“tentu saja aku hendak membunuh harimau keparat ini karena dia telah menggondol pergi dan hendak membunuh anakku.”
Kakek itu mengulum senyum,
wajahnya ramah sekali akan tetapi matanya bersinar-sinar penuh wibawa.
“Orang muda, mengapa andika
hendak membunuhnya? Tidak bolehkah ia menggondol puteramu, bahkan hendak
memangsanya?”
“Tentu saja tidak boleh.
Sebagai seorang ayah aku harus melindungi puteraku, dan harimau yang jahat ini
harus dibunuhi”
Kakek itu tertawa, ketawanya
halus dan nyaring, wajar tidak dibuat-buat.
“Ahhh, apakah artinya jahat,
orang muda? Lebih tepat disebut bodoh, akan tetapi siapakah yang lebih bodoh
antara harimau ini dengan andika? Kalau andika bicara tentang kejahatan,
andikalah orangnya yang jauh lebih jahat daripada harimau ini.”
Adipati Tejolaksono menjadi
marah dan penasaran sekali, ia menatap tajam wajah orang tua itu, dan berkata,
“Agaknya karena andika
berbaik dengan harimau keparat ini, andika hendak membelanya. Apa maksud andika
mengatakan aku lebih jahat daripada binatang ini?” Sikap sang adipati
menantang, siap untuk bertarung melawan kakek sakti ini.
Akan tetapi kakek itu tidak
marah, hanya pandang matanya tajam menusuk.
“Orang muda, kemanakah
perginya rasa keadilanmu? Baru saja andika telah membunuh anak harimau ini dan
andika sama sekali tidak merasa bersalah, kini, harimau ini baru menggondol
pergi puteramu, andika sudah marah-marah hendak membunuhnyal”
Adlpati Tejolaksono terkejut
sekali, ia memandang harimau itu yang masih mendekam dan mengertilah ia.
Harimau itu tentulah harimau jantan yang menjadi bapak dari harimau kecil yang
dipanahnya tadi. Sejenak ia termangu, akan tetapi ia tidak mau menyerah begitu
saja.
“Kakek tua yang sakti, tidak
salah wawasan andika. Akan tetapi andika lupa agaknya bahwa aku seorang
manusia, dan aku sedang berburu harimau. Aku memanah induknya, tidak sengaja
mengenai anaknya. Mana mungkin manusia dapat disamakan dengan binatang
harimau?”
Kakek itu mengangguk-angguk,
kemudian berkata dengan suara halus, akan tetapi ucapan ini terdengar bagaikan
halilintar menyambar bagi sang adipati.
“Heh, orang muda, apakah
harimau ini juga tidak berhak berburu? Untuk apa kau berburu harimau? Untuk
dimakan dagingnya dan diambil kulitnya untuk perhiasan. Apakah engkau
kekurangan makanan di kadipaten sehingga harus mencari daging harimau? Apakah
hidupmu akan kekurangan kalau tidak ada hiasan kulit harimau? Engkau berburu
hanya untuk menuruti nafsu kesenangan, tidak mempunyai dasar atau alasan yang
patut. Akan tetapi harimau berburu karena tuntutan hidup, karena wajar, yaitu
bahwa harimau harus makan daging mentah agar dapat hidup. Buaskah dia kalau
terpaksa harus menerkam mangsanya karena hanya itulah jalan yang diketahuinya
untuk dapat langsung hidup? Patutkah engkau yang tidak membutuhkan dagingnya
sebagai penyambung hidup, mengejar-ngejar dan membunuhnya hanya untuk
melampiaskan nafsu dan kepuasan hati?”
Sang adipati menundukkan
kepalanya. Ucapan itu menusuk perasaannya dan tidak sanggup menjawab.
“Tapi........ tapi
........aku seorang manusia..... yang dijelmakan menjadi mahluk tertinggi
derajatnya, dan aku hanya melakukan kebiasaan yang dilakukan semua orang ......
“ ia menangkis dan bersandar kepada kebiasaan manusia, termasuk raja dan para
bangsawan yang suka berburu.
“Ha-ha-ha, engkau berlindung
kepada kebiasaan manusia. Salah kaprah. Kesalahan, betapapun besarnya akan
menjadi kebenaran kalau sudah dilakukan semua orang. Begitukah? Hei, orang
muda, beginikah ajaran yang kau terima dari guru-gurumu? Dari Sang Patih
Narotama yang sakti mandraguna, dari Sang Prabu Airiangga yang arif bijaksana?”
Pucat wajah sang adipati, ia
segera menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
“Aduh, eyang.......... ,
ampunkan hamba. Hamba mengaku salah, eyang. Bolehkah hamba mengetahui siapa
gerangan julukan eyang panembahan?”
“Hemmm, sang adipati, harap
jangan merendahkan diri di depan seorang petani biasa seperti aku. Aku bukan
pendeta, bukan pertapa, aku seorang kakek biasa, namaku Ki Tunggaljiwa.
Bangkitlah, angger, dan mari kita bicara.” Pada saat itu, Bagus Seta sadar dari
pingsannya. Ia membuka mata, teringat akan semua peristiwa. Dia masih hidup.
Dan harimau itu mendekam di sebelahnya, sama sekali tidak kelihatan galak. Mata
harimau itu kehijauan, amat indahnya. Dan bulunya, seperti bulu kucing putih di
kadipaten. Ia meraih, mengelus-elus leher binatang itu dan sang harimau
menjilati tangannya. Bagus Seta tersenyum, menoleh dan ketika melihat ayahnya
berada di situ bersama seorang kakek tua renta, ia lalu berseru,
“Ayah, lihat. Macan ini
besar dan bagus sekali. Hamba kira tadi hendak membunuhku, kiranya tidak, dia
macan baik!”
Sang adipati terharu, lalu
melangkah maju dan menarik tangan puteranya, diajak menghadap kakek itu yang
kini sudah duduk di atas sebuah batu. Sang adipati mengajak puteranya duduk
bersila depan kakek itu.
“Eyang Tunggaljiwa, sekarang
hamba telah sadar akan semua kesalahan hamba. Hamba berjanji, mulai saat ini,
hamba tidak akan berburu binatang lagi.”
Kakek itu tersenyum.
“Berburu tidak mengapa asal
berdasarkan kebutuhan. Memang Hyang Widhi telah menciptakan segala apa di
mayapada ini untuk manusia yang amat dikasihi-Nya. Kalau manusia lapar lalu
membunuh harimau atau apa saja untuk dimakan, itu wajar namanya, sewajar seekor
harimau menerkam dan memangsa kelinci. Akan tetapi kalau membunuh sekedar
membunuh, itu keji namanya, tidak wajar dan bersifat merusak. Betapa bodohnya
merusak ciptaan Hyang Widhi Wisesa. Sang adipati, bukan hanya kebetulan saja
pertemuan antara andika, putera andika, dengan saya. Hyang Widhi sudah
menentukannya bahwa puteramu akan ikut bersamaku ke puncak Merapi. Andika harus
tega melepaskannya, sang adipati.”
Adipati Tejolaksono terkejut
sekali. Melepaskan puteranya, menjadi murid kakek ini? Putera tunggalnya si
Bagus Seta? Mana mungkin? Ibu anak inipun tentu akan melarangnya, ia memegang
tangan puteranya erat-erat, lalu menjawab,
“Mohon eyang sudi
mengampunkan saya. Agaknya tidak mungkin saya dan ibu anak ini berpisah dari
Bagus Seta, eyang. Hanya dia seorang putera kami, betapa dapat kami berpisah
daripadanya?”
Kakek itu menarik napas
panjang.
“Sang adipati, kehendak
Dewata tak dapat dirubah. Perbuatanmu hari ini pasti akan mendatangkan
malapetaka dan hukuman yang hebat, yang akan menimpa anak andika. Hanya sebuah
syarat membebaskannya, yaitu anakmu ini harus ikut bersamaku selama lima tahun,
menjadi muridku dan menjadi sahabat si Putih, menghibur hatinya yang kehilangan
anak. Aku tidak memaksa, akan tetapi hanya memberi jalan demi kebaikan keluarga
andika. Apalagi karena dalam waktu mendatang, andika harus pergi meninggalkan
Selopenangkep, alangkah akan baiknya kalau putera andika dititipkan kepada
saya.”
“Maafkan saya, eyang.
Betapapun juga, saya tidak dapat melepaskan puteraku ini sebelum mendapat
persetujuan daripada ibunya.”
Kakek ini menghela napas
lalu mengelus-elus kepala harimau putih.
“Putih, kau terimalah,
memang tidak ada mahluk di dunia ini yang hanya mementingkan diri pribadi
seperti manusia.” Kemudian kepada sang adipati ia berkata,
“Kalau begitu, sang adipati,
biarlah saya serahkan kepada takdir. Betapapun juga, sewaktu-waktu si Putih
dapat mengantar puteramu kepadaku. Nah, selamat berpisah.” Kakek itu lalu
bangkit berdiri dan pergi dari situ dengan langkah perlahan-lahan, diikuti
harimau putih dari belakang.
“Eh, paman macan
putih.......... !” Tiba-tiba Bagus Seta berseru memanggil dan lari menghampiri
harimau itu yang menghentikan langkah membalikkan tubuh. Anak itu merangkul
lehernya dan si harimau merendahkan tubuh, menjilat-jilat pipinya.
“Engkau ikut saja bersamaku
ke kadipateni”
Harimau itu mengeluarkan
suara gerengan perlahan, kemudian membalikkan tubuhnya dan lari mengejar Ki
Tunggaljiwa. Bagus Seta tampak kecewa sekali, kembali kepada ayahnya.
“Ayah, macan itu indah dan
baik sekali, tidak galak, ingin aku bermain-main dengannya, menunggang di
punggungnya.”
Adipati Tejolaksono menghela
napas, hatinya merasa tidak enak, ia seperti dapat merasakan getaran aneh yang
menghubungkan puteranya dengan kakek serta macan putih itu.
“Malam hampir tiba, hayo
kita pulang. ibumu tentu akan khawatir sekali,” katanya.
Bagus Seta bertepuk tangan
gembira.
“Aah, betapa kanjeng ibu
akan terheran-heran mendengar cerita hamba tentang macan putih!” soraknya.
Adipati Tejolaksono
menggendong puteranya lalu mengerahkan aji kesaktlannya, berlari turun dari
lereng. Hari sudah malam ketika ia tiba di hutan dan bertemu dengan para
pengawal yang mencari-cari mereka dengan gelisah. Para pengawal menjadi girang
sekali dan pulanglah rombongan itu naik kuda yang telah dapat dikumpulkan oleh
para pengawal.
Adipati Tejolaksono memberi
perintah agar semua hasil buruan itu dibagi-bagi di antara petani di luar
kadipaten yang jarang sekali dapat merasai nikmatnya daging kijang. Para
pengawal hanya saling.......... dan melongo, namun tak seorangpun berani
membantah. Ketika tiba di kadipaten, sang adipati dan puteranya disambut dengan
penuh kelegaan hati oleh keluarganya. Kemudian sang adipati bersama puteranya
bercerita di depan isteri dan kedua bibinya. Mendengar cerita suaminya bahwa
kakek sakti bernama Tunggaljiwa ini hendak mengambil Bagus Seta menjadl murid,
wajah Ayu Candra berubah pucat. Akan tetapi di depan kedua bibinya, ia tidak
berkata sesuatu kepada suaminya. Kartikosari mengerutkan keningnya.
“Serasa pernah aku mendengar
nama Ki Tunggaljiwa ini. Dahulu ketika aku masih bersama ayah di Bayuwisma
dekat pantai, pernah ayah menyebut nama ini sebagai satu-satunya tokoh sakti
yang tak pernah mau mencampuri urusan dunia, hanya hidup sebagai petani biasa
di puncak Merapi. Siapa kira, hari ini kalian berjumpa dengannya, bahkan beliau
hendak mengambil Bagus sebagai murid. Hemmm.......... .......... Kartikosari
memandang kepada Ayu Candra dan tidak melanjutkan kata-katanya, akan tetapi
sang adipati maklum dari pandang mata bibinya itu bahwa bibinya menganggap hal
itu amat baik dan menguntungkan.
“Orang yang dapat memelihara
seekor harimau putih yang besar, tentu seorang yang memiliki kesaktian luar
biasa. Tapi aku sendiri belum pernah mendengar nama Ki Tunggaljiwa,” kata pula
Roro Luhito.
Malam hari itu, ketika
berada di dalam kamarnya berdua dengan isterinya, Ayu Candra menangis. Setelah
tidak ada orang lain, barulah dia berani menumpahkan segala kekhawatirannya.
Adipati Tejolaksono memeluk
isterinya.
“Eh-eh, kenapa kau menangis,
nimas?”
Ayu Candra merebahkan kepala
di dada suaminya, tempat yang aman di seluruh dunia ini baginya, dan makin
sesenggukan.
“Kakangmas..........
aku.......... aku khawatir sekali, kakangmas., ...... “
Adipati Tejolaksono
merangkul dan membelai rambut isterinya.
“Apa yang kau khawatirkan,
nimas? Tentang anak kita si Bagus Seta?”
Isterinya mengangguk.
“Tentang kata-kata Ki
Tunggaljiwa itu.......... bahwa akan tiba hukuman kalau anak kita tidak
dibawanya.......... ah, aku ngeri, kakangmas.”
Adipati Tejolaksono yang
amat mencinta isterinya, segera menghibur dan menciumi untuk mengusir
kekhawatirannya.
“Apa yang ditakutkan? Ada
aku di sini, nimas. Kalau aku berada di sini, siapakah yang akan dapat
mengganggu Bagus atau kita? Di samping aku, engkaupun bukan seorang ibu yang
boleh dipandang rendah. Belum lagi bicara tentang bibi Roro Luhito yang galak,
dan bibi Kartikosari yang sakti mandraguna. Siapa berani main-main hendak
mengganggu anak kita?”
“Tapi..........
tapi.......... “ suara Ayu Candra sudah tidak begitu takut lagi dan bahkan
gemetar bukan oleh takut, melainkan oleh rasa mabuk yang selalu datang apabila
suaminya sudah menciumi tengkuk dan lehernya seperti itu.
“........ kalau benar
kakangmas pergi seperti dikatakan kakek itu.......... “
“Ah, pergi ke mana? Agaknya,
Ki Tunggaljiwa melihat bakat baik dan kebersihan diri anak kita, saking
inginnya mengambil murid lalu menakut-nakuti aku.......... “ Akan tetapi, di
sudut hatinya, kekhawatiran besar yang timbul sejak pertemuannya dengan Ki
Tunggaljiwa tak dapat juga diusirnya. Karena itu, ia mencari perlindungan kepada
isterinya, kepada orang yang paling dicintanya di seluruh dunia ini, tenggelam
ke dalam pelukannya, membiarkan diri terseret oleh arus nikmat cinta kasih.
Mereka tak bercakap-cakap lagi, tidak ada yang perlu dipercakapkan pada saat
itu. Malam menjadi sunyi,sunyi yang mengamankan hati dan semua kekhawatiran di
dalam hati, lenyap tak terpikirkan lagi. Bahkan dunia ini seakan-akan hanya
berisi mereka berdua.
No comments:
Post a Comment