“Dia membawa anaknya …… ” Tiba-tiba Bagus Seta tak dapat menahan kata-katanya yang diucapkan setengah berteriak ketika ia melihat kepala macan itu menunduk lenyap ke dalam semak-semak kemudian tampak lagi dan kiri seperti seekor kucing, harimau betina yang besar itu menggigit punggung seekor harimau kecil. Terlambat sang adipati mencegah puteranya berteriak. Harimau itu kaget, kemudian mengeluarkan suara gerengan dengan kerongkongannya dan sekali tubuhnya bergerak, ia sudah melompat jauh ke depan. Seorang pengawal yang menjaga di situ, berusaha menggebah sang harimau kembali ke tengah kurungan dengan menusukkan tombaknya. Akan tetapi harimau yang amat besar itu menggerakan kaki depan menyampok dan ………”krekkk….I” tombak itu patah dua dan si pengawal terpelanting. Harimau lalu lari.
“Biar kupanah dia” Tiba-tiba
sang adipati berseru keras. Seruan ini keras dan seperti auman harimau tadi,
mendatangkan gema. Si harimau agaknya terkejut, menengok. Pada detik itulah
anak panah sang adipati menyambar, semula menyambar ke arah leher dengan amat
cepatnya, akan tetapi karena harimau itu menoleh, kini anak panah itu tepat
sekali mengenai perut harimau kecil yang digigit punggungnya. Harimau kecil
meronta, terlepas dari gigitan induknya, dan harimau yang besar itu melompat
cepat lalu menghilang ke dalam rimba, meninggalkan raung yang seperti ratap
tangis bunyinya. Bagus Seta sudah lari ke arah harimau kecil yang terpanah,
melihat harimau itu berlumur darah dan sudah mati dengan pandang mata penuh
sesal. Ayahnya datang menghampiri.
“Rama, mengapa memanah
anaknya.....?” tanyanya, suaranya mengandung kemarahan dan kekecewaan. Sang
adipati menaruh tangannya di atas pundak puteranya.
“Bukan niatku memanah dia,
Bagus. Tadinya kuincar leher induknya, akan tetapi harimau itu menoleh dan anak
panah mengenai anaknya.”
Karena cuaca sudah mulai
gelap di dalam hutan itu, sang adipati lalu mengajak rombongannya pulang.
Mereka menunggang kuda mereka dan biarpun sang adipati tidak memperoleh seekor
harimau besar sebagaimana yang diharapkan, akan tetapi rombongan itu
tetap gembira karena
kijang-kijang dan kulit dua ular besar itu lumayan juga. Sate daging kijang
amat lezat, tidak kalah oleh sate daging kambing. Tiba-tiba terdengar auman
yang luar biasa dahsyatnya. Auman yang jauh lebih dahsyat daripada auman
harimau tadi. Dan kali ini, auman ini membuat semua kuda, termasuk kuda sang
adipati, gemetar dan meringkik ketakutan, berdiri di atas kaki belakang dan
bahkan beberapa ekor kuda tunggangan pengawal lalu meloncat dan kabur. Kuda
tunggangan Bagus Seta juga berdiri di atas kaki belakang, meringkik-ringklk dan
meloncat jauh sambil meringkik terus ketakutan. Bagus Seta yang secara
tiba-tiba dibawa lari itu, hampir terlempar jatuh, dan cepat-cepat ia mendekam
di atas kudanya, memegangi kendali eret-erat dengan kedua tangannya. Akan
tetapi ia sama sekali tidak mampu lagi menguasai kudanya.
“Bagus..........
Bagus..........!” Adipati Tejoleksono berteriak memanggil, namun karena Bagus
Seta tak dapat menguasai kudanya, anak itu hanya berteriak- teriak,
“Ayah.......... !
Ayah.......... !!”
Para pengawal juga bingung
karena kuda mereka semua menjadi binal, apalagi ketika suara auman itu
terdengar kembali, membuat kuda mereka semua kabur ke pelbagai jurusan tanpa
dapat dicegah. Sang adipati yang mengkhawatirkan puteranya segera melompat
turun dari atas kuda, meninggalkan kuda yang tak dapat dikuasai lagi itu lalu
berlari cepat melesat di antara semak belukar. Kuda putih itupun lari sambil
meringkik-ringkik. Akan tetapi kuda tunggangan Bagus Seta sudah tak tampak dan
dengan hati gelisah sang adipati terus mengejar, mengerahkan ajinya berlari
cepat. Sang adipati memiliki Aji Bayu Sakti yang amat hebat, akan tetapi karena
hutan itu amat liar, penuh semak belukar, dan ia tidak tahu ke mana larinya
kuda puteranya, ia harus menyusup-nyusup dan menyelinap-nyelinap dengan hati
tidak karuan rasanya. Kuda tunggangan Bagus Seta berlari terus, jauh dari
tempat tadi. Tiba-tiba dari gerombolan semak belukar muncul seekor harimau yang
amat luar biasa. Harimau ini amat besar, hampir setinggi kuda itu sendiri,
berdiri menghadang sambil menggereng. Gerengannya tidak nyaring, akan tetapi
bumi terasa tergetar. Kuda itu berhenti seketika, ngoplok (menggigil kakinya)
dan lumpuh seketika, tidak mampu lari lagi, hanya mengeluarkan suara meringkik
seperti orang merintih. Melihat harimau yang amat besar dan berbulu panjang
putih ini, Bagus Seta juga merasa takut. Baru kali ini ia merasa takut, karena
ayahnya tidak berada di situ, karena ia seorang diri harus menghadapi harimau
yang amat luar biasa ini. Namun darah pendekar mengalir kencang di tubuhnya.
Ketika kudanya lumpuh dan mendeprok roboh, ia meloncat turun dan mencabut pisau
belatinya. Anak berusia sepuluh tahun ini berdiri tegak, memasang kuda-kuda
seperti yang diajarkan ayahnya, pisau belati di tangan kanan, siap menghadapi
terjangan harimau putih yang besar sekali itu. Pantang menyerah sebelum kalah.
Macan putih itu berdiri
memandang, agaknya terheran, kepalanya miring ke kanan kemudian ke kiri, lalu
membuka mulutnya yang besar memperlihatkan gigi yang besar-besar panjang dan
kuat meruncing, lidahnya merah kasar dan kumisnya yang kaku bergerak-gerak
tertarik kulit bibir atas yang menaik. Kemudian terdengar suara gerengannya,
gerengan yang membuat tanah yang terpijak kaki Bagus Seta tergetar, yang
membuat daun-daun pohon di atasnya, yang sudah menguning tua, rontok
melayang-layang. Namun Bagus Seta tidak menjadi gentar, bahkan melangkah maju,
mengatur kuda-kuda dan mencari akal bagaimana untuk dapat mengatasi bahaya yang
mengancam ini. Tiba-tiba ia teringat akan busur dan anak panah yang tersandang
di punggung. Tangan kirinya perlahan-lahan merayap, bergerak ke punggung, akan
tetapi pandang matanya tak pernah terlepas dari kepala harimau dan pisau belati
masih terpegang erat-erat di tangan kanan. Ia berhasil mengambil busur dan anak
panah dengan tangan kini, kemudian
tangan kanannya membantu
memasangkan anak panah pada busur, pisau belati digigitnya agar sewaktu-waktu
mudah ia pergunakan. Kini ia menghadapi harimau dengan busur terpentang dan
anak panah siap diluncurkan. Harimau itu setelah memandang sejenak tanpa
berkejap mata, kini melangkah maju, langkah seenaknya dan sama sekali tidak
bersikap untuk menerkam. Ia melangkah menghampiri Bagus Seta yang tentu saja
segera menarik busur sampai melengkung dan begitu jarak antara dia dan macan
putih itu tinggal tiga meter lagi, ia melepas anak panahnya. Busur dan anak
panah itu memang kecil, akan tetapi Bagus Seta sudah terlatih baik, busur
itupun buatan seorang ahli dan anak panahnya yang runcing dibungkus timah
ujungnya.
“Singggg.......... !!”
Dengan cepat sekali anak panah menyambar ke arah muka harimau, antara kedua
matanya. Kalau tepat mengenai sasarannya, tentu akan celaka harimau itul Akan
tetapi ternyata harimau itu hebat sekali, ia menggereng lagi dan kaki depan
kiri diangkat, bergerak cepat menyampok ke depan dan……. Anak panah itu dapat
ditangkap dalam cengkeramannya. Bagus Seta tertegun. Di antara para pengawal
ayahnya yang gagah perkasa sekalipun tidak ada yang mampu melakukan ini. Hanya
ayahnya dan eyang putri Kartikosari saja yang mampu menangkap anak panah
terbang. Tapi harimau ini dapat. Bukan main. Harimau itu melemparkan anak panah
kemudian melangkah maju terus, menghampiri Bagus Seta. Anak ini melempar
busurnya, memegang
pisau belatinya dan
membentak,
“Pergi.......... ! Pergilah
kau, macan!!”
Ketika harimau itu
menghampiri terus, Bagus Sera bertekad melakukan perlawanan sedapat mungkin. Ia
menggerakkan kakinya dan tubuhnya menerjang harimau itu, tangan yang memegang
pisau bergerak menusuk ke arah leher harimau itu . Akan tetapi sekali lagi
harimau putih itu mengangkat kaki depan yang kiri, menangkis dan........pisau
itu terlempar,..........Bagus Seta terpelanting. ia meloncat berdiri akan
tetapi sebuah tamparan kaki harimau mengenai lehernya, membuat anak itu roboh
dan pingsan. Baiknya si harimau putih tidak mengulur kukunya ketika menampar,
maka leher anak itu tidak terluka. Ia hanya pingsan oleh kerasnya tamparan.
Harimau itu mengendus-endus, mencium-cium dengan hidungnya pada muka Bagus
Seta, kemudian membuka rahangnya, mendekati kepala anak itu dan..... menggigit
punggung baju Bagus Seta, diangkatnya kemudian dibawanya lari dari situ. Kalau
Bagus Seta tidak pingsan dan dapat menyaksikan hal ini, tentu ia akan teringat
akan anak harimau yang tadi dibawa induknya dengan cara seperti ini pula,
digigit punggungnya. Harimau putih yang menggondol tubuh Bagus Seta ini kini
berlari cepat sekali keluar dari hutan dan terus mendaki gunung. Pada saat itu,
Adipati Tejolaksono berada di atas sebuah pohon yang tinggi, meneliti keadaan
sekelilingnya dengan pandang matanya, mukanya penuh kekhawatiran. Tadi ia
mendengar gerengan-gerengan harimau yang bergema menggetar di seluruh hutan,
dan ketika ia mengejar lebih jauh, ia melihat busur, anak panak, dan pisau
belati puteranya menggeletak di atas tanah.
“Bagus Seta .......... !!”
ia mengerahkan suaranya memanggil, namun tiada jawaban.
Hatinya gelisah dan akhirnya
ia meloncat ke atas pohon, memanjat ke pucuk dan dari tempat tinggi
mencari-cari. Akhirnya tampak olehnya bayangan putih itu berlari mendaki bukit,
menggondol tubuh puteranya.
“Duh Jagad Dewa
Bathara.......... !” ia berseru terkejut, melayang turun dari atas pohon dan
mengerahkan seluruh aji kesaktiannya untuk lari mengejar ke arah larinya
harimau yang dilihat dari atas tadi. Dengan jantung berdebar ia berdoa semoga
Hyang Widhi melindungi puteranya. Teringat akan hasil panahnya tadi yang
mengenai harimau kecil yang digondol induknya, ia cepat membuang busur dan anak
panahnya. Ia tidak akan memanah harimau itu, khawatir kalau-kalau mengenai
tubuh puteranya sendiri. Di
tangannya terpegang sebatang tombak dan ia berlari makin kencang. Ketika ia
mengejar sampai di lereng gunung, hari telah mulai senja. Dapat dibayangkan
betapa kaget dan khawatirnya ketika di luar sebuah hutan kecil ia melihat
harimau putih yang besar sekali itu mendekam, tubuh Bagus Seta tak
bergerak-gerak rebah menelungkup di depan binatang itu. Saking gelisah, sang
adipati tidak melihat adanya bayangan putih yang berdiri tak jauh di sebelah
depan harimau itu, teraling pohon. Cepat ia memasang kuda-kuda, mengambil
sasaran lalu tombaknya dilontarkan dengan pengerahan tenaga mengarah leher
harimau yang sedang mendekam. Tombak meluncur melebihi kecepatan anak panah,
lenyap bentuknya berubah menjadi sinar, menuju leher harimau dengan ketepatan
yang tak diragukan lagi. Betapapun pandai dan sigapnya sang harimau, tak
mungkin dapat mengelak dari sambaran tombak seperti ini. Dan agaknya tombak itu
pasti akan mengena sasaran kalau saja tidak terjadi hal yang mujijat. Akan
tetapi terjadilah hal yang mujijat itu. Kurang beberapa centimeter lagi ujung
tombak mengenai sasaran leher harimau, tiba-tiba sinar putih yang kecil hampir
tak tampak menyentuh tombak dan..........tombak itu menyeleweng dan menancap ke
dalam tanah, ambles sampai setengahnya lebih. Adipati Tejolaksono terkejut.
Belum pernah selama hidupnya ia
bertemu dengan harimau yang
berbulu putih, apalagi harimau yang pandai ilmu sihir sehingga tanpa bergerak
mampu menangkis serangan tombaknya. Ia menjadi makin marah saking gelisahnya
melihat keadaan Bagus Seta yang ia tidak tahu masih hidup ataukah sudah mati,
kegelisahan wajar seorang ayah melihat puteranya dalam bahaya. Cepat bagaikan
elang menyambar, tubuhnya sudah melesat dan mencelat ke arah harimau putih,
pukulan Pethit Nogo sekuatnya berada dalam pukulan itu menyambar kepala
harimau, dan mulutnya berseru,
“Macan keparat, berani kau
mengganggu puteraku?”
“Desss.......... !!!” Hebat
bukan main pukulan Pethit Nogo itu dan tepat bertemu dengan benda putih, akan
tetapi yang terang bukan kepala macan karena ketika Sang Adipati Tejolaksono
memandang, macan itu tetap mendekam seakan-akan tidak merasakan sama sekali
hantamannya yang begitu hebat.
Ia mengangkat muka dan
melihat seorang kakek tua renta berambut panjang putih berdiri di depannya,
maka mengertilah ia bahwa kakek ini yang telah menangkis tombak dan pukulannya.
Kakek ini mengenakan kain putih bersih yang dikelit-kelitkan di tubuhnya, memegang
sebatang tongkat bambu kuning gading, kakinya telanjang, kepalanya juga
telanjang, alis, dan jenggot kumis semua putih, akan tetapi kulit mukanya segar
kemerahan seperti muka seorang pemuda remaja dan sepasang matanya begitu bening
dan terang seperti sepasang mata anak kecil.
“Orang muda yang perkasaI
Kalau boleh aku bertanya, mengapa andika hendak membunuh harimau ini?”
Sebelum menjawab, sang
adipati mengerling ke arah puteranya yang masih rebah menelungkup. Dia seorang
ahli maka sekilas pandang saja maklumlah ia bahwa puteranya tidak terluka, juga
sama sekali tidak mati, mungkin hanya pingsan saja. Keadaannya seperti orang
tidur. Hatinya lega dan kembali ia memperhatikan kakek itu, ia maklum
sepenuhnya bahwa ia berhadapan dengan orang sakti mandraguna, yang entah
bagaimana tadi sudah sanggup menangkis pukulannya Pethit Nogo. Akan tetapi
karena kakek ini membela harimau, maka ia anggap sebagai musuhnya.
“Kakek tua,” jawabnya,
suaranya juga halus akan tetapi mengandung penasaran,
No comments:
Post a Comment