Karena kegirangan ini, Klabangkoro dan Klabangmuko menjadi kurang waspada, tidak dapat melihat bahwa wanita itu agaknya sengaja memasang diri untuk dimakan golok dari kanan kiri, suatu hal yang sama sekali tidak wajar dalam perkelahian.
"Awasss.......... !”
teriak Sindupati yang lebih matang dalam siasat pertempuran, namun terlambat.
Pada setengah detik terakhir, Endang Patibroto yang berada di tengah itu
merendahkan diri, kedua tangannya menangkap ke atas, tepat pada pergelangan
tangan kedua lawan yang memegang golok, "meminjam" tenaga bacokan
mereka menarik mereka saling bacok sendiri dan pada detik berikutnya, ia
menggantung pada kedua lengan sambil menendang dengan kedua kaki ke kiri kanan,
tepat mengenai perut gendut kedua lawan.
"Blekk! Blekk!!"
"Aduuhh.......... I
Augghl" Kedua orang raksasa Blambangan itu terjengkang ke belakang, golok
terpental dan pundak mereka berdarah terkena bacokan saudara sendiri. Masih
untung bahwa kekebalan mereka membuat golok itu meleset dan hanya melukai kulit
dan sedikit daging pundak, akan tetapi tendangan pada perut itu membuat perut
mereka seketika mules sekali. Mereka menggeh-menggeh (terengah-engah) memegangi
perut sambil menyeringai seperti kuda kedinginan. Endang Patibroto hendak
menerjang Sindupati, akan tetapi orang itu sudah mengangkat tangan kanan ke
atas dan Endang Patibroto menunda serangannya, melihat dengan mata tajam ke
arah pasukan sebanyak puluhan orang yang datang berbondong-bondong dari tempat
sembunyi.
"Bagus! Lebih banyak
yang mati menjadi pengiring suamiku lebih baik!" bentak Endang Patibroto
dan tubuhnya sudah siap menerjang.
"Tahan dulu..........
!" Tiba-tiba terdengar suara parau besar dan majulah seorang raksasa yang
tubuhnya amat kuat dan kokoh, sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Gusti Endang
Patibroto..... Gusti puteri.......... ! Ah, kiranya padukakah ini?"
Endang Patibroto memandang
dengan mata merah. Ia merasa kenal dengar raksasa ini akan tetapi lupa lagi di
mana dan kapan. Dengan wajah dingin ia membentak,
"Siapa engkau?"
Ki Brejeng lalu menjatuhkan
diri berlutut dan berkata,
"Duhai gusti puteri
Endang Patibroto.......... ! Lupakah paduka kepada hamba? Hamba Ki
Brejeng.......... “ Berkerut kening Endang Patibroto. Nama inipun tidak asing
baginya.
" Brejeng ..........
?" Suaranya berbisik.
"Ya, hamba Ki Brejeng,
pelayan guru paduka, Senopati Dibyo Mamangkoro........!. Lupakah paduka ketika
di Pulau Iblis hamba mengajak paduka bermain-main ...... ?" Teringatlah
kini Endang Patibroto, matanya berkejap-kejap memandang penuh perhatian,
terbayang semua peristiwa ketika ia masih kecil dahulu, bersama gurunya Dibyo
Mamangkoro. Ya, Ki Brejeng temannya bermain-
main di pulau itu.
"Gusti puteri, kita
orang-orang sendiri, bukan musuh.......... Ah, kenapa gusti sampai menjadi
begini.......... ?"
Mendengar suara yang
menyatakan belas kasihan ini, tak tertahan lagi air mata Endang Patibroto jatuh
berderai, ia terhuyung maju, berlutut di depan Ki Brejeng lalu merangkul pundak
raksasa itu, menaruh muka pada dada yang bidang itu sambil menangis.
"Aduh.......... paman
Brejeng.......... !!" keluhnya.
Ki Brejeng merangkul pundak
wanita itu, menepuk-nepuk punggungnya, teringat ia dahulu ia seringkali
mengendong wanita itu di waktu masih kecil dan tak terasa lagi sepasang mata
raksasa yang keras hati ini menjadi basah. Setelah tangis Endang Patibroto
mereda, Ki Brejeng lalu berkata halus dan parau,
"Tenanglah, gusti
puteri dan mari saya perkenalkan dengan kawan-kawan ini. Sudah lama semenjak
guru paduka tewas, hamba melarikan diri ke Blambangan dan bekerja mengabdi pada
Adipati Blambangan. Hamba ikut dengan pasukan Blambangan ini, di bawah pimpinan
Raden Sindupati untuk menyelidik keadaan Panjalu dan Jenggala. Marilah
gusti.......... “ Endang Patibroto bangkit berdiri dan Raden Sindupati cepat
melangkah maju lalu memberi hormat.
"Ah, mohon maaf
sebanyaknya atas kelancangan kami. Sungguh saya menyangka bahwa andika adalah
puteri Endang Patibroto yang sudah terkenal di seluruh dunia! Melihat andika
bersama mayat-mayat prajurit Jenggala, kami mengira andika adalah musuh.
Maafkan saya Sindupati dari Blambangan."
Kalau tidak ada Ki Brejeng
di situ, tentu Endang Patibroto tidak sudi berbicara dengan orang-orang
Blambangan. Sikapnya masih angkuh ketika ia bertanya.
"Hemm, kalian orang-orang
Blambangan mengapa berada di sini?"
Raden Sindupati tersenyum
dan kembali memberi hormat.
"Seperti telah
dikatakan paman Brejeng tadi, kami bertugas untuk menyelidiki keadaan Jenggala
dan Panjalu dan kami banyak mendengar hal-hal aneh sekali yang membayangkan
betapa kacau keadaan Jenggala! Hamba mendengar betapa Raja Jenggala menangkap
puteranya sendiri, tanda bahwa Kerajaan Jenggala sudah mendekati kehancuran.
Blambangan sudah lama mencita-citakan untuk menyerbu Jenggala, membalas atas
penumpasan Adipati Nusabarung."
Akan tetapi mendengar
peristiwa suaminya disebut-sebut, Endang Patibroto teringat akan suaminya dan
ia berkata,
"Suamiku, Pangeran
Panjirawit telah meninggal dunia .........”
"Ya Jagad Dewa
Bathara.......... l" Raden Sindupati berseru kaget dan di dalam suaranya
terkandung iba hati. Akan tetapi Endang Patibroto sudah menangis lagi dan lari
memasuki gubuk, tidak memperdulikan lagi kepada pasukan Blambangan. Raden
Sindupati lalu memberi isyarat kepada Ki Brejeng yang menghampirinya, lalu raksasa
itu dibisiki. Ki Brejeng berulang-ulang mengangguk, kemudian perlahan-lahan
memasuki gubuk. Dia memang kasihan kepada Endang Patibroto, maka suaranya
menggetar ketika berkata,
"Gusti puteri, yang
sudah mati tidak perlu terlalu ditangisi, tidak baik untuk perjalanan ke alam
asal. Lebih baik kita merawat dan melakukan penyempurnaan jenazah gusti
pangeran suami paduka. Biarlah, serahkan saja kepada Ki Brejeng dan kawan-kawan
dari Blambangan, gusti. Percayalah, Ki Brejeng tidak akan menipu paduka, tidak
akan membikin susah paduka."
"Aduh.......... paman
Brejeng.......... " kembali Endang Patibroto menangis mengguguk, akan
tetapi ia tidak membantah ketika Ki Brejeng memegang pundaknya dan menariknya
keluar dari gubuk. Kemudian Ki Brejeng yang dibantu Sindupati dan anak buahnya
lalu membersihkan jenazah Pangeran Panjirawit, mencabut anak panah dan
membereskan pakaiannya. Kebetulan sekali di situ terdapat gubuk itu, mereka
lalu mengumpulkan kayu-kayu dan daun-daun kering, lalu mereka semua bermuja
samadhi untuk menghormat dan mengantar roh yang mati ke alam akhir. Semua
upacara ini diikuti oleh Endang Patibroto dengan hati penuh keharuan. Akhirnya,
ketika api dinyalakan, gubuk dibakar di mana terdapat suaminya, ia menangis
lagi mengguguk memanggil-manggil nama suaminya. Semangatnya seakan-akan ikut
terbang melayang bersama asap putih yang membubung tinggi.
Sementara itu Ki Brejeng
yang menemani dan mendekati Endang Patibroto mulai membujuk Endang Patibroto.
Ia bertanya apa sebenarnya yang sudah terjadi. Karena pada saat seperti itu
Endang Patibroto amat membutuhkan seorang kawan yang dapat ia ajak bicara dan
dapat mendengarkan curahan hatinya yang penuh penasaran dan karena ia percaya
akan kesetiaan raksasa ini, berceritalah ia secara singkat akan segala peristiwa
yang sebetulnya sudah diketahui oleh Ki Brejeng. Ki Brejeng menyumpah-nyumpah
Pangeran Darmokusumo dan Sang Prabu Jenggala, kemudian ia membujuk Endang
Patibroto agar suka ikut ke Blambangan.
"Paduka tentu
dicari-cari dan dikejar-kejar oleh kedua kerajaan itu."
"Aku tidak takut! Aku
akan melawan!" jawab Endang Patibroto, penuh dendam.
"Apa gunanya, gusti?
Apa gunanya paduka seorang diri melawan barisan kedua kerajaan itu? Tidak,
seyogianya paduka ke Blambangan. Kebetulan sekali Blambangan memang berniat
menggempur Jenggala dan Panjalu, dan Adipati Blambangan amat baik, dapat
menghargai orang-orang pandai. Lihat saja, hamba juga telah diterima menjadi
ponggawa. Kalau paduka suka bersama hamba ke sana, paduka dapat bersama bala
tentara Blambangan kelak maju menggempur Jenggala dan Panjalu dan saat itulah
paduka dapat melakukan balas dendam atas kematian suami paduka!"
Akhirnya, setelah Raden
Sindupati juga ikut membujuk- bujuk dengan manis budi dan janji-janji yang
memungkinkan wanita ini membalas kematian suaminya, Endang Patibroto
mengangguk.
"Baiklah, Ki Brejeng,
aku menurut nasehatmu. Raden Sindupati, aku suka ikut bersamamu ke
Blambangan."
Bukan main girangnya hati
Sindupati. Biarpun ia tidak berhasil membunuh Endang Patibroto, namun ia sudah
berhasil memancing wanita ini ke sana! Alangkah akan girangnya hati Adipati
Blambangan dan untuk ini ia tentu akan menerima pahala besar sekali. Apalagi,
ia telah berhasil pula melemahkan kedua kerajaan dengan pembunuhan para
ponggawanya. Betapapun juga, di hatinya terkandung niat lain. Melihat Endang
Patibroto, janda kembang yang cantik jelita dan menggairahkan ini, hatinya
sudah jatuh! Ia merasa sayang kalau wanita secantik ini dibunuh begitu saja
oleh Adipati Blambangan. Tidak, terlalu sayang kalau begitu! Ia mempunyai
siasat lain! Setelah pembakaran jenazah selesai dan abu jenazah sudah dirawat
untuk kemudian dilarung (dihanyutkan) di laut, pasukan itu melanjutkan
perjalanan. Endang Patibroto memulai hidup baru dan di sepanjang perjalanan, ia
dihibur oleh Ki Brejeng yang betul-betul merasa kasihan kepada bekas
junjungannya ini.
Kadipaten Selopenangkep!
Kadipaten ini letaknya di tepi Sungai Progo, tidak amat jauh dari pantai Laut
Kidul. Kadipaten yang tidak berapa besar, namun jelas tampak keadaan yang aman
tenteram kerta raharja meliputi seluruh daerah kadipaten. Pamong tani hidup
ayem, tanahnya subur tak kekurangan maupun kebanyakan air, sawah ladang terlalu
penuh tanaman yang subur sehingga di waktu habis tandur, sawah ladang tampak
ijo (hijau) royo-royo bagaikan lautan tenang. Adapun menjelang panen, sawah
ladang berubah menjadi lautan emas dengan padi-padi menguning dan gemuk-gemuk
menunduk. Semua penduduk, dari dusun sampai kadipaten, tiada yang malas, semua
rajin bekerja karena hasil karya mereka selain tampak di depan mata, juga
terasa sampai di perut sendiri dan perut anak isterinya. Di wajah mereka tampak
kegairahan bekerja itu, dari wajah anak-anak penggembala yang mengarit rumput,
sampai kepada wajah pamong tani, nelayan, seniman dan pedagang, berseri penuh
galrah kerja, memuliakan karya masing-masing dengan hati cinta dan tulus. Tidak
ada iri-mengiri sehingga tak pernah tercipta tindak sesat, tidak ada maling
atau perampok. Tidak ada waktu bermalasmalasan yang dapat terisi tindak iseng
maksiat, tidak ada perjudian, tidak ada perjinahan atau mabuk-mabukan, semua
tunduk kepada hukum yang tak tertulis, hukum kehidupan masyarakat damai, makmur
dan tenteram, yang cinta akan ketenteraman. Semua ini adalah sebagian besar
akibat wibawa dan pengaruh dari penguasa setempat, yaitu sang adipati di
Selopenangkep. Perbawanya menyorot luas sampai keluar daerah Selopenangkep,
perbawa yang didasari keadilan dan cinta kasih seorang penguasa, seperti
keadilan dan cinta kasih seorang bapak terhadap anak-anaknya. Keadilan
dan cinta kasih Adipati
Tejolaksono seolah-olah sinar matahari yang menyorot ke segenap pelosok, tiada
memilih bulu, tidak pilih kasih. Adil dan keras dalam memberantas kejahatan
disertai petunjuk-petunjuk kembali ke jalan benar bagi yang sesat, menghukum
bukan karena benci karena bagi sang adipati yang arif bijaksana, bukan
manusialah yang dihukum, melainkan kejahatan untuk memaksa manusianya insyaf
sadar dan bertaubat, kembali ke jalan benar. Kebaikan-kebaikan dipuji,
dianjurkan, dipupuk, seperti halnya kesenian dan kebudayaan yang serba indah.
Kebaikan disamakan dengan keindahan, sehingga kebaikan bukan lagi merupakan
perbuatan yang dipamrihi balas jasa dan ingin puji, melainkan menjadi semacam
keindahan yang disuka oleh segenap golongan.
Sang Adipati Tejolaksono
adalah seorang adipati yang masih muda, baru tiga puluh dua tahun usianya,
namun memiliki kebijaksanaan seorang sepuh (tua) yang sepi hawa, artinya sepi
daripada hawa nafsu, yang patut menjadi tetuanya masyarakat, yang bekerja
bahkan hidup hanya dengan satu pamrlh, yakni mengabdi kepada Hyang Widhi dengan
cara menyebar cinta kasih antara manusla, bekerja demi kebahagiaan
masyarakatnya, keluarganya, baru dirinya sendiri. Keadilan dan cinta kasih
inilah yang menyinar seperti cahaya matahari merata di antara kawulanya,
sehingga menjadi milik semua orang, bahkan meresap menjadi watak semua orang,
yaitu, adil dan mencinta sesamanya. Pagi itu amat indahnya. Matahari bersinar
cerah. Pamong tani tidak lagi begitu sibuknya seperti di musim, tandur atau
panen. Musim tandur baru saja lewat. Padi sudah mulai tumbuh subur. Pekerjaan
kaum tani menjadi lebih ringan, hanya menjaga dan merawat agar tanaman mereka
tidak kekurangan atau kebanyakan air, tidak terganggu hama dan rumput liar.
Pada hari itu,
serombongan orang berkuda keluar dari kadipaten. Dua belas orang perajurit
pengawal yang gagah-gagah menunggang kuda, mengiringkan seorang pria yang
tampan dan gagah perkasa menunggang kuda putih, berpakaian sederhana namun
berbeda dengan kedua belas orang pengawal.
No comments:
Post a Comment