Terisak-isak Endang Patibroto.
"Kakanda, hamba
bersumpah.......... sungguhpun amat berat hamba harus
hidup menyendiri, paduka
tinggalkan.......... hamba takkan membunuh diri, hamba akan menanti maut
seperti ditakdirkan Hyang Widdhi.... akan tetapi.......... paduka
sabarlah...... sabarlah menanti hamba.......... !!”
"Endang..........auugghhh..........
terlalu lama kutahankan.......... tak kuat lagi aku............. Endang
Patibroto, isteriku, ciumlah .......... ciumlah.......... “ Sambil menangis
sesunggukan Endang Patibroto menangkap kedua pipi suaminya, lalu mencium mulut
yang terengah-engah itu, mencium mesra sepenuh hatinya. Tiba-tiba ia merasa
betapa tubuh suaminya mengejang, mengerang dan menghembuskan napas panjang.
Endang Patibroto merasa dunia berputar, pandang matanya gelap, akan tetapi ia
meramkan mata, tidak melepaskan ciuman, menyedot dari mulut suaminya, seakan
hendak menghisap napas terakhir itu.......... terasa darah.......... darah
suaminya .......... terasa pelukan tangan suaminya mengendur, lepas, tampak
suaminya tersenyum, lalu segala berputaran, gelap, lalu merah, seribu bintang
menari.......... dan iapun tidak ingat apa-apa lagi.
Endang Patibroto pingsan
dengan tubuh masih menelungkupi mayat suaminya, bibir mereka masih saling
menempel, kedua tangan Endang Patibroto merangkul leher. Angin pagi yang
bertiup di sawah itu menerobos memasuki gubuk, menggerak-gerakkan rambut Endang
Patibroto yang tadi dilepas sanggulnya oleh suaminya dan yang kini menyelimuti
tubuh mereka berdua. Wajah mayat Pangeran Panjirawit tersenyum, matanya
setengah terbuka, seperti mata orang mengantuk, seperti matanya kalau sedang
bercinta dengan isterinya. Ia tidak nampak seperti mati, melainkan seperti
orang tidur bermimpi indah, mimpi bercumbu rayu dengan isteri tercinta. Anak
panah yang menancap di punggungnya kini membengkok karena tertindih tubuhnya
ketika melepaskan napas terakhir dan tubuhnya yang miring menjadi terlentang.
Endang sadar, serasa bangun dari mimpi buruk. Membuka mata. Ah, suaminya masih
tidur seperti biasa. Suaminya akan bangun agak siang seperti biasa, tidur
kelelahan, dengan wajah membayangkan kelelahan dan kepuasan, kebahagiaan yang
nikmat, Endang Patibroto tersenyum. Melihat wajah yang puas dan bahagia itu mendatangkan
nikmat luar biasa di dalam hatinya. Ah, ia harus cepat bangun, menyediakan
santapan pagi untuk suaminya. Biar banyak abdi dalam di situ, ia selalu
menyediakan santapan suaminya dengan tangannya sendiri, pekerjaan ini amat
menyenangkan hatinya seperti menyiapkan pakaian, membereskan pembaringan, tak
boleh pelayan melakukannya, dilakukan sendiri dengan kasih sayang. Ia menunduk
dan mencium perlahan dan.......... matanya terbelalak, lehernya serasa dicekik
dan dalam sekejap mata teringatlah ia kembali, datanglah semua itu seperti
cahaya kilat menyambar.
"Aduh..........
kakanda.......... !!" la menjerit, masih tidak percaya, memandang anak
panah di punggung, meraba-raba wajah suaminya, meraba dada, pergelangan tangan
sampai ia yakin bahwa suaminya benar-benar telah meninggalkannya.
“......... kakanda pangeran
...... suami hamba ……… !" Ia memeluk tubuh itu, menangis sampai mengguguk,
merintih, mengerang seperti orang tersiksa hebat.
"Tangkap.........!
Tangkap.......... !!”
Bagaikan seekor harimau
betina marah, Endang Patibroto yang sedang menangis mengguguk itu membalikkan
tubuh. Wajahnya yang pucat penuh air mata amat beringas, rambutnya masih
terurai riap-riapan, matanya bersinar-sinar kemarahan. la melihat tiga belas
orang prajurit mengepung gubuknya, dengan tombak dan pedang ditodongkan,
seperti para pemburu mengurung seekor harimau yang sudah tersudut. Sejenak
Endang Patibroto menyapu mereka dengan pandang mata, kemudian menoleh ke wajah
suaminya yang tersenyum. Inilah! Ya, untuk inilah suaminya tidak menghendaki ia
ikut mati. Tiba-tiba ia mengeluarkan pekik dahsyat dan tubuhnya mencelat keluar
gubuk. Bagaikan angin puyuh tubuhnya bergerak, berputaran di antara para
pengepung yang cepat menggerakkan senjata masing-masing. Terdengar
tombak-tombak patah, pedang-pedang beterbangan, jerit-jerit kesakitan dan dalam
waktu sebentar saja tiga belas orang prajurit itu sudah menggeletak mati semua
di tengah sawah.
"Hayoh, majulah semua
prajurit Jenggala dan Panjalu! Amuk-amuk suramrata jayamrata! Inilah Endang Patibroto,
isteri Pangeran Panjirawitl" Ia menebak-nebak dada, matanya liar
memandang, kemudian la melihat penduduk kampung di dekat sawah itu
berbondong-bondong keluar karena mendengar ribut-ribut. Melihat mereka ini,
Endang Patibroto yang sudah menggila saking marah dan duka, segera meloncat
menyambut mereka. Seorang laki-laki tinggi besar yang berada paling depan
ditangkapnya seperti seekor burung rajawali menangkap anak ayam, diangkatnya ke
atas, diputar-putarnya sehingga penduduk kampung itu kaget dan gentar. Lalu
dibantingnya laki-laki itu sampai pecah kepalanya. Endang Patibroto mengamuk
dan penduduk kampung itu tersebar cerai-berai seperti gabah diinteri.
"Wanita gila
mengamuk!"
"Bukan! Dia
siluman."
"Iblis mengamuk."
Penduduk kampung melarikan
diri dan beberapa orang yang kurang cepat menjadi korban amukan Endang
Patibroto. Setelah dusun itu kosong, Endang Patibroto kembali ke gubuk dan
menangisi mayat suaminya. Ia tidak tahu bahwa semua gerak-geriknya diikuti
orang-orang dari jauh. Itulah pasukan Blambangan yang dipimpin Raden Sindupati.
Kini dari tempat sembunyinya, tidak jauh dari gubuk itu, Raden Sindupati
menyaksikan gerak-gerik Endang Patibroto, kagum melihat wanita itu membunuh
tiga belas orang prajurit Jenggala yang hendak menangkapnya, dan ngeri
menyaksikan wanita itu mengamuk ke dusun membuat semua penghuni dusun lari
cerai-berai. Namun ia masih belum yakin benar akan tingginya ilmu kepandaian
Endang Patibroto. Ketika Endang Patibroto menyerbu tempat tahanan dan
membebaskan suaminya, ia tidak berani membawa pasukannya masuk ke kota raja,
hanya menanti di luar dinding, sehingga ia tidak melihat sepak terjang wanita
sakti itu yang menggiriskan.
"Kakang Klabangkoro dan
Klabangmuko, kalian ikut bersamaku menghadapinya" katanya tenang.
Klabangkoro dan Klabangmuko
menjadi pucat wajahnya.
"Tapi..........
tapi.........” mereka meragu, hati mereka giris menyaksikan kehebatan wanita
itu yang tidak saja sudah membunuh Wiku Kalawisesa, juga telah berani menyerbu
Panjalu malah berhasil membebaskan suaminya dari keraton Jenggala dan baru saja
membunuhi tiga belas orang perajurit dan penduduk kampung.
"Hemm, beginikah sikap
majurit? Takut apa? Aku di samping kalian, dan juga, ini hanya siasat. Paman
Brejeng, kalau kau melihat kami terdesak, kau dan semua kawan maju, lakukan apa
yang sudah kupesan padamu."
Raksasa tua Ki Brejeng hanya
mengangguk, akan tetapi matanya memandang ke arah gubuk dengan pandang mata
termenung, seperti orang sedih. Dengan langkah tegap yang membesarkan hati
Klabangkoro dan Klabangmuko, Sindupati menghampiri gubuk. Dilihatnya Endang
Patibroto masih menangisi mayat suaminya. Ia lalu berdiri tegak dan menegur,
"Teja-teja sulaksana!
Siapakah gerangan andika, seorang wanita cantik menangis seorang diri di antara
sekian banyaknya mayat?"
Endang Patibroto yang sedang
menangis dan memeluki tubuh suaminya, mengangkat muka dan menengok. Matanya
membendul merah karena tangis, kini mengeluarkan sinar yang beringas dan liar.
Sejenak ia menyapu tiga orang itu dengan pandang matanya, membuat Klabangkoro undur
dan ngeri, kemudian Endang Patibroto turun dari gubuk itu dan berkata, suaranya
serak karena terlalu banyak menangis,
"Semua orang harus
mati, mengikuti suamiku!" bentaknya sambil melangkah maju.
Sindupati tersenyum,
senyumnya yang selalu dapat meruntuhkan hati wanita, baik ketika ia masih muda
menjadi senopati di Jenggala dahulu maupun sekarang setelah ia berada di
Blambangan. Banyak wanita Blambangan, termasuk puteri adipati sendiri, jatuh
hatinya oleh senyum itu. Akan tetapi Endang Patibroto hanya memandang dengan
mata mendelik marah.
"Aih-aihh, tidak begitu
mudah, wong ayu!" katanya sambil siap karena maklum betapa saktinya wanita
ini. Endang Patibroto mengeluarkan seruan keras dan tubuhnya sudah menerjang,
dengan tangan kanan menghantam arah kepala Sindupati. Lawannya mundur sambil
mengerahkan tenaga mengibas, menangkis.
"Dukkkl"
Raden Sindupati terhuyung
mundur sampai tiga langkah, terkejut bukan main karena lengan wanita itu
mengeluarkan tenaga dahsyat dan hawa panas. Juga Endang Patibroto terheran.
Laki-laki itu dapat menangkis pukulannya Gelap Musti? Baik, makin tangguh
lawannya makin baik, pikirnya dan timbul kegembiraannya bertanding. la lalu
menerjang lagi. Kali ini Sindupati mengelak dengan gerakan yang cepat sekali
sehingga kembali Endang Patibroto tertegun. Pada saat itu, sambil mengeluarkan
gerengan seperti harimau, dari kanan kiri Klabangkoro dan Klabangmuko menerjang
maju, menghantam dengan kepalan tangan
mereka sebesar buah kelapa
muda. Antep dan keras sekali pukulan mereka, seperti serudukan celeng (babi
hutan). Namun dengan cekatan Endang Patibroto dapat mengelak, bahkan menyambar
dan berhasil menepuk pundak Klabangkoro dengan ujung jari tangan. Biarpun hanya
menepuk karena tangannya tidak sampai, namun ujung-ujung jari itu mengandung
Aji Pethit Nogo, maka tubuh Klabangkoro terguling masuk ke selokan, mukanya
berlumur lumpur. Ia kaget dan terbelalak, lalu marah dan bangkit kembali
Klabangmuko, seperti kakaknya, memiliki aji kekebalan Lindungseto sehingga
tidak tedas tapak paluning pande sisaning gurindo (tidak mempan senjata tajam),
akan tetapi tepukan jari tangan Endang Patibroto membuat kulit pundaknya pedas
panas dan tulang pundaknya linu.
Pertandingan itu berlangsung
seru. Sepak terjang Klabangkoro dan Klabangmuko seperti dua ekor celeng goteng
yang marah membabi-buta, tenaga mereka besar dan pukulan-pukulan mereka
walaupun tidak akan menimbulkan luka dalam, namun cukup berbahaya bagi kulit
Endang Patibroto yang halus. Adapun Sindupati gerakannya amat cepat, bagaikan
seekor trenggiling, adakalanya bergulingan dan memang dia adalah ahli Aji
Trenggiling Wesi, semacam ilmu silat mendasarkan gerakan bergulingan kemudian
dari bawah mengirim tendangan-tendangan kilat atau kadang-kadang meloncat dan
mengirim pukulan-pukulan ampuh. Endang Patibroto makin gembira. Sudah lama ia
tidak bertemu tanding yang tangguh. Wiku Kalawisesa tidak termasuk lawan yang
tangguh mengenai ilmu berkelahi, sungguhpun ilmu hitam kakek hitam itu
berbahaya. Kini Endang Patibroto menggunakan ilmunya, gerakannya seperti burung
walet, kedua tangannya mengandung aji yang amat ampuh, yang kanan terkepal
mengandung Aji Gelap Musti ajaran Dibyo Mamangkoro, yang kiri terbuka,
jari-jarinya mengandung Aji Pethit Nogo ajaran kakeknya, mendiang Resi
Bhargowo. Hebat bukan main gerakannya, cepat tak dapat diikuti pandang mata,
hanya tampak bayangannya berkelebat menyambar ke sana ke mari. Tiga orang tokoh
Blambangan itu terdesak hebat. Klabangkoro roboh terguling-guling ketika kena
serempet pukulan Gelap Musti, untungnya hanya terserempet pada pundaknya saja,
akan tetapi tulang pundak serasa remuk. Klabangmuko juga roboh terpental oleh
tendangan kaki Endang Patibroto, untung Aji Lindungseto membuat ia tidak
terluka. Raden Sindupati yang dianggap lawan terberat oleh Endang Patibroto
didesak sampai tak mampu balas menyerang. Betapapun tubuhnya bergulingan,
selalu dikejar dan dibayangi pukulan-pukulan maut sehingga ia terengah-engah
dan wajahnya berubah pucat.
Tiba-tiba
sinar terang menyambar dari kiri. Endang Patibroto maklum bahwa lawannya
menggunakan senjata. Golok di tangan Klabangkoro yang menyambar itu dielakkan
dan terpaksa ia mengurangi tekanannya pada Sindupati karena pada saat yang
hampir bersamaan, golok Klabangmuko juga menyambar, membabat ke arah
pinggangnya. Dua serangan sekaligus. Ia mengelak, miringkan tubuh dan meloncat
ke atas ketika golok ke dua membabat pinggang. Dari atas ia lalu menerjang
Sindupati yang sudah mencabut kerisnya. Keris ini mengeluarkan sinar hijau,
keris Nogo-kikik berlekuk tujuh dengan gandhik berbentuk kepala anjing
serigala. Ada hawa dingin terbawa oleh keris ini. Namun Endang Patibroto sudah
menggerakkan kakinya, dari depan membuat gerakan melingkar, kemudian dari
samping ia menendang dengan tumit kakinya mengenai pergelangan tangan lawan.
Sindupati berseru keras dan meloncat menghindarkan tangannya, akan tetapi
tusukannya gagal. Baru saja kaki Endang Patibroto sudah menginjak tanah,
kembali dua buah golok menyambar, menyilang dari kanan kiri. Endang Patibroto
membiarkan dirinya terancam golok, agaknya ia memang memasang diri untuk
dimakan golok yang menyambar dari kanan kiri. Sesuai dengan rencana Sindupati,
memang sedapat mungkin kakak beradik itu akan membunuh Endang Patibroto. Kalau
ternyata wanita itu terlalu sakti dan kuat, barulah dijalankan siasat
selanjutnya. Maka kini melihat betapa golok mereka agaknya akan berhasil
mengenai sasaran, kedua kakak beradik ini menjadi girang sekali. Merupakan
pantangan bagi ahli silat untuk terlalu terburu nafsu dan terseret perasaan.
Takut, gentar atau girang mabuk kemenangan merupakan titik-titik kelemahan.
No comments:
Post a Comment