Perawan Lembah Wilis; Bagian 012


Terisak-isak Endang Patibroto.
"Kakanda, hamba bersumpah.......... sungguhpun amat berat hamba harus
hidup menyendiri, paduka tinggalkan.......... hamba takkan membunuh diri, hamba akan menanti maut seperti ditakdirkan Hyang Widdhi.... akan tetapi.......... paduka sabarlah...... sabarlah menanti hamba.......... !!”
"Endang..........auugghhh.......... terlalu lama kutahankan.......... tak kuat lagi aku............. Endang Patibroto, isteriku, ciumlah .......... ciumlah.......... “ Sambil menangis sesunggukan Endang Patibroto menangkap kedua pipi suaminya, lalu mencium mulut yang terengah-engah itu, mencium mesra sepenuh hatinya. Tiba-tiba ia merasa betapa tubuh suaminya mengejang, mengerang dan menghembuskan napas panjang. Endang Patibroto merasa dunia berputar, pandang matanya gelap, akan tetapi ia meramkan mata, tidak melepaskan ciuman, menyedot dari mulut suaminya, seakan hendak menghisap napas terakhir itu.......... terasa darah.......... darah suaminya .......... terasa pelukan tangan suaminya mengendur, lepas, tampak suaminya tersenyum, lalu segala berputaran, gelap, lalu merah, seribu bintang menari.......... dan iapun tidak ingat apa-apa lagi.

Endang Patibroto pingsan dengan tubuh masih menelungkupi mayat suaminya, bibir mereka masih saling menempel, kedua tangan Endang Patibroto merangkul leher. Angin pagi yang bertiup di sawah itu menerobos memasuki gubuk, menggerak-gerakkan rambut Endang Patibroto yang tadi dilepas sanggulnya oleh suaminya dan yang kini menyelimuti tubuh mereka berdua. Wajah mayat Pangeran Panjirawit tersenyum, matanya setengah terbuka, seperti mata orang mengantuk, seperti matanya kalau sedang bercinta dengan isterinya. Ia tidak nampak seperti mati, melainkan seperti orang tidur bermimpi indah, mimpi bercumbu rayu dengan isteri tercinta. Anak panah yang menancap di punggungnya kini membengkok karena tertindih tubuhnya ketika melepaskan napas terakhir dan tubuhnya yang miring menjadi terlentang. Endang sadar, serasa bangun dari mimpi buruk. Membuka mata. Ah, suaminya masih tidur seperti biasa. Suaminya akan bangun agak siang seperti biasa, tidur kelelahan, dengan wajah membayangkan kelelahan dan kepuasan, kebahagiaan yang nikmat, Endang Patibroto tersenyum. Melihat wajah yang puas dan bahagia itu mendatangkan nikmat luar biasa di dalam hatinya. Ah, ia harus cepat bangun, menyediakan santapan pagi untuk suaminya. Biar banyak abdi dalam di situ, ia selalu menyediakan santapan suaminya dengan tangannya sendiri, pekerjaan ini amat menyenangkan hatinya seperti menyiapkan pakaian, membereskan pembaringan, tak boleh pelayan melakukannya, dilakukan sendiri dengan kasih sayang. Ia menunduk dan mencium perlahan dan.......... matanya terbelalak, lehernya serasa dicekik dan dalam sekejap mata teringatlah ia kembali, datanglah semua itu seperti cahaya kilat menyambar.
"Aduh.......... kakanda.......... !!" la menjerit, masih tidak percaya, memandang anak panah di punggung, meraba-raba wajah suaminya, meraba dada, pergelangan tangan sampai ia yakin bahwa suaminya benar-benar telah meninggalkannya.
“......... kakanda pangeran ...... suami hamba ……… !" Ia memeluk tubuh itu, menangis sampai mengguguk, merintih, mengerang seperti orang tersiksa hebat.
"Tangkap.........! Tangkap.......... !!”
Bagaikan seekor harimau betina marah, Endang Patibroto yang sedang menangis mengguguk itu membalikkan tubuh. Wajahnya yang pucat penuh air mata amat beringas, rambutnya masih terurai riap-riapan, matanya bersinar-sinar kemarahan. la melihat tiga belas orang prajurit mengepung gubuknya, dengan tombak dan pedang ditodongkan, seperti para pemburu mengurung seekor harimau yang sudah tersudut. Sejenak Endang Patibroto menyapu mereka dengan pandang mata, kemudian menoleh ke wajah suaminya yang tersenyum. Inilah! Ya, untuk inilah suaminya tidak menghendaki ia ikut mati. Tiba-tiba ia mengeluarkan pekik dahsyat dan tubuhnya mencelat keluar gubuk. Bagaikan angin puyuh tubuhnya bergerak, berputaran di antara para pengepung yang cepat menggerakkan senjata masing-masing. Terdengar tombak-tombak patah, pedang-pedang beterbangan, jerit-jerit kesakitan dan dalam waktu sebentar saja tiga belas orang prajurit itu sudah menggeletak mati semua di tengah sawah.
"Hayoh, majulah semua prajurit Jenggala dan Panjalu! Amuk-amuk suramrata jayamrata! Inilah Endang Patibroto, isteri Pangeran Panjirawitl" Ia menebak-nebak dada, matanya liar memandang, kemudian la melihat penduduk kampung di dekat sawah itu berbondong-bondong keluar karena mendengar ribut-ribut. Melihat mereka ini, Endang Patibroto yang sudah menggila saking marah dan duka, segera meloncat menyambut mereka. Seorang laki-laki tinggi besar yang berada paling depan ditangkapnya seperti seekor burung rajawali menangkap anak ayam, diangkatnya ke atas, diputar-putarnya sehingga penduduk kampung itu kaget dan gentar. Lalu dibantingnya laki-laki itu sampai pecah kepalanya. Endang Patibroto mengamuk dan penduduk kampung itu tersebar cerai-berai seperti gabah diinteri.
"Wanita gila mengamuk!"
"Bukan! Dia siluman."
"Iblis mengamuk."

Penduduk kampung melarikan diri dan beberapa orang yang kurang cepat menjadi korban amukan Endang Patibroto. Setelah dusun itu kosong, Endang Patibroto kembali ke gubuk dan menangisi mayat suaminya. Ia tidak tahu bahwa semua gerak-geriknya diikuti orang-orang dari jauh. Itulah pasukan Blambangan yang dipimpin Raden Sindupati. Kini dari tempat sembunyinya, tidak jauh dari gubuk itu, Raden Sindupati menyaksikan gerak-gerik Endang Patibroto, kagum melihat wanita itu membunuh tiga belas orang prajurit Jenggala yang hendak menangkapnya, dan ngeri menyaksikan wanita itu mengamuk ke dusun membuat semua penghuni dusun lari cerai-berai. Namun ia masih belum yakin benar akan tingginya ilmu kepandaian Endang Patibroto. Ketika Endang Patibroto menyerbu tempat tahanan dan membebaskan suaminya, ia tidak berani membawa pasukannya masuk ke kota raja, hanya menanti di luar dinding, sehingga ia tidak melihat sepak terjang wanita sakti itu yang menggiriskan.
"Kakang Klabangkoro dan Klabangmuko, kalian ikut bersamaku menghadapinya" katanya tenang.
Klabangkoro dan Klabangmuko menjadi pucat wajahnya.
"Tapi.......... tapi.........” mereka meragu, hati mereka giris menyaksikan kehebatan wanita itu yang tidak saja sudah membunuh Wiku Kalawisesa, juga telah berani menyerbu Panjalu malah berhasil membebaskan suaminya dari keraton Jenggala dan baru saja membunuhi tiga belas orang perajurit dan penduduk kampung.
"Hemm, beginikah sikap majurit? Takut apa? Aku di samping kalian, dan juga, ini hanya siasat. Paman Brejeng, kalau kau melihat kami terdesak, kau dan semua kawan maju, lakukan apa yang sudah kupesan padamu."
Raksasa tua Ki Brejeng hanya mengangguk, akan tetapi matanya memandang ke arah gubuk dengan pandang mata termenung, seperti orang sedih. Dengan langkah tegap yang membesarkan hati Klabangkoro dan Klabangmuko, Sindupati menghampiri gubuk. Dilihatnya Endang Patibroto masih menangisi mayat suaminya. Ia lalu berdiri tegak dan menegur,
"Teja-teja sulaksana! Siapakah gerangan andika, seorang wanita cantik menangis seorang diri di antara sekian banyaknya mayat?"
Endang Patibroto yang sedang menangis dan memeluki tubuh suaminya, mengangkat muka dan menengok. Matanya membendul merah karena tangis, kini mengeluarkan sinar yang beringas dan liar. Sejenak ia menyapu tiga orang itu dengan pandang matanya, membuat Klabangkoro undur dan ngeri, kemudian Endang Patibroto turun dari gubuk itu dan berkata, suaranya serak karena terlalu banyak menangis,
"Semua orang harus mati, mengikuti suamiku!" bentaknya sambil melangkah maju.

Sindupati tersenyum, senyumnya yang selalu dapat meruntuhkan hati wanita, baik ketika ia masih muda menjadi senopati di Jenggala dahulu maupun sekarang setelah ia berada di Blambangan. Banyak wanita Blambangan, termasuk puteri adipati sendiri, jatuh hatinya oleh senyum itu. Akan tetapi Endang Patibroto hanya memandang dengan mata mendelik marah.
"Aih-aihh, tidak begitu mudah, wong ayu!" katanya sambil siap karena maklum betapa saktinya wanita ini. Endang Patibroto mengeluarkan seruan keras dan tubuhnya sudah menerjang, dengan tangan kanan menghantam arah kepala Sindupati. Lawannya mundur sambil mengerahkan tenaga mengibas, menangkis.
"Dukkkl"
Raden Sindupati terhuyung mundur sampai tiga langkah, terkejut bukan main karena lengan wanita itu mengeluarkan tenaga dahsyat dan hawa panas. Juga Endang Patibroto terheran. Laki-laki itu dapat menangkis pukulannya Gelap Musti? Baik, makin tangguh lawannya makin baik, pikirnya dan timbul kegembiraannya bertanding. la lalu menerjang lagi. Kali ini Sindupati mengelak dengan gerakan yang cepat sekali sehingga kembali Endang Patibroto tertegun. Pada saat itu, sambil mengeluarkan gerengan seperti harimau, dari kanan kiri Klabangkoro dan Klabangmuko menerjang maju, menghantam dengan kepalan tangan
mereka sebesar buah kelapa muda. Antep dan keras sekali pukulan mereka, seperti serudukan celeng (babi hutan). Namun dengan cekatan Endang Patibroto dapat mengelak, bahkan menyambar dan berhasil menepuk pundak Klabangkoro dengan ujung jari tangan. Biarpun hanya menepuk karena tangannya tidak sampai, namun ujung-ujung jari itu mengandung Aji Pethit Nogo, maka tubuh Klabangkoro terguling masuk ke selokan, mukanya berlumur lumpur. Ia kaget dan terbelalak, lalu marah dan bangkit kembali Klabangmuko, seperti kakaknya, memiliki aji kekebalan Lindungseto sehingga tidak tedas tapak paluning pande sisaning gurindo (tidak mempan senjata tajam), akan tetapi tepukan jari tangan Endang Patibroto membuat kulit pundaknya pedas panas dan tulang pundaknya linu.

Pertandingan itu berlangsung seru. Sepak terjang Klabangkoro dan Klabangmuko seperti dua ekor celeng goteng yang marah membabi-buta, tenaga mereka besar dan pukulan-pukulan mereka walaupun tidak akan menimbulkan luka dalam, namun cukup berbahaya bagi kulit Endang Patibroto yang halus. Adapun Sindupati gerakannya amat cepat, bagaikan seekor trenggiling, adakalanya bergulingan dan memang dia adalah ahli Aji Trenggiling Wesi, semacam ilmu silat mendasarkan gerakan bergulingan kemudian dari bawah mengirim tendangan-tendangan kilat atau kadang-kadang meloncat dan mengirim pukulan-pukulan ampuh. Endang Patibroto makin gembira. Sudah lama ia tidak bertemu tanding yang tangguh. Wiku Kalawisesa tidak termasuk lawan yang tangguh mengenai ilmu berkelahi, sungguhpun ilmu hitam kakek hitam itu berbahaya. Kini Endang Patibroto menggunakan ilmunya, gerakannya seperti burung walet, kedua tangannya mengandung aji yang amat ampuh, yang kanan terkepal mengandung Aji Gelap Musti ajaran Dibyo Mamangkoro, yang kiri terbuka, jari-jarinya mengandung Aji Pethit Nogo ajaran kakeknya, mendiang Resi Bhargowo. Hebat bukan main gerakannya, cepat tak dapat diikuti pandang mata, hanya tampak bayangannya berkelebat menyambar ke sana ke mari. Tiga orang tokoh Blambangan itu terdesak hebat. Klabangkoro roboh terguling-guling ketika kena serempet pukulan Gelap Musti, untungnya hanya terserempet pada pundaknya saja, akan tetapi tulang pundak serasa remuk. Klabangmuko juga roboh terpental oleh tendangan kaki Endang Patibroto, untung Aji Lindungseto membuat ia tidak terluka. Raden Sindupati yang dianggap lawan terberat oleh Endang Patibroto didesak sampai tak mampu balas menyerang. Betapapun tubuhnya bergulingan, selalu dikejar dan dibayangi pukulan-pukulan maut sehingga ia terengah-engah dan wajahnya berubah pucat.
Tiba-tiba sinar terang menyambar dari kiri. Endang Patibroto maklum bahwa lawannya menggunakan senjata. Golok di tangan Klabangkoro yang menyambar itu dielakkan dan terpaksa ia mengurangi tekanannya pada Sindupati karena pada saat yang hampir bersamaan, golok Klabangmuko juga menyambar, membabat ke arah pinggangnya. Dua serangan sekaligus. Ia mengelak, miringkan tubuh dan meloncat ke atas ketika golok ke dua membabat pinggang. Dari atas ia lalu menerjang Sindupati yang sudah mencabut kerisnya. Keris ini mengeluarkan sinar hijau, keris Nogo-kikik berlekuk tujuh dengan gandhik berbentuk kepala anjing serigala. Ada hawa dingin terbawa oleh keris ini. Namun Endang Patibroto sudah menggerakkan kakinya, dari depan membuat gerakan melingkar, kemudian dari samping ia menendang dengan tumit kakinya mengenai pergelangan tangan lawan. Sindupati berseru keras dan meloncat menghindarkan tangannya, akan tetapi tusukannya gagal. Baru saja kaki Endang Patibroto sudah menginjak tanah, kembali dua buah golok menyambar, menyilang dari kanan kiri. Endang Patibroto membiarkan dirinya terancam golok, agaknya ia memang memasang diri untuk dimakan golok yang menyambar dari kanan kiri. Sesuai dengan rencana Sindupati, memang sedapat mungkin kakak beradik itu akan membunuh Endang Patibroto. Kalau ternyata wanita itu terlalu sakti dan kuat, barulah dijalankan siasat selanjutnya. Maka kini melihat betapa golok mereka agaknya akan berhasil mengenai sasaran, kedua kakak beradik ini menjadi girang sekali. Merupakan pantangan bagi ahli silat untuk terlalu terburu nafsu dan terseret perasaan. Takut, gentar atau girang mabuk kemenangan merupakan titik-titik kelemahan.

<<< Bagian 011                                                                                     Bagian 013 >>>

No comments:

Post a Comment