Inilah Sang Adipati Tejolaksono sendiri, yang seperti kedua belas orang pengiringnya, menyandang sebatang anak panah. Sambil menjalankan kudanya perlahan-lahan, sang adipati melirik ke arah sampingnya, di mana terdapat seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun, menunggang kuda berbulu dawuk. Anak ini biarpun baru berusia sepuluh tahun, namun jelas membayangkan sifat-sifat satria, duduk tegak di punggung kuda seperti seorang ahli dan punggungnya tersandang sebuah busur kecil pula, di pinggang kiri tergantung sebatang pisau bersarung kulit. Sang adipati tersenyum bahagia melihat puteranya ini. Pagi tadi ketika berangkat, isterinya berkali-kali membekali pesan agar hati- hati menjaga Bagus Seta. Isterinya, yang pagi hari itu kelihatan seperti Dewi Sri yang dipuja-puja rakyatnya untuk memberkahi sawah ladang mereka, yang tak pernah kelihatan berubah, tak pernah bertambah tua sejak menikah, seperti ibu-ibu di seluruh dunia ini amat menyayang puteranya dan mengkhawatirkan keselamatannya. Masih terdengar ucapan isterinya,
“Kakangmas adipati,
sebetulnya Bagu Seta masih terlalu kecil untuk diajak berburu. Di hutan banyak
sekali binatang buas.”
“Ah, nimas Ayu, mengapa
khawatir? Bagus Seta sudah cukup besar dan dapat menjaga diri, apalagi aku
tidak akan membiarkan ia diterkam harimau.”
“Ihhh, kakangmas mengapa
mengeluarkan kata-kata yang mengerikan Itu?”
“Ha-ha-ha, nimas, lupakah
bahwa engkau sendiri sejak dahulu selalu bermain-main di hutan? Lupakah ketika
dahulu kita bermain-main dengan harimau sebesar lembu?”
Ayu Candra, isterinya yang
sesuai dengan namanya itu amat cantik seperti bulan purnama, tersenyum dan
mengerling manja, dengan kedua pipi kemerahan, mengerling malu-malu kepada para
pengawal yang sudah siap mengiringkan junjungan mereka. Kalau mereka berdua di
dalam kamar di mana tiada mata lain memandang, biasanya kalau sudah bersikap
manja begitu Ayu Candra tentu akan mencubitnya, karena percakapan tentang
dahulu tentu akan berlarut-larut menjadi godaan dan senda-gurau, menghidupkan
lagi kenangan lama yang membuat isterinya tersipu-sipu malu dan manja.
Dulu, sepuluh tahun yang
lalu, sebelum menjadi adipati di Selopenangkep atas pengangkatan sang prabu di
Panjalu, dia bernama Jaka Wandiro. Setelah mengalami banyak hal-hal yang hebat,
akhirnya ia memperoleh Ayu Candra sebagai isteri dan menjadi adipati. Dahulu,
Ayu Candra sejak kecil ditunangkan dengan Joko Seta yang kemudian gugur dalam
perang sehingga dara itu bebas dan dapat menikah dengannya. Untuk mengenang
Joko Seta, seorang satria perkasa yang gugur membela negara, maka putera mereka
ini mereka beri nama Bagus Seta. Dan nama ini memang tepat karena semenjak
lahirnya, Bagus Seta berkulit putih kuning dan bersih. Hidupnya penuh bahagia!
Memang, sang adipati puas dan selalu bersyukur kepada Hyang Widhi, yang telah
melimpahkan berkah yang tiada berk eputusan kepadanya. Di dalam kadipaten, ia
merasa seperti di tempat yang aman, tenang, dan menyenangkan selalu. Isterinya
setia dan mencintanya sepenuh jiwa raga, dan di samping isteri dan putera
mereka, di kadipaten tinggal pula kedua bibinya, yaitu bibi Roro Luhito dan
bibi Kartikosari. Roro Luhito adalah adik kandung mendiang ayahnya, dan
Kartikosari bibi gurunya, ibu Endang Patibroto. Kedua orang wanita yang kini
usianya sudah sekitar empat puluh tahun ini sudah janda, keduanya adalah isteri
mendiang guru pertamanya, atau bapak angkatnya yang bernama Pujo, seorang
satria utama pendekar perkasa yang oleh sang adipati dijadikan cermin atau
tauladan hidupnya. Bibinya, Kartikosari, mempunyai seorang puteri yang usianya
baru sebelas tahun, bernama Setyaningsih sedang bibinya, Roro Luhito juga
mempunyai seorang puteri bernama Pusporini. Mereka ini kedua adik-adiknya, biar
baru berusia dua belas tahun, sudah nampak sebagai dara-dara remaja yang cantik
jelita, halus budi pekertinya, sopan santun dan ramah budi bahasanya, pandai
dalam segala macam kesenian, merupakan calon-calon puteri pilihan yang menjadi
kebanggaan kadipaten. Adipati Tejolaksono dan isterinya amat menyayang kedua
orang puteri ini yang terhitung adik-adik misan mereka.
Kini rombongan yang
menjalankan kuda perlahan-lahan melalui tegalan yang penuh rumput hijau. Tiga
ekor kerbau asyik makan rumput yang gemuk hijau dan tebal. Tiba-tiba sang
adipati menghentikan kudanya, diturut oleh puteranya dan para pengawal yang
tadinya bersenda-gurau dan bercakap-cakap, otomatis juga menghentikan kuda
mereka, tidak ada yang bicara lagi, ikut
memperhatikan. Kiranya sang
adipati tekun mendengarkan suara orang menembang, suara yang tidak begitu
merdu, agak serak seperti suara orang-orang tua, yang sedang menyanyikan
tembang Asmaradana.
“Nora suwe wong urip iki
lelana ing alam donya tan rinasa pira lawase weruh-weruh sugih uwan nora suwe
mesti sirna cilik gedhe cendhek dhuwur wekasan mesthi palastra sugih mlarat
kabeh sami menang kalah nora beda yen wis pinasthi wancine kabeh bali marang
asal mula yen sih doyan sega ja nuruti hawa nepsu urip pisan sing sampurna.”
“Tidak lama manusia hidup
ini berkelana di dalam dunia tidak terasa berapa lamanya tahu-tahu banyak uban
tidak lama tentu lenyap kecil besar pendek tinggi akhirnya tentu mati kaya
miskin semua sama menang kalah tiada beda kalau sudah dipastikan waktunya semua
kembali kepada asal maka kalau masih suka nasi jangan menurutkan hawa nafsu hidup
sekali yang sempurna.”
Sang Adipati Tejolaksono
mengangguk-angguk, terharu dalam hatinya.
“Kulup Bagus Seta. Kau
mendengar tembang tadi, bukan?”
Anak itu mengangguk. Sejak
kecil ia sudah diajar tembang dan kesenian lain.
“Tembang Asmaradana, ayah.
Tapi kata-katanya kasar bersahaja.”
“Memang, anakku. Kata-kata
itu hanyalah kulitnya belaka. Menilai sesuatu lihatlah isi, jangan terpengaruh
kulit. Justeru kesederhanaan itulah yang mengharukan. Kau ingat baik-baik,
mencari pujangga-pujangga besar tak usah jauh-jauh ke kota raja. Mencari orang
bijaksana tak usah dicari di antara orang cerdik pandai. Dia yang mengerti akan
hidup, dialah orang bahagia, bijaksana dan berguna. Di dusun-dusun, di
tempat-tempat sunyi tempat orang-orang yang oleh orang kota dianggap bodoh,
dimana rakyat hidup diselimuti kesederhanaan yang tak dibuat-buat, di sanalah
tempat kebijaksanaan dan kebahagiaan, di mana orang hidup tidak menjadi hamba
nafsu, di mana orang hidup penuh kebahaglaan karena mereka ini menerima segala
apa yang mereka miliki dengan hati puas, dengan hati menerirna, dengan hati
tulus mengucap syukur kepada Hyang Widhi, dijauhkan angkara murka dan ino hati.
Kelak, kalau engkau sewaktu-waktu berada di kota raja, dan engkau sudah dewasa,
kalau engkau terjalin dalam keributan orang-orang yang berebutan keduniawian,
kau ingatlah kepada kesederhanaan tembang dan kehidupan di dusun, anakku.”
Bagus Seta belum begitu
mengerti atau belum dapat menangkap betul arti daripada wejangan ayahnya, akan
tetapi para perajurit pengawal yang berada di belakang menundukkan kepala dan
di dalam hati terdapat kesan yang dalam.
Seorang kakek yang
berpakaian serba hitam, amat sederhana, akan tetapi biar pun kepalanya penuh
uban, wajahnya masih kemerahan dan sinar matanya berseri, muncul dari balik
rumput di mana tadi ia mengarit. Ketika melihat rombongan sang adipati yang
berkuda berhenti di pinggir sawah, tergopoh-gopoh ia menghampiri dan berjongkok
menghaturkan sembah.
Adipati Tejolaksono
tersenyum mengangguk.
“Paman sedang mengarit
rumput menggembala kerbau?” tanyanya dengan suara halus dan pandang mata
berseri.
“Benar seperti yang paduka
katakan, gusti adipati.”
“Kerbaumukah itu, paman?”
“Bukan, gusti. Milik anak
mantu hamba yang dua ekor, yang seekor kepunyaan anak hamba. Hamba membantu
mereka, gusti.”
Diam sejenak, pandang mata
sang adipati menyelidik, tertarik.
“Paman, maafkan pertanyaanku
ini karena, menyangkut penghidupan dan isi hatimu. Bahagiakah hidupmu, paman?”
Kakek itu termenung, agaknya
bingung mendengar pertanyaan yang tak pernah disangka-sangkanya ini.
“Bahagia? Apa maksud paduka,
gusti? Hamba tidak membutuhkan bahagia itu!”
Sang adipati tertawa
bergelak sambil menengadah, memandang angkasa di mana awan putih bergerak
seperti domba-domba putih. Ada persamaan antara awan itu dengan kakek ini.
Tidak membutuhkan apa-apa, tidak kekurangan sesuatu, itulah bahagia. Karena
tidak mencari maka tidak pernah terluput, karena tidak membutuhkan maka tidak
kekurangan. Yang mengejar-ngejar bahagia hanyalah orang pandir. Ha-ha-ha!
Adipati Tejolaksono tertawa gembira sampai keluar air matanya. Kemudian ia
mengambil dua potong emas dari saku bajunya, memberikannya kepada si kakek
sederhana.
“Sesungguhnya engkau tidak
kekurangan sesuatu paman, terimalah hadiahku ini, belikan lagi satu dua ekor
kerbau untuk membantu pekerjaan keluargamu.”
Kakek itu terbelalak,
menerima hadiah itu lalu menyembah, menghaturkan terima kasih kepada
junjungannya, akan tetapi sang adipati telah menjalankan kudanya lagi, wajahnya
berseri-seri. Kakek yang sederhana itu telah mengajarkannya flisafat hidup yang
tak ternilai yang hanya dia seorang yang dapat menikmati dan mengertinya karena
selusin prajurit pengawalnya itu saling pandang, tidak mengerti. Bagus Seta
hanya bergembira karena kembali ayahnya melakukan perbuatan yang amat elok,
yang menyenangkan hati seorang kakek-kakek sederhana.
Mereka berburu di kaki
Gunung Merapi, di mana terdapat sebuah hutan yang amat lebat dan liar, penuh
binatang-binatang hutan seperti harimau, kijang, dan lain-lain binatang buruan.
Mulailah mereka berburu. Yang diutamakan oleh sang adlpati adalah memburu
harimau karena pemburuan ini lebih menggembirakan hati, lebih menegangkan.
Kalau bertemu harimau, pengawal-pengawalnya lalu menggiring dan mengurungnya,
kemudian sang adipati akan menghadapinya dengan tangan kosong, membunuhnya
dengan pukulan-pukulan maut. Ini merupakan latihan baginya, di samping
kegembiraan mendapat kulit dan daging. Akan tetapi kalau harimau itu terlalu
gesit sehingga tidak dapat dikurung, anak panah dipergunakan untuk merobohkannya.
Juga kijang dan binatang- binatang yang mempunyal daging lezat dipanah roboh.
Sudah setengah harian mereka memburu binatang akan tetapi hanya berhasil
memanah roboh empat ekor kijang. Tidak ada harimau tampak. Hati sang adipati
mulai kesal. Akan tetapi Bagus Seta yang baru pertama kali ini ikut berburu,
menjadi gembira bukan main. Permainan ini penuh ketegangan, dan suasana di
dalam hutan liar itu menggairahkan hatinya. Dua kali mereka diserang ular-ular
besar, sebesar pahanya, akan tetapi dengan cekatan para pengawal memanah
ular-ular itu pada leher dan kepalanya. Mereka mengulitinya dan mengambil
kulitnya yang berwarna dan bercorak indah.
“Kita masuk ke dalam, masa
tidak ada harimau di sana,” kata sang adipati penasaran. Para pengawal menurut,
sungguhpun di dalam hati mereka khawatir kalau-kalau mereka akan kemalaman
pulang. Belum pernah sang adipati berburu sampai bermalam, karena hal ini tidak
pernah diperkenankan isterinya, juga para bibinya. Sang adipati mengeprak kuda
ke dalam hutan yang amat
rungkut, diikuti puteranya,
kemudian baru para pengawal yang merupakan barisan di kanan kiri dan belakang,
terdiri empat orang masing-masing bagian. Hal ini dilakukan untuk dapat cepat
bergerak mengurung kalau ada harimau. Tiba-tiba kuda sang adipati merlngkik
aneh. Wajah sang adipati berseri, karena ia mengenal watak kudanya, mengenal
penciuman kudanya yang tajam terlatih. Harimau, pikirnya. Benar saja, terdengar
auman keras yang menggetarkan seluruh rimba raya itu. Bagus Seta tergetar
hatinya, mendekatkan kudanya. Mereka semua turun, dan Bagus Seta juga
cepat-cepat turun terus mendekati ayahnya, matanya memandang ke kanan kiri
karena auman harimau itu menimbulkan gema yang sukar ia terka dari mana
datangnya. Seakan-akan di sekelilingnya penuh dengan harimau mengaung-ngaung.
Semua pengawal sudah menyiapkan tombak, lalu mereka menyelinap-nyelinap di
antara semak belukar berusaha mengurung harimau yang berada di sebuah
gerombolan alang-alang. Mereka mengambil batu, melempari semak-semak itu dan
mengeprak-ngeprak dengan tombak, berteriak-teriak. Tak lama kemudian, terdengar
pula aum yang dahsyat dan tampaklah kepala seekor harimau gembong yang besar
sekali. Bagus Seta memandang dengan mata terbelalak, mulut celangap. Sebesar
kerbau macan itu, pikirnya. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, melainkan
karena tegang. la sudah digembleng sedemikian rupa oleh ayahnya sehingga tidak
ada rasa takut menyelinap ke dalam hatinya. Sekecil itu ia sudah dapat
mempertimbangkan dan menilai keadaan. Betapapun besar dan galaknya macan
gembong itu, di situ terdapat dua belas orang pengawal, bahkan terdapat pula
ayahnya. Perlu apa takut? Tiada alasan untuk takut. Maka ia memandang penuh
perhatian, ingin melihat dengan mata kepala sendiri kesaktian ayahnya yang
sering didengarnya dari dongengan para pengawal, betapa dengan tangan kosong
ayahnya sanggup mengalahkan seekor harimau. Kinilah tiba saatnya ia melihat
dengan mata kepala sendiri dan mempelajari gerakan-gerakan ayahnya ketika
menghadapi macan.
No comments:
Post a Comment