ia mendengar
sendiri dari orang yang bersangkutan, dalam hal ini Endang Patibroto dan
suaminya. Ia harus mencari Endang Patibroto dan Pangeran Panjirawit. Ia
menyesal mengapa tidak datang lebih pagi. Peristiwa penyerbuan penjara oleh
Endang Patibroto itu baru terjadi dua hari yang lalu!
Adipati
Tejolaksono memeras otaknya. Di dalam gelap, ia berhenti berjalan, lalu duduk
bersila, merenung dan mengerjakan otaknya. Peristiwa ini terlalu aneh, tidak
mungkin terjadi tanpa dasar yang amat kuat. Ia merasa yakin bahwa tentu ada
sesuatu yang menggerakkan semua itu, sesuatu yang memaksa Endang Patibroto
melakukan perbuatan-perbuatan hebat itu, yakni menyerbu istana Pangeran
Darmokusumo dan kemudian menyerbu penjara membebaskan suaminya, melawan
prajurit-prajurit mertuanya sendiri, Sang Prabu Jenggala! Dan, satu-satunya hal
yang mungkin terjadi adalah bahwa tentu penggerak itu merupakan musuh besar
Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Siapa? Kadipaten Nusabarung merupakan musuh
besar terakhir dari Jenggala, akan tetapi kadipaten itu telah dihancurkan.
Siapa lagi yang dapat memusuhi Jenggala dan Panjalu? Memang banyak
kerajaan-kerajaan kecil yang tidak tunduk kepada kedua kerajaan ini, akan
tetapi mereka itu tak mungkin dapat melakukan hal yang amat hebat ini.
No comments:
Post a Comment