Alangkah kecil dan lemah manusia ini kalau dibandingkan dengan kebesaran dan kekuasaan alam yang begini hebat dan kuat. Manusia yang banyak akal dan sudah merasa amat maju dengan pelbagal ilmu kepandaian, merasa bahwa dia telah menguasai dan mempermainkan segala apa di alam dunia. Alangkah piciknya pendapat demikian itu. Menguasai alam. Menundukkan alam.
Sungguh mentertawakan,
menggelikan. Banyak orang dalam kepicikannya tidak sadar bahwa manusla hidup di
dunia bagaikan hidup di atas panggung sandiwara. Dunia bagaikan panggung di
mana manusia bermain dalam peran masing-masing yang tanpa dapat dikuasainya
telah diserahkan dan diatur, diharuskan oleh Sang Sutradara yang tidak nampak
namun yang kekuasaan-Nya amat mutlaki Manusia berebut untuk merampas peran yang
paling tinggi kedudukannya, yang paling mulia dan paling penting menurut
anggapan manusia. Sungguh banyak orang lupa diri, mengira bahwa peranannya,
yang paling penting. Padahal bukanlah kedudukan peranan yang diperhatikan
penonton, yakni manusia-manusia lainnya di dunia, melainkan cara ia mernainkan
peranan itulah. Jauh leblh baik menjadi seorang pemegang peran abdi dengan
permainan yang baik daripada menjadi pemegang peran raja namun dengan permainan
yang amat buruk. Dengan kata-kata yang lebih jelas lagi : Jauh lebih baik hidup
sebagai manusia miskin yang kaya akan kebajikan daripada seorang kaya yang
miskin akan kebajikan, sebagai manusia miskin yang merasa cukup daripada
sebagai manusia kaya yang tak pernah merasa cukup. Jauh lebih baik hidup
sebagai manusia berkedudukan rendah namun berkepribadian dan berbudi tinggi
daripada sebagai manusia berkedudukan tinggi dengan kepribadian yang rendahi
Adipati Tejolaksono adalah seorang manusia gemblengan lahir batin. Bukan hanya
ia sakti mandraguna, murid terkasih dari Rakyana Patih Kanuruhan Sang Narotama,
bahkan telah menerima pula aji-aji linuwih dari mendiang Sang Prabu Airlangga
sendiri, akan tetapi juga adipati yang masih muda ini memiliki pribudi yang
tinggi dan mengabdi kebesaran, keadilan dan kebajikan. Betapapun juga sang
adipati yang bijaksana dan sakti itu tiada lain pun juga seorang manusia biasa.
Manusia biasa yang harus tunduk kepada kehendak Sang Sutradara, seorang manusia
yang hanya merupakan mahluk lemah, yang kedua kakinya terikat oleh belenggu
yang amat kuat, yaitu belenggu cinta kasih kepada isteri dan puteranya. Di
dalam pelukan isterinya yang mencintanya sepenuh jiwa raga, Adipati Tejolaksono
tenggelam ke dalam madu cinta, menyeret pula isterinya sehingga Ayu Candra
akhirnya lupa pula akan segala kekhawatirannya. Mereka berdua untuk kesekian
kalinya mabuk oleh cinta mesra masing-masing yang tak pernah mengecil apalagi
padam dan akhirnya tertidur pulas dalam pelukan masing-masing, lupa
kekhawatirannya dan tidur tanpa mimpi.
Pada keesokan harinya,
pagi-pagi sekali, dengan wajah berseri-seri dan segar, suami isteri ini sedang
duduk menghadapi sarapan pagi ketika tiba-tiba pengawal datang menghadap dan
mengabarkan bahwa sepagi itu telah datang utusan dari Kerajaan Panjalu.
Berdebar jantung Adipati Tejolaksono, ia menyuruh pengawalnya keluar dan agar
mempersilahkan utusan itu menanti di pendopo, ia lalu bertukar pandang dengan
isterinya. Perasaan hati mereka meraba sesuatu, sehubungan dengan perasaan
khawatir yang mereka bicarakan kemarin. Namun, tanpa mengeluarkan kata-kata,
Ayu Candra mempersiapkan pakaian untuk suaminya, karena menerima utusan raja
harus mengenakan pakaian kebesaran. Dalam hal pakaian dan makan, adipati muda
ini tidak pernah mau dilayani orang lain kecuali isterinya, sebaliknya, Ayu
Candra juga tidak membiarkan suaminya dilayani orang lain. Setelah selesai
berpakaian, Adipati Tejolaksono pergi keluar menemui utusan. Makin berdebar
rasa jantung adipati itu ketika mendapat kenyataan bahwa pengunjungnya, utusan
Kerajaan Panjalu itu bukanlah sembarang utusan, melainkan Ki Patih Suroyudo
sendiri, patih dalam sang prabu di Panjalu. Tergopoh Adipati Tejolaksono
menyambut patih yang sudah putih rambutnya, mempersilahkannya duduk. Kalau sang
prabu sampai mengutusnya, seorang patih kerajaan, untuk datang sendiri ke
kadipaten, tak dapat diragukan lagi tentu ada urusan yang amat gawat. Setelah
berlangsung salam-menyalam seperti telah menjadi tradisi kebudayaan nenek
moyang yang tak pernah meninggalkan tata susila dalam hidup bangsa kita,
barulah Ki Patih Suroyudo menyampaikan tugas yang dibebankan ke pundaknya oleh
sang prabu junjungannya. Mula-mula Ki Patih Suroyudo menceritakan kepada
Adipati Tejolaksono tentang segala petistiwa yang terjadi, yaitu tentang kematian-kematian
ajaib yang menimpa beberapa orang perwira dan senopati pilihan di Panjalu.
“Menurut pemeriksaan para
ahli pengobatan di kota raja, kematian para ponggawa tinggi itu bukanlah karena
serangan semacam penyakit,” demikian Ki Patih Suroyudo melanjutkan ceritanya.
“Para empu dan ahli
mengatakan bahwa mereka itu tewas akibat ilmu hitam yang amat jahat, namun tak
seorangpun di antara mereka dapat menangkap penyerang pengecut itu. Kematian
para ponggawa semua terjadi dalam waktu cepat, tak tersangka-sangka sehingga
kami tidak tahu siapa-siapa yang akan menjadi korban berikutnya.”
Sang Adipati Tejolaksono
mengerutkan keningnya yang hitam tebal. Sepasang matanya yang tajam itu
memancarkan sinar aneh. Kemudian terdengar ia bertanya,
“Menurut penuturan paman
patih tadi, gejala-gejala yang tampak pada jenazah-jenazah para ponggawa adalah
pendarahan yang keluar begitu saja dari kaki tangan dan dada tanpa ada luka di
bagian-bagian tubuh itu?”
“Benar, anakmas. Tidak ada
luka sedikitpun, namun darah bercucuran dari kaki, tangan dan terutama sekali
dari ulu hati seakan-akan bagian-bagian itu ditusuk dengan keris. Mereka itu,
rekan-rekan kita yang malang, tewas tanpa dapat melakukan perlawanan, juga
tidak tahu siapa musuh yang melakukannya. Karena inilah, maka sang prabu
mengutus saya untuk datang ke Selopenangkep dan mengundang anakmas datang ke
Panjalu menghadap sang prabu setelah anakmas berhasil menangkap penjahat dan
pembunuh itu.
“Setelah saya berhasil
menangkap nya?” Adipati Tejolaksono menegas.
“Benar, anakmas. Sang prabu
berpendapat bahwa hanya anakmas yang akan dapat membikin terang perkara gelap
ini karena menurut pendapat umum, menurut pula desas-desus yang menyelinap
masuk sampai ke istana, pelaku daripada semua pembunuhan yang terjadi di
Panjalu, juga di Jenggala, adalah.......... hem m.......... puteri mantu sang
prabu di Jenggala .......... “
Terbelalak mata yang tajam
itu ketika memandang kepada tamunya,
“Paman.......... paman
maksudkan. ..... isteri Gusti Pangeran Panjirawit, diajeng Endang Patibroto???”
Ki Patih Suroyudo yang tua
itu mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan.
“Demikianlah bunyi
desas-desus, anakmas adipati. Menurut penuturan para ahli kami di Panjalu yang
sudah tua-tua, di jaman dahulu yang pandai akan ilmu hitam seperti itu hanyalah
tokoh dari Kerajaan Wengker, kerajaan siluman itu. Dan mengingat
bahwa.......beliau adalah murid Ki Dibyo Mamangkoro.......hemm.......dan
kesaktiannya sudah tersohor di kedua kerajaan, maka bukan hanya semua orang,
bahkan sang prabu sendiri berkenan menyatakan kekhawatiran dan dugaan beliau
bahwa agaknya memang benarlah isi desas-desus itu. Kemudian sang prabu
menyatakan bahwa hanya anakmas adipati seoranglah yang akan dapat mengatasi
urusan ini, maka paman diutus untuk menyampaikan semua ini kepada anakmas.”
Adipati Tejolaksono
mengangguk-angguk. Hatinya merasa tidak enak sekali. Mengapa nasib selalu
hendak mempertemukannya dengan
Endang Patibroto?
Terbayanglah semua pengalamannya dahulu dengan wanita sakti itu, dan terbayang
pula pertandingannya melawan Endang Patibroto yang mati-matian. Harus ia akui
bahwa selama hidupnya, belum pernah ia bertemu tanding sehebat dan sesakti
Endang Patibroto. Boleh dikatakan bahwa tingkat ilmu kesaktian mereka seimbang,
tidak berbeda jauh. Dan kini, setelah bertahun-tahun ia hidup dalam keadaan
aman tenteram, tiba-tiba saja ia dihadapkan perkara yang akan mengharuskan ia
lagi-lagi berhadapan dengan Endang Patibrotoi
“Baiklah, paman Patih
Suroyudo. Hamba menerima tugas ini dengan ketaatan. Harap paman sudi
menyampaikan penghaturan sembah bakti saya kepada gusti sesembahan kita di
Panjalu dan akan hamba usahakan sekuat tenaga untuk menyelidiki perkara ini
kemudian menangkap pelakunya.”
Setelah beramah-tamah dan
menikmati hidangan, Ki Patih Suroyudo minta diri dan berangkat kembali ke
Panjalu diiringkan pasukan pengawalnya. Adipati Tejolaksono termenung sejenak
ketika tamunya sudah lama pergi dan barulah sadar daripada lamunannya ketika
sebuah tangan yang halus menyentuh pundaknya. Ia menoleh dan melihat bahwa Ayu
Candra sudah berdiri di situ. Lengannya lalu meraih pinggang yang langsing itu,
menariknya duduk di atas kursi di depannya. Karena mereka duduk di pendopo yang
terbuka, maka sang adipati menahan hasrat hatinya membelai isterinya, ia hanya
tersenyum dan memandang wajah isterinya yang kelihatan khawatir itu.
“Nimas, kau pergilah menemui
kedua bibi dan minta mereka suka datang bercakap-cakap di ruangan dalam. Ada
urusan penting yang ingin kusampaikan kepada mereka, bahkan hendak kumintai
pertimbangan mereka.”
“Ada apakah, kakanda? Ki
Patih tadi ...... membawa kabar apakah?” tanya Ayu Candra dengan alis berkerut.
Adipati Tejolaksono menangkap tangan isterinya dan meremas-remas jari
tangannya.
“Jangan kau khawatir,
isteriku sayang. Dan sebaiknya kalau adinda suka memanggil kedua bibi agar
bersama dapat membicarakan urusan yang dibawa ki patih tadi.” Biarpun hatinya
diliputi kekhawatiran, namun melihat wajah suaminya yang tenang, Ayu Candra
tidak mendesak lagi. Memang, betapapun juga besar cinta kasih dan kemanjaannya,
ia tetap taat akan segala yang diminta dan dikatakan suaminya. ia mengangguk,
lalu pergilah ia masuk ke dalam. Dari belakangnya, Adipati Tejolaksono
memandang tubuh belakang isterinya dengan hati gembira. Biarpun sudah menjadi
ibu dan usianya sudah bertambah, tiada perbedaan terjadi pada tubuh Ayu Candra.
Dan ia tersenyum karena maklum bahwa pendapat ini menambah tebal cinta
kasihnya.
Sang adipati lalu masuk ke
ruangan dalam. Ketika isterinya kembali bersama dua orang bibi,yaitu Roro
Luhito dan Kartikosari yang memandangnya dengan sinar mata penuh pertanyaan dan
dugaan, barulah Adipati Tejolaksono teringat akan perintah sang prabu dan sikapnya
menjadi sungguh-sungguh. ia mempersilahkan kedua orang wanita setengah tua itu
duduk, kemudian mulailah ia bercerita yang didengarkan dengan penuh perhatian
oleh Ayu Candra, Kartikosari, dan RoroLuhito. Ketika ia menceritakan tentang
pembunuhan-pembunuhan mengerikan dan aneh yang terjadi atas diri banyak
ponggawa-ponggawa Panjalu dan Jenggala, tiga orang wanita itu saling pandang
dengan perasaan ngeri. Mereka bertiga bukanlah orang-orang lemah, terutama
sekali Kartikosari. Akan tetapi, peristiwa pembunuhan seaneh dan sengeri itu
baru sekarang ia pernah mendengarnya.
“Demikianlah, bibi. Karena
kejadian aneh itu menimpa para ponggawa dan tidak dapat diduga semula
siapa-siapa yang akan menjadi korban berikutnya, keadaan di Panjalu menjadi
geger dan dicekam suasana ngeri dan takut. Sang prabu mengutus paman Patih
Suroyudo untuk memerintahkan saya pergi menanggulangi perkara itu, menyelidiki
dan kemudian menangkap si jahat yang melakukan pembunuhan-pembunuhan secara
pengecut dan keji.”
Menggigil tubuh Ayu Candra.
Adipati Tejolaksono tahu benar akan hal ini melihat dari pandang mata serta
gerak leher isterinya.
“Aahhh..........bagaimana
seorang manusia dapat melawan iblis? Kurasa hanya iblis sendiri yang dapat
melakukan pembunuhan-pembunuhan keji seperti itu.” kata Ayu Candra.
Adipati Tejolaksono
tersenyum. ingin sekali hatinya menceritakan tentang desas-desus yang tertiup
angin di Kerajaan Panjalu tentang dugaan umum siapa pelaku
pembunuhan-pembunuhan itu, akan tetapi Adipati Tejolaksono adalah seorang yang bijaksana.
Endang Patibroto adalah anak kandung bibi Kartikosari. Bagaimana ia dapat
menyebut nama Endang Patibroto di depan bibinya ini? Tidak, ia tidak akan
menceritakan hal itu, apalagi nama Endang terbawa dalam peristiwa itu hanya
sebagai desas-desus yang belum ada buktinya. Kecuali kalau memang kemudian
ternyata bahwa Endang Patibroto yang melakukan hal itu, dan ini sama sekali
tidak dipercayainya, tentu saja ia tidak akan menutupinya.
“Bukan iblis bukan siluman,
yayi, melainkan seorang tukang tenung, seorang dukun lepus ahli ilmu hitaml Dan
kalau dapat kuselidiki dan kutemui orangnya, tentu akan kuhajar dia. Seorang
yang melakukan perbuatan seperti itu bahkan lebih kejam daripada iblis
sendiri.”
“Tapi..... tapi dia tentu
memiliki kesaktian yang amat hebat....” Kembali Ayu Candra berkata penuh
kekhawatiran sambil memandang suaminya, wajahnya agak pucat.
“Ayu, mengapa engkau kini
menjadi begini penakut? Mana kegagahanmu yang dahulu, cah-ayu? Ahhhh, benar-
benar cinta kasih bisa membuat orang menjadi penakut,” tegur Roro Luhito kepada
Ayu Candra. Memang Roro Luhito kalau bicara jujur tanpa tedeng aling-aling
lagi.
“Kau tahu bahwa suamimu
memiliki kesaktian yang dapat mengatasi musuh-musuhnya, apalagi hanya seorang
dukun lepus. Jangan kau khawatir, seperti bukan wanita gemblengan sajai”
No comments:
Post a Comment