Perawan Lembah Wilis; Bagian 013


Karena kegirangan ini, Klabangkoro dan Klabangmuko menjadi kurang waspada, tidak dapat melihat bahwa wanita itu agaknya sengaja memasang diri untuk dimakan golok dari kanan kiri, suatu hal yang sama sekali tidak wajar dalam perkelahian.
"Awasss.......... !” teriak Sindupati yang lebih matang dalam siasat pertempuran, namun terlambat. Pada setengah detik terakhir, Endang Patibroto yang berada di tengah itu merendahkan diri, kedua tangannya menangkap ke atas, tepat pada pergelangan tangan kedua lawan yang memegang golok, "meminjam" tenaga bacokan mereka menarik mereka saling bacok sendiri dan pada detik berikutnya, ia menggantung pada kedua lengan sambil menendang dengan kedua kaki ke kiri kanan, tepat mengenai perut gendut kedua lawan.
"Blekk! Blekk!!"
"Aduuhh.......... I Augghl" Kedua orang raksasa Blambangan itu terjengkang ke belakang, golok terpental dan pundak mereka berdarah terkena bacokan saudara sendiri. Masih untung bahwa kekebalan mereka membuat golok itu meleset dan hanya melukai kulit dan sedikit daging pundak, akan tetapi tendangan pada perut itu membuat perut mereka seketika mules sekali. Mereka menggeh-menggeh (terengah-engah) memegangi perut sambil menyeringai seperti kuda kedinginan. Endang Patibroto hendak menerjang Sindupati, akan tetapi orang itu sudah mengangkat tangan kanan ke atas dan Endang Patibroto menunda serangannya, melihat dengan mata tajam ke arah pasukan sebanyak puluhan orang yang datang berbondong-bondong dari tempat sembunyi.
"Bagus! Lebih banyak yang mati menjadi pengiring suamiku lebih baik!" bentak Endang Patibroto dan tubuhnya sudah siap menerjang.
"Tahan dulu.......... !" Tiba-tiba terdengar suara parau besar dan majulah seorang raksasa yang tubuhnya amat kuat dan kokoh, sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Gusti Endang Patibroto..... Gusti puteri.......... ! Ah, kiranya padukakah ini?"

Endang Patibroto memandang dengan mata merah. Ia merasa kenal dengar raksasa ini akan tetapi lupa lagi di mana dan kapan. Dengan wajah dingin ia membentak,
"Siapa engkau?"
Ki Brejeng lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
"Duhai gusti puteri Endang Patibroto.......... ! Lupakah paduka kepada hamba? Hamba Ki Brejeng.......... “ Berkerut kening Endang Patibroto. Nama inipun tidak asing baginya.
" Brejeng .......... ?" Suaranya berbisik.
"Ya, hamba Ki Brejeng, pelayan guru paduka, Senopati Dibyo Mamangkoro........!. Lupakah paduka ketika di Pulau Iblis hamba mengajak paduka bermain-main ...... ?" Teringatlah kini Endang Patibroto, matanya berkejap-kejap memandang penuh perhatian, terbayang semua peristiwa ketika ia masih kecil dahulu, bersama gurunya Dibyo Mamangkoro. Ya, Ki Brejeng temannya bermain-
main di pulau itu.
"Gusti puteri, kita orang-orang sendiri, bukan musuh.......... Ah, kenapa gusti sampai menjadi begini.......... ?"
Mendengar suara yang menyatakan belas kasihan ini, tak tertahan lagi air mata Endang Patibroto jatuh berderai, ia terhuyung maju, berlutut di depan Ki Brejeng lalu merangkul pundak raksasa itu, menaruh muka pada dada yang bidang itu sambil menangis.
"Aduh.......... paman Brejeng.......... !!" keluhnya.
Ki Brejeng merangkul pundak wanita itu, menepuk-nepuk punggungnya, teringat ia dahulu ia seringkali mengendong wanita itu di waktu masih kecil dan tak terasa lagi sepasang mata raksasa yang keras hati ini menjadi basah. Setelah tangis Endang Patibroto mereda, Ki Brejeng lalu berkata halus dan parau,
"Tenanglah, gusti puteri dan mari saya perkenalkan dengan kawan-kawan ini. Sudah lama semenjak guru paduka tewas, hamba melarikan diri ke Blambangan dan bekerja mengabdi pada Adipati Blambangan. Hamba ikut dengan pasukan Blambangan ini, di bawah pimpinan Raden Sindupati untuk menyelidik keadaan Panjalu dan Jenggala. Marilah gusti.......... “ Endang Patibroto bangkit berdiri dan Raden Sindupati cepat melangkah maju lalu memberi hormat.
"Ah, mohon maaf sebanyaknya atas kelancangan kami. Sungguh saya menyangka bahwa andika adalah puteri Endang Patibroto yang sudah terkenal di seluruh dunia! Melihat andika bersama mayat-mayat prajurit Jenggala, kami mengira andika adalah musuh. Maafkan saya Sindupati dari Blambangan."

Kalau tidak ada Ki Brejeng di situ, tentu Endang Patibroto tidak sudi berbicara dengan orang-orang Blambangan. Sikapnya masih angkuh ketika ia bertanya.
"Hemm, kalian orang-orang Blambangan mengapa berada di sini?"
Raden Sindupati tersenyum dan kembali memberi hormat.
"Seperti telah dikatakan paman Brejeng tadi, kami bertugas untuk menyelidiki keadaan Jenggala dan Panjalu dan kami banyak mendengar hal-hal aneh sekali yang membayangkan betapa kacau keadaan Jenggala! Hamba mendengar betapa Raja Jenggala menangkap puteranya sendiri, tanda bahwa Kerajaan Jenggala sudah mendekati kehancuran. Blambangan sudah lama mencita-citakan untuk menyerbu Jenggala, membalas atas penumpasan Adipati Nusabarung."
Akan tetapi mendengar peristiwa suaminya disebut-sebut, Endang Patibroto teringat akan suaminya dan ia berkata,
"Suamiku, Pangeran Panjirawit telah meninggal dunia .........”
"Ya Jagad Dewa Bathara.......... l" Raden Sindupati berseru kaget dan di dalam suaranya terkandung iba hati. Akan tetapi Endang Patibroto sudah menangis lagi dan lari memasuki gubuk, tidak memperdulikan lagi kepada pasukan Blambangan. Raden Sindupati lalu memberi isyarat kepada Ki Brejeng yang menghampirinya, lalu raksasa itu dibisiki. Ki Brejeng berulang-ulang mengangguk, kemudian perlahan-lahan memasuki gubuk. Dia memang kasihan kepada Endang Patibroto, maka suaranya menggetar ketika berkata,
"Gusti puteri, yang sudah mati tidak perlu terlalu ditangisi, tidak baik untuk perjalanan ke alam asal. Lebih baik kita merawat dan melakukan penyempurnaan jenazah gusti pangeran suami paduka. Biarlah, serahkan saja kepada Ki Brejeng dan kawan-kawan dari Blambangan, gusti. Percayalah, Ki Brejeng tidak akan menipu paduka, tidak akan membikin susah paduka."
"Aduh.......... paman Brejeng.......... " kembali Endang Patibroto menangis mengguguk, akan tetapi ia tidak membantah ketika Ki Brejeng memegang pundaknya dan menariknya keluar dari gubuk. Kemudian Ki Brejeng yang dibantu Sindupati dan anak buahnya lalu membersihkan jenazah Pangeran Panjirawit, mencabut anak panah dan membereskan pakaiannya. Kebetulan sekali di situ terdapat gubuk itu, mereka lalu mengumpulkan kayu-kayu dan daun-daun kering, lalu mereka semua bermuja samadhi untuk menghormat dan mengantar roh yang mati ke alam akhir. Semua upacara ini diikuti oleh Endang Patibroto dengan hati penuh keharuan. Akhirnya, ketika api dinyalakan, gubuk dibakar di mana terdapat suaminya, ia menangis lagi mengguguk memanggil-manggil nama suaminya. Semangatnya seakan-akan ikut terbang melayang bersama asap putih yang membubung tinggi.
Sementara itu Ki Brejeng yang menemani dan mendekati Endang Patibroto mulai membujuk Endang Patibroto. Ia bertanya apa sebenarnya yang sudah terjadi. Karena pada saat seperti itu Endang Patibroto amat membutuhkan seorang kawan yang dapat ia ajak bicara dan dapat mendengarkan curahan hatinya yang penuh penasaran dan karena ia percaya akan kesetiaan raksasa ini, berceritalah ia secara singkat akan segala peristiwa yang sebetulnya sudah diketahui oleh Ki Brejeng. Ki Brejeng menyumpah-nyumpah Pangeran Darmokusumo dan Sang Prabu Jenggala, kemudian ia membujuk Endang Patibroto agar suka ikut ke Blambangan.
"Paduka tentu dicari-cari dan dikejar-kejar oleh kedua kerajaan itu."
"Aku tidak takut! Aku akan melawan!" jawab Endang Patibroto, penuh dendam.
"Apa gunanya, gusti? Apa gunanya paduka seorang diri melawan barisan kedua kerajaan itu? Tidak, seyogianya paduka ke Blambangan. Kebetulan sekali Blambangan memang berniat menggempur Jenggala dan Panjalu, dan Adipati Blambangan amat baik, dapat menghargai orang-orang pandai. Lihat saja, hamba juga telah diterima menjadi ponggawa. Kalau paduka suka bersama hamba ke sana, paduka dapat bersama bala tentara Blambangan kelak maju menggempur Jenggala dan Panjalu dan saat itulah paduka dapat melakukan balas dendam atas kematian suami paduka!"
Akhirnya, setelah Raden Sindupati juga ikut membujuk- bujuk dengan manis budi dan janji-janji yang memungkinkan wanita ini membalas kematian suaminya, Endang Patibroto mengangguk.
"Baiklah, Ki Brejeng, aku menurut nasehatmu. Raden Sindupati, aku suka ikut bersamamu ke Blambangan."
Bukan main girangnya hati Sindupati. Biarpun ia tidak berhasil membunuh Endang Patibroto, namun ia sudah berhasil memancing wanita ini ke sana! Alangkah akan girangnya hati Adipati Blambangan dan untuk ini ia tentu akan menerima pahala besar sekali. Apalagi, ia telah berhasil pula melemahkan kedua kerajaan dengan pembunuhan para ponggawanya. Betapapun juga, di hatinya terkandung niat lain. Melihat Endang Patibroto, janda kembang yang cantik jelita dan menggairahkan ini, hatinya sudah jatuh! Ia merasa sayang kalau wanita secantik ini dibunuh begitu saja oleh Adipati Blambangan. Tidak, terlalu sayang kalau begitu! Ia mempunyai siasat lain! Setelah pembakaran jenazah selesai dan abu jenazah sudah dirawat untuk kemudian dilarung (dihanyutkan) di laut, pasukan itu melanjutkan perjalanan. Endang Patibroto memulai hidup baru dan di sepanjang perjalanan, ia dihibur oleh Ki Brejeng yang betul-betul merasa kasihan kepada bekas junjungannya ini.

Kadipaten Selopenangkep! Kadipaten ini letaknya di tepi Sungai Progo, tidak amat jauh dari pantai Laut Kidul. Kadipaten yang tidak berapa besar, namun jelas tampak keadaan yang aman tenteram kerta raharja meliputi seluruh daerah kadipaten. Pamong tani hidup ayem, tanahnya subur tak kekurangan maupun kebanyakan air, sawah ladang terlalu penuh tanaman yang subur sehingga di waktu habis tandur, sawah ladang tampak ijo (hijau) royo-royo bagaikan lautan tenang. Adapun menjelang panen, sawah ladang berubah menjadi lautan emas dengan padi-padi menguning dan gemuk-gemuk menunduk. Semua penduduk, dari dusun sampai kadipaten, tiada yang malas, semua rajin bekerja karena hasil karya mereka selain tampak di depan mata, juga terasa sampai di perut sendiri dan perut anak isterinya. Di wajah mereka tampak kegairahan bekerja itu, dari wajah anak-anak penggembala yang mengarit rumput, sampai kepada wajah pamong tani, nelayan, seniman dan pedagang, berseri penuh galrah kerja, memuliakan karya masing-masing dengan hati cinta dan tulus. Tidak ada iri-mengiri sehingga tak pernah tercipta tindak sesat, tidak ada maling atau perampok. Tidak ada waktu bermalasmalasan yang dapat terisi tindak iseng maksiat, tidak ada perjudian, tidak ada perjinahan atau mabuk-mabukan, semua tunduk kepada hukum yang tak tertulis, hukum kehidupan masyarakat damai, makmur dan tenteram, yang cinta akan ketenteraman. Semua ini adalah sebagian besar akibat wibawa dan pengaruh dari penguasa setempat, yaitu sang adipati di Selopenangkep. Perbawanya menyorot luas sampai keluar daerah Selopenangkep, perbawa yang didasari keadilan dan cinta kasih seorang penguasa, seperti keadilan dan cinta kasih seorang bapak terhadap anak-anaknya. Keadilan
dan cinta kasih Adipati Tejolaksono seolah-olah sinar matahari yang menyorot ke segenap pelosok, tiada memilih bulu, tidak pilih kasih. Adil dan keras dalam memberantas kejahatan disertai petunjuk-petunjuk kembali ke jalan benar bagi yang sesat, menghukum bukan karena benci karena bagi sang adipati yang arif bijaksana, bukan manusialah yang dihukum, melainkan kejahatan untuk memaksa manusianya insyaf sadar dan bertaubat, kembali ke jalan benar. Kebaikan-kebaikan dipuji, dianjurkan, dipupuk, seperti halnya kesenian dan kebudayaan yang serba indah. Kebaikan disamakan dengan keindahan, sehingga kebaikan bukan lagi merupakan perbuatan yang dipamrihi balas jasa dan ingin puji, melainkan menjadi semacam keindahan yang disuka oleh segenap golongan.

Sang Adipati Tejolaksono adalah seorang adipati yang masih muda, baru tiga puluh dua tahun usianya, namun memiliki kebijaksanaan seorang sepuh (tua) yang sepi hawa, artinya sepi daripada hawa nafsu, yang patut menjadi tetuanya masyarakat, yang bekerja bahkan hidup hanya dengan satu pamrlh, yakni mengabdi kepada Hyang Widhi dengan cara menyebar cinta kasih antara manusla, bekerja demi kebahagiaan masyarakatnya, keluarganya, baru dirinya sendiri. Keadilan dan cinta kasih inilah yang menyinar seperti cahaya matahari merata di antara kawulanya, sehingga menjadi milik semua orang, bahkan meresap menjadi watak semua orang, yaitu, adil dan mencinta sesamanya. Pagi itu amat indahnya. Matahari bersinar cerah. Pamong tani tidak lagi begitu sibuknya seperti di musim, tandur atau panen. Musim tandur baru saja lewat. Padi sudah mulai tumbuh subur. Pekerjaan kaum tani menjadi lebih ringan, hanya menjaga dan merawat agar tanaman mereka tidak kekurangan atau kebanyakan air, tidak terganggu hama dan rumput liar.
Pada hari itu, serombongan orang berkuda keluar dari kadipaten. Dua belas orang perajurit pengawal yang gagah-gagah menunggang kuda, mengiringkan seorang pria yang tampan dan gagah perkasa menunggang kuda putih, berpakaian sederhana namun berbeda dengan kedua belas orang pengawal.

<<< Bagian 012                                                                                     Bagian 014 >>>

No comments:

Post a Comment