Perawan Lembah Wilis; Bagian 015


“Dia membawa anaknya …… ” Tiba-tiba Bagus Seta tak dapat menahan kata-katanya yang diucapkan setengah berteriak ketika ia melihat kepala macan itu menunduk lenyap ke dalam semak-semak kemudian tampak lagi dan kiri seperti seekor kucing, harimau betina yang besar itu menggigit punggung seekor harimau kecil. Terlambat sang adipati mencegah puteranya berteriak. Harimau itu kaget, kemudian mengeluarkan suara gerengan dengan kerongkongannya dan sekali tubuhnya bergerak, ia sudah melompat jauh ke depan. Seorang pengawal yang menjaga di situ, berusaha menggebah sang harimau kembali ke tengah kurungan dengan menusukkan tombaknya. Akan tetapi harimau yang amat besar itu menggerakan kaki depan menyampok dan ………”krekkk….I” tombak itu patah dua dan si pengawal terpelanting. Harimau lalu lari.
“Biar kupanah dia” Tiba-tiba sang adipati berseru keras. Seruan ini keras dan seperti auman harimau tadi, mendatangkan gema. Si harimau agaknya terkejut, menengok. Pada detik itulah anak panah sang adipati menyambar, semula menyambar ke arah leher dengan amat cepatnya, akan tetapi karena harimau itu menoleh, kini anak panah itu tepat sekali mengenai perut harimau kecil yang digigit punggungnya. Harimau kecil meronta, terlepas dari gigitan induknya, dan harimau yang besar itu melompat cepat lalu menghilang ke dalam rimba, meninggalkan raung yang seperti ratap tangis bunyinya. Bagus Seta sudah lari ke arah harimau kecil yang terpanah, melihat harimau itu berlumur darah dan sudah mati dengan pandang mata penuh sesal. Ayahnya datang menghampiri.
“Rama, mengapa memanah anaknya.....?” tanyanya, suaranya mengandung kemarahan dan kekecewaan. Sang adipati menaruh tangannya di atas pundak puteranya.
“Bukan niatku memanah dia, Bagus. Tadinya kuincar leher induknya, akan tetapi harimau itu menoleh dan anak panah mengenai anaknya.”

Karena cuaca sudah mulai gelap di dalam hutan itu, sang adipati lalu mengajak rombongannya pulang. Mereka menunggang kuda mereka dan biarpun sang adipati tidak memperoleh seekor harimau besar sebagaimana yang diharapkan, akan tetapi rombongan itu
tetap gembira karena kijang-kijang dan kulit dua ular besar itu lumayan juga. Sate daging kijang amat lezat, tidak kalah oleh sate daging kambing. Tiba-tiba terdengar auman yang luar biasa dahsyatnya. Auman yang jauh lebih dahsyat daripada auman harimau tadi. Dan kali ini, auman ini membuat semua kuda, termasuk kuda sang adipati, gemetar dan meringkik ketakutan, berdiri di atas kaki belakang dan bahkan beberapa ekor kuda tunggangan pengawal lalu meloncat dan kabur. Kuda tunggangan Bagus Seta juga berdiri di atas kaki belakang, meringkik-ringklk dan meloncat jauh sambil meringkik terus ketakutan. Bagus Seta yang secara tiba-tiba dibawa lari itu, hampir terlempar jatuh, dan cepat-cepat ia mendekam di atas kudanya, memegangi kendali eret-erat dengan kedua tangannya. Akan tetapi ia sama sekali tidak mampu lagi menguasai kudanya.
“Bagus.......... Bagus..........!” Adipati Tejoleksono berteriak memanggil, namun karena Bagus Seta tak dapat menguasai kudanya, anak itu hanya berteriak- teriak,
“Ayah.......... ! Ayah.......... !!”
Para pengawal juga bingung karena kuda mereka semua menjadi binal, apalagi ketika suara auman itu terdengar kembali, membuat kuda mereka semua kabur ke pelbagai jurusan tanpa dapat dicegah. Sang adipati yang mengkhawatirkan puteranya segera melompat turun dari atas kuda, meninggalkan kuda yang tak dapat dikuasai lagi itu lalu berlari cepat melesat di antara semak belukar. Kuda putih itupun lari sambil meringkik-ringkik. Akan tetapi kuda tunggangan Bagus Seta sudah tak tampak dan dengan hati gelisah sang adipati terus mengejar, mengerahkan ajinya berlari cepat. Sang adipati memiliki Aji Bayu Sakti yang amat hebat, akan tetapi karena hutan itu amat liar, penuh semak belukar, dan ia tidak tahu ke mana larinya kuda puteranya, ia harus menyusup-nyusup dan menyelinap-nyelinap dengan hati tidak karuan rasanya. Kuda tunggangan Bagus Seta berlari terus, jauh dari tempat tadi. Tiba-tiba dari gerombolan semak belukar muncul seekor harimau yang amat luar biasa. Harimau ini amat besar, hampir setinggi kuda itu sendiri, berdiri menghadang sambil menggereng. Gerengannya tidak nyaring, akan tetapi bumi terasa tergetar. Kuda itu berhenti seketika, ngoplok (menggigil kakinya) dan lumpuh seketika, tidak mampu lari lagi, hanya mengeluarkan suara meringkik seperti orang merintih. Melihat harimau yang amat besar dan berbulu panjang putih ini, Bagus Seta juga merasa takut. Baru kali ini ia merasa takut, karena ayahnya tidak berada di situ, karena ia seorang diri harus menghadapi harimau yang amat luar biasa ini. Namun darah pendekar mengalir kencang di tubuhnya. Ketika kudanya lumpuh dan mendeprok roboh, ia meloncat turun dan mencabut pisau belatinya. Anak berusia sepuluh tahun ini berdiri tegak, memasang kuda-kuda seperti yang diajarkan ayahnya, pisau belati di tangan kanan, siap menghadapi terjangan harimau putih yang besar sekali itu. Pantang menyerah sebelum kalah.

Macan putih itu berdiri memandang, agaknya terheran, kepalanya miring ke kanan kemudian ke kiri, lalu membuka mulutnya yang besar memperlihatkan gigi yang besar-besar panjang dan kuat meruncing, lidahnya merah kasar dan kumisnya yang kaku bergerak-gerak tertarik kulit bibir atas yang menaik. Kemudian terdengar suara gerengannya, gerengan yang membuat tanah yang terpijak kaki Bagus Seta tergetar, yang membuat daun-daun pohon di atasnya, yang sudah menguning tua, rontok melayang-layang. Namun Bagus Seta tidak menjadi gentar, bahkan melangkah maju, mengatur kuda-kuda dan mencari akal bagaimana untuk dapat mengatasi bahaya yang mengancam ini. Tiba-tiba ia teringat akan busur dan anak panah yang tersandang di punggung. Tangan kirinya perlahan-lahan merayap, bergerak ke punggung, akan tetapi pandang matanya tak pernah terlepas dari kepala harimau dan pisau belati masih terpegang erat-erat di tangan kanan. Ia berhasil mengambil busur dan anak panah dengan tangan kini, kemudian
tangan kanannya membantu memasangkan anak panah pada busur, pisau belati digigitnya agar sewaktu-waktu mudah ia pergunakan. Kini ia menghadapi harimau dengan busur terpentang dan anak panah siap diluncurkan. Harimau itu setelah memandang sejenak tanpa berkejap mata, kini melangkah maju, langkah seenaknya dan sama sekali tidak bersikap untuk menerkam. Ia melangkah menghampiri Bagus Seta yang tentu saja segera menarik busur sampai melengkung dan begitu jarak antara dia dan macan putih itu tinggal tiga meter lagi, ia melepas anak panahnya. Busur dan anak panah itu memang kecil, akan tetapi Bagus Seta sudah terlatih baik, busur itupun buatan seorang ahli dan anak panahnya yang runcing dibungkus timah ujungnya.
“Singggg.......... !!” Dengan cepat sekali anak panah menyambar ke arah muka harimau, antara kedua matanya. Kalau tepat mengenai sasarannya, tentu akan celaka harimau itul Akan tetapi ternyata harimau itu hebat sekali, ia menggereng lagi dan kaki depan kiri diangkat, bergerak cepat menyampok ke depan dan……. Anak panah itu dapat ditangkap dalam cengkeramannya. Bagus Seta tertegun. Di antara para pengawal ayahnya yang gagah perkasa sekalipun tidak ada yang mampu melakukan ini. Hanya ayahnya dan eyang putri Kartikosari saja yang mampu menangkap anak panah terbang. Tapi harimau ini dapat. Bukan main. Harimau itu melemparkan anak panah kemudian melangkah maju terus, menghampiri Bagus Seta. Anak ini melempar busurnya, memegang
pisau belatinya dan membentak,
“Pergi.......... ! Pergilah kau, macan!!”

Ketika harimau itu menghampiri terus, Bagus Sera bertekad melakukan perlawanan sedapat mungkin. Ia menggerakkan kakinya dan tubuhnya menerjang harimau itu, tangan yang memegang pisau bergerak menusuk ke arah leher harimau itu . Akan tetapi sekali lagi harimau putih itu mengangkat kaki depan yang kiri, menangkis dan........pisau itu terlempar,..........Bagus Seta terpelanting. ia meloncat berdiri akan tetapi sebuah tamparan kaki harimau mengenai lehernya, membuat anak itu roboh dan pingsan. Baiknya si harimau putih tidak mengulur kukunya ketika menampar, maka leher anak itu tidak terluka. Ia hanya pingsan oleh kerasnya tamparan. Harimau itu mengendus-endus, mencium-cium dengan hidungnya pada muka Bagus Seta, kemudian membuka rahangnya, mendekati kepala anak itu dan..... menggigit punggung baju Bagus Seta, diangkatnya kemudian dibawanya lari dari situ. Kalau Bagus Seta tidak pingsan dan dapat menyaksikan hal ini, tentu ia akan teringat akan anak harimau yang tadi dibawa induknya dengan cara seperti ini pula, digigit punggungnya. Harimau putih yang menggondol tubuh Bagus Seta ini kini berlari cepat sekali keluar dari hutan dan terus mendaki gunung. Pada saat itu, Adipati Tejolaksono berada di atas sebuah pohon yang tinggi, meneliti keadaan sekelilingnya dengan pandang matanya, mukanya penuh kekhawatiran. Tadi ia mendengar gerengan-gerengan harimau yang bergema menggetar di seluruh hutan, dan ketika ia mengejar lebih jauh, ia melihat busur, anak panak, dan pisau belati puteranya menggeletak di atas tanah.
“Bagus Seta .......... !!” ia mengerahkan suaranya memanggil, namun tiada jawaban.
Hatinya gelisah dan akhirnya ia meloncat ke atas pohon, memanjat ke pucuk dan dari tempat tinggi mencari-cari. Akhirnya tampak olehnya bayangan putih itu berlari mendaki bukit, menggondol tubuh puteranya.
“Duh Jagad Dewa Bathara.......... !” ia berseru terkejut, melayang turun dari atas pohon dan mengerahkan seluruh aji kesaktiannya untuk lari mengejar ke arah larinya harimau yang dilihat dari atas tadi. Dengan jantung berdebar ia berdoa semoga Hyang Widhi melindungi puteranya. Teringat akan hasil panahnya tadi yang mengenai harimau kecil yang digondol induknya, ia cepat membuang busur dan anak panahnya. Ia tidak akan memanah harimau itu, khawatir kalau-kalau mengenai
tubuh puteranya sendiri. Di tangannya terpegang sebatang tombak dan ia berlari makin kencang. Ketika ia mengejar sampai di lereng gunung, hari telah mulai senja. Dapat dibayangkan betapa kaget dan khawatirnya ketika di luar sebuah hutan kecil ia melihat harimau putih yang besar sekali itu mendekam, tubuh Bagus Seta tak bergerak-gerak rebah menelungkup di depan binatang itu. Saking gelisah, sang adipati tidak melihat adanya bayangan putih yang berdiri tak jauh di sebelah depan harimau itu, teraling pohon. Cepat ia memasang kuda-kuda, mengambil sasaran lalu tombaknya dilontarkan dengan pengerahan tenaga mengarah leher harimau yang sedang mendekam. Tombak meluncur melebihi kecepatan anak panah, lenyap bentuknya berubah menjadi sinar, menuju leher harimau dengan ketepatan yang tak diragukan lagi. Betapapun pandai dan sigapnya sang harimau, tak mungkin dapat mengelak dari sambaran tombak seperti ini. Dan agaknya tombak itu pasti akan mengena sasaran kalau saja tidak terjadi hal yang mujijat. Akan tetapi terjadilah hal yang mujijat itu. Kurang beberapa centimeter lagi ujung tombak mengenai sasaran leher harimau, tiba-tiba sinar putih yang kecil hampir tak tampak menyentuh tombak dan..........tombak itu menyeleweng dan menancap ke dalam tanah, ambles sampai setengahnya lebih. Adipati Tejolaksono terkejut. Belum pernah selama hidupnya ia
bertemu dengan harimau yang berbulu putih, apalagi harimau yang pandai ilmu sihir sehingga tanpa bergerak mampu menangkis serangan tombaknya. Ia menjadi makin marah saking gelisahnya melihat keadaan Bagus Seta yang ia tidak tahu masih hidup ataukah sudah mati, kegelisahan wajar seorang ayah melihat puteranya dalam bahaya. Cepat bagaikan elang menyambar, tubuhnya sudah melesat dan mencelat ke arah harimau putih, pukulan Pethit Nogo sekuatnya berada dalam pukulan itu menyambar kepala harimau, dan mulutnya berseru,
“Macan keparat, berani kau mengganggu puteraku?”
“Desss.......... !!!” Hebat bukan main pukulan Pethit Nogo itu dan tepat bertemu dengan benda putih, akan tetapi yang terang bukan kepala macan karena ketika Sang Adipati Tejolaksono memandang, macan itu tetap mendekam seakan-akan tidak merasakan sama sekali hantamannya yang begitu hebat.

Ia mengangkat muka dan melihat seorang kakek tua renta berambut panjang putih berdiri di depannya, maka mengertilah ia bahwa kakek ini yang telah menangkis tombak dan pukulannya. Kakek ini mengenakan kain putih bersih yang dikelit-kelitkan di tubuhnya, memegang sebatang tongkat bambu kuning gading, kakinya telanjang, kepalanya juga telanjang, alis, dan jenggot kumis semua putih, akan tetapi kulit mukanya segar kemerahan seperti muka seorang pemuda remaja dan sepasang matanya begitu bening dan terang seperti sepasang mata anak kecil.
“Orang muda yang perkasaI Kalau boleh aku bertanya, mengapa andika hendak membunuh harimau ini?”
Sebelum menjawab, sang adipati mengerling ke arah puteranya yang masih rebah menelungkup. Dia seorang ahli maka sekilas pandang saja maklumlah ia bahwa puteranya tidak terluka, juga sama sekali tidak mati, mungkin hanya pingsan saja. Keadaannya seperti orang tidur. Hatinya lega dan kembali ia memperhatikan kakek itu, ia maklum sepenuhnya bahwa ia berhadapan dengan orang sakti mandraguna, yang entah bagaimana tadi sudah sanggup menangkis pukulannya Pethit Nogo. Akan tetapi karena kakek ini membela harimau, maka ia anggap sebagai musuhnya.
“Kakek tua,” jawabnya, suaranya juga halus akan tetapi mengandung penasaran,

<<< Bagian 014                                                                                     Bagian 016 >>>

No comments:

Post a Comment