Perawan Lembah Wilis; Bagian 017


Alangkah kecil dan lemah manusia ini kalau dibandingkan dengan kebesaran dan kekuasaan alam yang begini hebat dan kuat. Manusia yang banyak akal dan sudah merasa amat maju dengan pelbagal ilmu kepandaian, merasa bahwa dia telah menguasai dan mempermainkan segala apa di alam dunia. Alangkah piciknya pendapat demikian itu. Menguasai alam. Menundukkan alam.
Sungguh mentertawakan, menggelikan. Banyak orang dalam kepicikannya tidak sadar bahwa manusla hidup di dunia bagaikan hidup di atas panggung sandiwara. Dunia bagaikan panggung di mana manusia bermain dalam peran masing-masing yang tanpa dapat dikuasainya telah diserahkan dan diatur, diharuskan oleh Sang Sutradara yang tidak nampak namun yang kekuasaan-Nya amat mutlaki Manusia berebut untuk merampas peran yang paling tinggi kedudukannya, yang paling mulia dan paling penting menurut anggapan manusia. Sungguh banyak orang lupa diri, mengira bahwa peranannya, yang paling penting. Padahal bukanlah kedudukan peranan yang diperhatikan penonton, yakni manusia-manusia lainnya di dunia, melainkan cara ia mernainkan peranan itulah. Jauh leblh baik menjadi seorang pemegang peran abdi dengan permainan yang baik daripada menjadi pemegang peran raja namun dengan permainan yang amat buruk. Dengan kata-kata yang lebih jelas lagi : Jauh lebih baik hidup sebagai manusia miskin yang kaya akan kebajikan daripada seorang kaya yang miskin akan kebajikan, sebagai manusia miskin yang merasa cukup daripada sebagai manusia kaya yang tak pernah merasa cukup. Jauh lebih baik hidup sebagai manusia berkedudukan rendah namun berkepribadian dan berbudi tinggi daripada sebagai manusia berkedudukan tinggi dengan kepribadian yang rendahi Adipati Tejolaksono adalah seorang manusia gemblengan lahir batin. Bukan hanya ia sakti mandraguna, murid terkasih dari Rakyana Patih Kanuruhan Sang Narotama, bahkan telah menerima pula aji-aji linuwih dari mendiang Sang Prabu Airlangga sendiri, akan tetapi juga adipati yang masih muda ini memiliki pribudi yang tinggi dan mengabdi kebesaran, keadilan dan kebajikan. Betapapun juga sang adipati yang bijaksana dan sakti itu tiada lain pun juga seorang manusia biasa. Manusia biasa yang harus tunduk kepada kehendak Sang Sutradara, seorang manusia yang hanya merupakan mahluk lemah, yang kedua kakinya terikat oleh belenggu yang amat kuat, yaitu belenggu cinta kasih kepada isteri dan puteranya. Di dalam pelukan isterinya yang mencintanya sepenuh jiwa raga, Adipati Tejolaksono tenggelam ke dalam madu cinta, menyeret pula isterinya sehingga Ayu Candra akhirnya lupa pula akan segala kekhawatirannya. Mereka berdua untuk kesekian kalinya mabuk oleh cinta mesra masing-masing yang tak pernah mengecil apalagi padam dan akhirnya tertidur pulas dalam pelukan masing-masing, lupa kekhawatirannya dan tidur tanpa mimpi.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dengan wajah berseri-seri dan segar, suami isteri ini sedang duduk menghadapi sarapan pagi ketika tiba-tiba pengawal datang menghadap dan mengabarkan bahwa sepagi itu telah datang utusan dari Kerajaan Panjalu. Berdebar jantung Adipati Tejolaksono, ia menyuruh pengawalnya keluar dan agar mempersilahkan utusan itu menanti di pendopo, ia lalu bertukar pandang dengan isterinya. Perasaan hati mereka meraba sesuatu, sehubungan dengan perasaan khawatir yang mereka bicarakan kemarin. Namun, tanpa mengeluarkan kata-kata, Ayu Candra mempersiapkan pakaian untuk suaminya, karena menerima utusan raja harus mengenakan pakaian kebesaran. Dalam hal pakaian dan makan, adipati muda ini tidak pernah mau dilayani orang lain kecuali isterinya, sebaliknya, Ayu Candra juga tidak membiarkan suaminya dilayani orang lain. Setelah selesai berpakaian, Adipati Tejolaksono pergi keluar menemui utusan. Makin berdebar rasa jantung adipati itu ketika mendapat kenyataan bahwa pengunjungnya, utusan Kerajaan Panjalu itu bukanlah sembarang utusan, melainkan Ki Patih Suroyudo sendiri, patih dalam sang prabu di Panjalu. Tergopoh Adipati Tejolaksono menyambut patih yang sudah putih rambutnya, mempersilahkannya duduk. Kalau sang prabu sampai mengutusnya, seorang patih kerajaan, untuk datang sendiri ke kadipaten, tak dapat diragukan lagi tentu ada urusan yang amat gawat. Setelah berlangsung salam-menyalam seperti telah menjadi tradisi kebudayaan nenek moyang yang tak pernah meninggalkan tata susila dalam hidup bangsa kita, barulah Ki Patih Suroyudo menyampaikan tugas yang dibebankan ke pundaknya oleh sang prabu junjungannya. Mula-mula Ki Patih Suroyudo menceritakan kepada Adipati Tejolaksono tentang segala petistiwa yang terjadi, yaitu tentang kematian-kematian ajaib yang menimpa beberapa orang perwira dan senopati pilihan di Panjalu.
“Menurut pemeriksaan para ahli pengobatan di kota raja, kematian para ponggawa tinggi itu bukanlah karena serangan semacam penyakit,” demikian Ki Patih Suroyudo melanjutkan ceritanya.
“Para empu dan ahli mengatakan bahwa mereka itu tewas akibat ilmu hitam yang amat jahat, namun tak seorangpun di antara mereka dapat menangkap penyerang pengecut itu. Kematian para ponggawa semua terjadi dalam waktu cepat, tak tersangka-sangka sehingga kami tidak tahu siapa-siapa yang akan menjadi korban berikutnya.”
Sang Adipati Tejolaksono mengerutkan keningnya yang hitam tebal. Sepasang matanya yang tajam itu memancarkan sinar aneh. Kemudian terdengar ia bertanya,
“Menurut penuturan paman patih tadi, gejala-gejala yang tampak pada jenazah-jenazah para ponggawa adalah pendarahan yang keluar begitu saja dari kaki tangan dan dada tanpa ada luka di bagian-bagian tubuh itu?”
“Benar, anakmas. Tidak ada luka sedikitpun, namun darah bercucuran dari kaki, tangan dan terutama sekali dari ulu hati seakan-akan bagian-bagian itu ditusuk dengan keris. Mereka itu, rekan-rekan kita yang malang, tewas tanpa dapat melakukan perlawanan, juga tidak tahu siapa musuh yang melakukannya. Karena inilah, maka sang prabu mengutus saya untuk datang ke Selopenangkep dan mengundang anakmas datang ke Panjalu menghadap sang prabu setelah anakmas berhasil menangkap penjahat dan pembunuh itu.
“Setelah saya berhasil menangkap nya?” Adipati Tejolaksono menegas.
“Benar, anakmas. Sang prabu berpendapat bahwa hanya anakmas yang akan dapat membikin terang perkara gelap ini karena menurut pendapat umum, menurut pula desas-desus yang menyelinap masuk sampai ke istana, pelaku daripada semua pembunuhan yang terjadi di Panjalu, juga di Jenggala, adalah.......... hem m.......... puteri mantu sang prabu di Jenggala .......... “

Terbelalak mata yang tajam itu ketika memandang kepada tamunya,
“Paman.......... paman maksudkan. ..... isteri Gusti Pangeran Panjirawit, diajeng Endang Patibroto???”
Ki Patih Suroyudo yang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan.
“Demikianlah bunyi desas-desus, anakmas adipati. Menurut penuturan para ahli kami di Panjalu yang sudah tua-tua, di jaman dahulu yang pandai akan ilmu hitam seperti itu hanyalah tokoh dari Kerajaan Wengker, kerajaan siluman itu. Dan mengingat bahwa.......beliau adalah murid Ki Dibyo Mamangkoro.......hemm.......dan kesaktiannya sudah tersohor di kedua kerajaan, maka bukan hanya semua orang, bahkan sang prabu sendiri berkenan menyatakan kekhawatiran dan dugaan beliau bahwa agaknya memang benarlah isi desas-desus itu. Kemudian sang prabu menyatakan bahwa hanya anakmas adipati seoranglah yang akan dapat mengatasi urusan ini, maka paman diutus untuk menyampaikan semua ini kepada anakmas.”
Adipati Tejolaksono mengangguk-angguk. Hatinya merasa tidak enak sekali. Mengapa nasib selalu hendak mempertemukannya dengan
Endang Patibroto? Terbayanglah semua pengalamannya dahulu dengan wanita sakti itu, dan terbayang pula pertandingannya melawan Endang Patibroto yang mati-matian. Harus ia akui bahwa selama hidupnya, belum pernah ia bertemu tanding sehebat dan sesakti Endang Patibroto. Boleh dikatakan bahwa tingkat ilmu kesaktian mereka seimbang, tidak berbeda jauh. Dan kini, setelah bertahun-tahun ia hidup dalam keadaan aman tenteram, tiba-tiba saja ia dihadapkan perkara yang akan mengharuskan ia lagi-lagi berhadapan dengan Endang Patibrotoi
“Baiklah, paman Patih Suroyudo. Hamba menerima tugas ini dengan ketaatan. Harap paman sudi menyampaikan penghaturan sembah bakti saya kepada gusti sesembahan kita di Panjalu dan akan hamba usahakan sekuat tenaga untuk menyelidiki perkara ini kemudian menangkap pelakunya.”
Setelah beramah-tamah dan menikmati hidangan, Ki Patih Suroyudo minta diri dan berangkat kembali ke Panjalu diiringkan pasukan pengawalnya. Adipati Tejolaksono termenung sejenak ketika tamunya sudah lama pergi dan barulah sadar daripada lamunannya ketika sebuah tangan yang halus menyentuh pundaknya. Ia menoleh dan melihat bahwa Ayu Candra sudah berdiri di situ. Lengannya lalu meraih pinggang yang langsing itu, menariknya duduk di atas kursi di depannya. Karena mereka duduk di pendopo yang terbuka, maka sang adipati menahan hasrat hatinya membelai isterinya, ia hanya tersenyum dan memandang wajah isterinya yang kelihatan khawatir itu.
“Nimas, kau pergilah menemui kedua bibi dan minta mereka suka datang bercakap-cakap di ruangan dalam. Ada urusan penting yang ingin kusampaikan kepada mereka, bahkan hendak kumintai pertimbangan mereka.”
“Ada apakah, kakanda? Ki Patih tadi ...... membawa kabar apakah?” tanya Ayu Candra dengan alis berkerut. Adipati Tejolaksono menangkap tangan isterinya dan meremas-remas jari tangannya.
“Jangan kau khawatir, isteriku sayang. Dan sebaiknya kalau adinda suka memanggil kedua bibi agar bersama dapat membicarakan urusan yang dibawa ki patih tadi.” Biarpun hatinya diliputi kekhawatiran, namun melihat wajah suaminya yang tenang, Ayu Candra tidak mendesak lagi. Memang, betapapun juga besar cinta kasih dan kemanjaannya, ia tetap taat akan segala yang diminta dan dikatakan suaminya. ia mengangguk, lalu pergilah ia masuk ke dalam. Dari belakangnya, Adipati Tejolaksono memandang tubuh belakang isterinya dengan hati gembira. Biarpun sudah menjadi ibu dan usianya sudah bertambah, tiada perbedaan terjadi pada tubuh Ayu Candra. Dan ia tersenyum karena maklum bahwa pendapat ini menambah tebal cinta kasihnya.

Sang adipati lalu masuk ke ruangan dalam. Ketika isterinya kembali bersama dua orang bibi,yaitu Roro Luhito dan Kartikosari yang memandangnya dengan sinar mata penuh pertanyaan dan dugaan, barulah Adipati Tejolaksono teringat akan perintah sang prabu dan sikapnya menjadi sungguh-sungguh. ia mempersilahkan kedua orang wanita setengah tua itu duduk, kemudian mulailah ia bercerita yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Ayu Candra, Kartikosari, dan RoroLuhito. Ketika ia menceritakan tentang pembunuhan-pembunuhan mengerikan dan aneh yang terjadi atas diri banyak ponggawa-ponggawa Panjalu dan Jenggala, tiga orang wanita itu saling pandang dengan perasaan ngeri. Mereka bertiga bukanlah orang-orang lemah, terutama sekali Kartikosari. Akan tetapi, peristiwa pembunuhan seaneh dan sengeri itu baru sekarang ia pernah mendengarnya.
“Demikianlah, bibi. Karena kejadian aneh itu menimpa para ponggawa dan tidak dapat diduga semula siapa-siapa yang akan menjadi korban berikutnya, keadaan di Panjalu menjadi geger dan dicekam suasana ngeri dan takut. Sang prabu mengutus paman Patih Suroyudo untuk memerintahkan saya pergi menanggulangi perkara itu, menyelidiki dan kemudian menangkap si jahat yang melakukan pembunuhan-pembunuhan secara pengecut dan keji.”
Menggigil tubuh Ayu Candra. Adipati Tejolaksono tahu benar akan hal ini melihat dari pandang mata serta gerak leher isterinya.
“Aahhh..........bagaimana seorang manusia dapat melawan iblis? Kurasa hanya iblis sendiri yang dapat melakukan pembunuhan-pembunuhan keji seperti itu.” kata Ayu Candra.
Adipati Tejolaksono tersenyum. ingin sekali hatinya menceritakan tentang desas-desus yang tertiup angin di Kerajaan Panjalu tentang dugaan umum siapa pelaku pembunuhan-pembunuhan itu, akan tetapi Adipati Tejolaksono adalah seorang yang bijaksana. Endang Patibroto adalah anak kandung bibi Kartikosari. Bagaimana ia dapat menyebut nama Endang Patibroto di depan bibinya ini? Tidak, ia tidak akan menceritakan hal itu, apalagi nama Endang terbawa dalam peristiwa itu hanya sebagai desas-desus yang belum ada buktinya. Kecuali kalau memang kemudian ternyata bahwa Endang Patibroto yang melakukan hal itu, dan ini sama sekali tidak dipercayainya, tentu saja ia tidak akan menutupinya.
“Bukan iblis bukan siluman, yayi, melainkan seorang tukang tenung, seorang dukun lepus ahli ilmu hitaml Dan kalau dapat kuselidiki dan kutemui orangnya, tentu akan kuhajar dia. Seorang yang melakukan perbuatan seperti itu bahkan lebih kejam daripada iblis sendiri.”
“Tapi..... tapi dia tentu memiliki kesaktian yang amat hebat....” Kembali Ayu Candra berkata penuh kekhawatiran sambil memandang suaminya, wajahnya agak pucat.
“Ayu, mengapa engkau kini menjadi begini penakut? Mana kegagahanmu yang dahulu, cah-ayu? Ahhhh, benar- benar cinta kasih bisa membuat orang menjadi penakut,” tegur Roro Luhito kepada Ayu Candra. Memang Roro Luhito kalau bicara jujur tanpa tedeng aling-aling lagi.
“Kau tahu bahwa suamimu memiliki kesaktian yang dapat mengatasi musuh-musuhnya, apalagi hanya seorang dukun lepus. Jangan kau khawatir, seperti bukan wanita gemblengan sajai”

<<< Bagian 016                                                                                     Bagian 018 >>>

No comments:

Post a Comment